14.04.13

-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: Typo(s), Rada ga nyambung (maybe)

[I do not get profit by making and publishing this story]

Rate: 13+


.

.

.


Fifteen


.

.

.

Pintu tertutup. Semua penumpang sudah masuk.

Aku langsung duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian menyenderkan kepala dan berusaha untuk tetap tenang—hal yang cukup sulit jika mengingat istriku sedang di Osaka dan entah sudah diapakan oleh si penculik. Karena walaupun tadi si penculik bilang Aria tidak akan diapa-apakan, tetap saja akan sulit bagiku untuk mempercayainya. Habis, mana mungkin aku bisa mempercayai si penculik begitu saja? Lagian siapa sih yang mengetahui hal apa yang sudah terjadi di tempat penyekapan Aria?

Aku mengambil laptop yang kubawa untuk mengalihkan pikiran. Memikirkan hal ini semakin lanjut justru akan membuatku stress, padahal aku melarang diriku untuk stress berkelanjutan. Stress hanya menyebabkan panik dan sulit berpikir jernih. Ditambah lagi, kata Aria, itu tidak baik untuk kesehatan kita. Karena hampir semua penyakit terjadi karena adanya beban pikiran.

Sekarang ini aku sedang di Shinkansen Bullet Train (kereta peluru Jepang) untuk pergi ke Osaka. Karena daripada naik mobil, aku akan lebih cepat sampai jika naik kereta. Perjalanan dari Tokyo ke Osaka hanya memakan waktu selama dua jam dengan shinkansen. Bandingkan dengan perjalanan menggunakan mobil yang pasti akan lebih lama karena akan kena macet ditambah kendala lain yang akan menimpa. Pastinya dengan adanya premis itu, aku lebih memilih naik kereta dan meninggalkan mobilku di rumah.

Dan, sesuai dengan yang si penculik katakan, aku datang dengan mengenakan jas. Karena setelah aku browsing di internet, aku mendapati sebuah artikel dari website resmi acara tersebut yang menyatakan bahwa para pengunjung wajib memakai topeng dan pakaian formal‒laki-laki mengenakan jas, perempuan mengenakan gaun‒untuk menyesuaikan dengan tema acara tersebut.

Jadilah aku datang, dengan membawa topeng vendetta serta memakai jas warna hitam metalik yang tak kupedulikan kerapiannya.

Di saat aku sedang menyambungkan laptopku dengan jantung sistem komunikasi pribadiku, ponselku bergetar. Aku pun beralih dari laptop dan mengecek siapa pemanggilnya. Ternyata itu anak buahku.

Aku menyetel laptopku agar bisa tetap hidup dalam keadaaan tertutup, lalu beranjak dari kursi dan pergi ke belakang kereta (kau tahu, tempat di ujung gerbong yang ada ada kamar mandinya) untuk mencari privasi. Habis, rasanya tidak lucu kalau para penumpang di sini menangkap basah percakapan dengan anak buahku di telepon tentang penculikan.

"Ada kabar baru?" Tanyaku segera setelah sampai di belakang kereta.

"Hatsune-sama, rekan-rekanku sudah mengikuti mobil yang terdapat istrimu. Ia berhenti di sebuah gedung tak terpakai yang sangat sepi."

"Lalu?"

"Lalu, karena mereka tidak mungkin masuk, mereka terus mengawasi gerak-gerik si penculik itu."

Aku berjalan mondar-mandir sambil berpikir. "Dengar, kalau nanti ada mobil yang keluar dari gedung itu, cari tahu apakah di dalamnya ada Aria atau tidak. Minta mereka untuk mengirimkan foto-foto gedung itu ke sistem komunikasiku."

"Baik, Hatsune-sama." Jeda sebentar. "Uhm, lalu, bagaimana dengan Hatsune Miku-sama?"

"Kalian tenang saja. Miku sudah berada di tangan yang aman."

"Aku mengerti, Hatsune-sama, kami akan berusaha untuk membantumu menyelamatkan istrimu."

Aku pun memutuskan panggilan. Lalu kembali ke gerbong keretaku dan bersiap memulai rencanaku. Karena kalau dua jam lagi Aria masih ada di gedung itu, berarti Aria tidak akan berada di pesta Masquarade.

