M-E-K-A-K-U-S-H-I

Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)

(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship/humor, T, canon)

-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-

.

.

.

M-E-K-A-K-U-S-H-I

(main character: Momo Kisaragi)

-japan special edition-

Kagami / Cermin

Ribuan flashlight menghentak-hentak dengan irama yang dinamis. Oranye yang serasi dengan kostum kesayangannya menjadi satu-satunya sumber cahaya dalam kegelapan. Di dalam studio berkapasitas ribuan orang ini, hanya ada dirinya, mike super gemerlap di genggaman tangannya, panggung megah dengan tata lampu yang mewah, serta seluruh penggemar yang ikut bernyanyi bersamanya.

dakedo shinjiru, kimi dakara.
massugu mae wo muite?
honto ni dame na toki wa, kimi no kokoro wo sasaete ageru.

"isso" nante akiramecha
zettai dame dakara

nee, issho ni susumou?
"hitori bocchi" wo kowashichaou, hora!

DOK DOK DOK

"Cepat keluar, Momo! Nanti aku terlambat!" seru Shintaro, gedorannya yang heboh sukses membuat imajinasi adiknya buyar. Dengan bersungut-sungut, Momo melanjutkan acara merapikan rambutnya yang tertunda karena sisirnya digunakan sebagai pengganti mike. Sebenarnya ia sudah selesai mandi dari tadi, tapi sebagai penyanyi, kemampuannya harus terus terasah agar penggemarnya tidak kecewa. Caranya? Ya bernyanyi di depan cermin.

"Iya, iya, sebentar!"


Kotae / Jawaban

"Kenapa kau tidak meminta kakakmu itu untuk mengajarkanmu, Kisaragi-san..." keluh Kenjirou sambil menghela napas, kentara sekali kalau ia tampak enggan melihat nilai yang ia tulis disitu untuk yang kedua kalinya saat tangannya menyerahkan lembar ujian kemarin. Seekor bebek yang tergambar menggunakan spidol merah berenang dengan santai, berkebalikan sekali dengan reaksi Momo yang kecewa berat.

"Ta-tapi... Sensei..."

Manik sewarna amber itu lagi-lagi menatap sang bebek alias angka dua di lembar ujiannya, berharap kemampuan yang dimilikinya dapan mengubah nilai tersebut menjadi delapan. Seperti yang dapat ditebak, tidak terjadi apa-apa.

"Dulu kakakmu itu sangat jenius, kebanggaan sekolah ini. Sayang adiknya jadi seperti ini~" Meskipun tatapan matanya mengarah ke langit-langit, namun kentara sekali kalau Kenjirou menyindir anak didiknya sendiri.

"Tapi dia, kan, tidak bisa menjadi idol seperti aku!"

Kenjirou langsung sweatdrop. "Terserahlah. Pokoknya, kalau setelah mengikuti pelajaran tambahan besok dan nilaimu tidak mengalami peningkatan, kau tidak boleh keluar dari sekolah ini sampai jam pelajaran terakhir selesai!

"APAAAAAAAAA?"


Kanashimi / Kesedihan

"Hey, sudahlah. Jangan bersedih lagi."

Hibiya masih meringkuk di pojokan seperti kucing kehujanan. Sebagai anggota kedelapan Mekakushi-dan yang baru saja kehilangan sahabat saat ditemukan oleh Kido dan kawan-kawan, butuh waktu lama baginya untuk beradaptasi di lingkungan barunya. Satu-satunya wajah yang familiar hanya Konoha, itupun juga tidak banyak membantunya karena amnesia yang diderita.

Air mata itu kembali keluar. Ia sudah bersiap untuk menamengi dirinya dengan status anak-anak yang dimiliki ketika Momo menangkap kesedihan yang tersirat.

"Kalau kau terus begini, kau akan terus merasa silau oleh besok!"

Tanpa basa-basi, gadis berambut pirang itu menarik tangan Hibiya keluar, merasakan sinar matahari yang panas menempa kulit mereka. Dengan refleks tangan itu melindungi pandangan matanya dari ultraviolet yang mendadak, lalu menyusun kata-kata makian untuk Momo.

"Obaasan! Kenapa kaubawa aku ke tempat seperti ini, hah?"

Jangan salahkan pengalaman pahit yang menyebabkan pikiran anak laki-laki itu bertransformasi menjadi lebih dewasa dari tubuhnya. Momo hanya terkikik geli saat melihat wajah Hibiya yang jauh lebih muda darinya memerah. Kombinasi antara cuaca panas, malu dan marah. Wajar saja, mengingat tempat yang mereka hadiri adalah taman bermain. Ingat kejadian Hiyori berlari dari ayunan dan tertabrak truk?

