Miho P.O.V
Aku menatap ruangan yang disebut sebagai kamar baruku. Ruangannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Setidaknya lebih besar daripada kamarku yang dulu.
Kaa-san memegang pundakku. "Tidak apa kan kalau tidur dengan saudaramu ?"
Aku mengangguk mengiyakan. "Tidak apa kok."
Kaa-san tersenyum lembut. "Baiklah kalau begitu. Sekarang tidurlah, besok ada sekolah yang menunggumu."
Aku kembali mengangguk dan memasuki kamar tersebut. Kaa-san mengucapkan selamat malam dan pergi kembali ke kamarnya. Aku melihat ke sekitar ruangan dan memutuskan untuk duduk di sofa.
"Ah... akhirnya aku punya keluarga juga..."
Aku menghela nafas lega. Walaupun masih merasa sangat asing dengan tempat ini, aku berusaha membiasakan diri. Jantungku berdegup dengan cepat, mungkin karena terlalu lelah dan merasa tidak enak masuk ke rumah ini. Apalagi, aku akan tidur bersama dengan keenam kakak 'LAKI-LAKIKU'.
Tidak lama, pintu terbuka, menunjukkan semua saudaraku.
"Miho-chan !" Panggil Jyusushimatsu yang langsung menyambarku. Ia langsung duduk disebelahku sambil memelukku.
"Jyuushimatsu ! hentikan itu ! kau juga Osomatsu-nii-san ! jangan melihatnya seperti itu ! dia adikmu sialan !"
Aku bisa melihat betapa cerewetnya Choromatsu kepada yang lain. Aku melihat dia memarahi yang lain satu per satu sementara aku cuma bisa tersenyum kecil menanggapinya.
"Oi, sudahlah. Kenapa hari ini kau lebih cerewet dari pada biasanya ? apa karena ingin dianggap anak baik-baik oleh Miho ?" Cibir Osomatsu yang mendapat pelototan dari Choromatsu.
"Kalian ini... Miho tidak nyamana gara-gara ka-"
Sebelum Choromatsu yang sepertinya akan meledak, aku langsung menarik lengan hoodienya. "Etto... Cho-Choromatsu nii-san, aku tidak apa-apa dengan suasana seperti ini. Suasana terasa lebih hidup jika seperti ini."
Seketika, aku melihat wajah Choromatsu yang memerah. Ia langsung memalingkan pandangannya. "Ba-baiklah kalau begitu..."
"Eeeeh, curang~" Ucap yang lain secara bersamaan.
"Choromatsu nii-san curang."
"CURANG ! Nii-san CURANG !"
"Mencari kesempatan dalam kesempitan..."
"Curang."
"Buraza~ kau tau kalau kita tidak boleh cheating dalam hal seperti ini."
Aku menatap yang lain dengan heran. 'Apa yang mereka maksud ?'
Baru saja aku ingin bertanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menunjukkan Kaa-san yang terlihat marah besar. "KENAPA KALIAN BELUM TIDUR JUGA !? TIDUR SEKARANG ! BESOK KALIAN SEKOLAH ! dasar anak-anak nakal."
Dengan begitu, pintu kembali tertutup. Ruangan langsung menjadi hening.
Kakak langsung menyiapkan futon untuk tidur. Aku melihat kalau mereka menambahkan 1 futon untukku.
"Ah... terima kasih..." Ucapku pelan.
Mereka memberikan senyuman.
"Serahkan saja pada kami !"
Aku langsung berjalan menuju koperku untuk mengambil piyamaku. Aku mengganti bajuku di kamar mandi. Begitu kembali, keenamnya sudah berada di tempatnya masing-masing.
Aku berjalan menuju futonku dan mengambil posisi ternyaman.
"Oyasumi~"
Akhirnya, kami pun tidur dengan tenang untuk malam ini.
Besoknya, aku melihat kakakku yang belum bangun. 'Apa aku kepagian ?'
Aku langsung bangun dan merapikan futonku sendiri. Sebenarnya aku cukup terkejut melihat keenamnya muat tidur pada satu futon yang sangat lebar itu.
Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat sebuah futon selebar ini.
Aku langsung berjalan menuju dapur dan melihat Kaa-san yang sedang memasak sarapan.
"Ohayo, apa ada yang bisa kubantu ?"
Kaa-san menoleh ke arahku dengan tatapan terkejut. "Astaga, kau bangun sangat pagi. Padahal yang lain selalu bangun terlambat."
Aku cekikikan. 'Pantas saja tadi malam sudah dimarahi...'
"Bisa susun makanan ini diluar ? Kau lihat meja bundar kecil itu kan ? taruh di tengah-tengah ruang dan simpan makanannya disitu."
Aku mengangguk mengerti dan melaksanakannya. Tidak lama, aku melihat kakakku turun dengan wajah yang masih mengantuk. "Ohayo, Haha sudah menyiapkan makanan untuk kalian."
