M-E-K-A-K-U-S-H-I
Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)
(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship, T, canon)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
M-E-K-A-K-U-S-H-I
(main character: Hibiya Amamiya)
Summer / Musim Panas
Sebutir keringat meninggalkan jejak berbentuk garis di pelipis.
Buru-buru Hibiya meraih saputangan yang selalu tersimpan di sakunya sebelum sebuah perintah menghentikannya. "Jangan pakai sapu tanganmu, Bodoh. Pasti menjijikkan dan, ugh... aku tidak bisa membayangkan kau akan menciumi bekas keringatku di sapu tanganmu nanti."
Bocah lelaki itu meneguk ludah, modusnya kentara sekali di mata sang pujaan. Setelah mengaduk-aduk tas tangannya, Hiyori mengeluarkan kipas lipat dengan hiasan bulu-bulu berwarna merah jambu dan menodongnya di depan muka.
"Kipasi aku dengan ini. Cepat! Musim panas ini merepotkanku saja..."
Disinilah ia, Hibiya Amamiya, umur sepuluh tahun, entah harus berbahagia atau tersiksa, menemani gadis pujaan berjalan-jalan di kota sambil membawa tumpukan kantung belanja, ditambah dengan tangan kanannya yang kini sibuk mengipasi Hiyori Asahina.
"Hiyori, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar –" Napas bocah lelaki itu terputus setelah melihat bis yang melintas di jalan raya. "Daripada capek-capek berjalan, lebih baik kita menunggu di halte dan naik bis saja! Hiyori-chan juga pasti tidak akan kepanasan kalau berada di dalam bis –"
"Maaf saja, tapi aku tidak mau mengambil resiko kehilangan muka di depan umum kalau kau sampai ketinggalan bis gara-gara masalah sepele~" sahut Hiyori, rambut hitamnya yang dikuncir dua melambai di udara. "Lagipula, apa kau tidak malu denganku yang lebih kuat berjalan jauh tanpa sedikitpun mengeluh? Menyedihkan."
Dituding seperti itu, Hibiya langsung kicep untuk yang kedua kalinya. Akhirnya, sepanjang perjalanan, meskipun barang belanjaan menggantung di lengan kiri dan kanan, ia tak berani protes pada pemiliknya yang kini melenggang dengan tenang.
Stalker / Penguntit
Sudah menjadi rahasia umum kalau Hibiya adalah seorang pengagum berat –koreksi, amat berat –teman sekelasnya. Wajar, memang, mengingat gadis yang dipuja adalah seseorang yang cantik, pintar, dan diidolakan pula oleh rekan-rekan sejawatnya. Tapi masih wajarkah kalau Hibiya sampai mengoleksi setiap foto gadis itu di dompetnya, membuat boneka buatan tangan dengan rekaman suaranya, mencatat dan menghapal semua aktivtas hariannya?
Obsesi, sih, iya.
"Menjijikkan," komentar Momo sambil mengrenyitkan muka. "Lagipula, statusmu di matanya hanyalah salah satu dari –uhuk! –stalkernya. Apa yang membuatmu ingin menyelamatkannya sedemikian rupa? Apa kau berharap adegan drama picisan, menjadi pahlawan kesiangan, dan Asahina-mu tercinta akan memberi ciuman di jidat? Hah, yang benar saja. Jika aku jadi Hiyori, aku bahkan tak sudi mengucapkan terima kasih padamu."
"Jangan... berkata... seolah... kau... Hiyori, Obaachan." Tangan Hibiya mengepal. "Kau... tidak... tahu... sedikitpun... tentang... dia!"
