Ini bukan epilog ya, tapi chapter terakhir. Yang lalu-lalu itu saya sok tahu ngomong perkara chapter depan adalah epilog. Setelah saya searching, epilog itu ternyata isinya cuma sedikit, paling banyak 5 lembar Ms. Word. Sementara ini lembarnya ada banyak gilee. Jadi, semoga kalian ngga muntah ya, baca chapter sebanyak hampir 6000 words (atau setara dengan 23 halaman) ini.

Kalo mulai ngantuk di tengah cerita, udah jangan dilanjutin. Tidur aja sana.

Now, I shall present you the last chapter of Hatsune Mikuo's Mirror.

Enjoy!


14.04.13-13.05.14

-Hatsune Mikuo's Mirror-

By Creativeactive

Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton First Media, etc.

Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes

Warning: slight mature content, spark of angst, touch of fluff, bit of out of topic in a few scene

Rate: 13+

[I do not get profit by making and publishing this story. The only profit I gain was only by getting your review :D]


.

.

.


Sluiting - Inversi Lateral


.

.

.

Suara sepatu hak membentur tanah mencuri perhatianku. Di belakang sana, sambil menuruni tangga dengan anggun, sang Putri Es mengenakan dress berwarna biru batu koral bercampur jejak-jejak hijau hutan yang menjulur dari bawah dan mengais-kais ke atas. Butir-butir kristal yang menempel acak di bagian abdomennya memantulkan kembali sinar yang menerpa. Lapisan luar yang transparan untuk bawahan mengembang sampai ke mata kaki. Rambutnya ia gelung dengan model messy bun dan diberi korsase yang terlihat seperti sulur-sulur tanaman rambat, menjadikan lehernya terlihat lebih jenjang dari jarak jauh.

Untuk sesaat, aku akan mengira ia seorang ratu peri hutan, semacam Tinkerbell dan kawan-kawannya. Kecantikannya membumi. Aku bahkan sampai dibuat membeku di tempat. Bersiap menampar diri sendiri kalau saja aku sampai menganga lebar.

Yah, untungnya, itu tidak terjadi.

Dan sebagai kompensasinya, aku malah jadi tergagap saat Aria bicara padaku.

Bagus sekali.

"Kau sudah siap berangkat, Mikuo?"

Aku menelan ludah, menggangguk perlahan, masih saja merasa gugup padahal sudah melakukan malamcoretpagi pertama kami dua bulan yang lalu.

"Aku kunci pintu rumah dulu ya, kau siapkan mobilnya saja."

Di balik garasi, mobilku sudah siap, mengkilap dan bersih bekas dicuci tadi pagi. Aku memanaskannya sebelum mengemudi keluar rumah.

Saat di perjalanan, iringan musik klasik memenuhi seisi mobil di mana Aria duduk di sampingku dengan sebuah mantel tersampir di pangkuan. Udara akhir bulan Februari masih menyisakan hawa sejuk khas musim dingin. Aku menyalakan penghangat ruangan dalam mobil. Dan Aria bersenandung mengikuti musik klasik yang mengalun lembut di telingaku.

"Hm, Mikuo,"

Mataku tak berpindah dari jalan raya. Aku menjawab berupa gumaman tak jelas.

"Apa kau tahu, Miku sebentar lagi mau mengadakan konser come back?"

Kepalaku mengangguk.

"Kita nonton ya?"

Perempatan jalan di depanku dipenuhi oleh banyak kendaraan lalu lalang. Macet, tumben sekali. Aku pun segera banting setir dan berniat menggunakan jalan pintas sebagai alternatif. "Tidak usah,"

Aku tidak melihat bagaimana raut wajah Aria. Tapi kemudian dia bertanya lagi, "Memang kenapa?"

Untuk sesaat aku tidak menajawab, sibuk menyusuri jalan penuh tikungan dan menaikkan laju kendaraan. "Penuh, berisik, mengganggu." Balasku diplomatis.

Jalan raya yang kutemui menampakkan lampu merah yang menggantung di atas tiang, membuatku menghentikan laju kendaraan. Aku menoleh pada Aria yang menundukkan kepalanya, terlihat kecewa.

"Kenapa kau tiba-tiba mau nonton konser Miku?" kuhempaskan tubuhku bersender di jok mobil, meliriknya tanpa menoleh. "Biasanya juga menonton di rumah,"

Kepala Aria terangkat sedikit. Melirikku dengan mata biru indahnya yang berkedip-kedip lucu. "Karena ini konser come back-nya, Mikuo. Dia pasti butuh dukungan dari keluarganya juga, bukan cuma dari fansnya saja." Jawabnya halus.

Aku menegakkan punggung, kembali berfokus pada jalanan saat lampu oranye menyala, lalu segera ganti gigi dan tancap gas begitu warna hijau bergantian mengambil pendar. "Baiklah, kita nonton, tapi di kursi VVIP. Aku tidak mau berdesak-desakkan dengan fansnya yang suka menggila."

Aku tidak melihat, tapi bisa kurasakan kalau Aria tersenyum sumringah. Terdengar dari nada bicaranya yang jadi periang. "Benarkah?" saat mengatakan ini, aku yakin, matanya pasti berbinar-binar.

"Yeah,"

"Mikuo, kau serius kan?"

"Uh-huh,"

"Maksudku, kau benar-benar akan datang kan?"

"Iya, Aria, iya."

"Lalu, nanti kau mau berada di sana sampai acaranya habis kan?

"Hm,"

"Terus, nanti kalau acaranya sudah sampai tahap yang menggila kau tetap akan had—"

"Aria, kalau kau tidak diam-diam juga aku akan menciummu." Sambarku tenang, tetap terkendali. "Ah, di sana ada tempat sepi. Aku bisa melakukan hal yang lebih kalau kau masih tidak mau diam juga. Lagipula, aku belum pernah melakukan itu di mobil sebelum ini. Sampai sekarang aku masih penasaran bagaimana rasanya jika kau meli—"

"Aku akan diam, Mikuo. Janji."

Aku menyeringai, puas. "Anak baik," seringai yang bermain di bibirku tak kunjung lepas dari wajah. Memang kapan lagi aku bisa menggoda cewek jenius?

Tawa setan bergema di pikiranku.

Well, mungkin, aku benar-benar akan melakukannya di dalam mobil. Tapi itu kapan-kapan saja, jelas tidak boleh sekarang. Kaito bisa mencak-mencak nanti jka pernikahannya tertunda lama hanya karena sahabatnya tidak kunjung datang karena sedang—ehem—'berhubungan' dengan istrinya.

So get a grip of yourself, Hatsune Mikuo.

