M-E-K-A-K-U-S-H-I
Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)
(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship, T, canon)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
M-E-K-A-K-U-S-H-I
(main character: Kano Shuuya)
Ugly / Jelek
"Jangan lama-lama bercerminnya, Jii-chan," ujar Hibiya, sinis seperti biasa ketika Kano masih berkutat di depan wastafel sementara anak laki-laki itu mengambil sikat gigi. "Nanti cerminnya retak, lho."
"Enak saja! Begini-begini aku itu pria paling tampan dari semua anggota Mekakushi-dan, tahu!" sahut Kano tanpa memalingkan perhatiannya dari cermin yang sedang dihadapi. "Coba lihat ini, bahkan bayanganku saja bisa naksir padaku, ihihi~"
Hibiya yang baru saja meludah ke arah lubang kloset menoleh ke arah sang pemuda pirang sambil menggosok bibirnya, penasaran dengan apa yang dimaksud Kano. Dari jarak yang cukup dekat, ia dapat melihat bayangan seorang pria pirang yang terpantul dari cermin, tapi bayangan itu bukan Kano. Ia memiliki rahang yang jauh lebih tegas dan tampan, tulang hidung yang tinggi, mata biru yang jernih, dan rambut pirang yang tertata dengan apik.
Hibiya mendengus, berusaha untuk menahan keinginan untuk tidak menumpahkan isi perutnya ke dalam lubang kloset.
"Jii-chan please," ungkapnya dengan gaya 6gag, tentu saja dengan tepukan tangan ke jidat. "Nggak usah manipulasi wajahmu sendiri pakai wajahnya Tom Felton, deh. Bedanya sejauh Tokyo sampai London, tahu."
Unable / Tidak Mampu
Aroma sedap ramen menyebar dengan cepat ke ruangan depan, meski makanan tersebut dimasak di dapur yang jaraknya lumayan jauh. Indra penciuman Kano langsung beraksi, tubuhnya yang sedari tadi hanya menempel di sofa sambil memeluk bantal dan menggenggam remote TV langsung bangkit dan berjalan menuju sang koki.
"Kalau kau bisa berhenti bermalas-malasan di ruang tengah, seharusnya kau bisa membantuku untuk menyiapkan makan malam ini, Kano," ujar Kido tanpa memalingkan pandangan dari panci besar, sementara pemuda berjaket hitam itu hanya nyengir dari balik punggungnya.
"Tapi kautahu sendiri, kan, kalau aku tidak bisa memasak?" ucap Kano setengah memelas, air liurnya terbit ketika melihat ramen itu mengapung di air setengah mendidih, lalu berputar dalam pusaran mini yang dibuat oleh sang koki di dalam panci. Kido menghela napas.
"Ya sudah, siapkan delapan mangkuk beserta sumpitnya sementara aku menuang ini."
"Iya, iya, Nyonya~"
Sepasang tangan itu terangkat ke udara, hendak meraih peralatan masak yang dimaksud di dalam rak piring yang kebetulan berada di atas kompor. Namun yang tak Kido antisipasi sebelumnya, Kano melakukannya dengan dagu yang bertumpu di bahu gadis, itu sehingga ia bisa merasakan napas sang pemuda berhembus pelan dan menggelitik di kupingnya.
Sedetik. Dua detik. Debar jantung Kido semakin berakselerasi, namun ia tak bisa melakukan apa-apa jika konsentrasinya masih berada di ramen yang sebentar lagi matang. Uap air menguar ke udara bebas karena hawa panas yang mencapai maksimal, bersamaan dengan suhu tubuh Kido yang semakin meningkat dan wajahnya yang memerah.
Bluuuuuussshhh
"Ini dia mangkuknya~ eh, Kido? Ramennya sudah matang, lho."
Unite / Bersatu
"Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!"
Seto yang baru saja masuk dengan wajah lelah, mendadak tertarik dengan suara TV yang disetel Kano setelah Mary membukakan pintu. Ia langsung berjalan ke arah sofa panjang, penasaran dengan apa yang ditonton oleh pemuda berambut pirang itu sementara Mary mengekor dari belakang.
