Sebelumnya, saya menyarankan readers untuk mendengarkan lagu ini pas ada detik-detik menuju sebuah duet. Duet antara siapa dengan siapa saya ngga akan ngasitau. Intinya nanti bakal ada duet. Ini linknya wwwdotyoutubedotcom/watch?v=udJF6XjR4ug


-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: Ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin. Jadinya yah… yah… yah begitu…. -_-

Rate: 13+


.

.

.


Nine


.

.

.

Karaoke Studio.

Aku tidak pernah memasuki tempat itu.

Bahkan diumurku yang kedua puluh delapan pun aku belum pernah mengunjunginya. Jika saja bukan karena Aria, sampai mati pun aku tidak akan sudi memasuki tempat itu.

Kunjunganku ke tempat itu diawali oleh celetukan Nakajima Gumi di siang bolong. Karena kebetulan di saat itu aku dan Aria sedang berkunjung ke Crypton College, dan kami sedang makan siang bersama alumni lainnya, kami pun jadi terseret dalam rencana dadakan tersebut.

Aria, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu, kali ini justru menyimak ucapan Gumi dengan penuh semangat. Lalu, dengan mata berkedip-kedip dan melebar layaknya kucing, ia mengajakku. Dan seharusnya, SE-HA-RUS-NYA, aku menolak. Tapi seorang Aria, tanpa perlu menggunakan kitty eyes pun akan selalu berhasil membuatku luluh. Jadinya ya, aku terpaksa ikut.

Total ada delapan orang yang ikut. Aku, Aria, Kaito, Gakupo, kembar Kagamine, Meiko dan Gumi. Namun Gumi ingin mengajak Miku (dan tentunya Miku harus melakukan penyamaran). Jadi, totalnya ada sembilan orang.

Kami mengunjungi tempat karaoke itu di hari Sabtu. Karaoke Studio tersebut terletak di dalam mall. Dan disaat aku mengharapkan Aria untuk terus dekat denganku, berjalan di sampingku layaknya pasangan (walaupun kami tidak pacaran sama sekali), ia justru malah terus menemani Miku. Takut dengan hadirnya Kaito dan Meiko akan menyakiti perasaannya. Iya sih, aku tahu Aria memang mengerti apa yang Miku rasakan dan tidak ingin membuat Miku tersisih akibat idiot es krim dan penggila sake itu. Tapi percayalah! Miku itu sudah bisa move on dari Kaito… uh, yah, mungkin sih…

Whatever. Intinya, ucapkanlah selamat untuk Miku karena sudah berhasil membuatku cemburu. Walaupun hampir beberapa menit sekali ia menoleh padaku, memasang wajah cemas karena Aria justru selalu berada di sampingnya alih-alih di sampingku, aku tetap saja sulit menerima.

Mungkin, Gackt sadar dengan emosiku. Lain halnya dengan BaKaito yang tumpul dengan perasaan orang lain (dia mengetahui perasaan Miku saja dari Gakupo, dan itu pun harus berkali-kali dikatakan baru Kaito percaya). Lalu Gakupo menepuk bahuku.

"Bersabarlah, kawan. IA bukannya menghiraukanmu, dia hanya tidak tega dengan Miku. Kau pasti tahulah perasaan wanita." ujarnya dengan muka (sok) berwibawa.

Aku mendengus. Actually Gackt, I have no idea of woman's feelings at all.

Sesampainya di Karaoke Studio, Gumi, selaku pencetus rencana, memesan ruangan untuk kami. Sementara yang lainnya asyik mengobrol dengan yang lain, aku memilih untuk menyibukkan diri dengan memerhatikan wanita itu. Iya, Aria, memang siapa lagi?

Kurasa, Aria menyadari tatapanku. Dia berhenti bicara pada Miku dan menoleh padaku, kemudian, ia berjalan menuju tempatku berdiri. Ketika telah berada selangkah dariku ia berkata, "Kau marah?"

Aku menggeleng. Karena aku memang tidak marah. Paling hanya cemburu, sedikit.

Ia mendekat padaku, dan—Oh! Aku tidak sadar bahwa ia memakai bros kucing itu. Aksesori tersebut tersemat di dadanya. Dan tidak, aku tidak mau menahan diriku untuk tidak tersenyum.

"Aku ingin menemani Miku hari ini. Aku mengerti perasaannya, Mikuo. Walaupun dia terlihat tegar, ia masih terluka akibat pernyataan Kaito di malam reuni setengah tahun lalu. Miku masih rapuh." Jelas Aria. Lalu aku pun mengangguk, mengerti.