"Aku percaya kau bisa melewati semuanya, Hibiya." Momo menggenggam tangan Hibiya erat. "Karena itulah, aku membawamu ke tempat ini. Agar kau bisa melihat taman bermain ini hanyalah taman bermain biasa, bukan tempat kejadian perkara... bukan pula neraka.

"Aku percaya padamu... karena itu dirimu."


Kanshoku / Camilan

"Hmm... cumi kering sudah, sup kacang merah kalengan sudah, soda juga sudah..." Momo membolak-balik daftar belanjaan, manik amber itu menelusuri sekiranya ada yang kurang. "Tambah apalagi, ya? Daging barbeque dan panggangannya sudah dibawa oleh Konoha, pernak-pernik pesta sudah dibawa oleh Seto dan Mary-chan, tinggal –"

PIIP PIIP PIIIIIIIIIP

"Halo?"

"Imouto-san!" seru Ene riang. "Maaf mengganggu, tapi apa imouto-san sudah ada di kasir?"

"Iya, ini lagi ngantri. Memang kenapa?"

"Ini Master mau bicara –" Kalimatnya mendadak terputus, namun tak lama kemudian pemuda yang dimaksud segera memperjelas keadaan. "Momo, tambah sodanya lagi ya!"

"Eeh? Tapi aku sudah beli banyak!" keluh Momo sambil memandang keranjangnya yang hampir tiga perempatnya berisi soda kalengan. "Kalau kebanyakan nanti aku susah membawanya!"

Terdengar desahan kecewa di seberang telepon, meskipun suara yang terdengar berikutnya bukan ditujukan untuk Momo. "Tuh, kan, sudah kubilang kau harus ikut menemaninya, Kano!"

"Ehehehe~ tapi nanti Kido-chan tercinta bisa cemburu~"

"Sudahlah, Niichan." Momo berusaha menarik perhatian kakaknya dengan suara yang agak dikeraskan. "Kututup, ya. Sampai jumpa di markas."

"E-eh? Gimana dengan sodaku –"

TUUT TUUT TUUT TUUUUUT

Tanpa Momo sadari, di tempat yang berlainan, Kano tertawa saat melihat wajah kecewa yang khas Shintaro. "Sudahlah, nanti kuantar ke minimarket terdekat, oke?"

"KENAPA TIDAK KAUBILANG DARI TADI, DASAR BODOH!"


Kanjou / Perasaan

"Aku benci niichan!"

Momo membuka mata. Melalui indra pengelihatan yang kini mendapat bonus kemampuan super, bayangan langit-langit kamar tersampaikan hingga ke otak. Sang idol itu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin. Meskipun satu-satunya penerangan hanyalah lampu meja –Momo terlalu malas untuk menekan saklar lampu utama –namun mata semerah darah ketika kekuatannya aktif itu sangat jelas di tengah keremangan.

Mata ini...

Tangan kanan itu menyentuh bayangannya sendiri. Lebih tepatnya, ke arah mata yang telah membuat hidupnya berubah hingga menjadi sekarang. Tak hanya dirinya, namun melibatkan seluruh keluarganya dan orang-orang disekitarnya. Dan itu hanya berawal dari satu kalimat.

"Aku benci niichan!"

Momo masih ingat bagaimana rasa air asin itu memenuhi rongga mulutnya, pedas yang menusuk-nusuk indra pengelihatannya, dan ombak yang hendak menelan raganya. Kalimat yang berawal dari suatu perasaan itu sekarang menjadi senjata makan tuan. Ketika Momo mengira dirinya sudah menjadi almarhum, tiba-tiba uluran tangan menyambut tubuhnya. Bukan hanya satu, namun beberapa orang langsung membopongnya menuju perahu yang terapung. Dalam kesadaran yang tinggal setengah, mata merah itu terpejam.

"Aku benci niichan!"

Awalnya kalimat itu hanya mampu membentur dinding-dinding hatinya, seperti gema yang tak putus-putus jika disuarakan di gua. Namun kalimat itu semakin berani keluar dari bibirnya, seiring dengan perasaannya yang terus mengembang, terutama jika keluarga dan rekan-rekan selalu membandingkan dirinya dengan Shintaro yang sempurna. Lama-lama Momo benci acara keluarga, benci keramaian, benci kakaknya, benci dirinya sendiri yang biasa-biasa saja. Ia sadar kalau kapasitas otaknya tak mungkin melampaui pemuda pendiam itu, karena itulah Momo berusaha untuk menarik perhatian orang-orang disekitarnya melalui jalur yang lain, meski entertainment bukan favoritnya. Sejak insiden tenggelam yang 'nyaris' membuat dirinya tinggal nama, keinginan itu terkabul. Kalimat itu tak pernah lagi terucap. Perasaan itu tak lagi muncul. Mereka berdua telah impas. Shintaro dengan kejeniusannya, dan Momo dengan profesinya sebagai penyanyi terkenal.

