Mengabaikan janji saya pada kalian untuk nge-publish ini setelah UN SMP, saya memutuskan buat publish sekarang aja. Karena hari ini adalah hari yang, sebenernya ngga spesial-spesial amat, sih. Tapi cukup berharga bagi saya.
Jam 3 dini hari, dan inilah sebuah chapter sebelum epilog.
14.04.13
-Hatsune Mikuo's Mirror-
By Creativeactive
Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.
Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes
Warning: slight mature content, spark of angst, touch of fluff, bit of out of topic in a few scene
Rate: 13+
[I do not get profit by making and publishing this story. The only profit I gain was only by getting your review :D]
.
.
.
Seventeen
.
.
.
Hal pertama yang kucium adalah bau obat-obatan yang menyengat.
Yang kedua, adalah bau bunga mawar yang kubenci. Aku tidak suka bau bunga.
Yang ketiga, bau antiseptik yang bikin mual.
Keempat, err, tidak ada sih. Aku cuma berhasil menemukan tiga bau di ruangan ini.
Perlahan, aku membuka mata dan menemukan langit-langit kamarku. Aku sedang berbaring terlentang di ranjang. Menyesuaikan mata dengan pencahayaan yang tidak terlalu silau.
Sambil berusaha mengangkat tubuh untuk bersender pada kepala ranjang, aku melihat keadaan kamarku yang masih seperti dalam keadaan normal: dinding bercat biru-hijau, lemari yang semakin penuh karena ditambah pakaian Aria, lantai marmer berwarna krem, meja-meja mahoni yang tertata rapi, belasan gadget canggih yang terpasang di dinding serta meja, dan yah, semuanya masih tampak seperti biasa.
Kepalaku menoleh ke kiri untuk melihat sumber bau yang kubenci. Bau bunga. Apapun jenis bunganya, aku akan membencinya. Aku bahkan lebih membenci bau ini daripada bau obat yang bikin mual. Biasanya yang suka bau bunga itu adalah Miku. Maka aku langsung tahu, bahwa yang menaruh bunga-bunga itu di sana adalah dia.
Aku menelan ludahku, baru sadar kalau tenggorokanku terasa kering. Lidahku juga masih terasa sakit akibat kugigit sampai berdarah di malam itu. Kemudian setelah beberapa saat, aku juga baru sadar, kalau bajuku sudah berganti.
Dan itupun lantas membuatku berpikir, sudah berapa lama aku tertidur?
Suara pintu yang terbuka otomatis membuatku menoleh ke sumber suara. Kurasa kalian sudah bisa menebak, kalau aku memang mengharapkan Aria berdiri di sana. Tapi sayang, harapanku tidak terkabul saat itu.
"UOOHHH! MIKUO-KUN SUDAH BANGUN!"
Aku memutar bola mata. Pagi-pagi begini kenapa malah dihadiahi dengan suara lantang si bocah es krim, sih?
"Bagaimana keadaaanmu, Mikuo-kun? Aku sudah mendengar semuanya dari Yuuma-kun dan Miku-chan. Ya ampun, kau hebat sekali! Membajak sistem telekomunikasi di sebuah gedung mewah, membuat jam canggih yang bisa mengirimkan tranmisi data video, membuat kamera nano di dalam kancing, menyelamatkan istrimu, memenjarakan seorang psikopat mesum, dan kau hanya melakukan semuanya dalam waktu SATU HARI! Astaga, aku bangga punya teman sepertimu!"
Aku menghela nafas panjang. "Jangan berisik, Kaito. Lagipula, yang kamera nano itu sudah pernah kubuat semenjak tiga tahun yang lalu," Tanganku memijat pelipis. Suara berisik Kaito membuat kepalaku sedikit pusing. "Di mana Aria? Apa dia baik-baik saja?"
Kaito tertawa, lepas. "Wah, wah, wah… coba lihat! Hatsune Mikuo yang dulu adalah manusia dengan dosis kecuekan berlebih sekarang malah jadi suami over-protective rupanya! Huahahahaha!" Tawanya semakin berderai. Aku hanya mendelikkan mata padanya. "Oh, IA-chan sedang ada di bawah, memasak bubur untukmu, jadi nanti kalau kau sudah siuman tinggal memanaskan buburnya saja. Kau mau ia kupanggil ke sini?"
Kepalaku menggeleng.
Suara ribut di luar kamarku bermunculan. Awalnya dari adu debat tak guna, kemudian beralih jadi decakan kagum dan teriakan penuh kelegaan. Si kembar Kagamine memberiku buah-buahan, Meiko 'menenangkan' Kaito agar tidak sering-sering berteriak, Gumi dengan cerdasnya membawakan jus sayur favoritku, dan Gackt hanya menepuk pundakku, menatapku dengan bersahabat dan penuh rasa bangga.
"Oke, semuanya, lebih baik kalian semua keluar. Kasihan Mikuo, mendengar kalian ribut-ribut malah akan membuat kepalanya pusing." Ujar Gakupo pada yang lain.
"Benar itu! Lebih baik kalian semua keluar dari sini kare—err… Meiko, tolong jangan memelototiku seperti itu," Ujar Kaito, kalut.
"Kalian ini bodoh sekali! Di sini justru kalian berdualah yang paling berisik diantara yang lain! Jadi seharusnya, kalianlah yang keluar dari kamar Mikuo!" Seru Meiko, tak terima.
Kaito menghela nafas pendek. "Tenanglah, Mei-chan. Aku dan Gakkun hanya ingin bicara dengan Mikuo-kun, kok."
Gakupo mengangguk. "Yeah, semacam pembicaraan antar pria. Jadi lebih baik, yang lain jangan ikut-ikutan."
Mata Meiko mengawasi Kaito, lalu beralih ke Gakupo, kemudian kembali lagi ke Kaito. "Baiklah, aku akan berusaha menjegat yang lain agar tidak masuk."
Kaito mengepalkan tinjunya di udara. "Nah, itu baru gadisku yang pengertian!"
Wanita itu mendelik pada Kaito, tapi ia tak bisa menyembunyikan rona merah yang menghias pipinya. Yeah, harus kuakui, Meiko jadi bertambah cantik sekarang.
Tapi tentu saja, tak secantik istriku.
"Mikuo, bertahanlah dengan dua mahkluk ini," ujar wanita itu santai. Lalu ia menyuruh yang lain keluar dan menutup pintu yang berada di hadapanku.
Setelah pintu tertutup, aku bertanya, "Kalian tahu di mana Miku?"
