-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: Ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin. Jadinya yah… yah… yah begitu…. -_-

Rate: 13+


.

.

.


Eleven


.

.

.

Tidak biasanya aku seperti ini.

Ini adalah perilaku yang bukan-Mikuo-banget.

Mari kujelaskan. Saat ini, aku tengah berdiri di depan cermin. Mematut dari dan meneliti jika ada yang aneh dari penampilanku. Rambut teal-ku kubiarkan sedikit berantakan, kaus putih dengan motif tribal-ku dilapisi jaket kulit hitam, bawahanku celana jeans dan sepatu boots hitam semata kaki. Pakaian ini entah mengapa membuatku terlihat seperti berandalan. Dan percayalah, aku sudah berkaca dari semenit yang lalu. Padahal biasanya, aku tidak pernah peduli penampilan.

Masih meneliti, kudengar suara langkah kaki yang cepat. Berjalan menuju kamarku dan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.

"Nii-saaann, teman terongmu itu tidak bisa memakai mesin cuci dan dia it—Oh, WOW!"

Mata Miku memandangku tanpa kedip. Aku jadi risih dibuatnya.

"Nii-san? Ini… Hatsune Mikuo kan?" ia mengerjap-kerjap, mengusap-usap matanya. Seolah tak percaya bahwa manusia di depannya itu aku.

"Ya, ini aku. Ada apa lagi dengan Gackt? Dan jangan memandangiku seperti itu."

Mata Miku berbinar, ia menyengir lebar lalu menutup mulut dengan kedua tangan, seakan menahan histerianya. Kemudian ia berkata, "Nii-san, kau keren banget banget banget! Just like a Male Model Wannabe! Jadi nanti jangan kaget ya kalau ada agensi yang menawarimu untuk jadi model ataupun aktor. Karena sumpah, kau terlihat ganteng banget!"

Ada apa dengan anak ini? Matanya pasti sudah buta.

"Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku."

"Eh, kenapa?"

"Aku tidak mau diperhatikan banyak orang. Itu membuatku risih."

Refleks, tangan Miku langsung menahan tanganku. Matanya menatapku setengah memohon. "Jangan, aku mohon jangan. Singkirkanlah sifat tidak-suka-jadi-pusat-perhatian-mu itu untuk 24 jam kedepan. Habis kau mau kencan kan? Jadi, biarkan IA-chan melihat penampilanmu yang jarang kau tunjukkan ini. Lihat apa reaksinya. Dengan begitu kau akan tahu seberapa berminatnya ia pada dirimu." Terang Miku layaknya pakar cinta.

Aku hanya diam. Mengurungkan niatku untuk ganti baju.

"Ayo keluar. Kita lihat bagaimana reaksi Gakupo-san."

Langkahku mengikuti ke mana Miku berjalan. Kami turun ke lantai satu dan mendapati Gackt yang mengenakan kaus hitam tanpa lengan sedang keluar dari halaman belakang.

"Miku-chaaannn, di mana kau? Aku sudah bisa memakai mesin cucinya! Hei Mik—Eh, ih, Wow… apakah itu kau, Mikuo? Sejak kapan kau bisa tampil se-seksi ini?" alis pria itu terangkat. Dan bulu kudukku meremang ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Tuh kan, Gakupo-san saja sampai bilang begitu. Kau ini aslinya keren, tapi selalu bersembunyi dibalik kaos yang kebesaran dan penampilan urakan." Ucap Miku. "Kenapa Nii-san tidak berpenampilan seperti ini dari dulu saja sih? Jika begitu kan para aktris dan model cantik yang menjadi temanku bisa jatuh cinta padamu." Ujarnya lembut.

"Percuma. Mereka pasti akan jatuh cinta pada penampilanku, bukan diriku apa adanya. Mau kau mengenalkanku pada Miss World sekali pun juga aku tidak akan peduli. Yang kumau hanya Aria. Cuma Aria. Tidak mau yang lain."

Baik mata Gackt maupun Miku keduanya melebar. Aku mengobservasi mereka singkat.

"Ow, kalimatmu barusan bisa membuat para wanita melting. Aku yakin wanita seperti IA pun pasti akan melting juga mendengarnya."

Sementara Miku hanya menggeleng-gelengkan kepala, takzim. "IA-chan benar-benar telah membuatmu berubah, Nii-san. Berubah kearah yang lebih baik maksudnya."

Aku mengabaikan mereka. Beralih ke topik lain dengan awalan menatap Gackt lurus-lurus. "Jangan merepotkan adikku selama aku tidak ada di rumah. Hari ini dia off, jadi sebaiknya dia istirahat total dan tidak perlu merepotkan diri hanya untuk meladenimu."

"Ukh, kau ini memang menyebalkan. Cocok lah jika penampilanmu kayak gangster begitu."

Mataku beralih pada Miku. "Jaga rumah. Aku pamit pergi."

"Hai. Jaga diri Nii-san baik-baik."

Aku mengangguk, lalu meninggalkan dua orang itu untuk menjaga rumah. Ketika aku sudah agak jauh dari mereka, sayup-sayup aku mendengar perbincangan singkat.

"You know something? You're brother could become a sexy beast when he want it to."

"I know, right?"

"Baik dia maupun IA sama-sama masih virgin, aku penasaran bagaimana malam pertama mereka~"

"Ah, Gakupo-san, jangan sampai kakakku mendengar ini."

Terlambat, Miku. Aku jelas-jelas sudah mendengarnya. Tapi berhubung aku tidak mau Aria menungguku terlalu lama, aku harus menunda niatanku untuk menghabisi Gackt.

"Ich werde dich töten, Kamui [1]." Ujarku, lantang. Aku yakin, bahkan walaupun aku sudah jauh dari mereka pun, Gackt tetap bisa mendengar suaraku barusan. Bisa dibuktikan dengan perbincangan kecil mereka yang tiba-tiba langsung berhenti, dan suasana mendadak senyap.

Aku lalu memasuki mobil dan berkendara menuju Fuji-Q Highland. Aria tidak mau dijemput, entah karena alasan apa. Karenanya aku pun bisa lebih santai membawa mobil.

Jam satu siang aku sampai di tempat tujuan. Fuji-Q Highland adalah Amusement Park paling besar di Jepang. Tempat itulah yang menjadi tempat tujuanku. Dari seminggu lalu aku sudah memesan tiket karena aku malas mengantri. Sesampainya di sana, aku pun merogoh ponsel dan menghubungi Aria. Mungkin dia sudah datang dan menungguku. Mungkin juga dia belum datang dan aku harus menunggunya.

