-Hatsune Mikuo's Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: AU, ada bagian-bagian yang ngga nyambung! Tapi ngga tau kenapa malah saya gabung-gabungin,

[I do not get profit by making and publishing this story]

Rate: 13+


.

.

.


Fourteen


.

.

.

Seminggu tidak bicara dengan Aria rasanya akan sama seperti di neraka.

Dan ah, sial. Aku mulai jadi hiperbolis.

"Kau apa?"

Gakupo sedang menuangkan kopi saat aku menceritakan masalah Aria padanya. Jam dua belas siang setelah Aria berangkat ke stasiun Tokyo (ia bahkan menolak untuk diantar olehku dan lebih memilih untuk naik taksi), aku langsung ke apartemen Gackt yang terletak tidak jauh dari kantornya sekarang.

"You heard me. Aria tidak mau berbicara denganku selama seminggu penuh." Jawabku sambil menatap kopi yang diserahkan dengan tidak berselera. Ini aneh, biasanya aku selalu bersemangat untuk minum kopi—baik itu di pagi hari maupun di siang hari seperti sekarang. Tapi, kenapa sekarang jadi begini?

"Dan itu karena kau mengirimnya ke luar kota?"

Dahiku mengernyit. Apa iya karena itu? "Kurasa tidak."

"Uhm, maksudku. Mungkin dia marah karena kau menjauhkannya dari dirimu."

"Oh, itu romantis sekali."

"Oi, aku serius! Tidak ada sarkasme dalam perkataanku barusan."

Aku mendesah, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Gackt, aku malas minum kopi. Apa kau punya scotch?"

Gakupo membelalakan mata. "Baru sehari tidak berbicara dengan Aria dan kau sudah berniat untuk mabuk? Ini masih siang, Mikuo!"

"Aku tidak akan mabuk. Lagipula aku hanya ingin segelas scotch biasa."

"Yeah, right." Ia memutar bola mata. Sarcasm detected. "Aku tidak memilikinya. Aku pun juga tidak menyarankan kau agar meminumnya di rumah."

Aku mengabaikan Gackt, kemudian menghela nafas dan memerosotkan diriku di kursi. Biasanya setiap pagi datang Aria akan membuatkan kopi untukku dan aku akan mengamatinya memasak sambil membaca koran. Kemudian kami sarapan sambil mengobrol tentang pekerjaan, keuangan kami, dan terkadang, tentang Miku atau pernikahan Kaito-Meiko. Setelah itu kami akan bersiap untuk kerja lalu aku akan mengantar Aria ke rumah sakit baru berangkat ke kantorku. Jam pulang Aria biasanya tidak menentu (lagipula siapa sih yang tahu kapan tepatnya seorang bayi akan lahir?), jadi, aku terkadang tidak menjemputnya dan dia akan pulang dengan kereta. Tapi kalau ia pulang pada jam-jam malam, sudah pasti akulah yang akan menejemputnya. Dan ketika hari libur, kami akan berkencan (yeah, berkencan. Persis seperti remaja ingusan) lalu orang-orang akan menyangka kami sepasang kekasih, bukan suami-istri. Semua itu sangat menyenangkan, sungguh.

Dan belum ada 24 jam kami berpisah, aku sudah merindukannya.

See? Sekarang aku mulai berpikir dan bertindak layaknya anak remaja labil.

Tapi tadi, ketika aku terbangun, Aria sudah pergi dari rumah tanpa mau menoleh padaku. Sebenarnya, perkara dia tidak mau diantar olehku itu tidak masalah. Namun yang menyakitkan adalah, ia tidak mau untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan-pertemuan favorit kami. Padahal aku dan Aria selalu mengucapkan salam itu setiap kali kita mau berpisah, karena itu adalah hal kecil yang selama ini hanya kami bagi berdua tanpa melibatkan orang lain untuk mengikutinya.

Mendadak mood-ku jadi buruk. Aku merasa ada yang sakit di dadaku tapi aku tak bisa mengungkapkan bagaimana sakitnya. Mungkin itu perasaan kecewa, yang bercampur dengan perasaan asing yang tak bisa kuidentifikasikan. Entahlah. Aku merasa sangat awam dengan berbagai perasaan yang seperti ini.

