Normal P.O.V

Pagi itu terlihat biasa saja. Telihat seorang perempuan tertidur dengan pulasnya, padahal sudah hampir waktunya siang hari. Mungkin dia habis bergadang tadi malam ?

Tidak lama kemudian, ia terbangun. Ia mengucek kedua matanya lalu melihat sekitar. "Ah... aku kesiangan..."

Ia langsung bangun lalu merapikan futonnya. Ia langsung turun menuju ruang keluarga, tempat ia selalu berkumpul dengan saudara-saudaranya.

"Ah... Ohayo nii-san." Sapa Miho dengan pelannya, efek karena baru bangun.

Matsuno Miho, anak angkat alias anak ketujuh dari matsuno bersaudara.

Mereka langsung menoleh ke arah adiknya dan menyapa kembali. "Ohayo Miho."

Miho langsung ke dapur untuk minum lalu kumpul bersama keenam kakakku di ruang keluarga, dimana mereka selalu berkumpul.

"Miho tidak sarapan ?" Tanya Choromatsu, anak ketiga dikeluarga Matsuno.

Miho menatapnya sebentar lalu mengangguk. Ia pun ikut makan di meja bundar kecil itu. Ia duduk di antara Osomatsu, anak pertama dan Todomatsu, anak keenam.

"Ittadakimasu." Ucapnya lalu mulai menyantap sarapan paginya.

"Miho my sister~ kenapa kau terlihat tidak sehat hari ini, sister ?" Tanya Karamatsu, anak kedua yang sangat menyakitkan, dalam artian lain.

Tiba-tiba Jyuushimatsu, anak kelima, langsung menyetuh kening Miho dari belakang. "Miho-chan tidak sakit ! Suhu tubuhnya cukup sehat untuk bermain Baseball ! Muscle ! Muscle ! Hustle ! Hustle !"

Miho menoleh ke arah Ichimatsu, anak keempat yang cuma menghela nafas. Seperti biasa, dia benar-benar tidak perlu membuat nafasnya dengan sia-sia.

"Ngomong-ngomong, siapa yang mau ke pachinko ?" Ajak Osomatsu.

"Osomatsu nii-san, sebaiknya kau berhenti pergi kesana." Ucap Choromatsu yang sepertinya tidak suka dengan ajakan Osomatsu.

"Kalau balapan kuda ?" Tanya Osomatsu lagi dengan wajah polos.

Mereka semua bisa melihat urat di dahi Choromatsu siap untuk memberikan ceramah panjang lebarnya.

"Gochisousama." Ucap Miho tiba-tiba dan langsung berdiri membawa mangkuk dan peralatan makanan lainnya menuju dapur untuk dicuci.

Hampir setiap pagi seperti itu. Tiap harinya, pasti seperti itu, tetapi saat siang hari, mereka selalu menemukan berbagai kejadian unik. Ini semua berawal dari kedatangan Miho di keluarga Matsuno.


10 Tahun yang lalu...

Seorang gadis sedang menyapu halaman panti asuhan, tempat ia dirawat. Setiap hari ia menyapu sambil mengeluarkan helaan nafas. Sekali-sekali ia melihat jalanan di depannya, berharap ada seseorang datang mengadopsinya.

Begitu selesai menyapu, ia kembali masuk ke dalam panti asuhan untuk mengurus cucian.

Karena lelah menunggu orang tua asuh yang baru, ia pun membuat kesibukan seperti mengurus pekerjaan rumah tangga di panti asuhan tersebut.

"Permisi..."

Ucap seseorang, terdengar seperti seorang ibu-ibu. Gadis tersebut langsung menghentikan kegiatan mencucinya dan langsung menemui tamu tersebut. "Ah... maaf, ibu panti sedang keluar sekarang."

Ibu paruh baya tersebut mengangguk mengerti. "Oh... maaf merepotkanmu, tapi apa bisa kau sampaikan sesuatu padanya ?"

Gadis tersebut mengangkat alisnya sebelah lalu mengangguk ragu.

"Aku sedang mencari anak yang tidak merepotkan. Kalau bisa, anak itu kisaran umur anak kelas 3 SMA. Ah, jangan lupa yang bisa mengurus pekerjaan rumah tangga." Jelasnya.

Sang gadis menatap ibu-ibu tersebut tidak percaya. 'Kalau mau cari pembantu, jangan disini !'

Sang gadis mengangguk kecil sambil tersenyum paksa. "Baiklah, saya akan memberi tahu ibu panti nanti."

Ibu tersebut mengangguk sambil tersenyum lembut. "Baiklah, terima kasih. Besok saya akan datang lagi."

Dengan begitu, ibu paruh baya tersebut langsung keluar yang disusul dengan helaan nafas dari Sang gadis.

Gadis tersebut pun kembali mengurus cucian.


