14.04.13

-Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: really slight mature content, spark of angst, touch of fluff, bit of out of topic in a few scene

Rate: 13+

[I do not get profit by making and publishing this story. The only profit I gain was only by getting your review :D]


.

.

.


Sixteen


.

.

.

Dingin.

Buku-buku jariku terasa menggigil dan itu menjalar ke seluruh tubuhku. Kemudian rasa dingin itu muncul lagi. Kali ini dari kepala. Basah. Tubuhku bergetar saking dinginnya.

Barusan saja, aku melihat ibu dan ayahku dalam bayangan. Kemudian Miku, lalu ada Kaito, setelah itu Gackt. Dan terakhir…

…Aria.

Sedang apa ia sekarang? Apa ia masih hidup?

Ada yang sakit di dadaku. Sakit sekali hingga rasanya membuatku sulit bernafas.

Aku menelan ludah. Tidak berani memikirkan nasibnya jauh-jauh. Takut pada kenyataan yang akan menimpanya.

Lagi, rasa dingin itu kembali datang. Tubuhku basah. Gigiku bergemeletukan. Kepalaku pening. Sedang di mana aku sekarang?

"BANGUN!"

Perlahan, walau terasa berat sekali, aku memaksa diri membuka mata. Cahaya yang ada di tempat ini sangat menyilaukan. Seperti yang ada di ruang bedah rumah sakit. Aku mengerjapkan mata. Menyesuaikan diri dengan kondisi pencahayaannya.

"Dia sudah bangun rupanya," bunyi langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Gigiku masih bergemeletukan karena disiram air dingin. Dan suara itu, seperti kenal. Siapa?

"Hatsune Mikuo, apa kau bisa mendengarku?"

Aku berusaha menggerakkan diri. Terkunci. Sepertinya tanganku sedang diikat ke belakang bangku. Kemudian aku mendengak, berusaha melihat sang pemilik suara.

"Oh, kau sudah sadar. Baiklah, apa kau bisa melihatku?"

Aku menyipitkan mata. Pandanganku masih agak blur. Tapi perlahan, mataku mulai bisa menyesuaikan diri dengan kondisi penerangan yang sadis.

"Kau bisa melihat ini angka berapa?" si pemilik suara mengangkat tangannya. Dua jarinya membentuk angka V.

Aku mendengus. "Jangan tolol. Itu angka dua." Balasku datar.

Si pemilik suara tertawa menggelegar. Aku kenal suara tawa ini. Aku juga mulai mengenali wajahnya. Samar-samar ingatan itu muncul dengan jelas. Kendati dulu aku melihatnya di kondisi remang-remang, aku jelas masih bisa mengingat semuanya.

Pria ini, adalah ayah dari istriku.

"Miss me, Mikuo?"

Not one bit, psycho.

"Bawa dia kemari," Titahnya pada salah seorang anak buah. Kemudian anak buahnya mengangguk dan segera pergi ke luar tempat ini.

Ia lalu menduduki kursi di depanku. Menyulut rokok dan menghisapnya dengan rakus.

Aku hanya terdiam.

"Bagaimana kabarmu, Mikuo?"

Aku menyeringai. Time to get sarcastic, huh. "Menurutmu?"

Ia menghembuskan asap rokoknya, membuat kepulan-kepulan asap kelabu terbawa ke atas. "Menurutku, kau terlihat menyedihkan."

Aku menatapnya, bosan. Tidak berselera untuk meladeninya bicara. Pintu ruangan ini lalu terbuka dan suara langkah kaki beberapa orang menyita perhatianku. Aku tercengang, karena di situlah manusia yang kucari-cari berada. Tangannya tengah diikat dan ia masih mengenakan gaun biru gelapnya yang tadi.

Kalau saja kami sedang tidak berada dalam situsasi seperti ini, aku pasti sudah menciuminya sampai hilang akal sehat. Karena sungguh, Aria cantik sekali mengenakan gaun itu.

Istriku itu dibawa menuju kursi di sebelah si penculik. Saat dia melewatiku, dia memandangku tepat ke mata dan di situlah aku sadar;

Aria habis menangis.

Dan itu karena aku.

Tapi aku hanya diam. Cuma bisa memaki diri sendiri dalam hati.

"Aku melakukan pencarian mengenai dirimu," Pria itu kembali bicara, tidak lupa untuk menghisap batang beracun itu. "Tanpa kuduga, ternyata kau bocah yang menarik." Ia kembali menghembuskan asapnya. Matanya berkilat-kilat, seperti predator yang ingin bermain-main dulu dengan mangsanya. "Mikuo, orang tuamu meninggal karena kecelakaan di saat kau dan adikmu masih anak-anak. Akhirnya, kau pun diasuh oleh saudara ibumu yang tidak pernah peduli dengan kalian, benar begitu?"