"Heboh sekali tertawanya, Kano, apa yang lucu?" tanya Seto penasaran karena adegan gadis-gadis berseragam sekolah yang sedang bertempur melawan musuh jahat itu pada dasarnya tidak punya adegan humor sama sekali, berkebalikan dengan respon Kano yang berguling-guling di atas sofa.
"Jelas saja lucu. Sementara mereka bertarung melawan musuh jahat di dalam kotak TV berukuran 30 inchi dengan kekuatan bulan, kita justru melawan sesuatu yang tak tampak dengan kekuatan mata," jawab Kano setelah tawanya mereda, sambil menghapus air mata yang sempat tercipta. "Bahkan sebagian dari kita masih belum mampu mengendalikan kemampuannya, berbeda dengan anime itu yang segala sesuatunya bisa dimenangkan dengan mudah, seperti sulap. Ah, dunia nyata memang lebih menantang~
Seto tercekat. Meskipun sahabatnya itu kini kembali melanjutkan tawanya yang tak berkesudahan, namun kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya jelas-jelas mengindikasikan sarkasme tingkat dewa, dan kesedihan yang terselip di dalam. Kano tidak benar-benar menertawakan anime yang ditontonnya, melainkan reailta dan ketidakmampuannya untuk membuat segalanya menjadi happy ending seperti anime tersebut. Mungkin orang normal akan meratap, menangis, dan putus asa ketika mendapat cobaan, namun tidak ada satu ekspresi pun yang seperti itu di wajah Kano. Seto mengenal baik watak Kano yang menyembunyikan segala sesuatunya dalam senyum seperti sekarang, dan tahu bagaimana cara menghadapinya.
Yaitu bertingkah sama-sama gilanya dan jangan balik mengasihani.
"Meskipun tantangan di dunia tiga dimensi lebih susah, tapi kita bisa menaklukannya jika kita bersatu!" seru Seto sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara, meniru pose seorang pahlawan bertopeng yang terkenal. "Dengan kekuatan mata, kita akan menghukummu, monster jahat!"
Mereka berdua kini larut dalam tawa. Miris.
Underground / Bawah Tanah
Purnama malam ini layaknya bola kuning raksasa yang mengapung di langit malam, menciptakan siluet seorang pemuda yang sedang berjalan dalam kesendirian. Kedua tangannya dihangatkan di saku hoodie hitam, sekaligus mengamankan benda-benda berharganya di dalam sana. Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, Kano berbelok ke sebuah gang sempit, hingga netranya bertemu dengan sosok yang tak asing. Dengan suara rendah, mereka berdua bercakap-cakap, wajah mereka terhalangi bayangan. Kano sendiri melindungi identitasnya dengan menaikkan tudung hitam, seraya tangannya terulur untuk melakukan transaksi rahasia. Beberapa lembar uang pindah ke saku pemuda berambut pirang itu, tentu saja setelah mengecek nominalnya di bawah keremangan cahaya bulan. Transaksi tersebut membutuhkan waktu beberapa menit saja, karena tak ada basa-basi dan percakapan tak penting. Semua dilakukan secara sistematis dan rahasia.
Kano keluar dari gang sempit itu tanpa menurunkan tudungnya sama sekali, masih banyak klien yang harus ia kunjungi.
