-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Rate: 13+


.

.

.


Thirteen


.

.

.

Dari segala hal mengenai efek samping pasca menjadi seorang techno-preneur, aku paling benci dengan efek samping bernama wawancara.

Bukan. Bukan wawancara mengenai produk, teknologi ataupun software baru yang kumaksud. Kalau tentang itu, aku justru dengan senang hati akan menjawab semua pertanyaan para wartawan. Tapi yang kumaksud disini ialah wawancara mengenai isu pribadi, asmara, masalah internal, dan semacamnya. Itu membuatku—tidak, membuat hampir semua orang, merasa jengah dengan pertanyaan yang bersifat pribadi tersebut. Because please, aku ini bukan artis. Dan mereka tidak berhak tahu tentang kehidupan pribadiku.

"Jadi, bagaimana kehidupan Anda setelah menikah?"

Seorang wartawan wanita menyergapku seusai acara peluncuran perdana produk baru milik salah satu perusahaan teknologi di Tokyo. Sebuah voice recorder sudah berada tepat di depan mulutku, menunggu untuk diisi dengan suara.

Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata. "Menyenangkan."

"Hm, benarkah?" Wartawan wanita itu menyipitkan mata sambil tersenyum ala rubah. "Tapi dari nada yang Anda pakai, sepertinya kehidupan setelah pernikahan tidak terlalu menyenangkan, ya?"

Mataku memicing. Apa dia sedang memancingku? Tadi aku menggunakan nada yang biasa saja. Tidak ada penekanan, tidak ada nada berlebihan. "Apa Anda masih seorang wartawan freelancer?"

Wanita itu mengerinyit. "Maksud Anda?"

Aku menghela nafas. Kali ini tak mau menahan diri agar tidak memutar bola mata. "Saya terlalu malas untuk mengulangi pertanyaan saya. Dan lagipula saya yakin Anda tidak tuli. Jadi jawab saja pertanyaannya. Anggaplah saya sedang mewawancarai Anda."

Tersentak, bisa kulihat wajahnya sedikit mengekspresikan rasa tidak suka terhadap sikapku. Ia merasa tersinggung pastinya. Aku kemudian tersenyum, tipis. Dia masih anak baru. Wartawan yang sudah lama berkecimpung dengan berita teknologi pasti sudah mengenal sifatku yang tidak suka diganggu, benci basa-basi, malas menjawab pertanyaan tidak penting, dan hanya mau berbicara panjang kepada mereka selama topik itu ada sangkut pautnya dengan dunia pekerjaanku.

"Tidak, saya sudah menjadi wartawan tetap." Jawabnya, ragu. Entah ragu terhadap dirinya sendiri, atau justru ragu apakah aku akan mempercayai jawabannya.

Mataku memandanginya, lurus-lurus. "Apa Anda sadar, kalau pertanyaan Anda barusan bersifat pribadi? Anda seakan ingin menggali topik untuk digosipkan. Ini lucu, mengingat bahwa Anda adalah wartawan tetap yang pasti sudah diberi kelas Tata Krama Mewawancarai Narasumber." Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana. "Dan seingat saya, saya sudah meminta penyelenggara acara ini agar tidak memperbolehkan wartawan dari media selain teknologi diizinkan masuk."

Wajahnya memerah, tersinggung. Tapi ia masih mau menelan kalimatku mentah-mentah. "Baiklah, maafkan kelancangan saya, Hatsune-san." Ia menghapus rekaman suaraku barusan. Menggantinya dengan data kosong yang baru. Di saat kupikir ia mau mengganti pertanyaannya, ternyata ia justru malah berkata, "Kalau begitu saya permisi." Dan ia pun berlalu meninggalkanku.

Aku hampir menyeringai. Dia ternyata hanya datang berbasa-basi mewawancaraiku agar mendapatkan topik hangat untuk dijadikan bahan gosip. Konyol. Menyedihkan sekali. Wanita cantik belum tentu memiliki otak yang sama cantiknya. Terkadang isi pikirannya hanya seputar 'bagaimana cara menarik perhatian lelaki kaya dan tampan'. Wanita seperti itu membuatku jijik. Itulah satu dari sekian alasan mengapa dulu, sebelum aku bertemu dengan Aria, aku pernah berpikir untuk tidak menikah.