Aku menelan ludah.

Dari mana dia tahu itu semua?

"Hacking," ujarnya seakan menjawab pertanyaan di benakku. "Adalah salah satu keahlianku. Bukan cuma kau yang mahir dalam menguasai ilmu komputerisasi di dunia ini, Mikuo."

Aku mendelik.

"Bibimu hanya memberimu gelimangan uang tanpa ada kasih sayang. Ia selalu membencimu dan adikmu. Akhirnya, di usiamu yang ketujuh-belas, kau memutuskan untuk pindah rumah bersama Miku."

Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan emosi apapun terpampang di wajahku. Sekarang bukan saatnya menunjukkan kelemahan.

"Bibimu tidak pernah peduli padamu. Ia hanya mengirimimu uang seperlunya untuk keperluan sekolah dan makan. Sampai sekarang, ia masih membencimu karena telah merenggut nyawa kakaknya di kecelakaan mobil itu. Yah, salahmu juga sih, kenapa juga harus pakai mengutak-atik mesin mobil ayahmu ketika kalian sekeluarga mau berangkat liburan?"

Aku menggigiti lidahku. Menahan bentuk emosi apapun keluar dari wajah.

"Akhirnya, terima kasih atas 'kejeniusan'mu mengutak-atik mesin mobil ayahmu, saat ia sedang membawa mobil dengan kecepatan tinggi, ia tidak bisa mengerem karena remnya putus. PUTUS! REMNYA PUTUS! Dan itu karena kau! Hahahahaha…"

Tanganku bergetar. Tubuhku mulai gemetaran. Apa iya aku harus mengingat hal ini? Itu memang salahku. Aku sudah menyadarinya semenjak awal.

Tanpa kusadari, lidahku berdarah karena aku terlalu kencang menggigitnya.

Dan lagi-lagi, dadaku terasa sakit.

Saking sakitnya aku sampai tidak bisa merasakan luka fisikku sendiri.

"Nah, sekarang, sebagai bentuk pembalasan atas dosamu, aku akan merenggut seseorang yang berharga bagi dirimu!"

Apapun rencana orang ini, aku yakin aku tidak akan menyukainya.

Pria itu berdiri dan mendekat pada Aria. Perasaanku semakin tidak enak. Kalau saja ia sampai berani menyentuhnya…

"Kalian berdua sebenarnya cocok, sama-sama membunuh orang tuanya sendiri." Ujarnya dingin, membuatku semakin tidak mengerti. 'sama-sama membunuh orang tua sendiri', katanya? Aria tidak mungkin melakukan itu.

Pria itu menjambak rambut Aria tanpa ampun. Aria sedikit meringis. Sementara aku sudah siap berontak dari kursi. "Kalau kau tidak lahir ke dunia ini, Avanna pasti masih hidup." Desisnya murka.

Bagus. Sekarang aku tambah bingung. Siapa pula Avanna yang ia sebutkan ini? Ibu dari Aria? Tidak. Wanita bermata biru yang mirip Aria dulu datang ke pesta pernikahan kami dan memperkenalkan diri sebagai Yokune Rikko, ibu Aria. Dan namanya jelas bukan Avanna.

Aria pun juga berwajah sama bingungnya sepertiku. Ia menatapku sekilas, kemudian meneguk ludah dan berkata, "Siapa Avanna?"

Ayahnya tertawa ironi, persis seperti penjahat-penjahat di film kartun anak. "Kau benar-benar anak durhaka, tidak tahu siapa ibunya sendiri," ia mendengus.

"Avanna… adalah ibuku? Tapi, bukankah ibuku itu Yokune Rikko? Ia memiliki mata yang sama denganku."

Pria di depannya tertawa sarkastik. "Rikko? Wanita jalang itu bukan ibumu! Dia adalah adik Avanna yang berpura-pura menjadi ibumu setelah Avanna meninggal! Kaulah penyebab kematian Avanna!"

Rahangku mengeras.

Tega sekali dia. Anak sendiri dibentak-bentak. Ayah macam apa yang membentak, menjambak, bahkan pernah berniat untuk memperkosa anaknya sendiri?

Pasti kelainan jiwa.

"T-tapi, Ayah…" Astaga, Aria. Manusia macam ini masih bisa kau panggil ayah? Seharusnya dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa terdekat saja. "A-aku… tidak pernah membunuh orangtu—"

"Persetan! Kau membunuh ibumu, Avanna! Ia meninggal setelah melahirkanmu, dasar anak tolol!"

