Arigatou untuk minna-sama yang sudah bersedia mereview cerita gaje, abal dan jelek ini. bahkan saya selaku authornya saja tidak tau dimana letak kebagusan cerita ini.
Oke... Lanjut
~saddenly it's Magic~
Disclaimer: beberapa nama chara yang muncul adalah milik aoyama sensei saja! Dan sebagian lain hanya sumbangan dari pembaca.
Warning:abal, jelek, alur macet, typo entah dimana, no EYD, dan tidak berprikecharaan.
~magic World~
Semua yang berada di ruang makan terdiam sesaat. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing. Para lelaki yang sibuk memikirkan apa tindakan mereka selanjutnya, dan para wanita yang sibuk memikirkan nasib mereka.
"uhm!" shinichi terbatuk dengan maksud ingin menarik perhatian. Dan itu sukses mendapat perhatian dari ketujuh orang lainnya. "tapi, apa yang terjadi dengan dunia nyata?" tanya shinichi memecah suasana.
"kau tidak perlu khawatir. 100 tahun disini, sama dengan satu jam di dunia nyata" ujar Maeda.
"benarkah?" heiji yang kini nampak tertarik. "yosh! Kalau kalian bertanya padaku, aku memilih untuk membantu gadis-gadis ini!" ujar Heiji kemudian.
"tunggu dulu! Kalau satu jam di dunia nyata sama dengan satu jam disini, kalian ini umurnya berapaaa?" tanya kaito OOT kemudian.
Maeda nampak menghitung-hitung "lebih dari sepuluh juta tahun jika dihitung dari dunia manusia" ujar Maeda kemudian.
JEGER
"uhm!" kali ini saguru "bisa kalian jelaskan, apa maksud kami ada disini? Kenapa kami?" tanya saguru kemudian.
"aku memanggil kalian karena kalian sangat persis dengan keempat pangeran. Aku minta kalian menggantikan posisi mereka sementara kami mencari keempat pangeran yang asli" ujar akako.
"tapi... bukankah manusia biasa dilarang? Bagaimana kami bisa menyamar. Keempat pangeran yang asli itu pasti memiliki kemampuan sihir bukan?" tanya Shinichi.
"bagi keempat pangeran... sihir dilarang keras! Mereka tidak boleh menggunakan sihir" ujar Mitsuishi kemudian.
"hah?"
"raja pusat takut kalau pangeran akan menjadi sombong dan malah menindas orang dengan sihir masing-masing. Karena itulah sihir dilarang untuk keempat pangeran" ujar Mitsuishi.
"jadi kalian tidak perlu khawatir. Kalian hanya perlu bersikap biasa dan jangan terkejut apapun yang terjadi. Tetaplah tenang walau kalian bertemu dengan banyak orang yang mungkin kalian kenal. Ingat! Semua orang yang ada disini, bisa jadi adalah musuh" jelas akako
"musuh?"
"kalian tidak paham? Ada dua kemungkinan menghilangnya pangeran. Satu! Pangeran menghilang karena keinginannya sendiri. dua! Mereka pergi karena terpaksa. Dengan kata lain, penculikan!" ujar Shiraishi kemudian.
"kami mengerti jelas." Ujar Shinichi
"baiklah kalau begitu" ujar Saguru
"sudah dipastikan..." lanjut kaito
"kami pasti membantu" ujar Heiji
Keempat pangeran palsu itu tersenyum bak mentari di tengah kegelapan malam. Mentari yang membawa harapan untuk Akako dan lainnya. Setidaknya, untuk sementara, Akako dan ketiga temannya itu terbebas dari eksekusi karena dianggap membuat empat pangeran yang asli menghilang.
"kalau begitu, akan kami beritahu semua tentang pangeran. Tapi, kami rasa akan menyita waktu jika kami jelaskan satu-persatu. Kalau begitu, Mitsuishi akan mengantar Shinichi, Akako akan mengantar Heiji, Shiraishi akan mengantar Saguru dan aku akan mengantar kaito ke istananya masing-masing" ujar Maeda memberi aba-aba.
"siap!" ujar semuanya kompak.
~Mitsuishi dan Shinichi~
Mereka pergi ke istana kerajaan timur dengan menggunakan sapu terbang milik Mitsuishi.
"oi... oi... apa kau yakin ini aman?" tanya shinichi. Seumur hidupnya, ia belum pernah sekalipun menaiki sapu terbang.
"mudah. Pegang saja erat-erat dan pastikan takkan terjatuh. Sisanya, serahkan padaku" ujar Mitsuishi yang duduk di depan shinichi untuk menyetir "oh ya... setiap pagi seperti biasa, kalian harus sekolah!" ujar Mistuishi sebelum kepergian masing-masing.
