Kashinya keiko: thank's about namanya yaaa... dicoba deh!

azure shappire: mohoh maap... itu typo... ehe (udah salah cengengesan lagi!)

M4dG4rl: ehehe... makasih buat reviewnya yeah... soal akako, disini bakal ada keterangannya.

Aoka Aizawa: thank's buat sumbangan namanya yaa...

Buat yang lain yang belum disebutin... mohon mangap(?) #PLAK mohon maap... tapi makasih buat review dan sumbangan namanya ya all.. thank's a lot... m(_ _)m

Disclaimer: beberapa Chara yang muncul, adalah milik Aoyama-sensei. Saya hanya mampu meminjam 'namanya' saja.

Warning: Typo everywhere, OOC, aneh, abal, jelek, tidak berprikemanusiaan, dan tidak berprike-chara-an(?) dan masih banyak lagi.

~Magic World~

Shinichi kebingungan saat sampai di suatu tempat anta berantah. Yang bisa diingat shinichi hanyalah seorang gadis bernama Akako itulah yang membawanya. Kini, shinichi telah sampai di sebuah hutan yang lebat. Walau dibilang lebat, tapi hutan ini sangat terang. Bahkan sangat cerah, dan bersih. Shinichi tadi tau-tau sudah tertidur bersandar pada sebuah pohon. Akhirnya, shinichi memilih untuk mencari sesuatu atau seseorang yang mungkin bisa dimintai pertolongan.

Lama shinichi berjalan, hasilnya selalu sama. Hanya pohon, pohon, dan pohon. Satu-satunya yang membuat shinichi gelisah adalah, saat dia bertemu Akako, hari sudah sore dan menjelang malam. Tapi saat ini, sangat cerah. Seolah ini adalah siang hari di musim panas.

SRAK... SRAK... BRUK!

Shinichi terkejut akan adanya suara itu. Dengan insting Detectivenya, shinichi mencari sumber suara itu.

"heiji?" ujar shinichi terkejut melihat heiji tengah dengan keadaan yang berantakan terduduk di tanah dibalik semak-semak.

Heiji tidak kalah terkejut melihat adanya shinichi di tempat itu. "itai... oi kudo! Kau tau kita dimana?" tanya heiji bingung sambil meihat keadaan sekitarnya.

Shinichi menggeleng. "aku baru sampai tadi. Apa yang terjadi padamu?" tanya shinichi heran.

Heiji memijit-mijit punggungnya yang nyeri karena jatuh tadi. "seorang gadis berambut hitam kemerahan muncul dan seolah menembakku. Hal berikutnya yang terjadi adalah aku tiba-tiba duduk di ranting tipis itu" ujar heiji menunjuk sebuah pohon yang memiliki ranting yang tipis. "karena perasaan terkejut, aku langsung tergelincir dan jatuh" ujar heiji menjelaskan.

Shinichi memasuki Mode berfikirnya "kita mengalami hal yang sama. Tapi setidaknya aku dibawa dengan cara yang lebih lembut darimu" ujar shinichi agak sweatdrop mengingat cara datangnya heiji.

Heiji terperangah sesaat. "oi kudo! Apa yang kau pakai?" tanya heiji yang melihat penampilan shinichi.

Shinichi mengerutkan alis. Heiji menunjukkan pakaian shinichi, shinichi terperangah saat tau bahwa pakaiannya berubah. Berubah menjadi pakaian seorang pangeran eropa abad pertengahan. Mirip dengan Gakura (seragam cowok di jepang) dan celana hitam panjang, sarung tangan putih dan kemeja putih yang menjadi dalaman pakaian shinichi serta dasi putih, ditambah sepatu hitam. Shinichi melongo melihat pakaian heiji.

"kau juga" ujar shinichi yang baru menyadari perubahan pakaian Heiji.

