Return Of The Legend
By : Natsu D. Luffy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ (For now)
Genre : Fantasy, Adventure, Romance
Main Pair : Naruto x Hinata
Warning : (miss) Typos, OOC, GaJe, Abal, SKS (Sistem Kebut Sejam), Overpower!Naruto, Slight Crossover.
.
.
.
.
Seluruh koridor Youkai Gakuen yang tadinya ramai tiba-tiba saja langsung berubah menjadi sunyi senyap saat tiba-tiba Moegi yang tengah tertawa sombong langsung jatuh terduduk dengan ekspresi kosong di wajahnya.
Seluruh siswa hanya terus diam dalam keadaan shock sampai akhirnya salah seorang siswa memberanikan dirinya bersuara, membuat seluruh murid sadar dari keadaan shock mereka.
"A-Ap-Apa yang terjadi?"
Di tengah kebingungan dan rasa shock yang melanda para siswa, tiba-tiba saja para anggota Akatsuki langsung menyeringai kecil dan melangkah maju melingkari Naruto dengan menghadap para siswa.
"Akatsuki didirikan dengan alasan yang kuat dan tugas yang berat…" ujar salah seorang anggota Akatsuki yang berambut orange jabrik dengan name-tag "Juugo" di dadanya.
"Karena itulah, dibutuhkan anggota yang kuat dan pemimpin yang terkuat…" lanjut salah seorang anggota Akatsuki lainnya yang berambut perak lurus dan bergigi tajam dengan name-tag "Suigetsu" di dadanya.
"Adalah sebuah tindakan bodoh jika ada orang berpikir mereka dapat melawan kami, apalagi pemimpin kami, Naruto-sama!" seru Karin akhirnya dengan seringai sadis di wajahnya.
Melihat itu, tentu saja murid-murid yang mengelilingi Akatsuki langsung mengambil langkah mundur dan tidak sedikit pula yang langsung berlari ketakutan.
Menghembuskan napas yang tidak sadar ia tahan, Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya atas tindakan over dramatis yang dilakukan anggotanya.
"Baiklah semuanya, bubar." Ujar Naruto sambil berjalan mendekat pada Hinata.
"Ha'i!" balas seluruh anggota Akatsuki yang langsung menghilang dengan cepat.
Hinata yang saat ini tengah menundukkan kepalanya karena rasa malu yang dideritanya akibat pelecehan yang dilakukan Moegi tiba-tiba saja dikagetkan dengan uluran sebuah tangan yang ditujukan padanya.
Menelusuri tangan itu hingga akhirnya sedikit menghadap ke atas, Hinata sempat terpaku sejenak saat dilihatnya senyuman hangat Naruto yang hanya ia tunjukkan eksklusif padanya dahulu.
"Kau tidak apa-apa, Hinata-chan?" Tanya Naruto lembut.
Hinata yang masih belum mempercayai suaranya saat ini hanya bisa mengangguk kecil dan segera menggenggam erat tangan Naruto yang tadi diulurkannya pada Hinata.
"Arigato, Naruto-kun…" bisik Hinata yang tentu saja masih dapat didengar oleh telinga super sensitif Naruto.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kita segera ke kelas sebelum terlambat, Hinata-chan…"
.
.
.
Tsukiyomi World…
"A-Apa? Dimana aku?!" teriak Moegi dengan panik. Ia terus berteriak beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban…
Saat berniat akan berjalan ke depan, Moegi baru sadar bahwa kakinya tidak dapat digerakkan.
Melihat ke bawah, Moegi hampir saja terkena serangan jantung saat dilihatnya lintah berukuran BESAR tengah melingkari kedua kakinya.
"Kyaaaaaaaaaaa…!" teriak Moegi sekencang-kencangnya.
Merasakan ada rasa geli di dalam bajunya, Moegi kembali melihat ke awah bawah dan membuka sedikit kerahnya hanya untuk mendapati bagian dalam bajunya kini dipenuhi dengan kecoa.
