Chapter yang ini, tidak bisa disebut chapter. Anggap saja ini hanya selingan karena saya belum bisa sepenuhnya balik, karena ini saya tulis sudah agak lama jadi nggak ganggu. Publish bolieh dong, kasihan reader kalau nunggu lanjutannya yang bener-bener lama. *kayak ada yang nunggu aja?*
Chapter 18 akan dilanjutkan bener-bener setelah unas. Oke gomawo para reader atas dukungannya dan do'ain saya ya?
.
.
Pagi yang cerah dimana Lay bisa bangun dengan perasaan yang sedikit lega walaupun perasaan itu tidak berbanding lurus dengan kelegaan di rumah kecilnya, karena ada dua raksasa yang tinggal disini, biarpun begitu mereka orang terpenting di kehidupan Lay.
Dia bangun paling dulu dan hanya menatap dua orang yang masih molor lengkap dengan mulut mereka yang tanpa sadar mangap. Memberi kesan natural dan aneh menjadi satu,'ganteng-ganteng kalo tidur mangap. .' pikir Lay saat menatap Kris dan Tao, padahal dia sendiri nggak jauh beda. Cuma dia nggak bisa lihat waktu dia tidur, yah kalau dia lihat dia pas tidur kan bahaya.
"Lay, gue tahu kalau gue ini ganteng. Tapi nggak perlu ditatap kayak gitu juga kali. ."
"Kris, lu udah bangun?"
"Ya, gue terganggu sama tatapan lu."
"Sejak kapan tatapan bisa bangunin orang molor.. ?"
"Sejak yang natap itu elu, "
"Plis deh nggak usah gombal, nggak mempan gue ama yang begituan . ." Lay segera bangun dari tidurnya.
Mereka bertiga memilih tidur di ruang tengah bersama-sama, karena kamar Lay yang Cuma sebiji itu doang dan nggak akan muat dibuat 3 orang yang termasuk ukuran raksasa itu, *kecuali Lay*.
Lay bangkit dan pergi buat ke dapur, paling nggak, ada sesuatulah yang bisa dibikin sarapan. kalau nggak, mau makan apa mereka. Apalagi Tao kan suka ngabisin makanan. Dia bilang sih untuk pertumbuhan, tapi jangan-jangan itu modus doang, karena emang sebenarnya dia makannya banyak.
"Eungghh. ."
Baru juga dibicarain eh udah bangun aja si cowok tinggi yang punya muka ngantuk karena kantung mata pandanya itu.
"Tao, udah bangun ya?" sekarang Kris merasa agak canggung, karena kenyataan bahwa dia adalah bapaknya si Tao ini dan dia nggak tahu musti bersikap bagaimana lagi, supaya pantas menjadi seorang appa.
Tao hanya membalas dengan mengangguk dan mengucek kedua matanya. _
Setelah mereka bertiga ada di meja makan. Tao makan dengan lahapnya Kris hanya menatap Tao dan Lay juga tersenyum menatap Tao.
"Lay. ." Kris kini ganti menatap Lay.
"Hem?"
" Gimana bisa aku ini adalah suamimu dan Tao adalah anak kita jelasin Lay aku masih belum paham, ," dia belum bisa ingat karena ritual yang kemaren nggak berhasil gara-gara Lay yang nggak bisa konsentrasi.
"Ya bisalah Kris, ," jawabnya setengah malu.
"Tapi beneran kamu 'istriku'?"
"he'em"
"Terus Tao ini anak kita. .?"
"Hn. ."
Tao menatap mereka berdua dengan intens walaupun mulutnya masih penuh makanan yang belum sempat dia kunyah karena merasa namanya dipanggil.
"Tapi kan kamu belum diapa-apain gimana bisa punya anak, segede gini pula. ."
"Uhuk uhuk, ,,Emangnya mau diapain. .?" Lay langsung keselek sama makanannya karena mendengar Kris yang berkata ambigu begitu.
"Ya, kan kalau di bumi itu musti diapa-apain dulu baru punya anak!" .
"Nggak, nggak, nggak, , kamu harus bertemu Suho supaya mengerti semuanya. .dan nyusul anak kita yang lain. ."
"Hah? Yang lain? Anak gue berapa?"
"3 ditambah Tao jadi jumlahnya 4. ." jelas Lay dengan santainya.
"APAAA?. . gue baru 23 tahun dan anak gue 4, dan yang paling bungsu segede gini, terus gimana yang lainnya. ."
