M-E-K-A-K-U-S-H-I
Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)
(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship/humor, T, canon)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
M-E-K-A-K-U-S-H-I
(main character: Ene/Takane Enomoto/Actor)
Earphone / Earphone
Seorang Takane Enomoto takkan pernah lepas dari earphone-nya, bahkan setelah fisiknya berubah menjadi sebesar 640 pixels. Meskipun tidak ada lagu yang terlantun, namun benda tersebut tetap setia menempel dari telinganya.
"Oh, jadi cuma untuk gaya-gayaan saja," ejek Shintaro waktu itu.
"Benda ini telah menyelamatkanku, tahu!" bela Ene keras, tangannya meraih benda tersebut dan mengelusnya perlahan, seolah ingin menenangkannya dari ejekan Shintaro tadi. "Kalau dia tidak ada... kalau dia tidak ada... mungkin aku sudah..."
"Mati? Syukurlah kalau begitu. Aku bisa bebas darimu."
Cahaya yang berasal dari layar komputernya lenyap, bersamaan dengan semua lagu-lagu buatan Shintaro yang belum disimpan.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!"
Echo / Gema
Suara itu bergema di indra pendengarannya, memintanya untuk menyelamatkan diri. Sebagai manusia yang memiliki insting untuk melakukan itu, dipatuhinya suara yang bergaung dari headphone-nya tanpa berpikir dua kali. Bahkan game yang belum sempat disimpan juga turut ditinggal, mengingat betapa pendeknya waktu sebelum dunia berakhir.
"Dua puluh menit lagi."
Sepasang kaki itu terus berlari, tak peduli dengan segala korban lain yang merintangi jalannya. Tak peduli dengan kericuhan yang terjadi –tangisan, teriakan, doa... semua itu hanya menjadi gumaman tak jelas saat ia lebih memilih untuk memfokuskan suara sang penyelamat dari headphone-nya.
"Dua belas menit lagi."
Takane menggigit bibirnya, mampukah ia mencapai bukit yang dapat mempertahankan nyawanya dengan waktu sesempit itu? Suara peringatan itu kembali memompa semangatnya, menghapus keputusasaannya, untuk kembali berjuang. Jalan untuk tetap hidup sudah terbentang di hadapannya, satu-satunya hal yang perlu ia lakukan hanya berlari untuk menggapainya...
"Satu menit lagi! Cepatlah!"
Tanpa perlu disuruh, Takane telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Lelah di tubuhnya tak dirasa, napas yang nyaris putus tak menjadi masalah besar baginya. Bukit yang dimaksud telah terlihat, langkah terakhir menuju ke sana akan menentukan segalanya...
Gema kali ini adalah tepukan tangan dan ucapan selamat.
Apakah kejadian yang barusan ia alami adalah bagian dari iklan produk mi instan?
Electricity / Listrik
"Kalau kau ingin menyingkirkanku, kau harus menyingkirkan semua barang-barang yang menggunakan tenaga listrik." Ene membeberkan rahasia terbesarnya setelah Shintaro (dengan putus asanya) meminta Ene untuk tidak menggangu kehidupannya lagi.
"Eeh? Tapi itu tidak mungkin! Bagaimana aku bisa hidup tanpa komputer dan internet?" jerit Shintaro, tanpa sanggup membayangkan konsekuensi yang akan timbul jika sehari saja ia tak berselancar di dunia maya. Jutaan notification menunggunya untuk dibuka, teman-teman digital akan mencarinya, belum termasuk para fans barunya yang menanti karya terbaru darinya...
"Yah~ itu semua tergantung pilihanmu, Master!"
Pemuda dengan jersey merah itu menghela napas. Lebih baik gadis cyber serba biru itu tetap tinggal di komputernya daripada ia yang harus meninggalkan kehidupan tanpa listrik dan koneksi internet.
Elusive / Sukar Dipahami
Definisi Ene menurut Shintaro: egois, kejam, dan sukar dipahami. Hal itu sudah tercetak jelas dalam balon kata di chapter 9 volume 2 'Headphone Actor'. Semua pertanyaan Shintaro mengenai asal-usulnya, kehidupannya sebelum terperangkap di dunia digital, segala pengetahuan mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya, selalu dapat dielakkan dengan sukses oleh sifat tsundere-nya. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikirannya, bahkan oleh pemuda dengan IQ 168 seperti Shintaro.
