Return Of The Legend

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ (For now)

Genre : Fantasy, Adventure, Romance

Main Pair : Naruto x Hinata

Warning : (miss) Typos, OOC, GaJe, Abal, SKS (Sistem Kebut Sejam), Overpower!Naruto, Slight Crossover.

.

.

.

.

Makai, 640 Years Ago…

Di sebuah hamparan tanah luas atau setidaknya yang tadinya merupakan hamparan tanah dan pegunungan yang luas, tampak tiga sosok lelaki yang tengah berdiri bersebelahan dan berhadapan dengan satu sosok youkai terkuat yang pernah dilahirkan sejak Juubi.

Raja kedua Makai, Raja Tengu.

Tapi tidak seperti hari-hari kejayannya, tubuh Raja Tengu kini tampak penuh darah dan lubang-lubang bekas pertempurannya dengan tiga sosok di hadapanya. Walau badannya masih tetap berdiri kokoh, dengan seluruh luka yang telah dideritanya dan youkinya yang telah habis, Tengu hanya tinggal menghitung menit sebelum ajal menjemputnya.

"Hashirama! Cepat segera segel dia!" teriak salah satu sosok di hadapan Tengu dengan suara yang serak akibat banyaknya pendarahan dalam yang dialaminya.

"Hah… hah… tenang saja, Madara… hah… Tengu telah sekarat… dia tidak akan bertahan hidup… hah… lebih lama lagi…" jawab sosok yang kini diketahui adalah Hashirama dengan napas tak beraturan akibat banyaknya luka yang diterimanya dan energinya yang telah habis.

"Hashirama benar… hah… Tengu… akan mati!" ujar sosok terakhir yang berdiri di samping Madara.

"Heh, kau benar Hashirama, Hiashi…" balas Madara dengan seringai gelap di wajahnya.

"Makai… akan menjadi milik kita! Kitalah Dark Lords!" teriak Madara dengan salah satu senyuman gilanya.

"Bukan kalian…"

Mendengar sebuah suara berat dan serak yang tidak asing di telinga mereka, Hashirama, Hiashi dan Madara segera mengalihkan perhatian mereka ke sosok Tengu yang kini telah membuka matanya dan menatap tajam ke arah Madara.

"Ap-! Kau masih hidup?!"

Mengabaikan teriakan terkejut Madara, Tengu mengambil napas sejenak dan meneruskan perkataannya,

"Orang yang akan menggantikan Juubi-sama sebagai penguasa mutlak Makai… sudah pasti bukan kalian…"

Mendengar kata-kata dari Tengu, Madara berniat untuk melakukan serangan terkahirnya untuk memastikan kematian sang Raja Makai sebelum merasakan lengannya ditahan oleh seseorang. Menengok ke samping kanannya, Madara melihat Hashirama yang menggelengkan kepalanya tanda untuk membiarkann Tengu meneruskan kata-kata terakhirnya.

"Sama halnya seperti Juubi-sama yang berhasil menyatukan Makai di bawah kekuasannya, aku yakin suatu saat seseorang akan muncul untuk meneruskan semangat Juubi-sama menyatukan Makai…" meneruskan perkataannya, Tengu terus menatap tiga orang di depannya satu per satu.

"Bahkan jika kau memusnahkan garis keturunannya, tidak akan mungkin bagi semangat Juubi-sama untuk musnah. Hal ini telah terjadi secara turun-temurun sejak masa lampau. Dan di masa depan… suatu hari, seseorang akan muncul dengan membawa sejarah tergelap Makai di punggungnya dan menantang seluruh Makai dalam sebuah pertempuran." Memusatkan kembali perhatiannya ke arah Madara, Tengu kembali meneruskan perkataannya.

"Madara… kalian para Dark Lords… takut dengan pertempuran besar yang akan melanda seantero Makai. Aku sendiri tidak peduli tentang hal itu. Tapi segera setelah seseorang itu muncul… Makai akan dibuatnya berguncang!"

Mendengar perkataan Tengu, Madara hanya bisa menggertakkan giginya dan memandang tajam Tengu dengan mata merahnya.

"Dan seseorang itu AKAN datang. Hari itu akan datang, cepat atau lambat…" mengabaikan deathglare yang ia terima dari para Dark Lords, Tengu hanya tertawa kecil sebelum akhirnya berhenti dan mengambil napas panjang untuk bersiap meneriakkan kata terakhirnya untuk Makai.