"Halo?"

"Mikuo? Kau ada di mana sekarang?"

"Dekat Muneyake Tea House. Kau sudah datang?"

"Sudah kok. Tapi jangan tutup teleponnya, aku masih mencarimu."

Aku terdiam dengan mata mulai mencari-cari sosok Aria. Sangat sulit menemukannya di tempat yang penuh manusia seperti ini. "Kau memakai baju apa?"

"Ehm…. Jaket putih, rok coklat berenda dan boots coklat."

Aku menengok ke setiap sisi. Target belum ditemukan.

"Kau sendiri memakai baju apa?" gantian Aria bertanya.

"Jaket hitam, kaos putih, jeans, sepatu hitam." Balasku singkat. Dengan mata yang masih mencari Aria.

Aku lalu menyadari banyak pasang mata yang memandangiku. Setelah memandangku mereka berbisik-bisik. Ada sekumpulan perempuan yang berbisik sambil ber-blushing ria dan ada juga yang berbisik dengan tampang takut di wajah. Sekelompok ibu-ibu bahkan berbisik terlalu kencang sampai-sampai aku mendengar mereka mengataiku, "Yakuza."

Mendesah, aku kembali mencari Aria.

"Mikuo, apa dibelakangmu ada Roller Coaster merah? Lalu ada tempat makan Donatsudo Eewa?"

Aku menoleh ke belakang. Dan ya, Roller Coaster dan tempat makan itu memang ada di sana.

Saat aku menoleh ke depan, Mataku membelalak dan rahangku langsung membuka melihat wanita itu berjalan ke arahku.

Dia mengenakan military jacket berwarna putih dengan aksen bulu-bulu di pergelangan tangannya, bawahannya rok coklat berenda dengan printing floral beserta sepatu boots coklat beraksen bulu di pangkal sepatunya.

Oh, my dear God. Dirinya itu…. aku bahkan tak mampu mendeskripsikan kecantikannya. Striking beauty? Drop dead gorgeous? Tidak, di mataku Aria lebih dari itu.

Di lain sisi Aria langsung menghentikan langkahnya. Matanya melebar melihatku dan kami terus seperti ini untuk beberapa saat. Baru sejurus kemudian, Aria bersuara, menyadarkanku bahwa aku belum berkedip dari detik pertama melihatnya. Dammit man, ini memalukan sekali.

"Uh, Mikuo?"

"Eh, i-iya?"

"Kita ke mana sekarang?"

Aku berpikir sejenak, kemudian baru mencetus, "Yang itu mau tidak?" tanganku menunjuk ke arah sebuah tiang besar tinggi berwarna merah. Sepertinya namanya Red Tower[2].

"Hm, boleh-boleh saja."

Semua dimulai dari Red Tower, lalu kami berlanjut naik Roller Coaster. Fuji-Q tidak hanya menyediakan satu Roller Coaster, melainkan empat. Dan aku ingin mencoba semuanya. Well, aku cuma ingin tahu saja apa perbedaan Roller Coaster yang ini dengan yang itu. Walau serupa pasti kan tidak sama.

Kami memulai dengan Roller Coaster kecil, Mad Mouse. Lalu karena kami rasa kurang mencengangkan, kami beralih pada Fujiyama Roller Coaster. Aku memandangi Aria saat kami menaiki kereta penumpangnya. Matanya berbinar dan senyumannya seakan tak pernah lepas dari wajah. Ia terlihat bahagia sekali. Dan aku pun tersenyum melihatnya, suatu hal yang jarang kulakukan. Ini aneh, seumur hidup aku tidak pernah sebegitu mudahnya terinfeksi senyuman orang. Tapi memang hanya Aria yang bisa menginfeksiku. Miku bilang aku sudah banyak berubah‒ke arah yang lebih baik‒karena Aria. Dan mungkin, harus kuakui bahwa perkataan Miku memang benar. Aku sudah banyak berubah karena wanita ini.

Saat Roller Coaster sudah berjalan dan mulai berada di puncak untuk turun dengan kecepatan penuh plus gaya gravitasi, semua penumpang menahan nafas, termasuk kami. Kemudian secara perlahan, sebagai efek dramatis, Roller Coaster-nya turun dan…

.

.

.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!"

Teriakan setiap penumpang menggantung di udara. Semua menjerit keras seakan melepaskan emosi mereka. Kereta angkutnya naik lalu turun lagi. Pikiranku serasa melayang, seakan tidak punya masalah, karena masalah itu sudah kuluapkan saat aku berteriak barusan.

Aria bersemangat untuk menaiki Roller Coaster yang lain, yaitu eejanaika, Takabisha dan DODONPA. Tapi setelah semuanya selesai, ia masih mau main lagi. Aku pun mengajaknya untuk main wahana Cartoon Typhoon. Aria masih belum puas, lalu aku pun mengajaknya untuk main Tekkotsu Bancho[3]. Masih belum puas juga? Aku mengajaknya main Tondemina[4]. Masih belum puas lagi? Aku mengajaknya memasuki Labyrinth of Fear.

Dan setelah mengajukan itu, Aria langsung diam.

"Kau kenapa?" tanyaku, dahi berkerut.

Aria menggigit bibirnya. Ah, ini mencurigakan."Lebih baik kita makan dulu. Memang kau tidak lapar?" kilah wanita itu.

Aku berpikir sejenak. Setelah main wahana-wahana berat seperti itu, tentu saja aku lapar. "Ya, aku lapar. Kau mau makan apa?"

Mata biru cerdasnya meneliti sekitar. Kemudian ia melihat peta Fuji-Q Highland di sebuah stand besar dekat kursi kayu dan menjawab, "Aku mau makan makanan berat. Apa kau tidak masalah jika kita harus berjalan panjang sampai ke Food Stadium? Karena kurasa tempatnya cukup jauh." Aria memainkan jarinya.

"Tidak masalah." Balasku. "Aku juga lapar dan mau makan makanan yang berat."

Akhirnya, kami pun berjalan menuju Food Stadium dalam diam. Pikiranku masih curiga dengan sikap Aria tadi. Apa mungkin… dia takut masuk rumah hantu?

