-Mirror-

by Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media etc.

Hatsune Mikuo x IA-Aria on the Planetes

Rate: 13+

-;-;-;-;-;-;-


.

.

.


Seven


.

.

.

Kamui. Shion. Hatsune.

Dua dari ketiga marga tersebut tersohor karena perusahaan korporat yang dikelola oleh keluarga mereka. Kamui Corp. yang bergerak di bidang produksi dan pelestarian benda-benda tradisional semenjak zaman kekaisaran Jepang, serta Shion Group Company yang menjadi raja perindustrian logam. Keduanya tersohor, namun yang satu lagi, tersohor bukan karena marganya. 'Hatsune' hanyalah marga biasa. Marga itu tidak akan dikenal orang jika tidak ada orang ini:

Hatsune Miku.

Merintis karir sebagai penyanyi mulai dari nol, tiga tahun selalu gagal untuk mendapatkan kesempatan rekaman, nyaris diperkosa oleh salah satu manajernya, pernah dituduh plagiarisasi lagu seseorang, skandal foto bugil palsunya di internet, dan masih banyak hal yang telah dilalui Hatsune Miku.

Sebagai hasil jerih payahnya, hingga detik ini, Miku terbukti menjadi penyanyi paling laris dan paling diinginkan masyarakat. Ya, dialah Hatsune Miku sang Diva. Yang sejati, belum ada yang bisa menandingi.

Lalu, apa yang akan kuceritakan kali ini?

Semua berawal dari tiga marga di atas dan tiga nama di bawah.

Gakupo. Kaito. Mikuo. The Trouble-O.

Kamui Gakupo, yang lebih suka kupanggil dengan Gackt, adalah pewaris Kamui Corp., Playboy dandy kurang kerjaan, idola wanita (dan pria) mulai dari ujung Hokkaido hingga kepulauan okinawa, wakil ketua OSIS (ketuanya adalah si wanita rambut gulali) Crypton Senior High, dewa hentai, pecinta terong, pemuja Megurine Luka. Kalian mungkin bisa melihatnya hampir setiap hari mengejar-ngejar Luka, menggodainya dengan rayuan gombal menjijikkan yang disukai banyak wanita, lalu berakhir dengan bunyi tamparan nyaring dua kali di pipi serta tawa maniak dari Kaito dan aku. Dasar menyedihkan.

Shion Kaito. Aku baru mengetahui bahwa aku satu sekolah dengannya setelah beberapa minggu usai insiden 'Kepala-Miku-ketumpahan-es-krim'. Sesungguhnya, ia pria bodoh, benar-benar bodoh, luar biasa bodoh. Aku tahu setiap kesalahan yang diperbuatnya adalah karena dia bodoh. Walau begitu, sampai sekarang masih banyak lusinan wanita yang menawarkan diri untuk ditiduri olehnya. Semua ditolak secara halus. Setelah aku cukup akrab dengannya, ia main ke rumahku dan berkenalan dengan Miku. Mereka menjadi jauh lebih akrab dari yang kukira. Setiap kali Miku membutuhkan seseorang, Kaito selalu hadir, kemudian mendengarkan keluhanya tanpa menginterupsi pembicaraan. Mungkin itulah yang membuat Miku jatuh hati padanya. Nyaris setiap anak murid dari Crypton Junior High sampai Crypton Senior High menginginkan mereka untuk bersatu. Namun akhirnya Kaito memutuskan untuk pacaran dengan Meiko, dan membuat Meiko dibenci hampir seluruh murid Crypton School karena dituduh menganggu hubungan Kaito-Miku. Hal itu masih berlanjut hingga sekarang walau mereka sudah bertahun-tahun pacaran. Yah, inilah drama percintaan paling melelahkan seumur hidup.