"Temanilah dia. Aku akan mengusahakan diriku agar tidak cemburu."

Mata Aria membelalak. Dan entah kenapa pipinya bersemu kemerahan. Aneh, tapi manis sekali…

"Uhm, baiklah, Mikuo, sampai jumpa…"

Aku tersenyum. "Untuk bertemu kembali."

Aria membalas senyumanku, lalu berjalan kembali menuju Miku. Sejenak kemudian, seseorang memanggil namaku.

Mataku melirik pria terong itu, malas. Namun lihat apa yang kudapatkan. Kamui Gakupo ternyata memandangiku dengan wajah horror.

"Apa-apaan wajahmu itu?"

Gakupo berusaha untuk menenangkan dirinya, seakan ia itu habis terkena serangan jantung mendadak. Aneh.

Menengok ke kanan-kiri seperti takut ketahuan mencuri, Gakupo berkata, "Eh, ini, untukmu." Ia menyodorkan benda berbentuk kotak biru kecil padaku. Setelah aku mengengamnya, aku mengerinyit, meminta penjelasan.

"Untuk jaga-jaga." Ujar Gackt.

Kuputar-putar benda itu, mencari penjelasan dalam kemasannya. Dan sontak, mataku melotot setelah membaca tulisan yang tertera di sana.

Kondom.

Tak ada sedetik, pikiran untuk membakar seorang Kamui hidup-hidup menggerayangi otakku.

"Gackt," panggilku dengan suara serendah mungkin, tepat setelah membuang benda sial itu ke tong sampah.

"Eh, iy—What the… Mikuo bodoh! Kenapa kau membuangnya!? Kalau kau tidak mau kembalikan saja padaku!"

Mataku menghunus belati tatapan yang paling tajam, kemudian aku berujar dengan nada tegas mematikan, murka tidak karuan. "Sekali lagi kau memberikan benda ini padaku, jangan harap kau bisa hidup tenang di dunia maupun di akhirat."

Gakupo memasang tampang kalut, lalu ia menelan ludah. "T-tapi, aku hanya ingin mencegahmu dari kejadian yang tidak diinginkan! Sadarkah kau bahwa daritadi kau terus memperhatikan dadanya?"

Ap..HAH?! Tapi daritadi aku… aku hanya memperhatikan brosnya!

"Dari tadi Hatsune-san memperhatikan bros IA-san, Kamui. Janganlah menularkan pikiran mesummu pada orang lain."

Suara feminim-dingin itu, sepertinya pernah kudengar. Aku mendengak, mendapati wajah Gakupo yang super priceless. Wajahnya terkejut bukan main dan rona kemerahan menghias pipi. Gakupo yang seperti ini lebih… manusiawi. Aku pun menoleh, dan mendapati sosok indah dengan wajah Tsundere-dingin terpampang.

"Lu-Luka-sama." Jelas ini suara Gakupo. Tidak mungkin aku memanggil Megurine dengan embel-embel 'sama'.

Megurine Luka mendengus. "Jangan pernah memanggil nama kecilku dari mulut hentaimu itu."

Gakupo, justru membalasnya dengan cengiran lebar. Dasar masokis. "Luka-sama, kita berdua dipertemukan di waktu dan tempat yang tak terduga. Apakah ini takdir?"

Luka hanya memandangnya dingin a la Tsundere quenn. "Bukan. Dan aku kesini untuk menemui seseorang."

Mata Gakupo melebar. "Eh, siap—"

"Ah, itu dia orangnya." tunjuk Luka mengarah kebalik punggung kami. Hanya Gakupo yang menoleh, sementara aku tetap berdiam diri, tidak mau tahu urusan orang lain. Tapi, sesaat kemudian bisa kulihat mata Gackt berkilat oleh amarah. Diam, tapi berbahaya.

"Itu pacarmu?" tanya Gakupo.

"Belum, tapi sebentar lagi, iya."

Playboy terong mendengus. "Kau, mau memacari pria feminim kurus itu? Yang benar saja." Ujarnya sinis.

"Terserah mau berkata apa. Tapi asal kau tahu, dia itu lulusan terbaik fakultas Bussiness and Management dari Utau College."

"Hah, kau pikir aku tidak?"

Megurine memutar bola matanya. "Kelasmu, dan kelasnya sudah jelas berbeda. Dari segi kecerdasan ataupun kualitas, dirinya jauh lebih baik darimu, Kamui."

