Return Of The Legend

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ (For now)

Genre : Fantasy, Adventure, Romance

Main Pair : Naruto x Hinata

Warning : (miss) Typos, OOC, GaJe, Abal, SKS (Sistem Kebut Sejam), Overpower!Naruto.

.

.

.

.

A/N : Well, damn. Maaf nunggu lama -_- Ini laptop di servis 2 minggu baru selese, dan habis itu saya dapet musibah, jidat saya bocor, jadi sekali lagi mohon maaf ya, reader-sama~
Buset, ini juga pusing banget buat ngetik, tapi yah~ namanya utang harus dibayar~
Gomen untuk chapter ini belum bias bales review, mungkin nanti kalo udah sembuh bener, saya bales lewat PM yo~
Oh, untuk pengetahuan saja, seragam sekolah Naruto sekarang yaitu jas berwarna hitam dan dalaman kemeja berwarna merah, celana khas sekolah berwarna hitam, sepatu kulit hitam, dan jubah Akatsuki yang dipakai di punggungnya, mirip gaya para elit angkatan laut di One Piece kalau pake jubah.
OK, here goes nothing! Happy reading, everyone~!
But first, Happy 1.000 review, everyone~! I love you all~! :*

.

.

.

.

Suasana canggung sempat melanda koridor Youkai Gakuen selepas kepergian Moegi. Para murid hanya memandang dengan tatapan kosong ke arah Hinata dan Naruto sebelum akhirnya Naruto berkata –berteriak- pada mereka untuk segera melanjutkan urusan mereka sendiri-sendiri.

"Uh… kau tidak apa-apa, Hinata-chan?" Tanya Naruto pada Hinata yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.

"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Hinata dengan masih menunduk dan dengan nada yang –menurut Naruto- tidak semanis biasanya.

"Hinata-chan…?" ujar Naruto bingung sambil berjalan mendekati Hinata.

Mengambil inisiatif untuk menepuk pundak Hinata, Naruto sedikit terkejut saat tiba-tiba Hinata menghindari tangan Naruto yang akan menyentuhnya. Sebenarnya Naruto tahu ini semua pasti ada hubungannya dengan kejadian di ruang kesehatan tadi, tapi harusnya Hinata tidak perlu terlalu cemburu… kan?

"Hinata-chan, kau kena-"

"Dimana gadis berambut merah itu?"

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Naruto hanya bias menghembuskan napas pendek saat Hinata tiba-tiba memotong kata-katanya.

"Oh, Kushina-san… tadi dia bilang cukup kelelahan, jadi aku antarkan ke kamar asramanya." Jawab Naruto dengan hati-hati.

Mendengar itu, bukannya bertambah baik, aura di sekitar Hinata tiba-tiba berubah menjadi gelap, membuat Naruto tanpa sadar mengambil langkah mundur.

"Oh? Sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab ya? Sampai-sampai mengantarkan ke kamar asramanya… dan entah apa yang sempat kalian perbuat di sana…" ujar Hinata dengan nada rendah yang semakin membuat perasaan Naruto tidak enak.

"T-Tunggu dulu, Hinata-chan! Aku hanya mengantarkan Kushina-san sampai ke depan kamar asramanya, tidak sampai masuk ke dalam!" balas Naruto mulai panik.

Mendengar penjelasan Naruto, bukannya membaik, kini aura hitam di sekitar Hinata malah mulai semakin jelas, membuat Naruto semakin berusaha keras untuk memutar otaknya.

"O-Omong-omong, bagaimana kau bisa tahu kalau sebelum ini aku tengah bersama Kushina-san?" Tanya Naruto tiba-tiba, membuat aura hitam di sekitar Hinata menghilang seketika.

"Eh… e-etto… a-aku tidak sengaja melihat N-Naruto-kun sedang berbincang dengan Kushina-san…" jawab Hinata gugup sambil memainkan kedua jari telunjuknya.

Menyeringai dalam hati, Naruto segera mencondongkan tubuhnya kea rah Hinata.

"Heee~? Kau yakin, Hinata-chan? Kau bukan sedang… membuntutiku, kan~?" Tanya Naruto sambil menaik turunkan alisnya dan senyum jahilnya.