Gackt menggeleng, sementara Kaito hanya tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi cemerlangnya.
"Tadi Miku-chan di sini, menunggumu siuman sambil mencoba menulis lagu. Tapi karena yang lain sepanjang malam selalu berisik, ia pun langsung kembali ke apartemennya."
Menulis lagu? Apa lagu yang dimaksud itu adalah lagu untuk comeback-nya yang sudah ia janjikan? "Apa kau melihat sampai mana ia sudah membuat lagunya?"
Kaito cekikikan, lalu tertawa lebar. "Nol! Zero percent for the progress. Sama sekali tak ada yang ia buat semalaman suntuk!"
Ah, adikku. Kasihan sekali dia. Sayangnya aku tidak bisa membantu apapun karena aku memang tidak punya bakat di bidang seni. "Dan, bagaimana dengan Yuuma?"
"Oh, dia kembali ke apartemennya. Entahlah, dia terlihat lelah sekali. Kantung matanya tebal. Aku tidak tahu sudah berapa lama ia tetap terjaga untuk menyelesaikan ini."
Mendengar omongan Kaito, aku langsung teringat dengan bill-ku pada bocah itu. Pokoknya siang ini akan kutransfer uangnya bayarannya.
Gakupo berdeham, berniat mengambil alih. "Oke, sekarang, beralih ke permasalahan yang akan dibahas." Ujar Gackt setengah berbisik. Ia duduk bersila di sisi kanan ranjangku. Iris ungu gelapnya menatapku tanpa ada setitik canda. Baiklah, Kamui Gakupo sedang dalam mode serius. "Mikuo, apa istrimu sudah hamil?"
Aku menelan ludah. Apa-apaan ini?
"Sudah! Sudah! Waktu itu dia memberitahunya padaku. Tapi ia tak mau yang lain tahu karena—uups," Kaito menutup mulut dengan kedua tangannya. Ternyata benar dugaanku, aku memang berbohong pada orang yang salah.
"Eh? Dia sudah hamil? Astaga, Mikuo! Kau harus segera memeriksakan kandungannya ke dokter!"
Periksa kandungan apaan sih, Gackt? Aria kan belum hamil sama sekali! "Hei, dengar," ujarku meminta perhatian. Kaito langsung duduk di sisi kiri ranjang, tapi tetap mengambil jarak aman dariku. "Aku punya pengakuan yang harus kuakui walau aku malas mengakuinya." Aku memandangi kedua sahabatku itu, dan mata mereka serempak menatapku dengan intensitas keseriusan yang sulit dipercaya. Ck, jarang-jarang mereka berlaku begini. Dari SMA mereka itu paling susah diajak bicara serius. "Aria... dan aku… yah, kami belum pernah berhubungan intim." Ujarku dengan tangan yang mengeja tanda kutip.
Iris phytalo dan anggrek gelap itu sontak memelototiku. "MUSTAHIL!" Jerit mereka bersamaan.
Gackt mengguncang-guncang bahuku, tak mengindahkan rasa pusingku yang jadi bermunculan karenanya. Wajahnya terlihat kacau. Pias. "Mikuo, lihat mataku! Kau masih normal kan? Iya kan? Bilang saja 'iya' biar kami tidak khawatir!" seru Gakupo, dramatis.
Aku menghela nafas panjang. Oh, ini sudah yang keberapa kalinya, ya? "Terakhir kali cek, masih normal, kok." jawabku, santai.
"Tapi kenapa… Ya ampun, Mikuo! Pria normal macam apa yang mampu menahan diri untuk tidak menyetubuhi wanita secantik IA, yang notabenenya tinggal serumah dengannya, dan juga merupakan istrinya, dalam waktu sebulan lebih! SEBULAN LEBIH! Damn it, Mikuo, apa kau mau membuatku malu? Padahal selama ini aku selalu memengaruhimu dengan pikiran mesum. Tapi kenapa kau masih bisa tahan juga, hah?!"
Dasar orang sinting. Lagipula di bagian apa aku sudah membuatnya malu? "Permasalahannya tidak sesederhana yang kau pikir, Gackt." Balasku, tenang. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke jendela yang menampilkan langit gelap. Cahaya keemasan fajar yang sedikit menyingsing membuat suasananya jadi indah. Hari masih pagi buta. Mengingat pakaian kasual yang Kaito, Gackt, Meiko dan yang lain kenakan barusan, mereka semua pasti menginap di rumahku semalaman ini.
"Err… memangnya, Mikuo-kun punya masalah apa dengan IA-chan?" tanya Kaito, khawatir.
Aku kembali memberikan perhatianku pada mereka. Dan setelah menghela nafas—kali ini, lebih panjang dari sebelum-sebelumnya—aku langsung menceritakan mereka tentang 'trauma' Aria.
Ekspresi mereka campur aduk. Bahkan Kaito yang biasanya menampakkan wajah polos pun jadi menatapku dengan sangat serius, wajahnya jadi terlihat tambah dewasa saat memasang wajah seperti ini. Kurasa itu wajar. Ini bukan perkara sepele. Sebagai seorang calon suami, Kaito pasti mengerti keadaanku.
Lain halnya dengan Gackt. Dia justru lebih banyak mengeluarkan ekspresi jijik dan marah—tentu saja bukan marah kepadaku maupun Aria, melainkan lebih kepada dalang dari penculikan ini. Gakupo pun langsung menjeritkan serapah setelah mendengar kejadian tadi malam, di mana ayah Aria berniat untuk memperkosa Aria di depan mataku sendiri. Kaito bahkan sampai menelan ludah tegang karena membayangkan bagaimana jika kejadian itu dialaminya. Selesainya aku bercerita, kedua orang itu lalu mengangguk mengerti. Sepakat untuk tidak pernah membicarakan hal ini di depan Aria.
Kaito mengelus dagunya. "Ah, kenapa kau tidak membawanya ke psikiater? IA-chan pasti memiliki banyak teman yang seorang psikiater, bukan?" tanyanya sambil mengangkat setengah alis.
"Aku tidak mau." Balasku, tegas. "Sebenarnya, ini keinginan egois, tapi aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan trauma istriku."
Mereka berdua mengangguk-angguk setuju. Kaito menjentikan jarinya dan berkata, "Oh, Mikuo-kun, apa perlu kuminta yang lain untuk mengosongkan rumah sekarang juga agar kau bisa berduaan dengan IA-chan? Kau tahu, kalian kan bisa main dokter-dokteran. Habis itu, bisa tambah ronde sampai sepuasnya deh!"