"Oh ya? Mengapa tidak?" tantang Momo. "Sesuai deskripsimu, dia cantik, pintar, dan terkenal. Well, aku juga cantik, juga sama-sama pintar... menyanyi dan menari, kalau dalam kasusku, jadi aku bisa tahu bagaimana rasanya menjadi terkenal dan dikejar-kejar banyak fans, termasuk yang paling menjijikkan sepertimu. Lihat, sejauh ini, Hiyori tidak pernah terlihat tertarik dengan salah satu dari fansnya, kan? Sama sepertiku. Buka matamu, Hibiya, kau hanya super duper beruntung karena bisa disuruh-suruh langsung oleh bocah itu dan dibentaki langsung, itu lebih baik daripada diacuhkan sama sekali."
" Tapi... meskipun begitu... meskipun begitu... dia Hiyori... semenyebalkan apapun dia, Hiyori hanyalah gadis yang butuh pertolonganku..."
Solution / Solusi
"O-ohayo, Hibiya-kun."
Bocah berambut coklat itu mendengus, meninggalkan Konoha yang masih kebingungan dengan sikap Hibiya yang ketus. Seingatnya pemuda jangkung itu tak punya salah apa-apa, ia bahkan jarang bersua dengan Hibiya, tapi mengapa tatapan mata itu seolah-olah membencinya?
["Kau... kau ada disana... tapi kenapa kau tidak menyelamatkan kami?!"]
Padahal Konoha sudah berkali-kali menjelaskan kalau ia tidak sengaja masuk ke dalam Kagerou Daze yang sama, dan karena ini bukan 'pertarungan'nya, ia tidak mampu untuk melakukan apa-apa. Bahkan berkat Hibiya pula, ia bisa keluar bersama-sama... meskipun sang tokoh utama terluka lebih parah. Mungkin emosinya masih belum reda, atau harus ada seseorang yang dijadikan kambing hitam atas semua masalah, lelaki bermata coklat itu menuding Konoha, hingga membutuhkan waktu lumayan lama bagi pemuda jangkung itu atas kesalahpahaman yang telah Hibiya buat. Konoha kira semua masalahnya telah selesai, tapi mengapa Hibiya masih bersikap dingin padanya?
Tok tok
"Siapa."
Suaranya bahkan lebih mirip antipati daripada bertanya.
"A-ano... aku Konoha. Aku bawa negima."
"Tidak lapar."
"Tapi..."
"Aku. Tidak. Lapar."
"...Danchou dan semua orang sedang pergi berbelanja, mereka tak masak apa-apa... Hibiya... tidak lapar?"
Suara televisi dikeraskan. Pria tak dikenal tertawa terbahak-bahak, menusuk perasaan Konoha semakin dalam.
"Baiklah..." Suaranya semakin tenggelam. "Silakan ambil... di meja makan... kalau lapar."
Suara itu akhirnya menghilang. Hibiya menunggu beberapa saat dari balik pintu kamar, dan setelah memastikan suasana aman, ia langsung berjingkat-jingkat menuju ruang makan. Ia paling malas kalau berhubungan dengan Konoha, karena selain ketidakmampuannya untuk membantu gadis yang dicinta, wajah itu selalu mengingatkannya pada ekspresi tertarik Asahina. Setahunya, baru kali itu Hiyori tergila-gila pada seoang pria, yang bahkan setiap kalimatnya butuh jeda. Perasaan standar bagi setiap lelaki normal; cemburu buta.
Pemuda berambut putih itu ternyata asyik memamah makan malamnya di ruang makan.
Kepalang basah, Hibiya tak mungkin mundur setelah melihat sosok yang tak disuka berada di depan mata. Dengan pasrah, ia menarik kursi yang letaknya sedikit berjauhan, dan mengambil mangkuk yang ditumpuk di tengah meja. Sayang, keinginannya untuk segera makan dan beranjak sirna begitu melihat nasi dan lauknya alpa dari meja makan.
"Mau... negima?"
Hibiya langsung merebut beberapa tusuk dari piring yang ditawarkan Konoha sambil memalingkan muka. Meskipun samar, namun pemuda berambut putih itu tersenyum... karena bocah yang ada di hadapannya lebih mudah dihadapi jika perutnya telah diisi.