Perasaan itu adalah... iri.


Kisaragi / Februari

Dalam setahun, selalu ada satu hari bagi Momo untuk membatalkan semua janji manggung ditempat manapun, menghindari untuk menginjakkan kaki di depan umum, dan mengurung diri di dalam kamar seperti kakaknya hingga kalender berganti tanggal. Semua alat telekomunikasi dimatikan, keinginan untuk menuntaskan panggilan alam diminimalkan, panggilan dari ibunya tidak dihiraukan. Hanya segelintir orang yang mengetahui kebiasaan tersebut, salah satunya adalah Mekakushi-dan.

"Kenapa kau melakukan itu, Momo-chan? Bukankah tanggal 14 Februari itu hari ulangtahunmu?" tanya Mary penasaran waktu ia menemani sang idol berbelanja kebutuhan logistik untuk 'hibernasi' esok harinya.

"Justru karena itu!" jerit Momo frustasi. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya jika berulangtahun tepat di hari Valentine, Mary-chan. Apalagi dengan statusku sebagai selebriti membuat para fans-fans itu semakin menggila! Dulu aku pernah nekat menandatangani perjanjian live show saat tanggal tersebut, dan aku baru bisa pulang jam tiga pagi agar tidak ketahuan oleh mereka! Belum kalau aku harus datang ke sekolah untuk mengikuti ujian susulan, ugh... sudahlah. Aku tidak ingin membicarakannya. Tenang saja, Mary-chan, hanya sekali dalam setahun kok. Kalau kau ingin merayakan ulangtahunku bersama anggota Mekakushi-dan yang lain, tunggu sampai besok saja. Aku pasti datang."

"Tentu~" sahut Mary sambil tersenyum, lalu dilihatnya isi keranjang belanja yang ia bawa. Selusin telur, sebungkus besar tepung, kopi instan ukuran jumbo, dan masih banyak lagi. Pikiran licik yang terlintas di kepala saat ia tersenyum itu mendadak buyar ketika sahabatnya ikut melihat belanjaannya dengan rasa ingin tahu.

"Ngomong-ngomong, Mary-chan, tumben kau membeli pasokan sebanyak ini? Apa di markas sudah habis?"

"I-iya. Kautahu, kan, kalau mereka suka titip untuk dibuatkan minuman jika aku ke dapur?" jawab Mary sambil tergagap, untung saja Momo tidak menyadarinya.

"Ah, benar juga. Baiklah, besok buatkan aku minuman juga, ya!"

"Oke."

Sesuai pesananmu, Momo-chan. Minuman terenak yang pernah kubuat –campuran antara tepung, bubuk kopi dan telur mentah yang disajikan di atas kepalamu! batin Mary sambil tertawa nista.


Kagayaku / Bersinar

"Aku paling suka saat-saat seperti ini," gumam Kano sambil tersenyum, membuat pemuda dengan hoodie hijau itu menoleh. Semua anggota Mekakushi-dan saat itu sedang ada di taman bermain, terima kasih untuk Ene yang mengajak mereka semua. Kano dan Seto baru saja menjajah sebuah bangku taman setelah mencoba semua wahana yang memacu adrenalin, sementara Kido dan Momo masih berdiskusi tentang arena yang akan dikunjungi berikutnya. Bukan suatu kebetulan jika pemilik kemampuan 'Eye Captivating' dan 'Eye Concealing' berjalan bersama-sama, agar Momo bisa bersantai dengan tenang tanpa takut terganggu oleh perhatian banyak orang.

"Eh?"

"Iya. Lihat, Seto." Kano menunjuk ke arah dua gadis itu. Memang dari kejauhan, mereka berdua tampak akrab, berkebalikan sekali dengan fakta kalau Kido dan Momo sedang berdebat heboh antara pilihan kincir angin atau komidi putar. "Momo dulu pernah bilang, kalau kemampuannya memang membuat ia lebih diperhatikan banyak orang, namun semua itu palsu. Mereka tidak memperhatikan bagaimana kepribadian Momo yang sesungguhnya, lagipula kemampuan matanya itu membuat ia semakin dijauhi oleh teman-temannya yang normal. Kau bisa mengatakan ini 'girls rivalry' atau semacamnya."

Seto mengangguk-angguk paham, kelereng itu masih memperhatikan debat diantara mereka berdua yang semakin seru.