Hah?

Hah?

HAH?

Dia pasti salah bicara. Yang seharusnya dikatai tolol itu adalah dirinya. Sungguh, orang ini adalah manusia paling tolol yang pernah kutahu. Sejak kapan seorang ibu yang mati karena melahirkan anak jadi kasus pembunuhan? Sejak kapan bayi yang tak berdosa, baru saja lahir ke dunia, tidak tahu apa-apa, mendadak jadi pembunuh karena ia dilahirkan?

Konyol.

Di belakang kursi, tangan kananku meraba-raba jam di tangan kiriku, berniat untuk menekan tombol yang mengantarkan pesan ke laptop Yuuma. Tapi nihil. Tak ada jam tangan sama sekali. Setelah menggeliat-geliat, aku juga baru sadar kalau ponselku sudah diambil.

"Mencari ini, Mikuo?" Suara dingin itu menyentakku dan dengan segera, aku mendapati ponsel dan jam tanganku berada di tangannya.

Aku kembali duduk tenang. Sudah menduga ini akan terjadi.

"Aku yakin bahwa kau sudah menyimpan sistem komunikasi super canggih di dua benda ini, makanya, aku mengambilnya darimu." Lalu sekian detik selanjutnya, dua benda canggihku itu sudah dilempar ke lantai, dihancurkan, digilas oleh sepatu boots-nya tanpa ampun, membuat tombol-tombolnya tertekan ke tanah lalu muncrat keluar. Kondisi mereka jadi rusak total. Tapi pria itu malah tersenyum, puas. Tentu saja, dia seorang psycho-maniac, apalagi yang kuharapkan?

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Mikuo? Sudah merasa lemah dan tidak berdaya?"

Aku mendengus. Dua benda yang bisa menyelamatkanku, sekarang sudah dihancurkan, lenyap dengan hanya menyisakan jasadnya. But bitch please, aku masih bisa membuatnya lagi. "Jangan mimpi," ujarku bosan.

Ia kembali tertawa ala maniak. "Kau memang bocah menarik, Mikuo!"

Mataku terus mengawasinya dengan tenang, membiarkan mangsa yang asli tersingkap dengan sendirinya.

Secara tidak langsung, injakannya sudah menekan tombol di jam tanganku. Rencanaku berhasil. Dan dalam waktu setengah jam, Mr. Psycho akan dihancurkan oleh 'bocah menarik' ini.

Aku menahan diriku untuk tersenyum.

"Sekarang, ke pertunjukan yang sebenarnya!" Serunya menggila. Benar-benar tidak sadar umur akan tingkahnya ini. Kalau-kalau nanti aku sudah setua itu, aku tidak akan sudi berkelakuan sepertinya. Sumpah.

Ia menarik Aria dari kursinya. Kedua kaki Aria bahkan diborgol ke salah satu pilar di dekat kami. Langkah wanita itu tergopoh-gopoh, seperti sudah terlalu lelah untuk sekedar berjalan. Melihatnya seperti itu membuatku ingin memenggal kepala pria ini saja.

"Kau, Hatsune Mikuo, berhasil mengacaukan rencanaku enam belas tahun yang lalu," Ia menyeringai buas. Dan demi apapun, perasaanku yang tidak enak saat ini bertambah berkali-kali lipatnya. "Lalu, sedihnya, kau bahkan tidak meminta restuku untuk menikahi anakku." Tambahnya dengan nada dramatis. Kemudian ia beralih pada Aria. "Sementara kau, telah membunuh ibumu sendiri, satu-satunya manusia yang berhasil menyelamatkan hidupku, memperbaikinya dan menyempurnakannya. Dan sekarang, kalian berdua jelas harus membayar mahal atas hal ini." ia menyengir buas.

Jantungku mendadak berpacu kencang. Apa yang ia inginkan?

"Aria, anakku sayang…" Pria itu membelai-belai rambut Aria dan menatapnya dengan cara yang mampu membuat perutku bergejolak mual. Menjijikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa menatap putrinya dengan penuh nafsu seperti itu? "Karena enam belas tahun lalu kau berhasil kabur dariku, sekarang aku tidak akan membiarkanmu lari lagi. Oh, jangan menangis. Ini tidak akan sakit. Lagipula, kau sudah pernah melakukannya, bukan? Kau kan sudah jadi istri orang."

Aku menelan ludah. Praduga-praduga mulai bermunculan di benakku. Tapi skenario terburuk, ya Tuhan, aku bahkan tidak berani membayangkannya, muncul di pikiranku begitu saja.