"Hibiya... sudah... tak marah lagi denganku?'
"Hah? Marah apa?" tanya Hibiya dengan mulut penuh negima.
Case closed.
Sacrifice / Pengorbanan
"Hei~ kau~"
Hibiya menoleh. Syal merah berayun-ayun di udara terbuka, sementara pemiliknya tersenyum sambil melambaikan tangan. Lelaki berambut coklat itu mendekat, tak peduli dengan langit yang menaungi kepalanya bergemuruh keras. Sudah sejak awal ia menunggu kehadiran gadis itu di dunia yang tak masuk akal, dunia dengan langit berwarna biru mencolok dan lubang hitam menganga di tengahnya. Sesuatu seperti efek hologram berwarna merah mengelilingi lingkaran tersebut, bersamaan dengan aliran listrik yang menyambar-nyambar.
"Akhirnya kita bertemu lagi."
Kedua mata merah saling bertatap. Hibiya tidak menjawab salamnya.
"Kau sudah tahu kalau aku tidak bisa menyelamatkan 'teman'ku"
"Ahaha, maaf. Kurasa itu adalah suatu informasi yang harus kaudapat dengan pengalaman, bukan dengan bertanya. Jadi, apa itu saja yang membawamu kemari?"
"Aku mendapat banyak teman baru, sesuai kata-katamu. Kau benar."
"Syukurlah kalau begitu, kau takkan kesepian lagi sekarang," komentar Ayano sambil tersenyum riang. "Ada lagi yang ingin kausampaikan padaku?"
"Baru saja kami memenangkan pertarungan terakhir kami."
"Oh ya? Selamat kalau begitu."
"Jadi... apa kami dapat kembali seperti normal?" tanya Hibiya pada akhirnya, meskipun lebih terdengar seperti menuntut daripada ingin tahu belaka.
"Kau bisa memiliki 'mata' itu, kalau kau mau."
"Bukan itu yang kumaksud, Ayano-neechan." Untuk pertama kalinya, bocah berambut coklat itu memanggil nama sang pendiri Mekakushi Dan. Ada sedikit rasa terkejut yang menyusup di dalam dada Ayano, namun segera ia halau dengan senyum gugupnya yang tersembunyi di balik syal merah.
"Maafkan aku."
Hibiya kembali diam. Keheningan yang tercipta jauh lebih menyiksa daripada saat pertama kali mereka bertemu.
"Semua yang telah berpulang takkan bisa kembali ke dunia fana."
Kilat merah semakin sering menyambar.
"Akan kusampaikan itu kepada teman-temanku, meskipun mungkin mereka tak terlalu kaget dengan faktanya," ujar Hibiya dingin, tatapannya terpancang ke pusat lubang hitam di atas kepala. Telapak tangannya terentang di udara, merasakan energi yang akan menarik seluruh tubuhnya ke atas.
"Satu pertanyaan lagi sebelum aku pergi."
"Silakan."
"Apa kau juga salah satu yang telah berpulang?"
Baru kali ini ia melihat ekspresi Ayano yang sedang berpikir keras, rupanya lucu juga karena kerut-kerut di atas dahi itu sangat tak cocok dengan kepribadiannya. "Menurutmu bagaimana?"
"Kau berada disini sepanjang waktu atas inisiatif sendiri, berbeda dengan kami yang murni kecelakaan... tapi kau juga bisa mengunjungi dunia fana, dan yang paling utama, kau bisa berbincang-bincang denganku di sini. Kau ini... apa?"
"Berdasarkan catatan forensik duniamu, aku memang sudah berpulang," jawab Ayano sambil meringis. "Dan kalau kau mengasosiasikan kemenangan pertempuran terakhir kalian dengan keadaan yang akan kembali normal, artinya... kau takkan bisa menemuiku lagi. Yah, meskipun kalian masih boleh memiliki kekuatan 'mata' itu. Pada akhirnya berguna juga, kan?"