Mendengar tuduhan Naruto, Hinata hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tanpa suara seperti ikan dengan blushing berat di wajahnya.

"N-N-Naruto-kun no baka!" teriak Hinata pada akhirnya sambil berlari menjauhi Naruto yang tengah tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahahahaha! Seharusnya kau melihat wajahmu sendiri tadi, Hinata-chan~!" tawa Naruto sambil beranjak pergi ke bekas ruang SPC yang sekarang telah berubah menjadi markas Akatsuki.

.

.

.

.

Akatsuki's Room…

Membuka pintu ke dalam ruangan, Naruto tidak terlalu terkejut saat melihat seluruh mantan anggota SPC telah menunggunya di ruangan luas itu. Seperti biasa, mereka memakai seragam hitam mereka, sama seperti yang mereka gunakan saat masih menjadi SPC, hanya saja, saat ini mereka memiliki emblem berbentuk awan merah di dada kanan mereka.

"Yo, minna~!" sapa Naruto sambil melambaikan tangannya pada seluruh anggota Akatsuki.

"Uzumaki-taichou!" ujar para anggota Akatsuki serempak sambil berdiri tegak dari posisi duduk mereka dan memberi hormat pada Naruto.

Naruto yang melihat ini hanya bisa tertawa gugup dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Maa, maa~ kalian tidak perlu seformal itu denganku… cukup panggil aku Naruto saja, aku kurang suka dengan hal-hal yang berbau terlalu formal~" balas Naruto pada para anggotanya.

"Ha'i, Naruto-sama!"

Merasa usahanya akan sia-sia jika menasehati mereka untuk memanggilnya Naruto, akhirnya Naruto pun menyerah dan mengisyaratkan pada para anggotanya untuk duduk kembali.

Setelah semua orang telah duduk mengitari meja berbentuk oval di ruangan itu, Naruto segera menutup pintu dan duduk di kursi kosong di ujung meja.

"Baiklah, pertama-tama, sebagai pimpinan kalian yang baru, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Uzumaki Naruto, 17 tahun, hobiku memakan ramen, berduaan dengan Hinata-chan, dan bermain dengan teman-temanku. Hal yang tidak kusukai adalah seorang penghianat, seorang pedofil penggila ular dan seorang manusia gila bernama Madara. Impianku adalah menciptakan perdamaian yang sesungguhnya di dunia ini."

Di akhir perkenalannya, seluruh anggota Akatsuki hanya bisa memandangi Naruto dengan mata berbintang-bintang. Pemimpin mereka kali ini sungguh sangat berbeda jika dibandingkan dengan si maniak peraturan Gaara! Tepuk tanganpun segera bermunculan, membuat Naruto hanya bisa tertawa tersipu.

Dalam kemeriahan itu, tiba-tiba Naruto menghentakan tangannya di atas meja untuk mendapat perhatian dari seluruh anggotanya.

"Baiklah, semuanya! Untuk hari ini, aku ingin kalian untuk memperbanyak jumlah jubah seragam Akatsuki yang saat ini aku pakai sejumlah anggota Akatsuki. Oh, karena saat ini aku hanya mempunyai sisa 3 jubah Akatsuki…"

Melakukan beberapa handsign, sebuah ledakan asap segera muncul di depan Naruto sebelum akhirnya menghilang dan menampakkan 3 jubah Akatsuki.

"Tolong salah satu perwakilan anggota Akatsuki, maju ke sini."

Seorang anggota yang duduk di ujung berlawanan dengan Naruto tiba-tiba berdiri dan segera berjalan menuju Naruto dengan… seksi!

'K-Karin?!' batin Naruto saat melihat salah satu anggotanya yang berambut merah dan berkacamata maju menuju ke arahnya.

"Apa yang bisa aku bantu, Leader-kunh~?" Tanya Karin dengan desahan menggoda di akhir kalimatnya, membuat Naruto menelan ludahnya dengan sulit.