"Ayo, sekarang buka bajumu. Pertunjukan utama sudah di mulai."

Aria menangis, terisak. Menunduk, memohon sambil menegangi kaki ayahnya dan membuatku merasa seperti bajingan sejati karena tak mampu melindunginya. "Aku mohon… Ayah…" Tuhan, aku tidak tahu kalau melihat Aria menangis bisa sesakit ini. "…aku mohon, Ayah, jangan…"

Bahuku menegang.

Sekarang semuanya sudah jelas.

Orang gila ini ingin memperkosa istriku, dan ia ingin aku melihatnya secara langsung.

Nafasku terengah. Aku kembali menggigiti lidahku. Mengabaikan pendarahan yang belum berhenti sejak tadi.

Ayah Aria menatap Aria dengan dingin, tak berperasaan. "Cepat buka bajumu! Atau kau akan melihat kepala suamimu ditembak dari belakang oleh sniper itu."

Tidak, aku tidak peduli jika kepalaku ditembak asalkan Aria bisa hidup. Terdengar klise, memang. Tapi ketika kalian sudah menemukan—sebentar, aku muntah dulu—belahan jiwa dalam hidup kalian, yang selalu peduli di saat yang lain mengabaikan, yang selalu memelukmu ketika seluruh dunia seakan memusuhimu, yang selalu ada ketika sahabat dan yang lainnya sedang sibuk, yang akan mengelus pundak dan membisikkan kata-kata bijak saat kau dirundung masalah, mungkin, kau akan sependapat dengan diriku.

Namun, Aria gelagapan. Ia hanya bisa menunduk, menangis, terisak sambil menggeleng kecil untuk menolak.

Nafasku memburu. Tubuhku tidak lagi merasakan dingin yang barusan mendera. Seumur-umur aku hidup, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar merasa murka.

Iblis. Pria ini bukan manusia, dia iblis. Dan aku ingin sekali membantai iblis ini.

Brengsek. Aku bahkan belum pernah menyentuh Aria. Malam pertama kali tidak berjalan dengan mulus. Jadi mana mungkin aku rela jika ia diperkosa di depanku?—Ah, ralat, maksudnya—MANA MUNGKIN ADA SUAMI YANG RELA ISTRINYA DIPERKOSA DI HADAPAN MEREKA SENDIRI?

Ini benar-benar tolol.

Aku harap ini hanya mimpi.

Tapi sayang, ini kenyataan.

Aria tidak berkutik. Ia hanya terdiam meringkuk di bawah. Tubuhnya bergetar. Menangis.

Aku tidak tahan melihatnya seperti itu.

"Aria," panggilku, berusaha terdengar sekuat mungkin padahal suaraku sudah kering.

Ia mendengak, menatapku digelayuti perasaan bersalah. "Mikuo… maaf…"

Mendesah, aku melanjutkan, "Aku tidak mau kau disentuh olehnya." Ujarku tegas.

Ia menatapku, dalam, intens, sampai-sampai rasanya tatapannya mampu untuk menembus jiwaku.

"Aria sayang, kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan dengan senang hati melakukannya untukmu." Ujar si psikopat dengan suara manis memuakkan yang dibuat-buat.

Aku mengatupkan rahang, melemparkan tatapan membunuh pada pria sialan itu. "Jangan pernah menyentuh istriku. Kau sakit jiwa. Seharusnya kau masih dipenjara sekarang ini."

Ia mengangkat bahu. Tangannya mulai membuka tali baju di pundak Aria dan seketika membuat darahku mendidih. Sumpah, dia bahkan tidak layak untuk menyentuh seujung rambut istriku! "Well, maaf sudah mengecewakanmu, tapi pengadilan mengatakan bahwa aku sudah bebas sepuluh tahun yang lalu."

Mataku tak pernah berhenti memandanginya dengan penuh nafsu membunuh. "Aku akan menjebloskanmu ke penjara lagi."

"Dengan tangan diborgol seperti itu? Oh, Mikuo, aku takut sekali."

Tali-tali baju di pundak Aria sudah turun sampai lengan. Sekarang tangan pria itu mulai menggerayangi resleting di punggungnya. Aku mengatupkan gigi hingga aku bisa merasakan decitan yang membuat ngilu di sana. "Tutup mulutmu. Kau akan masuk penjara malam ini juga." Balasku, tenang.

Ia menyeringai remeh. "Memang kau pikir kau ini siapa, Mikuo? Tidak ada yang bisa menolongmu di sini,"

"Tarik kembali ucapanmu. Karena dalam hitungan detik, mereka akan datang untuk menyeretmu ke penjara."