Kalau saja tidak mengingat harga diri dan akal sehatku, sekarang ini aku pasti sudah menganga kaget.
Karena demi apa? Kaito barusan berpikiran mesum.
Mataku melirik ke arah Gackt, yang berbeda dariku, justru menatap Kaito dengan senyuman bangga. Matanya yang berbinar seolah berkata 'kemarilah, anakku, Papa bangga sekali denganmu!' yang agak dramatis.
Tapi di saat itu juga, aku langsung sadar:
Bahwa Kamui Gakupo sudah berhasil meracuni pikiran Kaito dengan hal-hal berbau mesum.
Luar biasa. Padahal selama ini, Kaito tak pernah terpengaruh dengan pikiran mesum playboy satu itu.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya, Gackt?" bisikku, ngeri. Namun Gakupo hanya membalas dengan kedipan mata ala cowok playboy. Aku jadi ingin muntah sendiri melihatnya.
"Tenanglah, Mikuo, ini masih belum seberapa dengan apa yang akan kuberikan di pesta bujangnya nanti." Ujar Gakupo dengan bangga. Dalam hati aku bersyukur dulu sudah menolak pesta bujang yang ingin dimeriahkan olehnya.
"Sebentar, apa kau akan mendatangkan penari striptease ke rumahnya? Asal tahu saja, Gackt, Meiko akan membunuhmu kalau ia sampai tahu,"
Gakupo mendecak. "Ini jauh lebih baik daripada penari striptease!" Serunya sambil tersenyum lebar. Dan baru saja aku mau membuka mulut untuk berkata 'tidak ikutan' dengan alasan aku sudah tidak bujang lagi, Gackt sambil melotot padaku langsung berseru, "Kau juga harus ikutan. Tidak ada kata 'tidak'. Pokoknya, wajib datang!"
Aku menyipitkan mata. "Tidak. Mau."
"Oh, ayolah, ini tidak seperti yang kau bayangkan, kok. Pesta bujangnya memuat edukasi tentang cara menjadi suami idaman wanita!"
Aku menatapnya, bosan. "Tidak tertarik."
"Hm? Jadi, kau lebih tertarik dengan penari striptease? Apa kau mau aku mendatangkan temanku untuk mengajari IA cara melakukannya? Dia juga bisa mengajari istrimu lap dance, kalau-kalau kau mau."
"Mati saja sana,"
"Duh, tidak usah malu-malu begitu. Kalau mau tinggal bilang saja padaku."
Aku menelan ludah. Fokusku sudah tidak lagi pada kata-kata Gakupo. "Gackt,"
Mata Gakupo bertemu denganku. Tapi aku langsung kembali memaku pandangan ke pintu kamar di hadapan kami. "Oi, kenapa kau jadi pucat begitu? Masih sakit, ya?"
Aku meliriknya, menghujamkan sebuah tatapan tajam. "Aku akan membalasmu lain kali. Tapi sekarang, kau harus cepat keluar dari kamarku."
Perlahan, Gakupo menoleh ke arah pintu kamar dan mukanya langsung pucat. Ia pasti baru sadar, kalau dari tadi, orang itu mendengar segalanya.
Di situ, istriku tengah berdiri, sambil membawa nampan berisi mangkuk bubur dan segelas air.
Lagi-lagi, aku menelan ludah. Dari wajahnya yang memerah aku langsung tahu kalau ia sudah mendengar semua percakapan mesumku dengan Gackt.
Kaito pasti sudah pergi dari sini saat aku dan Gakupo sibuk berdebat. Ia mungkin langsung kabur begitu melihat Aria di ambang pintu.
Tak lama, Gakupo menunduk minta maaf. Ia terlihat kikuk saat mempersilakan diri untuk pergi. Setelah itu, Aria kembali memusatkan perhatiannya padaku, menatapku dengan pandangan ganjil.
Dia pasti sudah berpikiran kalau aku ini teracuni oleh otak porno Gakupo.
Kabar buruknya, itu memang benar.
"Mikuo? Kau… bagaimana keadaanmu?" Tanyanya lembut, mengalihkan perhatian, namun ketulusan terpampang jelas di cermin matanya. Ia lalu berjalan cepat mendekatiku, lalu duduk di sisi ranjang, yang membuat rok bahan rufflenya tertarik ke belakang sedikit. Dan itu…
…itu, kaki apa kaki? Kok… memang sejak kapan kaki Aria bisa semulus itu? Warnanya putih susu pula.
Boleh kujilat?
Aku mengangkat bahu. "Seperti yang kau lihat, baik-baik saja," Jawabku ringan. "Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
Dengan gerakan anggun, Aria meletakkan nampannya di nakas sebelah ranjangku. "Cuma semalaman. Lebih tepatnya, sepuluh jam kurang lima belas menit." Jawabnya mantap sembari meraih gelas berisi air. "Kau mengalami vertigo ringan. Ditambah lagi, kau belum makan makanan yang bergizi sebelum berangkat ke Osaka tadi. Makanya kau langsung ambruk begitu saja."
Mendesah, aku pun mengangguk menyetujui.
"Lidahmu berdarah, Mikuo. Dari jenis lukanya terlihat seperti gigitan. Apa kau menggigit lidahmu?"
Aku menganggukkan kepala.
"Tadi malam aku sudah mengompresnya dengan es batu agar tidak terjadi peradangan. Sekarang buka mulutmu. Aku ingin memeriksanya lagi."
Berusaha jadi anak baik, aku pun menuruti segala perkataan Aria. Usai melakukan prosedur pemeriksaan pasien, Aria langsung memberikanku segelas air. "Karena lidahmu berdarah akibat kau yang menggigitnya, aku bisa menyimpulkan bahwa kau tidak terkena kanker lidah. Untuk mencegah sariawan dan cepat sembuh, kau harus berkumur dengan air garam," ia menunjuk pada segelas air yang kugenggam. Oh, ternyata ini air garam. "Mengolesinya dengan madu minimal dua kali sehari, tidak boleh makan makanan pedas, dan minum air dingin." Ia tersenyum padaku. "Lebih baik sekarang kumur-kumur dengan air garam dulu."
Aku hanya mengikuti perkataannya. Tidak berniat untuk membangkang dari nasihat Bu Dokter karena aku memang ingin cepat sembuh. Tapi di tengah berkumur-kumur yang agak lama, aku jadi teringat kalimat Kaito.
"Kau tahu, kalian kan bisa main dokter-dokteran. Habis itu, bisa tambah ronde sampai sepuasnya deh!"