Berkali-kali menciptakan ilusi jalan yang tenang dan sepi, memanipulasi wajahnya agar terlihat lebih menyakinkan, serta informasi yang dapat ditukar dengan uang adalah pekerjaannya sehari-hari. Tak terhitung banyaknya pihak yang ingin membeli informasi tersebut, dan Kano tak peduli apakah mereka adalah sosok protagonis ataupun antagonis. Yang jelas, bisnis bawah tanah ini sesuai dengan dirinya yang suka bergerliya di tengah malam dan tidak suka memamerkan pekerjaannya ke orang awam. Ia hanya ingin kebutuhan hidupnya dan teman-temannya tercukupi secara diam-diam, karena kebanyakan dari mereka tidak ada yang memiliki pekerjaan tetap. Kombo Seto dan Mary tidak membantu banyak, dan Momo... tiga perempat penghasilannya untuk menghidupi keluarganya sendiri yang sudah kekurangan. Kano tidak memaksa, pekerjaan yang lumayan berat untuk pemuda seusianya memang murni keinginannya sendiri, sebagai pemasok kas tertinggi Mekakushi-dan, dan secara tidak langsung menjadi figur ayah bagi mereka.
Karena Mekakushi-dan adalah keluarganya.
Unique / Unik
"Kalian semua tidak aneh, tapi unik, karena tidak semua orang dianugerahi kemampuan seperti kalian."
Kano menyimak dalam diam, begitu pula dengan teman-temannya yang masih sibuk dengan air mata. Setelah sekian lama ia tinggal di panti asuhan dengan segala ejekan dan cemoohan yang ditujukan padanya dan kedua temannya, akhirnya mereka bertiga diadopsi oleh keluarga yang cukup layak, bonus seorang kakak perempuan yang hanya beda dua tahun dengan mereka. Namun jalan pikiran Ayano Tateyama jauh melebihi mereka, melampaui gadis-gadis seumurannya, dibalik kemampuan otaknya yang pas-pasan. Hanya berbekal imajinasi dan kesabaran tiada akhir, gadis bersyal merah itu membawa mereka semua untuk berdamai dengan kemampuan yang mereka miliki, menyelamatkan keluarganya yang saat itu kehilangan sosok orangtua, serta menyelamatkan teman-temannya sendiri yang terancam nyawanya.
Bahkan Ayano tak segan-segan mengorbankan miliknya demi melakukan hal tersebut.
Semua orang ingin menjadi dia. Menjadi sosok 'pahlawan' yang sesungguhnya. Imaji ini sudah tertanam di pikiran Kano, Kido dan Seto, namun mereka semua melakukannya dengan cara mereka masing-masing. Seto mengajarkan keberanian ke Mary dan menjadikannya sebagai salah satu anggota sekaligus membantunya bekerja mandiri, Kido hadir sebagai sosok ibu bagi seluruh anggota Mekakushi-dan sekaligus pemimpin di atas kertas, sedangkan ia sendiri... tak perlu orang-orang tahu apa saja kontribusinya sebagai tiga anggota pertama Mekakushi-dan. Cukuplah mereka melihat Kano sebagai pemuda yang suka tersenyum dan malas-malasan di kala siang, bersikap terlalu santai di segala keadaan, dan kadang suka menggoda lawan jenis. Hanya segelintir yang tahu bagaimana usaha pemuda bermata kucing itu untuk menghibur teman-temannya, memberikan solusi terbaik dan mengatur strategi jika mendapat kesulitan, serta menafkahi dirinya dan Mekakushi-dan.
Ia sudah cukup dengan kehidupannya sebagai pahlawan dalam bayangan.
Until / Sampai
Hujan tumpah dari langit sore itu.
"Sudah, jangan menangis lagi, Kido-chan," hibur Kano sambil tersenyum, sementara gadis berambut hijau yang tadi dipanggil dengan nama Kido masih sesenggukan. Mereka berdua berjalan dengan satu payung menaungi kepala mereka, gagangnya disokong oleh mereka berdua karena ukuran payung tersebut terlalu besar untuk ditangani sendirian. Tirai air terbentuk mengelilingi mereka, menciptakan pemandangan yang cantik dan romantis apabila mereka tujuh tahun lebih tua dan sang tokoh utama wanitanya tak menangis seperti sekarang.
"Ha-habis... suara petirnya..."