Energi yang terpancar semakin keras. Bayangan Hibiya memudar, begitu pula dengan senyumnya yang pertama kali di dunia tak masuk akal ini. Ayano melambaikan tangan sekali lagi.
"Selamat tinggal, Hibiya."
Hibiya baru saja ingin membalas lambaian tangan Ayano kalau saja ia tak melihat bayangan seorang gadis berkuncir dua di belakang Ayano.
Shadow / Bayangan
Sebuah bola hitam menggelundung di atas lantai, membuat konsentrasi Hibiya terusik. Hari ini ia sedang membantu Kido memasak, karena hanya dirinya dan Danchou yang dapat diandalkan untuk masalah perut. Gadis berambut hijau gelap itu membungkuk untuk meraih benda yang mendistraksi kegiatannya, dan suara yang familar terdengar dari bola berbulu itu.
"Miaw~"
"Jangan ganggu kami, Pus, nanti kau akan kebagian jatah setelah kami selesai masak," ujar Kido lembut setelah meletakkan lagi si kucing ke tempat semula. Hewan berkaki empat itu menurut, dan segera berlari keluar.
"Kenapa belum diberi nama, Danchou?"
"Eh? Aku masih bingung soalnya. Kira-kira nama apa yang cocok baginya, ya?"
"Hmm... Kano? Matanya persis, sih," usul Hibiya setengah berpikir. Dilihatnya lagi kucing hitam yang kini meloncat ke atas sofa, lalu bergelung dengan nyaman disana. Entah mengapa ada rasa yang tak asing saat melihat kucing tersebut, tapi apa?
"Jangan, nanti bisa tertukar dengan Si Bodoh itu," tolak Kido. "Hmm... bagaimana kalau Shadow?"
"Bayangan? Boleh juga." Setengah mengiyakan, pikirannya menjelajah lebih dalam. Kucing... hitam... mata merah... astaga.
Persis dengan kucing yang kutemui di Kagerou Daze dulu.
"Danchou, apa tidak apa-apa memeliharanya?" tanya Hibiya ragu-ragu. "Maksudku... kita sekarang sudah berada di dunia nyata, kan?"
"Hah? Apa yang sedang kaubicarakan, Hibiya?" Terdengar suara kompor gas yang diputar kenopnya, bersamaan dengan sendok kayu yang membentur bagian dalam panci. Kido menyendoknya sedikit setelah puas mengaduk-aduk, dan mendekatkannya ke lidah. "Hmm, sudah pas. Memang ada apa dengan kucing itu? Mary baru saja memungutnya kemarin petang, dia bilang kucing itu mengingatkannya dengan almarhum neneknya dulu jadi ia ingin memeliharanya... Hibiya?"
Bocah berambut coklat itu sudah tak ada di tempat. Kido nyaris saja menjerit ketika kucing malang itu terangkat di udara karena dicekik lehernya oleh Hibiya.
"Kembalikan Hiyori, dasar kucing sialan! Kembalikan!"
Sleep / Tidur
"Konoha-saaan... ayo bangun! Katanya kau akan mentraktir kami es krim!" Hibiya mengguncang-guncangkan tubuh pemuda jangkung itu sementara Hiyori hanya bisa cemberut.
"Cih, membangunkan Konoha-sama saja tidak bisa. Minggir, biar aku saja." Dengan angkuh, gadis berkuncir dua itu langsung meloncat ke tempat tidur, dan kalau saja Hibiya tidak sadar apa yang akan dilakukan Hiyori selanjutnya, mungkin situasinya akan menjadi runyam karena bibir itu nyaris menyentuh –
"HIYORI!"
Hoaahm
Suara kuapan memecahkan kesunyian diantara mereka bertiga, sementara Konoha hanya melihat Hiyori dan Hibiya dengan tatapan bertanya-tanya. "Halo Hiyori, Hibiya. Etto... mengapa kalian... ada di atas... ranjangku?"