"Stop pake pemikiran bumi, besok kita ketemu Suho, dan hari ini nggak ada sesi pertanyaan lagi.. sesi pertanyaan gue tutup. ."
.0.
Di rumah kecil Suho dsk. Semuanya lagi nyantai habis sarapan. Bahkan Baekyeol yang biasanya ribet pun kini diem. Karena Suho dari tadi nggak ngomong sepatah dua patah katapun dan setelah makan pun dia langsung balik ke kamar.
Itulah yang membuat anggota di rumah ini pada diem, Sehun sampai pengen ikut nangis tapi Luhan mencegahnya dengan menenangkannya.
Dio lagi cuci piring sendirian karena nggak ada yang mau bantuin.
Chenmin juga masih diem dan nggak tahu apa yang musti dilakuin dan nggak mau mengganggu Suho yang mengurung diri di kamar.
". .Mma. ..eomma" Sehun bergumam di sela-sela pelukan Luhan.
"Yeol, kayaknya kita musti minta maaf karena kita terlalu nakal jadinya mama kayak begitu. ."ujar Baekhyun merasa bersalah.
"Iya kali yah, tapi ntar nanti hyung aja yang ngomong ke mama, aku dibelakang hyung aja soalnya aku takut.. "
"Kalo lu lagi begini aja manggil gue Hyung .. tiap hari kemana?"
Tinggalkan pertengkaran kecil Baekyeol kita masuk ke kamar Suho.
Ruangan sangat gelap, walaupun ini masih pagi tapi gordennya ditutup. Suho sedang termenung sambil bersandar pada dipan kasurnya. Dia Cuma diem dengan tatapan kosong.
CTIK.
Suara petikan jari itu mengagetkan Suho ditambah setelah itu efeknya adalah lampu ruangan yang menyala dan gorden yang terbuka sendiri, terlalu banyak cahaya yang datang tiba-tiba membuat Suho sulit membiasakan retinanya dengan cahaya.
"Suho, .. Suho. .kalo kamu pesimis kayak gini, nggak ada yang bakal deketin kamu, lihat mereka semua diluar sangat khawatir terhadapmu, walaupun kau menyayangi mereka tapi kalau kau membuat mereka khawatir tentangmu itu akan sama saja. ." suara ini sangat dia kenal, hapal banget malah sampe bosen dengernya.
"Kenapa sajangnim melakukan ini padaku, , dan pada keluargaku. ?"
"Yang membuat seperti ini, bukan aku ataupun dirimu. .kita tinggal menjalani semua yang sudah ditakdirkan, kenapa kau sudah tidak kuat lagi. . "
"Aku tidak berhasil menjalankan misi ini, aku terlalu egois pada keluargaku sendiri sampai sekarang tanda-tanda tentang Kris dan Lay tidak ada. .aku takut. ."
"Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. . .kalau kau mengatakan takut sekarang, seharusnya kau jangan lakukan dari awal. ."
"Akan kurubah tujuanku, ini bukan untuk diriku atau tentang kebahagiaanku, tapi tentang keluargaku yang akan membawa kebahagiaan tersendiri untukku. . "
"Kau tahu kenapa semua ini terjadi, setidaknya alasan utama adalah iri hati, kalian terlahir dengan kekuatan yang ada pada diri kalian—"
"kami tidak pernah memintanya. . "
"Karena itulah, kalian tidak pernah memintanya tapi dia memberikannya, sementara mereka memintanya tapi tidak pernah diberikan itulah awal dari semua ini. .dan mereka mengambil jalan pintas pada kegelapan untuk diberikan kekuatan sementara mereka. ."
"Maksud sajangnim?"
"Orang yang kau temui kemarin, mereka memiliki kekuatan kan? Kekuatan itu hampir mirip dengan kalian tapi tidak akan bisa menandingi yang asli, sudah jadi rahasia umum kalau yang asli itu dengan mudah mengalahkan yang palsu. .tapi ada satu cara supaya kalian tidak menjadi kuat. .yaitu dengan memecah kalian. ."
"Maksudnya, perpecahan kita semua dan sampai kita semua ada di bumi itu semua karena kecemburuan semata. . ?" tanya Suho.
Flashback.
Di suatu rumah, lebih tepatnya rumah seorang yang paling penting di Exoplanet, Lee Sooman-sajangnim. Sudah ada Suho dan Lay beserta Kris yang sedang menghadap beliau, ini hal baru untuk Lay yang baru keluar dari kristalnya.