Dengan rahang mengeras, wajah Gakupo menyiratkan ketidakterimaan. "Calon pacarmu itu kerja di mana?"

Mendengar kalimat serangan Gakupo, Luka hanya menatapnya, bosan. "Ia seorang pebisnis di Jerman, dia menjadi General Manager di hotel terkenal yang bercabang di negara-negara maju dan terlebih," Megurine melirik Gakupo "Ia melakukannya tanpa merengek pada orang tua untuk menjadi ahli waris."

Ouch.

Kalimatnya barusan benar-benar menusuk Gakupo, karena kebanyakan orang berpikir pria itu bisa kaya karena menjadi ahli waris. Lihat saja, mata Gackt sekarang benar-benar terisi oleh kemurkaan. Selamat, Megurine Luka, kau telah berhasil melukai harga diri seorang Kamui.

Megurine berlari dan tersenyum kepada seorang pria. Pria itu tersenyum balik. Dan aku baru tahu ternyata pria yang dimaksud adalah pria yang sama seperti yang diajak Luka pada reuni SMA dulu.

"Mikuo-san dan Gaku-pyon dari tadi melakukan apa sih? Gumi-chan itu sudah mendapatkan ruangan karaokenya dari lima menit yang lalu!" cicit Kagamine Rin yang muncul tiba-tiba.

"Kalian duluan saja, aku mau pulang." Ujar Gakupo."Tolong sampaikan permintaan maafku pada yang lain, khususnya Gumi."

"Eh, tapi kan Gumi…

"Makanya, kubilang sampaikanlah permintaan maafku secara khusus pada sepupuku itu." si terong mendesah. "Sampaikan padanya bahwa mood-ku sedang buruk, aku tidak mau turunnya mood-ku malah mengacaukan suasana."

"Uh… baiklah.."

"Arigatou, Rinny."

Kamui Gakupo melenggang pergi. Sebelumnya, ia mengusap-usap kepala Rin. Setelah itu aku pun mengikuti Rin untuk memasuki ruangan karaoke. Pintu terbuka, dan suara Sakine Meiko menggelegar seisi ruangan.

"Siapa selanjutnyaaa?!" ujarnya dengan volume suara maksimal. Aku merinding, segera langsung duduk di pojok, tepatnya di sebelah Gumi.

"Lho, Mikuo-san, di mana Gakupo?"

Kupandangi layar LCD di tengah ruangan. "Pulang."

Sebagai respon, wajah Gumi terlihat kecewa. "Kenapa?"

Aku mengangkat bahuku. "Barusan ia bertemu Luka." Jawabku alih-alih berkata dengan alasan sesuai yang Gakupo inginkan. Karena aku yakin, dengan alasan ini Gumi bisa lebih mengerti.

"Oh, begitu…" ia mengangguk-angguk paham, kemudian berdiri menghadapku. Mau apa bocah ini? "Baiklah, Mikuo-san, kau mau mencoba karaoke?" tawarnya ceria sambil tersenyum lebar. Namun aku hanya membalasnya, datar.

"Tidak."

Gumi sama sekali tidak terlihat terkejut, sepertinya, ia sudah bisa menebak apa responku. Gumi pun berjalan, mendekati Aria dan Miku. Oh, apa dia mau memanfaatkan Miku untuk bernyanyi secara gratis? Boleh juga usahanya.

"IA-chaan, kau mau karaoke?"

Dahiku mengerinyit. Kenapa ia malah mengajak Aria?

"Boleh. Apa lagu selanjutnya?"

"Risky Game-nya Hatsune Miku!"

Miku tertawa kecil. Dan aku masih kaget karena Aria menerima tawaran dari Gumi. Apa jangan-jangan, selama ini Aria memang suka bernyanyi?

"Siapa yang mau duet dengan IA-chan?"

Serempak, semua mata langsung menatap ke arahku.

Aku mengerjap. Kemudian menelan ludah, gugup.

"Mikuo-san, kau mau berduet dengan IA?"

Kugulirkan bola mataku ke lantai berkarpet di bawah. Kemudian menelan ludah lagi dan berkata, "Maaf, tapi tidak."

Senyap. Lalu sejenak kemudian, seseorang berujar, "Aku mau coba berduet dengan IA!"

Suara si idiot es krim. Aku tersenyum, tidak perlu cemburu dengan idiot satu ini.

"Baiklah, kita mulaaaii!"

Lagu intro dimulai hanya sebentar, lalu langsung dihantam oleh lirik lagu.