Sepanjang perjalanan aku hanya berkutat di depan monitor, mereka ulang rencana, membajak beberapa sistem telekomunikasi, membuat mode autopilot di laptop, mensintetis suara rekaman, intinya semua yang kulakuan itu adalah untuk menyelamatkan Aria. Dua jam adalah tenggat waktuku menyelesaikan perangkap yang kubuat. Aku begitu terhanyut dalam pekerjaan pribadi sampai-sampai pemberitahuan tentang tibanya kereta ini di Osaka tidak membuatku berhenti mengutak-atik laptopku. Aku bahkan baru keluar ketika hampir semua penumpang sudah turun.

Tadi malam setelah bertikai dengan Aria, aku tidak bisa tidur lebih dari tiga jam. Semalaman suntuk aku hanya berpikir dan menata rencana. Kembali mengecek ulang terus-terusan karena aku tak ingin berbagai rencana yang sudah kususun serapi komputer itu ada yang cacat. Aku sudah mendesain kalau sekalinya ada yang gagal, aku tinggal menanggulanginya dengan rencana cadanganku yang lain. Jadi, semuanya sudah kususun, sudah rapi, tak perlu ada yang dicemaskan.

Anak buahku meneleponku saat aku sudah keluar dari stasiun. Ia bilang ada mobil yang keluar dari gedung itu, tapi mereka tidak bisa melihat apakah ada Aria di dalamnya atau tidak karena mobil itu memakai kaca film.

Logikanya, bisa jadi di penculik hanya menjebakku untuk datang ke pesta Masquerade padahal ia menyekap Aria di dalam sana. Kalau begitu skenarionya, sudah pasti aku harus pergi ke gedung tak terpakai itu alih-alih datang ke pesta Masquerade. Tapi, jika dipikirkan kembali, kalau saja aku jadi sang penculik, aku pasti akan tetap mengirim Aria ke pesta, karena di sana ada banyak orang dan aku bisa sesuka hati menyandera orang-orang tak bersalah agar semua orang mengikuti keiinginanku. Dan kalaupun nanti ada aparat keamanan setempat yang datang, mereka tidak bisa sembarangan mengepungku karena aku pasti sedang mengancam nyawa banyak orang.

Jadi, seratus persen aku yakin bahwa Aria akan datang ke pesta Masquarade.

Aku keluar dari stasiun dan memanggil taksi untuk pergi ke acara Masquerade di bagian selatan Osaka. Sekarang sudah jam lima lewat empat puluh lima menit, dan aku hanya punya waktu lima belas menit untuk sampai di tujuan.

Usai merapikan dasi dan jasku (karena setelah kupikir-pikir lagi, para petugas mungkin akan langsung curiga jika aku mengenakan jas yang berantakan) kemudian memasang topeng vendetta di wajah serta menyelempangkan dengan miring tas laptop di bahu, aku berjalan menuju pintu masuk acara The Masqurades, lalu memberikan undanganku pada sang petugas.

Penampilanku mungkin terlihat aneh. Sang petugas bahkan sampai curiga ketika melihat laptop yang kuselempangkan ke belakang punggungku. Tapi setelah kusogok dia dengan uang titik-titik Yen, ia langsung membiarkanku masuk begitu saja.

Kala pintu utama terbuka, aku dihadiahi dengan cahaya menyilaukan dari lampu dan kristal-kristal sebagai pajangan. Lantai marmer mengkilap yang membuatmu bisa berkaca dihentak-hentak oleh kaki-kaki bersepatu mahal. Kanan-kiri hall isinya manusia yang mengenakan gaun rancangan desainer kondang atau setelan jas merk ternama. Para pelayannya berpakaian klimis. Para tamu berdandan dengan necis. Makanannya terhidang dengan eksotis.

Sejujurnya, bagiku ini sama saja seperti pagelaran tentang pesta-pesta hedonistik kalangan kaum borjuis, di mana sepanjang mata memandang, pasti ada pelayan yang telah siap dengan bergelas-gelas sampanye ataupun wine mahal. Klise. Over-hedonis. Membosankan. Semenjak jadi techno-preneur aku selalu menolak untuk datang ke acara-acara seperti ini (kecuali untuk urusan mendesak, tentu saja).