Pagi ini, tepat jam 9 nanti, Kaito akan berada di altar bersama Meiko untuk mengucapkan sumpah setia. Resepsi pernikahan akan digelar sore harinya di rumah Kaito. Aku harus datang ke gereja lebih pagi karena Gackt merencanakan suatu kejutan untuk mobil pengantin mereka. Mengingat kejahilan yang akan kami lakukan nanti membuat moodku semakin membaik. Lagipula nanti, berhubung Gakupo yang menjadi best man-nya, aku yakin ia pasti akan merencakan hal super gila untuk bulan madu Kaito.

Ah, aku tidak sabar mendengar ceritanya.

"Mikuo, ponselmu berdering." Ucap Aria. Mataku teralih sekilas pada ponsel yang bergetar-getar di dashboard mobil.

"Kau yang angkat," sahutku padanya, yang diterima anggukan selagi aku memutar kemudi.

Usai percakapan pembuka singkat di telepon, istriku berkata, "Ini dari Yuuma."

Aku mengerjap. "Apa katanya?"

"Ia mau bicara denganmu,"

"Loud speaker saja,"

Aria mengikuti perkataanku. Sejenak kukira Yuuma akan membahas masalah uang, pekerjaan, atau mungkin sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan Kaito, berhubung dia juga diundang. Tapi yah, dugaanku sedikit melenceng.

"Maaf, senpai. Tapi bisakah kau sampaikan permintaan maafku pada Shion-san karena tak bisa menghadiri pernikahannya?"

Dahiku mengernyit. Menatap ponsel yang digenggam Aria dengan sangsi. "Kau sedang ada masalah, Yuuma?"

"Yah, semacam itulah."

"Lalu kenapa tidak minta maaf langsung pada Kaitonya? Kau kan bisa meneleponnya sendiri."

Suara di sana terdiam sesaat. "Aku tidak tahu nomor telepon Shion-san."

Aku mendecak. Banting setir, putar balik kemudi karena ada kemacetan terkutuk di depanku. "Sangat mengecewakan, Yamaha Yuuma. Kau membuatku malu. Bukankah aku sudah memberimu pelajaran tentang bagaimana cara melacak nomor ponsel seseorang?"

Yuuma terdiam kembali. "Tidak sempat. Aku sudah mau take-off, senpai."

Kakiku menekan rem mendadak. Ada kucing tiba-tiba berlari di depan mobilku. "Oi, sebentar. Kau sekarang ada di bandara?"

"Ya."

"Mau ke mana?"

"Jerman. Rektor kampusku tiba-tiba menyuruhku untuk ke sana hari ini juga, ada urusan mendadak yang wajib kuhadiri."

Sekarang giliranku yang diam. "Baiklah, permintaan maafmu akan kusampaikan pada Kaito."

"Terima kasih, senpai." Ia diam sejenak, aku bisa mendengar suara-suara desingan dari sana. Mungkin itu suara pesawat. "Dan satu lagi, tolong katakan padanya kalau aku sudah mengirimkan hadiah sebagai bentuk permintaan maafku. Perkiraanku hadiahnya akan datang tiga jam lagi di rumahnya."

"Yeah, aku akan menyampaikannya juga."

Setelah beberapa detik, ia kembali berkata, "Dan… uhm… senpai? Boleh kuminta tolong lagi?"

Aku mengedikkan bahu. "Apapun asal tidak merepotkan."

Suara desingan di telepon semakin menguat. Kurasa, Yuuma sedang menelepon sambil berjalan ke arah pesawatnya. "Aku… itu… uhm…" ada jeda lama sekali. Ini panggilannya masih tersambung apa belum sih? Tapi setelah kucek layarnya, ternyata panggilannya masih belum diputus. "Aku… uh, yah…" Yuuma menelan ludah. "Tidak jadi. Danke und auf wiedersehen, Mikuo-senpai." (arti: terima kasih dan sampai jumpa)

Lalu sambungannya terputus.

Apa-apaan anak ini?

Aku memberikan tatapan tak percaya pada ponsel yang dipegang Aria. Bocah itu kenapa sih? Jarang-jarang dia gugup seperti itu. Dia mencurigakan. Benar-benar aneh.

"Ah, sayang sekali," Ujar Aria lesu. "Yuuma tidak ikut pestanya."

Aku segera menoleh, memicingkan mataku, curiga.

"Pardon me?"

Aria menatapku dengan matanya yang polos. "'Pardon me' what?"

"Pardon me, karena aku tak tahu kenapa kau jadi lesu saat tahu Yuuma tidak ikut."

Mata Aria berkedip-kedip lucu. Damn, andai saja aku sedang tak menyetir sekarang, mungkin aku sudah menciumnya. Kurasa aku harus mempertimbangkan opsi untuk menyewa supir agar bisa duduk di belakang bersama Aria.

"Kau cemburu, Mikuo?"

Aku mendengus remeh. "Hell no,"

Sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya. "Kau pembohong yang payah"

"Tidak, kau yang payah."

"Oh, Mikuo, mukamu merah."

Mataku membelalak padanya. "Kau mau adu tanding siapa yang mukanya paling merah jika digoda?"

Aria tertawa lepas, sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan serta memegangi perutnya. Suaranya yang merdu mengisi tiap-tiap ruang dalam mobilku. "Ah… Mikuo, kau menggemaskan saat sedang menampik perasaaanmu,"

Tubuhku membeku.

Apa tadi katanya?

Menggemaskan?

Aku menggemaskan?

Meng-ge-mas-kan?

She must be joking.

"Jangan samakan aku dengan kata sifat yang sama seperti kucing-kucing itu."

Tawa Aria surut perlahan. "Ah… Jasper, maksudmu? Iya, dia memang menggemaskan. Tapi kau lebih menggemaskan di saat-saat seperti ini."

Sial. Kalau saja Aria adalah Gackt atau Kaito atau Miku atau siapapun, aku pasti sudah dengan mudahnya mengucap sumpah serapah paling biadab yang pernah kuingat.

"Whatever, Aria." Ucapku malas.

Mobil kembali melaju dengan tenang. Namun tak lama kemudian Aria menggigit bibirnya lalu berkata, "Mikuo, raut wajahmu saat blushing itu menggemaskan sekali. Rasanya aku jadi ingin memelukmu sekarang juga."

Uh-oh. Ide buruk. Karena sedikit sentuhanmu saja sudah mampu membuatku terangsang, Aria. Nanti yang ada alih-alih membawa mobil ini ke gereja untuk menyaksikan pernikahan Kaito, aku justru malah akan membawanya ke hotel terdekat.

"You better don't." Balasku tanpa melihatnya. "Kau cukup duduk saja dengan manis, dan jangan melakukan yang aneh-aneh."

Singkat kata, kami akhirnya sampai di gereja tempat Kaito dan Meiko melangsungkan pernikahan. Belum ada semenit aku menginjakkan kaki di tempat itu, Gackt tiba-tiba langsung menyeretku untuk 'menghias' mobil pengantin Kaito.

"Buat mobilnya terlihat norak, tapi tidak terkesan menyebalkan!" serunya begitu.