"N-Nah, Karin-san, tolong berikan 2 jubah Akatsuki ini pada Gaara dan Neji setelah mereka kembali dari ruang kesehatan, dan 1 jubah Akatsuki ini sebagai model pembuatan jubah Akatsuki kalian."

Mengabaikan Naruto yang entah bagaimana telah mengetahui namanya, Karin segera mengambil ketiga jubah Akatsuki di depan Naruto dan berjalan kembali ke tempatnya semula.

Tentu saja, setelah sebelumnya membisikkan 'Apapun yang kau perintahkan, Na-ru-to-kunh~' pada Naruto.

.

.

.

.

Setelah pertemuan dengan anggota Akatsuki selesai, Naruto terlihat tengah berjalan dengan santai ke bangunan asrama laki-laki yang memang berada di luar kompleks sekolah Youkai Gakuen.

Saat melintasi hutan dengan pepohonan mati yang mengelilingi Youkai Gakuen, Naruto samar-samar mendengar suara ledakan di dalam hutan. Memutuskan untuk memuaskan rasa penasarannya, Naruto segera beranjak menuju sumber suara ledakan itu.

Tak lama kemudian, Naruto sampai di sebuah padang rumput mati yang cukup luas dengan danau di tengahnya.

Di pinggir danau, terlihat sosok yang cukup familiar bagi Naruto sedang menghadap ke arah danau, membelakangi Naruto.

"Sasuke?" gumam Naruto pada dirinya sendiri.

Mengaktifkan Sharingan miliknya, Naruto cukup terkejut saat melihat semacam energy hitam keluar dari sekujur tubuh Sasuke sebelum akhirnya berkumpul di telunjuk tangannya yang saat ini tengah menghadap kea rah danau.

Energy hitam itu terus berkumpul, membentuk bulatan energy potensial di telunjuk tangan Sasuke.

"Yami Yami no : Cero!" seru Sasuke tiba-tiba, menembakkan laser energi hitam dari telunjuknya yang segera meluncur melintasi danau dan menghancurkan pepohonan di seberang danau tanpa menyisakan apapun.

'Apa-apaan kekuatan itu?! Itu bukanlah api ataupun cahaya, tapi kegelapan yang benar-benar menelan objek di sekitarnya!' batin Naruto kaget.

"Hah, hah, hah… sial, serangan ini masih memakan terlalu banyak tenagaku. Aku harus terus berlatih!" ujar Sasuke dengan napas terengah-engah.

'Hm… jadi Sasuke masih berlatih dengan kekuatannya ini. Dia pasti akan menjadi rival yang tangguh saat berhasil menguasai kekuatannya itu.' Batin Naruto sambil membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju asrama.

.

.

.

.

"Aaarrghhh…! Naruto-baka! Dia hanya akan menjadi penghalang di antara jalan cintaku dengan Hinata-hime!"

Itulah gerutuan yang keluar dari mulut seorang Moegi sepanjang perjalanannya kembali ke asrama perempuan.

Ya, walaupun umurnya yang masih 12 tahun, Moegi adalah salah satu siswi di Youkai Gakuen. Bahkan berbanding terbalik dengan umurnya, Moegi merupakan murid yang selalu mendapat peringkat 2 seantero Youkai Gakuen di bidang akademis di bawah seorang siswa pemalas bernama Nara Shikamaru.

Berbeda dengan teman-teman kelasnya yang seorang youkai, Moegi adalah seorang penyihir, makhluk yang sering digolongkan dalam Boundary-Being. Mereka bukanlah youkai, tapi bukan pula manusia. Hal inilah yang membuatnya dibenci teman-temannya.

Ia membenci seluruh youkai di Youkai Gakuen karena sikap mereka yang sering mengucilkannya. Sampai suatu saat… tanpa sengaja ia melihat seorang murid tengah dibully oleh murid lain, dan tiba-tiba dia datang… dengan keanggunan dan keberanian yang sangat mengagumkan, Hinata-hime menyelamatkan murid itu dari para pembully.

Dan sejak hari itu… rasa kagum Moegi terhadap Hinata terus berkembang… menjadi perasaan cinta…

"Heh, awas saja, besok akan kubuat Uzumaki itu menyesal telah memilih Moegi sebagai pesaing cintanya!" dan kata-kata inilah, yang nantinya akan menjadi penanda dimulainya perang jahil di Youkai Gakuen.