Tapi, manusia hanya berencana, Tuhanlah yang memutuskan. Bukan begitu?

Pukul sembilan malam aku baru pulang dari acara barusan. Di tengah jalan ponselku berdering. Tapi karena hari ini Aria bilang bahwa ia ingin memberiku kejutan, aku pun berusaha untuk jadi alim malam ini. Maka aku tidak mau mengindahi suara ponsel yang daritadi berdering minta diangkat. Barusaha menjadi pengendara yang baik dan tidak teleponan saat mengemudi.

Parameter untuk bensinku sudah tinggal seinci sebelum mencapai titik nol. Aku terpaksa membawa mobilku ke pom bensin terdekat dari sini. Antrian yang panjang tidak membuatku malas menunggu. Aku ingin segera pulang dan makan malam bersama Aria. Tadi di konferensi aku hanya memakan makanan ringan agar tidak terlalu kenyang dan masih mampu untuk makan masakan rumah. Sesaat aku melamun, tapi kemudian disentakkan oleh bunyi ponselku, lagi. Ah, keras kepala sekali pemanggil yang satu ini.

Aku meraih ponsel lalu membaca caller id-nya. Pupil mata sedikit melebar mengetahui siapa yang menelepon.

"Ada apa?" tanyaku malas berbasa-basi. Dia jarang sekali menelepon kecuali kalau memang sangat penting.

"Mikuo, kau…" suara di seberang mendesah. "Apa kau tahu di mana Miku berada?"

Bibirku membentuk sebuah garis lurus. Pandangan dipaku pada antrian panjang di depan mata. "Maumu apa, Kaito? Sebentar lagi kau akan menikah." Ujarku datar.

"Iya, aku tahu. Aku hanya bertanya."

"Bertanya, lalu menyusulnya, begitu?"

Jeda sepuluh detik.

"Kau terlalu plin-plan, Kaito."

Tak ada respon.

"Aku tidak tahu di mana dirinya. Fokus saja pada pernikahanmu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas hilangnya Miku secara tiba-tiba."

"T-tapi, itu memang salahku! Ia tidak akan seperti ini kalau aku tidak… kalau aku tidak… seharusnya aku menunda pernikahannya saja,"

"Dan membuat Meiko menunggu lebih lama? Great God, Meiko itu sudah dua puluh delapan tahun, Kaito. Pikirkan perasaannya jika kau harus membuatnya kembali menunggu. Sampai kapan kau mau menunda-nunda pernikahan? Sampai usianya tiga puluh? Sampai keluarganya lelah dengan ketidakpastianmu? Sampai para kerabat dan teman-teman Meiko menggosipinya sebagai perawan tua yang hubungannya tidak jelas denganmu? Stop acting like a spoiled brat and start to man up!" terangku penuh penekanan.

"Tapi, Mikuo… bagaimana dengan Miku? Ia sahabatku. Aku tidak bisa bersikap egois dan menyakitiny—"

"Kau sudah menyakitinya dari awal, Kaito. Dan jangan meremehkan adikku. Miku itu kuat. Ia bisa menjadi seorang diva bukan karena tanpa alasan."

Aku menekan gas untuk maju dari barisan. Baik aku maupun Kaito sama-sama menghela nafas panjang.

"Oke. Aku percaya dengan perkataanmu." Hening sejenak. "Terima kasih, Mikuo. Terima kasih banyak."

"Yeah, sure."

"Oh, dan satu lagi." Aku kembali menaruh perhatian pada suaranya. "Apa Aria sudah hamil? Kau tahu, ini kan sudah lebih dari satu bulan…"

Aku mendadak menginjak rem. Tidak memikirkan resiko diberi bunyi klakson massal nantinya.

"Oi, Mikuo-kun. Jangan bilang…"

"Jangan bilang apa?"

"JANGAN BILANG KALAU KAU BELUM MELAKUKANNYA!"