Aku pun menghias bagian belakang mobil, menuliskan kalimat 'Just Married' dengan cat warna pink neon, serta mengaitkan tali yang diikatkan pada kaleng-kaleng berwarna agak mencolok di bemper belakang mobil.

Di bagian depan, Gackt menempelkan bendera-bendera yang sering dipegang anak-anak pada sisi depan kaca spion. Dia juga ikut menuliskan kaliamat 'Just Married' di kaca jendela samping.

Menghias mobil pengantin selesai, dan kami kembali ke gereja untuk bertemu dengan Kaito di ruangan gantinya.

Kaito sedang berjalan mondar-mandir, kentara sekali gestur gugupnya. Wajah tegangnya langsung jadi rileks saat aku dan Gackt masuk. Ia memelukku dan aku bisa mencium harum cologne elegan yang pasti akan membuat para fans Kaito betah berlama-lama di pelukannya. Aku lalu menepuk-tepuk punggungnya, memberi dukungan.

"Kau gugup, Kaito?" tanyaku santai.

Pria itu memandangku lalu tersenyum canggung. Kemudian ia duduk di kursi dekat kami. "Memang siapa yang tidak?"

Aku mengangguk setuju, lalu duduk di kursi sebelah kirinya, sementara Gackt ambil kursi di sebelah kanan Kaito. "Wajar. Tapi nanti kau juga senang."

Iris phytalo itu menatapku intens. Aku agak risih dipandangi seperti ini. Kaito yang serius sama sekali bukan Kaito. "Apa kau juga gugup, waktu dulu mau menikah?"

Aku tersenyum, tipis. "Sedikit," jawabku. "Tapi kemudian aku sadar, bahwa dari sekian banyak gadis di luar sana, aku justru melamar Aria, seorang gadis yang bahkan…" Aku kehilangan kalimat, menautkan alis, berusaha mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan wanita itu. Tapi tidak bisa, rasanya sulit sekali. Seakan-akan segala hal yang kualami dengan Aria itu… memang tak mampu dipaham nalar. "Yah, dia belum kukenal seluruhnya. Tidak seperti kau dan Meiko yang sudah mengenal satu sama lain luar-dalam, aku dan Aria justru… tidak terlalu mengenal satu sama lain, tapi di saat yang bersamaan, kami seperti paham akan perasaan masing-masing tanpa harus mengucapkan sepatah katapun. Entah, aku juga tak mengerti. Sulit mendeskripsikannya, Kaito. Satu hal yang kutahu pasti adalah aku…" Mataku terpejam, ingin merasakan getaran hangat di setiap kali aku mengucap namanya. "Aku sangat mencintai Aria," rongga dadaku terasa lega setelah mengucapkannya, aku tidak tahu kenapa bisa begitu. "Aku yakin pada Aria, dan aku ingin bertanggung jawab penuh terhadap kebahagiaan dirinya dan anak-anak kami kelak."

Yang aneh, setelah aku mengucapkan ini, ruang ganti Kaito terasa lenggang.

Tak ada yang bersuara selama limabelas detik penuh.

"Luar biasa." Gackt bertepuk tangan, kepalanya menggeleng-geleng takzim. "Sungguh menakjubkan! Dan hei, Kaito, apa kau dengar itu? Barusan sahabat kita yang maha cuek ini mengatakan sesuatu hal yang romantis! Mwahahahahaha, romantis! Astaga Tuhan… apa yang telah Engkau perbuat pada sahabatku? Tapi jujur, aku menyukai perubahannya. Inilah Hatsune Mikuo, sang pujangga baru abad 21 yang berubah jadi puitis setelah jatuh cinta! Hwahahahahaha!"

Please, Gackt.

"Gakupo benar." Kaito menimpali. Sorot matanya berkawan saat memandangku. "Kau memang sudah berubah, Mikuo. Ke arah yang lebih baik, maksudku. Jika saja kau yang dulu berada di ruangan ini, kau pasti tak mau menghiraukan kami dan lebih memilih untuk duduk di pojok ruangan dan sibuk dengan duniamu sendiri. Kau bahkan jadi lebih peduli dengan perasaan orang lain setelah menikahi IA." Pria itu menepuk pundakku, menyunggingkan senyum dewasa. "Aku senang dengan perubahanmu ini. Kau beruntung mendapatkannya."

"Oh, kau keliru, Kaito sahabatku." Suara flamboyan Gackt menengahi. "Baik IA maupun Mikuo sama-sama beruntung mendapatkan satu sama lain. Lihatlah, bahkan sekarang sikap dingin IA jadi berkurang setelah menikah!"

"Ah, ya, kau benar sekali."

Kami bertiga lalu tertawa, lepas.

Prosesi upacara pernikahan Kaito-Meiko berlangsung lancar. Gackt juga memberikan pidato hebat yang menyentuh hati setiap pasangan—iya, iya, pasangan itu juga termasuk Aria dan aku. Puas?—saat acara makan-makan berlangsung (tanpa menghiraukan fakta bahwa dirinya sendiri itu masih lajang sampai sekarang, duh). Para tamu lalu berangkat menuju rumah Kaito untuk melanjutkan acara resepsi pada sore hari. Ada yang berombongan, ada yang naik kereta, ada yang naik mobil pribadi, tapi semuanya memang sudah diatur.

Tawa Kaito meledak saat melihat mobil pengantinnya yang agak norak dihias tanganku juga Gakupo, sementara Meiko hanya geleng-geleng kepala sambil menatap kami geli. Tapi ia mengaku senang. Dan lagipula, kapan lagi bisa mengerjai Kaito seperti ini?

Dia sudah jadi suami sekarang.

Tak lama kemudian, sesampainya di rumah Kaito, aku dan Aria berpisah. Ia masuk ke dalam rumah Kaito sementara aku berjalan di taman super-luas milik si Bocah Es Krim yang sudah dipasang tenda-tenda untuk para tamunya.

Suasana di rumah Kaito ini sangat… apa bahasa kalian? Romantis. Desain pestanya sangat indah. Lampu-lampu lilit yang digantung di pepohonan terlihat berkilau dinaung langit senja yang diraup malam. Kain-kain satin yang tersimpul di pangkal-pangkal tiang, serta warna hitam malam dan emas yang mendominasi memberi kesan mewah pada desainnya. Aku berjalan-jalan melihat sekitar. Kemudian mataku menangkap sosok Aria yang berjalan membawa mangkuk besar sambil menengok kesana-kemari. Tubuhnya terlihat semakin mungil saat membawa mangkuk besar itu. Mata kami bertemu, lalu terasa seperti ada jeda waktu untuk sesaat. Ia kemudian tersenyum manis, membuatku ingin meleleh, lalu ia berlari padaku.

Mau apa dia?

"Mikuo, ayo bantu aku."

Hidungku mencium aroma saus tiram yang lezat dan menggugah selera. Itu berasal dari mangkuk besar yang dibawa Aria. "Bantu apa?"

