Readers,

maaf saya ngga bisa update chapter yang ada dua part-nya sekarang. Dan cerita ini pun juga ngga bisa jadi 10 chapter aja. Karena saat mengetik cerita ini, ada momen-momen Mikuo dan Aria yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu aja.

Sekian News Flash-nya. Hope you enjoy my Fanfinct.


-Mirror-

By Creativeactive

-;-;-;-;-;-;-;-;-

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: Ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin. Jadinya yah… yah… yah begitu…. -_-

Rate: 13+


.

.

.


Eight


.

.

.

Pagi yang tidak cerah.

Cuaca hujan, sinyal luar biasa buruk.

Tidak biasanya aku peduli dengan cuaca. Tapi kali ini, kehidupan dalam benak rasanya bercuaca sama buruknya dengan cuaca pagi ini—Tidak, bahkan jauh lebih buruk lagi. Ini sudah taraf Badai.

Singkatnya, aku sedang bad-mood.

"Mikuo-san, tolong jangan pasang tampang seperti itu di sini. Nanti yang lainnya akan ketakutan." Ujar Kagamine Len yang tiba-tiba memasuki perpustakaan rumahku.

"Ya, tampangmu sudah tidak jauh berbeda dengan psikopat dari film horror, you know." Meiko menimpali.

Kulirik mereka berdua dari sudut mataku. "Whatever." Balasku. "Kenapa kalian tidak pulang-pulang juga?"

Len mengangkat bahunya. "Aku bisa saja pulang dari lima menit lalu. Tapi, Nee-chan tidak kuat dengan dingin. Ia pasti akan langsung sakit jika nanti kuboncengi dengan motorku hujan-hujan begini. Makanya aku belum pulang." Jelasnya.

Aku hanya diam tanda mengerti.

"Ara~ Lenny ternyata perhatian sekali sama Rinny, yaa?"

Bukan. Itu bukanlah suara dari aku ataupun Meiko yang membuat Len geram. Kamui Gakupo-lah pelaku utamanya.

"Aku tidak perhatian padanya."

"Aw, Lenny ngaku aja~"

"Terserah kau, Gaku-san." Len memutar bola matanya.

Meanwhile, Meiko menggeleng-gelengkan kepala. Lelah. "Gakupo, mood-nya Len sedang buruk. Dia tidak bisa cepat pulang untuk melanjutkan main game Kingdom Hearts di PS nya karena harus menunggu hujan reda. Sebaiknya kau tidak mengganggunya."

Gackt memanyunkan bibirnya. Aku langsung mengalihkan pandangan dari wajahnya yang oh-so-very-disgusting itu.

"Ehh… kalian kenapa malah berkumpul di pepustakaan Mikuo-kun?" Kaito memiringkan kepalanya. Tampangnya yang polos nan bodoh itu pasti sudah diteriaki fansnya sekarang.

"Kami sedang menemani sahabat pecinta negi kita tercinta yang sedang galau." Jawab Gackt sekenanya, yang langsung kulempari dengan tatapan kematian milikku.

Wajah si terong seketika langsung kalut. "Eh, uhm, ampuni hamba, Mikuo-sama."

Kuputar bola mataku, jengah.

"Sudah, sudah. Lebih baik kita kembali saja ke ruang tamu. Jangan menganggu Mikuo-kun yang sedang galau." Meiko mengedipkan mata padaku. Yang kubalas dengan tatapan tajam.

Langkahku mengikuti mereka semua keluar. Lagipula aku bosan berdiam diri di perpustakaan. Aku lalu berhenti setelah sampai di ruang tamu. Shion Kaito tengah bersantai di sofa ganda depan TV. Gackt dan Len menduduki sofa itu dan merecokinya. Sementara itu Meiko memasuki dapur untuk membuka kulkas dan mengambil… What the

Refleks, kututup pintu kulkas. Dan memandang Meiko, tajam.

"Jangan pernah, sekali-kalinya, kau mabuk dirumahku." Ancamku tegas.

Meiko menelan ludahnya, gugup, keringat bermunculan di dahinya. "T-tapi, sekarang sedang hujan dan aku kedinginan…"

Kutegakkan punggungku, menatapnya datar.