"Tapi sejak bertemu dengan kita, Momo bilang kalau ia jauh lebih gembira karena menemukan sahabat yang mau menerima ia apa adanya. Apalagi beberapa dari kita juga mampu menangkal kemampuan Momo agar kita tidak ikut menjadi salah satu dari fans beratnya –salah satunya Kido," terang Kano lagi. Seto mulai tertarik dengan arah pembicaraan pemuda bermata kucing itu.

"Meskipun saat itu Momo juga pernah bilang kalau tanpa kemampuannya sekarang ia takkan bisa bersinar seperti kakaknya, tapi menurutku... pendapatnya itu salah."

Seto kini memfokuskan seluruh perhatiannya kepada Kano. "Maksudmu?"

Tanpa perlu keterangan lebih lanjut, pemuda dengan hoodie hitam itu menunjuk Momo yang kini tersenyum riang, wajahnya jauh lebih cerah jika dibandingkan dengan saat pertama kali merea bertemu. Sepertinya kata mufakat telah tercapai, dan jika dilihat dari arah langkah mereka yang beriringan, tujuan Momo dan Kido berikutnya sudah jelas; kincir angin.

Sebentar, ini matanya yang salah atau Momo memang terlihat lebih mencolok meskipun Kido telah mengaktifkan kemampuannya untuk menjadi tidak terlihat?

"Kau juga bisa merasakannya, kan?" sahut Kano sambil tersenyum lembut. "Momo bersinar dengan caranya sendiri. Ia tak perlu kemampuan matanya."

.

"Kau tidak menggunakan kemampuan matamu kali ini, kan?" ujar Seto sambil menyiapkan tinjunya. Kano hanya meringis, namun perlahan-lahan menjauhkan jarak diantara mereka berdua.

"Su-sungguh! Tadi itu memang bukan aku! Kau lihat sendiri, kan, kalau Momo memang benar-benar bersinar karena kemampuannya sendiri?" elak Kano seraya menghindari bogem mentah yang bertubi-tubi melayang ke arahnya.

"TAPI TIDAK PERLU SAMPAI PAKAI EFEK BLING-BLING SEPERTI VAMPIR KENA SINAR MATAHARI, KAAAN?"

.

.

.

TO BE CONTINUE

[bersambung]

.

.

.

-Behind the Scene-

[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]

Udah ah saya capek angsteh terus di Shintaro & Ene, khusus di chapter ini fluff (?) aja~ yah emang ada sih dikit, cuma buat tantangan aja soalnya image Momo selama ini ceria terus ovo

Betewe, perlukah saya kasih keterangan kalau lirik romaji itu diambil dari Otsukimi Recital (playlist saya saat ngetik ini + ndengerin namahousou juga~) dan kalimat yang italic di drabble Kanashimi itu juga terjemahan dari lirik Otsukimi Recital? ^^ pasti semuanya udah sadar kali ya. Oh, sama drabble yang Kagayaku itu juga sebenarnya terisnpirasi dari Downer Anthology yang Friends (kalo gasalah punya Kiritani Subaru, soalnya kabel data HDD saya lagi error jadi ga bisa baca ulang OTL), coba kalo balon katanya diganti sama percakapan di drabble tadi pasti pas =w= dan kayaknya... cameo disini sepertinya leih beragam daripada 2 chapter sebelumnya .w. mungkin ini semacam adaptasi dari angst/tragedy ShinAya ShinEne KonoEne HaruTaka ke pair-pair lain kali yak. Lagipula chapter berikutnya itu Kido, yang absolutely bakal banyak KanoKido disana (berbahagialah kalian yang ngeship pair ini! \o/)

Sebelum internet semakin lemot buat apdet fic ini, saya ucapkan terima kasih untuk Lacchan & arandomperson (entah kenapa mereka berdua kompak anon ._. jadi susah mbalesnya via PM kan orz) untuk idenya. Tanpa bantuan kalian berdua, mungkin fanfic ini bakal molor apdetnya :"3 dan memang setelah dipikir-pikir lagi, kata-kata inggris yang berawalan K memang sedikit, jadi khusus chapter ini spesial jepun aja. Nggak tau gimana nasibnya di chapter Mary nanti (yang sama-sama K), pake japan special edition lagi apa gimana? Kalau saya pribadi sih pengennya bahasa lain ._.

Review for faster update! /kaburgegarambuatMaryOOC

EDIT: hari ini Otsukimi Recital keluar! dan yang bikin saya gembira, predikisi saya di drabble hampir mirip dengan PV aslinya! meskipun di NND ga ada translatenya http (titik dua) (dobel garis miring) www (titik) nicovideo (titik) jp (garis miring) watch (garis miring) sm21259575 (pagar) (underscore) (samadengan) tapi setidaknya saya udah lega banget :"3 soalnya dulu pas drabble Ene ada bagian yang nggak persis pas manganya keluar orz (yang ada HaruTaka-nya)