Skak mat. "Itu bukan urusanmu."

"Ehh, jadi itu memang benar?"

"Bagian mana dari kalimat 'Itu bukan urusanmu' yang tidak kau mengerti?"

"Uh… itu… T-tapi, ini keadaan darurat! Gakkun harus tahu mengenai hal ini!"

"Pernikahanmu hanya tinggal kenangan jika kau berani melakukannya. Sang mempelai pria akan mati duluan ditanganku."

Dari seberang sini, aku bisa mendengar Kaito menelan ludah.

"Uh… Mikuo-kungomenne…"

"Huh? Untuk apa?"

"Untuk mendahuluimu. Aku jadi merasa tidak enak jika nanti aku punya anak duluan, padahal kau kan yang menikah paling dahulu daripada kami…"

Tiba-tiba moodku jadi turun. Buruk. Buruk sekali. Kaito tanpa sengaja sudah menyentuh topik sensitif itu. Membuatku jadi uring-uringan dan bad mood sendiri.

"Kau benar-benar meremehkanku, Kaito."

"Eh?"

"Aku akan punya anak tahun depan."

"Se-sebentar, apakah itu berarti…"

"Istriku sudah hamil? Tentu saja."

Terkutuklah dirimu atas kebohongan kecilmu ini, Mikuo.

"Benarkah? Selamat, kawan! Aku turut bahagia!"

Mati saja kau, Mikuo. Aria tidak akan suka dengan kebohongan ini. Kebohongan yang dibuat demi harga diri. Konyol. Memang sejak kapan aku berbohong demi harga diri?

"Kalau begitu, aku akan menyebarkan kabar gembira ini pada yang lainnya!"

Uh-oh. Sepertinya aku telah membohongi orang yang salah. "Jangan beritahu yang lain. Aku ingin berita ini menjadi kejutan. Biar aku sendiri saja yang memberitahu mereka."

Sesaat kemudian, Kaito baru merespon, "Oh, oke. Akan kutunggu calon bayinya! Jaa na, Mikuo-kun. Semoga ibu dan bayinya tetap sehat selalu."

Dan ketika panggilan terputus, yang bertepatan dengan giliranku mengisi bensin, aku menunggu pengisian bensinnya selesai sambil berpikir.

Aria belum hamil. Berhubungan seksual denganku pun tidak pernah. Paling hanya sedikit afeksi ringan semacam kecupan di dahi yang kami lakukan. Dan itu sudah pasti tak bisa membuatnya hamil. Tuhan, kenapa seorang wanita baru bisa hamil jika sudah berhubungan seksual? Kenapa tidak hamil jika berciuman? Kenapa harus dengan hubungan seksual? Apa tidak ada cara lain? Dan apakah ada seseorang diluar sana yang memiliki pertanyaan hidup yang sama denganku saat ini?

Setelah membayar untuk pengisian bensin mobilku, aku kembali berkendara ke rumah dengan mood setengah-setengah. Absurd. Pikiranku sedikit kacau jika sudah menyangkut Aria.

Dan lagi-lagi, ponselku berbunyi.

Aku menepikan mobilku di pinggir jalan, menghela nafas panjang, baru mengangkat panggilannya.

"Halo?"

Aku menunggu, tapi tidak ada respon.

"Halo? Ini siapa?"

Tetap tak ada jawaban.

"Halo? Apa ada orang di sana?" Nadaku naik satu oktaf. Kesal sendiri karena merasa seperti orang konyol lantaran berbicara tanpa ada feedback.

Suara yang kemudian keluar mengucap serangkaian angka dan huruf. Butuh waktu beberapa detik untukku mencerna apa maksudnya. Si pemanggil… sedang menyebutkan plat nomor mobilku.

Pelan-pelan, kepalaku menoleh ke belakang.

Tak ada mobil yang lalu-lalang. Jalanan lenggang. Sepi total.

Aku menelan ludahku.

Tak perlu menjadi seorang jenius untuk sadar bahwa aku sedang diikuti. Seseorang sedang mengawasiku. Aku bisa merasakannya.