Mata biru cerdasnya berkilat indah diterpa lampu-lampu temaram. Aria terlihat cantik. Serius, dia cantik sekali. "Bantu aku menghabiskan ini," ujarnya sembari menyodorkan mangkuk itu kepadaku. Aku menunduk untuk melihat isi dari mangkuk tersebut. Ternyata kepiting.

"Kau mengambilnya di mana?"

"Di dapur. Meiko-san merekomendasikan kepiting ini. Katanya rasanya enak, dikirim langsung dari Hokkaido."

"Hm," aku mencium aromanya yang menguar. Masakannya masih hangat. Pasti dagingnya empuk sekali. "Kau bawa hand-sanitizer?"

Kepala pirangnya mengangguk.

Kami memasuki ruangan berisi meja-meja makan yang dinaung tenda hitam besar. Aria memilih untuk makan di meja pojok, dekat dengan pemandangan taman di luar sana.

"Mikuo, jangan duduk jauh-jauh, aku hanya membawa satu mangkuk."

"Tidak apa-apa, Aria. Aku bisa ambil piring sendiri."

Alis Aria bertaut, matanya memancarkan ketidaksetujuan. "Bukan begitu… Aku ingin kita makan semangkuk berdua…"

Oh…

Aku sungguh tidak peka.

Kepalaku mengangguk, bibirku berkedut menahan senyum yang ingin terkembang di wajah. "Oke, oke." Tanganku terangkat, seperti menyerah. "Ayo kita makan bersama. Sekarang kemarikan hand-sanitizernya."

Aku membuka jasku dan menggantungkannya di kepala kursi yang kududuki, lalu menyeret kursi tersebut tepat di sebelah Aria, hingga satu-satunya jarak yang memisahkan kami hanyalah kain yang menjadi pakaian kami. Kemudian aku menggulung lengan kemejaku sampai siku.

Kedua tangan Aria ia tangkupkan seperti berdoa. Aku mengikutinya lalu berkata, "Itadakimasu."

"Itadakimasu," ucap Aria sambil menggosok-gosokkan telapak tengannya, menatap kepiting-kepiting saus tiram itu dengan mata lapar.

Tangan kami berlumuran saus di sepanjang kami makan. Dan di kepiting pertama, Aria kesulitan membuka cangkang di bagian capitnya yang keras.

Aku mengulurkan tanganku. "Biar aku saja."

Aria menggeleng kecil. "Itu tidak adil. Kau kan juga harus makan."

"Tapi capitnya keras."

"Aku tahu,"

Aku mendesah. "Kau bisa membukanya sendiri?"

"Bisa kok! Lihat, Mikuo, lihat ini!" Aria menunjukkan capit kepitingnya yang sudah pecah sedikit. Lalu ia menggigit capit itu and finally, capit tersebut terbuka sebagian.

Bibirku menyunggingkan senyum geli. Mata wanita itu lalu berbinar-binar menatapku. "Kau lihat itu, Mikuo? Apa kau melihatnya? Aku berhasil membuka capitnya yang keras tanpa harus merepotkanmu!"

Bibirku yang tadinya tersungging ke atas langsung turun.

Tadi dia bilang… merepotkan? Apa selama ini, Aria selalu berpikir bahwa aku merasa direpotkan oleh keberadaan dirinya?

Mulutku terasa kering. Aku kemudian menelan ludah. "Cuma membuka cangkang kepiting saja tidak akan merepotkan untukku, Aria." Ujarku menenangkan. Menenangkan siapa, kau tanya?

Menenangkan diriku sendiri.

Karena aku dulu juga pernah merasa seperti ini. Merasa keberadaan diriku adalah beban untuk orang lain, terutama untuk keluarga bibiku.

Wanita itu memandangiku, lekat. Seperti ingin menyampaikan sesuatu dari pancaran matanya yang kuat dan penuh arti. "Aku sudah banyak membebanimu, Mikuo, dan aku tidak berniat untuk menambah bebanmu lagi," ujarnya lembut.

Aku tidak mengangguk, hanya menatapnya tajam. "Kita harus bicara."

"Bicara saat sedang makan kepiting? Kurasa itu bukan ide yang baik. Itu justru malah akan memperlambat waktu makan kita."

"Aria,"

Wanita itu menghela nafas.

"Aria," panggilku tegas. "Kita ini keluarga, wajar saja kalau kita saling berbagi beban hidup. Dan jangan pernah merasa dirimu itu merepotkan bagiku. Karena, aku sendirilah yang akan menentukan repot atau tidaknya seseorang, bukan kau yang menentukan."

Mata Aria menatapku sekilas, lalu ia menundukkan pandangan. "Maaf,"

"Kenapa minta maaf? Kau ini aneh sekali."

"Maaf karena sudah banyak merepotkanmu."

"Aku bosan mendengarmu minta maaf. Dan untuk masalah repot, kau ini memang sudah merepotkan dari semenjak awal kita bertemu."

Aria memelototiku, lalu menyikut rusukku dengan sikunya.

Dan kalian harus tahu, itu rasanya sakit.

Bodohnya, aku malah tertawa.

"Mikuo!"

Aku mengangkat tanganku. "Maaf, maaf," tawaku mereda. "Tapi, kau jarang sekali marah seperti anak kecil begini. Jadinya lucu saja melihatmu melotot sambil cemberut begitu," aku pun kembali tertawa.

Aria mengibaskan tangannya. "Whatever,"

"Hei, jangan copy kata-kata favoritku,"

"Ah? Kau sendiri juga sering mengikuti kalimatku kan?"

"Itu sudah lain cerita."

"Oh, mencoba berkelit ya?"

"Oke, cukup. Kalau kita bicara terus nanti kepitingnya akan menganggur. Jadi tidak hangat lagi,"

"Ha, mengalihkan pembicaraan."

"No, I'm not."

"Yes, you are."

"Aria, serius nih. Mau sampai kapan berdebat terus?"

Wanita itu melirikku sekilas, lalu berfokus pada makannya yang tertunda.

Kami kembali makan. Dan seringkali tangan kami bersentuhan saat mau mengambil kepiting, mengirimiku sengatan listrik halus yang membuat tubuhku menghangat.

"Say cheese!"

Ckrik!

Baik kepalaku dan kepala Aria sama-sama mendongkak untuk melihat siapa yang memotret tanpa diundang. Tapi sambil berdiri mengenakan dress oranye segar, Gumi terlihat sama sekali tak merasa bersalah dan malah senyum cengengesan.

"Ohhh, Mikuo-san! Wajahmu benar-benar priceless di foto ini!"

Dalam otakku, aku membayangkan tampangku yang paling tolol tercetak jelas di layar kamera itu. "Hapus, Gumi."

"Tidak mau."

"Wajahku pasti terlihat bodoh. Hapus saja."