"E-h? Ka-kami hanya ingin membangunkanmu, Konoha! Kami baru saja ingin meninggalkanmu karena kami tidak enak jika mengganggu tidurmu yang pulas jadi... ahahaha..." elak Hibiya dan Hiyori bersamaan, selangkah demi selangkah mendekati pintu keluar dan segera menyelamatkan muka meskipun sang pendengar masih setengah sadar.
"...Hah? A-ano... bisa diulangi? Maaf... aku belum paham... Ah! Bagaimana kalau kita... makan es krim bersama-sama? Aku yang bayar..."
Entah Hibiya harus menepuk jidatnya atau bersorak girang. Kalau Hiyori, sudah jelas mengambil pilihan kedua, bonus pelukan dadakan pula.
Sign / Tanda
Lampu hijau baru saja berganti merah.
Sayang gadis berambut pirang itu tidak menyadarinya. Sambil menyeberangi jalan dengan santai, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya, dan nyaris saja menabrak gadis itu kalau saja –
"Momo, awas!"
Sepersekian detik itu benar-benar dimanfaatkan Hibiya dengan menarik tangan sahabatnya itu kembali ke trotoar. Tak ada waktu bagi Momo untuk berteriak, napasnya tersendat begitu tahu dirinya baru saja selamat dari Maut. Meskipun mereka berdua berakhir dengan kondisi saling bertindihan, namun setidaknya tak ada yang terluka. Hibiya yang sadar lebih cepat langsung bangkit dan menepuk-nepuk celananya dari debu.
"Matamu ditaruh mana, Obaachan?! Makanya kalau punya dada jangan kebesaran supaya bisa lihat tanda jalan!"
"Heh, mataku berada di atas dada, dasar bocah mesum! Ukurannya tidak mempengaruhi pengelihatanku, tahu!" hardik Momo tak kalah keras.
"Tapi tetap saja kau nyaris mati disana, dasar sapi gendut! Untung saja aku cukup kuat untuk menarik gadis seberat kau kembali ke jalan raya, coba kalau tidak?!"
Pertengkaran mereka yang jauh lebih heboh dari nyaris kecelakaan tadi ternyata menarik perhatian banyak orang, apalagi salah satu pihak adalah figur publik yang seharusnya lebih menjaga sikap. Demi keselamatan karir dan menjaga agar emosinya tak meledak, Momo menyeret Hibiya begitu saja, menghentikan debat kusir secara sepihak, yang tentu saja membuat Hibiya tak terima.
"H-hei! Aku belum selesai bicara padamu, Obaa –"
"Berisik! Kau membuatku malu, tahu! Pakai otakmu dan lihat sekeliling sebelum bertengkar!" bentak Momo. Mereka sekarang sudah menemukan sudut gang yang jauh lebih sepi dan takkan mengganggu orang lain apabila mereka saling berteriak.
"Mana bisa?! Dimana-mana orang bertengkar itu pakai mulut dan emosi, dasar bodoh!"
"Kalau begitu bagaimana bisa kau menyelamatkanku sambil menyebut namaku, lalu mengumpatku setelahnya? Apa saat itu kau tidak pakai otak?" tembak Momo.
Gotcha.
Sadness / Kesedihan
Sore ini mereka lalui dengan wajah muram, semuram warna pakaian yang dikenakan. Sebuket bunga lili tergenggam di telapak tangan gadis pirang, sebeum akhirnya pindah ke gundukan tanah kosong. Meskipun nisan itu bertuliskan Hiyori Asahina, namun abunya takkan terpendam di dalamnya. Seremonial, seremonial belaka. Kuburan itu hanya dibuat sesaat setelah Hibiya mendeklarasikan kematiannya ke orangtua Hiyori, dan memudahkan mereka untuk datang berkunjung serta mendoakan.
"Hai, Hiyori. Bisa dengar suaraku?"
Hibiya menatap angkasa yang memayungi kepala. Helai-helai bunga sakura berterbangan, menjadi satu-satunya pusat perhatian setelah latar belakang didominasi oleh merah semburat jingga.
