A/N : Pertama, maaf banget lama updatenya. Soalnya 2 minggu ini tes~ maaf~ terimakasih juga buat yang udah setia nunggu dan review! ^^

OK, karena sekarang liburan, jadwal update akan kembali normal. Dan oh, untuk WII : After Life!, updatenya saya usahakan seminggu atau beberapa hari setelah fic ini update.

Dan, buat yang penasaran kenapa Hinata + clan Hyuuga dkk ada di dunia monster, jawabannya ada di chapter ini. Gak flashback kok, tenang ^^ Cuma penjelasan yang agak panjang dari Hinata nanti. OK, Happy Reading~!

Return Of The Legend

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Fantasy, Romance

Main Pair : Naruto x Hinata

Warning : (miss) Typos, OOC, GaJe, Abal, SKS (Sistem Kebut Sejam), OC

.

.

.

.

Ini adalah sore yang sibuk di Yokai Gakuen. Seluruh orang, baik murid, guru, maupun penjaga sekolah tengah sibuk beraktifitas walaupun jam sekolah telah usai.

Di bagian samping sekolah, dapat kita lihat beberapa penjaga maupun pekerja sekolah yang tengah bersama-sama berusaha memperbaiki tembok pembatas antara Yokai Gakuen dan hutan mati di sekitarnya yang sebelumnya telah hancur berkeping-keping. Terimakasih untuk Naruto dan Shinra Tensei miliknya.

Di sekitar sekolah, tersebar murid-murid anggota Newspaper Club yang tengah berusaha mengumpulkan informasi atas kejadian aneh hari ini dari berbagai sumber untuk dijadikan topik utama pada berita mereka.

Seolah tak mau ketinggalan, club-club lainpun ikut menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Seperti misalnya, Klub Karate yang tengah berlatih dengan penuh semangat masa muda dengan alasan untuk meningkatkan kemampuan anggota-anggotanya untuk menghadapi ancaman luar yang mungkin datang, juga Klub Kesehatan –yang semua anggotanya perempuan- yang tengah berkerumun di dalam maupun luar ruang kesehatan sekolah dan berebut mengobati Sasuke yang saat ini tengah terbaring di ruang kesehatan sekolah.

Mengabaikan semua kesibukan –dan keributan- di sekitar, kita dapat melihat sosok anggun dan ceria Hinata Hyuuga yang tengah berjalan menyusuri koridor dengan santai ke arah asrama perempuan.

'Aku tidak percaya aku bisa bertemu dengan Naruto-kun lagi~!' batin Hinata sambil menahan jeritan feminimnya yang hampir saja keluar saking bahagianya dirinya saat ini.

'Siapa dia?'

Memperlambat langkahnya, Hinata hanya tersenyum saat Rosario miliknya –tepatnya kepribadian ganda miliknya- berbicara padanya.

'Dia Naruto-kun!' jawab Hinata dengan gembira –terlampau gembira.

'Tch, maksudku, siapa dia? Kenapa kau mengenalnya sedangkan aku –yang juga bagian darimu- tidak mengenalnya?' balas inner Hinata dengan nada tidak sabaran yang sangat ketara.

'Hm… sepertinya ini saatnya aku ceritakan sesuatu padamu, 'Inner'. Pertama, kita sebenarnya tidak terlahir secara bersamaan…'

Mendengar penjelasan 'Outer' Hinata yang cukup mengagetkan, 'Inner' Hinata akhirnya hanya memilih diam dan menunggu penjelasan 'Outer' Hinata menyelesaikan penjelasaannya.

'Dulu aku tinggal di sebuah desa… -aku tidak ingat namanya- bersama Naruto-kun dan teman-temanku. D-dan… N-Naruto-kun… a-adalah… c-ci-cin-ta… pe-per-'

'Cinta pertamamu, yeah, lanjutkan.' Potong 'Inner' Hinata yang tak sabaran.