"Tidaaaaaaaaaaaaakkkkk…!" adalah teriakan akhir Moegi sebelum akhirnya jatuh pingsan dengan mulut berbusa.
.
.
.
Real World, 3 Days Later…
Terbangun dengan deringan alarm dari jam waker yang sangat bising, Naruto hanya bisa menahan dirinya untuk tidak langsung menggunakan Shinra Tensei pada jam waker tak bersalah itu.
Melihat jam, Naruto tidak terkejut saat dilihatnya sekarang telah jam 8 pagi.
Saat sedang berbincang-bincang dengan Hinata beberapa hari yang lalu, Naruto baru tahu bahwa seluruh anggota SPC –yang sekarang menjadi Akatsuki- diberi keringanan oleh kepala sekolah untuk masuk sekolah sesuka mereka dan tetap naik kelas dengan nilai B di semua mata pelajaran.
Setelah berdiskusi sedikit dengan Juubi, akhirnya Naruto setuju untuk tidak berangkat sekolah dan berlatih dengan kekuatannya siang-malam tanpa kenal lelah, hanya tidur beberapa jam dan hanya pergi ke sekolah sejenak untuk bertemu Hinata dan melihat-lihat keadaan Akatsuki.
"Huh, hari ini seharusnya adalah hari dimana Moegi sadar dari Tsukiyomi milikku…" gumam Naruto sambil masuk ke kamar mandinya dengan malas.
Setelah mandi dan berpakaian seragam seperti biasanya, Naruto segera sarapan sejenak dengan ramen cup miliknya sebelum akhirnya berjalan keluar asrama miliknya menuju tempat latihan favoritnya.
.
.
.
Setelah berjalan beberapa menit berjalan menuju tempat latihan kesukaannya, akhirnya Naruto berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam, menikmati suasana pagi hari di sekitarnya.
Tidak seperti sebagian besar hutan Kematian yang mengelilingi Youkai Gakuen, tempat latihan Naruto adalah sebuah padang rumput yang cukup luas dengan danau kecil di tengahnya. Mirip seperti tempat latihan yang biasa digunakan oleh tim 7 dahulu di Konoha.
Tentu saja, tempat seperti ini tidak mungkin ada secara alami di Makai. Naruto harus menggunakan Mokuton miliknya untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan di sini dan Doton serta Suiton untuk membuat danau kecil itu.
Menutup matanya sejenak, Naruto kembali membukanya kembali, menampakkan Eternal Mangekyou Sharingan Madara yang kini menjadi miliknya.
"Baiklah… untuk pemanasan…" ujar Naruto sambil membuat rentetan segel tangan dengan kecepatan luar biasa.
"Katon…" sambil menarik napas panjang, Naruto menundukkan badannya sedikit dan menghadap danau di depannya.
"Gokka Mekkyaku (Great Fire Annihilation)!" seru Naruto bersamaan dengan keluarnya dinding api berukuran raksasa dari mulutnya yang terus melaju ke depan, menyebabkan air danau menguap dengan segera.
Melihat ada area sekitar danau yang juga ikut terbakar oleh apinya, Naruto berniat untuk segera memadamkannya dengan Suiton sebelum tiba-tiba sebuah kabut berwarna hitam menyelubungi apinya dan menelan habis api miliknya.
"Hn, kau harus berhati-hati dengan kekuatanmu, Naruto-san." Ujar sebuah suara yang terdengar familiar dari belakang Naruto.
Menengokkan kepalanya ke belakang, Naruto mendapati sosok Uchiha Sasuke tengah berdiri di belakangnya dengan kabut hitam yang terus keluar dari bagian kakinya berdiri.
"Oh, Sasuke!" seru Naruto sembari melambai ke arah Sasuke.
"Uh… omong-omong… maaf soal yang waktu itu… kau terluka karena aku… yeah… kau tahu… aku lumayan sering hilang kendali…. hehehe…" ucap Naruto dengan gugup sambil berjalan mendekati Sasuke.
"Huh… dobe…" ujar Sasuke lirih, tapi cukup untuk didengar oleh pendengaran sensitive Naruto.