Aku menengok sekitar penjuru, berusaha untuk mencari keberadaan Aria. Namun berhubung tempat ini luas, jadi sudah pasti pencarian ini akan memakan waktu yang lama.

Tapi inti permasalahnya, aku tidak tahu di mana persisnya keberadaan Aria.

Aria bisa saja berada di hall ini, tengah memakai wig, gaun dan topeng sambil menyamarkan diri karena dipaksa oleh si penculik. Jujur, aku masih belum terlalu mengerti bagaimana jalan pikiran si penculik ini. Ia jelas cerdas, sampai-sampai bisa mengecohku dengan sedemikian rupanya. Tapi, apa motif di balik penculikan ini? Kenapa ia harus menculik Aria? Sebenarnya apa yang ia inginkan dariku? Apa mungkin, dia adalah seorang musuh di masa laluku?

Kemungkinan besarnya sih, itu.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

'Topeng vendetta, ya? Kau mau datang ke sini untuk membalaskan dendammu, hm, Hatsune Mikuo?

Aku akan mengkonfirmasikan pradugamu. Istrimu memang ada di hall ini. Coba saja kau cari dia.

Tapi, kalau cuma begini saja, tidak akan seru jadinya. Bukan begitu?

Maka, mari kita bermain. Nanti ketika musik untuk berdansa sudah berbunyi, kau harus segera temukan Aria sebagai pasangan dansamu. Jika kau salah sampai tiga kali, akan ada satu jiwa yang melayang.

Jadi, selamat bersenang-senang.'

Psycho.

Penculik ini pasti seorang psikopat. Pasti. Positif psycho.

Tapi, sebentar, barusan dia menulis nama istriku dengan 'Aria', bukan 'IA'. Aria hanya mengizinkan orang-orang tertentu untuk memanggilnya dengan nama kecil. Dan, apabila orang ini memanggil Aria dengan nama kecilnya, pastilah dia adalah seorang yang dikenal oleh Aria, bukan?

Petunjuk ini berharga, tapi tetap saja tak mampu membuatku menebak siapa yang menjadi penculiknya.

Aku bertanya ada berapa kali pergantian musik pada salah seorang pelayan, lalu memasukkan sesuatu ke dalam botol wine dengan tutup yang terbuka yang diletakkan pada meja di belakangnya. Total pergantian musik ada tiga kali. Jadi itu pas untuk bertukar pasangan sebanyak tiga kali juga.

Musik dimulai. Aku mengamati para pasangan yang sudah mulai berjalan ke tengah hall. Jelas saja sulit mencari Aria. Mereka semua memakai topeng. Jadi, aku harus bagaimana untuk menentukan mana yang Aria dan mana yang bukan?

Di saat-saat genting seperti ini, aku hanya bisa mengandalkan satu hal: insting.

Seorang wanita mengajakku berdansa, tapi karena suaranya tidak mirip Aria, aku menolak. Namun setelah dipikir-pikir, semua wanita yang tidak berdansa di sini tidak ada yang mirip Aria. Jadi, akupun asal mencari perempuan untuk diajak berdansa.

Ketika tanganku menyentuh wanita bertopeng itu untuk mulai berdansa, aku merasa janggal. Rasanya aku merasa bersalah karena menyentuh perempuan selain Aria. Aku merasa berkhianat, entah kenapa.

Aku menajamkan pandangan untuk mencari Aria di sekitar pasangan dansa. Mungkin saja nanti ketika musik berganti untuk tukar pasangan, aku bisa mendapati Aria sebagai pasangan dansaku. Siapa tahu? Bisa saja Aria sekarang tengah diam-diam memandangiku sambil berdansa dengan partnernya.

Ah, siapa yang menjadi partner dansanya? Seorang priakah? Baru memikirkannya saja sudah membuatku mendengus jengah.

"Kau kenapa?"

Aku menunduk, baru sadar kalau ada manusia yang sedang kuajak berdansa bersama. "Maksudmu?"

"Dari tadi kau seperti sedang mencari-cari seseorang."

Aku mengangguk. "Ya. Aku sedang mencari istriku."

Gadis itu nyaris berhenti berdansa. Ia mengenakan topeng yang memperlihatkan matanya, jadi aku bisa melihat kalau ia sedang membelalak terkejut. "Astaga, maaf, aku tidak tahu kalau kau sudah punya istri."