Sontak, aku langsung tersedak hasil kumuranku sendiri. Mulutku berasa asin (ya jelaslah! Ini kan air garam!). Kemudian aku langsung membuang air kumuranku ke wastafel, terbatuk-batuk, dan tidak lupa untuk memaki Kaito setelah ini.
"Mikuo, kau tidak apa-apa?" Tanya Aria, cemas.
"Aku tidak apa-apa. Hanya tersedak biasa," Balasku setenang mungkin. Dalam hati aku menyumpahi dua pria kelainan jiwa yang barusan merangsangku untuk berpikir mesum. Kaito sialan. Gackt lebih sialan lagi.
Aria mengambil mangkuk bubur dan duduk di sebelahku saat aku sudah kembali duduk di ranjang. Ucapannya kemudian berhasil membuatku tercengang untuk sesaat. "Mikuo, apa kau mau kusuapi?"
Aku menelan ludah. Kenapa Aria jadi memanjakanku begini? "Uh, yah… boleh-boleh saja." Memang siapa yang tidak mau, sih?
Sebenarnya, dari dulu aku tidak tahu di mana letak romantisme yang diagung-agungkan orang dalam adegan menyuapi makanan. Bagiku, itu biasa saja, tak ada menarik-menariknya. Tapi kini, setelah merasakannya langsung, aku baru tahu bahwa hal ini bisa membuat dua orang jadi lebih intim dalam berbagai aspek.
Aria membereskan bekas makananku dan membawanya ke dapur. Balik lagi ke kamar ini ketika aku sedang mengoleskan lidahku dengan madu.
"Ada lagi yang kau butuhkan, Mikuo?" tanya Aria penuh kelembutan. Dan mendadak, suara Kaito terngiang lagi.
Kau tahu, kalian kan bisa main dokter-dokteran. Habis itu, bisa tambah ronde sampai sep—"Tidak."
Kepala pirangnya mengangguk. "Aku ada di lantai bawah jika kau membutuhkanku. Sumiko hari ini tidak masuk, jadi aku akan membereskan rumah." Ia tersenyum sederhana. Aku menahan diriku agar tidak berlari kepadanya dan menciuminya sampai kebablasan.
Suara sialan Kaito terus terputar seperti kaset rusak yang keras kepala tidak mau dimatikan. Aku tidak tahu, sumpah, sama sekali tidak tahu kenapa aku jadi horny begini. "Jangan, kau temani aku saja di sini."
Aria mengangguk, berjalan ke arah rak buku, mengambil buku jurnalistik ilmiah, lalu duduk di sampingku sambil bersandar ke kepala ranjang. Aku hanya mengamatinya, diam, tak berniat menggubris.
Setelah beberapa menit kami berdiam diri, aku memposisikan diriku untuk berbaring, berniat untuk kembali tidur saat suara lembut Aria memanggil namaku.
Aku hanya menoleh padanya, dan ia sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari jurnalistik ilmiah yang ia baca. Ia baru menutupnya setelah beberapa saat, berlanjut memandangku dengan tatapan yang dalam. Rasanya seperti terhipnotis dalam iris birunya yang menyala. "Apa yang dikatakan ayahku semalam…" Ia terdengar ragu. Diam sejenak. "Tentang orang tuamu itu apakah… apakah itu benar?" Tanyanya halus.
Rahangku seketika mengeras. Aku mengalihkan pandangan, entah kenapa.
Kurasa, Aria bisa merasakan tubuhku yang sedikit menegang. Ia pun buru-buru menambahkan, "Kalau kau tidak mau membahasnya, kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Aku akan mengerti kok, Mikuo."
Kepalaku menggeleng. "Aku akan menjelaskan. Kau memang berhak tahu."
Aku kembali mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Tak lupa menghela nafas sebelum memulai bercerita. Karena asal tahu saja, ini adalah cerita yang memakan waktu cukup lama untuk dijelaskan.
"Ayahmu benar, orang tuaku memang sudah meninggal karena kecelakaan." Aku memulai. Berusaha terlihat tenang, bisa mengendalikan emosi. "Akulah yang mengutak-atik mesin mobil ayahku sebelum kami semua berangkat untuk berlibur. Pedal rem mobil ayahku keras, mungkin karena itu mobil tua, sehingga terkadang, ayahku sulit untuk menekannya. Maka, semalam sebelum kami sekeluarga berangkat, aku yang dulu sudah pernah membaca tentang perbaikan pedal pada mobil, berusaha memperbaikinya walau aku tidak pernah punya pengalaman memperbaiki mesin mobil sebelum ini. Keesokan harinya saat kami berangkat, ayahku menyetir dan berseru bahagia tentang pedal remnya yang tidak lagi keras untuk diinjak. Aku hanya diam saja. Tapi kemudian, entah bagaimana, rem mobilnya tiba-tiba putus. Aku sampai sekarang tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Padahal aku sudah memeriksanya berkali-kali malam itu. Aku sudah yakin bahwa semuanya sudah beres. Tapi mobilnya… Ayahku, dia…" Aku menelan ludah. Alisku bertaut dengan sendirinya, mengindikasikan pikiran rumitku. "Kepalanya tertusuk kaca mobil yang pecah, sementara ibuku mengalami pendarahan yang serius. Aku dan Miku hanya pingsan dan terkena luka-luka kecil. Kami selamat sementara… sementara orang tua kami..." Aku terdiam, kembali menelan ludah, mendengak untuk menatap langit-langit, belum mau kembali berbicara karena takut suaraku jadi serak seperti menahan pilu.
"Semenjak itu, Miku jadi… kutelantarkan." Jelasku, berusaha bernada stabil. Menolak segala jenis ekspresi kesedihan terpampang jelas di wajahku. "Aku bahkan sempat tidak pernah menyapanya. Wajah Miku… mirip sekali dengan Ibu, aku tidak akan kuat melihatnya tanpa merasa bersalah. Kaito akhirnya secara tidak langsung menggantikanku untuk berperan sebagai sosok kakak Miku. Dan aku hanya menyendiri, tidak mau terlalu kenal dengan orang lain karena takut orang itu akan diambil dari sisiku suatu saat nanti.