Heiji lebih terkejut lagi melihat pakaiannya. Pakaiannya hampir sama dengan shinichi, yaitu pakaian bangsawan abad pertengahan dari inggris. Hanya saja, modelnya berbeda. Heiji memakai pakaian berwarna abu-abu dan celana hitam, sepatu serta sarung tangan hitam.

"kenapa aku memakai baju bodoh ini?" tanya heiji tidak percaya.

Shinichi hanya diam dan memeras otaknya. Tentu semua ini tidak bisa masuk dalam logikanya.

"Kudo! Hattori! Apa kalian disini?" ujar suara yang tidak jauh dari shinichi. Shinichi berbalik dan mencoba mendengar suara yang agak asing tapi familiar di telinganya itu.

"kudou-san... Hattori-san... apa kalian ada di hutan ini?" ujar suara lain yang sangat berbeda dengan suara pertama tadi. Shinichi langsung mengenali suara ini sebagai suara Saguru.

"oi! Hakuba!" shinichi mencoba mencari sumber suara itu. Heiji bangkit dan langsung mengikuti shinichi.

Benar saja. Tidak sampai beberapa menit, shinichi dan heiji sudah bertemu dengan Hakuba dan seorang lagi yang tidak shinichi dan heiji kenal.

"ah ya... ini kuroba... aku bertemu dengannya tadi saat sampai kemari" ujar saguru memperkenalkan Kaito.

"kuroba Kaito desu..." ujar kaito memperkenalkan diri "kudou shinichi dan Hattori Heiji bukan?" ujar kaito. shinichi dan heiji hanya mengangguk.

"entah bagaimana, akako tiba-tiba membawaku kemari saat aku tengah akan menangkap KID" ujar saguru sebal.

Kaito dalam hati bersyukur. "aku juga, saat aku tengah perjalanan pulang dari supermarket, akako tiba-tiba muncul dan membawaku kemari" ujar Kaito berbohong. Mana mungkin dia bilang 'aku juga dibawa kemari tepat disebelahmu' kan?

"kalian kenal gadis berambut merah itu?" tanya heiji.

Kaito dan Saguru menangguk bersamaan. "dia teman sekelas kami" ujar saguru

"dan seorang penyihir" tambah kaito

"penyihir?" tanya shinichi, heiji, dan saguru bersamaan. Pasalnya, mereka memang tidak tau apapun soal akako yang merupaka seorang penyihir.

"ya... ah... pokoknya penjelasannya panjang!" ujar kaito malas untuk menjelaskannya.

Shinichi mendengus kesal karena ia tidak bisa menganalisis apapun. Soal dimana mereka berada, apa yang harus mereka lakukan, apa yang terjadi. Sama sekali tidak ada jawaban untuk itu.

"ngomong-ngomong, pakaian kalian..." ujar heiji tergantung saat melihat pakaian yang dikenakan Saguru dan Kaito.

Mereka berdua memakai pakaian yang sama dengan heiji dan shinichi. Yaitu pakaian seorang bangsawan inggris abad pertengahan. Saguru memakai pakaian seperti seorang pangeran dengan pakaian seperti gakuran merah dengan beberapa hiasan berwarna kuning emas di pundaknya, celanannya hitam dan sepatunya hitam, ada sarung tangan putih yang menyelimuti tangannya.

Sedangkan kaito memakai pakaian cokelat strawberry yang berkilauan dari sutera, celananya cokelat tua dan dia memakai dasi kain hijau keputihan, sarung tangannya putih. Pokoknya, mereka berempat terlihat seperti putera bangsawan inggris abad pertengahan yang gagah dan tentunya keren. (dari sananya emang keren keles!)

SRAK suara yang membuat shinichi, heiji, kaito, dan saguru menoleh bersamaan ke asal suara. Disana, seorang anak wanita yang berumur sekitar 16 tahunan tengah terperangah. Keranjang buah yang ada ditangannya terjatuh, anak itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan mata terbelalak.

