-Mirror-
By Creativeactive
Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.
Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes
Warning: Ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin. Jadinya yah… yah… yah begitu…. -_-
Rate: 13+
.
.
.
Twelve
.
.
.
Mari kita skip waktunya.
Singkat kata, aku sudah menikah dengan Aria.
Oh, mungkin ada dari kalian yang kesal, kecewa, atau apapun, karena aku tidak memberikan kronologis dan detail pernikahanku di sini. Tapi sungguh, itu semua ada alasannya. Karena jika dipikir ulang, rata-rata kisah tentang kejadian pernikahan ceritanya ya cuma itu-itu saja kan?
Pernikahanku berjalan lancar, if you ask me. Dan Aria mau melakukan serangkaian mitos konyol yang tak pernah kupedulikan. Lemparan bunga dari mempelai wanita. Ia melakukannya di penghujung acara dan ikatan bunga itu pun jatuh… pada seorang wanita berinisial M.
Jika kalian bertanya lagi, bagaimana perasaanku menjelang pernikahan, jawabannya adalah: santai. Tapi Aria merasa gugup. Aku bahkan sampai mengirim sms 'Are you okay?' pada Aria saat ia masih di ruang fitting gaun. Namun akhirnya, tanpa ia menjawab pun, aku tahu bahwa ia bisa mengatasi kegugupan itu. Hampir semua kawanku menepuk pundakku sambil menasihati kalau gugup menjelang pernikahan itu adalah hal yang lumrah, padahal, aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan pernikahan ini. Yang sebenarnya membuatku khawatir adalah, malam setelah pernikahannya. Kau pasti mengerti maksudku.
Aria masih trauma dengan pemerkosaan. Makanya aku tak pernah berinisiatif menyentuhnya semenjak malam pertama setelah kami menikah. Aku tak pernah bicara tentang ini, aku hanya menunggu. Aria pasti butuh waktu untuk menyesuaikan.
Untuk urusan lain, segalanya berjalan menyenangkan. Aku tinggal di kediaman Hatsune bersama Aria. Gackt sudah menemukan apartemen baru dan Miku sudah menyewa apartemen mewah di Tokyo. Dan jujur, seharusnya, mengingat aku sekarang sudah menikah dengan Aria, kemungkinan besar cerita ini sudah berakhir, bukan?
Namun, maaf, kisah ini masih berlanjut.
Di sini, aku memang menceritakan tentang kisahku sebagai seorang pemeran tambahan. Hidupku berakhir bahagia. Ironis untuk sang tokoh utama, karena ia justru tidak bisa mendapatkan balasan serupa dari pria yang dicinta selama belasan tahun hidupnya. Tentu, jodoh memang diluar kendaliku. Tapi ada kalanya aku, sebagai tokoh sampingan dalam cerita, "ditugaskan" menjadi "perantara" antar sang tokoh utama dan pasangannya. Jadilah aku sang biro jodoh mendadak yang harus menjadi perantara dua orang berbeda jenis. Yeah, I know, itu merepotkan.
Ketahuilah, aku tidak terlalu peduli dengan siapa Miku berjodoh. Toh juga itu hidupnya dia. Aku cukup mendoakan yang terbaik saja. Hingga di suatu ketika, sebuah perbincangan dengan Aria menyentil nuraniku.
"Bayangkan, kau adalah seorang lelaki yang memiliki segalanya. Bisa mendapatkan wanita manapun, bergelimangan harta, punya nama di perusahaan-perusahaan internasional, ketampananmu melebihi dewa, tapi kau bahkan tidak bisa mendapatkan cinta dari seseorang yang selama limabelas tahun ini selalu membantumu di saat-saat susah dan terpuruk. Bukankah cinta yang bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan?"
Sungguh, perkataan Aria yang satu ini benar-benar membangunkan.