"Kau tahu, Mikuo? Aku rasa kau justru jatuh cinta pada Aria setelah kau menikahinya." Ujar Gackt memecah lamunanku.

"Kau salah, Gackt. Aku justru tambah mencintainya setelah kami menikah." Sanggahku lancar. Ini lucu. Lima tahun yang lalu, aku pasti akan langsung bergidik sendiri jika menyebut kata 'cinta'. Aneh saja rasanya untuk mengucapkan kata itu. Kata 'cinta', 'rindu', dan segala macam itu terdengar bukan-Mikuo-banget. Aku selalu menganggap kata-kata itu terdengar chessy dan menjijikan. Namun Aria cukup berhasil mengubahku dalam memandang persepsi tersebut. Jadi, apa ini saatnya bertanya dalam hati menggunakan kalimat klise yang sering dilontarkan dalam novel picisan?

'Apa ini yang namanya jatuh cinta?'

Bagus. Sekarang aku merasa tolol sendiri.

"Hei, Mikuo. Aku minta maaf, tapi nanti aku harus ke perusahaan properti untuk mengecek kesediaan barang-barang yang sudah kupesan. Kau tidak masalah?"

Aku mengibaskan tanganku di udara. "It's fine. Go ahead. Aku mau langsung pulang saja." Ujarku lalu menghabiskan kopi yang sudah tidak hangat lagi. Musim dingin di Jepang akan tiba dalam waktu kurang lebih sebulan dari sekarang. Hawa menggigil yang menusuk tubuh mulai berdatangan. Ini membuatku bertanya-tanya, apa Aria sudah membawa pakaian dingin yang cukup? Aku sendiri tidak tahu berapa lama ia harus tinggal di Osaka bersama salah satu keluarga anak buahku. Yang jelas, segera setelah aku menemukan siapa tersangka yang meneleponku bertubi-tubi dan berhasil mengamankannya, Aria bisa langsung pulang ke Tokyo.

Aku merapatkan mantel hitamku dan keluar dari apartemen Gakupo. Tidak lupa untuk berterima kasih atas kopi dan kesediaannya mendengar keluh kesahku.

Sesaat sebelum aku mengambil kunci mobil untuk membuka pintunya, ponselku bergetar di saku celana.

Aku merogohnya dan membaca caller id di layar ponselku. Dahiku berkerut. Apa orang ini akan membawa kabar buruk?

Menepis pikiran itu jauh-jauh, segera aku mengangkat panggilannya. "Halo?"

"Aku sudah berhasil menemukannya." Ujar Yuuma tanpa basa-basi. Inilah sifatnya yang paling kusuka. Tapi kemudian aku mengerutkan keningku. Miku sudah ditemukan? Secepat itu? Ternyata Yuuma lebih handal daripada yang kuharapkan. "Senpai, kau mau ia diapakan?"

Ah, Yuuma. Kalimatmu barusan membuatku terkesan seperti ketua yakuza yang habis menculik seorang gadis saja. "Sekarang dia ada di mana?"

"Dia masih di pulau terpencil di bagian selatan Jepang. Sekarang sedang duduk dan… memelototiku." Jawab Yuuma datar. "Senpai mau bicara dengannya?"

"Sebentar dulu. Kau juga ikut mencari Miku?" Tanyaku tak percaya.

"Ya. Memang kenapa?"

"Lucu saja. Kau kan biasanya menyerahkan urusan seperti ini ke anak buahmu yang terpercaya, bukan terjun langsung ke lapangan. Karena setahuku, kau lebih suka mengontrol semuanya dari jauh."

Ada sebuah jeda panjang sebelum Yuuma berkata, "Jadi, senpai mau bicara dengannya atau tidak?" Ucapnya keras kepala.

Aku mendengus. Ia ternyata tidak bisa membalas pernyataanku barusan. What a brat. "Fine, tolong serahkan ponselmu pada Miku."

Yuuma segera menyerahkan ponselnya dan sejenak, aku mendengar suara ribut di sana. "Ehm, halo? Mikuo nii-san? Apa ini benar-benar kau?" Suara Miku terdengar ragu.

Aku menghela nafas lega. "Yeah, ini aku. Kau baik-baik saja?"

"Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Catat itu." Ujarnya penuh penekanan. "Kau mengirim pria itu untuk mencariku. Dari semua orang, Nii-san, kenapa harus dia?"Suara Miku terdengar frustasi, seperti jengah sekali dengan keputusanku. Aneh. Memang kenapa sih kalau aku mengirim Yuuma? Apa dia lebih memilih aku mengirim Kaito?

Oke, tenangkan dirimu, Mikuo. Ini bukan waktunya untuk membawa topik sensitif itu ke pembicaraan.

"Jangan permasalahkan keputusanku untuk mengirim Yuuma. Dia adalah orang yang paling bisa kupercaya untuk menangani hal ini." Sahutku tenang.

"Nii-san, asal kau tahu saja, pria itu datang sambil membawa serombongan helikopter ketika aku sedang ke pasar ikan! KE PA-SAR I-KAN! Orang-orang menatapku sambil ternganga, tapi dia hanya berjalan kepadaku dan dengan santainya berkata, 'Kita perlu bicara. Dan ini semua atas permintaan kakakmu.' Oh, bisakah kau bayangkan betapa kacau situasinya? Betapa malunya aku saat itu?" Ujar Miku dengan nada naik beberapa oktaf. Entah sudah sekesal apa dia sekarang.

Tapi sebelum aku berkata untuk menyahutinya, sebuah pikiran menyergapku.

Miku? Ke pasar ikan?

Pasar ikan?

Seketika itu juga, aku langsung tertawa. Lepas.

Aku tertawa hingga menyandarkan diri ke pintu mobil dan merosot ke tanah. Mengabaikan bajuku yang akan kotor nantinya. Ini terlalu hillarious untuk dilewatkan. Miku ke pasar ikan. Pasar ikan! Astaga, ini adalah lelucon paling menggelikan yang pernah aku dengar! Menggabungkan 'Miku' dengan 'pasar ikan' itu sama seperti menggabungkan minyak dan air—yang sudah kita ketahui sebagai dua hal yang saling berlawanan. Aku terus tertawa sampai perutku terasa sakit, sampai rasanya suaraku habis, sampai air mataku keluar dari lacrimanya. Hingga akhirnya tawaku mereda, lalu aku mulai mengatur pernafasanku agar kembali normal.

Ah, sampai di mana aku tadi?

Oh ya. Miku.

Baru mengingat namanya saja sudah membuatku ingin tertawa lagi.

Aku menenangkan diriku. Lalu kembali memulai percakapan. "Maaf, tadi ada gangguan." Ujarku sambil menahan tawa terselip dari bibir. "Kau harus tinggal bersama Yuuma sekarang ini." Lanjutku kembali serius. "Aku yakin kau sudah diberi tahu olehnya mengenai apa yang telah terjadi. Keadaan sedang tidak aman, karenanya aku tidak memperbolehkanmu untuk kembali ke Tokyo dalam waktu dekat. Jadi aku akan mempercayakanmu dalam pengawasan Yuuma."

Di seberang sana Miku terdiam. Belum menyahut.

"Miku?"

"APA?"

Aku menjauhkan telingaku dari ponsel. Suara Miku keras sekali. Dan untuk apa dia teriak-teriak segala? Apa dia kehilangan sinyal? "Halo? Miku? Kau masih ada di sana?"

Alih-alih mendapat suara gemerisik khas jaringan yang berkoneksi lambat, aku justru malah dihadiahi oleh teriakan Miku yang semakin kencang. "APA? NII-SAN! Kau menyuruhku untuk berada dalam pengawasan orang itu?! Kenapa harus dia sih?!"

"Bukankah tadi aku sudah bilang? Yuuma itu adalah orang yang paling bisa kupercaya untuk menangani hal ini. Kau tidak usah protes, karena ini demi keamananmu juga. Aku tidak peduli apa permasalahanmu dengan Yuuma. Intinya, kau harus menurut padanya selama beberapa waktu. Dengar, Miku, aku jarang meminta sesuatu darimu. Tapi kali ini, tolong percayalah bahwa aku melakukan ini demi keamanan kita semua. Aku tidak mau kehilangan anggota keluargaku lagi."

Miku kembali terdiam.

"Nii-san, kami selalu berdebat."

"Aku tahu."