"Minta saja Kaito untuk memelukmu. Beres kan?"

Seketika, wajah Meiko memerah, kalut. "T-tidak segampang itu! L-lagipula, ini kan rumahmu. Mana mungkin kami melakuka—"

"Tapi waktu itu Kaito pernah menciummu di depan umum." Potongku.

Mata wanita itu melebar, muka semakin memerah. "J-jangan membicarakannya lagi, Mikuo! Itu kejadian yang memalukan!"

"Tapi kau menyukai kejadian itu."

Bibir Meiko membuka, seperti habis akal mau bicara apa. Akhirnya, ia memilih untuk pergi.

"Kenapa masih malu? Kau kan sudah bertahun-tahun pacaran dengan Kaito."

Kepalanya menoleh. Hening sesaat.

"Itu memang benar. Namun… " ia membalikkan tubuhnya padaku. "Aku sudah menyukai Kaito jauh lebih lama dari yang kau bayangkan, Mikuo. Makanya, bahkan sampai sekarang pun… debaran jantung yang lebih cepat setiap kali Kaito berada di dekatku tetap tidak bisa pudar."

Dahiku berkedut. "Semenjak kapan?"

Matanya mengarah ke arah lain, seperti menerawang. "Semenjak aku SD, haha." Ia tertawa kecil. "Tapi kemudian Kaito pindah sekolah dan aku bisa melupakannya untuk beberapa tahun. Maklum lah, aku masih bocah ingusan di zaman itu. Tapi setelah bertemu lagi di SMP, aku kembali menyukainya. Perasaan yang tak berubah, dan justru semakin bertambah sampai sekarang."

Mendesah, kusilangkan tanganku, bersender di kulkas. Aku tahu dari tadi pria itu menguping pembicaraan.

"Jangan bersembunyi di balik tembok, Kaito."

Wajah Meiko menegang. Lalu perlahan, Kaito keluar dan memasang wajah cengengesan. "K-kenapa ya, Mikuo-kun?"

Dia ini sudah bodoh. Buat apa pura-pura bodoh lagi?

"K-kaito, sejak kapan kau ada di situ?" suara pecinta sake itu mengecil.

"Err…. Sejak lima menit yang lalu…"

Dari wajahnya, bisa kutebak kalau sekarang Meiko sedang berpikir, 'Berarti dia dengar pernyataanku barusan dong? Duh, bagaimana iniii?!' di dalam otaknya.

Kaito mendekati wanita itu perlahan. Lalu ia memiringkan kepalanya, wajah polos terpampang.

"A-ada apa, Kaito?"

Mendesah, Kaito melepaskan syal birunya, kemudian melingkarkan syal itu di leher Meiko.

"Mei-chan kedinginan ya? Hidungmu sampai merah lho."

Wanita itu terperangah, mata coklat sadel itu kemudian menatap mata kekasihnya, lembut.

"Arigatou, Kaito-kun."

Aku mendengus, jengah. Kenapa juga aku harus melihat adegan romantisme kelebihan glukosa ini sih? Kalau saja sekarang ponselku masih ada sinyal, aku pasti tidak akan sinis melihat mereka.

"Jangan bermesraan di depanku, pasangan bodoh."

Mereka tersentak. Lalu menatapku, senyuman jahil menghias wajah.

Oh, shit.

"Ehh… Mikuo-kun lagi galau karena tidak bisa ketemu dan teleponan dengan IA-chan yaa?"

"Ow, Mikuo, sekarang aku percaya kalau kau memang bukan gay."

"Mikuo-kun pasti cemburu sama kita karena dia tidak bisa bermesraan dengan IA-chan. Ya kan, Mei-chan?"

"Tentu saja!"

Aku menggeram. Berusaha mengabaikan perkataan mereka.

"Sudah, sekarang kita tinggalkan saja Mikuo-kun bergalau ria sendirian! Biar dia tahu sendiri pahit-manisnya jatuh cinta!" Kaito mengapit tangan kekasihnya, kemudian pergi menuju ruang tamu. Teriakkan pria itu lalu menggema. Berniat membalas perbuatan Len dan Gakupo barusan.

