M-E-K-A-K-U-S-H-I

Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)

(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship, T, canon)

-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-

.

.

.

M-E-K-A-K-U-S-H-I

(main character: Mary Kozakura)

-german special edition-

Kindheit / Masa Kanak-kanak

"Kaa-chan, aku tidak bisa tidur," rengek Mary sambil menarik-narik gaun ibunya, sebelah tangannya digunakan untuk menggosok-gosok mata. Tingginya yang tidak mencapai perut Shion membuat ia terpaksa membungkuk agar menyamakan pandangan mata, lalu dengan tersenyum lembut, wanita berambut putih panjang itu menggendong anak semata wayangnya ke dalam kamar.

"Mau Kaa-chan buatkan susu?"

"Nggak mau," jawab Mary dengan nada manja, ditariknya selimut berbahan wol itu hingga menutupi dagu setelah ia menyesuaikan diri dengan kasur empuknya. "Kaa-chan disini saja. Ceritakan aku dongeng sebelum tidur."

"Oke. Kaa-chan akan menceritakan sebuah dongeng, judulnya... Medusa."

Saat itu, Mary belum tahu kalau dongeng yang selalu dibacakan ibunya sebelum tidur didasari oleh kejadian nyata.


kennen lernen / Bertemu

Pertemuan pertama dengan manusia selain ibunya adalah bencana.

Mary tak tahan lagi untuk sekadar menjejakkan kaki di halaman rumahnya sendiri –toh takkan ada manusia yang bertandang kemari. Setelah memastikan ibunya tetap berada di dalam ruaangan dan sibuk dengan bukunya, gadis mungil itu mengendap-endap menuju pintu depan, lalu membukanya perlahan. Sepanjang apa yang dilihat oleh mata merah jambunya, tak ada siapapun di halaman belakangnya, membuat Mary lebih percaya diri untuk keluar dari rumah dan mempertaruhkan segala nasibnya sejak ia nekad melanggar perintah ibunya.

Paling hanya dimarahi saja setelah aku pulang nanti, pikir Mary dengan polosnya waktu itu. Tak sebanding dengan keasyikannya memetik bunga-bunga dandelion yang tumbuh liar dan merangkainya hingga menjadi mahkota. Namun perkiraannya meleset jauh, gadis berambut pirang itu pulang dengan membawa luka dan mayat ibunya yang sudah menolongnya dari para penculik tadi. Sejak saat itu, Mary selalu mematuhi kata-kata ibunya, meski orang yang bersangkutan telah tiada.

Namun, pertemuan keduanya dengan manusia selain ibunya adalah anugrah.


klopfen / Mengetuk

Tok tok tok

Tiga kali ketukan ragu-ragu di pintu membuat Mary terkejut setengah mati. Seumur hidupnya, tak pernah ada seorangpun yang bertandang ke rumahnya, sehingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia membukanya? Atau tetap diam di rumah dan mematuhi perintah almarhum ibunya?

Tok tok tok

Cangkir yang berisi teh itu tumpah begitu saja ketika gadis berambut pirang itu buru-buru bersembunyi dari ketukan pintu yang cukup mengganggu. Ditutupnya sepasang mata berwarna merah jambu itu dengan tangannya, tak ingin mencelakakan siapapun yang menatap matanya secara tidak sengaja meski risikonya adalah kegelapan yang menyelimuti pandangan.

Kriieeeeeet

Pintu terbuka perlahan, membuat Mary semakin menggigil ketakutan. Hanya suara yang dapat dijadikan petunjuk mengenai orang tersebut, dan didengarnya suara langkah itu mendekat ke arah dirinya.

"Ja-jangan mendekat!" seru Mary dengan suara bergetar, namun cukup keras untuk didengar orang tersebut. Tubuhnya sudah tak sanggup bergerak lagi, dan perlahan-lahan air matanya merembes di balik kedua tangan yang menangkup wajahnya. Ia pasti terlihat memalukan di hadapan orang tersebut, apalagi dengan genangan teh yang tumpah tak jauh dari tempatnya berlutut. "Jika kau melihat mataku, maka kau akan berubah menjadi batu!"

