-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: Ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin. Jadinya yah… yah… yah begitu…. -_-

Rate: 13+


.

.

.


Ten


.

.

.

Yuuma benci makanan manis.

Sementara Miku penggila makanan bergula.

Yuuma pecinta makanan pedas.

Miku? Baru pedas sedikit saja sudah tidak kuat.

Yuuma suka kopi pahit, benci susu manis.

Miku benci kopi pahit, suka susu manis.

Aku mendesah. Kenapa mereka bisa begitu berbeda?

"Opposites Attract." respon Aria terhadap pendapatku, yang tengah duduk di sampingku saat rombongan kami makan malam. Kami makan di restoran Korea atas usul Yuuma. Aku tahu, alasan ia mau makan di restoran itu karena restoran Korea menyediakan berbagai macam hidangan pedas. Semuanya tidak masalah dengan usul Yuuma, paling yang bermasalah hanya sang Diva berkuncir dua itu.

"Kau suka makanan pedas? Itu kan bisa membuat lambung kita kesakitan."

"Tidak juga. Efeknya tidak separah memakan makanan manis yang bisa membuat kita diabetes."

"Eh, tapi kan makanan manis itu kan bisa membuat mood kita membaik."

"Itu relatif. Bagiku, kopi lebih bisa memperbaiki mood-ku."

"Tapi, kopi mengandung kafein."

"Selama kita tidak meminum lebih dari secangkir kopi sehari, kafein itu tidak akan menjadi masalah. Justru, kopi lebih baik dibanding gula yang membuat gigi kita berlubang."

"Tapi gula itu kan sumber energi lho!"

"Percuma saja jika kebanyakan mengkonsumsi. Paling ujung-ujungnya diabetes."

"Lihat aku! Aku banyak mengkonsumsi makanan manis dan aku tidak diabetes."

"Diabetesnya akan menyerangmu saat kau sudah tua."

"Kafein juga akan menyerangmu saat kau sudah tua."

"Kopi itu—"

"CUKUP! Seseorang,TOLONG HENTIKAN MEREKA!" jerit Rin frustasi. Sayang sekali perdebatan mereka dihentikan. Padahal itu sangat menghibur selagi menunggu makanan pesananku datang.

"Nee-chan, biarkan saja mereka berdebat. Seru tahu melihatnya." Ujar Kagamine Len, yang langsung dibalas dengan pelototan oleh kakaknya. Dan serempak gadis-gadis remaja di meja-meja sebelah kami menoleh pada pria honeyblonde itu. Oh, aku belum mengatakan cerita tentang "Len-yang-sudah-'Besar'" ya?

Alkisah, Kagamine Len yang selalu dikatai Shota oleh semua orang, bahkan oleh kembarannya sendiri, akhirnya memutuskan untuk minum susu (yang flavour-nya pisang, of course). Usahanya mengundang tawa bagi hampir setiap orang kecuali diriku (Lagian untuk apa ditertawai? Toh juga Len sudah mau berusaha.) Dan setelah beberapa bulan, ia kecewa karena tetap dikatai shota lantaran tinggi tubuhnya tidak meningkat-ningkat. Namun ketika memasuki SMA, tinggi Len menaik drastis dan tubuhnya semakin berisi. Suatu hal yang membuat kakaknya langsung gigit jari, karena Len yang selalu lebih pendek darinya sekarang sudah jauh mengalahkan Rin, ditambah dengan struktur wajahnya yang semakin matang, Len langsung menjadi idola wanita nomor satu Crypton Senior High pasca Kaito dan Gakupo lulus. Congrats!

Jadi, dari tadi para gadis itu melirik-lirik kearah Len, yang tengah mengenakan t-shirt abu-abu sampai siku yang berleher V dan jeans hitam berkantong banyak. Lalu setelah kuperhatikan lagi, sepertinya mereka juga melirik ke dua lelaki di hadapanku. Yah, Kaito dan Yuuma. Memang siapa lagi?

"Mikuo… dari tadi Yuuma dan Miku hanya berdiam diri saja." Bisik Aria.