Dan jantungku nyaris berhenti mendengarnya.

Karena demi Tuhan, suara Aria luar biasa indah. Sangat merdu, manis, dan jujur. Sejernih suara lonceng. Persis suara tawanya.

Kemudian Kaito bernyanyi bersamanya, dan entah mengapa, kurasakan ada sesuatu yang panas yang bersumber dari dalam dadaku.

Entah pikiran dari mana ini, tapi suara mereka… benar-benar cocok. Kontras. Sepadan. Mereka terlihat serasi satu sama lain. Lalu suara mereka itu…

Rasanya seperti ada tangan yang meremas jantungku.

Aku mengerinyit. Tidak suka melihat pemandangan di depanku itu.

Tiga menit. Aku hanya perlu bersabar sampai tiga menit dan lagu itu selesai. Cukup tiga menit, tapi kenapa rasanya lama sekali?

Aku mengetuk-ketukan jemari di lengan kursiku, gelisah. Ayolah, tinggal dua menit lagi. Tapi rasanya kupingku sudah panas mendengar keserasian duet mereka.

Mataku mengalihkan pandangan kepada penonton lain. Mereka semua tampak terkesima. Namun Meiko, memang terlihat terkesima sekaligus… cemburu.

Sudah bisa kuduga.

Mood-ku jadi berantakan gara-gara duet sial ini. Sungguh, cemburu ini sangat tidak beralasan. Kaito jelas-jelas sudah pacaran dengan Meiko. Tapi kenapa…

Lagu pun mendadak kumatikan.

Setiap pasang mata membelalak padaku.

Suasana hening.

"Maaf," cuma itu yang mampu kukatakan. Aku lalu berdiri, dan lekas pergi keluar ruang karaoke itu.

Aku terus berjalan cepat. Ingin rasanya untuk memukulkan kepalaku ke tembok karena sudah bertindak secara tidak masuk akal. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Untuk apa cemburu seperti itu?

Baru saja aku ingin keluar dari lorong Karaoke Studio, tapi serasa de javu, sebuah tangan mungil menjegatku.

"Mikuo." Panggilnya lembut. Dan aku merasa tidak pantas dipanggil seperti itu oleh Aria.

Sungguh, aku sangat merasa bersalah padanya. "Aria, maafkan aku. Aku tahu tindakanku barusan memang bodoh dan itu—"

Suaraku berhenti. Rasanya aku tidak punya masalah jika Tuhan ingin mengambil nyawaku detik itu juga…

Karena di detik itu, Aria memelukku.

Saudara-saudara, ketahuilah, ini merupakan pengalaman pertamaku dipeluk wanita lain selain keluargaku. Karena gugup, aku pun menoleh ke sembarang arah, dan menemukan kaca di dinding sampingku.

Apakah kau tahu apa yang kaca itu refleksikan?

Aku melihat refleksi diriku, dengan wajah terkejut dan pipi memerah.

Singkatnya, aku blushing.

Blushing.

Garis bawahi itu, bahwa Hatsune Mikuo, sang mahkluk menyebalkan yang luar biasa sarkastis dan cuek overdosis, lagi blushing.

B-L-U-S-H-I-N-G.

Kepalaku menunduk untuk menatap tubuh mungil yang tengah mendekapku. Kubalas pelukannya perlahan. Berusaha menciptakan kehangatan yang nyaman untuk Aria.

Tak perlu ada kata-kata, karena terkadang, sebuah tindakan lebih berguna ketimbang untaian kata manis. Ya, itulah salah satu dari mottoku; Acta Non Verba—Lakukan, bukan katakan.

Aku menutup mata, membiarkan diri untuk tersesat di setiap helaian rambutnya dan tenggelam dalam kehangatan rengkuhannya. Kuharap waktu berhenti, agar aku bisa mengabadikan detik ini selamanya, seumur hidupku.

Kepalanya menyembul dari balik dadaku. Bibirnya menyunginggkan senyum sederhana yang manis. Kali ini, aku tidak mau menahan diri untuk tidak membalas senyuman itu. "Kau mau kembali?" tanya Aria, lembut.

Aku mengangguk. Kurasa aku berhutang permintaan maaf untuk Kaito dan yang lainnya.

Sebelum kami melangkah, kami mendengar derap langkah tergesa-gesa. Mata biru cerdas Aria mencari pemilik langkah tersebut, dan tercenganglah kami mendapati sosok itu.

Miku tengah berlari sambil menangis.