Aku memikirkan hal itu dalam-dalam. Memikirkan Miku juga. Bagaimana jika Miku memutuskan untuk menjadi lajang seumur hidup? Itu bukan hal yang mustahil, mengingat Miku itu keras kepala. Tapi jika kupikirkan lagi, membayangkan adikku di masa depan yang akan sendirian. Semakin tua keriput dan semakin lemah, dan jika sakit ia harus berobat seorang diri. Ia akan tinggal di apartemennya yang mewah, yang luas, sendirian. Kosong... Hampa… sambil memikirkan bahwa orang yang kau cinta mati-matian, yang deminya kau rela menukar nyawamu, sedang hidup bahagia bersama istri dan anaknya…
Menyakitkan.
Aku menggelengkan kepala. Mengusir pikiran itu jauh-jauh. Dari dulu, aku tahu Miku memiliki mental yang kuat. Ia bahkan masih bisa tenang menghadapi mantan manajer yang dulu pernah mencoba memperkosanya. Tapi ini? Bagaimanapun juga ia manusia. Ia wanita. Ia jelas harus diberi asupan perhatian juga kasih sayang dari seseorang. Tapi siapa? Tidak mungkin aku memberikan adikku begitu saja pada orang tak dikenal. Apalagi pada aktor, penyanyi, dan model pria kawanan Miku. Rata-rata dari mereka tidak beres. Aku bersyukur Miku mencintai Kaito sebegitu dalam sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ia selalu dikirim bujuk rayu maut dari pria paket lengkap yang selalu disuguhi setiap harinya. Jadi, aku tidak perlu takut Miku tergoda dengan buaya-buaya darat itu.
"Mikuo?"
Suara lonceng itu. Aria sedang duduk bersender pada kepala ranjang dengan novel tebal yang bertengger pada bantal di atas pahanya. Rambut-rambut pirang muda stroberinya membentuk kolam pualam di sekitar tubuh. Hem, pemandangan indah.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Aku menggeleng padanya. "Bukan sesuatu yang penting."
Matanya menyipit, berkilat ingin tahu. "Benarkah? Kalau memang tidak penting mengapa kau terdiam dengan alis berkerut-kerut seperti itu?"
Yeah, she's got a point. "Bukan sesuatu yang penting untukmu."
Ia terdiam sejenak. Matanya mendelik semakin dalam. "Aku sendiri yang akan memutuskan penting atau tidaknya hal tersebut."
Sejak kapan dia… "Jangan copy-paste jawabanku."
"Kau sendiri juga suka copy-paste apa yang kukatakan."
Aku mendecak. Walau pada akhirnya aku tetap berjalan menuju dirinya. Hanya untuk duduk di sebelah lalu menarik selimut. Mau tidur.
"Mikuo..." lirihnya lembut. Panggilan itu menggoda. Sial.
"Apa?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Percuma. Berkelit sehebat apapun dengan Aria, jika dia sudah menemukan suatu hal yang menurutnya menarik dan patut di ketahui, perdebatan kita tak akan ada habisnya. Ia selalu mengalah jika berdebat denganku mengenai hal-hal selain ini. Tapi untuk urusan 'mau tahu', akulah yang harus mengalah.
"Aku barusan memikirkan Miku." Aku membalas. Menegakkan punggung.
Terdiam, ia memasang wajah tenang. Seperti menungguku untuk melanjutkan.
"Kau tahu ke mana dia pergi?"
Itu sebenarnya adalah pertanyaan retoris. Tiga hari belakangan ini Miku tidak bisa dihubungi. Manajer dan agen-agen labelnya bahkan mencarinya sampai ke rumahku. Jelas saja aku tidak mengetahui keberadaannya. Terakhir kali kuperiksa, ia sedang ada di Kansai untuk melanjutkan acara Meet and Greet-nya di kota terakhir. Tapi sekarang, radarnya sudah menghilang. Tidak ada yang tahu kemana Miku pergi. Termasuk aku.
"Aku tidak tahu. Apa Mikuo sudah menerima kabar dari pihak EO [Event Organizer] kita?"
"Belum. Dan itu apa hubungannya?"
Wanita itu menarik nafas. Mengeluarkannya perlahan. "Kudengar, mereka mendapat klien baru."
Aku memandanginya, sangsi. "Tentu saja." Aku memutar bola mata. "Setiap EO terkenal pasti memiliki belasan klien baru setiap minggunya, Aria."
"Aku belum selesai. Klien baru itu adalah salah satu dari tamu kita."