Astaga, suara bisikannya terdengar bagai desahan di telingaku. Dan sungguh, itu benar-benar...

Kualihkan perhatianku pada hal lain, agar tidak melulu memikirkan Aria.

"Oh, makanan pembukanya sudah datang!" Seru Gumi.

Nampan berisi piring-piring kecil itu diletakkan di meja kami. Ada ubi manis, ada kimchi, dan ada sayur-sayuran. Yuuma langsung mengambil kimchi yang, tentu saja, paling lama disimpan dan paling pedas, sementara Miku memakan ubi manisnya. Aku dan Aria hanya diam, sesekali mencicipi hidangan pembuka itu. Suasana kadang diselingi dengan celotehan si kembar ataupun lawakan (gagal) Shion Kaito. Setelah makanan utama datang, aku langsung menelan ludah melihat makanan pesanan Yuuma. Itu Bibimbap daging sapi ekstra pedas. Entahlah, sampai sekarang pun aku masih bingung mengapa Yuuma tidak pernah sakit perut memakan makanan sepedas itu.

"Semuanya, itadakimasu!" Seru Rin ceria.

"Itadakimasu~"

Kami semua makan dengan tenang. Event-nya? Tidak ada. Paling para gadis dan pelayan wanita yang hampir setiap lima menit sekali menoleh ke meja kami. Mencuri pandang ke sosok Len, Kaito dan Yuuma, of course.

Makanan penutup hadir dan para pria-lah yang melahapnya. Yang wanita? Mereka semua kekenyangan. Bahkan Meiko sampai merosot dari tempat duduk saking penuhnya. Yah… ini mungkin semacam salah satu kelebihan pria dibanding wanita. Pria cenderung bisa makan dua kali lipatnya porsi mereka, dan kita tidak akan gendut. Bahkan setelah ini pun aku rasa aku masih bisa makan seporsi lagi. Tapi tidak, aku tidak mau melakukannya. Aku masih mau bisa berjalan santai, bukan berjalan gontai kekenyangan.

"Ampuni aku… Aku mau pulaaannnggg…" rintih Gumi pelan. Membuatku bertanya-tanya sendiri mimpi apa sih bocah ini? Kenapa kelakuannya tidak bisa lebih waras dari kakak sepupunya itu?

"Oke, ayo kita pulang!" ajak Kaito riang.

Kami semua berjalan kembali menuju parkiran kendaraan masing-masing. Yuuma pulang dengan motornya, Kaito dengan Meiko, si kembar satu mobil dengan Gumi dan Miku. Saat di lantai satu, aku melihat Aria yang memandangi mall ini, agak lama.

"Kau mau ke sini lagi?"

Kepala Aria menoleh ke ke arahku. Lalu mengangguk. "Ya, kurasa akan menyenangkan."

Aku berdeham pelan. "Kalau begitu, kita akan ke tempat ini lagi… Atau, kau mau ke tempat lain?"

Sambil berjalan beriringan, Aria memasang pose memikir. Tangan mengapit dagu, mata menyipit, bibir sedikit mengerucut. Aku menggigit bagian dalam pipiku, mata beralih ke arah lain. Damn it, kenapa wanita ini manis sekali sih?

"Aku mau ke taman Ueno, atau rekreasi ke amusement park juga oke, kemana pun itu tidak masalah, asalkan ada yang mau menemani. Oh, nanti kalau mau jalan bareng lagi, Yuuma diajak ya? Biar Miku tidak perlu kesepian. Jadi nanti ada aku, kau, Meiko, Kaito, Rin, Le—"

"Kita berdua saja, Aria." Potongku, cepat.

Wanita itu menghentikan langkahnya. Dan mungkin, ada dari kalian yang tidak tahu bahwa, sebenarnya ajakanku barusan adalah ajakan implisit untuk berkencan.

"Tidak perlu mengajak yang lain. Cukup kita berdua saja."

Bagai robot, wanita itu menoleh kepadaku perlahan.

Hening beberapa saat.

"Uhm…uh, oke. Jadi, kapan?"