"Namun perlahan, aku mulai menerima fakta bahwa orang tua kami memang sudah meninggal, dan Bibi membenci aku karenanya. Aku tidak akan menyalahkan Bibi, dia memang sudah sewajarnya membenciku. Lagipula, Bibi adalah orang baik, ia masih mau menghidupi kami walau aku sudah membunuh kakaknya." Aku terdiam, menahan diri untuk tidak lagi-lagi menggigit lidahku. "Aria…" suaraku mulai serak, entahlah. "Ayahmu memang benar, secara teknis, akulah yang bertanggung jawab atas kematian orang tuaku sendiri…"
Aku menutup mata, masih tidak mau bergerak dari posisi awalku, masih menolak untuk bertemu pandang dengan Aria. Mataku lalu memaku pandangan datar ke langit-langit. Kosong. Hampa. Tidak ingin tahu apa reaksi istriku mendengar pengakuan ini.
"Ayahku adalah orang pertama yang mendukungku untuk mengutak-atik alat teknologi. Ia bahkan tidak marah saat aku berusaha membongkar pasang televisi keluarga kami, yang justru berakhir dengan kerusakan total pada bendanya. Sementara ibuku… dia hanya mengomeliku sebentar ketika aku ketahuan membongkar pasang suatu benda canggih, tapi setelah itu, ia akan memasakkan hidangan lezat agar aku kembali semangat memperbaiki setiap benda yang kubongkar." Bibirku menyunggingkan senyum tipis, mengabaikan tercekatnya tenggorokanku dan mataku yang mulai memanas. "Dan, setelah mereka tiada… mendadak dunia jadi seperti tempat yang asing bagiku. Tidak ada lagi orang yang menyemangatiku saat aku gagal, tidak ada lagi yang mengacak rambutku saat aku berhasil, tidak ada lagi yang memarahiku saat aku berbuat salah, tidak ada lagi yang bisa kuajak bicara tentang mimpi-mimpi dan cita-citaku. Semuanya… semuanya sudah berbeda." Lagi-lagi, rasa sakit itu datang. Tenggorokanku terasa dicekat, rongga udaranya terasa menyempit, membuatku sulit mengambil nafas.
"Aria…" Panggilku tanpa melihatnya, masih memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. Tapi di detik ini aku sadar, sudut-sudut mataku mulai basah dan suaraku terdengar serak sekali. "Pernahkah kau merasa sedih, berduka, sampai-sampai kau tidak mampu berbicara? Melumpuhkan akal sehatmu dan seketika membuatmu bagai robot? Menjadi manusia yang mendadak seperti terasingkan dari dunia yang selama ini dia tempati? Hanya merasakan pahit ketika makan, duka ketika semua tertawa, dan merasa beda sendiri ketika semua orang mengobrol akrab? Apakah kau pern—" ucapanku terputus. Tubuhku terasa terkena setruman listrik ketika ditarik secara mendadak kepada suatu rengkuhan yang hangat, lembut, nyaman. Dan aroma vanilla langsung memenuhi indra penciumanku saat kepalaku jatuh ke pundaknya.
Tanpa kusadari, pipiku menjadi basah. Di saat itulah aku tahu, bahwa itu adalah air mata.
Kapan terakhir kalinya aku menangis? Sepuluh tahun yang lalu? Lima belas tahun? Lebih?
Entahlah, aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya.
Tanpa kuminta, tetesan hangat itu kembali jatuh. Bersamaan dengan itu, rongga dadaku semakin menyempit. Rasanya susah sekali bernafas. Leherku seperti dicekik. Panas.
Aku mencengkram baju Aria seolah itu adalah perlindungan terakhir melawan para pengkhianat, melawan para pendendam, melawan seluruh dunia yang seolah memusuhiku. Tubuhku bergetar begitu juga dengan tanganku. Air mataku membasahi punggung Aria seketika.
Wanita ini adalah satu-satunya perempuan selain ibuku yang pernah melihatku menangis, dan aku tidak peduli. Aku merasa aman bersamanya.
"Aria, aku…"suaraku tak jelas, terlalu serak dan tertekan. Tuhan, kenapa rasanya sulit sekali mengambil nafas? Aku bahkan bertanya-tanya sendiri apakah ini memang benar suaraku atau bukan. "Aku.. aku takut… aku takut jika nanti aku punya anak… nanti… anakku akan bernasib sama sepertiku. A-aku… aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau dia kesepian. Aku… aku tidak mau dia dicampakkan. Aku tidak mau…" suaraku kembali terisak. Kencang. "Aku tak mau dia tak diberi kasih sayang. Aku tidak mau… dia…" Terhenti. Dadaku terasa dicabik hingga ke titik di mana aku tak mampu lagi berkata-kata. Sakit. Cuma itu yang bisa kurasakan.
Tubuh istriku pun ikut bergetar, jemarinya mencengkram bajuku dan seketika membuatnya basah terkena air mata. Isakannya pelan tapi memilukan. Perlahan, ia melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuhku untuk merengkuhku dalam-dalam.
Aku kembali terisak. Sakit sekali.
Aria memperkuat pelukannya, seketika mengirimkan setruman aneh ke tubuhku sekaligus membuatnya semakin hangat. "Mikuo," ia mengangkat kepalanya, menatapku penuh kasih. "Terima kasih sudah mau menangis di depanku,"
Aku tersenyum padanya, lalu menciumi keningnya dengan lembut.
Kicauan burung di sekitar rumah kami begitu jelas, suara mesin penghangat ruangan sayup-sayup terdengar, bebunyian ranting pohon yang dihinggapi burung-burung, suara tapak kaki para warga di luar rumah, semilir angin, bahkan suara tetesan air pun rasanya mampu kutangkap. Aku… aku tidak tahu ini apa. Mungkin inilah apa yang biasa kau dapatkan ketika melakukan meditasi. Dan aku bisa melakukannya, hanya dengan bersama Aria.
Tangisan kami mereda dengan sendirinya. Tak ada satupun dari kami yang mau beranjak dari posisi saling memeluk dan berbaring. Kami merasa nyaman, damai, tentram, hangat.
Like home.
Kepala Aria bergerak-gerak dibalik dadaku, mencari posisi yang membuatnya nyaman. Tak lama, ia mendengak dan menatapku. Jemari lentiknya kemudian menyapu bekas tangisku barusan. Gerakannya anggun, indah dan berhati-hati.
Tanganku juga ikut menyeka bekas tangisnya barusan dengan gerakan konstan, padahal biasanya, jarang-jarang aku mau berlaku lembut begini.