Oh.
Mata Aria menyipit. "Kenapa kau tidak terlihat antusias?"
"Untuk apa? Itu bukan urusanku."
"Mikuo, yang menjadi klien barunya itu adalah Kaito."
Double 'Oh'.
"Dan aku baru saja menerima telepon dari Meiko. Katanya mereka akan menikah bulan depan."
Triple 'Oh'.
"Apa mungkin, Miku pergi ke suatu tempat untuk menyendiri? Karena ia mengetahui tentang pernikahan mereka?" Ia terdiam, lama. Berpikir. Seketika aku ikut tenggelam juga dalam alam pikiran.
Ya… kata-kata Aria bisa saja benar. Karena, manusia juga pasti merasa sakit mengetahui orang yang dicinta menikah dengan orang lain. Bila membayangkan Aria menikah dengan pria lain, aku pun juga pasti melakukan hal yang sama dengan Miku. Lebih baik aku menjauhi mereka, daripada aku ikut menjadi tamu undangan dan malah berakhir merusak diri sendiri.
"Kalaupun iya, ke mana?" tuturnya setelah jeda panjang. Ia memasang pose berpikirnya yang sering membuatku iri itu. Benar-benar terlihat cerdas.
Ponselku berdering. Aku meraihnya dan berharap itu bukan dari agen-agen label Miku.
Hentai Eggplant calling…
Aku mendesah lemas.
Saat kuangkat panggilan si terong, bersiap menjawab panggilan, aku justru disuguhi oleh hal menyebalkan malam-malam begini.
"NYALAKAN TV-MU!"
Alisku berkedut, tidak terima diteriaki. "Apa-apaan suaramu itu."
"SUDAH NYALAKAN SAJA!"
Aku mendengus jengah lalu beranjak dari ranjang. Melakukan hal yang barusan dikatakan Gackt di ruang tamuku.
Tidak ada hal spesial. Hanya ada acara kuis berhadiah, berita penemuan fosil baru, lomba makan berhadiah, kuliner luar negeri, acara gosip tidak penting…
-"Belakangan ini, sang diva muda, Hatsune Miku, tidak lagi ditemukan di manapun. Manajemennya bahkan sampai membubarkan acara-acara yang menyangkut dirinya! Di manakah sang diva muda Jepang kita yang mendunia ini? Apakah benar, ia sedang rehat dari gemerlapnya dunia hiburan? Atau mungkin, ada alasan lain dibalik menghilangnya keberadaan seorang Hatsune Miku? Mari kita simak penjelasan manajernya setelah ini."-
View dalam acara itu berganti menjadi sosok seorang dengan rambut merah bercepol yang kukenal tengah dikerumuni oleh banyak wartawan. Itu manajer Miku, Akiko.
-"Miku-chan sedang menyendiri untuk menulis lagu yang akan keluar di album terbarunya tahun depan. Jadi kalian semua, para fans Miku, tolong mengerti ya. Ia benar-benar butuh kesendirian untuk lagunya kali ini."-
Bohong. Kepalanya menunduk saat mengatakan hal itu. Tapi harus kuakui, Akiko memiliki keberanian juga berbohong di hadapan media massa.
Acara berlanjut dengan penutup-penutup untuk mengakhiri acara. Aku lalu menghempaskan tubuhku ke sofa. Tak heran, jika para agen-agen label Miku begitu gencar mendatangiku untuk menanyakan kabar. Hilangnya Hatsune Miku dari edaran benar-benar membuat kebakaran jenggot satu negara. Ini sama sekali tidak hiperbola. Buktinya, setelah acara gosip yang baru saja aku tonton, kelanjutannya adalah acara yang menyuguhkan berita tentang hilangnya Hatsune Miku juga. Lalu setelah aku berpindah chanel, acaranya juga rata-rata tentang Miku, Miku, Miku. Beritanya sekarang sudah mencapai telinga para fans-nya di luar negeri. Chanel tentang berita dunia kali ini juga menyuguhkan berita tentang adikku. Wow, aku yakin berita ini bisa menjadi World's Trending Topic di Twitter.