Dan Miku tidak menyadari keberadaan kami. Ia langsung berbelok tanpa bisa melihat aku dan Aria. Kupandangi Aria, yang mengigiti bibir, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.

"Aria, kita kejar Miku."

Aria mengangguk. Namun belum ada beberapa langkah, aku mendengar suara Miku yang merintih kesakitan. Aku mendecak. Bisakah keadaan menjadi jauh lebih buruk lagi?

"Ugh… Siapa yang…. Eh, m-ma-maaf!"

Itu suara Miku. Kenapa dia minta maaf? Bukannya tadi ada orang yang menyakitinya sampai-sampai ia merintih? Atau jangan-jangan…

Kami berbelok, dan mendapati Miku di sana… habis menabrak seseorang.

Wajah orang itu sangat familiar, kurasa aku pernah mengenalnya. Tapi di mana?

Miku menunduk dan meminta maaf. Pada saat Miku ingin pergi, pria itu mencegah dengan tangannya. Genggamannya terlihat sangat kuat dan kokoh.

Mata pria itu tajam, dan mata elang itu mengobservasi diri Miku. Wait a freaking second, jangan-jangan dia tahu penyamaran Miku!

Aku ingin teriak, namun Aria segera menarikku ke balik tembok.

"Mikuo, apa kau tahu siapa pria itu?"

Dahiku mengerinyit. "Mungkin."

Setelah beberapa saat, Aria berkata, "Kenapa dari tadi pria itu belum melepaskan Miku?"

Aku tercengang. Dan langsung menatap kedua orang itu di balik tembok.

Dan ya, dari tadi pria bermata elang itu memang tidak melepaskan genggamannya pada tangan Miku. Kalau saja penyamaran Miku terbongkar, lalu dia diculik, lalu manajemennya mendatangiku, lalu dia akan teriak-teriak dan melakukan hal merepotkan lainnya….

That's gonna be a freaking nightmare for Hatsune Mikuo.

Aku mau beranjak, namun Aria tetap menjegatku.

"Jangan sekarang. Lihat, mereka sepertinya mau membicarakan sesuatu."

Aku mengikuti arah pandangnya. "Suaranya tidak kedengaran."

"Itu karena mereka belum membicarakan apapun. Pertajamkanlah pendengaranmu untuk mendengar pembicaraan mereka nanti."

"Aria, aku tidak mau menjadi stalker."

"Mikuo, kita memang bukan stalker."

"Aku tidak berniat untuk menguntit adikku sendiri."

"Ini bukan menguntit, tapi hanya mencari tahu apa yang mereka lakukan."

"Itu sama saja, Aria sayang."

Mata Aria membelalak padaku, pipinya tiba-tiba bersemu kemerahan. Astaga, ternyata aku keceplosan…

Pipiku ikut memanas, dan aku langsung membuang muka, luar biasa malu.

Jeda beberapa saat, barulah kami mampu bicara kembali.

"S-sepertinya, pria itu orang baik-baik." Ujar Aria, sepertinya masih malu karena panggilanku barusan. Yah, salahku sendiri juga sih.

"Uh, ya, ehm, sepertinya, dia memang orang baik. Tapi kita tidak boleh tertipu dengan penampilan seseorang."

Aria mengangguk setuju. Kemudian kami (khususnya aku) terpaksa menguntit Miku kembali.

Kami lalu melihat pria itu melepaskan Miku setelah lama mengobservasinya. Lalu ia berkata, "Maaf, tadi aku mengira kau orang yang pernah kukenal."

Miku gelagapan "I-iya, tidak apa-apa. Maaf sudah menabrakmu."

Pria itu mendekati Miku, memperpendek jarak diantara mereka, lalu tanpa ada satu pun orang di tempat itu duga, pria itu menghapus air mata Miku.

Melihat kejadian itu, tak ada satu pun orang yang berani bicara.

Bahkan Miku pun hanya mematung, tidak menepis ataupun menolak tangan pria itu menghapus air matanya.

And why did I have to see this lovey-dovey crap?

Aku memutar bola mata sambil membuang muka, drama percintaan bukanlah seleraku.

"Mikuo, Mikuo, Mikuo, kau benar-benar tidak mengingat siapa pria itu? Ia romantis sekali pada Miku. Kurasa mereka berdua cocok."

Aria, Aria, Aria, kenapa kau malah menjadi biro jodoh dadakan seperti ini?