"Heehhh?! Ap-apa-apaan kau, teme! Aku kan sudah minta maaf! Kenapa kau malah-" belum selesai berbicara, Naruto terpaksa menghentikan ceramahnya saat Sasuke tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Lawan aku. Aku akan memaafkanmu jika kau mau melawanku sekarang juga." Ucap Sasuke dengan tenang.
"He?! Kenapa aku harus melawanmu, teme?!"
Merasakan emosinya sedikit tersulut akibat Naruto yang terus memanggilnya teme, Sasuke segera mengambil napas panjang sebelum kembali berkata, "Aku ingin mengetahui seberapa jauh aku telah berkembang. Dan dari rumor yang kudengar… kau telah mengalahkan Gaara, satu-satunya Bijuu di sekolah ini."
Memikirkannya sejenak, Naruto hanya bisa mengangkat bahunya dan menyetujui ajakan Sasuke. Yah~ sekali-sekali mungkin tidak apa-apa berlatih dengan teme.
Sebelum Naruto sempat mengatakan apapun, tiba-tiba sebuah tangan raksasa yang terbuat dari kegelapan muncul di atasnya, memaksa Naruto menteleportasikan dirinya ke seberang danau.
Memanfaatkan area sekitarnya yang terdapat banyak air, Naruto segera membentuk segel tangan dan memfokuskan chakranya pada air danau di depannya.
"Suiton : Suiryudan no jutsu!" seketika, sebuah naga yang terbuat dari air bangkit dari danau dan segera meluncur menuju Sasuke.
Mata Naruto seketika membulat saat melihat serangannya hanya melaju menembu badan Sasuke yang berubah menjadi kegelapan.
'Pertama Mikoto, dan sekarang Sasuke! Ada apa dengan para Uchiha dan buah setan tipe Logia ini!' teriak Naruto frustasi dalam batinnya.
"Heh, ada apa, dobe? Tak bisa mengenaiku walau aku di depanmu?" Tanya Sasuke dari seberang danau dengan seringai sombong terpasang di wajahnya.
"Amaterasu!"
Melihat gumpalan api hitam yang mengarah ke arahnya, Sasuke segera membuat semacam dinding dari kegelapan di depannya.
Berpikir bahwa kegelapan miliknya telah menyerap api milik Naruto, Sasuke cukup terkejut saat dilihatnya kegelapan miliknya dibakar oleh api hitam milik Naruto.
"Api hitam Amaterasu, api yang membakar apa saja selama 7 hari dan 7 malam tanpa bisa dipadamkan… jangan meremehkan kekuatanku, teme." Membalikkan badannya, Sasuke kembali dikejutkan dengan sosok Naruto yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan menodongkan semacam pedang yang terbuat dari api hitam ke lehernya.
"Sepertinya aku menang, hm?" Tanya Naruto dengan seringai menyebalkan di wajahnya.
Mengetahui bahwa api hitam milik Naruto bisa membakar bahkan kegelapan miliknya, Sasuke akhirnya mengalah dan memilih duduk di bawah salah satu pohon rindang di pinggir danau dengan muka pahit.
"Hey, ayolah teme… kau tak perlu memasang wajah seperti itu… kalah adalah hal yang wajar jika musuhmu adalah orang yang sangat luar biasa seperti aku ini… Mwahahahahaha!"
Bukannya menghibur, ucapan Naruto malah membuat dahi Sasuke dipenuhi kedutan karena menahan emosinya pada Naruto.
"Diamlah, dobe." Ujar Sasuke kembali bersikap sok cool.
"Heh, teme. Baiklah, hari ini aku ada janji dengan Hinata-chan untuk menjenguk Moegi, jadi aku harus segera pergi. Jaa, teme!" seru Naruto pada Sasuke sebelum akhirnya menteleportasikan dirinya kembali ke Youkai Gakuen.
"Hn… kau akan menjadi saingan yang tangguh, dobe…"
.
.
.