"Tapi aku akan berusaha untuk berdamai dengannya un-tuk-mu. Kau dengar itu? Untukmu."

Aku memandangi tanah di sekitarku secara acak. Perlahan menyunggingkan senyum puas. "Terima kasih, Miku."

"Hm."

"Bisa tolong kembalikan ponselnya pada Yuuma?"

Dari sini bisa kudengar Miku mendengus. Tapi beberapa saat kemudian ponsel Yuuma kembali berpindah pada pemiliknya.

"Ya? Mikuo-senpai?"

Aku menghela nafas pendek. "Yuuma, kau harus menyiapkan anak buahmu yang bisa berkelahi untuk jadi bodyguard. Sementara yang tidak bisa kau pulangkan."

"Baik."

"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Miku, tapi cobalah untuk berdamai dengannya."

"Akan kuusahakan."

"Dan, dia anak yang bebal. Terkadang dia suka melakukan hal-hal nekat yang berujung membahayakan dirinya sendiri. Jadi, tolong perketat pengawasanmu, tapi jangan sampai hal itu membuatnya tidak nyaman."

"Hm."

Aku mengangguk-angguk. "Baiklah, terima kasih atas bantuanmu. Kirimkan saja tagihannya padaku besok pagi."

"Itu bukan masalah, senpai. Kau tidak perlu membayarnya."

"Jangan konyol. Kau seperti tidak mengenal aku saja." Aku mendengus. "Dan, tolong jaga Miku baik-baik."

"Ya, senpai. Aku akan menjaganya."

Aku memutuskan sambungan dan segera masuk ke mobil, men-starter mesinnya dan langsung melaju pulang ke rumahku.

Hari ini hari sabtu. Akhir pekan, yang seharusnya menjadi hari kencanku dengan Aria. Tuh kan, belum ada satu jam, aku langsung kembali memikirkannya lagi. Ini menyedihkan. Rasanya aku jadi ingin ke kantor saja dan kerja seharian agar terlupa pada sosok Aria (despite knowing kalau hari ini adalah hari libur).

Ini artinya, aku harus melakukan sesuatu untuk mengurangi kegiatan otakku dalam memikirkan istriku itu.

Jadi, apa yang biasa kulakukan ketika aku masih melajang? Kerja? Merakit mesin? Merakit software baru? Mengecek sistem komunikasi dan gadget yang telah kubuat? Gampang. Itu semua bisa saja kulakukan. Hanya saja kali ini… I'm not in the mood.

Di masa lajangku, biasanya pada akhir pekan ketika aku sedang menganggur (atau terkadang, justru malah sedang sibuk-sibuknya), Gackt atau Kaito atau seringkali, keduanya, akan menyeretku untuk mengikuti kegiatan-kegiatan mereka. Entah untuk sekedar berjalan-jalan di Shibuya untuk cuci mata atau untuk melakukan hal-hal simpel seperti menonton film (yang justru malah berakhir dengan kami yang melempari popcorn ke orang-orang yang sedang berpacaran).

Tapi, sekarang mereka sedang sibuk—Kaito dengan pernikahannya, sementara Gackt dengan usaha barunya. Semua orang sudah mempunyai kegiatannya dalam agenda masing-masing. Dan kegiatan mereka itu tidak ada yang melibatkan aku.

Jam tiga aku saat sampai di rumah, aku merasakan ada yang janggal dari semenjak memasuki pintu utama. Rumahku terasa sunyi sekali. Walaupun aku dan anggota rumahku yang lainnya memang bukan tipe manusia yang berisik, tapi kesunyian di sini terlalu… tidak manusiawi. Auranya terasa berbeda. Seakan ada orang lain yang memasuki rumah ini selain aku. Tapi setelah mengingat Sumiko, pengurus rumahku yang selalu mengerjakan cucian dan segala macam, yang selalu datang pada jam delapan lalu pulang sekitar pukul sebelas, maka lekas kutepis pikiran itu jauh-jauh. Karena kalaupun aku merasakan ada orang lain yang masuk rumah ini, pastinya orang itu adalah Sumiko.

Aku langsung memasuki ruang kerjaku dan menyalakan lampu, kemudian menyalakan tiap-tiap monitor yang terpasang di sepanjang dinding. Tanganku merogoh ponsel di saku celana untuk disambungkan via USB ke jantung sistem komputerku. Dengan itu aku bisa mencoba melacak nomor-nomor yang digunakan oleh "sang tersangka".