Aku bosan, lalu memutuskan untuk memunculkan diri karena muak melihat drama Air-Mata-Miku-Dihapus-oleh-Pria-Asing. Kakiku berjalan menuju mereka, berusaha menghentikan dramanya. Namun baru beberapa langkah, pria bermata elang itu mendapati diriku, dan matanya membelalak.

"M-mikuo-senpai?"

Alisku bertautan. Kenapa dia bisa mengetahui namaku?

"Ini aku, Yuuma. Apa kau ingat?"

Yuuma? Yuuma, Yuuma, Yuuma. Sebentar, dia itu kan…

"Yu…uma? Kau…. Yamaha Yuuma?"

Yuuma tersenyum. Menawarkan tangannya untuk berjabat. "Ya, ini aku, Yamaha Yuuma. Wie geht es ihnen?[1]"

Aku menjabat tangannya. "Prima, danke. Und du?[2]"

"Gut, danke.[3]" Mata Yuuma beralih pada wanita disampingku, Aria. "Wer ist das? Ihre liebhaberin?[4]"

Aku tertawa, jarang sekali aku tertawa seperti ini. Sebenarnya, aku ingin menjawab kalau Aria memang bukan pacarku, tapi calon istriku. Tapi mengingat bahwa Aria adalah seorang yang cerdas, ia pasti mengerti apa yang kubicarakan walaupun percakapan ini dalam bahasa Jerman. Toh juga ini hanya percakapan bahasa Jerman yang sederhana. "Nein. Das ist meine freundnin.[5]"

Kepala Yuuma mengangguk-angguk. "Sie ist wunderhübsch.[6]"

Aku tersenyum. Aria memang cantik, mau diapakan lagi?

"Danke. Ich heiße IA, wie heißt du?[7]"

Tuh kan, Aria memang mengerti apa yang kubicarakan.

Yuuma mengerinyit. Mungkin karena mendengar nama Aria yang unik. "Oh, Ich heiße Yuuma, Mikuo juniorpartner[8]."mereka lalu berjabat tangan.

"Kalian berdua sudah saling kenal?"

Bisakah kalian menebak suara siapa ini? Nilai seratus bagi kalian yang menjawab Hatsune Miku.

"Nii-san, kau mengenal pria ini?"

Aku mengangguk. "Dia partner kerjaku beberapa bulan lalu. Dia juga alumni Crypton Senior High, apa kalian mengingatnya?"

Aria dan Miku memicingkan mata, seakan mengingat-ingat sosok bermata topaz di depannya. Lalu dengan tenangnya, mata Aria melebar. Tapi Miku-lah yang menyahut, "Ah, kau mantan ketua komite kedisiplinan Crypton Senior High!"

Wajah Yuuma hanya menampakkan tampang netral. "Ini siapamu, Mikuo-senpai?"

Aku mendesah. "Adikku, Hatsune Miku."

Hanya sekilas, namun aku masih bisa menangkap keterkejutan dari matanya. Ya, memang banyak sekali orang yang tidak percaya bahwa aku dan Miku itu bersaudara.

Di sisi lain, wajah Miku memerah, entah karena sebab apa. Alisku bertaut melihatnya. Bukannya barusan ia habis menangis sakit hati?

Aku berdeham, mual dengan drama overdosis gula seperti ini. "Yuuma, bagaimana pekerjaanmu?"

"Lumayan lancar." Ujarnya santai. "Mikuo-senpai suka karaoke?"

"Eh? Tidak." Jawabku spontan.

"Lalu, kenapa kau ada disini?"

Aku berpikir. "Karena diajak temanku."

"Oleh IA?" pria itu mengangkat alisnya. "Kalian hanya berdua? Apa kalian sedang berkencan?"

Pipiku seketika memanas. Mau menjelaskan tapi rasanya…

"Bukan, mereka bersamaku dan teman-teman kami yang lain." Jawab Miku.

Aku menelan ludahku, lalu berdeham menelan kecanggungan. Membiarkan kepercayaan diri mengalir kembali. "Yuuma, kau sendiri sedang apa di sini? Oh, tolong jangan bilang bahwa kau diam-diam ternyata suka berkaraoke."

Yuuma mendesah. "Aku memang tidak suka, Mikuo-senpai, aku ke sini karena diajak rekan kerjaku."

"Hm, siapa?"

"Utatane Piko. Ia mengajak temannya juga yang bernama Megurine Luka. Entah mengapa aku jadi seperti orang ketiga, makanya aku memutuskan untuk keluar, memberi mereka waktu untuk berdua."