"JUUBI… AKAN KEMBALI!"

.

.

.

.

Now…

"Gedo : Rinne Tensei no Jutsu (Outer Path : Samsara of Heavenly Life Technique)!"

Bersamaan dengan berhentinya teriakan dari Naruto, sebuah… kepala berukuran raksasa muncul dari permukaan lantai dengan mata Rinnegan dan kulit hitam serta serta topi dengan kanji untuk "Raja" di depannya. Api hitam dari neraka untuk sejenak terlihat menari-nari di sekitar sosoknya, sebelum akhirnya menetap di sekitar kepalanya.

Melihat sosok yang muncul dari dalam tanah dengan mata yang sedikit melebar, Naruto teringat dengan tekhnik yang digunakan Nagato untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah dibunuhnya.

Di belakang Naruto, Shion hanya bisa memandang kemunculan Raja Neraka dengan mata terbelalak dan jatuh di kedua lututnya dengan ekspresi shock dan ketakutan. Tekanan energi negatif dan aura kematian dalam jumlah besar yang tiba-tiba muncul di ruangan akhirnya membuat Shion tergeletak lemas kehilangan kesadarannya.

'B-Bagaimana bisa… Naruto-kun memanggil Raja Neraka ke sini?' adalah pikiran terakhir Shion sebelum akhirnya kegelapan menelan pandangannya dan jatuh pingsan.

"Jigoku no ou…" bisik Naruto kagum sambil melihat Raja Neraka membuka mulutnya dan membawa Hinata ke dalam mulutnya sejenak, seakan-akan ia akan memakannya.

Menunggu beberapa saat, mulut Raja Neraka mulai bersinar hijau sebelum akhirnya terbuka dan mengeluarkan sosok sempurna Hinata Hyuuga dan meletakkannya kembali di ranjang tempatnya berbaring semula.

Melihat sosok Hinata yang kini telah kembali mendapat warna kulitnya dan telah bernapas dengan lancar tanpa luka apapun di badannya, Naruto menghembuskan napas lega dan berniat untuk segera menuju sisi Hinata saat tiba-tiba mulut Raja Neraka kembali bersinar kali ini dengan warna ungu sebelum akhirnya kembali terbuka dan mengeluarkan… Hinata Hyuuga yang lain!

Menunggu Raja Neraka untuk meletakkan sosok Hinata Hyuuga yang lain di ranjang yang sama dengan Hinata, Naruto segera melesat ke sisi Hinata saat melihat Raja Neraka mulai kembali tenggelam ke kedalaman Makai.

Melihat kedua sosok Hinata yang berbaring bersebelahan di ranjang yang sama, Naruto baru bisa menyadari bahwa ada beberapa perbedaan yang mengejutkan di tubuh kedua Hinata ini.

Hinata yang berada di sisi kanan ranjang memiliki struktur tubuh dan sumber energi yang sama dengan Hinata yang Naruto kenal pada era Shinobi. Ya, ini seakan-akan adalah Hinata versi Shinobi saat berumur 17 tahun.

Kebalikan dengan kembarannya, Hinata yang berada di sisi kiri ranjang memiliki rambut yang cenderung lebih pendek dari rambut kembarannya dan bibir yang lebih merah alami serta memiliki sumber energi yang juga berbeda dengan kemarannya. Di mana kembarannya memiliki chakra sebagai sumber energinya, Hinata ini memiliki youki sebagai sumber energinya.

Dalam benaknya, Naruto menyadari bahwa Hinata dengan energi youki memiliki penampilan yang sama dengan Hinata yang pernah Naruto temui saat dirinya dan Sakura terjebak dalam dunia ilusi milik Obito untuk sementara.

Mendengar sebuah erangan dari Hinata, Naruto segera sadar dari lamunannya dan melihat ke ranjang di hadapannya hanya untuk mendapati kedua sosok Hinata terbangun secara bersamaan dan mengambil posisi duduk.

"Ugghh… dimana aku?" gumam kedua Hinata secara bersamaan, membuat keduanya langsung menengok ke arah samping dan membulatkan mata mereka sambil menunjuk satu sama lain dengan ekspresi kaget.

"Inner/Outer?!"