Aku sempat berhenti berjalan, tapi kemudian kugelengkan kepalaku. Tidak, tidak, tidak. Itu mustahil. Aria tidak mungkin takut dengan yang begituan. Toh juga Labyrint of Fear itu kan bertema hantu di rumah sakit, sementara Aria sendiri adalah dokter. Jadi tidak mungkin dia takut.

Tempat Food Stadium Fuji-Q berlatar gunung Fujiyama. Aku berhenti sebentar untuk memandangi gunung itu. Sambil berpikir kalau mungkin, suatu saat nanti aku akan mendaki gunung tersebut.

Setelah masuk, kami memesan makanan dan duduk di tempat yang disediakan. Aria hanya berdiam diri dari tadi. Yah, oke, Aria memang bukanlah seorang yang talkative. Tapi kali ini dia lebih diam dari biasanya.

"Aria?"

Wanita itu tersentak, lalu matanya menatapku perlahan. "Apa?"

Ah. Dia berlaku aneh. Biasanya jika ditanya olehku, Aria pasti akan menjawab "Iya?", bukan menjawab "Apa?".

"Kau kenapa? Tumben melamun."

Aria menyilangkan tangannya. Memasang tampang netral. "Tidak kenapa-kenapa, kok."

"Hm, begitu."

Pesanan datang dan kami makan dengan selimut keheningan. Kuusahakan diriku agar tidak memedulikan senyap yang diberikan Aria. Berpikir bahwa mungkin ia sudah lelah berteriak-teriak saat bermain berbagai macam wahana barusan.

Setelah kami selesai makan, aku baru sadar waktu sudah menunjukkan hampir jam enam sore. Ugh, kenapa pada saat bersenang-senang waktu seakan bergulir begitu cepat? Mendesah, aku lalu bertanya kembali pada Aria, "Karena sudah selesai makan, kau mau masuk Labyrinth of Fear?"

Aria membatu. Ia berdeham kemudian. "Kita cari wahana yang lain saja. Tempat itu sudah terlalu mainstream. Aku sudah tahu bagaimana isinya dari website dan cerita orang."

Aku menyipitkan mataku, curiga. "Mainstream bukan berarti tidak seru. Itu hanyalah kata untuk menunjukkan bahwa suatu objek sudah terlalu umum dipakai atau dilakukan. Lagipula kau belum merasakannya sendiri kan?"

Aria terdiam, agak lama. "Kau mau memasuki Labyrinth of Fear?"

Aku mengangguk. "Tentu saja."

"Kalau begitu, lakukan saja sendiri."

Kali ini aku yang diam. Alisku bertaut. Ada apa dengan wanita ini? Sebentar, apa mungkin dia lagi PMS?

Aku mendecakkan lidahku. Wahai para wanita, kenapa kau begitu mengherankan sih? Susah ditebak maunya apa. Tapi aku lebih heran dengan diriku sendiri. Kenapa juga aku bisa jatuh cinta, bahkan bertekuk lutut di hadapan wanita yang satu ini?

Cinta memang merepotkan.

Aku berdeham, mencoba mengambil alih situasi. "Ah, apa kau takut?"

Bola matanya menusukku, tajam. Ouh, sepertinya aku sudah memancing amarah sang putri es.

"Aku. Tidak. Takut." Tegas Aria.

Aku pun menyilangkan tangan dan menantang matanya beradu. "Benarkah? Aku akan menguji keberanianmu jika kau menyatakan begitu." Ujarku mengintimidasi.

Aria memandangiku, dingin. Dan entah kenapa aku merasa bersemangat untuk membuatnya ketakutan.

Labyrinth of Fear adalah wahana rumah hantu bertema rumah sakit. Kita nanti harus berjalan dan menemukan jalan keluarnya sendiri. Gedungnya terdiri dari dua lantai. Waktu berada di dalam rumah itu kurang lebih sekitar 50 menit. Langit yang sudah mulai gelap ditambah dengan suasana rumah sakit tua yang sudah hancur sana-sini semakin mendukung kesan angkernya. Para pengunjung semakin sepi karena rata-rata takut jika malam sudah mulai tiba. Aku menyeringai, tak sabar menunggu wajah ketakutan Aria.

Aria di sisi lain memasang wajah tegar. Seakan bisa mengatasi situasi apapun.

Kami mulai berjalan memasuki gedung tua itu. Hal pertama yang paling membuatku terperangah adalah bau obat yang menyengat. Bau ini bercampur dengan bau logam berkarat dan… bau darah, mungkin?

Menghela nafas penuh kebosanan, aku mempercepat langkah kakiku.

Pengunjung yang lain sudah mulai berpegangan tangan satu sama lain. Sementara itu aku hanya memasukkan tanganku ke saku celana dan memasang tampang datar.

Sayup-sayup aku mendengar pengunjung lainnya berbisik. Bukan urusanku, memang. Tapi masalahnya, aku tak sengaja mendengar mereka berbisik mengenai wanita berambut pirang stroberi di depanku.

Dari tadi Aria berada di barisan paling depan, sementara aku membuntutinya. Mungkin ia ingin menujukkan padaku bahwa ia tidak takut masuk rumah hantu. Para pengunjung itu berbisik bahwa Aria adalah wanita yang berani. Hmph, kita lihat saja sampai sejauh apa dia bisa memberanikan diri.

Ada sebuah tangga di samping kami ketika kami melewati jalan. Mataku meneliti, namun tiba-tiba ada bunyi debuman besar yang menunjukkan seseorang mengenakan seragam suster yang tergeletak tak sadarkan diri. Kepalanya tepat berada di tangga, badannya berdarah-darah dan tangganya jadi berwarna merah.

Jeritan-jeritan para pengunjung membahana. Mataku langsung berlari pada sosok Aria. Dan kulihat tampangnya agak menegang walau ia masih tetap tenang.

Aria kembali berjalan mengikuti petunjuk yang ada. Aku tetap membuntutinya, sabar menunggu untuk mendapatkan tampang Aria yang menjerit ketakutan.

Kami tiba di tempat yang banyak sel-sel penjara yang kosong. Mungkin ini semacam tempat tahanan pasien sakit jiwa. Tiap-tiap lampu di sini redup, menghasilkan pemandangan angker kemanapun mata memandang.

Wanita di depanku tetap berjalan tenang. Wajar, belum ada hal yang mencengangkan sepanjang memasuki areal ini. Tapi beberapa saat kemudian suhu di tempat mulai mendingin. Dan sebuah suara berbisik, "Aku mau yang di belakang."