Aku mengedikkan bahu. Kembali mencari Aria.

"Kenapa kau tidak berdansa bersamanya, kalau ia memang ada di pesta ini?"

Aku memandangnya sekilas. "Itu bukan urusanmu."

"Oh, sedang bertengkar rupanya!" Cetusnya riang.

Dahiku berkedut. Ia memang setengah benar, aku habis bertikai dengan Aria. Tapi masalah utamanya bukan itu.

"Kau mau aku membantumu?" Tanyanya sambil mengangkat alisnya.

"Memang apa yang bisa kau bantu?"

"Ehm, begini, jika kau sebutkan ciri-cirinya, setidaknya aku bisa memperkecil kemungkinan siapa saja diantara mereka yang mungkin adalah istrimu. Dari tadi aku sudah mengamati para tamu di sini. Jadi aku sudah hafal kebanyakan dari mereka."

Aku terdiam. Ini tawaran yang lumayan menguntungkan. "Aku tidak tahu dia memakai lensa kontak dan atau tidak. Tapi warna matanya yang asli itu biru, dan rambutnya pirang stroberi. Tubuhnya mungil, kulitnya putih. Mata birunya pun berbeda, ia selalu menyala dingin dan membekukan."

Gadis itu terperangah. "Wow, aku tidak tahu kalau ternyata kau sedetail itu dalam memperhatikan istrimu." Ia tertawa. "Oke, setahuku, di sini wanita yang matanya berwarna biru hanya ada tiga. Di sana," ia menunjuk pada gadis berambut pirang yang tinggi. Tapi Aria jelas tidak setinggi itu. "Lalu di sana," Sekarang adalah gadis berambut biru keunguan yang kulitnya berwarna coklat eksotis. Tapi itu juga bukan Aria. "Dan… di sana!" aku menoleh ke belakang dan menemukan gadis berambut biru muda bertubuh mungil. Well, mungkin saja itu Aria, sedang memakai wig untuk menutupi rambut pirangnya.

"Kita harus tetap berdansa di dekat wanita itu jika kau ingin bertukar pasangan dengannya!" Seru wanita di depanku itu.

Aku mengangguk. "Siapa namamu?"

Mengernyit, gadis itu seperti berpura-pura tersinggung. "Nama? Kenapa baru tanya sekarang? Namaku Yuzuki Yukari. Kau?"

"Hatsune Mikuo," jawabku pendek. Mendadak jadi teringat dengan nama yang diucapkannya. Atau lebih tepatnya, siapa pemilik marga tersebut. "Ah, anak dari Yuzuki Kaeda, ya?"

Tangan gadis itu agak tegang sejenak. "Darimana kau tahu?"

"Anggap saja, ayahmu dan aku adalah teman baik." Balasku, santai. "Hm, kira-kira apa yang akan dilakukan Kaeda-san apabila melihat putri semata wayangnya datang ke pesta seperti ini, ya? Seingatku, dia tak pernah mengizinkan putrinya untuk keluar rumah tanpa penjaga."

Jemarinya yang menggenggam tanganku mengencang. Kurasa kalau aku menyulut amarahnya lagi, ia mampu untuk sedikit meretakkan tulang falanges atau carpusku. "Apa kau sedang mengancamku?" desisnya jengkel.

Aku mengangkat bahu, tak acuh.

"Apa yang kau inginkan dariku, Hatsune-san?" Ujarnya dengan gigi terkatup. Oh, sebegitu marahkah dia? Padahal, aku kan bisa saja cuma menggertaknya. Tapi untungnya, menggertak itu bukanlah nature-ku. Jadi kemungkinan besar, aku memang sedang mengancamnya.

"Aku ingin kau untuk segera pergi jauh-jauh dari tempat ini, lalu nyalakan laptopku tanpa mengutak-atiknya."

Alisnya berkedut. "Dan, kalau aku menolak?"

Setelah menghela nafas, dengan tegas aku berkata, "Istriku dan aku akan mati."

Ia terdiam. Berhenti berdansa untuk beberapa detik.

"Kau bercanda?"

"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"

"Mana aku tahu! Kau kan sedang pakai topeng!"