Merasa tidak mau ditinggaalkan, tiba-tiba saja Naruto muncul di tengah mereka sambil berteriak,

"Naruto!"

Yang tentu saja mendapatkan hadiah berupa sebuah pukulan super dari Inner Hinata yang merasa terganggu dengan Naruto.

.

.

.

Several minutes later…

Setelah Outer Hinata (Shinobi Hinata) berhasil mengeluarkan Naruto dari tembok tempatnya bersarang setelah terkena pukulan dari Inner Hinata (Vampire Hinata), Naruto segera menjelaskan kepada keduanya tentang kejadian yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang telah ia lakukan.

Setelah beberapa saat berpikir dalam kesunyian, tiba-tiba saja Inner Hinata berdiri dari posisi duduknya dan menatap tajam Naruto dengan kedua mata merah darahnya.

"Uzumaki Naruto, kau mengatakan bahwa tekhnik milikmu itu bisa memperbaiki kerusakan pada tubuh seseorang tak peduli seberapa parah lukanya dan apakah ia sudah mati atau tidak, apa aku benar?" Tanya Inner Hinata pada Naruto yang hanya mengangguk.

"Jika dugaanku benar, maka keadaan ini bukanlah sesuatu yang sementara, tapi permanen." Ujar Inner Hinata sambil menatap Outer Hinata yang terlihat bingung.

"Apa maksudmu, Ura-chan?" Tanya Outer Hinata pada Inner Hinata.

Menutup matanya sejenak, Inner Hinata kembali membuka matanya sambil menghembuskan napas berat dan mencuri-curi pandang pada Naruto yang bersiap mendengar teorinya.

"Menurut dugaanku, saat kau… meninggal, aku juga turut meninggal. Tapi saat Naruto memanggil Raja Neraka untuk membangkitkanmu, Raja Neraka juga membangkitkanku karena secara teknis tubuh yang 'ditelan' Raja Neraka adalah tubuh gabungan milik kita berdua. Tapi karena Raja Neraka tidak bisa menghidupkan dua orang secara langsung dalam satu tubuh, akhirnya dia memisahkan tubuh kita menjadi dua bagian seperti semula sebelum kita bergabung melalui ritual penggabungan. Dan dengan tubuh ini, kita kembali menjadi dua orang individu yang berbeda." Jelas Inner Hinata pada Outer Hinata dan Naruto yang dibalas dengan mulut berbentuk 'o' oleh keduanya.

"Baiklah, anggap saja teorimu benar, tapi sekarang bagaimana? Jika semua orang tahu bahwa ada dua Hinata Hyuuga di Youkai Gakuen maka ak-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pandangan Naruto berubah menjadi pandangan kosong saat dirinya merasakan tarikan secara paksa dari alam bawah sadarnya sebelum akhirnya tubuhnya terjatuh ke pelukan Outer Hinata yang telah menantinya.

.

.

.

Naruto's Mindscape…

Membuka matanya, hal pertama yang Naruto lihat adalah ruang kosong berwarna putih sejauh mata memandang. Naruto mengenali ruangan ini sebagai sisi lain dari alam bawah sadarnya dimana ia pertama kali berbincang dengan ayah dan ibunya.

"Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Naruto entah pada siapa.

"Itu pasti karena aku, Naruto-kun."

Mendengar sebuah suara berat dan menggema dari arah belakangnya, Naruto segera membalikkan badannya dan melihat sosok Rikudo Madara dengan DUA mata Rinnegan tengah berdiri beberapa meter di hadapannya.

"Madara?!"

Tertawa kecil pada dirinya sendiri, sosok Madara kembali memfokuskan pandangannya ke arah Naruto sebelum akhirnya mulai berbicara kembali dengan nada tenang tapi penuh dengan aura kekuatan.

"Aku bukan Madara, Naruto. Namaku adalah Hagoromo Ootsutsuki atau yang lebih kau kenal dengan Rikudo Sennin. Sosok yang kupakai saat ini semata-mata hanyalah sosok yang kudapat dari ingatanmu tentang orang yang paling kau benci." Jawab Rikudo sambil tersenyum kecil pada Naruto.

Mendengar jawaban dari sosok di hadapannya, tentu saja mata Naruto langsung membulat tak percaya dan tanpa sadar mengambil satu langkah mundur.

"Ri-Rikudo Sennin?! Ap-Apa yang Rikudo Sennin lakukan di alam bawah sadarku?!" Tanya Naruto dengan nada keras karena kebingungan.