"hah? Harus sekolah?" ujar Kaito
"tentu bodoh!" ujar akako ketus pada kaito.
"kita berangkat ya!" ujar Mistuishi sambil menerbangkan sapu terbangnya.
"oi! oi!" shinichi yang belum siap hanya bisa mencengkram erat pakaian Mitsuishi agar tidak jatuh. (shinichi tau adab. Karena itulah dia tidak seenaknya memeluk Mitsuishi)
"oh ya shin... jika di sekolah... panggil saja aku Tsumi! Itu namaku di sekolah" ujar Mitsu—Tsumi!
"baiklah" ujar Shinichi. Ia sudah mulai biasa dengan angin yang kencang.
Mereka terbang melalui laut yang biru dan luas. sebiru mata shinichi. Shinichi hanya bisa memandang takjub laut yang menghampar bagaikan permadani biru yang berkilauan karena mentari siang hari. lautan yang berkilau bagaikan tersembunyi banyak kristal di permukaannya.
"jangan kaget. Inilah kerajaan utara. Kerajaan yang mengatur segala air di kerajaan pusat ini" ujar Tsumi.
Awan yang menghalangi pemandangan dibawah kini tersibak. Perlahan, satu hal yang dapat dilihat oleh shinichi hanyalah sungai yang besar dan panjang yang meliuk-liuk mirip sungai Amazon. Hutan-hutan dan gedung-gedung sederhana juga terlihat jelas. Bahkan gereja dengan lonceng yang besar terlihat (bayangin aja film-film eropa)
WHUSH... sapu terbang lain yang sangat cepat melintasi saou Shinichi dan Tsumi. Tsumi nyaris saja tabrakan, jika saja Tsumi tidak memiliki reflek yang bagus. Pengendara sapu itu kemudian berdiri di depan sapu Tsumi dan Shinichi. Sehingga menyebabkan Tsumi dan Shinichi berhenti seketika.
"pangeran? Anda sudah pulang? Saya mencari anda kemana-mana" ujar gadis berambut hitam panjang dan bermata lavender itu. Dengan sukses, shinichi tidak dapat menutup mulutnya.
"ra... RAN?!" ujar Shinichi Histeris. (dengan ini, telinga Tsumi sukses berdenging)
~Akako dan Heiji~
Selepas kepergian shinichi dan Tsumi, kini giliran akako dan heiji yang akan lepas landas.
"siap? Hati-hati, jangan sampai jatuh" ujar Akako.
"wah... wah... akako... jangan ngebut-ngebut! Dia Cuma manusia biasa. Berbeda dengan para penyihir yang bisa menambah dan mengisi ulang nyawa" ujar Shiraishi
"ehe... tenang saja. Dia pasti akan sampai dengan selamat." Ujar Akako dengan seringaian misteriusnya.
"oi apa mak..."
Belum sempat Heiji bicara, Akako sudah keburu menerbangkan sapunya dalam kecepatan tinggi. Kontan heiji berteriak. Ia tidak peduli pada kaito yang ngakak di bawah dan saguru yang hanya geleng-geleng kepala.
"biasa aja keles! Shinichi aja gak teriak-teriak" ujar akako (lho?)
"oi! shinichi gak ngebut!" ujar heiji.
"ck... oke... oke..." ujar akako sambil memperlambatkan sedikit sapunya. Setidanya kini heiji bisa lebih tenang.
Awan telah tersibak. Pemandangan sebuah gunung mati yang memiliki setengah lahan kosong, dan setengah lahan pemukiman yang padat. Akako terbang mengelilingi bukit itu.
Dengan jelas Heiji bisa melihat beberapa orang tengah menggali dan menggiring batu besar. Satu batu besar, satu orang. Heiji hanya bisa takjub.
PLUK
Sebuah batu dengan lembut (?) menimpuk kepala heiji. Urat-urat kekesalan tercetak jelas di kepala heiji. Heiji menoleh untuk melihat siapa yang menimpuknya.
"ahou! Kemana saja kau sejak kemarin hah?" ketus seorang perempuan dengan rambut diikat ponytail
Heiji melongo. "kazuha?" pikir Heiji histeris dalam hati
~shiraishi dan Saguru~
"dasar heiji! Masa' begitu saja dia sampai teriak?" tanya Kaito sambil sesekali terbahak.
"omaega baka ka? Kau juga belum tentu tidak akan teriak jika terbang dengan kecepatan seperti itu!" sambung Saguru dengan gaya arogant. "jika aku bisa mendapat kecepatan seperti itu, pasti akan lebih mudah menangkap KID" ujar saguru kemudian.