Setiap pasang mata menoleh ke belakang dan tidak mendapati apapun. Aku menelan ludah, berdecak kagum dengan pembuat rumah hantu ini. Hebat, mereka pasti sekumpulan dari orang-orang kreatif.

Aku menoleh ke depan dan mengerinyit ketika Aria tidak lagi berjalan. Tubuhnya diam di tempat. Kemudian ketika aku memperpanjang jarak pandangku, kudapati ada seorang pria di depan sana. Pria itu mengenakan jas dokter yang sudah kucel. Ia menutup wajahnya dengan masker rumah sakit. Lalu perlahan, dokter itu membuka maskernya, menunjukkan daging-daging di pipi dan hidung yang sudah terkoyak. Mulutnya pun terbata berujar, "Aku mau yang di depan."

Menyadari bahwa dirinylah yang berada paling depan, Aria langsung mundur perlahan, dan menabrak tubuhku. Kepalanya menoleh padaku sangat pelan, lalu aku melihat bias ketakutan memenuhi matanya.

Aku meraih tangannya, agar ia tidak ketakutan. Tapi ia justru menepis tanganku. Membuatku terperanjat akan perbuatannya.

Wanita itu mundur perlahan dariku. Sinar matanya ketakutan. Sebentar, Aria, aku tidak mengerti kenapa kau begitu ketakutan. Dan kenapa ketakutanmu ditujukan padaku?

Mataku memicing. Kemudian aku mendekatinya perlahan. Semua pengunjung yang lain sudah menjerit ketakutan dan pergi meninggalkan areal ini. Hanya ada aku dan Aria yang tersisa. Pria berjas dokter tadi ternyata hanyalah boneka canggih. Jadi dia bukan manusia dan aku tidak bisa meminta bantuan siapa-siapa. Aku pun kembali mendekati Aria. Dan ia langsung bersikap defensif, seakan tidak mengetahui aku ini siapa.

"Aria, kau tidak apa-apa?"

"Pergi."

"Hei, apa maksudmu?"

"Pergi!"

"Aria, kau ini kenap‒"

"AKU BILANG PERGI!"

Langkahku terhenti. Tampang Aria begitu kalut, kacau, chaos. Aku lalu memutar otak sambil berusaha untuk tetap tenang. Aria yang ini bukan Aria. Ini pasti sisi lain darinya yang jarang diperlihatkan pada orang lain. Aku ingat waktu itu Aria sendiri pernah berkata, bahwa jika seseorang mengalami ketakutan yang melebihi batas wajar, berarti itu namanya sudah bukan ketakutan lagi, melainkan trauma.

Ya, kurasa Aria memiliki trauma dengan rumah hantu. Mungkin karena itulah dia berlaku agak aneh saat aku mengajaknya kemari.

Menghela panjang nafasku, aku pun mengalirkan pikiran positif ke seluruh tubuh. Otakku mulai berpikir. Pertama diatas segalanya, aku harus cepat mengeluarkan Aria dari tempat ini.

Aku kembali mendekati Aria. Kali ini aku tidak bersuara. Tatapanku lurus pada matanya.

Aria semakin ketakutan dan dia tak bisa mundur lagi. Punggungnya sudah membentur ke tembok dibelakangnya. Aku semakin mendekatinya, dan ia mulai teriak-teriak minta tolong. Ini aneh. Jika saja ada orang lain yang melihat kami, mereka pasti berpikir kalau aku ini adalah yakuza yang ingin menodai wanita tak berdosa.

Jarakku hanya setengah meter dari tubuh Aria yang kini, memukul-mukul tubuhku.

Aku menahan semua pukulannya dan mengangkat kedua tangannya sampai ke belakang tembok. Ia berwajah semakin ketakutan. Lalu Aria membuang wajahnya, menutup mata seakan tidak sudi melihatku.

Tenang, Mikuo, tenang. Terus-terusan kupikirkan kalimat itu di otakku. Setelah menghela nafas, kuangkat tanganku ke kepalanya, dan mengusap kepala itu lembut.

Aria membuka mata perlahan, mengerjap-kerjap, lalu bola matanya berlabuh ke mataku. Menatapku dengan begitu rapuh layaknya kaca tipis yang apabila disentuh bisa langsung hancur.

"Mi…kuo?" suaranya pecah. Sangat sedih dan begitu sendu.

"Ya, Aria?"

Wanita itu membuka mulutnya, yang kemudian ia tutup kembali.

"Maaf…" suara Aria mengecil, tangisan mulai muncul di pelupuk mata, kepalanya tertunduk, rambutnya turun ke sisi depan kepala.

Aku masih terus mengusap kepala Aria. "Kumaafkan. Tapi sekarang, apapun yang terjadi, tolong tutup matamu."

Ia mendengak, pancaran matanya meminta penjelasan.

"Ikuti saja perkataanku."

Aria menurut dan menutup matanya. Aku lalu membopongnya, dan mulai berlari mencari jalan keluar.

Tidak kugubris benda-benda dan mahkluk-mahkluk yang menerkam kami. Tujuan utamaku adalah mengeluarkan Aria dari tempat ini, secepatnya, selekas mungkin.

Lalu aku merutuk karena tempat ini adalah labirin. Kenapa juga dari awalnya aku masuk tempat ini sih? Merepotkan.

Aku terus berlari mencari jalan keluar. Berusaha memilah-milih dari setiap petunjuk yang ada. Nafasku sudah tersengal-sengal, tapi aku harus segera keluar dari sini. Demi Aria, demi Aria, demi Aria. Kuulang dua kata itu agar terus menggantung di pikiranku.

Pintu keluar masih belum ditemukan, dan aku berusaha tetap tenang. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Kemudian teringat bahwa untuk keluar, kita harus naik ke lantai duanya dan disana akan ada tangga ke bawah menuju pintu keluar. Aku pun langsung bergegas mencari tangga, menaikinya dan berpacu keluar labirin.

Dalam hati aku bersyukur, karena labirin lantai dua tidak serumit lantai pertama. Aku langsung menemukan tangga menuju pintu keluar setelah beberapa menit tersesat dalam labirin.