"Sebelumnya kau harus tahu ini, Naruto… tentang kutukan Rinnegan."

"K-Kutukan Rinnegan? Apa yang kau bicarakan, Rikudo?!"

Menatap mata Naruto yang tiba-tiba saja berubah menjadi mata Rinnegan, Rikudo kembali meneruskan perkataannya.

"Seperti halnya seluruh Doujutsu yang ada di dunia ini, Rinnegan juga mempunyai kutukannya tersendiri. Tidak seperti Sharingan dengan kutukan kebenciannya, kutukan milik Rinnegan bukanlah sebuah sesuatu yang akan tampak semasa hidupmu." Jelas Rikudo Sennin pada Naruto yang masih terlihat bingung. Melihat ini, Rikudo hanya tersenyum pahit dan memutuskan untuk kembali meneruskan penjelasannya.

"Rinnegan yang memiliki kekuatan di luar batas kehidupan ataupun kematian, membuat penggunanya mampu merambah 'wilayah' kekuasaan dewa sekalipun. Jutsu-jutsu seperti Rinne Tensei no Jutsu, Six Path dan Banbutsu Sozo (Creation of All Things) adalah puncak dari kekuatan Rinnegan, sekaligus penghinaan terbesar yang bisa manusia lakukan terhadap dewa. Oleh karena itu, mereka yang mempunya Rinnegan, tidak akan pernah di terima di atas sana ataupun di bawah sana. Yang menunggu mereka di saat kematiannya adalah… kehampaan." Ujar Rikudo pada Naruto yang kini hanya bisa membulatkan matanya sambil menatap Rikudo dengan pandangan tidak percaya.

"J-Jika itu memang benar adanya, lalu… bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Naruto dengan nada yang kini mulai tenang.

"Sejak dilahirkan, para pengguna Rinnegan telah ditakdirkan untuk berseberangan jalan dengan para dewa. Jadi di saat kematianku mendekat, aku menyegel separuh arwahku di mata Rinnegan sebelum Shinigami-sama bisa menelan seluruh arwahku. Rinnegan tidak akan pernah hancur, ia hanya akan menghilang sejenak dan terlahir kembali pada orang-orang yang ditakdirkan untuk hal besar. Naruto… kau adalah satu-satunya pemilik Rinnegan yang menjadi 'anak emas' dari Kami-sama sendiri, membuat bahkan para dewa gentar menghadapimu." Berjalan mendekati Naruto, Rikudo berhenti saat jaraknya dengan Naruto hanya tersisa beberapa langkah saja.

"Aku sudah menantikan hari ini entah berapa lama… hari di mana Rinnegan terlahir kembali pada 'anak dalam ramalan' dan 'anak emas' dari Kami-sama sendiri. Hanya kau Naruto… satu-satunya orang yang bisa menguasai Rinnegan hingga mencapai potensi tertingginya tanpa terkena kutukan Rinnegan. Tolong Naruto, sekali lagi… bawalah kedamaian di neraka dunia ini…" Menyentuhkan jari telunjuknya ke dahi Naruto, Rikudo Sennin menyempatkan dirinya tersenyum lembut pada Naruto sebelum perlahan bagian tubuhnya mulai menghilang menjadi partikel-partikel kecil yang melayang entah ke mana.

"Semoga hadiah kecilku ini cukup untuk membantumu melewati penderitaan yang telah menantimu di masa depan, 'Anak dalam Ramalan', Uzumaki Naruto..."

Jatuh ke kedua lututnya, Naruto segera memegangi kepalanya dengan kedua tangannya saat dalam kesakitan saat tiba-tiba berbagai ingatan-ingatan asing tentang berbagai jenis jutsu dan pengetahuan dipaksa masuk ke dalam otaknya.

Beberapa menit berlalu dalam kesakitan, akhirnya Naruto kembali membuka mata Rinnegan miliknya dan perlahan mulai mengambil posisi berdiri.

Membuka telapak tangannya di hadapannya, Naruto mengizinkan sebuah senyuman kecil untuk muncul di wajahnya saat dilihatnya di atas tangannya muncul miniatur Juubi yang meraung-raung sebelum akhirnya berubah menjadi gumpalan bola hitam dan digenggam oleh Naruto.