"Ene, aku sama sekali tak mengerti dengan pikiranmu. Waktu itu kau sudah kuajak ke taman hiburan dan kita sudah bersenang-senang, tapi mengapa kau marah saat kuajak ke pemandian air panas? Bukankah kau juga tak merasakan duduk di ferris wheel secara langsung? Apa aku harus mencemplungkan handphone-ku ke dalam pemandian?" omel Shintaro dengan penuh sarkasme. Gadis berkuncir dua itu hanya terkikik, tapi tak ada kata-kata balasan yang sepertinya ingin diungkapkan.
"Haah... terserah kau sajalah."
...Padahal jika pemuda bermarga Kisaragi itu mau peka sedikit saja, Ene hanya rindu dengan kehidupan manusianya dan menyayangkan Shintaro yang dengan mudahnya meninggalkan itu semua demi dunia maya.
Emotion / Emosi
"Mimpi buruk," jawab Shintaro begitu dirinya terbangun di pagi buta, sementara Ene hanya mengangguk tanda mengerti dan kembali ke tempatnya semula. Sebagai satu-satunya gadis yang menjalin kontak sedekat ini dengan Shintaro, ia mengerti kalau pemuda berambut kelam itu masih belum dapat menerima masa lalunya dengan lapang dada, sehingga wajar baginya untuk mengalami mimpi buruk nyaris setiap malam.
"Omong-omong, apa kau pernah mengalami mimpi buruk, Ene?"
Hening.
"Pernah." Sering, malah, lanjut Ene dalam hati. Potongan-potongan memori yang tak terangkai dengan sempurna belum dapat menjelaskan bagaimana bisa ia hidup dalam dunia digital seperti sekarang. Hanya ada dirinya, teman sekelasnya alias pemuda yang dicintainya, dan seorang guru yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan wujud Ene sekarang.
Namun tetap saja, semua kenangan indah yang takkan bisa dialaminya lagi membuatnya sesak...
"Aku baru tahu kalau gadis cyber sepertimu bisa bermimpi buruk."
Sudah dapat ditebak, layar handphone Shintaro langsung mati total.
Endure / Menanggung
"Aku tidak punya pilihan lain, kan?"
Di tengah derasnya informasi dan bilangan biner tempat Ene tinggal, kenangan itu kembali datang padanya. Janji untuk membangunkan Haruka saat pemuda itu sakit, janji untuk merayakan hanami bersama Haruka tahun depan, janji kepada dirinya sendiri untuk menyatakan perasaannya...
Sekarang sudah terlambat. Tak ada kesempatan baginya untuk mengungkapkan itu semua, jika sekarang dirinya masih terjebak di dalam lautan data dan satu-satunya jendela menuju dunia nyata hanyalah perangkat elektronik milik Shintaro. Ia tak mengerti apakah sahabat yang dicintainya itu dapat bertahan hidup seperti dirinya, atau justru menjadi salah satu korban dari akhir dunia seperti yang pernah dilaluinya. Apalagi jika mengingat kondisi tubuh Haruka yang lemah, membuat Ene semakin pesimis tentang keberadaan pemuda itu sekarang...
"Aku akan menyelamatkanmu, tak peduli bagaimana keadaan kita sekarang."
Tak peduli dengan posisinya sebagai wanita yang seharusnya dilindungi oleh pria, tak peduli dengan kondisi dirinya yang tak memungkinkan, tak peduli dengan kondisi Haruka –yang sekarang dikenal dengan nama Konoha –yang tak sedikitpun mengingat dirinya. Setidaknya, saat ia melihat sosok jangkung dan berambut putih itu di dalam markas Mekakushi-dan, harapan untuk terus menepati janjinya semakin bertambah kuat. Tentu saja, sekaligus mengungkapkan perasaannya yang dulu sempat tertunda...
Ennui / Perasaan Bosan
Takane menghela napas, ditatapnya papan tulis yang memuat pelajaran hari ini tanpa minat. Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya sekelas dengan Haruka, dan diajari oleh satu-satunya guru merangkap ilmuwan kekanak-kanakan. Tidak ada suara riuh-rendah seperti yang biasanya dihasilkan oleh kelas berkapasitas normal, tidak ada geng-geng antar teman-teman wanita yang sering terjadi di kelas. Semuanya berjalan dengan tenang, Takane masih menjadi juara dua dalam online shooting game favoritnya, Haruka masih terseyum dengan segala kelemahan fisiknya.