Aku membuka pintunya dengan bahuku, karena kedua tangan dipakai untuk membopong Aria. Setelah sampai keluar, baru kusadari bahwa cuaca berubah drastis. Rinai hujan mengguyur Fuji-Q Highland. Curah hujannya tidak terlalu deras tapi ini jelas mampu membuat beberapa wahana wajib dihentikan.

Tubuh Aria kuturunkan dan kuizinkan ia membuka matanya. Nafasku masih terengah-engah akibat lari.

"Mikuo," matanya memandangiku. Aku membalasnya dengan tenang.

"Aria, apa jaketmu waterproof?"

Ia menggeleng.

Kuhela nafasku, lalu melepaskan jaket kulitku untuk kusampirkan di kepala Aria.

"Kita harus pulang. Usahakan agar kepalamu tidak basah terkena hujan."

"Tapi, kau…"

"Jangan permasalahkan itu. Kau ini wanita. Harus diutamakan lebih dahulu sebelum pria."

Aria terdiam. Dan langsung menurut untuk menutupi kepalanya dengan jaketku.

"Kita akan lari. Tidak perlu cepat yang penting jangan sampai terpeleset."

Kepalanya mengangguk dibalik jaket hitamku. Jaketku itu ternyata bisa menutupi sebagian tubuh Aria. Pasti itu karena tubuh Aria mungil.

Aku mengangkat tanganku, menawarinya untuk bergenggaman tangan. Dan tanpa kompromi, Aria langsung menerimanya.

Sebelum mulai berlari, aku menutup mata dan menghela nafasku. Barulah kakiku kupacu untuk berlari menerjang hujan dengan Aria.

Aria sulit untuk mengikuti langkahku lantaran perbedaan tinggi tubuh, kecepatan, dan benda yang kami bawa. Tangan wanita itu harus memegang jaket agar kepalanya tidak kebasahan sementara yang lain harus menggenggam tanganku.

Kuhentikan lariku. Berbalik dan menunduk padanya.

"Kau sepertinya kerepotan. Mau kugendong?"

Ia menatapku tak percaya. "Tapi, barusan kau sudah menggendongku."

"Lantas?"

"Uh, memang aku tidak keberatan untuk dibopong?"

"Tidak. Lagipula untuk apa aku menawarkan diri menggendongmu kalau aku tahu bahwa kau terlalu berat?"

Wanita itu terdiam. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Aku membopongnya dan melanjutkan berlari. Agak lebih lambat karena massa yang kubawa tidaklah ringan. Jarak dari Labyrinth of Fear dengan letak parkir mobilku juga tidak dekat. Aku berlari kurang lebih sampai lima menit dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Tubuhku basah kuyup, baik oleh keringat maupun air hujan, dan aku tidak peduli. Yang penting Aria tidak kebasahan dan sakit.

Kami memasuki mobilku dan mesin mobil kunyalakan. Aku mematikan AC-nya, tidak mau menggigil kedinginan karena bajuku masih basah oleh air hujan. Lalu di sepanjang perjalanan, aku kembali dibuat penasaran oleh hal yang barusan terjadi di Labyrinth of Fear.

"Mikuo,"

"Hm?"

"Maaf…"

"Jangan minta maaf terus. Aku bosan mendengarnya."

Aria tak terlihat terkejut dengan sikapku. Hem, mungkin dia sudah terbiasa. "Tapi, tadi itu…"

"Aku tidak mempermasalahkannya, Aria. Tapi jika kau mau bercerita, kurasa itu akan lebih baik. Namun kalau kau tidak mau cerita ya, juga tidak masalah."

Wanita itu terdiam lagi.

Sesampainya di rumah Aria, sang pemilik rumah menawariku masuk. "Mikuo, bajumu basah. Sebaiknya kau mengganti bajumu agar tidak sakit. Aku punya beberapa pakaian yang mungkin bisa muat ditubuhmu."

Otakku memikirkan hal ini baik-baik. Karena satu, Aria tinggal dirumahnya sendirian. Dua, jika aku masuk kami hanya berdua saja. Dan tiga, aku takut terbawa suasana dan melakukan hal yang tidak seharusnya kulakukan.

"Tidak perlu. Lagipula bajuku sudah kering."

Jemari Aria terangkat dan ia meremas bajuku. "Belum kering."

Aku mendesah. What the heaven did I must do?

"Masuklah, aku akan membuatkan teh hangat."

Kembali mendesah, aku pun mengikuti Aria ke dalam rumah mungilnya. Selama ini aku memang belum pernah memasuki rumah Aria. Ternyata rumahnya bersih dan rapi. Coba saja aku yang tinggal di rumah ini. Pasti tempatnya akan kotor dan berantakan. Berbanding terbalik dengan kondisi rumah berpemilik Aria.

Beberapa lipatan kain rapi diserahkan untukku. Kuduga itu adalah pakaian.

"Kamar mandinya ada di sebelah sini. Ini ada handuk bersih, kau bisa sekalian mandi sementara aku akan membuat kudapan." Ia membuka pintu menuju kamar mandi.

Aku berjalan masuk dan mengganti bajuku di sana. Sekalian mandi air hangat untuk menyegarkan badan.

Usai itu, aku keluar dan mendapati Aria sudah mengganti baju. Dalam hati aku bersyukur karena bajunya bukanlah pakaian yang ketat ataupun terbuka.

Wanita itu mempersilahkanku duduk bersebrangan dengannya. Sambil menunggu tehku dingin, kuambil sebuah mochi dan mengunyahnya dalam mulutku.

"Mikuo,"

Aku hanya diam sambil mengunyah. Menunggu kalimat selanjutnya.

"Aku minta maaf. Untuk yang tadi dan karena sudah membuatmu basah kuyup."

Kutelan mochi dalam mulut. "Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku bosan mendengarmu minta maaf?"

"Iya, tapi tetap saja."

Aku mendesah, dan menyadari bahwa aku sudah terlalu banyak mendesah dalam satu hari.

"Uhm, Mikuo?"

Aku memindai matanya.

"Untuk yang tadi itu…"

"Jangan minta maaf lagi."

"Bukan itu. Aku ingin menjelaskannya."

Seketika aku langsung memasang posisi duduk tegak. Pendengaran dipertajam. Pengelihatan diperjelas.

Aria menutup matanya, menghelas nafas panjang lalu membuka mata perlahan. "Aku… memiliki trauma dalam rumah hantu."

Ya, aku sudah menduganya.

"Mungkin… aku harus mulai dari masa kecilku. Tapi, jika aku sudah selesai bercerita, apa kau masih tetap mau memiliki hubungan denganku?"

