Miho P.O.V
"Jadi kalian ikut klub apa saja ?"
Keenamnya langsung menoleh kepadaku begitu pertanyaan itu sudah kulontarkan.
"Aku dan Ichimatsu mengikuti klub pulang ke rumah !" Seru Osomatsu sambil merangkul Ichimatsu.
Ichimatsu menatapku sambil mengangguk. "Seperti itulah."
"Kalau Karamatsu nii-san dan Choromatsu nii-san ?"
"Hoho~ my dear, tentu saja aku ikut klub drama~" Ucap Karamatsu dengan gaya bicara yang berlebihan seperti biasa.
Aku menoleh kepada Choromatsu. "Aku salah satu anggota OSIS dan mengikuti klub anime."
Aku mengangguk mengerti. "Jyuushimatsu nii-san ? Todomatsu nii-san ?"
"KLUUUUB BASEBAAALLLL ! Hustle ! Hustle ! Muscle ! Muscle !" Seru Jyuushimatsu sambil mengayunkan tongkat baseballnya.
'Harusnya aku tidak bertanya…'
"Kalau aku sih, klub media sosial." Jawab Todomatsu yang sukses membuatku sweatdropped.
'Eh ? memangnya ada ya ?'
"Miho sendiri mau ikut klub apa ?" Tanya Osomatsu.
Aku berpikir sebentar lalu menjawab. "Mungkin klub memasak atau klub acara minum teh."
Mereka berenam mengangguk bersamaan.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa disini jam 7 nanti !" Seru Osomatsu yang langsung berjalan pulang bersama dengan Ichimatsu.
"Memangnya mereka berdua mau datang lagi ke sekolah setelah ini ?" Tanyaku kepada Todomatsu.
Todomatsu mengangguk. "Yang dimaksud klub pulang ke rumah adalah, keluar dari sekolah lalu pergi entah kemana lalu kembali lagi kesini untuk menjemput."
Aku mengangguk mengerti. "Baiklah, sebaiknya kalian menuju ruang klub kalian."
"Tidak perlu diantar, little sis ?" Tanya Karamatsu.
Aku menggeleng. "Jangan kawathir aku bisa sendiri kok."
Mereka saling tatap lalu kembali menatapku.
"Baiklah, jaga dirimu ok."
"Dan hati-hati terhadap Haruki."
Aku mengangguk dan mereka berempat pun berlalu menuju ruang klub masing-masing.
Aku yang baru saja ingin mencari klub tiba-tiba terhenti dengan kehadiran seseorang yang mehadangku.
"Yo, Miho." Panggilnya sambil melambaikan tangannya.
Aku spontan mengambil jarak dengan mundur perlahan tanpa disadari olehnya. "Un, ada apa Haruki-san ?"
Dia menatapku setengah terkejut. "Woah, tak kusangka kau langsung mengetahui namaku."
Aku hanya terdiam tidak menanggapi.
Dia cekikikan lalu berdiri di sampingku. "Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling."
Spontan aku menggeleng, menolak ajakannya. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
Dia menatapku dengan datarnya. "Yakin ? sekolah ini luas loh. Kalau hilang, susah dicari."
Aku tidak suka merepotkan orang lain, tetapi yang lebih tidak kusuka adalah saat ada orang memaksaku untuk dibantu olehnya !
Aku menghela nafas lalu mengangguk. "Baiklah, terserah kau saja."
Raut wajah Haruki langsung riang. Ia langsung merangkulku dan menggosok salah satu tangannya yang masih bebas di puncak kepalaku. "Senang bisa menjalankan tugasku sebagai ketua kelas !"
Aku kembali menghela nafas. 'Moga kakak tidak melihatku…'
︎︎︎
Esoknya, saat makan siang. Haruki menghampiriku kembali.
"Yahoo Miho-chan~"
Aku menatapnya jijik. 'Ada channya…'
Haruki terkejut melihat tatapan dariku. "Wo-woah, ada apa dengan tatapan jijik seperti itu ?"
Tanpa kusadari, Ichimatsu ternyata sudah mengirim aura mengerikan yang membuatku merinding. Ichimatsu berdecih sambil mengeratkan pegangannya yang sedari tadi berada di bahuku.
"Little sis, apa dia menganggumu ?" Tanya Karamatsu yang sedang menatap curiga Haruki.
Haruki langsung tertawa lalu memegang bahu kedua kakakku. "Tenang saja, aku hanya ingin mengajak adik kalian makan siang bersama."
Osomatsu dan Choromatsu langsung memegangi kedua tanganku. "Maaf saja, hari ini kami sudah menyewanya duluan."
'Di-disewa !? apa tidak ada kata yang lebih tepat agar lebih enak didengar apa !?'
Haruki kembali tertawa. "Astaga, saudara-saudaramu ini menarik sekali. Kapan-kapan aku ajak lagi ya !"