.

.

.

.

Next Day…

Berjalan dengan santai menuju Youkai Gakuen adalah pahlawan idiot kita, Uzumaki Naruto. Seperti biasa, pagi ini ia bangun jam 3 pagi untuk sedikit latihan Sharingan sebelum akhirnya berangkat sekolah. Walaupun perkembangannya lambat, tapi menurut Juubi ia terus berkembang. Kini ia dapat menggunakan Eternal Mangekyo Sharingan selama 2 jam per hari tanpa masalah. Tentu saja, ia masih mempunyai Rinnegan yang tidak mempunyai batasan waktu ataupun efek samping, dattebayo!

Sebuah kerumunan siswa di depan pintu gerbang Youkai Gakuen menarik perhatian Naruto, membuatnya memperlambat langkahnya untuk melihat apa yang menyebabkan kerumunan ini.

"N-Naruto-kun!" teriak sebuah suara yang familiar bagi Naruto dari dalam krumunan.

Melihat lebih teliti, Naruto akhirnya dapat melihat sosok kewalahan Hyuuga Hinata yang tengah berusaha melepaskan diri dari kerumunan murid-murid horny itu.

"Ehem, ehem…"

Mendengar seseorang berdehem dengan cukup keras di belakang mereka, para siswa Youkai Gakuen segera membalikkan badan mereka dan menerima deathglare dari pemimpin organisasi paling bergengsi di sekolah mereka, Akatsuki.

"N-Naruto-sama!" dan dengan itu, mereka segera membuka jalan pada Naruto untuk berjalan menuju sosok Hinata yang terlihat lumayan lega dengan kedatangan Naruto.

Dengan aura kewibawaan di sekitarnya, Naruto segera berjalan menuju Hinata dan memeluk pinggang Hinata dari samping, membuat Hinata blushing tingkat tinggi.

"Ayo kita masuk kelas bersama, Hinata-chan." Ujar Naruto dengan lembut pada Hinata, membuat Hinata yang tengah blushing setengah mati hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju.

"A-Apa-apaan itu?! Naruto-sama dan Hinata-hime berjalan bersama!"

"A-Apa mereka sepasang kekasih?!"

"Hilanglah sudah harapanku untuk bersama dengan Hinata-chan!"

"Aku tidak mungkin bisa bersaing dengan Naruto-sama! Kuso!"

Dan itulah jerita-jeritan penuh penderitaan para fanboy Hinata.

"N-Naruto-kun…"

"Hm?"

Tak mempedulikan pandangan-pandangan para murid yang ditujukan ke arahnya, Naruto dan Hinata tetap berjalan degan santai menuju kelas mereka seolah dunia milik berdua. Heh, dasar.

"Soal kemarin… aku minta maaf, aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak…" ujar Hinata sambil menundukkan kepalanya.

"Oh, itu, sudahlah Hinata-chan, tidak usah terlalu dipikirkan, akulah yang salah, tidak tanggap dengan perasaanmu, Hinata-chan." Balas Naruto lembut.

"Naruto-kun…"

"Hinata-chan…"

Saat ini mereka telah berhenti berjalan dan telah saling berhadap-hadapan. Penonton yang entah datang dari manapun sudah memenuhi area di sekitar mereka.

Wajah Hinata dan Naruto semakin berdekatan… semakin dekat…

Saat ini mereka berdua telah dapat merasakan napas masing-masing di bibirnya...

Sedikit lagi…

Sdikit lagi hingga…

"Moegi Dynamic Entry!"

Moegi muncul dan menendang Naruto ke samping!

"NANI?!" teriak para penonton yang kecewa.

"Oy! Kenapa malah kalian yang berteriak?!" teriak Naruto yang kini telah bangkit dari posisi jatuhnya pada para murid di sekitarnya.

"Annhhhh…" mendengar suara desahan yang sangat menggoda hasrat, Naruto segera mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Hinata hanya untuk mendapati sosok Moegi tengah meremas-remas payudara Hinata dengan gemasnya.