Mengabaikan rona merah yang telah menyebar di seluruh wajahnya, Hinata memilih untuk melanjutkan.

'Suatu hari saat usai 'The Fourth Great Shinobi War', aku dan seluruh aliansi shinobi yang masih hidup menemukan tubuh Naruto-kun yang telah membatu. Sejak saat itu, aku selalu menunggu-nunggu saat kembalinya Naruto-kun. Walaupun terdengar mustahil menunggu patung batu untuk datang padamu, tapi aku tetap percaya suatu hari aku akan bertemu dengan Naruto-kun lagi.' Di sini, Hinata berhenti sejenak sembari mengenang kenangannya bersama Naruto dahulu.

' Sampai suatu saat, saat aku berada di ujung kematianku, kakek kita -Alucard-sama -muncul dan menawariku keabadian, dengan harga terlahir kembali sebagai vampire dan kehilangan semua ingatanku. Aku akhirnya menerima tawaran Alucard-sama, tapi dengan beberapa ketentuan. Pertama, aku meminta Alucard-sama untuk tidak menghilangkan ingatanku tentang apapun yang berhubungan dengan Naruto-kun dan orang-orang berhargaku. Kedua, karena Alucard-sama akan membawaku ke dimensi yang berbeda, aku meminta dia untuk turut membawa patung batu Naruto-kun. Sayangnya, patung batu Naruto-kun tanpa di sengaja hilang dalam perjalanan ke Royal Vampire Castle milik Alucard-sama, dan tidak pernah ditemukan kembali –sampai tadi. Sesampainya di kastil, Alucard-sama memasukkan arwah cucunya yang telah meninggal saat bayi –kau- ke dalam tubuhku, dengan tujuan agar cucunya tetap hidup dalam tubuhku. Dan sejak saat itulah tubuhku menjadi terlahir kembali sebagai vampire dengan kau sebagai kepribadian gandaku. Tak lama setelah itu, aku menemukan fakta bahwa teman-teman masa kecilku beserta orang tuaku di dunia ini ternyata sama dengan teman-teman dan orang tuaku di duniaku sebelumnya, dan aku akhirnya menyadari, ini adalah dunia paralel dari duniaku sebelumnya.'

Di akhir penjelasan panjangnya, Hinata tak terasa telah sampai di depan kamar asrama miliknya.

Setelah sampai di dalam kamar, Hinata segera mengunci pintunya, melepas sepatunya, dan langsung berbaring di tempat tidur queen size miliknya.

'Uhm… selamat…?' tidak mengetahui apa yang harus diucapkannya, kata selamat hanya satu-satunya kata yang terlintas di pikiran Inner Hinata. Di satu sisi, ia turut bahagia mengetahui bahwa dirinya yang lain –Outer Hinata-, telah menemukan kembali cintanya yang hilang. Tetapi di sisi lain, ia juga bimbang akan sesuatu.

Ia dan Outernya berbagi satu tubuh yang sama –walaupun dengan kepribadian yang berbeda, tetapi… tetap saja. Jika Outernya mencintai orang lain yang tidak ia kenal dan berkemungkinan berhubungan fisik dengan orang itu… maka… ia hanya bisa pasrah.

Tidak sadar akan pemikiran Innernya, Hinata hanya bisa terus tersenyum sambil membaringkan dirinya di tempat tidur empuk miliknya. Kalau bukan karena kepala sekolah yang tiba-tiba saja muncul dan mengajak Naruto pergi ke kantornya… pasti saat Hinata sedang melepas rindunya dengan Naruto-kun.

Rooftop, Yokai Gakuen…

"Baiklah, kenapa kau membawaku ke sini, ji-san?" tanya Naruto pada sosok kepala sekolah Yokai Gakuen di sampingnya. Sedikit banyak Naruto mengetahui bahwa sosok di sampingnya ini SANGAT mirip dengan Shodaime Hokage, Hashirama Senju dan memang benar kenyataannya, nama orang di sampingnya ini adalah Hashirama Senju.