Sayup-sayup aku mendengar suara dalam bahasa Inggris yang menyebutkan angka. Angka-angka yang terpisah.

"Eleven, seventy-two, nine, seventeen…"

Angka-angka itu terus disebutkan berulang-ulang. Tapi aku tetap tidak mengerti artinya.

"You better convert the ten to eight."

Dan sebelum aku bertanya apa maksudnya, sambungan diputus.

Kurang ajar sekali.

Ah, but talking about manner. Aku sendiri pun juga seringkali melakukan hal kurang ajar pada orang lain. Jadi bisa dibilang, ini seimbang.

Aku berusaha melacak suaranya lewat alat elektronik di mobilku. And damn, suara itu ternyata diketahui menggunakan alat untuk mengubah suara aslinya.

Baiklah, sekarang mari kita pikirkan baik-baik.

Tadi dia bilang: 11, 72, 9 dan 17… sampai sini aku masih belum mengerti apa artinya. Aku tidak punya peristiwa bersejarah di tanggal-tanggal itu. Atau, apa mungkin angka itu adalah angka acak tentang umur dan tahun? Tapi, setelah itu dia bilang, convert the ten to the eight

Astaga, Mikuo. Apa kau memang sebodoh ini?

Untuk apa aku meraih gelar summa cum laude jika saja hal sesepele ini saja tidak bisa aku pecahkan?

Dia bilang: Convert the ten to the eight. Kenapa aku tidak sadar-sadar juga? Aku ini seorang techno-preneur for God's sake! Jadi jelas saja si penelepon memintaku untuk menkonversi bilangan-bilangan tersebut dari bilangan desimal ke oktal!

Untuk sesaat, aku merasa sedikit kecewa pada diriku sendiri.

Setelah aku konversikan bilangan-bilangan itu dalam otakku, aku pun mendapatkan angka 13, 9, 11 dan 21.

Aku menghela nafas panjang. Ternyata masih ada jebakan.

Tanggal 13… kurasa aku hanya pernah melakukan meeting atau menjalani hari-hari biasa di tanggal itu. Di umurku yang ketiga-belas juga aku hanya menjalani aktivitas sebagai pelajar SMP.

Tanggal 9, tidak ada yang spesial juga. Tapi di umur itu aku pertama kali bertemu dengan Kaito.

Tanggal 11, umur 11 tahun, tak ada yang spesial. Semua terlampau biasa-biasa saja.

Tanggal 21, ulang tahun ibuku. Sementara umur 21, aku masih kuliah.

Aku kembali menancap gas dan melihat ke belakang SPBU yang tadi kukunjungi lewat kaca spion. Bangunannya sudah samar-samar terlihat dari pandangan. Tapi nama SPBUnya masih terbaca jelas: U21.

U21.

Sebentar.

U21?

21?

Segera kuinjak rem mobilku. Menoleh dan menatap SPBU itu lamat-lamat.

U…21… A = 1, B = 2, C = 3, dan…

U = 21.

Sebentar. Urutan alfabet ke-13 adalah 'M'. Yang ke-9 adalah 'I', yang ke-11 adalah 'K', dan yang ke-21 adalah 'U'. Jika diurutkan maka itu semua akan menghasilkan:

M-I-K-U.

Ini… mereka mengincar Miku.

Hatsune Miku. Adikku. Keluargaku. Dan, apakah mereka tahu tentang…

Kekhawatiran melingkupi kala aku meraih ponsel dan mulai menghubungi speed dial nomor satu:

Aria.

Maka sesaat setelah panggilanku tersambung, aku segera berbicara ke poin utamanya.

"Kunci semua pintu dan jendela. Jangan biarkan seorang pun masuk kecuali aku. Nanti aku akan menghubungimu lagi."

Aku kemudian menunggu balasannya. Tapi alih-alih bertanya mengenai apa gerangan yang membuatku menyuruhnya mengunci rumah, ia justru dengan tenang membalas, "Aku mengerti. Jaga dirimu baik-baik, Mikuo."

Dan setelah itu, aku pun memutus panggilannya.