Kano merangkul sahabatnya erat, niatnya ingin memeluk Kido seutuhnya namun masih ada beban payung yang harus dipegang. Masih menggenggam gagang payung, gadis berambut hijau itu mendaratkan kepala di bahu Kano, mencari kehangatan yang sudah lama hilang dari kehidupannya bertahun-tahun silam. Meskipun laju jalan mereka jadi lebih lambat dan sedikit miring, namun tak ada yang peduli. Jalanan sudah mulai sepi, hujan masih belum mau berhenti, kaki-kaki telanjang itu menjejak genangan air sesuka hati, hanya tubuh bagian atas dan ransel yang masih terlindungi. Sesekali petir menyambar di troposfer, membuat Kido semakin merapatkan diri ke tubuh lelaki bermata kucing itu. Langit masih belum terjamah sinar matahari ketika pagar rumah mereka terlihat dari ujung gang.
"Kita sudah hampir sampai, Kido."
Iris sewarna giok itu membundar lucu, meski jejak-jejak airmata masih terbaca jelas di sekitar kelopak mata dan pipinya.
"Kano-kun?"
"Ya?"
"Aku ingin selalu bersamamu seperti ini." Sebuah lengkungan bibir terbentuk di wajah Kido, lebih cerah daripada cuaca yang mereka hadapi. Kano membalas senyum itu sambil tangannya menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu.
"Aku juga," jawab Kano pelan, tapi pasti, seakan membuat janji untuk dirinya sendiri. "Sampai maut memisahkan kita."
Unpredictable / Tak Terduga
"Kanooooo~~~bagaimana ini?" seru Momo panik, penampilannya yang berantakan tidak cukup menyakinkan pemuda berambut pirang itu untuk bangkit dari sofa. "Aku baru saja ditelpon oleh manajerku, katanya aku ada photo session mendadak jam lima nanti! Huaaaaaa~~~~"
"Ya sudah, datang saja," saran Kano sambil tersenyum seperti biasa, tapi sikapnya tak menunjukkan bahwa ia berempati dengan kesulitan sang idol.
"Ta-tapi, bukankah nanti malam kita mau mengadakan rapat? Aku tidak yakin bisa selesai tepat waktu... hiks."
"Sudah, tidak apa-apa kalau tidak bisa datang. Nanti akan kuberitahu apa yang terjadi selama rapat." Mata kucing itu masih tak beralih dari layar televisi. Sepintas dilihatnya Momo sudah lebih tenang, aksesoris dan kostum yang sedari tadi dibawanya kemana-mana karena bingung kini dipakainya sambil menunggu manajer datang menjemputnya. Kano menghela napas lega, lalu memperbesar volume live show yang sedang ditontonnya. Baru saja ia menyandarkan punggungnya untuk menikmati hiburannya, seorang gadis serba biru elektrik mendadak muncul di layar, sementara latar belakangnya berubah menjadi hitam. Ene menatapnya dengan cemas dan panik.
"Ada apa, Ene?" Kano rupanya harus menahan diri untuk tidak melempar remote yang sedang digenggamnya ke layar televisi, lagipula gadis cyber itu pasti takkan bisa merasakan kesakitannya.
"Maakan aku, Kano, tapi Shintaro tidak mau turun dari kamarnya sejak tadi siang! Bisakah kau membujuknya agar ia bisa turun?" pinta Ene memelas.
"Iya, iya, nanti aku akan membangunkannya kalau rapat sudah dimulai. Sekarang, bisakah kau menyingkir dari live show yang sedang kutonton?" respon Kano malas. Gadis serba biru itu hanya tersenyum sekilas sebelum tampilan di layar kembali seperti semula. Diambilnya sekaleng softdrink yang masih tersegel rapi dan teronggok di sudut sofa, sembari mengaduk-aduk hasil belanjaannya di minimarket tadi. Seharusnya hari ini menjadi hari paling tenang dalam hidupnya sebelum...
"Bolehkan aku duduk disini?"