"oh kenapa Hakuba kun? Kau sepertinya menyukai pencuri itu" goda Shiraishi.
"APA?" saguru dan kaito histeris. Shiraishi hanya tertawa terbahak dan maeda terkekeh geli.
"sudahlah! Giliran kita! Ayo berangkat!" ujar Shiraishi sambil melaju menggunakan sapu terbang miliknya.
Saguru menikmati angin yang menerpa wajahnya. Mereka berdua terbang diatas awan. Begitu awan tersingkap. Saguru bisa melihat kawah gunung berapi yang besar dengan lava merah membara yang meletup-letup tepat di bawah kakinya. Ketika saguru jatuh, habislah semua.
"tenang saja! Gunung itu, walau terlihat panas, sebenarnya dingin! Pemerintah kerajaan sudah menyerap seluruh panas gunung itu dan menjadikannya sumber daya. Bahkan tempat itu sudah seperti arena seluncur api bagi anak-anak. Mirip arena seluncur es" jelas Shiraishi.
"benarkah?" saguru terkagum-kagum.
"oh ya... jika di sekolah, kau jangan memanggilku shiraishi! Aku memiliki nama Koshi jika di sekolah. jika kau memanggilku Tsukiko ataupun Shiraishi, pasti orang-orang akan curiga." Ujar Shiraishi kemudian.
"baiklah" jawab saguru.
"ah satu lagi! Di setiap istana keempat mata angin, ada seorang wanita yang bertugas mendampingi pangeran. Bisa dikatakan bahwa dia adalah 'dayang' pangeran. Di istana keluarga Kudou ada Ran Mouri, di istana Hattori ada Kazuha Toyama, dan di Istana keluarga Hakuba ada Shiho Miyano." Ujar Shiraishi
"lalu? Di Istana keluarga kuroba?"
"um... akako menyuruhku untuk tidak memberitahumu" ujar Shi—Koshi!
"oohh..." jawab Saguru
JRESH!
Sebuah lava berbentuk bola dan layaknya seperti bola salju yang membara tepat mengenai baju saguru. Kemudian Lava itu menghilang. Tapi itu cukup membuat saguru menoleh dengan agak ngeri melihat lava mengenai bajunya.
"pangeran! Anda kemana saja? Baginda raja dan ratu mencari anda kemana-mana!" ujar seorang gadis berambut blonde cokelat kemerahan terlihat sangat marah.
"dialah Shiho Miyano... penjaga kastil anda" ujar Koshi berbisik
~Kaito dan Maeda~
"yap... hanya kita berdua yang tersisa" ujar Kaito setelah saguru sudah terbang.
"sebaiknya kita berangkat" ujar Maeda sambil menerbangkan sapu terbangnya.
Kaito berpegangan erat pada sapu terbang (walau agak mesum, kaito tentu tau adab) Maeda menjalankan sapunya dengan kecepatan tinggi. Sampai-sampai, kaito takut wajahnya tertinggal di tempat(?)
"oi! oi! kenapa kita malah ngebut?" tanya kaito dengan suara keras.
"aku tidak mau mencari masalah dengan wanita penjaga kastilmu!" ujar Maeda "oh ya... di sekolah, aku dipanggil Mako! Sebaiknya kau mulai memanggilku demikian jika kau tidak mau dihukum mati karena mengetahui keberadaan dunia ini" ujar Maeda
"baiklah!" ujar kaito.
Awan pun tersibak. Terlihatlah oleh kaito banyaknya orang-orang dengan sapu terbang mereka. mereka bergerak kesana-kemari dengan riang seolah yang mereka naiki itu adalah sepeda. Ada juga yang bermain skateboard yang melayang di udara.
WHUSSS
Angin yang kencang menerpa. Membuat sapu terbang Mae—MAKO! Agak oleng. Untung saja Mako dengan mudah menstabilkan sapunya. Kaito menoleh, tentu dia tau kalau angin tadi adalah angin buatan, alias disengaja.
"BAKAITOO... Kemana saja kau hah? Orang-orang kerajaan sibuk mencarimu!" ujar wanita dengan rambut yang mirip dengan kaito yang memanjang sepunggung.
Kaito menelan ludahnya getir melihat tatapan galak gadis itu.
"aoko?" ujar Kaito takut-takut...
TBC
Nyah... nyah... akhirnya selese juga... makasih buat yang sumbang nama. Saya sudah tidak perlu nama lagi :3 oh ya... empat 'puteri' sudah muncul. Di chapter berikutnya akan ada empat 'raja' dan empat 'ratu'. Tapi jangan salah paham! Akan banyak kejutan-kejutan nantinya :3
Makasih ama yang sudah nunggu!