"Kau harus mensyukuri apa yang kaupunya, Takane," ujar Haruka lembut, tangannya masih mengarsir doodle yang dibuatnya di belakang buku catatan. Seorang gadis dengan masker ala pemadam kebakaran dan headphone kini menghiasi kertas bergaris tersebut. "dengan begitu, kau tidak akan pernah merasa bosan."
"Kau memang tidak bosan karena kau sedang menggambar di tengah pelajaran, bodoh!" jitak Takane sambil merebut buku tersebut. Sedikit keributan dengan mudah memancing perhatian Kenjirou untuk menghampiri kedua muridnya dan menjewer masing-masing kupingnya.
"Adududududuh! Ma-maaf, Sensei! Aku hanya ingin menegur Haruka yang menggambar di tengah pelajaran... hei, apa itu aku? Kenapa aku berpakaian seperti itu?"
"Itu desain avatarmu untuk shooting gallery nanti," jawab Haruka sambil meringis, rupanya ia juga tak mampu untuk mengelak dari hukuman gurunya hari ini.
Equal / Sama
Sampai sekarang, Ene masih belum mengerti mengapa dirinya bisa sampai ke komputer Shintaro Kisaragi, sang hikkiNEET yang tak pernah menginjakkan kaki keluar rumah selama dua tahun. Ia tak pernah memilih, Shintaro juga tak benar-benar menginginkannya, tapi mengapa semua ini terjadi?
"Takdir, sepertinya," jawab Shintaro cuek, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Awalnya Ene percaya dengan jawaban pemuda itu, mengingat kemampuan intelegensinya yang cukup tinggi untuk ukuran manusia normal. Atau mungkin Shintaro hanya asal jawab saja agar ia tak kembali merecokinya?
"Masteeeeer... jawab pertanyaanku dengan serius, dong! Kenapa aku bisa sampai di sini, kenapa tidak di handphone Momo, atau Kido, atau Seto... pasti mereka jauh lebih menyenangkan darimu, Master!"
"Arrgghh, berisik! Aku juga tidak tahu, Ene! Sekarang berhentilah menggangguku!" seru Shintaro sambil menutup kupingnya. Berhasil. Gadis berjaket biru itu langsung diam dan pergi. Shintaro baru saja mau bernapas lega dan hendak melanjutkan pembuatan lagunya ketika sekilas dilihatnya ekspresi wajah yang sedang berpikir keras itu terbaca dari wajah Ene.
"Ene?"
Gadis cyber itu sudah tak mendengar panggilan Shintaro lagi. Ia sibuk membandingkan dirinya dengan pemuda berambut kelam itu –lebih tepatnya, kehidupan dirinya saat menjadi Takane. Dulu ia juga jarang keluar rumah karena penyakitnya, jarang berinteraksi dengan orang-orang normal karena takut dihina, jarang bermain dengan teman-teman wanita sebaya. Satu-satunya hiburan dan penghargaan yang berhasil ia raih justru berada di dunia maya, tepatnya di shooting game favoritnya, meskipun hanya sedikit orang yang tahu tentang itu. Kenjirou Tateyama termasuk diantaranya, dan menyusul Haruka Kokonose. Sayang, peringkat pertamanya justru diambil oleh seseorang yang tak terduga. Ya, Shintaro Kisaragi, pemuda yang mengalahkannya saat berada di shooting gallery dan memaksanya untuk menggunakan panggilan 'Master' sebagai ganti nama asli adalah orang yang menggeser peringkat utamanya. Sama-sama memiliki waktu luang di depan komputer, sama-sama jarang berhubungan dengan manusia-manusia nyata, bahkan Shintaro juga memiliki kemampuan otak dan strategi yang jauh lebih mumpuni darinya. Apalagi yang kurang?
Sekarang Ene tahu, mengapa takdir mempermainkannya dengan memperangkapnya di perangkat elektronik milik Shintaro Kisaragi. Seorang hikkiNEET yang menjadi musuh nomor satu saat ia masih berwujud manusia, sekaligus satu-satunya teman pria yang mudah sekali di-bully melalui layar komputer atau handphone-nya. Mereka berdua punya kesamaan yang sangat banyak.
Oh, perlukah ditambah kalau mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi?
Erase / Menghapus
"Kenapa dihapus lagi, Haruka? Bukankah yang itu sudah bagus?" tanya Takane penasaran saat teman sebangku yang merangkap teman sekelasnya mulai meniup kotoran bekas penghapus ke udara. Sebagian hitam mencemari putihnya lantai, sebagian lagi masih tersisa di meja tulisnya.