"oh tuhan..." desis anak itu penuh rasa terkejut "mengapa bisa keempat pangeran itu ada disini?" tanya anak itu lirih, tapi cukup bisa didengar oleh keempat cowok kece kita dengan sangat baik.

Tapi yang terjadi, malah shinichi, heiji, kaito, dan saguru kebingungan 'empat pangeran?' tanda tanya yang muncul di benak masing-masing. Gadis berambut pirang yang mirip dengan cinderella versi 16 tahun itu hanya terkejut dan dengan segera mengambil keranjangnya yang terjatuh.

"ma... maafkan saya" ujar gadis itu kemudian lari terbirit-birit menjauh seolah seekor kijang yang tengah bertemu dengan harimau. Tapi shinichi bisa menangkap raut terpesona dan senang khas gadis ramaja pada umumnya.

Keempatnya hanya mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Mengapa anak itu lari?

"bingung?" tanya suara lainnya dibelakang mereka. Kaito yang pertama menoleh langsung bisa menangkap sosok gadis lain. gadis berambut hitam dan biru di beberapa sis itu menatap keempat cowok kece itu dengan matanya yang berwarna biru terang dan seolah memancarkan cahaya itu.

"wow... agak mirip aoko... tapi... dadanya lebih besar dari aoko" ujar kaito dengan sukses kena toyor saguru.

"diem aja deh!" ujar saguru ketus. Kemudian ia memandang gadis yang tengah melipat tangannya di depan dadanya itu. "hm... maaf... kami tersesat. Apa kau tau kami tengah berada di mana?" tanya Saguru sopan.

Gadis itu memandang sekeliling sebentar. "sebaiknya kalian ikut aku. Disini banyak mata-mata. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana pohon yang menjadi teman, mana yang musuh" ujar Gadis itu lalu berjalan menjauh.

Mau tidak mau, keempat cowok kece itu mengikuti gadis itu entah kemana. Tapi setiap pikiran mereka menyatakan bahwa gadis itu 100% adalah teman mereka.

Gadis itu ternyata membawa keempat pangeran itu kesebuah gubuk yang indah. Gubuk itu berbentuk setengah lingkaran dengan atap dari jerami dan halaman yang hijau penuh dengan bunga-bunga indah yang kebanyakan berwarna keemasan dan putih.

"sebaiknya masuk" ujar gadis itu menuntun keempat pangeran kedalam gubuknya.

Di dalam, shinichi, heiji, saguru, dan kaito tidak bisa berhenti menganga. Walau dari luar nampak seperti gubuk reyot biasa. Ternyata didalamnya sangat luas. bahkan lebih luas dibanding istana kerajaan pada dongeng-dongeng eropa biasanya. Didepan pintu, ada tangga yang lebar yang ujungnya membelah ke sisi kanan dan kiri lantai dua. Lampu-lampunya seolah terbuat dari berlian dan permata dan rumahnya sangat bersih seolah tidak ada debu sedikitpun.

Gadis itu membawa kaito, heiji, saguru dan shinichi menuju ruang makan yang sangat besar. Mejanya sangat panjang, padahal kursinya hanya ada 5 kursi. Mereka lantas menempati kursi-kursi itu dan membuat sebuah meja panjang sebagai pembatas.

"aku Tsukiko mitsuishi... aku penyihir bulan. Berbeda dengan akako yang merupakan penyihir mentari. Aku, akako, shiraishi, dan maeda-san tinggal disini. Akan kuceritakan apa maksud kalian berada di dunia yang seharusnya terlarang untuk manusia ini." jelas gadis itu.

"penyihir bulan? Cocok sekali dengan KID" ujar saguru sambil tersenyum misterius.

Kaito hanya bisa bungkam seribu bahasa. Ia tau, jika ia banyak komentar, justru identitasnya akan menjadi sangat kritis. Apalagi ada tiga orang detective 'berbahaya' di dekatnya.