Dahinya mengernyit. Matanya mendelik kesal padaku. "Mereka siapa? Teman-temanmu? Jangan membuatku tertawa." ucapnya sarkastik. "Tempat ini sangat tersembunyi. Teman-temanmu itu tidak akan mungkin bisa mencarimu. Daritadi kau hanya bisa menggertak karena tak punya harapan, bukan begitu, Mikuo?"

Tak lama, Aria meronta karena bibirnya mulai menciumi leher Aria dengan cara yang erotis. Brengsek sekali, memang. Seharusnya aku yang berada di posisinya sekarang ini. Aku nyaris saja mengalihkan pandanganku karena tidak kuat melihatnya. Tapi kemudian, aku mendapati tubuh Aria yang bergetaran serta air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Maka aku pun berusaha kuat. Karena aku yakin, aku akan menang melawannya. "Maaf-maaf saja, Mr. Psychopath, tapi aku ini bukan tipe penggertak. Apa yang kukatakan benar-benar akan terjadi sebentar lagi."

Ia melirikku, sebal. "Cih, kau hanya bicara omong kosong."

Aku mendengus. Tiba-tiba saja kepalaku jadi pening lagi. Akupun memejamkan mataku untuk sesaat, berharap dentuman di kepalaku hilang walau hanya sebentar. "Dengar, Mr. Psycho, kesalahan pertamamu adalah: kau sudah berani-beraninya meremehkanku." Ucapku, tetap tenang. "Yang kedua, kau sudah meremehkan anak buahku." Aku mengambil nafas. "Dan kesalahan ketiga, kau bahkan tidak tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang ini."

Perlahan, aku bisa melihat kalau bahu pria itu menegang. Lalu, ia memandangiku dengan tatapan penuh kebencian. Aku pun juga ikut menatapnya demikian, ditambah pandangan yang lebih sadis, penuh nafsu mematikan, sehingga membuat tensi ruangan jadi panas. "Kau berisik sekali, Mikuo. Seharusnya kau tid—"

"BOS!" salah seorang anak buah menjerit panik dan datang ke pria itu untuk membisikkan sesuatu. Aku hanya berusha menenangkan diri, memasang wajah datar. Kan tadi sudah dibilang, rencanaku berhasil.

Tak lama kemudian, bunyi-bunyi gaduh di luar ruangan terdengar. Sirine kendaraan polisi berbunyi. Puluhan baling-baling helikopter berputar hingga membuat suara desingan yang nyaring.

Dan pria itu pun memelototiku, marah.

"Gotcha," aku menyeringai, menatapnya penuh kepuasan, mengabaikan rasa pusing yang datang lagi.

"Apa yang sudah kau lakukan, bocah?" tanya pria itu, murka. Cih, di sini yang seharusnya murka itu aku! Kau baru saja berniat memperkosa istriku di hadapanku langsung!

Aku lalu memandangnya, kemudian memasang wajah paling tengil yang pernah kupunya. "Menurutmu?" Tanyaku dengan seringai yang semakin lebar.

Ia menjerit, meneriakiku seperti orang gila dan menyumpahiku entah dengan bahasa apa. Namun aku hanya bergeming, tidak ambil pusing. Peduli amat dia mau berkata apa. Sudah jelas-jelas suara puluhan baling-baling helikopter dan sirine khas mobil polisi itu semakin menjadi-jadi. Dia sudah tamat. Aku akan menjebloskannya ke penjara malam ini juga.

"Dasar bocah brengsek!"

Yeah, yeah, dan ucapkanlah selamat karena 'bocah brengsek' ini sudah berhasil menjebakmu, Mr. Psycho.

Beberapa detik kemudian, para polisi mendobrak pintu ruangan ini dan menangkap semua anak buah ayah Aria. Aku menghela nafas lega. Semuanya sudah selesai.

Dua orang polisi melepaskan borgol di kaki Aria dan juga ikatan di tangan kami. Kala ikatan — yang ternyata adalah lakban — di tanganku itu lepas, aku berdiri dan dentuman di kepalaku semakin menjadi-jadi. Tubuhku terasa panas, mataku berat, rasanya aku ingin tidur sekarang juga.

Tapi tentu, itu tidak boleh terjadi.

At least, not now.

Aku memijat pelipisku dan segera mendekati Aria, memeluknya dengan erat seolah tak akan ada hari esok yang tiba. Kuciumi rambutnya yang beraroma vanilla, dan membiarkan diri hanyut dalam helaian rambut serta aroma tubuhnya yang menenangkan.