Langkah kaki yang berjalan tenang ketempatku duduk membuatku menoleh. Ponselku berada di tangan kanannya. Oh, aku melupakan Gackt…
Segera ia memberikanku ponsel hitam itu. Lalu setelah ku-check, ternyata panggilannya masih tersambung.
"Gakupo."
"Ya, sekarang kau lihat kan? Satu negara heboh hanya karena Miku! Kau benar-benar tidak tahu di mana kebaradaan adikmu itu?"
"No idea."
"Oh, ayolah. Sebuah perkiraan saja. Kau kan kakaknya."
Ukh, aku paling kesal jika ada seseorang yang menggunakan alasan, 'kau kan kakaknya' untuk memaksaku memberi sebuah petunjuk tentang Miku. Itu menyebalkan. Miku itu sudah dewasa. Aku mendidik dengan memberinya kebebasan untuk melakukan hal apapun yang ia mau asal ia bertanggung jawab. Urusannya bukan lagi menjadi urusanku. Jadi kenapa juga aku harus tahu segala hal yang ia kerjakan? Aku kan hanya memantau dari jauh.
"Aku tidak tahu. Miku itu sering ke berbagai macam tempat. Ia tidak pernah punya tempat khusus yang harus dikunjungi. Paling hanya makam Ayah."
"Nah, di mana makam Ayahmu?"
"Kyoto."
"Mungkin ia ada di sana!"
"Tidak. Aku sudah mengeceknya."
Sebuah helaan nafas terdengar di seberang sana. "Hey, aku sekaligus ingin memberi kabar, kalau Kaito akan menikah bulan depan. Sekarang ini aku khawatir padanya."
"Ah, khawatir? Apa kau sudah jatuh cinta pada adikku?"
"Tentu tidak! Yang kukhawatirkan itu bukan Miku, tapi Kaito!"
Ah, aku jadi tidak connect. Daritadi curi-curi pandang ke Aria melulu sih. "Kenapa lagi dia?"
"Dia seharian terlihat lesu. Benar-benar bukan seperti Kaito. Ia terlihat seperti orang yang merasa bersalah…"
"Kenapa pula dia harus merasa bersalah? Konyol."
"Itu juga yang aku pertanyakan."
Kami terdiam. Lalu aku mengarahkan pandangan ke arah dapur. Memperhatikan Aria sedang menyiapkan teh hangat, lalu membawanya padaku.
Aku tersenyum padanya yang tengah duduk disampingku. Menunggu teleponku selesai dengan tenang dan sabar.
"Mikuo, datanglah ke rumah Kaito."
"Ah, tidak perlu. Kaito itu sudah dewasa. Ia pasti sedang berpikir untuk bisa menyikapi ini. Lagipula kan, ada Meiko di sampingnya."
"Uhm… yah, well, kau memang benar." Kami kembali terdiam. "Uh, oke, maaf sudah mengganggumu. Selamat malam… dan selamat membuat anak. Tuuuutt-tuuuuutt-"
Ucapan terakhir Gakupo membuatku ingin mencekiknya sekarang juga.
Mataku melirik ke arah Aria. Masih dengan wajah kalemnya yang membuatku damai.
"Jadi?"
Aku berdeham. Menyiapkan kalimat. "Jadi, Miku tetap tidak bisa ditemukan."
Ia terdiam mengerti. Kemudian meneguk teh dari cangkirnya sendiri. Suatu hal yang kususul kemudian.
"Mikuo, ponselmu berdering lagi."
Aku melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja dengan malas. Ingin kuabaikan tapi entah kenapa, rasanya ada perasaan ganjil.
Aku menganggkat panggilan itu tanpa melihat caller id-nya. Aku malas, ingin cepat-cepat tidur.
"Mikuo-nii-san?"
Astaga…
"Apa aku mengganggumu?"
Mataku melirik pada Aria. Wajahnya menyiratkan pertanyaan. Segera aku menutup ponselku dengan tangan dan menjauhkannya dari mulut. "Ini Miku." Bisikku sepelan mungkin.
Kembali ke ponsel. "Kau ke mana?" tanyaku spontan. Malas berbasa-basi.
"Aku… aku masih berada di Jepang. Cukup itu saja yang perlu kau tahu. Bagaimana keadaan di sana?"