Bibir Aria lagi-lagi menyunggingkan senyum favoritku, indah dalam kesederhanaan. Pipiku sontak memanas, mataku mengalihkan pandangan. Karena walaupun habis menangis, Aria tetap terlihat luar biasa menawan di mataku. Sosoknya justru terkesan fana, dengan senyum anggun yang membuatnya tambah memesona. Cahaya fajar yang mengintip masuk ke kamar kami menyiram tubuhnya dengan kilau oranye lembut keemasan. Demi seisi semesta dan seluruh leluhurku yang menyaksikan, aku berani bersumpah, Aria terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik pagi ini.
Aria lalu kembali melingkari tubuhku dengan tangannya. Gerakannya begitu spontan, bahkan cenderung agresif. Tapi toh, aku tak memedulikannya.
Namun, ugh, hell, sekarang karena aku sudah tak merasakan beban emosional yang menyita konsentrasiku lagi, aku jadi semakin peka dengan tubuh perempuan yang sekarang memelukku. Aku bahkan bisa merasakan bagian-bagian tertentu tubuhnya yang terasa empuk.
Friggin' shit.
Kira-kira, apa aku kuat, jika berada satu kamar dengan istriku yang seluruh tubuhnya terasa —uhuk—empuk dan lembut sekali saat berlawanan dengan tubuhku?
Entah, biar waktu saja yang menjawabnya.
"Mikuo," bisiknya halus. Aku menelan ludah. Sahutanku adalah gumaman tak jelas. "Tadi… si kembar menanyakanku sesuatu."
Aku melepaskan pelukan kami, lalu bergerak menahan kepalaku dengan sebelah tangan agar bisa menatap wajahnya dengan jelas, sekalian menghindari tubuhnya agar tidak memelukku dan merangsang hormon-hormon tertentu yang dimiliki cowok. "Uh… apa pertanyaannya adalah seputar hal-hal konyol?"
Ia menggeleng kecil. "Tidak… Mereka bertanya… apakah aku sudah hamil."
Tubuhku membeku untuk sesaat. "Dan, apa jawabanmu?" tanyaku tak bermutu. Karena tentu saja Aria akan menjawab 'belum'. Habis, kenyataannya memang seperti itu, kan?
"Aku menjawab: sudah," balasnya, santai.
Aku kembali membatu.
Ini… aneh. Kenapa... kenapa Aria berbohong? Untuk apa? Dia kan bisa saja berkata jujur pada mereka. Kembar Kagamine tidak akan mempermasalahkannya. Tapi sebelum aku buka mulut untuk bicara, Aria langsung menambahkan, "Si Kembar itu suka berasumsi yang macam-macam. Aku tidak ingin mereka berpikir kalau kau ini mandul dan malah dicela habis-habisan oleh mereka. Makanya aku berbohong."
Aku menelan ludah. Tidak yakin harus membalas apa. "Uh, yah, terima kasih." Ujarku, canggung.
Lama sekali kami kembali terdiam, dan aku tak memedulikannya. Tapi kemudian, Aria kembali berkata, "Mikuo, kau…" ia mengernyit, ragu. "Kau masih normal, kan? Masih tertarik dengan perempuan, kan?"
Hah? Pertanyaan ini lagi?
Konyol. Bahkan istriku sendiri mencurigai ketertarikan seksualku. Memang apa yang salah, sih? "Kau adalah orang kedua yang bertanya begitu. Tenang saja Aria, aku masih normal." Jawabku, enteng. "Lagipula, apa yang membuatmu berpikir demikian?"
Aria menggigit bibir merah segarnya yang ranum, yang entah kenapa terlihat merah sekali pagi ini. And that was really, really, absobloodylutely kissable. "Uhm… itu… kau… tidak pernah memintaku untuk melakukan… 'itu'." pipinya merona. Wajahnya malu-malu.
Oh, dammit, man. She's so cute until I want to bite her! I want her all alone and—Eh, sebentar. Apa tadi dia bilang? Aku tidak pernah 'meminta'nya? "Kau langsung berjengit saat aku mulai menyentuhmu." Ujarku yakin.
Mata biru bunga jagungnya menatapku bingung. "Bukankah… Itu wajar? Itu kan, malam pertamaku,"
Aku mengernyit. "Tapi wajahmu ketakutan. Kupikir itu karena kau masih trauma dengan pemerkosaan…"
Wanita itu terdiam sesaat. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara matanya memancarkan pilu. Sakit aku melihatnya. "Kau tahu, Mikuo? Dulu aku sempat tidak ingin menikah. Aku takut jika suatu saat nanti aku punya anak, anakku akan merasakan hal yang sama denganku. Aku… aku bahkan tidak mau membayangkan jika ayah dari anakku memperlakukannya seperti ayahku memperlakukan aku…" ucapannya mengabur. Aku menciumi rambutnya untuk menenangkan.
"Aria, kau tahu aku tidak akan menjadi seperti ayahmu. Dia kelainan jiwa, aku tidak. Dia psikopat, aku tidak. Dia mesum, aku tid—uh, bukan, bukan. Uhm, maksudku, aku mesum karena aku lelaki, tapi tidak melewati batas kewajaran seperti dirinya. Yah, kau mengerti maksudku kan?"
Sampai di sini, aku yakin aku sudah melaratkan harga diriku serendah-rendahnya karena telah sudi menyatakan bahwa diriku mesum di hadapan Aria.
Itu, sama saja mengkonfirmasi praduganya kalau aku memang sudah positif tercemar otak porno Gakupo, yang sayangnya, memang benar.
Aria tersenyum lucu yang—oh great God—minta digigit! "Aku mengerti, Mikuo."
Selanjutnya, kami kembali terdiam.
"Aku yakin juga kok…" suara lembut Aria melanjutkan. Aku kembali pasang telinga. "kalau sama Mikuo, aku yakin aku tidak akan diperlakukan kasar. Aku memang masih sulit untuk melepaskan memori tentang ayahku. Dia…" ia menelan ludah. Tatapannya kemana-mana. "Yah, dia bukanlah orang asing untukku, Mikuo. Dia ayahku, aku darah dagingnya, tapi ia justru ingin… uhm, melakukan itu. Dan terlebih, ia sudah nyaris melakukannya sampai tiga kali. Pengalaman itu… bukanlah suatu hal yang bisa dilupakan dengan mudah." Kemudian matanya kembali menatapku. Bibir merah ranum segarnya yang—ampun Tuhan, ampun, ampun, ampun aku tidak kuat—menggoyahkan iman kembali tersenyum. "Tapi, aku percaya sama Mikuo. Aku tahu kau tidak akan menyakitiku seperti Ayah." Ia menatapku lembut, melemparkan senyuman anggun dan berhasil mengirimkan setruman-setruman aneh ke bagian tertentu tubuhku. Aku menelan ludah, meremas selimut yang melingkupi kami berdua. Udara dingin bulan Desember mendadak menjadi panas, entah kenapa.