EMS aktif secara otomatis, Naruto segera berjalan menuju Moegi dengan aura gelap keluar dari tubuhnya.

"Apa yang sedang kau lakukan, bocah hentai?!" geram Naruto sambil terus berjalan mendekat.

Baru berniat akan segera merasengan Moegi sejauh mungkin, tiba-tiba Naruto merasakan tubuhnya tidak dapat bergerak.

'Ap-apa yang terjadi pada tubuhku?!'

"Ahhhn, sudah, hentikan, Moegi-chan… ahhhh~!"

"Hehehehehe, payudara Hinata-hime memang yang terbaik!" seru Moegi sambil melepaskan remasannya pada payudara jumbo Hinata.

Mengalihkan perhatiannya pada sosok kaku Naruto, Moegi segera menyeringai jahat dan mengeluarkan tongkat sihirnya.

"Dan untukmu, Uzumaki-baka, daripada diam saja di sana, kenapa tidak kau pukul saja wajah sok kerenmu itu?!"

Mengayunkan tongkat sihirnya beberapa kali, seringai di wajah Moegi bertambah lebar saat dilihatnya Naruto memukul wajahnya sendiri hingga terpental ke belakang.

"N-Naruto-kun!" seru Hinata yang saat ini juga menyadari bahwa tubuhnya tidak dapat bergerak.

"Hehehe, apakah itu sakit, baka?" tawa Moegi pada sosok Naruto yang tengah berusaha berdiri.

"K-Kuso… apa yang kau lakukan dengan tubuhku, teme?!" teriak Naruto yang saat ini telah berdiri.

Di kerumunan, para anggota Akatsuki segera muncul dan mengelilingi Naruto serta Moegi.

"Naruto-sama! Apa anda baik-baik saja?" Tanya salah seorang anggota Akatsuki yang mengelilingi Naruto.

"Tenang saja, aku baik-baik saja. Trik murahan seperti ini tidak akan mempan terhadapku." Balas Naruto.

"Koharu Moegi! Kau ditahan atas tuduhan penyerangan dan pelecehan kepada siswa lain!" seru anggota Akatsuki lain yang mengelilingi Moegi.

Menyeringai dalam hati, Moegi segera mengayunkan tongkat sihirnya beberapa kali, membuat tangan Naruto bergerak ke lehernya sendiri dan mencekiknya.

"Heh, jika kalian berani menangkapku, maka pimpinan idiot kalian ini akan segera mati!" balas Moegi dengan nada menantang.

"Kurangajar kau, Koharu Moegi!"

"Kami tidak akan memaafkan pelecehan ini!"

Tapi walaupun dengan kata-kata ancaman itu, toh anggota Akatsuki akhirnya mundur juga, mengutamakan keselamatan pemimpin mereka.

"T-Tenang saja se-semuanya, aku b-bisa mengatasi ini." Bisik Naruto pada anggota Akatsuki di sekitarnya.

"Ha'i, kami percaya pada kemampuan anda, Naruto-sama!"

Setelah seluruh anggota Akatsuki mundur, akhirnya cengkraman tangan Naruto di lehernyapun lepas.

"Hahahaha! Bagaimana, Uzumaki? Jika kau ingin bebas, sebaiknya segera akui kekalahanmu dan menjauhlah dari Hinata-chan!" seru Moegi sambil menatap tajam Naruto.

Dan itulah kesalahan pertama sekaligus terakhir yang akan diperbuatnya.

"Kau kira trik seperti ini dapat membuatku menyerah, bocah. Tapi…" EMS berputar dengan kencang, Naruto segera memerangkap Moegi dalam ultimate genjutsu klan Uchiha, Tsukiyomi.

"… masih terlalu cepat 1.000 tahun untukmu berpikir seperti itu."

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

.

A/N : Yah~ Chapter kali ini tergolong santai dan pendek, hm~?
Mohon dimaklumi ya, nih kepala lagi cenat-cenut dan lagi gak bisa mikir berat-berat.

Mohon maaf bila mengecewakan, dan review anda sangat berarti~
SEE YA~!
Natsu D. Luffy.