"Kalian bertigalah yang akan memimpin kelompok baru yang muncul setelah ini, sudah kusiapkan dua rumah silahkan kalian tempati. . " ujar sajangnim.
"Dua?" tanya Suho, "Berarti diantara kita ada yang sepasang begitu. .?"tanyanya lagi. Sooman Cuma mengangguk.
Suho melihat kearah Lay yang terlihat masih lemah dan ini masih baru menurutnya, apakah dia harus mengalah, dia menatap Lay sekali lagi ingin rasanya dia yang melindungi Lay dan menuntunnya menghadapi dunia baru tapi sepertinya Lay dari tadi menempel terus pada Kris.
"Aku bersama Lay saja. ." ujar Kris.
"Baiklah aku akan mengambil satu rumah untukku. ." Suho mengambil kunci dan segera pergi setelah izin ke pimpinan.
"jadi kalian tinggal serumah dan bersama dua anak kalian yang harus kalian jaga. . " jelas Sajangnim.
.
Beberapa waktu setelahnya.
"Baekkie, kau harus belajar banyak setelah ini, arraseo!" hari ini hari dimana Baekhyun baru saja keluar dan Suho mendapatkan anggota keluarganya.
Tidak lama setelah itu, hadirlah Chanyeol lalu Kyungsoo, semua terasa begitu singkat bagi Suho mungkin karena dia menjalaninya dengan begitu baik sehingga semuanya tidak terasa, mungkin dia merawat sendirian tapi tidak ada masalah baginya.
Keluarga Kris dan Lay pun sepertinya tidak mengalami masalah apalagi mereka menang jumlah sekarang, dan keluarga mereka sudah terkumpul semua. Mungkin Suho harus berjuang sedikit lagi, Kristal terakhir yang dibawanya sebentar lagi akan keluar mungkin itu juga akan memandai selesainya tugas yang ia jalani selama ini, atau menandakan tugas baru dengan mengasuh 5 orang sekaligus.
Tapi sebelum itu terjadi malapetaka datang terlebih dulu, belum sempat Suho merasakan bagaimana mengasuh semua anaknya, mereka semua sudah pergi tanpa bisa diselamatkan. Satu yang bisa ia selamatkan Cuma satu Kristal yang dia bawa.
Timbul rasa penyesalan kenapa dia tidak bisa melindungi semuanya, , kenapa Cuma satu yang bisa dia selamatkan.
Sejak saat itu, dia merawat sungguh-sungguh satu Kristal itu, walaupun dia kesepian disini.
"Eomma. ." satu kata sesaat setelah Sehun keluar dari Kristal yang membuat Suho terharu, dia menyayangi Sehun melebihi apapun juga saat ini, tak akan dia biarkan satu-satunya keluarga yang dimilikinya hilang juga.
.
.
Beberapa waktu kemudian *lagi*,
Sehun tumbuh dengan normal dan aktif kelewat aktif malah, karena dia selalu dimanja Suho dan mendapatkan apa yang dia mau.
"Eomma, eomma. .temen-temen Sehun semuanya punya saudara, kenapa Sehun Cuma sendiri. ."
"Belum waktunya sayang, nanti Sehun pasti punya saudara yang sayang sama Sehun . ." Suho Cuma tidak mau berharap lebih tentang keluarganya yang dia tidak tahu keadaan dan keberadaannya.
.-.-.
"Suho, aku punya hadiah khusus untukmu, kau akan menemukan belahan jiwamu kalau kau mau menuruti permintaanku .. "
"Pasti susah, aku tidak mau, ,"
"Aduh, Suho, Suho mana ada sih kehidupan itu bisa dijalani dengan segampang yang ada dalam pikiran kita, kecuali kalau kau seorang telekinesis kau hanya perlu membayangkan, dan sayangnya kau bukan. Kau tipe penyerang yang sudah terpilih. ."ejek Sooman.
Flashback end.
"Ingat semuanya kan?"
"yang kuingat Cuma, anda yang sedang membohongi saya dengan mengatakan hal-hal yang aneh-aneh. ."
"Hahh sudahlah, sekarang hal pertama yang harus kau lakukan adalah, menenangkan keluargamu dan mengajak mereka untuk bertempur. ."
"bertempur melawan?"
"Orang yang telah menyembunyikan krystal darimu. ."