Aku membuka jasku dan menutupi tubuh 'sedikit terbuka' Aria. Wanita itu lalu menatapku dengan hangat. "Sudah siap pulang?" bisikku di telinganya.

Ia mengangguk. Dan hal pertama yang ia ucapkan bukanlah bagaimana caraku merencanakan hal ini, melainkan, "Mikuo, kapan terakhir kalinya kau makan makanan berkarbohidrat?" tanyanya, tegas.

Aku mengalihkan pandangan. Kenapa aku malah jadi seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen sih? "Err, yah… tadi pagi." Jawabku sekenanya.

Ia menggeleng-geleng. Persis seperti seorang ibu yang menangkap basah anaknya habis melakukan kesalahan. Dan anak itu adalah aku. Tapi, hei, aku ini kan suaminya! "Selesai ini, kau harus makan. Tidak boleh tidur sebelum makan. Tindakanmu ini bisa membuatmu terserang penyakit maag."

Mendesah, aku hanya mengangguk mengikuti perkatannnya.

Kemudian, Aria menatapku dengan tatapan yang… sulit diartikan. Antara kagum, penuh cinta, dan penuh kasih sayang. "Kau…" Ia menggeleng. "Aku tidak mampu mengungkapkannya. Kurasa, 'luar biasa' masih belum bisa mendeskripsikan apa yang sudah kau lakukan, Mikuo. Bagaimana cara polisi ini datang? Dan kenapa bisa ada banyak helikopter di luar sana?"

Aku tersenyum, merasa tersanjung atas pujian Aria barusan. Sebenarnya, aku agak tergoda untuk membalas dengan balik bertanya, 'Menurutmu?' yang pasti akan membuat dia kesal. Tapi berhubung hari ini aku sangat lelah, malas bertengkar, maka aku pun menjelaskannya dengan detail.

"Ini," aku menunjuk pada kancing pertama jas hitamku. "Adalah kamera nano yang merekam segala kejadian tadi. Dan ini," aku menunjuk kancing kedua. "Adalah pelacak yang terhubungkan dengan jantung sistem komunikasiku. Aku sudah mendesain jam tangan yang barusan dihancurkan oleh Mr. Psycho untuk mengirim tranmisi data dari dua kancing tersebut ke laptop Yuuma. Lalu, Yuuma memberitahukan hal ini ke kantor polisi di sekitar Osaka. Dan merekapun mengepung tempat ini. Selesai."

Mata Aria berbinar. Bibirnya menyunggingkan senyum bangga. "Itu brilian!" Pujinya tulus. "Sebentar, tapi, bagaimana kau bisa mengirim transmisi datanya? Kan jam tangannya sudah dirusak oleh ayahku…"

Aku mengagguk padanya. "Mungkin, aku lupa menambahkan. Jam tangan itu juga sudah kudesain untuk langsung mengirimkan tranmisi datanya ketika sudah rusak. Bagaimana caranya? Yah, secara tidak langsung, ketika ayahmu menginjak jamnya, ia pasti membuat tombol-tombol di permukaan jamnya tertekan dengan tanah. Dan lagipula, membuat transmisi data itu terkirim tidak memerlukan kode tombol yang merepotkan. Cukup tekan tombol manapun yang ada di sana, lalu datanya akan terkirim. Beres."

Kepala pirang stroberinya mengangguk-angguk. Mengakibatkan beberapa helai rambut jatuh satu persatu ke depan dengan begitu halus, sehingga membuatku tergoda untuk kembali mengelusnya. Aku sudah pernah bilang kan? Rambut Aria itu halus sekali. "Kapan kau memprogramnya menjadi seperti itu?" Tanyanya sambil mengangkat alis.

Tanganku menyentuh rambutnya, lagi-lagi merasakan setruman aneh ketika mengelus-elusnya. "Semalam," jawabku, santai.

"Cuma semalam?"

Aku bergumam mengiyakan.

"Ehm, jadi, bunyi-bunyi tadi malam itu adalah kau?"

Aku memandangi wajah lembut Aria, lalu menautkan alis. "Apakah suaranya seberisik itu?"

Kepalanya menunduk, membuat helai-helai rambut indahnya jatuh ke depan lagi. Wow, bagaimana cara dia menjaga rambut sepanjang ini? Selama beberapa bulan kami tinggal bersama, aku tidak pernah melihatnya merawat rambut dengan begitu intens. Apa mungkin, ia selalu melakukan perawatannya di kamar mandi?

Kamar mandi, ya? Well, that means something to me.

"Mikuo?"

"Hah? Apa?"