"aku bukan satu-satunya. Ada juga adik kembarku. Namanya Tsukiko Shiraishi tapi sekarang dia tengah ke pasar membeli bahan makanan. Akan kuceritakan. Kalian tau? kalian ini berada di kerajaan sihir. Kerajaan para penyihir" jelas Mitsuishi lebih dulu.

"di kerajaan ini, manusia biasa dilarang keras!" ujar Mitsuishi sambil membuat sebuah kertas melayang dari lemari menuju meja yang berada diantara mereka berlima.

Shinichi, heiji, dan saguru yang tidak terbiasa melihat sihir hanya bisa takjub. Sedangkan kaito yang sudah nyaris setiap hari melihat sihir akako, hanya bisa terdiam dan mengamati.

Mitsuishi kemudian membuka kertas itu. Terlihatlah sebuah peta (bayangin aja peta di film avatar the legend of aang). "ini istana utara, barat, timur, dan selatan. Masing-masing memiliki sebuah keluarga penjaga yang hanya sederajat lebih rendah dari raja agung, raja yang mengatur semua sihir."

"di timur, itu ada keluarga kudo, Mereka speciallist sihir air. Di barat, ada keluarga hattori, mereka speciallist sihir tanah. Di utara ada keluarga hakuba, mereka speciallist sihir api. Dan di selatan ada keluarga kuroba, mereka speciallist sihir udara." Jelas Mutsuishi sambil menunjuk-nunjuk arah koordinat letak istana 'empat penjuru'

"lalu? Kenapa kami berada disini?" tanya heiji kemudian.

Mitsuishi menghela nafas berat. "keempat pangeran yang asli, menghilang tanpa jejak." Jawab Mitsuishi dengan wajah murung.

"itu terjadi saat kami berlima tengah berburu bersama..."

Kaito, saguru, heiji, shinichi, dan Mitsuishi menoleh. Berdirilah seorang gadis yang sangat persis dengan mitsuishi. Keempat pangeran langsung tau siapa itu.

"tsukiko shiraishi desu..." jawab gadis itu memperkenalkan diri. "kami dan keempat pangeran memiliki pertemanan yang kuat. Tapi, saat kami berburu, mendadak keempat pangeran bersikap aneh dan tidak mau pulang. Karena kami berlima kesal karena sudah dibujuk bagaimanapun mereka tidak mau pulang, akhirnya kami meninggalkan mereka. tapi, keesokan harinya. Mereka hilang" jawab Shiraishi

"kami sudah berusaha mencari. Tapi tidak ketemu. Kami sengaja tidak memberitahu pihak kerajaan. Kalau kami beritahu, kami akan dihukum pacung!" jelas gadis lainnya. Kali ini ia berambut ikal sepunggung dengan warna pirang dan mata biru serta kulit putih. "Akiko Maeda desu..." ujar gadis itu.

"karena itulah aku memanggil kalian untuk menggantikan mereka sementara" ujar akako yang mendadak muncul.

"kau!" shinichi, heiji dan saguru agak keki karena hal sepenting itu tidak dibicarakan baik-baik. Malah akako membawa dengan cara yang tergolong kasar.

"gomen nasai... aku buru-buru. Jika kalian tidak kembali sebelum matahari terbenam, maka nyawa kami taruhannya." Jawab akako dengan wajah menyesal.

Suasana hening sejenak. Kaito, shinichi, heiji, dan saguru memang agak marah dengan akako. Tapi ini nyawa taruhannya, wajar jika orang—penyihir—akan sangat panik sehingga terburu-buru

Makasih buat yang udah baca... and thank's a lot for name... ini belum semua aku masukin. Tapi aku janji bakal masukin semuanya kok... ini baru awal cerita. Jadi yang namanya belum masuk, jangan kecil hati ok?!

Ehe... sejujurnya namanya masih kurang. Tapi ini saja saya sudah sangat berterimakasih! Arigatou buat yang udah review atau yang udah baca gratis (TwT) saya benar-benar hidup berkat kalian...