Dengan begitu, Haruki langsung keluar dari kelas meninggalkanku dengan kakakku.
︎︎︎︎︎︎
Tanpa kusadari sudah beberapa hari berlalu, dan orang ini-Haruki- sangat menganggu !
Hampir setiap jam makan siang dia terus mengajakkku. Lama-kelamaan, kasihan juga melihatnya yang selalu berjuang keras seperti itu.
"Miho ! makan siang bareng yuk !" Ajak Haruki begitu guru keluar dari kelas.
Sebelum aku menjawab, Todomatsu dan Jyuushimatsu sudah menyilang tangan mereka di depanku.
"Tidak boleh !"
Lagi-lagi, Haruki tertawa. "Baiklah kalau begitu, besok kuajak lagi."
Dia langsung keluar dari kelas. Todomatsu langsung menarik kursi kesebelahku. "Huu… kenapa dia tidak pernah menyerah juga ?"
"Dia menjadi semakin menyebalkan dari sebelumnya." Sahut Choromatsu. "Kau tidak terganggu dengan hal seperti itu ?"
Aku menautkan jariku sambil tersenyum kecil. "Eng… sebenarnya aku berencana menerima ajakannya tadi."
Keenam kakakku langsung memberikan tatapan horor kepadaku. "A-apa maksudmu ?"
Aku menghela nafas. "Um… sekali-sekali, aku ingin coba makan siang bersamanya. Kalian tidak keberatan kan ?"
Mereka tidak menjawab. Aku bisa melihat wajah mereka yang terlihat sangat kesal. Aku kembali menghela nafas lalu membelai puncak kepala mereka secara bergantian. "Untuk kali ini saja kok."
Mereka menatapku lalu saling memalingkan pandangan.
"Baiklah."
Aku tersenyum lalu langsung menyusul Haruki.
"Haruki-san !"
Haruki langsung menoleh dan wajahnya langsung tampak riang. "Miho ! ada apa ?"
"Mau makan siang bersama ?" Tanyaku sambil menunjukkan bentoku.
Haruki menatapku tidak percaya lalu tersenyum riang. Ia langsung merangkulku. "Baiklah ! Ayo, kutunjukkan tempat khusus agar kita bisa makan dengan tenang."
Haruki pun membawa ke belakang sekolah, dimana tidak ada siapapun disana. Haruki langsung berhenti tiba-tiba. Aku melihat arah tujuan kami yang ternyata sebuah area terlarang.
"Tunggu, untuk apa kita disini ?" Tanyaku sambil mengambil langkah mundur.
Aku mengingat ucapan Todomatsu sebelumnya, 'Dia ini preman…'
Haruki menoleh dan menatapku lembut. "Jangan kawathir, disini aman. Aku akan melindungimu agar kembali dalam keadaan untuh."
Mendengar ucapannya, entah mengapa aku merasa lega. Dia langsung mengulurkan tangannya. Awalnya aku ragu tapi aku memutuskan untuk mencoba mempercayainya.
Aku meraih tangannya lalu kami berdua memasuki area terlarang tersebut lewat jalan kecil yang sudah dibuat oleh seseorang sebelumnya.
Tidak lama, setelah menemukan spot yang nyaman untuk makan, kami berdua pun makan siang.
"Ah… senangnya kau menerima ajakanku." Ucap Haruki sambil memakan roti yakisobanya. "Padahal, jika kau memang tidak mau… kau tidak perlu memaksakan dirimu."
Aku spontan menggeleng. "Itu tidak benar kok. Aku sendiri yang mau."
Tanpa kusadari, suasananya sudah berubah.
"Kau baik sekali… padahal, biasanya orang akan menganggapku menyebalkan dan tidak ingin berteman denganku." Ucap Haruki. "Kau adalah perempuan pertama yang mau menerima ajakanku."
Aku bisa menebak kalau dia benar-benar sedih dari caranya berbicara. Aku langsung mengambil duduk di sebelahnya. "Aku bisa menemanimu setiap hari kok."
Haruki langsung menatapku tidak percaya. "Benarkah ? apa saudaramu tidak akan marah ?"
Aku menggeleng. "Jangan kawathir, aku bisa membujuk mereka."
Haruki kembali tersenyum riang. "Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, kau punya waktu akhir pekan nanti ?"
"Ntahlah, memangnya ada apa ?"
"Mau jalan denganku ?"
︎︎︎︎︎︎
Aku memandang sebentar boneka berbentuk seperti perempuan itu. Aura putih sebelumnya mulai berubah menjadi gelap.
Melihat auranya yang berubah, aku tersenyum. Iya, tersenyum lebar bagaikan kuchisake onna…
Tersenyum sambil memutar sabitku…
Aku sudah tak sabar bertemu denganmu disini…