Aku terperanjat. Bukan, bukan karena cara Aria menyampaikannya dengan begitu polos sampai-sampai aku ingin menggigitnya, melainkan karena pertanyaannya yang di telingaku terdengar sangat bodoh. Karena sungguh, seumur hidup baru pertama kalinya aku mendengar pertanyaan sebodoh itu dari Aria-yang-notabenenya-seorang-jenius.

Kupandangi ia, datar. "Aria, itu pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar keluar dari mulutmu. Tentu saja aku masih tetap mau berhubungan denganmu. Apapun yang terjadi."

Matanya menatapku lekat. Rasanya aku ingin merengkuhnya karena ia terlihat begitu rapuh.

"Ini… berawal dari orangtuaku."

Aku mempertajam pendengaran.

"Ayah dan ibuku selalu bertengkar. Aku memiliki kakak yang tidak diketahui keberadaannya. Suatu hari ayah mendatangiku dan menyuruhku masuk ke kamarnya. Saat itu aku masih berusia sepuluh tahun dan belum terlalu mengerti apa niatnya. Tapi kemudian pintu kamar dikunci dan aku mulai merasa ada yang tidak beres. Tiba-tiba pancaran mata Ayah berubah. Aku tepojok di tembok dan ia merobek pakaianku dengan kasar. Barulah disitu aku sadar, bahwa Ayah ingin memperkosaku…."

Mataku membelalak.

Aria memberi jeda sebentar. Mengerjap-kerjapkan matanya yang mulai berair. "Tapi untungnya, saat itu ibuku muncul dan menggebrak-gebrak pintu kamar. Pintu terbuka dan ibuku langsung mencekik leher ayahku. Ia berteriak bahwa kakakku itu sudah mati setelah dirinya diperkosa oleh Ayah. Aku ketakutan. Ibu menyuruhku untuk lari, maka aku pun lari membawa jaket untuk menutupi tubuhku. Aku hanya lari tanpa tahu tempat tujuan. Yang kutahu aku hanya harus berlari, tidak boleh tertangkap oleh ayah."

Suara nafas Aria terdengar menderu. Aku menelan ludahku, bersiap untuk mendengar kejadian selanjutnya.

"Ibu menemukanku di jalan dan kami kembali pulang. Ia berkata bahwa Ayah sudah kabur. Lalu ia menyuruhku untuk masuk sekolah asrama khusus perempuan, agar Ayah tidak bisa menemuiku. Dua tahun kemudian, aku dan teman-temanku pergi ke sebuah theme park. Pada saat kami memasuki rumah hantu, kami berlari namun aku tertinggal sendirian. Aku pun berlari mengejar mereka dan tiba-tiba ada pria di depanku. Ia memakai baju hantu dan wajahnya ditutup topeng. Aku tetap berlari namun ia menahanku. Perbedaan kekuatan kami membuatnya menang. Ia menarikku ke pojokan lalu membuka topengnya. Lalu, lalu, lalu… ternyata orang itu adalah Ayah." Ia tetap tenang, tidak terisak, tapi air mata sudah mengalir di pipi. Tangisan bisu. Rasanya aku ingin ke tempatnya untuk menghapus air mata itu.

Aria kembali melanjutkan. "Ayah masih ingin memperkosaku. Saat aku teriak-teriak minta tolong, tak ada orang yang menjawab. Lalu, aku pun berinisiatif menendang selangkangannya. Aku berhasil kabur namun Ayah juga berhasil mengejarku. Ia menarik-tarik tubuhku, membawaku kembali ke pojok ruangan namun pada saat itu…" ia berhenti sejenak, menghapus air matanya sendiri. Ah, wanita kuat. "Ada beberapa orang yang datang dan salah satunya melihat kejadian itu. Aku tidak tahu siapa orangnya, karena kondisi rumah hantu itu sangat gelap. Ayah memarahi orang itu tapi orang itu tetap diam di tempat. Lalu ia mengambil ponselnya dan menelepon polisi."

Mendengarnya, aku langsung menghela nafas lega. Siapapun orang yang sudah menyelamatkan Aria, aku benar-benar sangat berterimakasih sekaligus berhutang padanya.

"Saat Ayah menyadari perbuatan orang itu, ia memukuli orang itu dan berusaha merebut ponselnya. Orang itu menyuruhku pergi, dan dengan sangat terpaksa, aku pun berlari meninggalkannya. Aku melaporkan kejadian ini pada petugas keamanan setempat. Lalu mereka pun mengepung rumah hantu itu. Mereka membawa keluar Ayah dengan tangan diborgol. Aku mencari-cari orang yang sudah menyelamatkanku, tapi saat kutanyakan itu pada petugas keamanan, mereka bilang mereka tidak melihatnya."

Ah, sayang sekali…

"Tapi, saat itu aku masih ingat. Kalau tidak salah ponselnya itu warna hitam, dan ada gantungan berbentuk ne‒"

Ucapan Aria terputus. Berterimakasihlah secara sarkastik pada siapapun orang yang sedang meneleponku di saat-saat seperti ini.

Aku mendecak. Kemudian menatap layar ponselku dengan malas. Kenapa pula aku bisa lupa mematikan ponsel sih?

Hentai Eggplant calling

Kutekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan. Dan memojok di sudut ruangan untuk berprivasi.

"Apa?" ujarku ketus.

"Eh, kenapa kau marah? Aku memanggilmu karena Miku khawatir kau belum pulang-pulang juga. Sekarang sudah jam sembilan. Apa kau akan pulang?"

"Ya."

"Saat ini posisimu ada di mana?"

"Rumah Aria."

Ada jeda beberapa saat. Sepertinya Gackt tengah memikirkan sesuatu. "Mikuo, aku sungguh-sungguh. Kau membawa pengaman kan?"

Aku mengerinyit. "Apa maksudmu?"

Suara di seberang sana menjerit frustasi. "Aaaargh, Mikuo! Jangan bilang padaku kalau kau tidak membawa kondom!"

Sialan.

Kenapa juga si porno ini harus berteriak kencang sih?

"Jangan samakan aku denganmu, Hentai. Aku kerumahnya bukan untuk melakukan hal-hal mesum!"

"Tapi kan tetap saja!"

"Tidak, itu tidak 'tetap saja'. Aku akan pulang dan jangan mengangguku lagi."