"Tidak, tidak... masih belum pas."
"Belum pas apanya?" Takane memang awam soal seni, jadi ia hanya sedikit kecewa saat gambar avatar untuk shooting gallery minggu depan yang sebenarnya sudah bagus menurut pandangannya harus dibuat dari awal.
"Belum... mencerminkan dirimu, sepertinya," gumam Haruka sambil berkonsentrasi pada kertasnya. Hanya dalam beberapa menit, gadis berkuncir dua itu sudah terbentuk di atas buku catatannya dengan berbagai pose dan posisi kamera. Arsiran yang paling tebal hanya ada di bagian rambut, masker dan legging, sisanya hanya digaris tipis-tipis dan mengikuti lekuk tubuh. Tanpa perlu diwarnai, Takane sudah cukup paham dengan konsep avatar miliknya kali ini.
"Ini nanti kaus dalaman dan sneakernya warna merah, lalu garis-garis di jaket dan roknya warna kuning," tunjuk Haruka sambil memberi keterangan panah dalam gambar tersebut. Takane mengangguk paham. "Pulang sekolah nanti, akan kuwarnai sekalian membuat backgorund-nya."
"Ooh... lalu, bagaimana dengan karaktermu? Apa kau tidak akan bermain?"
Sebagai jawaban, Haruka membalik lembaran buku tersebut. Seorang pemuda dengan arsiran yang jauh lebih jarang daripada avatar miliknya, bahkan warna rambutnya dibiarkan polos begitu saja. Panah-panah yang menunjukkan keterangan warna sudah ada di situ, jadi Takane cukup membaca dalam hati tanpa perlu dipandu oleh sahabatnya.
'Konoha. Hair: white. Eye color: red. Headphone: black and yellow. Scraf: black and yellow. Birthmark: yellow. Shirt: white. Underwear: black. Trousers: yellow. Boots: black. Handband: black.'
"Kenapa desainku dengan milikmu berbeda? Punyaku hampir mirip dengan aslinya, sedangkan kau... aku bahkan tidak mengenalimu sama sekali dengan rambut putih itu," tuding Takane sambil menunjuk rambut Konoha yang dikuncir satu di tengkuk. Haruka tersenyum.
"Memang sengaja kubuat seperti itu. Karena kali ini kau berada di pihak lawan, maka kau kugambarkan lebih gelap dan misterius. Sedangkan aku, karena tidak berada di pihak siapapun, maka aku lebih banyak menggunakan warna putih. Netral. Toh hitam dan putih adalah dua warna dasar dari seluruh warna yang ada. Bahkan ying dan yang menggunakan konsep dua warna tersebut untuk lambangnya –berbeda namun saling melengkapi. Lagipula, kita tidak sepenuhnya berbeda –aksen kuning menjadi persamaan kita berdua..."
Kalimat selanjutnya tidak terdengar karena Takane sudah sibuk dengan perasaannya sendiri dan dentum jantung yang semakin menggila setelah menyimak penjelasan sahabatnya.
Eternal / Kekal
Sebagai gadis cyber, Ene sangat tahu kalau kemampuan mata yang membuatnya menjadi salah satu anggota Mekakushi-dan adalah 'Opening Eyes' alias immortal alias hidup selamanya. Banyak sekali cerita fiksi yang mengisahkan tentang seseorang yang immortal, baik di dunia maya maupun nyata sejak novel dan film vampir beredar di pasaran. Ene sudah membaca dan menonton semua pada waktu itu, namun tidak ada yang sama persis seperti kisah hidupnya. Memang, beberapa makhluk supernatural hanya dapat mengkonsumsi bahan tertentu untuk memperpanjang umur, atau melakukan hal-hal kriminal seperti membunuh dan semacamnya. Namun, hampir semua memiliki fisik yang tak jauh berbeda dari manusia, bahkan jauh lebih sempurna. Mereka semua bisa membaur dalam masyarakat sekitar, mengikuti adat dan istiadat setempat, bahkan sekolah atau kuliah berkali-kali karena postur tubuh dan wajah yang tampak muda. Kadang mereka sampai lupa kapan persisnya mereka lahir. Tak ada yang percaya kalau mereka telah mengarungi abad demi abad, sejarah demi sejarah, revolusi demi revolusi. Mereka adalah saksi hidup semua yang pernah terjadi di bumi ini.
Lalu bagaimana dengan sang tokoh utama wanita yang terlahir di era modern seperti Ene?