Malamnya, gadis tersebut langsung menjelaskan kejadian sebelumnya kepada sang ibu panti.

"Ah~ padahal kalau mencari pembantu kan gampang sekali..."

Ibu panti menatapnya dengan heran. "Kau yakin menganggapnya seperti itu ?"

Sang gadis langsung menoleh kepadanya. "Maksudnya ?"

Ibu panti tertawa kecil sambil menepuk punggungnya. "Dia mencari anak sepertimu ! Bisa diandalkan dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, berumur sekitaran 17-18 tahun, dan tidak merepotkan."

Mata Sang gadis membulat sempurna. "Eh ? Eeeee !? serius ? artinya aku bisa mendapatkan orang tua asuh ?"

Ibu panti mengangguk lembut. Ia pun langsung bersorak senang. "Yes ! Aku akan siap-siap untuk besok ! Selamat malam bu !"

Sang gadis langsung menuju kamarnya untuk bersiap menemui ibu paruh baya sebelumnya.


"Yak, inilah anak yang kau inginkan."

Sang ibu paruh baya memperhatikan dari atas sampai bawah Sang gadis dengan serius. "Kau yang kemarin kan ?"

Sang gadis mengangguk kecil. "I, iya..."

"Kalau begitu, aku ingin mengadopsinya." Ucap sang ibu paruh baya tersebut yang langsung membuat Sang gadis tersenyum lebar. "Be, benarkah ?"

Sang ibu mengangguk. "Aku sudah memperhatikanmu beberapa minggu sebelumnya dan akhirnya memutuskan untuk mengadopsinya. Namaku Matsuno Matsuyo."

Sang gadis mengangguk mengerti tapi langsung menunduk setelahnya. Matsuyo menatapnya heran. "Ada apa ? kau tidak mempunyai nama ?"

Ibu panti mengangguk. "Benar, dia kehilangan memorinya 10 tahun yang lalu. Jadi, dia tidak mengingat apapun, bahkan namanya."

Matsuyo mengangguk mengerti. Ia pun meraih puncak kepala Sang gadis lalu membelainya. "Kalau begitu, aku akan mengadopsinya dan memberikannya nama."

Sang gadis menatapnya tidak percaya. Tanpa ia sadari, air matanya sudah berjatuhan. "A... arigato... arigato gozaimasu... Matsuyo-san..."

Matsuyo memeluk Sang gadis. "Kalau begitu, kepak barang-barangmu. Besok, saudaramu akan menjemputmu besok."

Matsuyo langsung mengeluarkan sebuah kertas. "Ini adalah sebuah peta menuju rumah. Aku juga sudah menjelaskan detailnya disitu."

Matsuyo pun pamit pergi.


Sang gadis keluar dari stasiun kereta api sambil menatap surat atau mungkin lebih tepatnya peta yang tidak jelas.

"Ugh, Matsuyo-san tidak memberitahu dimana Aku harus bertemu anaknya..."

Sang gadis pun langsung berjalan hingga seseorang menepuk pelan pundaknya. "Apa kau anak baru yang diadopsi ?"

Sang gadis memberikan tatapan tidak percaya. 'Ada orang asing berbicara denganku !'

"Ah, jangan terkejut. Namaku Matsuno Choromatsu. Kaa-san menyuruhku untuk menjemputmu." Ucapnya.

Dia mengenakan kemeja hijau dan celana berwana coklat muda. Kalau dilihat-lihat, dia anak yang cukup sopan juga.

"Senang berkenalan denganmu dan maaf kalau sudah merepotkanmu."

Choromatsu cuma menggelengkan kepalanya. "Tidak apa. Ayo, kuantar menuju rumah barumu."

Mereka berdua pun berjalan keluar dari stasiun dan menuju distrik perbelanjaan.

Sang gadis hanya bisa cekikikan melihat sikap Choromatsu yang kadang gagap sendiri dengan wajahnya yang memerah.

Tiba-tiba Choromatsu berhenti. Sang gadis menatap ke samping dan melihat toko merchandise idol. "Kau ingin singgah ?" Tanya gadis tersebut kepadanya.

Choromatsu menatapnya sebentar lalu bertanya. "Tidak apa ?"

Sang gadis mengangguk yang artinya iya.

Dia langsung masuk sementara Sang gadis menunggu di depan toko. Selagi menunggu, Sang gadis mengambil ponselnya.

"Eh ? kau anak yang diadopsi itu kan ?" Tanya seseorang yang membuatnya terkejut.

Sang gadis langsung menatap orang tersebut dan melihat Choromatsu yang tiba-tiba mengganti bajunya. Kali ini dia menggunakan topi vedora dan kemeja putih dengan dasi berwarna pink (lucunya) dan cenala pendek yang menyerupai warna dasinya.