Oh, she's got a point. "Memangnya, kau harus melihat wajah seriusku dulu?"

"Uh, tidak juga sih," ia menunduk. "Apa… apa kau sedang mengerjaiku? Apa kau kalah taruhan sehingga harus berakting agar bisa membodoh-bodohiku di depan umum?"

Dahiku mengernyit. Mana sudi aku melakukan hal sebodoh itu. "Jangan konyol," tanganku membuka topeng yang kukenakan dan menatap gadis itu dengan serius. "Kau lihat mataku? Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Tidak. Istriku sedang dalam keadaan darurat. Ia diculik oleh penjahat ulung dan kau, hanya perlu pergi dari sini jauh-jauh, nyalakan laptopnya, tidak usah diutak-atik dan semua akan beres. Mengerti?"

Tatapan matanya jadi serius, walau tadi ada sedikit keraguan di dalamnya. "Mengerti."

"Password untuk sistem keamanan laptopku adalah 'payback'. Kalau-kalau kau tak tahu bahasa Inggris, aku akan mengejanya."

"Aku tidak sebodoh itu. Ejaan payback adalah P-A-Y-B-A-C-K. Tolong jangan meremehkanku."

"Oke, Nona Jenius, usahakan saja agar kau menyalakan laptop ini di sekitar tempat luas,"

Matanya menyipit. "Kenapa?"

Aku mendesah pendek. "Karena nanti, laptopku akan dijemput dengan helikopter,"

Musik berganti kemudian, dan aku bertukar pasangan dengan si wanita berambut (atau mungkin, ber-wig) biru. Tapi setelah aku mendapatinya, ternyata dia bukan Aria.

Menelan rasa kecewa, aku kembali mencari sosok Aria di ruangan ini. Mungkin, tadi Yuzuki belum menemukan semua wanita bermata biru di pesta. Mungkin, dia kurang teliti. Mungkin, masih ada wanita bermata biru yang belum dia hitung.

Kalau nanti aku salah mencari partner lagi, satu nyawa akan melayang. Ini sungguh menyebalkan.

Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh. Tinggal dua menit lagi sebelum lagunya berganti.

Bosan, aku pun mendengak untuk melihat desain langit-langit pestanya. Desainnya mewah, lampu-lampu kristal menggantung di atas langit-langit berbentuk kubah yang dilukis gambar bayi-bayi bersayap malaikat. Tapi kemudian perhatianku menusuk pada seseorang yang bersender pada pilar di lantai atas. Ia sedang menggenggam sesuatu. Dan sontak, aku langsung tahu apa yang ia pegang.

Pistol.

Itu artinya, dia seorang sniper.

Holy shit. Penculik ini benar-benar seorang psycho!

Was-was, aku langsung mengeluarkan ponsel dan memasukkan serangkaian kode sampai tiga kali. Kuharap, koneksi di sini kencang, jadi perintah yang kuberikan dari ponselku akan sampai tepat pada waktunya.

Tinggal setengah menit lagi lagu akan berganti. Jika saja rencanaku gagal, satu nyawa akan melayang malam ini juga.

Dua puluh detik lagi.

Aku masih mencari keberadaan Aria. Sulit. Semua wanita yang kupikir memiliki ciri fisik mirip dengan Aria, ternyata bukan Aria. Suara mereka tidak sama. Sebentar, apa jangan-jangan Aria disuruh si penculik untuk menyamar jadi lelaki?

Lima belas detik lagi.

Mataku menyapu seluruh ruangan untuk mencari tubuh mungil yang memakai jas. Ada, tapi hanya beberapa. Dan mereka semua tidak memiliki mata berwarna safir. Apa ia mengenakan lensa kontak?

Sepuluh detik lagi.

Rencanaku harus berhasil. Wajib. Aku tidak mungkin membiarkan seorang tak bersalah mati ditembak karena ulahku.

"Hei, tanganmu dingin,"

Aku memandang wanita yang kini menjadi pasangan dansaku. Kemudian sadar bahwa perkataannya memang benar.

"Maaf, kalau kau merasa risih, kau bisa melepaskan—"

"Apa kau sakit? Aku akan mengantarmu ke klinik terdekat kalau kau mau."