Aku meneguk teh milikku. "Kacau."
"Sebegitu parah?"
"Well, kalau di rumahku sih, tidak. Tapi kalau di luar sana, semua fans-mu dilanda kebakaran jenggot massal mendengar kau menghilang begitu saja. Kenapa kau bertanya? Kau tidak nonton TV? Banyak sekali berita tentang dirimu."
"Oh… di sini tidak ada TV."
Hah? "Memangnya kau ada di Jepang bagian mana?"
"Nii-san, kan aku sudah bilang, aku tidak bisa mengatakannya. Intinya tempat ini agak terpencil. Tapi aku baik-baik saja kok."
"Hm, begitu." Aku memberi jeda. "Kapan pulang?"
Suara di seberang terdiam, lama sekali. Seperti berpikir sangat dalam. "Sejujurnya… aku tidak tahu. Tapi kalaupun aku mau pulang, Nii-san adalah orang pertama yang akan kuhubungi."
Wajahku sedikit rileks. Perasaanku lebih tenang. "Oh, iya. Sepertinya kau harus tahu hal ini. Tadi kulihat di TV manajermu menjelaskan pada pers, bahwa kau sedang menyendiri di suatu tempat untuk menulis lagu di album terbarumu. Katanya, kau benar-benar butuh kesendirian untuk membuat lagu ini. Kurasa itu bohong, apa aku benar?"
"Uh… Akiko-san…" Miku menggeram. "Ia pasti berbohong karena panik. Ini artinya, aku harus pulang sambil membawa lagu yang spektakuler. Oh, yang benar saja. Aku bahkan tidak membawa gitar!"
Sebuah senyum tipis tersungging di bibirku. "Ah, Miku, Aria mengkhawatirkanmu. Apa kau sekarang pergi ke suatu tempat karena pernikahan Kaito?"
Hening.
Ah… sepertinya, aku terlalu blak-blakan.
"Mikuo." sambar Aria. Ia terlihat tegang karena mendengar pertanyaanku pada Miku barusan.
Aku kembali kepada telepon Miku. "Maaf, aku terlalu agresif. Tapi memang itulah yang ingin kutanyakan."
Setelah jeda lama, ia menjawab, "Uhm… yah, bisa dibilang begitu. Tapi alasannya bukan cuma karena itu saja. Masih ada beberapa alasan lainnya." Suaranya mengambang.
"Oh, begitu…" Aku berniat menyudahi percakapan. "Baiklah, selamat berjuang, adikku. Jaga dirimu baik-baik."
"Hai', jaga juga diri Nii-san baik-baik. Dan, oh, iya! Nanti, setelah aku pulang, aku mau bertemu dengan keponakan pertamaku di perut IA-chan! Jaaa~"
Klik.
Ini… adalah kedua kalinya dalam semalam aku merasa ingin mencekik seseorang.
"Bagaimana?" suara Aria membuat kejengkelanku musnah. Aku memandanginya, memperhatikan garis-garis wajah lembut itu.
"Dia baik-baik saja." Kurasa, cukup hal ini yang harus kusampaikan. Selebihnya ia akan mengerti.
"Oh, syukurlah…"
Tak lama, Aria berjalan ke dapur untuk mencuci cangkir-cangkir teh kami. Kemudian ia kembali ke ruang tamu, melakukan peregangan seperti mau tidur. Lengan yang terjulur ke langit-lengit membuat siluet dadanya tak sengaja ter-expose. Lekukan tubuhnya begitu mempesona. Sekarang aku mengerti mengapa Gakupo begitu memuja tubuh wanita.
"Mikuo, kau tidak tidur?"
Aku menggeleng. Memaku pandangan datar pada TV untuk menghindari lekukan tubuhnya. Menelan nafsu yang justru terus berkecambah seiring berjalannya waktu. "Aku masih mau menonton. Kau duluan saja."