Youkai Gakuen's Entrance…
Kembali muncul di gerbang Youkai Gakuen, Naruto segera merasakan sebuah beban menggelantung di tangan kanannya.
"Naruto-kun!"
Melihat kea rah samping, Naruto hanya bisa tersenyum lembut saat didapatinya sosok Hinata Hyuuga yang tengah memeluk tangan kanannya dengan rona merah yang sangat ketara di wajahnya.
"Siap untuk menjenguk Moegi, Hinata-chan?" Tanya Naruto pada Hinata yang hanya bisa mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kesehatan, Naruto dan Hinata tidak jarang mendapat tatapan-tatapan kagum dari para siswa lainnya.
"Wah, Naruto-sama dan Hinata-san… mereka sangat cocok…"
"Seperti inilah seharusnya! Seorang malaikat dan bidadari!"
"Mereka berdua sangat bersinar! Sepertinya aku akan buta!"
Dan tidak jarang pula Naruto dan Hinata mendapat siulan dari murid-murid yang hanya dibalas dengan senyuman lebar oleh Naruto dan senyum malu-malu oleh Hinata. Ya, walaupun belum resmi, tapi seluruh Youkai Gakuen telah mengetahui bahwa Hinata dan Naruto memiliki hubungan special, membuat sebagian besar Hinata dan Naruto fansclub kecewa.
Tapi tentu saja, tidak ada yang berani memprotes secara langsung kepada Naruto.
Sampai di depan ruang kesehatan, Naruto segera membuka pintu dan masuk bersama Hinata.
Berhenti di bilik perempuan, Naruto dan Hinata mendapati sosok Moegi yang tengah terduduk lemas di ranjangnya sembari memijat-mijat kepalanya.
"Moegi-chan…" ujar Hinata mendekat ke arah Moegi dan membawa Naruto bersamanya.
"Yo, Moegi." Ujar Naruto meniru gaya Kakashi.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Moegi mendongakkan kepalanya dan melihat sosok cantik Hinata dihadapannya dengan... dengan…
"Kyaaaaaaaaaaaaaa…!" teriak Moegi sambil meloncat dari ranjangnya dan langsung memeluk Hinata erat-erat.
Hinata, melihat reaksi Moegi yang ketakutan setengah mati saat melihat Naruto langsung mengerti bahwa saat ini Moegi pasti tengah menderita trauma setelah berada di dunia Tsukiyomi selama 3 hari.
"Ssshhh… tidak apa-apa, Moegi-chan… Naruto-kun tidak akan melukaimu kok…" ujar Hinata dengan lembut sambil mengelus-elus kepala Moegi dan memandang tajam pada tersangka pembuat trauma –Naruto.
Naruto yang dipandang tajam oleh Hinata hanya bertingkah innocent sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan bersiul-siul kecil.
Mendengar kata-kata dari Hinata, perlahan sosok Moegi mulai rileks di pelukan Hinata dan memberanikan diri untuk melirik kea rah Naruto.
Merasakan sisi jahilnya yang tiba-tiba muncul saat melihat Moegi melirik ke arahnya dengan pandangan takut-takut, Naruto langsung mengaktifkan EMS miliknya dan menampakkan seringai terkejam yang bisa ia buat.
"Kyaaaaaaaaaaaaahhh~!" teriak Moegi ketakutan saat melihat wajah menyeramkan milik Naruto dan langsung kembali membenamkan wajahnya ke pelukan Hinata.
Naruto yang saat ini tengah tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling di lantai tiba-tiba saja berhenti saat merasakan aura negatif yang SANGAT besar datang dari belakangnya diiringi dengan sebuah nada yang sangat manis berupa "Na-ru-to-kun~"
Menengokkan kepalanya ke belakang dengan gerakan putus-putus, Naruto hanya mempunya waktu beberapa mili detik untuk mengagumi sosok Hinata yang dilapisi oleh aura hitam sebelum dirinya terbang ke luar ruang kesehatan sambil menjebol beberapa tembok sepanjang perjalanannya.