Saat ini, mereka berdua tengah berdiri di atas atap Yokai Gakuen sembari melihat pemandangan langit sore yang menentramkan hati.

"Aku membutuhkan bantuanmu." Jawab Hashirama dengan seringai di wajahnya.

"Hm…? Bantuan?" tanya Naruto sembari melirik Hashirama dari ujung matanya.

"Ya, aku membutuhkan bantuanmu untuk melindungi sekolah ini… dan gadis vampire itu khususnya." Jawab Hashirama dengan seringai yang semakin melebar di wajahnya.

Mengerti maksud dari Hashirama dengan 'gadis vampire', Naruto langsung memutar badannya menghadap Hashirama.

"Melindungi dari apa?"

Mendengar nada Naruto yang mulai berubah dari santai menjadi serius, Hashirama hanya bisa tertawa kecil sembari mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.

"Khukhukhu… kau sungguh polos untuk ukuran seorang legenda, Naruto. Lingkaran kebencian, rasa ingin memiliki segalanya, rasa takut dan rasa dendam tidak hanya terbatas pada ras manusia, Naruto, tapi juga monster."

Mengabaikan fakta bahwa Hashirama sepertinya telah mengetahui identitasnya sebagai seorang legenda ninja, Naruto terus memandang Hashirama, meminta penjelasan lebih.

"Dunia monster dikuasai oleh 3 Dark Lord dari ras yang berbeda. Pertama dan yang dipercaya sebagai yang terkuat, seorang vampire berdarah murni bernama Hyuuga Hiashi. Kedua, seekor naga hitam yang kekuatannya masih menjadi misteri, Uchiha Madara, dan yang terakhir… seorang manusia atau exorcist lebih tepatnya, yaitu aku." Menyempatkan diri untuk melihat ekspresi kaget di wajah Naruto, Hashirama kembali melanjutkan ceritanya.

"Beberapa tahun ini, para monster terus menerus menyerang Yokai Gakuen untuk mengambil para murid yang termasuk monster kelas S yang entah akan digunakan untuk apa. Pertama-tama, hanya monster-monster kelas rendah yang mencoba menculik murid-murid di sekolah ini. Tapi sekarang… bahkan seorang S-class monster mungkin saja datang ke sekolah ini untuk menculik para murid. Dan karena itulah aku meminta bantuan darimu, Naruto." Jelas Hashirama dengan nada yang jelas mengharap persetujuan dari Naruto.

"Hm… kau salah satu dari Dark Lord, bukan? Lalu kenapa kau tidak menghentikan mereka dengan tanganmu sendiri? Beberapa monster kelas S pasti tidak akan menjadi masalah untuk seorang Dark Lord." Ujar Naruto sembari kembali melihat matahari yang mulai terbenam di cakrawala.

"Khukhukhu… mungkin kau benar, Naruto. Tapi di dunia monster, ada hukum –atau kutukan- bagi siapapun yang menjadi Dark Lord. Sebagai Dark Lord, kami dilarang –dan tidak bisa- berbuat kekerasan kepada monster lain. Jika kami melanggar hukum itu, kami akan dihukum oleh Dewan Monster dengan cara dibakar menggunakan api hitam milik dewa Amaterasu. Karena itulah, kami hanya bisa merekrut monster-monster lain untuk membantu kami dalam bidang yang cukup 'keras'." Balas Hashirama sembari melihat ke arah Naruto yang saat ini tengah memejamkan matanya.

"Lingkaran kebencian dan horror perang yang disebabkannya… aku telah melihatnya satu kali, dan aku harap hanya satu kali. Kehilangan orang-orang berharga, jiwa-jiwa tak berdosa yang mati sia-sia… aku tidak ingin ada yang mengalaminya lagi. Jika tindakan ini dapat membantu untuk memotong rantai dendam di dunia ini… aku akan membantumu, kepala sekolah." Membuka kembali matanya, permata safir Naruto kini telah berganti menjadi pola riak air Rinnegan.