"Kau tidak mendengarkan penjelasanku."

Aku terdiam sebentar. "Maaf,"

"Dari tadi kau terus memandangi rambutku. Apa rambutku terlihat jelek sekali?"

Tidak, aku hanya ingin melihatmu ketika sedang mand—Salah. Bukan itu maksudku. "Uh, yah… rambutmu masih dalam keadaan bagus. Tidak jelek." Jawabku, mantap. "Oh, ya, tadi kau mau bilang apa?"

Aria menyipitkan mata, curiga. Duh, jangan sampai istriku ini tahu hal horny macam apa yang kupikirkan barusan. "Tidak, Mikuo, suara-suara tadi malam tidak berisik. Aku hanya… tidak bisa tidur setelah marah padamu. Aku merasa kejam sekali memutuskan hal seenaknya. Padahal itu semua kau lakukan untuk melindungiku. Maafkan aku, Mikuo."

Aria, kenapa kau selalu berhasil membuatku merasa seperti seorang bajingan sih? 'Melindungi'mu apanya? Jelas-jelas apa yang kuputuskan tadi malam malah sukses membuatmu diculik dan nyaris diperkosa!

Aku menghela nafas. "Seharusnya aku yang meminta maaf, sudah membuatmu sengsara seperti ini." aku terdiam. "Ehm… Aria, kau… Kau tidak akan menceraikanku, kan?"

Sontak, tanpa kuduga-duga, Aria justru tertawa. Iya, suara tawanya memang merdu, seperti bunyi lonceng gereja. Tapi itu tak ururng membuatku heran atas sikapnya.

"Oh, Mikuo, kau lucu! Kenapa juga aku harus menceraikanmu? Kau barusan saja menyelamatkan keperawananku dari ayahku sendiri!"

Aku membatu.

Perawan.

Astaga, aku lupa, Aria masih perawan!

Pikiran ini kontan saja membuatku teringat pada dusta kecilku pada Kaito yang mengatakan bahwa Aria sudah hamil. Bodoh. Itu tidak terjadi. Dia masih perawan sampai sekarang!

Sebenarnya, resolusi untuk masalah itu mudah, sih. Aku tinggal membawa Aria ke hotel terdekat, menuntaskan kewajibanku, dan masalah akan beres. Tapi, yah, semuanya tidak segampang itu.

Pertama, setelah mengalami peristiwa 'nyaris diperkosa' untuk yang ketiga kalinya, apakah Aria masih akan berjengit ketika kusentuh?

Kedua, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengehentikan trauma Aria pada hubungan seks.

Ketiga, Aria masih belum tahu tentang 'dusta kecil'ku pada Kaito.

Tuh, kan. Ternyata masalahku memang belum selesai sampai di sini.

Kami keluar dari tempat itu, yang ternyata adalah gedung tua tak terpakai, tapi bukan gedung yang sama dengan tempat penyekapan Aria sebelum ini. Puluhan helikopter berdesing di sekitar lapangan luas di luar gedung. Para polisi berhasil mengamankan seluruh tempat. Aku berterima kasih kepada mereka dan segera mencari-cari juniorku.

"Nii-san!"

Aku menengok-nengok ke sekitar penjuru. Mencari di mana sumber suaranya. Dan ternyata, ia sedang berlari ke arahku. Tapi yang tak kuduga, ia justru langsung memelukku, erat.

Well, sekarang aku benar-benar merasa seperti seorang kakak.

Miku mengangkat kepalanya. Menautkan alis seperti mau marah. "Dasar bodoh! Kenapa kau malah membuatku khawatir sih?! Oh, lihat ini, kantung matamu tebal sekali! Ya ampun, kau bahkan berwajah pucat! Kapan terakhir kalianya kau makan?!" Celotehnya berisik.

Aku mendesah. Kalau saja Aria tidak tahu bahwa Miku adalah adikku, ia pasti sudah mengira bahwa Miku adalah kekasihku. "Di mana Yuuma?"

Wajah Miku memberengut. "Kenapa kau malah mencari dia, sih? Aku kan adikmu! Setidaknya berbahagialah sedikit di saat aku datang."

"Miku," Aria mengelus pundaknya lembut. "Mikuo sudah lelah. Kau bisa memarahinya besok ketika dia sudah baikan."

Miku memasang wajah khawatir. "IA-san, apa kau baik-baik saja?"

Aria tersenyum tulus. "Sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri. Kapan terakhir kalinya kau makan makanan bergizi? Wajahmu juga pucat, Miku."

Bibirku membentuk lengkung seringaian. Ternyata Miku juga kena semprot oleh si dokter.