Kugaruk leherku yang tidak gatal. Kebiasaan kalau gugup. "Mungkin, minggu depan. Jam satu siang di Fuji-Q Highland. Kau mau kujemput?"

"Oh… tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri. Uhm, aku pulang dulu, Mikuo. Selamat tinggal…" tangannya terangkat melambai.

"Untuk tidak berjumpa kembali karena aku mau mengantarmu pulang."

Ia berhenti melambai.

"Ini masih sore. Kau tidak perlu mengantarku."

"Aku tahu, Aria. Tapi aku hanya ingin mengantarmu. Apa itu salah?"

Alisnya berkedut. Kepalanya dimiringkan. Aku memutar bola mata.

"Aku cuma mau mengantarmu pulang. Cuma itu. Problem?"

Tidak akan menjadi masalah jika aku mengatakan kalimat barusan dengan nada biasa. Tapi masalahnya, aku mengucapkannya seakan aku ini mengajak perang. Uh-oh. Tabiat burukku…

"Uh, maaf, ralat. Maksudku, aku cuma mau mengantarmu pulang. Apa kau keberatan?"

Wanita itu tersenyum. Lalu tertawa kecil. "Tidak masalah. Tapi belakangan ini, sifat burukmu sering muncul ya. Aku jadi terkenang dirimu yang masih SMA dulu." Ia kembali tertawa.

Di sisi lain, aku hanya bisa merenggut.

"Baiklah, kau masih belum berubah pikiran untuk mau mengantarku pulang kan?"

Aku mengangguk, mantap. "Sama sekali belum."

Kami memasuki mobil sedan hitamku yang terpakir di basement. Saat diperjalanan, aku iseng bertanya pada Aria.

"Kau ini bekerja sebagai dokter apa? Spesialis atau umum?"

"Spesialis. Tepatnya, spesialis kandungan."

Aku menaikkan setengah alisku. "Kenapa memilih itu?"

Matanya memandangku, lekat. Aku bisa merasakannya walau mataku terfokus ke jalan raya berlatar musim gugur di depanku.

"Karena jika wanita melahirkan anak, kebanyakan dari mereka akan ditangani oleh dokter lelaki. Bukan berarti dokter lelaki kinerjanya tidak baik. Namun, apabila hal intim wanita diurus oleh yang bukan sesama jenis rasanya… yah, kau pasti tahu sendiri."

Rasanya aku ingin memberhentikan mobilku sekarang juga. Tapi karena kewarasanku masih mampu mengambil alih, aku memilih untuk menurunkan kecepatan mobil. Pikiranku agak kacau. Aku membayangkan Aria hamil dan kelahirannya harus ditangani oleh dokter laki-laki. Itu mimpi buruk. Aku tidak akan membiarkan tubuhnya dilihat lelaki lain. Enak saja.

"Kau punya teman perempuan yang spesialis kandungan juga?"

Kepalanya mengangguk. "Ada. Namanya Ann. Dia orang Kanada dan sifatnya sangan keibuan juga down to earth. Ia wanita yang tulus."

Oh, syukurlah…

"Tapi sebentar lagi dia pensiun."

Pensiun.

Pen-si-un.

Tubuhku membatu. Kalau saja nanti Aria belum hamil saat si Ann itu mendekati pensiun, berarti siapa yang mengurusi kehamilan Aria? Dokter laki-laki? Tidak, terimakasih. Dan, hei, kenapa pula ucapanku terdengar seakan Aria itu sudah hamil? Free sex saja kami tidak pernah.

"Kapan pensiunnya?" tanyaku, berusaha membuat suaraku tetap stabil.

"Tahun depan."

What the...

Aku nyaris mengerem mobil. Ya, nyaris. Kalau saja aku tidak terlatih untuk mengontrol emosi, bisa-bisa kendaraan lain menabrak mobil ini dan menit berikutnya kami sudah berakhir di rumah sakit.

Kuggigit lidahku, mengontrol diri. "Uh, kau punya teman wanita sepekerjaan yang lain?"