Tanpa menungu persetujuan dari sang penguasa sofa, seorang pemuda berambut putih sudah menjatuhkan bokongnya dengan ekspresi datar, lalu ikut-ikut menonton live show yang tayang di depan mata. Kano hanya bisa ternganga ketika Konoha yang dikiranya hanya duduk manis tanpa menganggu dirinya kini merogohkan tangan ke plastik belanja, mengambil salah satu snack disana dan memakannya tanpa ragu.
"Aku minta, ya."
Ingin rasanya pemuda berambut pirang itu menjatuhkan diri dari gedung berlantai lima.
Us / Kami
Awalnya hanya bertiga.
Kano tidak keberatan sama sekali ketika gadis berambut hijau yang telah menarik perhatianya sejak lama itu menggeser posisi Ayano sebagai pemimpin, disusul oleh Seto yang berjiwa lebih dewasa dari dirinya. Saat itu ia hanya menganggap mereka hanyalah clique kecil dengan kemampuan besar –kesamaan nasib yang sering di-bully oleh orang lainlah yang membentuk Mekakushi-dan. Kano juga cukup besar untuk menyadari petualangan imajinernya selama ini hanya sebagai hiburan belaka, permainan masa kanak-kanak, meskipun kemampuan mata mereka nyata. Ia baru tahu kalau diluar sana, ada banyak anak yang bernasib sepertinya, dan datang menemui mereka dengan cara yang tak diduga-duga. Kalau Mary adalah perkecualian karena ia berasal dari persilangan antara makhluk supernatural dan manusia, masihkah ia mengucapkan hal yang sama untuk Ene sang gadis cyber?
["Selamat datang di Mekakushi-dan!"]
Oh, Kano lupa kalau ia sendiri yang memaksa Shintaro untuk menjaga kerahasiaan grup kecil ini dengan cara menjadi salah satu anggota. Berarti pemuda hikkiNEET yang lemah fisiknya itu perkecualian dari semuanya, kan? Peraturan utama tak tertulis untuk menjadi bagian dari Mekakushi-dan adalah harus memiliki kemampuan mata, padahal Shintaro sama sekali tak memilikinya. Bahkan ia baru sadar kalau selama ini adik kandungnya sendiri menjadi terkenal bukan semata-mata karena bakat menyanyinya. Kano menghela napas, rupanya tinggal seatap tak menjamin dua saudara bisa saling mengenal satu sama lain.
Tapi bukan itu alasan utamanya.
Mungkin jika ditelisik, pemuda dengan jersey merah itu memang memiliki banyak hubungan dengan seluruh anggota Mekakushi-dan, sengaja ataupun tidak. Bahkan Shintaro adalah salah seorang yang paling dekat dengan pendiri Mekakushi-dan itu sendiri, dan secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan anggota yang lain juga. Tapi sekali lagi, semua fakta itu baru terbeber setelah beberapa bulan mereka berbagi cerita, bagaimana Shintaro selama ini pernah menjadi bagian dari relung hati Ayano, bagaimana Shintaro selama ini menjadi adik kelas Takane dan Haruka, bagaimana Shintaro mengenal Kenjirou sebagai gurunya, jadi Kano tidak menjadikan alasan itu sebagai keputusannya untuk memasukkan Shintaro ke dalam circle-nya. Lingkup persahabatannya.
Ya, sebenarnya sesimpel itu.
Mekakushi-dan bukan hanya menghimpun orang-orang berkemampuan khusus, namun juga memiliki ikatan yang erat satu-sama lain dan bersedia membantu temannya jika ada yang kesusahan. Mengingat mereka bersembilan terikat dengan benang takdir yang sama, maka akan lebih mudah untuk melakukan itu semua daripada bersinggungan dengan orang-orang awam. Sepintas, Shintaro juga terlihat sebagai orang awam yang dimaksud, mengingat tak ada yang spesial dalam diri pemuda itu kecuali kejeniusannya dalam pelajaran dan kehidupan maya (jangan harap ia akan melakukan hal yang sama di kehidupan nyata), tapi Kano dapat melihat sesuatu yang lain di balik mata itu.