Terakhir, Hatsune Mikuo. Bukan ahli waris perusahaan besar, bukan anak pengusaha sukses, bukan anggota OSIS, bukan pula pria tampan satu sekolah. Hanya siswa biasa, yang namanya melejit akibat berteman dengan duo tampan dan merupakan kakak dari calon penyanyi berbakat. "Kau satu-satunya lelaki yang bukan anak basket, bukan anggota OSIS, bukan ahli waris suatu perusahaan, bukan ahli bela diri dan bukan pula ketua suatu klub yang digilai banyak perempuan." Kata Gackt pada waktu itu, dan aku sangat tidak setuju dengan pernyataan Gakupo. Karena para perempuan itu mendekatiku (usaha mereka yang selalu gagal), untuk mengetahui hal-hal mengenai si duo populer. Hanya itu. Kalaupun ada yang ingin mendekatiku, mereka pasti sudah ciut duluan ketika melihat keacuhanku. Mereka semua pasti kesal, tapi tak ada yang berani melawan lebih. Paling tinggi hanya berkata; "Kau pikir aku takut padamu?!" yang menjijikkan dan sudah pasti, akan langsung kuabaikan.

Tapi Aria berbeda.

Ia tidak melawanku dengan menjadi sok-sok berani atau apapun. Ia hanya diam, menatap dingin, lalu pergi. Dari tatapannya, kau bisa langsung tahu bahwa dia pasti mampu dengan mudahnya menggulingkanmu, atau mungkin, mempermalukanmu suatu saat nanti.

Itulah yang terjadi padaku setelah beberapa bulan berteman dengan Aria.

Biar kuambil contoh. Pada jam sembilan pagi di kantorku, sekretaris bilang bahwa ada yang meminta bertemu denganku. Saat aku keluar ruang kerja, memasuki lift dan keluar di lobby, bisa kulihat bahwa hampir semua wajah pegawai kantorku menegang. Lalu pada saat aku menatap lurus kedepan, di sanalah ia berada.

Wanita itu berjalan tegas-dingin bak putri es, seakan lantai marmer yang dipijaknya itu adalah ubin kristal-kristal anggun menuju singgasananya. Dan barulah waktu itu aku sadar, ternyata dirikulah singgasana tujuannya itu.

Aria berhenti di hadapanku, dan kalian semua pasti tahu bahwa aku benci menjadi tontonan.

Seketika itu juga, aku melihat pancaran matanya kian merapuh, kian sendu, berkaca-kaca, dan kemudian … Aria menangis.

Rahangku mengeras.

Seluruh kegiatan di lobby kantorku perlahan berhenti. Suasana kemudian senyap.

Menutup mulut dengan tangan, bahu bergetar dan bunyi sesengukkan membuat semua orang merasa iba—Tak terkecuali diriku.

Tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Dari awal kalian pasti sudah tahu, bahwa aku adalah pria yang tak pedulian, tak mau menghiraukan urusan orang lain, dan benci jadi pusat perhatian. Akibatnya, aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi wanita ketika mereka sedang marah, kesal, cemburu, PMS, dan terlebih, saat menangis. Mungkin Miku pernah, tapi aku tidak benar-benar mampu menenangkannya. Maka dari itu, Kaito selalu mengambil alih peranku—which in that case, tak pernah kupermasalahkan. Karena semenjak kejadian itulah Miku lebih suka bergantung pada Kaito, dan juga sebaliknya. Hal itu jelas menguntungkan diriku agar tidak perlu terlalu merepotkan diri untuk mengurus Miku.

Kembali ke Aria. Saat melihatnya menangis, aku menelan ludah, lalu mengingat-ingat apa yang selalu dilakukan Gakupo dan Kaito ketika berhadapan dengan air mata wanita.

Mengelus kepala.

"Gentleman, percayalah, trik ini selalu berhasil. Perempuan suka jika kepalanya diusap-usap ketika dia menangis, kalau perlu, tambahlah dengan pelukan hangat. Jika kau beruntung, kau mungkin bisa menawan hatinya~" Itulah saran singkat yang dikemukakan Gackt pada sesi Gentleman tidak penting miliknya usai sekolah, di mana aku terpaksa mendengarnya karena ia berjanji akan mentraktir ramen isi daun bawang yang cita rasanya telah terbukti super enak padaku. Kurasa, mengingat Gakupo adalah playboy yang pintar mencuri hati wanita, mungkin aku bisa memakai trik itu pada Aria.