"Mikuo," ia berbisik, nafasnya menggelitik telingaku, mengirimkan rangsangan sialan ke seluruh tubuh dan membuatnya menghangat. "Setelah kau tahu bahwa ayahku sendiri mau melakukan itu padaku, apa kau… yah, merasa jijik, mungkin?" tanyanya dengan nada yang sulit diartikan. Apa dia… kecewa?
"Tidak," jawabku tegas dengan nada yang… agak serak.
Gawat.
"Lantas, kenapa kau tidak pernah meminta—"
"Aria, sepertinya kita salah paham." Tegasku padanya. "Dengar, kupikir, kau masih trauma dan akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mau mengajakmu berhubungan intim sampai traumamu hilang. Tapi, kau justru malah beranggapan: 'Mikuo tidak mau berhubungan karena jijik padaku'. Jadi intinya, kita salah paham. Seandainya saja kau tahu bagaimana aku selalu menahan…" Aku menghembuskan nafas panjang, memukul-pukul bantal di sisiku dengan frustasi, menjeritkan sumpah serapah. Benar-benar tak habis pikir, kenapa baru tahu sekarang, sih? Sudah hampir dua bulan, DUA BULAN, kusia-siakan dengan menahan nafsuku mati-matian karena tidak mau Aria merasa ketakutan saat kusentuh!
Annoy me, please.
Aku langsung duduk dari posisiku barusan, mengacak-acak rambut, lalu menopang dagu dengan tangan kanan dan menghela nafas jengah.
Sebuah tangan lembut mengusap punggungku dari belakang, mengirim sinyal prihatin. Dengan tenang, aku berbalik menghadapnya. Kemudian Aria beralih mengelus pipiku dengan gerakan bak putri es yang menyeka hanya menggunakan jemari, bukan telapak tangan.
Gorgeously poised.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku menggeleng. Dan kemudian, Aria langsung memelukku lagi. Namun kali ini, lebih parah dari sebelum-sebelumnya.
Dia memelukku, dan meletakkan kepalaku tepat di dadanya.
Great. This is just so effing great.
Aku menggertakkan gigi. Menahan godaan yang muncul akibat pelukan polos ini. Sumpah, susah banget.
Tanpa sadar akupun menahan nafas, merasakan tiap-tiap sel tubuhku bereaksi akibat sentuhannya. Udara musim dingin pun sama sekali tidak membantu tiap-tiap permukaan kulitku yang makin memanas. Dan sungguh, aku berusaha mati-matian agar tanganku tetap berada pada tempatnya, tidak mulai bergerak untuk menyentuh bagian-bagian intim milik wanita yang sedang memelukku ini.
Itu tak boleh terjadi. Habis, masa iya aku malah bercinta dalam kamar sementara di luar sana masih ada tamu yang belum pulang?
Sialnya, nafas Aria yang menyentuh leherku justru malah semakin memperparah keadaan. Aku menelan ludah. Mengerikan, ini adalah cobaan paling berat sepanjang dua dekade kehidupanku.
Tanpa kusangka-sangka, Aria mempererat pelukannya. Seluruh tubuhku pun dikejutkan oleh setruman-setruman menggelitik yang merangsang. Mungkin ini impuls yang diterima sistem inderaku untuk dibawa ke otak. Dan aku yakin, otakku pun dengan sehatnya akan memerintahkan: terjang dia sekarang juga.
Oke, cukup.
Tidak ada semenit akhirnya akupun menyerah, angkat tangan. Tidak kuat. Aria terlampau menggiurkan untuk dilewatkan begitu saja.
Tiga kali ketukan di pintu seketika menghentikan atmosfir panas yang baru saja tercipta. Aria melepaskan pelukannya perlahan dan ternyata, nafasku terengah, bunyinya pun terdengar seperti habis lari-lari keliling lapangan sepak bola. Suaraku bahkan serak akibat menahan libido saat berkata, "Siapa di sana?"
Suara dengan nada flamboyan yang kukenali berteriak, "Kamui – tampan – Gakupo di sini! Kami semua ingin pamit pulang, Mikuo. Jangan terlalu lama berdua di dalam sana, kalian bisa bermain sepuasnya nanti setelah kami pulang!"
Pipiku memerah, begitupun dengan Aria.
Aku menggertakan gigi. Dan oh, sial. Suaraku ternyata masih serak akibat menahan libido barusan. "Aria, tunggu di sini," tanpa mendengar responnya, aku segera keluar dari kamar untuk bertemu Gackt. Dia sudah terlihat rapi dengan mantel burgandy yang masih disampirkan di lengannya. Senyum nakal untuk menggodaku habis-habisan sudah terpampang jelas di wajah.
"Oh, Mikuo sobatku, kau sekarang terlihat…" cengiran sialnya melebar. "Lagi 'mau banget'." Dan iapun tertawa terbahak.
Brengsek.
"Tutup mulutmu," ujarku skeptis. "Cepatlah pulang. Aku benci melihatmu di sini lama-lama."
Gackt menyipitkan matanya, tak juga menghentikan cengiran sial yang sengaja ditunjukkannya untukku. "Benci melihatku atau…" Damn, tutup mulutmu saja, Gackt. Aku sudah tahu arah pembicaraannya. "Atau, sedang terburu-buru untuk balik ke 'medan perang' di dalam sana?"
Aku segera melayangkan tatapan menghunus pada Gackt saat ia kembali terbahak-bahak. "Ini tidak lucu,"
Setelah beberapa saat menenangkan diri dari tawanya, ia kembali menatapku—yeah, tentu saja, masih dengan cengiran sialnya. "Tenang, wahai sobatku yang mau menanggalkan label perjakanya, mulai dari sini aku akan mengambil alih urusanmu. Akan kubuat Kaito dan yang lain mengosongkan rumah dan pergi secepatnya. Dengan begitu, kau akan bisa berpuas-puasan dengan istrimu di rumah ini se-ha-ri-an, oke?"
Tawaran yang lumayan. Tapi sayang, aku tahu ada jebakan dibalik ini. "Apa maumu?" tanyaku sambil lalu.
"Hm? Sederhana saja. Aku bisa membuat yang lain pergi dari sini sekarang juga, dan kau harus ikut pesta bujang Kaito nantinya."