Dan pradugaku ternyata memang benar adanya. Si tersangka ini telah memusnahkan setiap nomor yang sudah ia pakai.

Aku pun beralih dari komputerku dan berjalan menuju dapur. Dari semenjak pagi aku belum makan apapun selain roti satu tangkap dengan selai sekadarnya. Sekarang sudah jam tiga, namun aku masih belum makan siang sama sekali.

Setelah sampai di dapur dan membuka pintu kulkas, aku mendapati ada sebuah ember berisi cucian yang tumpah di depan pantry. Aku menyipitkan mata, curiga. Orang yang biasa mencuci di rumahku adalah Sumiko, sementara Aria kebagian tugas memasak dan menyetrika. Namun di sini, aku justru menemukan cucian yang masih berserakan dan belum dikeringkan. Padahal biasanya, Sumiko sudah menyelesaikannya dari beberapa jam yang lalu.

Aku menutup pintu kulkas. Perlahan bisa merasakan ada kejanggalan di rumah ini. Akhirnya, aku pun berjalan mengendap-endap untuk mencari di mana Sumiko, berniat untuk bertanya kenapa cuciannya belum selesai.

Suara tapak kakiku yang meniti lantai terdengar bergema di rumah ini. Mendadak hawanya terasa seperti nonton film penbunuhan. Aku mencari Sumiko ke lantai atas dan tidak menemukannya.

Saat kembali ke lantai dasar dan mencoba untuk mencarinya di halaman belakang, aku berhasil menemukannya duduk membelakangiku sambil bersender di pintu kaca. Kakiku berjalan mendekatinya, mengambil langkah santai padahal perasaanku sudah tidak enak. Namun Sumiko hanya bergeming, terlihat tidak awas dengan suara langkahku.

Mendesah, aku kembali melangkahkan kaki untuk berdiri di sampingnya. Tapi kemudian apa yang kulihat membuat jantungku berderu cepat. Perasaan tidak enak itu semakin tebal dan memberat di dadaku.

Sumiko pingsan.

Sudah jelas. Pasti ada yang tidak beres.

Aku segera mengguncang-guncang bahunya, berusaha mengecek nadinya dan memikirkan apapun untuk menyadarkannya. Namun beberapa saat kemudian, ia tersadar. Mulutnya megap-megap dan matanya membelalak ngeri. Ia lalu mengatur nafasnya perlahan-lahan. Dan sejurus kemudian, dengan suara serak ia memanggil namaku.

Aku mengangguk meyakinkan. Berusaha terlihat tenang. "Iya, ini aku. Apa yang terjadi?"

Ia terdiam sejenak, seperti mengingat-ingat. Memejamkan mata seolah ingin mengais memori yang pernah ia tangkap.

Dan kontan, matanya membelalak.

Seandainya saja kalian melihat pancaran mata yang ia berikan padaku, di mana kilatannya seolah menunjukkan perasaan bersedih, bersalah dan berduka di dalam sana, kalian pasti akan mengira kalau ia ingin memberi kabar bahwa ada anggota keluarga kalian yang meninggal.

"Hei, ada apa?" Tanyaku, mulai panik.

"…di incar."

"Siapa?"

Sumiko menatapku. Tatapan matanya terlihat perih dan menyesal sekali. "…istrimu…"

Aku membeku. Kata-kata tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuatku hilang akal selama sejenak.

Tergesa, aku memapah Sumiko menuju sofa lalu bergegas ke ruang kerjaku untuk mengambil kunci mobil. Tapi kemudian, aku melihat ponselku berdering pertanda ada sebuah pesan.

Pesan itu kubuka dan isinya adalah:

'Gotcha!

Kau sudah masuk dalam jebakanku.

Aku sebenarnya tidak peduli dengan adikmu. Aku hanya membuat pesan dengan angka-angka itu untuk memancingmu masuk ke dalam perangkap sebenarnya. Tapi sungguh, aku tidak menyangka bahwa segalanya akan berjalan semudah ini.