"Eh, wajahmu tidak terlihat bodoh kok. Aku bilang 'priceless' karena jarang-jarang kau mau menunjukkan kemesraan di depan umum!"

Aria tersenyum. Ia ingin menepuk lengan Gumi tapi kemudian tersadar kalau seluruh tangannya masih dilumuri saus. "Gumi-san… boleh kulihat fotonya?"

"Tentu saja," Gumi menyodorkan kameranya pada istriku, lalu menunjuk pada layar kamera dan tersenyum riang.

"Ini… fotonya boleh kuminta?" tanya Aria sopan.

Kepala Gumi mengangguk-angguk antusias. "Kenapa tidak? Kau tentu boleh mengambilnya, IA-san…"

Aria membisikkan suatu hal pada Gumi, yang tak kutahu apa itu karena walau sudah kudesak berkali-kali Aria tak pernah menjawab. Gumipun berlalu dan mulai berburu foto di sudut-sudut lain. Kami kembali melanjutkan makan, hanya untuk diinterupsi oleh si playboy tukang gombal.

"Selamat ya, selamat! Kalian berhasil membuat para gadis-gadis lajang serta para bujangan sepertiku sirik pada kemesraan kalian!"

Aku menghela nafas. "Kami cuma makan bersama, Gackt."

"Iya, aku tahu! Tapi apa kau lihat? Mana ada di sini pasangan yang asyik makan semangkuk berdua kecuali kalian!"

Kuabaikan celotehan Gackt. Menoleh mendapati dagu Aria yang kotor oleh saus tiram. Aria sendiri sepertinya tidak sadar. Ia tetap makan kepitingnya dengan lahap tanpa peduli juga dengan ocehan Gackt.

Masalahnya, itu saus tiram yang ada di dagunya mau menetesi gaun Aria. Jadi aku berniat untuk mengelapnya. Tapi pakai apa? Tisuue? Baik kedua tanganku dan Aria sama-sama kotor. Jangan harap aku akan meminta bantuan Gackt untuk mengelap dagu mulus Aria.

So, yeah, aku pakai cara alternatif saja.

"Aria,"

"Iya?"

"Menengoklah padaku. Lalu diam dan jangan bergerak."

Alisnya bertaut, bingung. Tapi ia melakukan sesuai apa yang kuperintahkan.

Aku berusaha tak menghiraukan Gackt dan para tamu-tamu lain. Kemudian, mulai mendekat ke wajahnya dan… menjilati dagunya.

Ini cara primitif banget. Sumpah.

Tubuh Aria langsung membeku, tangannya berhenti membuka-buka cangkang kepiting. Aku merasa tergelitik oleh sentuhan kecil ini. Kuusahakan agar tanganku yang berlumuran saus tetap diam, tidak menggerayangi tubuhnya seperti saat kami sedang berciuman.

Saat aku mulai merasakan tubuhku memanas, aku langsung berhenti. Lalu berbisik pada telinga Aria dengan nada yang, yah, sialnya, agak serak. "Tadi ada saus di dagu yang mau menetes ke gaunmu."

Kepala Aria mengangguk kecil. Sementara kepalaku seperti dilempari sesuatu yang lembut terus-terusan. Aku menoleh dan melihat Kamui Gakupo membawa keranjang berisi bunga-yang-entah-didapat-darimana sambil melempariku dengan mahkota-mahkota bunganya.

"JANGAN BERMESRAAN DI DEPANKU, MIKUO SIALAN!" jeritnya kesal. Dan serius nih, dari semua benda, ia malah melempariku dengan bunga?

Dasar hopeless.

Aku menengok dan melihat pipi Aria memerah, ia melanjutkan sesi makannya dengan kikuk.

Mataku mendelik pada Gakupo. "Pergilah, kau menganggu acara makan kami."

"Hah? Mengganggu apanya?! Aku disini justru menjadi penyelamat agar kau tidak melakukan hal yang melewati batas bersama IA-chan! Ini tempat umum, Mikuo! TEMPAT UMUM! Jangan memperkosanya di sini! Kau nanti bisa dipenjara!"

Aku melempar sapu tangan tebal ke arahnya. Tapi ia pun juga segera menangkisnya dengan gesit. Dasar atlet kendo sialan. "Go to hell,"

"And I'll take you there with me,"

Aku mendengus jengah.

Seusai kami selesai makan, acaranya berganti jadi acara dansa. Aku dan Aria tidak ikutan. Kami masih terlalu kenyang untuk berdansa di halaman ini. Jadi selama sesi dansa berlangsung, kami hanya mengamati para tamu berdansa sambil duduk-duduk.

Persis seperti saat-saat di Crypton College.

Dimana kami duduk berdua pada sebuah beranda di pondok kecil belakang kampus, sambil memperhatikan alam sekitar tanpa suara.

Mataku memandangi kaki-kaki para tamu pada rumput-rumput yang sudah dipangkas bersih. Dan kemudian berhenti saat aku melihat di kejauhan, seorang gadis yang duduk sendiri pada bangku di bawah pohon rindang.

Ia hanya menontoni kemeriahan pesta sambil menggenggam sebuah gelas berisi minuman merah gelap di tangannya. Mata gadis itu tidak terlihat kosong ataupun sedih. Dia hanya terlihat…

Kesepian.

Tiba-tiba, lenganku diguncang oleh Aria. "Mikuo, Mikuo, itu Miku." Tunjuknya pada arah yang barusan kupandangi.

Aku memberi tatapan sangsi padanya. "Kenapa kita bisa melihat objek yang sama?"

"Eh, jadi dari tadi kau juga memperhatikannya?"

"Uh-huh,"

"Kita jodoh, kalau begitu."

"Tentu saja, kalau kita tidak berjodoh untuk apa aku menikahimu?"

Sebuah tawa kecil yang anggun terselip dari bibirnya. "Baiklah, kau memang benar." Ia tersenyum geli. "Oh, ya, ayo kita temani Miku. Kasihan dia sendirian dari tadi."

Kami berjalan menghampiri Miku, yang terlihat tidak waspada akan adanya kehadiran orang lain di sampingnya. Dia lagi asyik melamun, kurasa.

Aria duduk di sisi kiri Miku. Matanya lalu memandangku yang tengah mendudukkan diri di sisi kanan adikku. "Apa?" tanyaku setengah berbisik.

Miku seperti orang tersentak. Ia langsung menoleh ke arahku dengan mata melebar. "K-kau… sejak kapan kau ada di situ?"

Bahuku mengedik. "Barusan saja. Kau hanya terlalu larut dalam lamunanmu sampai-sampai tidak menyadari kehadiran kami."

Mata Miku menunduk. "Oh…" ia tersenyum kikuk. "Maaf…"

Aku menghela nafas. "Kau tidak apa-apa?"

"Memang aku terlihat seperti orang yang 'kenapa-kenapa' ya?"

"Tidak juga, tapi yah, dengan semua ini… Kau yakin kau tidak apa-apa?"