"A-aku... tidak tahu, Ene-chan. Tapi, setidaknya, ayo hidup bersama-sama. Aku di duniaku, dan kau di duniamu. Kita akan saling menemani," ujar Mary, bibirnya bergetar karena memaksakan senyum yang seharusnya tak ada. Jejak air mata yang seharusnya sudah mengering di pipi mulusnya basah lagi. Kesepuluh jemari ramping itu menggenggam sebuah smartphone erat-erat, menatap dalam-dalam mata biru Ene yang ikut berkaca-kaca.
"Sekarang... aku mengerti... perasaanmu yang ingin membuat dunia tanpa akhir..."
Tangis kedua makhluk immortal itu pecah.
Hari ini, hanya dua dari sembilan anggota Mekakushi-dan yang mampu meneruskan hidup.
Existence / Kehidupan
Mata biru itu menatap nisan bertuliskan nama yang familiar.
"Andai aku bisa memberikan separuh kehidupanku untukmu, Konoha-kun..."
" –Ah, bukan, Haruka Kokonose-san..."
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Apa-apaan itu endingnya QAQ /flip headcanon
Ehm, sori kebawa emosi. Jujur, ngetik drabble Ene itu lebih susah dari Shintaro ;A; perbedaan mereka berdua itu jauh banget. Emang, Shintaro masa lalunya kelam sama Ayano, sampe dibikinin 2 lagu sama Jin-san (Toumei Answer & LTM), tapi setelah itu hidupnya datar-datar aja kayak hikkiNEET pada umumnya. Baru pas masuk Mekakushi-dan, konflik baru muncul. Jadi saya cuma re-watch 2 PV tadi dan mbaca Kagepro Wiki, sisanya based on my headcanon. Kemarin aja ngetik sejam langsung jadi :P
Chapter Ene itu kebalikannya. Bayangkan aja, wujud fisiknya ada tiga, Takane Enomoto, Actor, dan Ene sendiri. Masa lalunya juga beda, dan dia juga punya lagu lebih banyak dari Shintaro (kalo dihitung yang dia sebagai Takane, Actor dan Ene) yaitu Artificial Enemy, Ene no Dennou Kikou (sayang saya ga ketemu lirik Inggrisnya dan males buka YT ;w;), Headphone Actor, Yuukei Yesterday, dan LTM (meski pemeran utamanya tetep Shintaro). Artificial Enemy & LTM itu buat adegan-adegan ShinEne yang sebagian besar ada di chapter kemarin (dan disinipun juga sebenernya banyak... orz iya saya emang ga kreatif), Headphone Actor itu buat... err... I hate to admit this, tapi rasanya saya cuma copas lirik disini ;A; makanya di ending saya jadikan parodi P*pmie. Yuukei Yesterday jelas, buat adegan HaruTaka 3 mungkin kalo ada yang nyadar (dan HaruTaka hardshipper seperti saya lol), saya banyak ngambil refrensi tentang mereka di Kagerou Project Downer Anthology, sama di manga tentu saja.
Selain itu, ada perbedaan besar antara chapter ini dengan sebelumnya. Coba tebak, apa hayo? Yep, panjang words! Seharian saya ubek-ubek kamus Inggris-Indonesia dan hanya beberapa kata berawalan huruf M yang ada hubungannya sama Shintaro, kebetulan juga semua kata tersebut bisa membentuk drabble yang alurnya jauh lebih rapi daripada sekarang yang timeline-nya loncat-loncat. Selain bikin capek (karena bikin bingung) dan makan waktu buat riset, kapasitas kata yang berawalan huruf E & berhubungan sama Ene itu banyak banget! Beberapa ada yang harus dibuang karena ada yang arti harfiahnya hampir sama.
Jadi... harap maklum kalau kalian kurang puas sama chapter Ene ini /terbang
-IMPORTANT INFORMATION-
[please read this! Tolong baca ini! Kiki yo kudasai!]
Chapter ketiga menceritakan tentang Momo Kisaragi dan menggunakan huruf ketiga dari Mekakushi yaitu K. Saya sudah obrak-abrik kamus, tapi sedikit sekali kata yang berawalan huruf K dan berhubungan sama Momo. Kalau kalian bersedia membantu, saya tidak segan-segan untuk mencantumkan nama kalian sebagai penyumbang ide :" sebaliknya, kalau tidak ada, saya terpaksa menggunakan kata-kata yang ada, dan konsekuensinya, saya hanya mengandalkan headcanon saya. Terima kasih banyak ;w;