Aku menyilangkan tangan, menantang mata Gackt tanpa gentar. "Penuhi syaratku: Tidak ada dancer erotis, tidak ada mabuk-mabukan, tidak ada masuk ke klub malam, dan tidak ada para perempuan yang sering kau panggil 'teman-kamar'."
Gakupo mendengus. "Semua syaratmu itu memang sudah ada dalam rencanaku," Ia mengulurkan tangannya. "Datangi pestanya dan jangan kabur. Deal?"
Aku mengangguk, membalas uluran tangannya untuk aku jabat. "Deal."
Kesepakatan selesai. Gakupo menepuk pundakku dan mulai berjalan ke arah tangga. Aku mengulas seringai kecil padanya. "Oh, dan satu lagi, Gackt." Pria bermata anggrek gelap itu menoleh, mengangkat setengah alis. "Percepatlah dalam mengemasi barang mereka,"
Tawa Gackt berderai sepanjang perjalanannya menuruni tangga. Aku bahkan mendengar dia berteriak, "Tanpa pengaman jauh lebih nikmat, Mikuo! HUAHAHAHAHAHAHA!"
Whatever.
Aku berjalan kembali ke kamar setelah semuanya sudah pamit pulang. Gakupo dan Kaito adalah yang terakhir pamit. "Apa kau yakin kau sudah benar-benar fit? Kata orang, bercinta itu adalah kegiatan yang cukup menguras tenaga." ujar Kaito sebelum pulang. Aku hanya mengangguk membalasnya.
Gackt menepuk pundakku. "Well, kalau begitu, selamat bersenang-senang. Dustamu pada Kaito pun juga akan menjadi realita sebentar lagi, bukan? MWAHAHAHAHAHAHA!"
Aku tidak memedulikan ocehannya. Lalu mengunci pintu utama dan kembali berjalan menaiki tangga untuk ke kamar.
Suasana jadi sunyi. Rumah tidak ada orang.
Jantungku berdegup kencang seiring menapaki anak tangga. Keringatku mulai bermunculan. Kakiku berhenti melangkah.
Aku menyejajarkan tangan dengan mata. Jemarinya bergetar sedikit. Ternyata memang benar, aku gugup.
Gugup.
Oh, aku ingin sekali menertawai diriku sendiri sampai mati rasa. Ini konyol. Melawan para ilmuwan yang meragukan produk teknologiku saja tak pernah membuatku segentar ini. Kenapa hanya dengan Aria, aku bisa gugup sampai gemetaran?
Perasaan manusia memang sulit dimengerti.
Setelah berjalan hingga mencapai anak tangga terakhir, aku duduk terdiam di sana, merasakan rumah begitu lenggang. Terasa seperti raksasa kosong yang hanya dihuni aku dan Aria.
Berdua.
Aku kembali menelan ludah. Lalu balik untuk berjalan ke arah kamarku dan Aria. Aku hanya berdiam diri di depan pintu itu beberapa saat, mencerna segalanya, memikirkan bagaimana aku bisa sampai di titik ini.
Segalanya tidaklah mudah. Jika saja perhitunganku meleset di malam itu, mungkin aku sudah kehilangan Aria saat ini.
Tapi syukurnya, Tuhan tidak mengizinkan aku gagal.
Wanita di balik pintu ini akan menjadi milikku seutuhnya sekarang.
Perlahan, aku mengambil nafas, menahannya selama lima detik, lalu menghembuskannya lewat mulut. Kuulang hal itu beberapa kali. Dan akupun siap. Sama sekali tak habis pikir kenapa malam (pagi) pertamaku yang resmi bisa membuatku segugup ini.
Sambil mengingat-ingat nasihat Gackt yang tadi, tanganku meraih kenop pintu, memutarnya perlahan, dan bersiap untuk melakukan hal yang seharusnya kulakukan lima puluh delapan hari yang lalu.
.
.
.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Tolong, luangkan waktu kalian sejenak untuk membaca A/N ini, readers.
Makasih, thank you, merci, danke, maturnuwun
Saya nulis ini waktu kebangun di tengah malam.
FF ini… seriusan deh, ngga akan bisa jadi sampai seperti ini tanpa kalian. Mungkin kalo ceritanya saya biarin mendekam di laptop tanpa pernah di-publish, pasti ceritanya ga akan saya lanjutin, bakal mandet di tengah jalan. Tapi syukurnya, cerita ini saya publish dan ada yang mau ngerespon. Review kalian bisa ngebuat saya dapet suntikan energi untuk menyelesaikan fict ini, membantu saya ngelawan Writer's Block, dan otomatis menciptakan konsep di otak saya untuk ngebuat cerita ini jadi unforgetable buat kalian. Saya ngga mau berpikir, 'Ah, ini kan cuma di-publish di web doang, ga bakal dapet duit, ga bakal dapet keuntungan apa-apa'. Engga, justru karena saya publish ini di FFnet, saya malah dapet suatu hal yang lebih berharga daripada uang, yakni apresiasi kalian yang berupa review. Karena sejatinya, sebuah karya, baik berupa sastra maupun seni, butuh untuk diapresiasi. Dan review kalian itu adalah bentuk apresiasi terbesar yang saya dapatkan sepanjang saya menulis. Jadi makasih, beneran deh, makasih banget.
Dan, kalo ada yang ngerasa ngga dihargai, saya mohon maaf. Saya ga bermaksud ngebuat kalian merasa digituin. Kalo ada review yang ngga saya bales, itu semua ada alasannya kok. Entah itu karena masalah jaringan, takut nge-spoiler, dll. Tapi kalian harus tahu: tiap-tiap dari kalian yang membaca berharga bagi saya. Review kalian adalah 'bayaran' atas 'kerja' saya.
Jadi…
Thank you for reviewing
Thank you for following
Thank you for favoriting
And last but not least, thank you for reading. Makasih udah mau meluangkan waktu kalian dari kesibukan dunia untuk membaca karya saya.
So, thank you, for every single thing you give to me.
-S
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
And here goes the extras
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
.
.
.
.
.
.
"Aria,"
"Hm?"
"Siapa yang mengganti pakaianku? Dalamannya pun juga sudah diganti ternyata."
.
.
.
.
.
"Aria?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei, Aria?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei, kenapa tidak menjawab? Dan kenapa mukamu merah begitu?"
.
.
.
.
.
.
"…"
.
.
.
.
.
.
.
"Err, Mikuo… yah… uhm, itu… itu aku"
.
.
.
.
.
.
.
.
"…"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dasar curang. Kemari, sekarang giliran aku yang melakukannya padamu,"
.
.
.
.
FIN (of extras)