"Ah... benar dan kukira sudah kuberitahu kepadamu, Choromatsu-san." Ucap Sang gadis sweatdropped.

"Oh, namaku Todomatsu, bukan Choromatsu nii-san." Ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Sang gadis berpikir sebentar. 'Oh, anak kembar ya ?'

"Bagaimana kalau kuantar ke rumah ? Choromatsu nii-san kan lagi belanja." Ajaknya.

Sang gadis hanya mengangguk. Kedua pun berjalan meninggalkan Choromatsu sendiri.


"Aku harap kau bisa senang menjadi salah satu keluarga Matsuno." Ucap Todomatsu membuka topik pembicaraan.

"Aku harap juga begitu."

Sang gadis menganggap Todomatsu orang yang tipe easygoing. Menurutnya, Todomatsu sangat nyaman diajak bicara.

"Ngomong-ngomong, umurmu berapa ?" Tanya Todomatsu dengan puppy eye seperti sedang mengharapkan sesuatu.

"17 tahun."

Todomatsu menatap Sang gadis sebentar lalu melambungkan kepalan tangannya ke atas. "Yatta ! yatta ! yatta ! Akhirnya Aku punya adik !" Seru Todomatsu tiba-tiba.

"Todomatsu-san, kau anak bungsu ?" Tanya Sang gadis.

Dia mengangguk dan keduanya pun melanjutkan pembicaraan hingga di jembatan, keduanya pun bertemu dengan kenalan Todomatsu. Todomatsu menyuruh Sang gadis untuk menunggunya sebentar.

"Ah, Karamatsu-girl~ apa kau sedang sendirian ?" Tanya seseorang yang membuat Sang gadis terkejut lagi.

Sang gadis langsung menoleh dan...

"Todomatsu, ada apa dengan pakaianmu ?" Tanyanya kebingungan.

Dia melihat Todomatsu menggunakan tank top berwarna biru dengan mukanya sendiri tertempel disitu dan celana bling-bling. Tidak lupa dengan kacamata hitam dan jaket kulit hitamnya.

Sang gadis hanya bisa melongo melihatnya.

"Non non non, my name is Karamatsu~" Ucapnya.

Sang gadis mengangguk yang artinya saudaranya adalah anak kembar 3.

"Oh, salam kenal Karamatsu-san."

Karamatsu hanya mengibas rambutnya lalu merangkul saudarinya. "Mau kuantar kerumah, karamatsu girls ?"

Sang gadis hanya bergidik ngeri tapi mencoba mengangguk sambil tersenyum pahit.

Keduanya langsung berjalan pulang meninggalkan Todomatsu dengan teman ceweknya.


Jujur saja, walaupun kata-kata Karamatsu sangat menyakitkan dan gayanya yang terlalu berlebihan, Karamatsu orang yang sangat baik. Begitulah pendapat Sang gadis tentang sauadaranya yang satu ini.

"Ah, Aku menemukan Karamatsu girlsku yang hilang." Ucap Karamatsu tiba-tiba langsung berlari entah kemana.

Sang gadis langsung mengejar Karamatsu yang menghilang tiba-tiba lama, Sang gadis kehilangan jejak dan berhenti mencari Karamatsu. Sang gadis langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kertas. Sang gadis melihat isi kertas sebelumnya.

"Harusnya, dari sini Aku bisa sampai di rumah..."

Sang gadis pun mulai berjalan hingga sebuah bola baseball mendarat di punggungnya dengan kuat.

DUK

"Ow !"

Sang gadis langsung berlutut menahan rasa sakit. 'Siapa yang melempernya !?'

"GOMEN NASAI !" Seru seseorang dari kejauhan.

Sang gadis menoleh ke asal suara dan melihat Choromatsu ? Bukan, Todomatsu ? Ah... Karamatsu ? Bukan ! jadi siapa !?

Mereka berdua pun sampai di tempat Sang gadis berlutut seperti orang bodoh.

"Maafkan kami ! Kami benar-benar tidak sengaja ! Aku minta maaf ! Bahkan Ichimatsu nii-san juga minta maaf ! Aku mohon jangan marah !"

Sang gadis melihat pria yang memakai seragam pemain baseball yang dominan berwarna kuning dan seorang pria yang menggunakan sweater berhoodie berwarna ungu tidak lupa dengan masker yang menempel di dagunya.

Tapi yang membuatnya tambah heran, mereka kembar dan mirip dengan saudara angkatnya !

"Ah, pasti punggungmu sakit, mau kugendong ?" Tanya si pemain baseball tersebut.

Sang gadis spontan menggeleng menolak bantuannya. Sang gadis pun berusaha berdiri sebisa mungkin tapi sayangnya, rasa sakit yang terasa di punggungnya membuat dirinya susah untuk berdiri hingga terasa ingin jatuh.