Sembari berfokus pada jalan raya, aku menggunakan perintah lewat suara pada mobilku untuk menelepon seseorang. Keadaan sekarang sedang genting. Belakangan ini sudah berkali-kali aku sering ditelepon namun ketika aku angkat, tak ada respon. Aku tidak tahu siapa yang menelepon ini. Tapi walau nomornya berbeda-beda, kuyakin kalau yang menelepon adalah orang yang sama. Dan firasatku mengatakan bahwa si pemanggil ini ingin mengancam keluargaku.

Aku pun menyeringai, tipis. Like hell I'm gonna let that happen.

Suara gemerisik panggilan sudah terdengar. Tak butuh waktu lama untuk mendengar suara orang itu menyambut panggilanku.

"Ada apa, senpai? Tumben sekali menelepon."

Tanganku membelokkan kemudi ke arah kiri. "Yeah, you know me. Aku hanya akan meneleponmu dengan nomor yang private jika keadaan sedang darurat."

"Oke," ia berdehem sejenak. "Apa yang senpai butuhkan?"

Setelah sampai di lampu merah, aku mengerem mobilku.

"Aku butuh lima puluh helikopter malam ini juga."

Tak ada respon selama lima detik penuh.

"Uh…" ucapannya terputus, seperti kehilangan kata. "Bolehkan aku tahu itu untuk apa?"

"Itu untuk mencari adikku. Kirim lima puluh helikopter itu beserta Tim Pencari di dalamnya ke seluruh penjuru Jepang di bagian terpelosok. Temukan Hatsune Miku, dan berikan kabar padaku secepatnya."

Lampu hijau menyala. Aku segera menancap gas.

"Baik. Aku akan melaksanakannya besok pagi."

Dahiku mengerinyit, tidak terima. "Bukan besok. Tapi malam ini juga."

"Tidak bisa. Mereka baru mulai bekerja besok pagi."

"Tapi aku butuh malam ini juga."

Suara di sana mendesah, frustasi. "Membangunkan mereka semua malam-malam begini bukanlah perkara mudah, senpai! Tolong jangan menyepelekan hal seperti itu."

"Aku tahu." Ujarku dengan suara terkendali. "Maka dari itu biar aku saja yang memanggil mereka. Kirim data-data mereka ke sistem komunikasiku sekarang juga."

"Uh… Oke, oke." Ia mendesah. "Pastikan saja tidak ada dari mereka yang mendadak resign dari kantorku karena tindakanmu ini, senpai."

"You have my word. Terima kasih banyak, Yuuma."

Dan disaat itu, mobilku sudah sampai di pekarangan rumah.

Aria tidak bertanya apapun ketika aku sudah memasuki rumah dan mulai mengemasi barang-barangku. Ia hanya diam, menunggu aku buka mulut. Karena ia pasti mengerti bahwa aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku sebelum bicara hal ini padanya.

"Ini semua terlalu mendadak, dan aku minta maaf. Tapi kau harus pergi dari sini, secepat mungkin."

Mata Aria menyipit, menatapku tajam. Dan aku menghindarinya. "Definisikan 'kau'." Tuturnya datar.

Aku menghela nafas. Berharap bisa menjelaskan ini tanpa berbelit-belit.

"Dengar," Aku menjilat bibirku. "kau harus pergi dari kota ini. Atau kalau perlu, dari negara ini. Situasi sedang tidak aman dan kau tidak boleh berada di dekatku. Dan tolong percayalah, Aria. Aku melakukan ini semua demi keselamatanmu. Keselamatan kita."

Alisnya bertaut. Masih belum mengerti. "Sebenarnya ada apa, Mikuo?" Tanyanya lembut.

"Miku diincar." Jawabku tergesa. "Ada seseorang yang mengincarnya dan orang itu memberikan pesan-pesan terselubung padaku lewat angka-angka. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi kurasa… orang itu bukan hanya mengincar Miku, melainkan juga orang-orang terdekatku."

Ia terdiam. Berpikir sejenak. "Dan sekarang kau mau mencari Miku untuk mengamankannya?" Tanya Aria.

"Tepat sekali."

"Tanpa aku?"