"Ups! Gomen, Naruto-kun, aku tidak sengaja…"
Heh, ya, tentu saja, Hinata. Katakan itu pada mayat Naruto nanti.
.
.
.
Student Council's Room…
Tengah meminum teh dengan santai di ruang OSIS, seorang Shion Higurashi tentu saja tidak pernah menyangka bahwa tiba-tiba seorang pemuda berambut pirang jabrik dan berseragam SPC akan tiba-tiba datang menjebol tembok dan terkapar di dalam ruang OSIS.
"Ara, ara… sepertinya SPC selalu bersemangat seperti biasanya, hm…" gumam Shion pada dirinya sendiri sambil meneruskan acara santai minum teh miliknya.
Shion Higurashi, seorang murid kelas 2 di Youkai Gakuen sekaligus sekretaris OSIS Youkai Gakuen. Dengan sosok mempesona dan penampilan fisik yang mencerminkan seorang bangsawan, Shion dengan mudah menjadi salah satu dari gadis tercantik di Youkai Gakuen.
Berseragam khas murid Youkai Gakuen pada umumnya dan tak lupa sebuah ikat lengan berwarna merah di seragamnya sebagai lambang keanggotaan OSIS, Shion merupakan gambaran murid teladan. Setiap hari, ia yang akan pertama sampai di ruang OSIS untuk sekedar minum the atau bahkan sedikit merapikan ruangan.
Terlahir di keluarga super kaya dan penuh keanehan serta dimaja sejak kecil, Shion tumbuh menjadi pribadi yang polos dan tak mudah dikejutkan serta sedikit pemanja. Yah, paling tidak, itulah daya tariknya menurut para murid laki-laki.
"Ughhh… aku bersumpah kekuatan tendangan tadi itu melebihi Tsunade-baa-chan." Gumam sosok Naruto sambil berdiri dari posisi tengkurapnya dan membersihkan seragamnya yang penuh debu.
Melihat pelaku penjebol tembok ruang OSIS sudah terbangun, Shion berniat akan menegurnya secara halus agar tidak sembarang menjebol tembok sebelum tiba-tiba suara Shion berhenti di tenggorokannya.
Rambut pirang jabrik yang bersinar… mata biru laut yang mempesona… tanda semacam kumis kucing yang menggemaskan dan tidak lupa kulit tan yang eksotis… ini dia… ini dia sosok pangeran dari negeri dongeng yang selama ini Shion impi-impikan.
Berniat untuk minta maaf pada siapapun yang ada di ruangan tempatnya mendarat, Naruto sedikit terkejut saat tiba-tiba didapatinya sosok familiar Shion yang tengah menyodorkan sepotong kertas ke arahnya.
Melihat potongan kertas yang Shion sodorkan padanya lebih dekat, mata Naruto langsung membulat saat menyadari bahwa potongan kertas itu sebenarnya adalah sebuah cek dengan angka 1 milyar yen di dalamnya.
"Ambil uang ini dan jadilah pacarku." Ujar Shion dengan nada lembut dan senyum manis di wajahnya.
"Eh?" merasakan otaknya berhenti bekerja untuk beberapa saat, Naruto tentu saja melakukan satu-satunya hal yang akan seorang lelaki sejati sepertinya lakukan di saat seperti ini.
"Eeeeeeeeeeeehhhhhhh?!"
Ya, menjerit dan pingsan.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
A/N : Uhh… yo! *digebukinmassa*
Gomen-gomen udah mbuat pada nungguin sampe jadi fossil~ gara-gara kebanyakan main game online jadi gak keurus nih fic! But don't worry! Akan saya usahakan chapter depan gak terlalu lama updatenya. Oh ya, dan maaf kalau chapter ini berantakan. Maklum masih tahap pemanasan sehabis Hiatus *digebukinlagi*
Anyway, terimakasih banyak buat yang udah rela-relain review dan kasih saran, semua respon kaliah adalah motivasi untuk saya ^^
OK, hanya itu untuk sekarang, maaf jika mengecewakan, jangan lupa, Keep read and review!
SEE YA!
Natsu D. Luffy
