Miho P.O.V

Hari ini aku menggunakan dress pendek yang bagian atasnya dilapisi dengan kardigan. Wajaku kupoles dengan make up tipis agar terlihat alami. Aku membiarkan rambutku tergerai. Kugantung tote bagku lalu menuju lantai bawah.

Aku melihat kakakku yang sedang sibuk di ruang tamu dengan kegiatan masing-masing. Osomatsu nonton tv, karamatsu sibuk memperhatikan dirinya di cermin, choromatsu baca manga, ichimatsu menyudut di ruangan, jyushimatsu sibuk mengayunkan tongkat baseballnya, dan terakhir todomatsu sedang sibuk dengan ponselnya.

"Um... aniki ?" Panggilku lirih. Semuanya spontan menoleh ke arahku.

Osomatsu tersenyum jail. "Owalah~ mau kemana adikku hari ini ? kenapa kau berdandan dengan manis seperti itu ?"

Aku menunduk malu sambil menautkan jariku. "Um... aku ingin jalan dengan teman..."

Tiba-tiba saja suasana langsung tegang. Tatapan curiga tertempel di mata mereka.

"Berapa orang ?"

"Hanya berdua dengannya."

"Dia ? laki-laki atau perempuan ?"

"Pe-perempuan... ?"

Seketika wajah mereka terlihat lega.

"Jam berapa kau pulang nanti ?" Tanya Choromatsu.

"Mu-mungkin sebelum makan malam." Jawabku gagap.

Choromatsu kembali membaca manganya. "Baiklah, jangan pulang terlambat."

Aku pun pamit pergi lalu langsung berangkat menuju tempat janjianku dengannya.

︎︎︎


"Ah ! apa kau menunggu lama ?" Tanyaku begitu sampai.

Haruki menoleh dan tiba-tiba saja terlihat semburat merah jambu di pipinya. "Oh... um... aku baru saja sampai."

Aku menghel nafas lega mendengarnya. "Syukurlah..."

Akhirnya keheningan melanda kami. Aku berpikir keras mencari topik pembicaraan yang memungkinkan untuk mengubah suasana hening ini.

"Ja-jadi... hari ini kita mau kemana ?" Tanyaku lirih.

Haruki terlihat berpikir sebentar lalu menjawab. "Kedai es krim."

Aku menatapnya heran. 'Es kirm ? memangnya enak makan es krim dalam keadaan seperti ini ?'

Haruki kembali menatapku heran. "Kenapa ? tidak suka makan es krim ?"

Aku spontan menggeleng. "Su-suka kok..."

Haruki pun tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita kesana !" Serunya riang, sambil menggandeng tanganku tiba-tiba.

Aku menunduk malu tetapi membiarkan tangannya menggandeng tanganku yang kecil.

"Apa kau tidak keberatan ?" Tanya Haruki sambil berjalan.

Aku menatapnya heran. "Ma-maksudnya ?"

Dia memalingkan pandangannya. "Ini loh... aku menggandeng tanganmu."

Aku kembali menunduk malu sambil menggeleng kecil. "Ti-tidak apa kok... lumayan juga sih... habis cuacanya masih agak-agak dingin..."

'Ma-malu sih... tapi apa boleh buat...'

Kami berdua pun tiba di kedai es krim.

"Mau pesan rasa apa ?" Tanya Haruki.

"Vanila." Jawabku tanpa berpikir panjang.

Haruki langsung menunjuk sebuah meja yang masih kosong. "Kau menunggu saja sana. Biar aku yang pesan."

Aku pun langsung menurutinya dan pergi duduk di meja yang ia tunjuk sebelumnya. Tidak perlu waktu lama, ia kembali dengan 2 es krim di tangannya.

Dia langsung menyodorkanku salah satunya. "Ini es krimnya tuan putri."

Aku tersenyum kecil. "Tuan putri darimananya ?"

Kami berdua pun menghabiskan waktu dengan berkeliling di distrik perbelanjaan.

︎︎︎


"Sankyuu Miho." Ucap Haruki tiba-tiba.

Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju rumahku. Dia ingin mengantarku sampai depan rumah untuk memastikan kalau diriku aman.

"Untuk apa ?" Tanyaku.

"Karena sudah mau menerima ajakan hari ini." Jawabnya. "Aku tidak menyangka kalau hari ini aku bisa jalan denganmu... padahal kau pasti dengar banyak gosip jelek tentangku."

Aku menggeleng. "Memang benar sih... aku mendengar gosip jelek tentangmu (apalagi dari kakakku semua...), tapi menurutku, kau ini orang yang sangat baik. Memangnya ada preman lain selain dirimu yang dipilih menjadi ketua kelas ?"