Pria yang menggunakan masker langsung menggendongnya ala bridal style. "Di-diam."

Sang gadis hanya diam sesuai yang diperintahkan.

"Apa kau anak yang baru saja diadopsi kaa-san ?" Tanya si kuning dengan senyuman lebar tertempel di bibirnya.

Sang gadis hanya mengangguk dan si kuning lompat dengan girang sementara pria yang menggendongku blushing tanpa alasan.

"BERNAHKAH !? Kalau begitu namaku Jyuushimatsu ! Senang berkenalan denganmu ! Aku suka bermain baseball ! Muscle ! Muscle ! Hustle ! Hustle !"

Sang gadis hanya mengangguk lalu menatap pria yang menggendongnya, berharap diberitahu juga nama sang penggendong.

"Ichimatsu, itu saja. Tidak ada yang perlu kau tahu." Ucapnya dingin.

Sang gadis pun terdiam lagi. Sepanjang perjalanan, Sang gadis cuma bisa mendengar Jyuushimatsu meneriakkan kata Muscle dan Hustle berulang kali sementara Ichimatsu terlihat komat-kamit tidak jelas, membuat Sang gadis terheran-heran.

Tidak lama, akhirnya Sang gadis menydari sesuatu,

'Tunggu dulu... ada yang aneh... saudaraku... KEMBAR 5 !?'


Sesampainya mereka di depan rumah baru sang gadis, Ichimatsu langsung menurunkannya. Sang gadis pun berusaha berjalan sebaik mungkin menuju ke dalam rumah.

Jyuushimatsu mengantarnya menuju ruang keluarga dimana disana sudah ada Matsuyo dan Matsuzou.

"Ah, Okaeri~"

Sang gadis membungkukkan tubuhkan untuk menunjukkan hormat. "Tadaima, Haha, Chichi."

"Hahaha, kau tidak perlu terlalu formal, santai saja." Ucap Matsuzou.

"Ah, Aku tidak mau... Aku sangat bersyukur kalian masih ingin mengadopsiku. Aku benar-benar sangat berterima kasih kepada kalian." Jelas Sang gadis, kembali melakukan ojiginya.

Matsuyo dan Matsuzou hanya mengangguk mengerti.

Sebenarnya, Sang gadis ini kehilangan orangtuanya saat berumur 7 tahun. Selama 10 tahun, tidak ada orang yang ingin mengadopsinya.

"Jyuushimatsu, panggil saudara-saudaramu untuk berkenalan dengan adik baru kalian." Pinta Matsuyo.

Jyuushimatsu langsung berlari ke lantai atas dan memanggil seluruh anggota keluarga.

Saat mereka semua turun, nyaris dari mereka semua dikenal oleh Sang gadis . 'Eh !? mereka kembar 6 !?'

Sang gadis melongo melihatnya. Sang gadis mengenal mereka semua kecuali yang menggunakan sweater hoodie berwarna merah. Mereka pun memperkenalkan diri.

"Namaku Matsuno Todomatsu, senang berkenalan dengamu adik baru~ kapan-kapan kita jalan bareng ya."

"MATSUNO JYUUSHIMATSU ! AKU SUKA BASEBALL ! mau main bersama ?"

"Matsuno Ichimatsu."

"Namaku Matsuno Choromatsu, senang bertemu denganmu. Semoga kau nyaman tinggal bersama kami."

"My name is Matsuno Karamatsu. Kau akan menjadi Karamatsu girls-ku yang pertama, adik baru~"

"Matsuno Osomatu ! Aku ketua disini. Kuharap kita bisa akur !"

Sang gadis terdiam melihat mereka semua. Mereka kembar tapi berbeda.

SANGAT BERBEDA. Pikir sang gadis.

"Jadi siapa namamu ?"

Sang gadis terdiam sesaat. Mereka semua mengerti kenapa sang gadis tidak menjawab. Matsuyo

"Miho." Ucap Osomatsu.

Sang gadis menoleh. "Eh ?"

Osomatsu menggosok bawah hidungnya dengan jari telunjuknya. "Bagaimana kalau dipanggil Miho saja."

"Cocok sekali dengannya, buraza~"

"Bagus sekali nii-san."

"Sangat cocok untuk gadis tercantik sepertinya."

"COCOK ! COCOK ! COCOK."

"Hm... cocok kok..."

Osomatsu dengan pedenya langsung berdiri di depan Sang gadis. "Mulai sekarang namamu Miho. Senang berkenalan denganmu, adik baru."


Target berikutnya, Matsuno Miho. Anak yang 10 tahun lalu hampir mati tapi dibiarkan hidup kembali.

Berikutnya, mungkin sudah tidak ada kesempatan baginya jika dia tidak terlalu memperhatikan dengan siapa dia berteman...

Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Matsuno Miho...