"Aku juga hidup dalam ketakutan, tapi bukankah dunia akan menjadi lebih baik tanpa ketakutan itu?"

Sebuah tangan yang besar dan hangat menepuk-nepuk puncak kepalanya, disertai dengan jawaban yang tenang. Mary membuka matanya perlahan, dan mendapati sesosok lelaki seusianya yang tersenyum hangat tanpa ada sedikitpun ketakutan dibalik sorot matanya yang cerah.

Pahlawannya telah datang dan menyelamatkannya.


Kopfhӧrer / Earphone

Dentingan piano yang lembut mengalun di telinga Mary, membuat gadis itu sumringah di tengah perjalanannya keluar hutan bersama Kido, Kano, dan Seto –pahlawannya.

"Lagu apa ini, Seto?" tanya Mary sambil menunjukkan layar ponsel yang sedari tadi digenggamnya. Seto tersenyum.

"Itu lagu klasik, Mary. Chopin yang mengaransemennya, judulnya Nocturne op. 9 no. 2. Kau suka?"

"Suka sekali!" jawab Mary tanpa ragu-ragu. "Uhm... Seto, tapi bagaimana bisa musik seindah ini keluar dari alat sekecil ini dan masuk ke dalam telingaku?"

Tiga pasang mata langsung menatap Mary keheranan. Keheningan melanda mereka untuk beberapa saat.

"Mary... sudah berapa lama kau tinggal di rumahmu?" tanya Seto dengan wajah yang sedikit pucat, namun setelah dipelototi sedemikian rupa oleh Kido, ia buru-buru mengganti pertanyaannya. "Ehm, maksudku... apa kau pernah jalan-jalan keluar dari rumah?"

"Eh?" Gadis yang kini mengenakan hoodie putih bermotif mawar pemberian Seto itu hanya memiringkan kepalanya. "Aku dilarang keluar rumah oleh ibuku, terakhir kali aku melakukannya... aku nyaris diculik dan ibuku meninggal dunia demi menyelamatkanku. Sejak saat itu aku tidak mau keluar rumah lagi. Tapi... sepertinya tidak terlalu lama, hanya sepuluh tahun. Ehehe..."

"Kozakura-san," potong Kido tegas, berusaha menyimpulkan sesuatu yang membuat setiap orang yang mendengarnya meneguk ludah. "Sepertinya ada yang salah dengan persepsi waktumu."

"Eeh?"


Kumpel / Teman

Awalnya markas Mekakushi-dan belum terlalu ramai. Hanya Mary yang menjaganya seharian, sementara Seto bekerja dan dua anggota lainnya sekolah. Mary tidak tahu apa itu sekolah dan kerja, yang jelas kedua kegiatan itu membuatnya seakan-akan berada di rumah lagi, melakukan segala hal sendirian. Mulai dari membaca buku, merangkai bunga, menjahit, hingga membuat bunga palsu dari plastik. Bedanya, barang-barang yang ada di dalam markas ini jauh lebih canggih daripada rumahnya yang ada di hutan, bahkan baru akhir-akhir ini ia mempelajari cara membuat bunga plastik dari Seto karena ia baru tahu kalau bunga seindah itu bisa dibuat tiruannya oleh manusia.

Baru saja ia mau membuka pintu, terdengar suara yang asing di telinganya. Sejauh pengetahuannya, hanya ia dan Kido –oh, Mary harus berusaha memanggilnya 'Danchou' mulai saat ini –yang berjenis kelamin perempuan di Mekakushi Dan, namun kenapa ada suara gadis yang ribut sendiri di ruang tengah?