"Khukhukhu… bagus sekali, Naruto. Mito-chan." Dalam sekejap mata, di samping Hashirama kini muncul sosok Uzumaki Mito dalam pakaian hitam khas sekretaris miliknya.

"Tolong antarkan tamu spesial kita ke asramanya."

"Ya, Hashirama-kun." Balas Mito dengan senyum di wajahnya.

"Naruto, silahkan ikuti Mito-chan. Dia akan mengantarmu ke asrama milikmu. Oh, seragam dan seluruh peralatan sekolahmu sudah kusiapkan di kamarmu." Ujar Hashirama sembari melangkah pergi meninggalkan atap sekolah.

"Huh? T-Tunggu! Se-sekolah?! Kau tidak bilang bahwa aku harus sekolah di sini, kepala sekolah sialan…!" seru Naruto histeris pada sosok Hashirama yang kini telah tak terlihat.

"Hahaha… tenang saja Naruto-kun, sebagai pelindung Yokai Gakuen yang dipilih langsung oleh kepala sekolah, kau memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya, seberapa jelekpun nilaimu di kelas, kau akan selalu mendapat nilai B di rapormu." Ujar Mito pada Naruto dengan tawa lembutnya yang merdu.

Melihat ke arah Mito, Naruto hanya bisa menelan ludahnya dan menahan rona merah yang mulai merambat ke wajahnya.

'Kami-sama… kenapa kau menciptakan makhluk secantik dia -tidak, tidak! Kau harus setia pada Hinata, Naruto! Harus! HARUS!' batin Naruto, tanpa sadar sembari terus memandang ke arah Mito yang kini mulai berjalan menjauh.

"Ayo pergi, Naruto-kun. Kau bisa meneruskan memandangiku di kamarmu nanti." Ujar Mito dengan nada seduktif.

'Dammit! Maafkan aku jika aku lepas kendali, Hinata-chan!' batin Naruto dengan darah yang mulai mengalir dari hidungnya sembari mulai berjalan mengikuti Mito menuju kamar asrama miliknya.

Naruto's Dorm…

"Hooaaahhhhmmm…"

Merenggangkan tubuhnya sejenak, Naruto kembali mengambil posisi nyaman di tempat tidurnya sembari milirik jam dinding di kamar asrama miliknya.

Ya, saat ini Naruto memang tengah berada di kamar asrama miliknya. Awalnya, Naruto memang cukup terkejut saat menyadari bahwa kamar miliknya jauh lebih besar dan mewah dari kamar asrama murid-murid lain. Tapi saat Mito berkata bahwa itu adalah salah satu keuntungan menjadi perlindung Yokai Gakuen, Naruto hanya bisa tersenyum lebar sambil berlari menuju tempat tidurnya yang empuk. Oh, siapa sangka pekerjaan melindungi monster bisa menjadi semenguntungkan ini?

"Hm… jam 6 lebih 50… masih pagi. Sekolah baru dimulai pukul 7…" gumam Naruto sembari memejamkan matanya kembali.

10%…

45%...

95%...

"UAPPPAAHHH?! SIALAN AKU TERLAMBAT…!" seru Naruto tiba-tiba sembari melompat dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi.

Dan dengan itu, dimulailah pagi hari yang sibuk khas Uzumaki Naruto.

Classroom XI-3, Yokai Gakuen…

Kelas XI-3 di pagi hari. Seperti biasa, selalu ramai dengan obrolan-obrolan maupun teriakan-teriakan dari para penghuni kelasnya yang kebanyakan merupakan laki-laki. Dan seperti biasa pula, kelas akan penuh dengan 'meledak' saat…

"Hinata-hime…! I LOVE YOU!"

"Hinata-san! Ayo menikah denganku!"

"Kecantikan Hinata-sama sungguh menyilaukan~!"

"Hinata-chan, ayahmu tukang rujak ya~?"