Miku mengangguk. "Aku bisa mengatasinya. Nii-san dan IA-san tenang saja." Ia menoleh pada Aria, lalu kembali menatapku dengan senyum penuh arti. "Jangan memikirkanku. Pikirkan saja bagaimana caranya agar IA-san cepat hamil."

Pipiku memanas. Aku mengalihkan pandangan.

Sepertinya, selama sebulan penuh Gakupo pernah tinggal di rumahku, virus mesumnya menular juga pada si Miku.

Langit sudah gelap utuh saat acara berganti menjadi acara melempar bunga. Miku tidak mau ikutan, lebih memilih menonton saja dari sini.

Di ujung sana, Meiko berbalik dari para maiden dan mulai menghitung mundur untuk melempar bunganya. Para gadis-gadis lajang mulai berdesakan mengerubungi tempat itu.

Saat hitungan ketiga, Meiko melempar bunganya dengan kekuatan yang tak kuperkirakan dan bunganya mulai melambung di atas langit malam. Tapi kemudian aku mulai panik. Pasalnya, bunga itu terlempar jauh sekali dari para kerumunan gadis-gadis lajang itu berada. Dan yang membuatku tambah panik adalah, bunga itu malah terlempar… ke arahku.

Duh, maaf-maaf saja ya, tapi aku ini laki-laki, ditambah lagi, aku sudah menikah. Karena premis tersebut, akupun segera berlari menjauhi lemparan bunga terkutuk itu dan melihatnya jatuh di pangkuan—tidak, lebih tepatnya, masuk ke dalam gelas wine milik Miku.

Untung saja bukan Aria yang dapat.

Tepukan tangan bergema dan mulai memenuhi tempat ini. Miku berdiri sambil mengangkat bunganya dengan wajah kikuk. Ia pasti bingung. Kenapa juga bunganya malah sampai ke dia, yang notabenenya jauh dari kerumunan tersebut dan tak berniat ikut-ikutan lemparan bunga?

Semua ini pasti terjadi berkat keahlian Meiko dalam kekuatan melempar. Mengingat ia pernah masuk tim inti softball di Crypton High.

Tepat ketika Miku melangkahkan kaki untuk maju ke kerumunan, sebuah desingan baling-baling helikopter bergerak mendekat dan melayang jauh di atas kami. Tiga buah benda berlapis kain beludru hitam terlempar dari sana dan mulai terjun dengan parasut kecil yang menempel di ujungnya. Aku segera cepat tangkap, berlari ke arah Kaito sambil menjelaskan perihal Yuuma dan ketidakhadirannya.

"Oh, ya? Kalau begitu, tolong sampaikan terimakasihku padanya, Mikuo-kun." Kaito menepuk pundakku, lalu berjalan mendekati tiga buah benda yang menjadi kado pernikahannya.

"Oh, hei, Mikuo, sepertinya yang satu ini untukmu." Ujar Meiko sambil menyodorkanku sebuah kotak lebar berbentuk balok yang tertera tulisan H. M. pada labelnya.

Aku menerima bungkusan itu dan membukanya. Isi dari bungkusan berkain beludru itu adalah sebuah kotak lebar yang seperti sebuah kado.

Untuk apa Yuuma memberiku hadiah? Aku curiga. Jangan-jangan ini hanyalah kotak kado yang berisi tumpukan dokumen pekerjaan, lagi?

Agar rasa penasaranku cepat enyah, aku segera mengambil tempat duduk dan membuka kotak kado itu perlahan. Semoga isinya bukan kertas-kertas…

Yah, ternyata masih berupa kertas sih. Tapi itu bukan kertas tentang surat-surat penting ataupun dokumen kerja.

Hanya sebuah buku sketsa sederhana.

Tanganku membuka dan melihat-lihat sketsa yang ada. Isinya rata-rata sama; sketsa berbagai macam rancangan helikopter beserta letak mesinnya. Aku menghela nafas. Maksudnya ia memberiku ini itu untuk apa, sih?

Aku cuma membolak-balik halaman buku sketsanya, sampai mataku berhenti pada sebuah halaman. Kali ini, yang digambar bukanlah rancangan pesawat terbang dan antek-anteknya, melainkan gambar seorang gadis sedang melihat keluar jendela, berseragam Crypton High, yang hanya digambar bagian belakangnya saja.

Aku melihat sebuah tulisan yang tertera di bagian bawah kertas itu.

10.45 – Jangan terlalu sering melihat ke arah mereka. Memangnya kau tidak bosan menangis, apa? Aku saja bosan melihatmu menangis di atap sekolah. Isakanmu mengganggu tidurku.

Aku tertegun.

Kurasa… buku sketsa ini tidak ditujukan padaku. Lagipula, biasanya juga Yuuma akan menuliskan nama panjangku jika akan mengirimiku sesuatu. Bukan cuma sebuah inisial seperti H. M. ini.

Sebuah realitas menyentakku. Jadi sebenarnya H. M. itu… bukan untuk Hatsune Mikuo… melainkan untuk…

Hatsune Miku.

Mencurigakan. Dua anak itu sebenarnya ada hubungan apa sih?

Aku menutup buku sketsa itu dan mengembalikannya lagi ke tempat semula. Kakiku beranjak mendekati Miku dan Aria yang menatapku penasaran.

"Untukmu," ujarku datar sambil meletakkan bungkusan itu di pangkuan Miku. Kemudian memintanya bergeser agar aku bisa duduk di sebelah Aria.

"Uh… bukannya tadi kata Meiko, bungkusan ini ditujukan untuk Nii-san?"

Aku melingkarkan tanganku di pinggang Aria, merasa lebih nyaman. "Mereka keliru. Meiko pikir inisial H. M. itu untuk Hatsune Mikuo. Tapi setelah kulihat isinya, kuyakin itu sebenarnya ditujukan untukmu."

Miku menatapku, lama, seperti tidak yakin dengan ucapanku.

"Buka saja," Aku berkata. "Lagipula, Yuuma tidak pernah mengirimiku sesuatu dengan inisial. Ia selalu menggunakan nama penuh."

Masih agak sangsi, Miku perlahan mengganti fokusnya dariku kepada kotak di hadapannya. Ia membukanya perlahan, seolah itu adalah kotak rapuh yang apabila disentuh kasar bisa retak.

"Mikuo, memang itu apa isinya?" bisik Aria, mata biru jernihnya sudah menatapku dengan binar-binar penasaran.

Dan tampangnya itu terlihat imut. Lucu banget.

"Nanti kau juga tahu,"

"Kalau aku bisa tahu sekarang, untuk apa aku tahu nanti?"

Aku menghela nafas panjang. Berdebat dengan Aria memang tidak ada habisnya apabila ia sudah 'penasaran'.

"Itu, adalah buku sketsa, dan ada gambar Miku di dalamnya. Puas?"