Tunggu dulu, suara itu ternyata tidak hanya satu, tapi dua. Oh, tiga. Bukan, empat. Mary kehilangan hitungan saking banyaknya suara tersebut dan membaur jadi satu dalam kehebohan yang ditimbulkan.

Gadis itu mengurungkan kembali niatnya dalam memutar gagang pintu dan kembali menyelesaikan pekerjaannya, namun sebuah suara yang familiar akhirnya memanggilnya dari luar. Pahlawannya.

"Mary, keluarlah! Kita mendapat teman baru!"


Kӧnigin / Ratu

Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin.

Mary menggelengkan kepalanya, berharap ini hanyalah mimpi buruk dan ia akan segera terbangun seperti biasanya. Likuid merah yang membasahi trotoar itu tidak nyata, kan? Suara pistol yang baru saja ia dengar itu juga tidak nyata, kan?

Pemuda yang ada di hadapannya itu tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan Mary yang menggigil ketakutan dan teman-temannya yang meregang nyawa. Ia tak mau mempercayai pengelihatannya. Ia tak mau... namun kenyataan mengkhianatinya. Telinganya mengkhianatinya. Gadis berambut pirang itu dapat mendengar rintihan, teriakan, jeritan, bahkan ada yang menghembuskan napas terakhir tanpa suara, hanya bisa membelalakkan mata dengan pandangan bertanya-tanya. Mengapa? Mengapa?

"Karena kau adalah ratu dari semua tragedi ini," jawab pemuda serbahitam itu, seolah-olah megetahui isi hatinya. "Gunakanlah. Gunakanlah kekuatan monstermu jika kau mencintainya."

"Tidak," Mary masih meratap, tak percaya dengan fakta bahwa ia sudah kehilangan teman-temannya hanya dengan sekejap mata. Dan semua pembunuhan itu hanya dilakukan oleh satu orang –yang sekarang sudah ada di depannya, mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.

"Gunakanlah."

"Tidak."

"Gunakanlah!"

"TIDAAAAAAAAAKKKKKKK!"

Samar-samar, ia bisa merasakan kekuatan besar meledak dari dalam dirinya, menumbuhkan sesuatu semacam sayap di pinggangnya, dan dalam rasa sakit yang tak tertahankan, Mary berteriak. Berteriak sekeras-kerasnya. Tak peduli dengan pemuda yang ada di hadapannya sekarang. Tak peduli dengan dunia yang usang. Tak peduli dengan dunia tanpa pahlawannya.

Seto.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!"


künftig / Masa depan

Inilah masa depan yang telah ia cari.

Tanpa ada waktu yang berjalan di tempat, tanpa ada pengulangan masa, semua orang kembali seperti semula. Oh, mungkin pengecualian bagi Mary sendiri karena ia belum pernah melihat sosok sebenarnya dari Ene yang kini lebih suka dipanggil dengan nama aslinya, Enomoto Takane, dan Konoha yang bernama asli Kokonose Haruka. Sedikit banyak gadis seperempat Medusa itu menguasai keadaan, dan belajar beradaptasi dengan kondisi mereka. Kini ia tak perlu menatap layar ponsel terus-menerus saat ingin berbicara dengan Ene, dan ia juga tak boleh bergantung terlalu banyak terhadap kekuatan Konoha, karena tubuh pemuda berambut coklat gelap itu sendiri butuh bantuan dari kursi roda. Sisanya, tidak ada yang terlalu menonjol. Anggota Mekakushi Dan tetap sembilan termasuk dirinya, tidak lebih dan tidak kurang. Tak perlu menyesali orang-orang yang sudah tiada, orang-orang yang mengorbankan hidup mereka demi kelangsungan hidup Mary dan kawan-kawan meski gadis berambut pirang itu sempat melihat mereka di Kagerou Daze, termasuk sang pendiri Mekakushi Dan.

Anggota nomor 0, Ayano Tateyama.