"Hari ini aku baru saja masuk ke sekolah menengah pertama. Aku berkenalan dengan banyak orang, mencoba masuk ke klub panahan, dan... oh iya! Seragamnya keren sekali! Pasti cocok jika kau yang memakainya!" celoteh Hibiya panjang lebar.
"Sudah tak terasa, ya... setahun berlalu..."
Momo masih terdiam. Hari ini adalah tahun ketiganya di sekolah menengah, jadi berkebalikan dengan reaksi Hibiya yang bergairah, Momo justru harus mengurangi aktivitasnya di luar sekolah. Ditambah dengan nilainya yang sangat memprihatinkan, tahun ini benar-benar harus ia habiskan untuk belajar lebih giat.
"Ahaha... mungkin aku bodoh, berbicara sendirian... tapi kuharap, kau dapat mendengarku, Hiyori..." Hibiya mengusap airmata yang perlahan meleleh, tapi senyum itu tetap tak mau pudar.
"Kudengar kau tak sendirian disana? Ada seorang gadis bersyal merah yang akan menemanimu disana... semoga kau bisa bersahabat dengan baik, ya."
Sebuah tangan menepuk bahu Hibiya, isyarat untuk mengakhiri pesannya.
"Oh iya, maaf, kami harus pergi... suatu hari nanti, kami akan kembali lagi... tenang saja. Semoga kau bahagia disana, Hiyori, mungkin memang ini jalan yang terbaik bagi kita berdua."
Kali ini, ia tak dapat menahan perasaannya lagi. Air mata itu membanjir deras, tak ada acara seka-menyeka wajah, hanya ada tangan yang saling memeluk satu sama lain, menyakinkan diri sendiri dan sahabatnya kalau mereka berdua akan baik-baik saja.
Di suatu tempat, seorang gadis berkuncir dua sedang tersenyum.
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Uhukk maap imajinasi saya macet abis ngerjain fanfic buat circle Mekakucreative Canvas... padahal sapa pikir karena saya sebelumnya mbuat pair HibiMomo, saya bisa lancar nulis chapter kali ini... tapi ternyata engga. Malah ilang mood orz /boboan. Kalau ada yang datang ke Comifuro Juli nanti, coba beli deh, pasti HibiMomo disana kelihatan lebih sweet daripada disini tsuntsun semua =3= mana orang-orang di sekeliling Hibiya isinya gitu-gitu aja cih. Rada susah kalo nulis KonoHibiHiyo, soalnya scene mereka cukup dikit, baik di manga, novel dan anime... talking about anime, Mekakucity Actor belum ada fandomnya ya di FFN? Kalau ada pengen saya 'hijrah'kan sih lolol biar rapi ehe. HibiHiyo juga gitu, bagus kalo di fanart, tapi suck kalo di fanfic. Gagal paham saya sama orang-orang yang ngeship mereka berdua, soalnya jelas-jelas Hiyori naksir Konoha... jadi rada ga mungkin kalo saya tiba-tiba nulis 'eh hiyori akhirnya sadar lho kalo selama ini hibiya cinta hiyori, udah deh just get married already you two'. Apalagi Hibiya sendiri kan... stalker. Cinta dalam perspektif Hibiya udah nggak wajar banget, makanya saya lebih prefer nulis HibiMomo timbang HibiHiyo gomen mungkin ada author yang lebih bagus dari saya dan bisa nulis character development mereka berdua dengan epik sampe akhirnya bisa nyampe happy ending, I will like this pair ohoho. Sementara saya racunin HibiMomo dulu aja yak :333
Btw, saya masih punya naskah asli fanfic yang buat circle itu... soalnya yang dijual pake bahasa inggris =w= akan ada satu orang yang beruntung mendapatkan naskah itu kalo review yang dia tulis pas di urutan 100! 8D ngarep banget
Okkk, review~?