"Ayahnya Hinata-chan itu Dark Lord, bodoh!"

"Ugh…"

Dan seperti biasa pula, Hinata hanya akan membalas dengan senyum manisnya sembari berjalan menuju bangku di pojok kelas.

Memandang jam dinding di kelasnya, Hinata hanya bisa menghembuskan napas kecewa.

'Ini sudah hampir saatnya masuk dan Naruto-kun belum datang ke kelas. Hh… mungkin Naruto-kun memang ditempatkan di kelas lain.' Batin Hinata kecewa.

*Sreeeeg*

Mendengar bunyi pintu geser yang dibuka, seluruh murid di kelaspun langsung duduk tenang di tempat duduk mereka masing-masing, menunggu kemunculan guru sadis –dan ehemseksiehem- mereka.

Tak lama kemudian, masuklah sosok anggun dan menggoda Anko-sensei, tak lupa dengan aura-aura negative yang selalu mengelilinginya. Tubuhnya yang berbalut pakaian ketat khas sekretaris ditambah dengan rok pendek selutut miliknya tak pernah gagal memancing lirikan-lirikan 'ganas' dari murid laki-laki. Tapi tentu saja, mereka akan langsung bersujud meminta ampun saat Anko-sensei mulai mengeluarkan sisi 'gelap' miliknya.

"Selamat pagi, anak-anak!" Anko-sensei segera menyapa murid-muridnya segera setelah ia menaruh buku-bukunya di meja guru.

"Selamat pagi, Anko-sensei!" balas murid-murid secara serempak.

Dan dengan itu, Anko-sensei pun memulai kegiatan pembelajaran di kelas XI-3.

Sedikit banyak, Anko-sensei menikmati wajah-wajah menderita murid-muridnya yang tetap berusaha terlihat berkonsentrasi pada pelajaran yang disampaikannya walaupun pada kenyataannya otak mereka telah berasap.

Di tengah proses pembelajarannya, tiba-tiba saja Anko-sensei mendengar bunyi pintu kelas yang diketuk.

"Masuk!"

Perlahan, pintu geser kelas terbuka, menampakkan sosok acak-acakan dan seksi –menurut para gadis di kelas- Uzumaki Naruto yang tengah tersenyum salah tingkah sembari menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.

"U-uhm… maaf sensei, saya terlambat…" ujar Naruto sembari tersenyum gugup ke arah Anko.

Sebagai balasan, Anko-sensei hanya member isyarat pada Naruto untuk masuk dan memperkenalkan diri di depan kelas.

"Uh… hai teman-teman, perkenalkan namaku Uzumaki Naruto. Senang bisa bertemu dengan kalian!" ujar Naruto sedikit salah tingkah saat para gadis di kelas memandanginya dengan pandangan 'lapar', tak terkecuali untuk Anko-sensei.

"Baiklah, Uzumaki-san… bisa jelaskan kenapa kau bisa terlambat?" tanya Anko-sensei sembari berjalan mendekati Naruto dengan menggoyangkan sedikit pinggulnya, berusaha menggoda sang Uzumaki muda.

Naruto yang melihat goyangan pinggul Anko-sensei hanya bisa menelan ludah dan menahan rona merah yang perlahan mulai muncul di wajahnya.

"Um… t-tadi di koridor saya bertemu kucing hitam, sensei. Ja-jadi saya harus memutari sekolah dulu untuk menghindari sial…" jawab Naruto seadanya, menyebabkan seluruh murid di kelas sweatdropped serempak.

Mengamati penampilan murid di depannya sekali lagi, Anko-sensei menyadari sesuatu yang ganjil.

Tidak seperti murid lain yang memakai kemeja putih dilapisi jas hijau dengan celana atau rok berwarna kuning, Naruto malah memakai pakaian yang sangat mirip dengan Student Police Committee. Sebagai atasan, Naruto memakai kemeja merah dengan dilapisi jas hitam dengan lambang Yokai Gakuen di bagian dada. Sedangkan sebagai bawahan, Naruto mengenakan celana panjang berwarna hitam dengan sepatu kets hitam yang tampak cocok dengan penampilannya. Secara keseluruhan, para gadis dalam ruangan itu hanya dapat menggambarkan Naruto dalam satu kata.