Aria berpikir sejenak. "Ada. Tapi mereka semua… yah, semacam kurang menyukaiku. Makanya aku tidak benar-benar menganggap mereka sebagai teman."

Aku kembali menggigit lidah.

Tenang, Mikuo, tenang. Kau tidak boleh mencelakai Aria hanya karena pikiranmu sedang kacau. Singkirkan masalah pribadi saat mengemudi. Fokus saja terhadap jalanan.

Aku menggunakan kecepatan tinggi agar sampai di rumah Aria dengan cepat. Sesampainya, wanita itu melambaikan tangan padaku, sambil mengucapkan salam perpisahan-pertemuan kami. Lalu ia memasuki rumahnya, membuka tirai jendela dan melambai kembali padaku seperti biasa. Kebiasaan sepele yang anehnya tidak pernah membuatku bosan.

Setelah memastikan Aria aman, baru aku berkendara kembali untuk pulang ke rumah. Menyusuri jalanan sambil berpikir saat lampu merah tiba.

Aku lalu tak sengaja mengedarkan pandangan ke arah taman di samping mobilku. Kemudian melihat sesuatu berwarna ungu. Rambut ungu. Kuncir satu.

Lampu hijau menyala, dan aku langsung mengemudi menuju taman itu. Kurasakan semua mata memelototi perbuatanku. Tapi aku tak memedulikannya. Decitan suara ban mobil terdengar cempreng ketika aku mengerem. Mobil pun berhenti tepat di depan hidung pria itu.

Matanya membelalak, wajahnya kacau, seperti takut malaikat maut menjemputnya.

Keluar dari mobil, aku berjalan santai menuju pria itu. Semua orang yang menyaksikan perbuatanku seakan tengah melihat malaikat pencabut nyawa menampakkan diri. Berjalan santai mendiskriminasi untuk mengambil nyawa seseorang secara bengis, sadis tanpa ampun. Padahal sih, cuma mau ngobrol-ngobrol saja. Lalu kulihat rahang pria itu membuka kala mendapati diriku.

"Mikuo? Kenapa kau—"

"Habis mengantar Aria. Dan tak sengaja melihatmu. Kau kenapa?"

Senyap. Lalu wajahnya memurung dan kepalanya tertunduk. Aku menunggu beberapa saat.

"Aku mencoret namaku sendiri sebagai ahli waris Kamui Corporation. Dan aku keluar dari kantor keluargaku."

Mataku membelalak.

"Kurasa, akan lebih baik jika aku membuat perusahaan sendiri. Aku ingin memulai semuanya dari nol, tanpa bantuan keluargaku. Biar orang-orang yang meremehkanku tahu bahwa aku bukan cuma anak manja yang sukses hanya karena menjadi ahli waris."

Aku menutup mataku, lama. "Apa kau melakukannya demi si Megurine itu?"

Seolah berusaha meyakinkan, Gackt menjawab dengan gelengan kepala yang tegas. "Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Luka hanya membuatku sadar bahwa aku memang harus membuktikan pada orang-orang itu bahwa, I can stand with my own feet."

Desahan nafasku terdengar begitu kentara. "Kenapa kau tidak berpikir bahwa Megurine juga termasuk dalam golongan orang-orang yang meremehkanmu?"

Gakupo menatapku, tersenyum nyaris menyeringai. "Luka tidak seperti yang kau pikirkan, Mikuo. Banyak orang yang sering salah paham dengannya. Dia memang judes tapi… dia baik. Aku yakin itu."

"Kau yakin kau berpikir seperti itu tidak karena sedang dibutakan oleh cinta?"

"Yakin." Jawabannya mantap. Wajahnya meyakinkan. Ya, aku sudah tahu sih kenapa dia begitu memuja Megurine Luka. Tadi itu aku hanya mengetesnya. Dan ternyata, dia masih belum bisa memudarkan perasaannya pada Megurine. Di mata Gackt, Megurine itu sempurna. Ketika orang-orang bilang wanita itu dingin dan tidak berperasaan, Gackt justru mengatakan sebaliknya. Kenapa? Karena dulu si terong pernah memergoki Megurine memberi makan kucing kurus kelaparan, memperbaiki mainan seorang anak, merawat burung kecil yang terluka, membeli balon untuk anak-anak yang menangis, bahkan bersikap ramah pada para tetangga di kampung halamannya di Hokkaido.