Dia tidak tahu, dia tidak tahu. Dia tidak tahu kalau sniper itu sudah mengambil ancang-ancang untuk menembak seseorang. Kalau saja aku berteriak, aku yakin sniper itu pasti akan membunuh lebih dari satu orang malam ini.

Tiga detik lagi.

Tuhan, tolong aku. Buatlah rencanaku berhasil. Kumohon.

Nol detik. Kemudian lagu sudah mulai berganti.

Dan di saat itu, Tuhan menjawab doaku.

"Perhatian bagi para tamu pesta The Masquerades, dimohonkan untuk segera keluar dari tempat ini sekarang juga. Nyawa kalian semua terancam jika kalian tidak mengikuti perintah ini. Sebagai bukti untuk menyatakan bahwa perkataan ini adalah benar, sebentar lagi akan ada asap di sekitar kalian."

Sebuah botol wine di sebuah meja yang tadi kuberi ramuan bergoyang-goyang dengan asap mengepul di dalamnya. Kemudian, tutup botol itu terlempar akibat gas yang terlalu banyak dalam botol. Asap kelabu tebal segera keluar dan mulai menyisir ruangan ini. Para tamu seketika langsung kalut, berteriak. Berlarian menuju pintu keluar.

Aku tersenyum. Mission accomplished.

Tak lama, hall ini hanya menyisakan aku dengan dua orang, yang sekarang kuyakini adalah si penculik dan Aria.

Aria, mengenakan gaun biru royal khas anggota kerajaan serta topeng yang menutupi seluruh wajah—termasuk matanya, berada tepat di sebelah penculik. Dari tadi mereka berdansa tanpa bertukar pasangan sama sekali.

Dia main curang, tentu saja. Apa yang kau harapkan sih dari seorang penjahat? Permainan yang dilakukan secara adil dan sportif? Jangan membuatku tertawa.

Si penculik, yang mengenakan topeng murung, bertepuk tangan dengan kencang sambil tertawa terbahak. "Bravo! Distingué! Aku tidak menyangka kalau kau masih mau repot-repot membajak segala sistem telekomunikasi di tempat ini hanya untuk menyelamatkan satu nyawa manusia. Sungguh tak terduga! Menarik sekali!" Ia menghentikan tepuk tangannya dengan cara dramatis. Dramatis. Kata sifat terakhir itu berhasil membuat daftar kebencianku padanya semakin panjang saja. "Tapi, karena sekarang sang ksatria sudah bertemu kembali dengan sang putri, mari kita lanjutkan permainannya."

Aku memutar bola mata. Psikopat satu ini benar-benar tidak tahu umur.

"Apa maumu?" Tanyaku, jengah.

Entah mengapa, walaupun wajahnya ditutupi oleh topeng, aku bisa merasakan kalau ia sedang tersenyum ala maniak di baliknya. Bulu kudukku seketika merinding. Hawanya membuatku tidak nyaman.

"Menurutmu?" Ia justru bertanya balik.

Aku mengibaskan tangan, santai. "Maaf-maaf saja, tapi aku sedang tidak berselera untuk main tebak-tebakan. Jadi, katakan saja apa maumu."

Penculik itu hanya diam, tak mengindahkan segala perkataanku. Sejurus kemudian, baru kusadari bahwa kami tidak sendirian di ruangan ini.

"Kau akan mengetahuinya nanti, Hatsune Mikuo. Sekarang, tidurlah dengan tenang."

Aku buru-buru menoleh ke belakang, berusaha menghindari entah serangan apa dari sana. Tapi terlambat. Pukulan itu sudah berhasil menyerang bagian tervital manusia tempat penghantar syaraf—sum-sum tulang belakang di leher. Maka, di ambang kesadaran, aku hanya bisa menatapi Aria, yang berusaha meraihku tetapi langsung dijegat oleh anak buah penculik yang lainnya.

Maaf ya, Aria. Sepertinya saat ini aku tidak berhasil menyelamatkanmu seperti janjiku pada diri sendiri.

.

.

.

.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Unlimited thanks to Allah SWT

Dozens thanks to you! The reviewer, the follower, and the favourite-er .

Buat yang udah ngereview, maaf ada beberapa yang ga saya bales. Sinyal di rumah saya agak buruk. Tapi saya usahain bales kok.

'Kay, so, would you mind to review?