Hot.

"Hm… Uzumaki-san, kenapa kau memakai seragam yang berbeda dengan murid-murid yang lain?" tanya Anko-sensei dengan nada tajam. Setampan apapun muridnya, ia tetap paling tidak suka pada murid yang melanggar peraturan sekolah.

"Um… entahlah, sensei. Tapi ini seragam yang saya dapatkan dari kepala sekolah." Balas Naruto ringan.

"Hh, baiklah kalau itu memang kemauan dari kepala sekolah. Baiklah, silahkan duduk di sebelah Nara Shikamaru. Nara-san, tolong angkat tanganmu agar Uzumaki-san bisa melihatmu." Seru Anko-sensei sambil melihat ke arah murid yang dimaksud.

Tak lama setelah itu, seorang murid di barisan paling belakang mengangkat tangannya dengan malas sembari menguap lebar, menyebabkan Anko-sensei menahan keinginannya untuk melempar papan tulis ke muka murid pemalasnya itu.

Menyadari sosok Hinata yang tengah tersenyum senang kepadanya di bagian pojok belakang kelas, Naruto pun menyempatkan diri untuk membalasnya dengan senyuman lebar miliknya sebelum akhirnya berjalan menuju bangku di sebelah Shikamaru.

Schoolyard, After School…

Berjalan berdampingan dengan senyum bahagia di masing-masing wajahnya, adalah Naruto dan Hinata yang saat ini tengah berjalan melintasi halaman sekolahyang tergolong sangat luas untuk menuju sisi bangunan sekolah yang lainnya, tempat Sasuke di rawat.

Tentu saja, sepanjang perjalanan, mereka terus mendapat deathglare dari seluruh penghuni sekolah, baik perempuan maupun laki-laki. Alasannya tentu sudah jelas. Hinata, mendapat deathglare dari para fangirls dadakan Naruto, dan Naruto mendapat deathglare dari para fanboys setia Hinata.

"Wow, kau memiliki cukup banyak penggemar ya, Hinata-chan…" bisik Naruto pada Hinata saat melihat gerombolan murid laki-laki di lantai dua membawa banner yang bertuliskan 'Hinata is the best, Blondie is the worst!' yang membuat urat dahi Naruto bermunculan.

"A-ah… ti-tidak kok, Naruto-kun… m-mereka hanya teman-teman baikku…" balas Hinata sembari menundukkan kepalanya menahan rasa malu.

"Ahahaha… tidak usah merendahkan diri begitu, Hinata-chan! Hinata-chan kan memang sangat cantik, wajah saja jika banyak penggemarnya!" seru Naruto tanpa sadar kondisi Hinata yang hampir pingsan karena disebut SANGAT cantik oleh Naruto secara terang-terangan.

Naruto yang melihat wajah Hinata semakin memerah hanya bisa tertawa menghadapi keimutan HinataNYA ini.

Sayang, momen-momen NaruHina harus terganggu saat tiba-tiba saja…

"Hinata-sama."

… Hyuuga Neji muncul.

Mendengar ada seseorang yang memanggil nama Hinata, Naruto dan Hinata pun segera menghadap lurus ke depan mereka hanya untuk bertemu pandang dengan sosok berseragam hitam khas Student Police Committee, Hyuuga Neji.

"N-Nii-san…" gumam Hinata dengan suara yang agak gemetar sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak bertatap mata dengan Neji. Tanpa sadar, Hinata membawa tubuhnya lebih merapat ke belakang tubuh Naruto, merasa lebih aman saat berada lebih dekat dengan Naruto.

Naruto yang melihat reaksi Hinata pada Neji hanya bisa mengkerutkan dahinya sambil memandang ke arah Neji.