Kebetulan macam apa…

"Ikutlah bersama kami. Tadi ada salah seorang dari teman kami yang tidak jadi ikut. Kau pasti bisa diterima oleh yang lainnya karena kau teman Mikuo dan alumni Crypton." Tawar Aria.

Yuuma menatap kearahku, seperti meminta izin dariku. Aku pun mengangguk meyakinkan.

"Baiklah." Sahut Yuuma.

Kami berjalan kembali menuju ruangan karaoke. Di tengah jalan, Aria mempercepat langkahnya dan menjajarkan diri denganku, membiarkan Yuuma dan Miku berjalan berdampingan di belakang.

Aku pun tersenyum penuh kemenangan.

"Mikuo, kurasa mereka harus diberi ruang untuk mengenal satu sama lain." Bisik Aria di telingaku. Dan aku harus mati-matian, bahkan kalau perlu, menampar diriku terus-terusan agar tidak berpikir yang tidak-tidak. Pikiran seperti, suara bisikan Aria terdengar menggiurkan dan seks—

Kuatkan imanmu, Mikuo. Kuatkan imanmu!

Aku lalu menghela nafas panjang, membuang pikiran mesumku itu jauh-jauh. Apakah ini semacam efek samping dari bergaul terlalu lama dengan dewa hentai semacam Kamui Gakupo?

Setelah memasuki ruang karaoke, aku memperkenalkan Yuuma pada yang lainnya. Respon semua orang? Baik. Respon para wanita? Jauh lebih baik lagi. Mampu ditebak, para gadis pasti langsung terkesima pada pria ini. Wajar-wajar saja sih, jika mengingat bahwa penampilan Yuuma itu keren dan wajahnya jauh di atas rata-rata. Yuuma memiliki segala hal yang setiap gadis inginkan dari pasangan hidupnya. Ia pria baik-baik (walaupun pendiam), masa depannya terjamin, ambisius, kelewat sering memenangi kejuaraan kendo, tampang oke, pekerjaan tetap, sikapnya cool dan yah… wajah dan tatapannya memang selalu mampu membuat semua kaum hawa menelan ludah.

Aku beralih pada Aria, yang juga telihat terkesima (dan jujur, itu membuatku sedikit cemburu, tapi itu bukan masalah) oleh pesona Yuuma. Wanita itu meminta Yuuma duduk di samping Miku. Aria duduk di sisi Miku yang lain dan aku, karena tidak mau kalah, langsung duduk di samping Aria.

Aku minta maaf pada yang lain, khususnya Kaito. Kemudian setelah acara kami selesai, kami berlanjut ke makan-makan.

Kuperhatikan Aria yang tengah melihat-lihat orang-orang di mall ini, menimang-nimang apakah rambutnya itu lebih dominan putih-pink atau putih-peach. Aku beralih pada mata biru bunga jagungnya yang cerdas dan selalu menyala dingin itu, lalu rambut pirang stroberinya yang begitu panjang dan tebal yang menjuntai indah bak air terjun vanilla, kemudian dua kepangan di sisi depan rambutnya yang membuatnya terlihat unik, lalu tubuh mungilnya yang ternyata mampu menciptakan kehangatan yang menenangkan, kemudian bibirnya yang ternyata bisa membuatku terbius ketika menyungingkan senyum, juga kulitnya yang saat diterpa sinar bulan itu membuatnya terlihat bagai mahkluk fana. Sosok dan pribadi Aria membuatnya semakin tidak realistis, seakan ia terjebak dibumi dan tak bisa kembali ke negeri dongengnya sebagai putri es.

Dan… entah kenapa, aku jadi merasa takut jika suatu hari nanti, wanita itu akan menghilang dari hidupku.

Baru memikirkannya saja sudah membuatku tidak nafsu melakukan apapun.

Tapi tidak, Aria pasti tidak suka melihat diriku lemah seperti ini. So, aku harus kuat jika suatu saat nanti, ia memang terpaksa harus pergi dari hidupku. Entah itu demi dirinya sendiri maupun demi diriku, aku yakin bahwa setiap keputusannya sudah dibuat secara matang. Aria tidak bodoh, ia cerdas dan ia akan selalu berpikir sebelum bertindak. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu menghargai setiap keputusannya. Kalaupun ada yang bertentangan dengan pendapatku, aku akan membicarakannya secara baik-baik dengan Aria untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah itu.

Ya, aku berjanji untuk selalu menghargai setiap keputusannya.

Because for me, to love is to respect.

.

.