Kenapa aku bisa tahu? Tentu saja dari Gakupo sendiri. Dan, kalau untuk yang terakhir itu, aku tahu dari Gackt yang ternyata, selama sebulan penuh liburan musim panas Crypton High School tahun kedua, menghabiskan waktu seharian dengan menguntit Megurine sampai Hokkaido. Yang tidak terlupakan adalah saat kepulangannya ke Tokyo. Karena percayalah, penampilan Gackt yang biasanya rapi-wangi-tampan-elegan-khas-pria-pesolek itu, jadi tidak jauh beda dari biksu-biksu Tibet—Minus rambut ungu panjangnya. Sampai sekarang pun, aku masih merinding jika mengingat penampilan a la Tibetian Monk-nya itu.

"Mikuo, boleh aku menumpang tinggal di rumahmu? Untuk sebulan saja. Setelah itu kau boleh mengusirku."

Dasar masokis. "No problem. Tapi kau harus memasak, mencuci piring bekasmu, mencuci dan menjemur pakaianmu sendiri dan melakukan semuanya sendirian. Dengan itu kau akan terlatih untuk menjadi lebih mandiri."

Wajah Gackt terkejut, tapi sejurus kemudian ia mengangguk. "Kau memang sahabat terbaik." Pria terong tertawa. "Hanya kalau sedang ada maunya. Hahahahahaha...ha…ha….. eh, kau tidak marah kan? Itu tadi hanya bercanda."

Kuputar bola mataku. "Masuklah ke dalam mobil sebelum aku berubah pikiran."

"Siap laksanakan!"

Mengabaikan tatapan aneh dari orang sekitarku, aku kembali memasuki mobil dan berkendara dalam jalur yang ditetapkan—Jalan raya.

Setelah kupikir-pikir, kurasa aku harus menceritakan soal Yuuma dan kedua rekan kerjanya yang ternyata, adalah calon kekasih dari Megurine Luka.

Usai menceritakan hal itu, dahi Gackt berkerut. Tapi kemudian dia hanya diam, suatu kelakuan yang sangat-sangat tidak 'Gakuish'. Namun kurasa, ia berperilaku seperti itu hanya jika menyangkut Megurine. Aku tahu, cinta memang memabukkan. Sampai-sampai bisa membuat seseorang yang hiperaktif macam Gackt jadi pendiam, atau yang anti-sosial jadi peduli sekitar.

Ah, cinta itu….

….merepotkan sekali…

.

.

.

.

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Oke, ending-nya gantung. Tapi bukan itu intinya.

1. Terima kasih yang paling besar adalah untuk Allah SWT.

2. Terima kasih untuk para reviewer; Zeita Hikari, Chairinnisa-chan, Vermiehans, Shiroi Karen, CoreFiraga, Dwi93Jun, Berliana-Arnetta03, Nekuro Yamikawa, Kira Kazuki, Philippe de Akamura dan Nia Kagamine. (ada yang belum masuk? Laporkan ke saya)

Baiklah, VY1 Mizki itu sebenernya warna rambutnya apa sih? Pink atau hitam?

Chapter ini cuma sampai 2000 words, gak kayak part one-nya yang sampai 4000 words. Itu dikarenakan saya ingin menyelesaikan cerpen saya yang non-fanfict, judulnya Fajar dan Senja (yang akhirnya udah selesai sekarang). Sebagai kompensasinya di chapter depan saya kasih yang panjang. Ini tentang kencan-nya Mikuo dan Aria. Jadi bersiaplah...

Dan oh, selera Yuuma sama Miku itu bertolak belakang. Sementara selera saya gabungan dari mereka, saya suka pedas tapi ngga kuat makan pedas. #SeleraMacamApa...

Abaikan! So what do you think of Gakupo and Luka in this story?

Mind to review?