"Kau, anak baru, menyingkir dari Hinata-sama." Ujar Neji datar sembari menatap tepat ke arah permata safir Naruto.

"Kenapa?" tanya Naruto.

"Makhluk rendahan sepertimu tidak pantas berada di dekat vampire berdarah murni kerajaan seperti Hinata-sama." Jawab Neji dengan nada yang berubah menjadi nada dingin dan penuh arogansi.

"Oh, bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, kenapa? Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?" balas Naruto dengan nada menantang dan senyum yang mengejek.

Sebelum Naruto tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja ia merasakan sebuah pukulan mengenai perutnya. Tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk membuat Naruto terpental beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri semula dan berhenti saat menabrak salah satu tembok ruang kelas hingga hancur, menyebabkan dirinya tertimbun oleh reruntuhan tembok kelas.

Seluruh murid yang melihat kejadian itu langsung berhenti melakukan kegiatannya masing-masing dan hanya memandang penuh rasa takut ke sosok Hyuuga Neji dan Uzumaki Naruto –yang sekarang tengah tertimbun reruntuhan- secara bergantian.

"Uh, si pirang itu yang mencari masalah…"

"Aku harap dia masih hidup…"

"Dia pasti sudah gila berani mencari masalah dengan wakil ketua SPC…"

Dan tak lama kemudian, para murid-muridpun mulai berbisik-bisik memperbincangkan kemalangan nasib teman baru mereka di tangan wakil ketua Student Police Committee, Hyuuga Neji.

"Ayo kita pergi, Hinata-sama. Hiashi-sama akan marah jika mengetahui bahwa anda bergaul dengan makhluk rendahan seperti dia." Ujar Neji dingin sembari menarik tangan Hinata, memaksanya untuk pergi meninggalkan halaman sekolah.

Hinata yang tidak berdaya dalam wujudnya sekarang hanya bisa menangisi nasib Naruto dan berjalan mengikuti langkah Neji. Sayang, baru berjalan beberapa langkah, Neji kembali menghentikan langkahnya saat mendengar…

"Shinra Tensei."

Dan saat itu juga, puing-puing yang tadinya mengubur Naruto langsung meledak ke segala arah, menimbulkan debu tebal yang menghalangi pandangan Neji.

Membalikkan badannya untuk menghadap ke arah debu tebal hasil ledakan tadi, Neji tiba-tiba langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Hinata dan melompat ke samping untuk menghindari bongkahan batu yang datang ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.

Memastikan bongkahan batu telah melewatinya, Neji kembali memandang ke arah debu tebal yang kini mulai menipis, hanya untuk melihat sepasang mata ungu muda berpola riak air yang memandang tajam tepat ke arahnya lengkap dengan seringai lebar yang memuakkan –menurut Neji.

"Khukhukhu… kau akan mengingat hari ini… Hyuuga Neji… hari dimana kau berhasil memukul Uzumaki Naruto… karena…" perlahan, debu-debu yang tadinya masih berterbangan mulai menghilang, menampakkan sosok Uzumaki Naruto lengkap dengan Rasengan berwarna hitam di tangan kanannya.

Dalam sekejap mata, tiba-tiba saja Naruto menghilang dari pandangan Neji, hanya untuk muncul kembali tepat di hadapan Neji dengan seringai rubahnya.

"… kau tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi dengan tangan busukmu itu, Rasengan!"

*Blaaaarrrr*

.

.

.

.

To Be Continued…

Next Chapter : Naruto vs Student Police Committee

"Mundur Neji, sekarang ini urusanku. Ini adalah penghinaan bagi Student Police Committee."

"G-Gaara…"

"Jika kau menang, akan kuserahkan Student Police Committee kepadamu."

"Heh, kau yang bilang yah?"

"D-Dia bukan monster biasa… d-dia… monster legendaris, bijuu! Ichibi no Shukaku!"

Till then, review~! ^o^

See ya the next time~!