Haruki tertawa kecil menanggapinya. "Astaga, kau ini yang terbaik deh." Ucapnya sambil membelai puncak kepalaku. "Senangnya ada orang yang menerima dirimu apa adanya."

Aku menatapnya heran. "Maksudnya ?"

Dia memalingkan pandangan sambil menggaruk tengkuknya. "Aku ini 3 bersaudara... Aku anak bungsu yang tidak pernah mendapatkan perhatian orang tuaku karena kakakku lebih berbakat dariku. Mereka beranggapan kalau sudah punya anak yang hebat, kenapa perlu mengurusi anak yang lain."

Aku berhenti berjalan, membuatnya ikut berhenti. "Kenapa kau menceritakan hal seperti ini padaku ?"

Dia menatapku lama lalu menghela nafas. Ia tersenyum tipis sambil menjawab. "Karena aku sudah mempercayaimu."

Dia langsung berjalan perlahan ke arahku. Dia langsung mengecup puncak kepalaku. "Tidak perlu merasa tidak enak. Ayo, kita sudah dekat rumahmu kan."

︎︎︎


Normal P.O.V

Tidak lama, setelah kejadian tersebut, Miho dan Haruki mulai dekat. Saking dekatnya, membuat para Matsuno bersaudara heran.

Hampir tiap harinya, mereka berdua menempel terus. Jika sedang berbicara, mereka akan melupakan dunia dan tenggelam dalam pembicaraannya sendiri.

Berbagai gosip pun mulai menyebar tapi itu tidak membuat keduanya saling menjauh. Tiap jam makan siang maupun istirahat, keduanya pasti menghilang entah kemana, membuat semua orang terheran-heran.

"Huwaa~ Miho sudah tidak peduli dengan kita." Rengek Osomatsu sambil berjalan di samping adik bungsunya. "Kenapa kau selalu mengabaikan kami, Miho ?"

Miho menatap kakak tertuanya dengan heran. "Apa maksudnya ? aku masih peduli dengan kalian kok."

Choromatsu langsung muncul di samping Miho dengan tatapan mengintimidasi. "Kau yakin ? kau bahkan tidak menyapa kami lagi jika di sekolah."

"Lagipula, kenapa juga kau menjadi dekat dengan Haruki ? bukannya kami sudah memperingatimu ?" Tanya Todomatsu sambil memberikan tatapan curiga. "Atau jangan-jangan kau malah tidak mendengarkan kami ?"

Miho spontan menggeleng. "Tidak kok, itu tidak benar... Haruki... sebenarnya orang yang baik. Dia tidak seperti yang kalian katakan."

Keenam kakaknya merasa tersambar petir mendengar adiknya membela orang yang paling mereka benci. Karamatsu langsung memegangi kedua pundak adik perempuannya itu.

"Little sis ! kau kerasukan apa sampai-sampai membela makhluk asing itu !? apa kau tidak sadar kalau kau dalam bahaya jika kau menempel dengannya terus !?"

Ichimatsu langsung memukul Karamatsu dari belakang lalu menyingkirkannya dari Miho. "Kau berlebihan, Kusomatsu."

"Yang penting Miho-chan tidak memberi tahu rahasianya kan ?" Tanya Jyuushimatsu yang memperoleh tatapan heran dari adik perempuannya.

Sontak, itu membuat kakaknya panik tidak karuan.

"KAU MEMBERITAHUNYA !?"

Miho menatap kakaknya dengan heran. "Memberi tahu apa ?"

Osomatsu langsung merangkul Miho. "Kalau kau adalah anak angkat."

Miho tidak menjawab, membuat kakaknya facepalm.

"KENAPA KAU MEMBERITAHUNYA !?"

"Mana aku tahu ! Lagipula, kalian tidak bilang kalau aku harus merahasiakannya !"

"MEMANGNYA YANG SEPERTI ITU HARUS DIBERI TAHU DULU !?"

Miho tidak menyahut. Dia menunduk dalam, tidak menatap kakaknya. Tidak lama kemudian, ia bersuara. "Baiklah... aku yang salah. Maafkan aku atas kebodohanku. Aku memang adik angkat yang sangat bodoh dan payah, tidak seperti kakak yang pintar dan dapat diandalkan."

Miho langsung berjalan duluan, meninggalkan kakaknya yang speechless.

'GAWAT ! DIA NGAMBEK !'

︎︎︎


Auranya semakin gelap, yang artinya aku bisa mencabut nyawanya kapanpun

Dia tidak tau kalau dia sudah terjatuh ke dalam perangkap tikus yang dibuat oleh pria itu...

Heh, setelah gagal mencuri sang anak sulung, kau balas dendam dengan berusaha membunuh sang bungsu hm... Tougo ?