Wanita itu terdiam sejenak. Dalam diamnya menyisakan berbagai pertanyaan. Ia pasti tahu, aku barusan hanya berkilah. Ia pasti mengerti, aku menghindarinya. Menghindar dari tubuhnya agar nafsuku tetap tertahan. Tapi toh ia tidak mau mengusik itu lebih jauh. "Baiklah, aku tidur duluan. Malam, Mikuo. Jangan lupa berdoa sebelum tidur agar tidak mimpi buruk lagi." Bibirnya ditarik ke atas. Menampilkan senyum sederhana namun indah yang sangat kusuka.
"Hm, terima kasih sudah mengingatkan."
Suara langkah-langkah kakinya terdengar menapaki tangga. Kemudian disusul dengan suara pintu yang tertutup. Aku mendesah. Lalu merebahkan diri tiduran di sofa. Ah, apa lebih baik aku tidur di sini saja? Setidaknya jika tidur di sini, aku tidak perlu repot-repot menahan nafsuku.
Menuruti perkataan Aria, aku berdoa sebelum tidur. Sebulan ini aku selalu tidur di samping Aria. Makanya ia sudah tahu kalau aku sering mimpi buruk. Ia selalu membuat teh dengan aroma menenangkan sebelum aku tidur. Itu sangat membantu. Belakangan ini aku tidur nyenyak. Hidupku juga jadi terurus karena dia selalu membereskan barang-barangku yang berserakan. Merapikan kamarku yang berantakan. Intinya, aku bahagia sudah menikah dengan Aria. Walaupun selama sebulan ini, aku tidak diberi "jatah", tapi itu tidak mengapa. Aria butuh waktu untuk menyiapkan diri dari traumanya. Aku hanya perlu bersabar. Semua ada waktunya.
Saat aku benar-benar sudah berada di ambang sadar dan tidak sadar, sudah setengah jiwaku pergi untuk membuatku terlelap, telingaku masih bisa mendengar ponsel berbunyi. Entah ponsel siapa. Punyaku? Jangan harap aku tahu. Aku terlalu mengantuk. Lebih baik tidur sajalah.
Tapi anehnya, deringan ponsel itu terbawa sampai saat aku bermimpi.
.
.
.
.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Author's Note (No need to read):
1. A lot of thanks for Allah SWT
2. Terima kasih buat para reader.
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Minal aidin wal fa idzin.
Terus, saya sadar, saya telat. Ngaret abis. Maafkan saya.
Kalo ditanya kenapa lama banget update-nya, jawabannya adalah: karena kebanyakan ide. Iya. Pernah ngga sih, kalian punya begitu banyak ide bertebaran dalam kepala, sampe-sampe kalian bingung mana yang harus dipilih? Itulah yang saya rasakan. Makanya, setiap ide-ide itu harus saya jabarin satu-persatu. Dan cukup kalian tahu, chapter ini udah dirombak sampai lima kali. Capeknya itu muncul waktu saya udah nulis sekitar 3000 words, tapi ternyata bukan yang kayak gini lanjutan cerita yang "pas". Jadilah saya harus ngulang lagi… dan lagi… dan lagi…
Maka dari ke-ngaret-an saya itu, saya ragu kalo masih ada orang yang mau baca cerita ini. Bosen kali ya? Lagian juga ini kan cerita picisan. Yang membuat saya heran sampai detik ini adalah, kenapa ada laki-laki yang mau baca cerita romance coba? Engga, bukannya itu hal yang salah. Ini era reformasi. Cewek aja boleh nonton bola sama RAW (Acara gulat yang ada The Rock, Big Show sama John Cena-nya), kenapa cowok ngga boleh nonton Barbie? Tapi saya cuma heran aja gitu… habisnya kan selama ini, cowok ngga suka kisah percintaan yang dramatis. Haha.
Sekedar pemberitahuan, saya setelah ini bakal hibernasi panjang dari dunia kepenulisan. Karena kau tahu? Kelas 11 SMA itu bener-bener beda dari apa yang saya pikirkan. Tugas udah berat (buat ppt, laporan, bla, bla, bla), banyak pula. Makanya saya harus berjuang lebih di SMA. Kalian sabar ya dalam menunggu cerita ini...
Dan, cerita ini TIDAK akan naik rating jadi Mature kok. Tenang aja.
Okeh, cukup dengan curhatannya. Any question? Mind to give review?