"Hei, Mikuo, jangan lupa pakai pengam—"

Panggilan kumatikan.

Aku kembali menuju ruang tengah, tempat Aria duduk meminum tehnya.

"Maaf lama. Tadi ada sedikit gangguan."

Aria memandangiku dan matanya beralih pada ponselku. Kuikuti arah matanya, lalu kuberikan ponselku padanya.

"Mau pinjam?"

Sejenak kemudian, wanita itu mengagguk.

Ia tidak membuka-buka ponselku, melainkan hanya memperhatikan gantungan kuncinya. Aneh, memang apa menariknya gantungan kunci negi milikku itu?

Mata wanita itu melebar, dan mata itu lekas memindai mataku. "Kau… pernah masuk rumah hantu sebelumnya?"

Ini aneh. "Ya. Memang kenapa?"

Bola matanya kembali memandangi gantungan kunciku, lalu berbalik menatapku lagi. "Berapa kali dan di mana?"

Alisku bertaut. Berpikir sejenak. "Uhm… mungkin sekita tiga kali. Hari ini di Fuji-Q, beberapa tahun lalu di kampus Crypton, lalu saat aku SMP di…." Aku mengerinyit dalam. "Ah, di festival kebudayaan dekat kampus UTAU."

Aku menoleh, menemukan mata Aria yang membelalak padaku, seakan aku ini sudah tertangkap basah.

"Apa kau mengingat kejadian apa saja yang kau alami? Yang pada saat di rumah hantu dekat kampus UTAU itu?"

Kuputar ulang memori masa laluku. Saat itu aku ke sana bersama Gackt dan Kaito. Gakupo ke sana karena hanya ingin 'cuci mata' dan masuk ke rumah hantu dengan harapan akan ada gadis-gadis yang memeluknya saat ketakutan. Aku dan Kaito ikut karena kami sedang bosan di rumah. Lalu pada saat masuk ke rumah hantu, aku mendengar teriakan seseorang. Aku bertanya pada Gackt dan Kaito, tapi mereka menjawab tidak mendengar apa-apa. Akhirnya kuabaikan saja teriakkan itu. Tapi jeritan itu terus-terusan ada, aku pun berlari menuju sumber suara dan menemukan sosok pria yang tangannya menahan tubuh seorang gadis. Aku hanya melihat remang-remang, karena rumah hantunya gelap. Lalu barulah aku sadar kalau orang itu mau membunuh, atau mungkin, memperkosa gadis di depannya. Refleks aku langsung mengambil ponsel dan…

Dan…

…dan….

.

.

.

SEBENTAR DULU.

Ini konyol. Masa dari tadi ternyata kisah masa lalu Aria juga ada sangkut pautnya denganku? Tanpa aku meminta penjelasan pun aku sudah sadar bahwa ternyata, akulah orang yang menyelamatkan Aria saat mau diperkosa di rumah hantu.

Kali ini aku memandangi Aria dengan pandangan yang berbeda. Kami terus diam, tidak berbicara untuk beberapa menit. Keheningan yang menyapa kemudian bukanlah hening yang tidak menyenangkan. Ini adalah hening menenangkan. Baru kusadari ternyata aku sudah mengenalnya, jauh lebih awal dari yang kubayangkan.

"Mikuo?" suara Aria saat memanggilku menjadi berbeda. Ada ruahan penuh cinta di sana. Aku ketagihan, ingin mendengarnya lagi, terus-terusan, sepanjang hidupku.

Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Menghapus air matanya yang bersisa di pipi. "Kenapa?"

Mata kami beradu. Bibirnya membuka untuk mengatakan, "Kau orang yang menyelamatkanku waktu itu."

Aku lega, karena ia melontarkan kalimat itu sebagai pernyataan, bukan pertanyaan. Itu artinya, dia sudah yakin tanpa konfirmasi bahwa akulah orang yang menyelamatkannya.

"Ya. Aku yang melakukannya. Tapi setelah aku usai adu hantam dengan ayahmu, aku langsung kabur karena malas diinterogasi oleh petugas setempat."

Bibir Aria mengulas senyum kecil, matanya biru cerdasnya berbinar menatapku.

"Maaf aku sudah memukulinya. Aku sama sekali tidak tahu bahwa orang itu adalah ayahmu."

Aria menggeleng kecil. "Tidak apa-apa. Lagipula sekarang ia sudah dipenjara."

Aku tersenyum. Kemudian mendekat pada Aria. "Aria, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Hm, apa?"

Kuraih saku celanaku untuk mengambil sesuatu. Sebuah kotak kecil dengan pita satin di ujung kanannya. Kotak itu kuserahkan pada Aria, yang memasang wajah bingung meminta penjelasan.

Aku menghela nafasku, lebih panjang dari sebelum-sebelumnya. Kegugupan mulai menghampiri, tapi kukendalikan emosiku agar tetap tenang.

"Aku tahu, ini memang terkesan agresif. Tapi aku yakin, bahwa aku tidak perlu menjalani hubungan khusus untuk mengatakan ini. Jadi… " kuhela nafasku lagi. Membuka kotak putih yang menunjukkan sebuah cincin platina bertahta zamrud dan safir. Lalu kutatap matanya lekat. "Aria, would you marry me?"

Mata Aria melebar. Ekspresinya tetap tenang tapi itu tak bisa menyembunyikan rona merah yang membakar wajahnya.

Detik-detik berlalu tanpa ada sepatah lisan keluar dari mulut Aria. Kecangungan menghampiri dan mulai menyelimutiku. Ayolah, Aria, aku mohon, katakanlah sesuatu. Apapun hal itu!

Bibir mungilnya membuka untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian ditutupnya lagi. Aku menunggu, masih sabar menunggu.

"Mikuo, aku…" suaranya terhenti. Lalu, ia menutup matanya, seperti memikirkan semuanya matang-matang sembari mengatur emosinya.

Aku tetap menunggu. Gelisah menunggu.

"I do." Akhirnya ia berucap. Dan mengambil cincin dari kotak di telapakku.

Pernahkah kalian merasa bahagia? Pasti pernah. Tapi, pernahkah kalian merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat dari biasanya hanya karena hal-hal sederhana? Pasti jarang. Kali ini, aku bukan cuma merasakan kebahagiaan, melinkan juga kelegaan. Rasanya semua masalah langsung lenyap begitu saja. Orang bilang ini namanya Wedding's Miracle. Aku bilang ini namanya Aria's Miracle. Kenapa? Karena yang membuatku seperti ini adalah Aria, bukan pernikahannya.