Sambil menyembunyikan kegugupanku, kusentuh kepalanya perlahan. Dan mendadak, aku menegang, serasa mendapat serangan listrik. Karena demi Tuhan, rambut Aria halus sekali…

Usapan-usapanku perlahan menghentikan tangisannya. Lalu, karena kupikir itu tidak cukup, aku pun mendekat padanya, merengkuhnya dalam satu kali sentak dengan seluruh kehangatan tubuh yang kumiliki.

Kepalanya bergerak melawan bahan kemejaku. Kemudian, wajahnya menghadap padaku, dan dibalik tangisannya, ia tersenyum, matanya jenaka.

"Kau ter-ti-pu." suaranya walau tidak berteriak, aku yakin mampu terdengar sampai ujung pintu lobby. Kemudian, sebuah tawa kecil muncul dari bibirnya, lalu diring dengan suara orang-orang lain. Lalu suara tawa itu semakin membesar, dan aku tahu para penonton itu tengah menertawakan satu orang:

Aku.

Ditertawakan adalah satu dari sekian hal yang paling kubenci. Aku bukan badut juga bukan pelawak, untuk apa mereka menertawaiku? Apakah mereka pikir aku ini lelucon?

Kupandangi Aria, dingin. Aku ingin dia sadar pada hal yang telah ia perbuat.

Dalam sekejap tawanya sirna, berganti dengan rahang mengeras dan raut gelisah. Ya, Aria pasti menyadari satu hal;

Aku sedang marah.

Lekas, aku membalikkan tubuh dan berjalan menuju lift. Aria memanggil-manggil namaku, namun tidak kugubris. Pintu lift tertutup, dan aku sendirian, masih marah terhadapnya.

Aku keluar lift dan bergegas menuju ruang kerjaku. Lebih baik aku menyendiri di sana, dari pada ada manusia yang menjadi korban pelampiasan.

Namun sebuah tangan menjegatku.

Tentu saja, aku tahu siapa pemilik tangan itu. Kusiapkan pandangan dingin yang membara oleh amarah, namun saat menoleh, seluruh amarahku lenyap begitu saja.

"M-maafkan aku. K-kupikir ini bisa mencairkan suasana tegang akibat pertengkaran kita tapi—" Ia terengah-engah, kemudian menarik nafas. Keringat bercucuran dari wajahnya. Entah mengapa aku berpikir bahwa ia berlari mengejarku sampai lantai empat dengan tangga darurat. "Cukup, aku tidak akan memberikan alasan-alasan lagi. Itu semua salahku. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Tapi aku tahu minta maaf tidak akan cukup," ia menghela nafas lagi "jadi… kau ingin aku melakukan apa agar bisa dimaafkan?" ujar Aria, masih terengah-engah.

Aku hanya diam.

"M-mikuo?"

Aria mengerti, aku memang tidak akan semudah itu memaafkan orang. Tapi tawarannya barusan itu sangat-sangat… menggiurkan.

Aku menahan diriku untuk menyeringai.

"Mikuo? Jadi, bagaimana?"

Aku berdehem. "Simpan dan pegang baik-baik tawaranmu itu. Suatu saat nanti pasti akan kutagih. Sekarang, masuklah ke ruanganku, kau kelelahan."

Ia mengikutiku memasuki ruangan. Lalu kami pun hanya berdiam diri, dan hanya sesekali berbicara sampai ia memutuskan untuk pulang.

Percayalah, di sepanjang hari itu aku tengah menyiapkan suatu hal. Yang mungkin tak boleh langsung dilancarkan karena hal itu tak boleh terburu-buru. Aku harus melakukannya dengan tenang, tak tergesa-gesa. Karena hal itu memerlukan waktu yang tepat, dan juga hati yang mantap.

.

.

.

.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Author's Note

Yey, ada flashback tentang masa lalu The Trouble-O di sini!

Oh, ngomong-ngomong, ada yang udah pernah ke restoran Korea? Kalo ada kalian tahu ngga masakan yang ngga pedas tapi enak itu apa?

untuk chapter selanjutnya bakalan dibagi jadi dua bagian. Soalnya kalo dijadiin satu chapter panjang banget jadinya. Ditambah lagi dengan Author's Note saya yang berisi curhatan-curhatan ngga penting... #TimpukinTomatBusuk

Ah udah, segitu dulu.

What do you think of Gakupo and Kaito?

Mind to Review?