"Uh… yah… kalau ramen instan bisa dibilang sebagai makanan bergizi, maka aku—"

"Itu bukan makanan bergizi. Kau pasti sudah tahu itu, bukan?" Ucapnya, tegas.

Miku mengerucutkan bibir.

Dan aku menahan diriku untuk tertawa.

"Mikuo, tadi katanya kau mau mencari Yuuma, bukan?" Tanya Aria, halus.

Aku mengangguk. "Di mana dia?" tanyaku pada Miku.

Dengan malas, Miku hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan telunjuknya ke belakang kami. "Tuh, dari tadi dia ada sana."

Kami menoleh. Dan menemukan Yuuma, mengenakan pakaian serba hitam ala agen S.W.A.T. yang kuyakin mampu membuat para cewek mendesah, hanya mengangkat tangan untuk salam sambil bersender di tubuh helikopternya.

Aku memanggilnya untuk datang mendekati kami. Kemudian ia berjalan kepadaku dan berkata, "Maaf, aku tadi hanya tidak ingin menganggu reuni kecil-kecilan keluargamu."

Aku menepuk-tepuk pundaknya. "Tidak masalah." Jeda sebentar. Aku membalikkan punggung dan mulai berjalan. "Ikut aku. Kita punya bisnis yang harus diselesaikan."

Yuuma berjalan mengikutiku, meninggalkan Miku yang mengernyit heran dan Aria yang menatap penuh pengertian.

"Senpai, aku sungguh-sungguh. Kau tidak perlu membayarnya. Kau tahu bahwa aku berhutang budi padamu."

Aku berbalik untuk menatap Yuuma. Kemudian mengibaskan tanganku dengan ringan. "Omong kosong. Aku tidak pernah menganggap itu sebagai hutang budi. Lagipula, aku masih mau merepotkanmu lagi." Ujarku, santai. "Tolong lacak keberadaan laptopku, lalu datangkan helikoptermu ke sana untuk mengambilnya dari seorang gadis bernama Yuzuki Yukari."

Yuuma menautkan alis, tidak mengerti. "Siapa itu, Yuzuki Yukari? Apa hubungan yang ia miliki dengan senpai?"

Aku mengangkat bahu. "Ia partner dansaku, yang menyalakan laptopku agar sistem komunikasiku berjalan secara autopilot selama aku disekap."

Setelah urusan laptop usai, Aria memintaku untuk makan bersama di salah satu restoran dekat sini. Miku dan Yuuma diajak, tapi mereka menolak dengan alasan tidak mau mengganggu kebersamaanku dengan Aria. Jadi akhirnya, kami pun hanya berjalan berdua saja.

Kali ini, aku membiarkan Aria berjalan di depanku, sambil memperhatikan rambut panjangnya yang menjuntai lembut itu. Tapi, kok, ada yang aneh ya? Sejak kapan rambut Aria jadi blur begini?

Tiba-tiba saja, kepalaku pening. Seperti ada dentuman-dentuman yang menyerbu secara mendadak. Pandanganku semakin kabur. Apa aku kehilangan kesadaran? Tapi itu tidak mungkin. Jelas-jelas aku masih bisa berdiri dan berjalan tanpa cacat.

Oke, kalimat terakhir itu bohong. Jalanku justru malah sedang tersaruk-saruk sekarang ini.

Aria sedang membicarakan sesuatu, tapi aku tak mampu menangkap apa yang sedang dibicarakannya. Dan sebelum aku menepuk pundaknya untuk bertanya, tubuhku sudah ambruk. Jatuh tersungkur ke tanah dengan pandangan yang semakin menghitam.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

1. Unlimited thanks to Allah SWT

2. Thanks (again) to you! Review kalian itu selalu ngebuat saya nyengir-nyengir sendiri dan langsung dipertanyakan kewarasannya oleh ibu saya.

Hayoo, yang bentar lagi mau UN coba angkat tangan… chapter terakhir bakalan di-update pada hari setelah UN SMP. Lah, kenapa SMP? Soalnya pembaca saya kebanyakan anak SMP, itu aja sih.

Heck, ini adalah chapter paling emosional yang pernah saya buat di fanfic ini. Agak kasian juga sih, sama Mikuo. Pake pingsan segala di dua chapter berturut-turut.

Okey, next chapter adalah chapter terakhir! (tapi bukan epilog) Dan Hatsune Mikuo's Mirror bakalan resmi jadi cerita pertama yang saya tamatin.

Well, karena sebentar lagi tamat, would you mind to review? Butuh feedback nih untuk pembuatan adegan penculikan pertama saya, haha.