Bahkan dari sekian orang-orang yang ia kasihi seperti ibunya dan neneknya (yang baru pertama kali ia lihat juga), Ayano-lah yang paling merebut perhatian. Bukan hanya dirinya saja, melainkan seluruh anggota Mekakushi Dan. Ada semacam aura hangat yang melingkupi gadis bersyal merah itu, mengalahkan Azami yang notabene pencipta Kagerou Daze sendiri. Dalam lingkaran kecil berisikan semua anggota Mekakushi Dan dengan Ayano sebagai pusat, sang pendiri tersenyum lembut sambil mengucapkan pesan terakhirnya.

"Jalani hidup kalian sepenuhnya."

Sembilan pasang mata itu kembali basah, tangan mereka saling bertautan. Sambil memejamkan mata, langit merah yang membentang di atas kepala perlahan-lahan memudar, mengembalikan semua anggota Mekakushi Dan ke dunia asal. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa kemampuan mata merah yang masing-masing mereka gunakan untuk pergi ke Kagerou Daze sama pudarnya dengan langit tersebut sebelum benar-benar menghilang.

Mary tersenyum, tak apalah ia kehilangan kemampuan matanya asal ia tak kehilangan teman-temannya di Mekakushi Dan.

.

.

.

finish (?)

.

.

.

-Behind the Scene-

[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]

ENGGAK KOK BELUM TAMAT. JANGAN DITINGGAL DULU PLIS ;;w;; /difentungreaders

Halo semuanya! Akhirnya bisa ngelanjutin nih fanfic setelah terlantar oleh kesibukan RL =A= engg mungkin udah curhat yah di fanfic saya sebelumnya (jadi ceritanya saya ikut challenge di fandom SnK sebelum ngelanjutin ini... pinter banget nggak sih authornya? /WOI), jadi mahasiswa baru itu emang berat. Apalagi saya kuliah desain, jadi ga mungkin saya nyontek dan segala macem. Ini saya baru aja dapet libur seminggu buat natal sama taun baru, tapi setelah itu langsung UAS. Libur semesterannya baru akhir Januari nanti, juga cuma seminggu, baru lanjut semester dua. How I really miss holiday :"3

Sebelumnya saya juga minta maaf, saya udah lupa gimana caranya bikin drabble ;_; terus kayaknya chapter ini nggak original banget, udah kayak copas lirik Souzou Forest & Outer Science. Cuma prompt terakhir yang bener-bener pake imajinasi saya sendiri, soalnya nyari teori di tumblr banyak yang ga masuk akal (no offense) dan internetnya juga lemot TTwTT jadi saya anggap di good ending route itu mereka semua bener-bener jadi normal, ga ada yang namanya cyber girl atau super guy. Ehm mungkin Mary masih jadi ¼ Medusa, tapi Combining Eyes-nya hilang, tinggal Paralysis-nya aja. Dan tentu aja, nikah dan hidup bahagia bersama official pair masing-masing 8D

Oh iya, prompt kali ini khusus bahasa Jerman karena baru-baru ini saya inget kalo bahasa Jerman itu banyak yang make huruf K meanwhile Inggris itu C, semacam itu. Misalnya, kalau bahasa inggrisnya kopi itu coffee, kalo bahasa jerman itu Kaffee. FYI, meskipun nilai jerman saya jelek banget dulu waktu SMA, tapi awalan huruf dalam bahasa jerman itu bisa beda arti kalau besar atau kecil. Misalnya, Klammern (K besar) artinya brackets/kurung, tapi klammern (k kecil) artinya clip/penjepit. Beda jauh kan? Jadi sekali lagi, itu bukan typo ^^ emang tata bahasaya kayak gitu. Kalau ada yang mau membenarkan artiannya juga silakan, soalnya saya cuma punya kamus jerman-inggris bukan jerman-indo jadi ada beberapa hal yang mungkin salah .-.

Review? :")