Sekarang giliran aku yang bungkam.

"Begini, Aria," Aku berdehem. "Bukankah aku sudah bilang, bahwa ini demi keselamatanmu juga? Jika kau berada di sisiku, aku takut itu akan berbahaya bagimu. Aku takut kau diincar oleh mereka juga."

"Jadi, kau berpikir kalau aku ini lemah?"

Astaga, kenapa dia jadi mempersulit keadaan?

"Tidak." Jawabku tegas. "Aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kau itu lemah. Kau wanita yang kuat, and you know that very well. Tapi terkadang, ada saat-saat dimana kau tidak bisa melindungi diri sendiri karena bagaimanapun juga, kau adalah perempuan. Dan ini bukan berarti aku meremehkanmu, Aria. Hanya saja kau perlu menghadapi fakta bahwa kau tidak punya ilmu bela diri untuk pertahanan."

Wanita itu menatapku, tajam. Namun sedetik kemudian tatapannya melunak. "Lakukan apa maumu, Mikuo." Tuturnya pelan. "Tapi tolong jangan bicara padaku selama seminggu penuh." Lanjutnya, dingin.

Aku membelalakkan mata. "Tapi kan—"

"Dimulai dari sekarang." Potongnya tajam.

Aria segera berlalu dan meninggalkanku sendirian di ruang keluarga. Ini adalah pertama kalinya aku bertengkar hebat dengannya. Rasanya menyakitkan. Ia bahkan tidak mau berbicara padaku selama seminggu penuh. SEMINGGU PENUH! Tidak berbicara dengan Aria selama sehari saja rasanya sudah seperti… ah, lupakan.

Maka aku pun hanya bisa mengawasi kepergiannya untuk packing dalam diam. Kecewa dan merasa bersalah padanya. Padahal bagaimanapun juga, ini semua demi keselamatannya.

Sambil meletakkan kunci mobilku dan mencoba menyeduh teh, aku mempertajam pendengaran untuk mendengar suara dari kamar. Rumah ini cukup besar, tapi karena tiap malam hanya ada aku dan Aria saja yang menempatinya, setiap suara yang bahkan berasal dari lantai atas sekalipun akan tetap kedengaran sampai dapur. Aku memperhatikan teh buatanku yang kacau. Yeah, pikiranku memang sedang tidak berada di sini. Aku penasaran, apa Aria masih mau membuatkanku teh racikannya yang biasa aku minum untuk membuatku lebih tenang? Apa dia masih mau mengingatkanku untuk berdoa sebelum tidur agar aku tidak bermimpi buruk? Aku menggelengkan kepala dan mendengus. Itu mustahil. Sudah jelas-jelas Aria menolak untuk berbicara padaku selama seminggu mulai dari sekarang. Jadi jelas saja dia pasti tidak mau keluar kamar untuk sekedar mengucapkan selamat tidur untukku.

Sambil meneguk teh buatanku yang terasa kacau, aku berbaring di sofa dan memperhatikan pintu kamar kami yang masih terbuka. Lalu beberapa saat kemudian, bunyi-bunyi resleting bermunculan dan sebelum aku mendengak untuk melihat,

pintu kamar sudah ditutup dengan sedemikian pelannya.


-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

1. Huge thanks to Allah SWT

2. Thanks to you! Dear readers

Uh, oke, jadi… sudah berapa lama saya meninggalkan cerita ini? Sebulan? Dua bulan? Tiga bulan? Lebih? Maaf, tapi saya tidak menghitungnya.

Kalau ditanya kenapa lama banget update-nya, jawabannya cuma satu: sibuk. Seriusan deh, ini bukan sok disibuk-sibukin, tapi emang sibuk beneran. Saya sendiri juga ngga nyangka jadwal kegiatan saya kelas XI SMA bakal lebih sibuk daripada kelas IX SMP.

Okay, so I apologize for the late update. Saya bahkan ngga yakin masih ada yang mau nungguin ini cerita (pasti udah pada lupa sama ceritanya), tapi kalau kalian memang masih tertarik dengan kisah ini…

Would you mind to review?