Kusematkan cincin itu di jari manisnya. Permata cincinnya berbentuk dua gelombang air berwarna biru bening dan hijau jernih. Mataku terus memandangi cincin itu, kemudian berallih memindai mata Aria.

Tentu saja, wanita itu pasti menyadari tatapanku. Bola matanya membalasku dan kami tetap seperti itu, begitu lama sampai tak sadar waktu juga tempat. Jemariku menyentuh bibirnya, mengusapnya lembut sambil membuka bibir itu. Kudekatkan wajahku, memperpendek jarak diantara kami. Kalau sudah seperti ini, aku yakin, Aria pasti sadar bahwa aku ingin menciumnya.

Dan ia membiarkanku.

Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Ya, aku tahu kalian pasti tidak percaya. Tapi aku benar-benar belum pernah melakukannya. Aku hanya tahu bahwa ada teknik-tekniknya dari‒kalian pasti sudah bisa menduganya‒Kamui Gakupo. Saat itu aku dipaksa lagi untuk menghadiri sesi Gentleman miliknya usai sekolah. Yang tidak kusangka-sangka adalah, Kaito dan anak-anak innocent lain juga ikut hadir dalam sesi kali ini. Lalu aku membaca tulisan besar yang menunjukkan "How to Make an Unforgettable Kiss." tertera di papan tulis. Awalnya, aku tidak pernah menganggapnya penting. Tapi aku termakan omonganku sendiri. Baru sekarang aku merasakan manfaat dari sesi itu.

Bibir Aria terasa manis di lidahku. Bukan manis permen, coklat, susu atau beverages macam apapun. Hanya manis, dan lembut, juga menggiurkan. Tiga hal alami yang hanya bisa dihasilkan lewat bibirnya. Ah, gawat, sepertinya imajinasiku sudah mulai meliar.

Aku tidak akan berhenti. Sungguh tidak akan berhenti kalau saja Aria tidak kehabisan nafas.

Padahal kalau dipikir-pikir, Aria itu jago bernyanyi. Biasanya orang yang jago bernyanyi nafasnya pasti lebih panjang. Tapi justru, akulah yang lebih unggul dalam hal ini.

Aria melepaskan dirinya lalu mulai mengatur nafasnya. Kusilangkan tanganku, mengobservasi dirinya lama.

"Kau mau membunuhku?" ujar Aria. Matanya memandangku tak percaya. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku mengangkat bahuku. Lalu berdiri sambil merapikan baju.

"Mau ke mana?"

Setelah kukenakan kembali jaketku, aku menjawab, "Pulang."

Dahi Aria berkerut. "Kenapa?"

Kulirik Aria dari pelupuk mata. "Siapa yang tahu apa yang akan kulakukan jika aku tinggal disini lebih lama."

Kakiku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil baju kotorku. Melipatnya rapi untuk dimasukkan dalam mobil. Sebelum pulang, aku memakan mochi jatahku dan menghabiskan teh yang sudah dibuat Aria. Dan setelah memasuki mobil, kubuka jendelanya, tidak lupa untuk mengucapkan salam perpisahan-pertemuan kami.

Di sepanjang perjalanan, aku menjilati bibirku, mencecap kembali rasa bibir Aria dalam mulutku tadi. Entah kenapa aku terus-terus tersenyum layaknya idiot. Aku tidak peduli apa aku bisa membuat the so called unforgettable kiss untuk Aria atau tidak. Yang penting, ia sudah menerima lamaranku, dan juga mau membalas ciumanku.

Ketika aku sudah sampai di rumah, lampu-lampu sudah dimatikan dan kuduga Miku serta Gakupo sudah terlelap.

Maka aku pun tersenyum dan langsung berbaring di ranjangku. Menutup mata sambil melakukan kebiasaanku, yaitu memikirkan segala hal yang sudah kulakukan hari ini. Aku ingin malam ini aku mimpi indah. Terlelap berselimut adegan ciuman dengan Aria yang terus berputar-putar dalam otak.

Pada setiap mimpi, ada beberapa yang memiliki sangkut-pautnya dengan dunia kita. Namun masalahnya, kita tidak bisa memilah dan memilih mimpi-mimpi tersebut. Aku sudah pernah mimpi aneh, dan tidak mau itu terulang lagi.

Kala aku tertidur, aku harap semua orang di muka bumi mendapatkan mimpi indah juga.

Ya, semua orang itu termasuk aku.

.

.

.

.


Author's Note:

[1] Translate: Aku akan membunuhmu, Kamui.

[2] ini semacam kayak Hysteria kalo di Dufan.

[3] Kayak Ontang-Anting-nya Dufan, tapi atap yang dinaikkannya jauh lebih tinggi

[4] Tondemina... saya bingung ngedeskripsiinnya gimana. Cari aja di Google ya.

x-x-x-x-x-x

Akhirnya selesai juga UASnya…

1. Biggest thanks for Allah SWT

2. Terima kasih buat kalian-kalian yang udah mau membaca cerita ini. Thanks a lot untuk semua Reviewer. Terutama yang udah mau nge-review hampir di setiap chapter ;D

Sebenernya mau nge-upload minggu lalu. Tapi saya langsung inget sama pembaca saya yang masih SMP. Mereka UASnya di minggu setelah saya UAS. Jadi saya Upload-nya hari sabtu setelah anak SMP udah pada selesai UAS aja...

Fuji-Q Highland itu beneran ada. Labyrinth of Fear juga beneran ada di dalamnya. Tapi isi dari Labyrinth of Fear saya karang-karang sendiri. Kalo ada kesalahan dari cerita saya (Penggunaan grammar untuk bahasa Inggris atau Jerman, kesalahan tata bahasa, dll ), CMIIW ya.

Untuk gantungan kunci di Hp Mikuo, itu terinspirasi dari FF Circle buatan Kak ReiyKa. Hehe.

SAO ternyata marak banget! Kayaknya ceritanya seru. Ada yang tahu jalan kisahnya gimana?

Chapter depan ngga sebanyak chapter ini. Saya juga berpikir untuk ngebuat satu chapter khusus dengan POVnya IA (Baru berpikir, belom dibuat). Ada yang setuju? Atau ngga setuju? Shout it in the review box.