Ia menggeleng. "Lalu, apa yang kau temukan selain itu?"

Aku mengernyit. "Kurasa… mereka pernah memiliki hubungan sebelumnya. Bukan cuma hubungan sebatas formalitas teman sekolah atau semacamnya. Tapi, yah… entah, aku juga tak mengerti. Tidak terlalu jelas."

Mata Aria beralih untuk menatap Miku. Aku mengikuti pandangannya dan menautkan alis setelah melihat kondisi Miku sekarang.

Ia membekap mulutnya sambil menatap kemana-mana, seperti orang tak percaya. Sementara itu, tangannya yang bebas menggenggam sehelai kertas yang terlihat seperti surat.

Sebentar, tapi tadi aku tidak melihat ada selembar surat seperti itu!

Atau, apa aku kurang teliti mengeceknya?

"Miku, kau tidak apa-apa?" tanya Aria halus, penuh perhatian.

Mata Miku menatap kami bergiliran. Ia membuka mulutnya yang kemudian ia tutup lagi, seakan kehilangan kemampuan berbicara. Miku pun kembali menatap kelain tempat, sambil berusaha bernafas dengan teratur. Bola matanya mencar melihat ke arah lain selain aku dan Aria.

"Miku?"

Miku mengangkat tangannya, seperti ingin berbicara, tapi yang keluar hanya kata 'maaf'.

Dan ia pun berlalu dari hadapan kami.

Adikku itu… dia kenapa sih? Sumpah, baik dia maupun Yuuma belakangan ini jadi aneh.

Sangat mencurigakan.

"Memang gambar sketsa Miku yang kau lihat itu seperti apa, Mikuo?" tanya Aria penasaran sambil bersender ke dadaku.

Aku menahan senyumanku dan dengan tenang membalas, "Itu cuma sketsa Miku yang digambar dari belakang. Lalu ada tulisan: 'Jangan terlalu sering melihat mereka. Memang kau tidak bosan menangis, apa?' lalu entah apalagi lanjutannya. Aku lupa."

"Sebentar, tadi katamu ada kata 'mereka'?"

Aku mengangkat bahu. "Mungkin maksudnya adalah Kaito dan Meiko."

Dan Aria berhenti bertanya perihal Miku lagi.

Penutupan untuk resepsi pernikahan ini pun dimulai dengan pidato-pidato dari masing-masing perwakilan pihak wanita dan pihak pria. Pada akhir acara, Kaito dan Meiko memasuki mobil untuk pergi ke tempat bulan madu mereka. Tanganku melambai diikuti suara sorakan-sorakan dari para tamu yang lain. Tersenyum untuk kebahagiaan mereka berdua.

Dan Miku?

Sang tokoh utama berhasil menelan rasa gelisahnya saat tadi berbicara dengan Kaito. Ia mengucapkan selamat. Dan kali ini, aku tak melihat ada rasa berat hati dari pancaran matanya. Miku benar-benar tulus menyemangati Kaito dan Meiko untuk hidup bersama. Sama sekali tak ada rasa sedih ataupun menyesal. Ia terlihat segar, riang, sehat dan…

Seperti baru.

Sungguh, ini adalah pertama kalinya aku melihat Miku sesegar ini.

Tapi kemudian ia pamit duluan dan segera pulang, diikuti beberapa orang lainnya. Sementara mayoritas tamu yang dekat dengan Kaito-Meiko masih asyik mengobrol dan makan di sini.

Alunan lagu klasik dinyalakan, menambah keindahan suasana malam. Aku tersenyum, melihat Aria tengah duduk di bangku yang tadi Miku pakai, sambil bertopang dagu melihat-lihat sekitar.

"May I have a dance, Mrs. Hatsune?"

Kepala Aria mendengak dan mata biru cerdasnya menangkap pancaran dari mataku. Ia lalu tersenyum manis, membuatku menahan nafas, lalu menerima uluran tanganku untuk berdansa. "Ah, ya… aku lupa, tadi kita tak sempat berdansa karena kekenyangan." Tawa kecil keluar dari bibirnya. Aku menghelanya untuk berdansa di dekat pohon yang dililiti lampu temaram.

Clair de Lune karya Debussy mengiringi dansa kami. Baik aku maupun Aria hanya berdansa dengan gerakan lamban (habis, lagunya juga mendukung, sih). Mata kami saling bertatapan, dan aku bisa melihat refleksi diriku dari pupilnya. Kami berputar-putar hanya di sekitar pohon, sampai tiba-tiba Aria memelukku dan berkata, "Mikuo, tadi saat kau pergi berbicara dengan Kaito, Kamui-san menanyakanku sesuatu."

Kalian mungkin tidak tahu, tapi jantungku itu masih bisa berdetak lebih cepat kalau Aria melakukan hal spontan seperti ini. Tak peduli walau kami sudah sering melakukannya, detak yang membuat aliran darahku mengencang itu tetap hadir, menghangatkan tubuhku.

"Memang, Gackt bertanya apa padamu?" tanyaku setengah gugup dan setengah was-was. Gugup karena aku bisa merasakan bagian tubuh Aria yang empuk, dan was-was karena pasalnya, jika seseorang bertemu dewa porno macam Kamui Gakupo, harinya tak akan pernah absen dari obrolan mesum. Pokoknya, Gackt itu berbahaya.

Kepala Aria bergerak dibalik jasku, mencari tempat ternyaman untuk bersender, dan seketika mengirimkan getaran aneh yang membuat dadaku berdesir. "Dia bertanya… kenapa kita bisa menikah. Padahal kita kan, terlalu mirip. Sama-sama pendiam, tidak suka ikut sampur urusan orang, sikapnya dingin, dan sama-sama tidak suka diganggu ketika sedang serius. Dia cuma heran saja. Karena biasanya, pasangan itu memiliki sistem opposites attract dalam hubungan mereka. Sementara kata Kamui-san, hubungan kita tidak begitu."

Dahiku mengernyit. Aku dan Aria mirip? Bukannya, kita itu justru malah opposites attract, ya? Aku yang urakan dan Aria yang rapi, aku yang cuek dan Aria yang perhatian, aku yang agak gloomy dan Aria yang penyayang. Yang kusebutkan itu tadi kurang opposites attract apa, coba? "Lalu, apa jawabanmu?" tanyaku sambil memain-mainkan anak-anak rambutnya yang tertiup angin.

"Aku menjawab, 'Sebaiknya kau belajar mengenai inversi lateral, Kamui-san.' Begitu."

Alisku terangkat sebelah. Inversi lateral? Ini menarik. "Bagaimana respon Gackt setelah itu?"

Aria tertawa merdu. Tubuhnya bergetar akibat tawanya tersebut. "Oh, kau harus lihat ekspresinya, Mikuo! Menggelikan sekali. Aku sendiri bingung bagaimana menjelaskannya."