Datanglah sendirian dengan jas yang rapi serta sebuah topeng. Akan ada sebuah pertunjukan yang digelar di bagian selatan Osaka. Jangan lapor polisi dan jangan membawa bantuan. Aku akan segera tahu kalau kau membawa anak buahmu. Dan ketika aku tahu, aku akan menyakiti mereka dengan cara yang tak mampu yang bayangkan.

Oh, tenang saja, kau akan bertemu kembali dengan istrimu di sana. Dia masih hidup dan aku tidak akan melakukan apa-apa padanya.

Yah, setidaknya, belum.

Cepatlah datang. Waktumu hanya tiga jam dari semenjak kau mendapat pesan ini.

Jadi, sampai jumpa untuk bertemu kembali.

P.S. Undangan acaranya ada di laci sebelah kanan nomor tiga dari bawah'

Bahuku menegang. Kemudian aku menahan diri untuk tidak meremukkan ponselku.

Aria diculik. Aria diculik. Aria diculik. Dan aku berhasil terkecohkan oleh penculiknya.

Menyedihkan sekali.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Ini semua terlalu mendadak.

Aku pun kembali meraih kunci mobilku, berniat untuk segera melaju menuju pertunjukan-entah-apa-namanya. Namun sebuah deringan dari ponselku kembali datang. Aku mengecek, dan ternyata itu telepon dari anak buahku.

"Ada apa?" tanyaku tidak sabar.

"Hatsune-sama… maafkan aku, tapi… istrimu sudah…"

Aku memejamkan mata, merasa ada yang sakit di dadaku. "Aku tahu."

"Maafkan aku, tapi tadi ada sekumpulan orang yang menyandera istri dan anakku. Aku tidak bisa melawan mereka dan istrimu langsung…" suara desahan nafas terdengar "Maafkan aku, Hatsune-sama, aku mohon maafkan aku. Aku benar-benar tidak kompeten dalam menjalani tugasku." Suaranya semakin serak, terdengar menyesal dan merasa bersalah.

"Aku mengerti." Lalu aku kembali menenangkan diri. "Sekarang, dia ada di mana?"

"Aku sudah mengirim beberapa orang untuk mengikuti mereka. Tapi sampai sekarang mereka masih belum berhenti di suatu lokasi."

"Bagus. Teruslah beri laporan kepadaku."

"Baik, Hatsune-sama."

Aku mematikan sambungan dan beralih pada layar monitorku, kembali menenangkan diri. Aku tidak bisa gegabah. Si penculik itu bisa berpikir kalau dia sudah menang, tapi aku akan memutar balik keadaan sehingga kemenangan berada di pihakku.

Aku menatap jendela dan untuk sejenak, merasa menyesal karena sudah membuat Aria jauh dari sisiku. Tapi kemudian, dengan cepat kuhapus rasa penyesalan itu karena memang tidak ada gunanya. Segala hal yang sudah terjadi maka terjadilah. Cara yang terbaik untuk menanggulanginya adalah dengan memperbaikinya. Dan sekarang, aku harus menyusun rencana dengan cepat dan mencari cara untuk menyelamatkan istriku.

Mataku melihat langit yang mulai menampakan warna kelabu, pertanda sebentar lagi akan hujan. Aku harap, Tuhan memberiku kekuatan agar aku bisa menyelamatkan Aria. Amen.

-x-x-x-x-x-x-x-x-

1. Lot of thanks for Allah SWT

2. Thanks for the awesome review! Review kalian itu udah kayak suntikan energi untuk terus menyelesaikan ff ini.

Saya tau, Mikuo memang memiliki selera humor yang aneh. Ngga usah dipermasalahkan. Karena biasanya, orang pinter itu pada aneh-aneh semua.

Sebentar lagi cerita ini bakal tamat. Cihuuyyy.

Oh ya, saya ngebuat gambar tentang pertemuan kembali Mikuo dengan Aria di RS (pas si Miku sakit). Ngga bagus-bagus amat sih gambarnya. Tapi kalo mau lihat, link-nya ada di profil saya

Kalian pada ngeh ngga, kalo ternyata yang bakal diculik itu adalah Aria, bukan si Miku? Saya berhasil mengecoh kalian ngga? Kalo ternyata kalian udah bisa nebak sendiri, yah, berarti saya gagal ngasih surprise

So, would you mind to take a moment to review, please?