Mereka langsung masuk dan duduk melingkar pada meja bundar ini. Diluar dugaan, kami muat duduk di meja melingkar ini. Tidak terlalu sempit maupun luas, cukup nyaman.
Kami pun mulai sarapan dengan tenang. Awalnya sih... seperti itu, tapi pada akhirnya mereka ribut cuma karena memperebutkan makanan.
Aku cuma bisa tersenyum melihat kakakku bertengkar. 'Sepertinya keseharianku akan seperti ini terus...'
Aku turun begitu selesai pakaian. Aku mengganti bajuku di kamar Kaa-san agar keenam saudaraku tidak mengintip saat ganti baju.
Aku turun dan melihat 7 bento yang sudah tersedia di meja. Bento itu dibungkus dengan 7 warna yang berbeda. Ada merah, biru, hijau, ungu, kuning, merah jambu, dan jingga.
"Punyamu yang warna jingga." Ucap seseorang dari belakang sambil mengambil warna ungu.
Aku langsung menoleh dan melihat Ichimatsu dengan muka datarnya seperti biasa. Mata setengah terbuka dengan rambut yang sangat acak-acakan.
"Ah... baiklah kalau begitu..."
Aku pun mengambil bento dengan bungkusan warna dan menaruhnya dalam tas.
Aku kembali menoleh kepada Ichimatsu yang tanpa kusadari wajahnya memerah. Mulutnya terlihat komat-kamit, membuatku bingung.
"Ada apa Ichimatsu nii-san ?"
Dia langsung menatapku lalu menggeleng. "Tidak apa, sekarang kedepan, yang lain akan segera turun."
Aku mengangguk.
"Miho ! selamat datang, ini adalah sekolah barumu !" Seru Osomatsu dengan bangganya saat kami semua berdiri di depan pintu gerbang.
"Kami semua berada di kelas yang berbeda, jadi hati-hati ya." Ucap Choromatsu sambil menepuk kepalaku.
Hari ini adalah hari pertama Aku sekolah. Kakak-kakakku ini sangat senang memperkenalkan sekolahnya.
"Hehe, Aku sangat beruntung sekelas dengan Miho~" Ucap Todomatsu sambil merangkulku.
"Huft... tidak adil..." Ucap Ichimatsu lirih.
Aku hanya menghela nafas semoga hari pertamaku tidak begitu buruk.
Aku menunggu di depan kelas. Sebagai murid baru di jepang, ini sudah menjadi tradisi kalau anak baru akan dikenalkan saat Homeroom.
"Matsuno-san, kau boleh masuk." Ucap Wali kelasku.
Aku memasuki ruangan dan langsung menatap tajam keenam kakakku.
'Choromatsu nii-san bilang kalau kami semua tidak sekelas !'
Aku sudah bisa melihat Choromatsu yang memohon ampun sementara Osomatsu cuma tersenyum jahil. 'Aku bersumpah, pasti ini ide Osomatsu nii-san...'
Aku langsung memperkenalkan diriku. "Matsuno Miho, karena aku sekelas dengan kakakku, kalian bisa memanggilku Miho saja, agar tidak kesusahan untuk memanggilku."
"Ada pertanyaan ?" Tanya sensei kepada seisi kelas.
Langsung ada anak yang mengangkat tangannya. "Apa kau sudah punya pacar ?"
Aku hanya sweatdrop mendengar pertanyaannya. Sekilas Aku melihat wajah keenam kakakku yang langsung muram.
'Ada apa ?'
Aku langsung menggeleng pelan. "Untuk sekarang aku tidak berminat pacaran..."
"Baiklah, kau boleh duduk di belakang Jyuushimatsu." Ucap sensei.
Aku menurut dan langsung menuju tempat dudukku. Entah sedang beruntung atau sial, di belakangku ada si murid yang bertanya sebelumnya.
Bel makan siang pun berbunyi, Keenam kakakku langsung mendatangiku.
"Miho, ini ide Osomatsu." Ucap Choromatsu sambil menatap tajam Osomatsu yang sedang bersiul dengan santainya.
Aku hanya menghela nafas melihat kelakuan kakak tertuaku ini.
Sebenarnya, mereka berenam sangat terkenal di sekolah karena mereka satu-satunya sextuplets di sekolah ini. Osomatsu, Ichimatsu, Jyuushimatsu, dan Todomatsu menggunakan hoodie dan melapisinya dengan gakuran (Jyuushimatsu menggunakan hoodie yang lengannya kepanjangan). Karamatsu menggunakan kaos biru dan dilapisi dengan gakuran. Choromatsu adalah satu-satunya yang menggunakan seragam dengan lengkap.
"Apa kalian semua tidak dihukum ?" Tanyaku. "Bukannya harus menggunakan seragam dengan rapi dan lengkap ?"
Mereka saling bertatapan. "Jangan pedulikan soal itu. Mereka sering dihukum tapi selalu lolos." Ucap Choromatsu.