"Batbutsu Sozo. Jutsu penciptaan, sungguh sebuah puncak penghinaan manusia terhadap dewa…" menarik napas dalam-dalam, Naruto menyimpan seluruh pengetahuan dan jutsu baru yang ia dapat dari Rikudo Sennin di kepalanya baik-baik sebelum akhirnya kembali ke dunia kesadaran…

.

.

.

With Outer and Inner Hinata…

Menangkap tubuh Naruto yang tiba-tiba saja jatuh lemas, Omote (Outer) Hinata langsung panik sebelum akhirnya Ura (Inner) Hinata mengambil alih tubuh Naruto dan menidurkannya di ranjang ruang kesehatan. Menyadari bahwa sosok Shion juga masih tak sadarkan diri di lantai, Omote segera membawa Shion dan menidurkannya di ranjang sebelah Naruto.

"Jadi… sekarang apa?" Tanya Ura Hinata tiba-tiba memecah kesunyian.

Melihat ke arah Ura yang masih belum memalingkan pandangannya dari Naruto, Omote kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Naruto sebelum menjawab,

"Aku… aku juga tidak tahu, Ura-chan." Jawab Omote sedikit gugup dan bingung.

Menghela napas panjang, Ura berjalan ke salah satu ranjang yang kosong dan duduk di atasnya sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya dan mengangkat satu kakinya untuk ditaruh di atas kaki yang lainnya.

"Hmph, aku rasa kita terpaksa harus menunggu sang penanggung jawab." Ujar Ura sinis sambil menatap sosok tak sadarkan diri Naruto dengan tajam.

"Y-Ya… kurasa juga begitu…"

.

.

.

.

Somewhere in the Makai…

Duduk di sebuah singgahsana megah dan mewah adalah seorang wanita cantik berambut merah kecoklatan dengan satu matanya tertutup rambut indahnya dan memiliki bibir merah menggoda. Di tubuhnya, ia mengenakan sebuah kimono hitam terbuka yang menampakkan seluruh pundaknya dengan model potongan di bagian bawahnya yang hampir mencapai paha bagian atasnya.

Di hadapannya, sebuah layar besar tampak menampilkan gambar sosok Naruto Uzumaki yang tengah memanggil Raja Neraka untuk menghidupkan kembali Hinata Hyuuga.

Menjilat bibitnya dengan gaya sensual, wanita cantik ini terus memfokuskan pandangannya pada Naruto dan kekuatan-kekuatan tidak masuk akal miliknya, bahkan untuk ukuran youkai.

"Hm… tidak salah lagi… dialah orangnya…" ujar Mei sambil tersenyum menggoda pada layar di depannya.

"Akhirnya, setelah penantianku yang lama ini… ia akhirnya datang juga… persis seperti yang dikatakan Tengu-sama sebelum kematiannya…" tertawa sinis pada lebih pada dirinya sendiri, Mei memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya untuk menampakan sebuah mata dengan sklera berwarna hitam kelam dan iris berwarna merah darah yang menyala di kegelapan. Di belakang tubuhnya, muncul tujuh ekor berwarna putih yang menyerupai ekor rubah dan menyelimuti dirinya.

"Aku telah lama menantikan kedatanganmu, tuanku… wahai sang dewa kegelapan, raja dari segala raja, iblis yang berdiri di puncak dunia, tuan muda seluruh youkai… Uzumaki Naruto…"

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

A/N : Short Update! Maaf karena updatenya pendek banget, ini juga update gara-gara lagi males belajar dan akhirnya ngetik sejenak deh. Padahal lagi Ujian, damn -_-
Btw, saya akan buka polling untuk nasib Ura (Inner) Hinata dan Omote (Outer) Hinata :

Pair jadi Naruto x Ura Hinata x Omote Hinata

Ura Hinata mati.

Sasuke x Ura Hinata, Naruto x Omote Hinata.

Karena masih jarang yang buka profil saya untuk saya mengadakan poll, jadi silahkan berikan pilihan anda lewat review~
Bagi yang masih penampilan Ura Hinata itu bagaimana, penampilannya sama dengan Hinata versi Road to Ninja hanya saja matanya merah dan punya taring yang bisa memanjang/memendek sesuai keinginan.
OK, karena besok masih ujian, sekian dulu guys. Doakan saya semoga sukses!
SEE YA!
Natsu D. Luffy