.

To be continue ke part #2

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

[1] Bagaimana kabar Anda?

[2] Baik, terima kasih. Dan kau?"

[3] Saya baik, terimakasih.

[4] Siapa dia? Kekasihmu?

[5] Bukan. Dia temanku.

[6] Dia cantik

[7] terimakasih. Siapa namamu?

[8] Oh, namaku Yuuma, partner Juniornya Mikuo.

Author's Note:

Hola,

First of all, terimakasih untuk Allah SWT, atas segala hal yang telah diciptakan-Nya.

Kedua, Thanks berat buat para readers, baik yang udah mau nge-review, follow, favourite dll. Review kalian itu ngebuat saya selalu semangat mengerjakan fict ini ; ) karena saya jadi tahu betapa bahagianya ketika karya kita diapresiasi. Baik apresiasinya berupa kritikan pedas maupun pujian manis, semua itu ngebuat saya bahagia dan ingin belajar jadi lebih baik lagi. Thanks juga buat para silentreader yang udah mau menyempatkan diri untuk ngebaca cerita saya, haha.

Selanjutnya, saya murni mau curhat tentang Miku dan Yuuma. Dan curhatan ini panjang, makanya saya beri warning dari awal.

Mulanya, saya lagi nge-search tentang KaitoxMiku. Saya mendengar duet-duet mereka, ngebaca fict tentang mereka, ngeliat fanart mereka, trus ngebaca polling tentang "KaiMei or MiKaito" dan semuanya… membuat saya sadar betapa banyak orang yang nge-fans dengan pair ini.

Tapi disitu saya berpikir, gimana rasanya kalo saya ada di posisi Meiko?

Meiko, yang popularitasnya jauh dibawah Miku, dibuat layaknya seorang wanita j*l*ng di kebanyakan Fict MikuXKaito. Terus banyak banget orang yang menganggapnya sebagai seorang slut (saya ngga tega ngomong kata ini pake bahasa Indonesia, abis kasar banget sih…), padahal yang dilakukan Meiko cuma satu, mencintai Kaito. Apakah itu salah?

Dan di saat itu, hati saya ngerasa perih.

Iya, saya tahu, saya konyol, sensitif dan ngga banget. Tapi saya cuma ngebayangin jika ada di posisi Meiko aja. Karena dengan saya belajar menulis, saya jadi tahu, bahwa kita tidak boleh melihat suatu hal dari satu sisi saja. Kita harus mengetahui sisi yang lain, bahkan sisi yang tergelap sekalipun, agar kita bisa menarik kesimpulan secara subjektif. Tidak terpaku pada pendapat satu dua orang saja.

Terus, karena saya juga mikirin perasaan Miku, saya pun harus mencari lelaki yang pantas untuk sang Diva.

Pencarian itu berlanjut sampai berhari-hari. Dan akhirnya menemukan titik terang waktu ngga sengaja mikirin warna-warna Mikuo dan IA (pikiran yang ngga penting banget kan?) Teal dan Pink. Saya suka sama perpaduan warna itu. Vocaloid yang warnanya pink ya paling Luka, Luki dan…

Yuuma.

Yuuma itu Vocaloid baru, makanya saya ngerasa biasa aja sama dia. Baru nge-search tentang dia gara-gara IA. Terus setelah saya iseng ngetik Yuuma x Miku, saya jadi senyum-senyum sendiri.

Saya ngedenger duet mereka (ini linknya wwwdotyoutubedotcom/atch?v=mwZ4S5ArgOM ), baru saya berlanjut baca fict tentang mereka. Ada dua fict, satu bahasa inggris satunya bahasa pribumi. Dan setelah saya baca, saya baru sadar, ternyata kedua fict itu menampilkan tema yang sama. Yang bahasa inggris Yuuma X Hareem, sementara yang bahasa Indonesia Miku X Hareem. Kebetulan banget kan?

Dan bisa ditebak, bahwa semenjak itu, saya memilih Yuuma sebagai pair-nya Miku.

Ya, udah, itu aja ceritanya. Ngga penting banget ya? Wajar, kan dari awal udah saya kasih warning.

Oh ya, untuk duetnya IA sama Kaito, saya langsung cemburu begitu ngedenger duet ini. Abis suara mereka cocok banget! Tiba-tiba saya jadi ngebayangin ada di posisi Mikuo dan ngerdenger duet ini… yah, yang pasti dia cemburu.

Baiklah, segitu dulu.

What do you think of Yuuma?

Mind to review?