Kubuka lemari dapur untuk mengambil cangkir. Menyeduh kopi hitam dan menunggunya hingga agak dingin. Tak lama, bunyi ponsel menyentakku.

Aku merogoh ponsel dari saku jeans-ku. Berharap SMS itu dari Aria.

Dan ternyata bukan.

From: Twintail Brat

Di dalam rumah ada siapa aja?

Aku kecewa, of course. Tapi tetap membalas SMS dari adikku. Setelah itu, berhubung sinyalnya sudah membaik, aku berniat untuk menelepon Aria.

Namun sialnya, sinyal tidak sedang berpihak kepadaku. Panggilan kepada Aria tetap tidak bisa tersambung. Sinyal busuk.

Ponselku berdering lagi. Balasan SMS dari adikku.

From: Twintail Brat

Oh, yaudah.

Aku nanti pulang larut. Masih Meet and Greet dulu di Fukushima. Sekalian shopping, hehe ^ ^

Aku memandangi layar ponselku, bosan. Lalu benda itu kututup. Aku tahu, Miku pasti sengaja berlama-lama karena mau menghindar dari Kaito. Kenapa aku bisa melupakan satu hal? Bahwa Miku mencintai Kaito yang mencintai Meiko yang balik mencintai Kaito?

Oke, ribet.

Intinya, itu cinta segitiga yang sudah terputus. Karena Kaito dan Meiko sudah serius dalam hubungan mereka dan menyisakan Miku sendirian, dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kalau begini terus, berarti Miku tidak akan punya pasangan sampai akhir cerita. Miris sekali.

Aku mendesah—entah untuk yang keberapa kalinya. Kopi yang sudah mulai mendingin langsung keteguk perlahan. Kemudian aku memandangi ponsel, terperanjat saat membaca nama itu.

From: My Future Wife

Hujan pagi ini deras ya?

Bagaimana kabarmu? Tidak sakit kan? Aku di sini berdoa agar kamu baik-baik saja.

Aku tersenyum. Bahagia sekali rasanya membaca kalimat simpel seperti ini. Lalu aku pun membalas chatting-annya, dan kami pun saling chating-chatingan sampai… aku terantuk-kantuk, kurasa.

And yeah, sometimes, you just don't need to search for happiness. 'Cause happiness itself will come to you on the appropriate time and place.

.

.

.

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Hoy,

Again, first of all, I say my biggest thanks to Allah SWT.

Second, Terimakasih buat kalian semua yang udah mau baca, review, fave, dan follow cerita ini. Terutama yang udah mau nge-review terus-terusan hampir di setiap chapter. Thanks banget ya :D

Oke, saya minta maaf, karena saya yakin pasti banyak yang protes karena words-nya cuma sedikit. Abis otak lagi mampet inspirasi. Miskin imajinasi. Saya usahakan agar chapter selanjutnya bisa lebih banyak (ngga janji)

Then, saya mau ngomongin soal umur.

Umur Mikuo di chapter pertama dan kedua itu 16 sama seperti Kaito, Gakupo dan Luka. Di chapter kedua pertengahan, Mikuo masuk Crypton College umurnya 18. Terus pas ketemu IA umurnya 20. Sedangkan IA itu dua tahun di bawah Mikuo. Trus, kok bisa ketemu Mikuo di SMA pas Mikuo masih kelas 10? Soalnya IA itu masuk kelas Akselerasi. Makanya dia skip grade dua kali, di SD dan di SMP. Di SMA dia ngga bisa skip grade karena... ada "skandal" dengan sekolahnya.

Kalo Miku, Gumi, dan kembar Kagamine, mereka itu setahun tahun lebih muda dari Mikuo.

Oke, ada yang bingung? Ada pertanyaan? Tulis aja di kolom Review. Nanti saya balas lewat PM. Bagi yang ngga punya akun, nanti saya balas di chapter selanjutnya.

So... what do you think of Kaito and Meiko?

Mind to review?