Dalam pikiranku, aku mencoba membayangkan Gackt bertampang masam dengan bibir mengerucut yang menjijikan. "Dan, setelah Gackt memberi responnya, apa yang ia lakukan?"

"Ia langsung pergi." Aria mempererat pelukannya, membuat nafasku kembali ditarik, dan aku merespon dengan menciumi puncak kepalanya yang halus itu.

"Ah, ya, kenapa harus inversi lateral?" tanyaku santai, masih menciumi rambut Aria yang wanginya menenangkan.

"Sebelum aku menjelaskan, apa kau tahu apa itu inversi lateral, Mikuo?"

Aku mengangguk. "Itu adalah refleksi kaca datar. Dimana jika kau berkaca, refleksinya akan sama persis namun bertolak belakang. Seperti ketika kita menempatkan sebuah kertas dengan tulisan di depan kaca datar, tulisan tersebut akan direfleksikan terbalik secara visual. Jadi refleksinya ya, memang persis tapi bertolak belaka—oh," sebuah kesadaran menyergapku. Aku menunduk untuk melihat wajah Aria yang tersenyum penuh arti padaku. "Sekarang aku mengerti maksudmu,"

Kepala wanita itu mengangguk kecil. "Iya, Mikuo. Inversi lateral itu seperti hubungan kita. Mirip sekaligus bertolak belakang. Bukankah apabila suatu hubungan itu jika segala sesuatunya bertolak belakang, yang ada nanti pasangannya malah bertengkar terus? Dan kalau terlalu mirip, pasangan tersebut justru malah akan bosan karena tak ada perbedaan yang berarti? Hidup ini harus seimbang, Mikuo. Tidak boleh ada kata 'terlalu'. Jadi kupikir, suatu hubungan tidak boleh hanya berlandaskan opposites atrract atau hanya sekedar kesamaan saja. Tapi harus ada dua komponen itu agar suatu hubungan bisa berlangsung lama." Terangnya lembut. Tangannya mengelus rambutku dengan gerakan konstan.

Aku tersenyum, menatapnya dalam dan lama. Kami saling bersitatap untuk beberapa saat, membungkam segala macam hal yang tidak berhubungan dengan kami. Dunia seakan meredup, dan hanya tersisa kami berdua sebagai penghuninya.

Aria juga ikut tersenyum. Berbalas menatapku dengan intensitas kedalaman yang sama.

Rasanya waktu seperti berhenti.

Jemariku membuka lilitan dari gelungan rambut Aria. Membiarkan helai-halainya jatuh hingga seluruh rambutnya terjun bebas. Aku menggenggam rambutnya dan menciuminya, sampai memejamkan mata untuk menghayati harum rambutnya itu.

"Mikuo, kau nakal. Aku membuat gelungan rambut seperti ini butuh waktu dan usaha ekstra. Tapi kau, malah dengan seenaknya membuka gelungan ini begitu saja," ujar Aria, agak jengah.

Aku kembali menghirup aroma rambutnya yang menenangkan itu. "Kau itu dalam kondisi apapun juga tetap cantik. Tapi aku paling suka melihat rambutmu digerai. Jadi jangan protes, yang lain juga tidak akan peduli."

Aria memukul-pukul dadaku. Pipinya memerah karena malu.

Dan wajahnya itu lucu banget, serius.

Aku memeluk tubuh mungilnya dan menempatkan daguku di puncak kepalanya. Mataku terpejam, ingin kembali merasakan tiap-tiap getaran yang timbul akibat sentuhan ini.

"Ah, Mikuo," panggil istriku. Ia kembali meletakkan kepalanya di dadaku. "Ini pertanyaan bodoh, tapi… kau, kau itu terlalu baik untuk menjadi nyata. Seringkali aku merasa tak pantas mendapatkan seseorang sepertimu. Ini… ini semua terasa seperti mimpi. Kupikir tak akan ada seorang pria sepertimu di dunia nyata, yang berani menyelamatkanku dengan cara heroik yang cerdas seperti ksatria di negeri dongeng. Aku hanya… takut kalau suatu saat nanti kau akan direnggut, entah dengan cara apa, dan akhirnya meninggalkanku sendiri. Karena kau itu terlalu khayal, terlalu fana. Rasanya hampir mustahil pria sepertimu mau menikahiku. Jadi… Mikuo," Aria mendengak, menatapku intim, menyisakan getaran magis yang sulit kujelaskan melingkupi kami berdua. "Sudah kukatakan bahwa ini adalah pertanyaan bodoh, tapi, apa kau akan meninggalkanku suatu saat nanti?"

Lucu.

Ini menarik sekali.

Bagaimana caranya kami berbagi insecurity yang sama tanpa sadar? Aku yakin sekali bahwa dulu, bahkan sampai sekarang pun aku sering memikirkan bagaimana Aria terlalu fana untukku, seakan ia adalah putri es yang terjebak di bumi ini dan harus pulang ke dunianya suatu saat nanti.

Aku mengelus pipinya dan menunduk untuk mensejajarkan tinggiku dengan tingginya. "Tidak akan pernah, Aria." Jawabku setengah berbisik di telinganya. Kuciumi dahinya untuk meyakinkan, lalu menatap matanya lurus-lurus.

"Because you are my mirror," lanjutku. "You are Hatsune Mikuo's Mirror."

.

.

.

.

.


E N D


.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jadi, pernahkah kamu berkaca...

...namun yang kau dapati adalah refleksi orang lain?

Ia memang bukan dirimu

Tapi ia adalah setengah bagian dirimu yang hilang

-S, April 2012

.

.

.

.

.

[***]


1. Unlimited thanks to Allah SWT.

2. Dozens of thanks to you!

Dear readers,

Bagi kalian yang udah baca sampai chapter terakhir, kali ini saya mengharuskan kalian untuk WAJIB meninggalkan review. Entah kalian itu udah log-in, belum log-in, minjem hp/notebook temen, atau emang ngga punya akun FFnet sama sekali; tetep wajib review. Terserah kalian sih, mau review apa. Tapi di dalam review kalian itu, kalian harus menjawab pertanyaan ini:

1. Apa pendapat kalian tentang karakter Mikuo dan IA? (kepribadian, sifat, dan kesan masing-masing karakter. Bukan gimana hubungan mereka)

2. Chemistry Mikuo-Aria itu dapet ngga sih? Atau, kisah cinta mereka selama ini terkesan dipaksain?

3. (ini ngga wajib dijawab) Apa hubungan buah lemon dengan adegan intim? Karena selama ini, para author di FFnet menggambarkan warning tentang adegan seksual dengan kata: lemon.

Makasih banyak udah mau review

- S

P.S.

Saya buat fanfic lagi sih. Tapi bukan dari fandom Vocaloid, melainkan Kuroko no Basuke. Tokoh utamanya Kise Ryouta. Dan karena udah susah banget buat dibuka, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimnya ke wattpad aja.

So, anyone interested?