Bukan warna merah seperti yang dimiliki oleh kedelapan anggota Mekakushi-dan yang lain, tapi ketulusan dan sikap setia kawan.
Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa dibalik sikap introvert-nya, Shintaro cukup cepat juga dalam membaur bersama yang lain. Tentu saja, ada banyak campur tangan Kano disini sebagai anggota yang paling sering mem-bully anak itu, tapi justru itulah yang membuat semua orang terhibur, bahkan Shintaro sendiri. Bahkan pemuda dengan jersey merah itu jauh lebih ekspresif jika dibandingkan dengan kehidupannya yang suram dulu, aku Momo diam-diam padanya. Kano sangat bersyukur bisa berteman dengan 'orang awam' menurut definisinya, dan tidak terganggu sama sekali dengan perbedaan yang mereka miliki. Shintaro juga lebih enjoy dalam menghadapi kedelapan temannya, terutama Ene karena gadis dengan warna rambut tak wajar itu secara fisik adalah 'properti' milik Shintaro.
Hingga suatu saat ia melihat sekelebatan warna merah di iris pemuda berambut hitam itu.
["Karena kami semua adalah saudara senasib sepenanggungan."]
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
AHAHAHAHA MAAFKAN HEADCANON SAYA YANG SANGAT ASDFGHJKL *terjun bareng Aya-neechan.
Akhirnya, seenggaknya saya bisa masukin hints KanoKido lebih banyak disini. Akhirnya saya bisa lebih niat ngetiknya, maksudnya lebih ngasih banyak deskripsi daripada chapter-chapter sebelumnya yang isinya kebanyakan have fun dan semaunya sendiri –maksudnya ga peduli sama readers yang mungkin aja ga ngerti apa-apa pas mbaca fanfic saya. Sejak fanfic ini lolos jadi Best Canon Multichapter di IFA 2013 dulu (makasih banyak untuk semua yang mau ngevote! Love you soo much!), saya sadar kalo ga cuma fans kagepro aja yang mbaca fanfic saya, tapi orang lain juga. Saya ingin berusaha dengan cara saya sendiri untuk bisa menarik mereka masuk ke dalam fandom yang berjaya ini. Muahahahaha /plok.
Oke, itu baru tujuan saya sebagai author yang ingin menularkan virus kagepro terhadap banyak orang, sekarang balik lagi ke konten fanficnya sendiri. Di chapter ini saya pengen ngangkat keseharian dan sifat Kano sebagai 'pemimpin' yang sesungguhnya, yang mengayomi teman-temannya, dibalik sifatnya yang slengean itu. Terus pekerjaannya sebagai informan... hayo ada yang tau nggak terinspirasi dari siapa? *ming. Abis di novelnya sendiri (Children Record kalo gasalah) ada bagian dimana Kano sering keluar malem-malem... dan saya yakin anak itu ga seneng-seneng disana kayak yang semua orang pikirkan ^^ trus saya masih agak bingung juga sih sama timelinenya, kalo bisa dibantu ya soalnya saya juga mau ngoreksi yang chapter Kido kemarin .-.
Bener ga sih kalo timeline terbentuknya Mekakushi-dan itu; KanoKidoSeto punya masalah mereka masing-masing - mati - masuk Kagerou Daze - balik lagi - masuk ke panti asuhan - dipungut keluarga Tateyama? Udah nyari sumber sih, tapi susah nyari pas umur berapa mereka masuk Kagerou Daze, berapa lama mereka di panti asuhan, berapa lama mereka jadi adek angkat Ayano, orz ;_; bahkan saya ga ngerti sekolahnya pas udah sejak kecil sebelum mereka masuk Kagerou Daze, atau pas masuk panti asuhan, atau setelah jadi keluarga angkatnya Tateyama. Mungkin saya bisa ngambil patokan kalo SMA jelas bapak-ibu Ayano udah meninggal, tapi gimana pas mereka SMP & SD? Ini emang detil kecil tapi ngaruh juga ke cerita, terutama kalo mau ngambil setting sekolah _(:3
Well, review?