"Lagipula, semua guru mulai lelah memarahi kami." Ucap Todomatsu dengan santainya.
Aku menghela nafas. "Tapi bukanya sekarang kalian kelas 3 ? Kenapa tidak memperbaiki sikap buruk kalian dari sekarang ?"
Mereka menatapku lama lalu tertawa kecuali Choromatsu. "Ayolah kalian ini. Kasihan Miho, sampai harus menceramahi kalian juga."
Osomatsu langsung merangkulku dan Choromatsu. "Kalian berdua terlalu serius~ mari kita santai untuk kelas 3 ini. Nii-san janji akan belajar dengan rajin sebelum ujian nanti~"
Choromatsu menghela nafas sambil menatapku. "Dengar itu ? beberapa tahun yang lalu ia mengucapkan hal yang sama."
Aku hanya tersenyum pahit sambil mengangguk mengerti. 'Ah... tidak heran juga melihat mereka menjadi seperti ini...'
"Miho~ ayo kita makan siang !" Ajak Todomatsu sambil menggandengku.
Aku bisa merasakan tatapa tajam dari berbagai arah, yang cukup membuatku merinding.
"Miho-chan ! Ayo main baseball !" Ajak Jyuushimatsu tiba-tiba.
Dia langsung menarikku menuju lapangan baseball. Yang lainnya terkejut dan menyusul kami berdua.
"Jyuushimatsu ! Kau tahu Miho sudah trauma dengan baseball setelah kau melempar bola ke arahnya." Ucap Choromatsu yang memulai ceramahnya.
"Daripada baseball, lebih baik Miho ikut mendengarkan lagu yang telah kubuat dengan susah payah ini." Ucap Karamatsu yang langsung mengeluarkan gitarnya entah darimana.
"Ugh, daripada mendengar lagumu yang menyakitkan itu, lebih baik Miho bersamaku saja." Ucap Ichimatsu yang langsung menarik lenganku.
"Miho lebih baik membaca denganku di perpustakaan." Ucap Choromatsu yang langsung merebutku dari Ichimatsu.
"Aku ingin makan siang dengan Miho !" Seru Todomatsu yang langsung menarikku dari Choromatsu.
"Aku yang paling tua, Aku lebih berhak bersama dengan Miho." Ucap Osomatsu sambil menggandeng tanganku lalu mengecup keningku.
Aku merasa wajahku memerah dengan sendirinya. Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku. "Uh... biar adilnya kita makan siang bersama di tempat sepi saja..."
Aku mengintip dari sela-sela jariku dan melihat mereka saling mengangguk.
"Baiklah, ayo kita makan di atap sekolah." Ucap Osomatsu berjalan memimpin.
Kami pun mengikuti Osomatsu dari belakang sampai di depan pintu menuju atap.
Aku melihat sebuah tanda larangan. 'DILARANG NAIK !'
Aku langsung menarik lengan hoodie Jyuushimatsu. Jyuushimatsu langsung menoleh ke belakang. "Ada apa Miho-chan ?"
Yang lain ikut menoleh ke belakang. Aku menunjuk tanda larangan di depan kami. "Memangnya boleh ?"
Osomatsu langsung mengeluarkan sesuatu dari celananya, sebuah kunci. "Tenang saja, tidak akan ada yang tau juga kok."
Aku menoleh ke arah Choromatsu yang hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum kearahku. 'Ikuti saja apa maunya, nanti kau akan terbiasa kok', seperti itulah telepati yang mungkin dia kirimkan.
Kami pun membuka pintu menuju atap lalu menutupnya. Kami langsung mulai memakan bento kami.
Kami makan bento kami sambil bercanda ria. Bahkan mereka menjelaskan dengan detail tentang tempat persembunyian mereka di sekolah jika sedang dikejar guru BK.
"Ah, nii-san, siapa nama laki-laki yang duduk di belakangku sebelumnya ?" Tanyaku, memotong pembicaraan.
Mereka menatapku dengan tatapan curiga. "Kau menyukainya ?" Tanya mereka berbarengan.
Aku langsung menggeleng yang membuat kakakku tersenyum lega. "Jadi, bisa kalian beritahu namanya ?"
"Haruki, ketua kelas, anak berandal tapi banyak yang suka. Sudah berkali-kali gonta ganti pacar tapi masih banyak yang suka." Jelas Todomatsu. "Jadi, jangan terlalu dekat dengannya."
Aku mengangguk mengerti. 'Oh baiklah... kurasa tidak ada gunanya juga berteman dengannya...'
Kami pun melanjutkan makan kami.
Aku berjalan dengan perlahan mengintari ruangan hitam kosong ini. Sambil membawa sabit, aku terus berjalan.
Menunggu.
Aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah untuknya. Utusanku akan mengurusnya di dunia sementara aku mengurusnya disini.
Akan kuselesaikan urusan kita yang belum selesai 10 tahun yang lalu...