"Maksud sajang—nim,hahh dia kemana lagi.?"
Setelah ditinggal, suho merasa baikan dan dia keluar untuk menemui anak dan ponakannya. yang sampai sekarang masih khawatir terhadap keadaan Suho. Dia mendekati mereka satu persatu. Setelah ini dia harus melawan orang-orang kemarin yang terlihat sangat kuat karena kebersamaan mereka. Sementara Suho tanpa Lay dan Kris. Dia hanya merasa kurang lengkap saja.
Tapi dia sangat bersyukur, walaupun terkadang anaknya tidak bisa diharapkan, tapi untuk saat ini mereka pasti bisa diandalkan. Karena ini menyangkut keselamatan saudara mereka. Kalau dalam keadaan segenting ini mereka sembarangan dan masih tidak perduli. mungkin dia akan memecat seluruh anaknya.
"Kalian semua!. . hari ini adalah hari besar bagi sejarah kita di bumi, untuk itu aku minta bantuan kalian sepenuhnya hari ini. ." Suho menundukkan kepalanya dan memohon pada mereka semua. Semuanya langsung terkejut.
Sementara itu. .
"Hahhh. . apartemen kecilku yang nyaman, maaf ya hari ini dan untuk selamanya aku akan meninggalkanmu. ." pamit Lay, dia kini sudah berada di depan pintu dan hanya memandang rumahnya dengan tidak tega. Apartemen yang dibelikan oleh pengasuhnya yang ini dia sendiripun tak tahu dimana pengasuhnya itu.
PUK
"Aduh. ."
Kris memukul pelan kepala Lay.
"Kalau mau pamit itu, pada tetangga kanan-kiri, bukan pada pintu …"
"Teraerah aku dong, mau pamit sama siapa!" paksa Lay.
"Oh ya gue mau nanya lagi, kok bisa sih gue milih lu, kamu kan cerewet kok aku bisa betah. .?"
"Ngatain aku cerewet? Nyesel gitu dulu milih aku..?"
"tapi ada satu lagi yang aku herankan, kenapa waktu itu aku bisa memilihmu dan sekarang ini aku masih bertemu denganmu dan memilihmu untuk yang kedua kalinya. . . apa ini takdir?" tanya Kris.
Lay tidak mejawab, dia juga tidak tahu kenapa takdir ini mempertemukan mereka kembali, akankan dia merasa sebebas ini andaikan dia tidak pernah terpisah dari keluarganya, akankah dia mempercayai Kris dengan sangat seandainya dulu dia juga tidak berpisah dengannya.
"Semuanya sudah siap, barang-barang juga sudah dikemas. . palli kita berangkat ke rumah eh salah, ayo kita pulang!" ujar Tao dengan semangat menengahi kedua ortunya dan menggandeng kedua tangan mereka.
"Tao . . semangat sekali!" ujar Kris.
"Iya dong, nanti kan aku akan bertemu dengan hyung-deul dan gege-deul. . " ujar Tao.
"Palli, palli!"
.
.
Tbc. .
Berlanjut ke cerita setelah ini. . .
Oke ini bonus. . .
Kalau ada unseen photo, ini juga ada unseen story *from this ff*.
Ada yang kangen sama scene Se-Lay a.k.a Sehun-Lay nggak?. . okeh ini untuk yang kangen, yang nggak kangen, yah kangen-kangenin ajah. . hehehe kidding. .!
..**w_w**..
". . musti belanja bulanan, kulkas udah kering. ." keluh Lay saat mengecek seluruh isi kulkas dan lemarinya. Bukannya kulkas memang kering, kalau basah kan perlu dipertanyakan itu kulkas apa aquarium._ #dilempar sandal.
Akhirnya dia melihat jam sekilas dan mendapati masih sore jadi dia memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat, soalnya besok dia pagi ada kelas jadi dia nggak sempet beli kebutuhan.
Setelah mengambil mantelnya, Lay langsung bergegas pergi. Sesampainya di depan pintu dia berhenti dulu kayaknya ada yang ketinggalan.
"Yaampun. .dompet ketinggalan. ."
Lay balik lagi kedalam buat ngambil dompetnya, dan karena tergopoh-gopoh dia lupa menutup dan mengunci pintunya.
di perjalanan
"Ya KAI apa yang kau lakukan disana, cepatlah kemari. Ayolah jangan buang-buang waktu lagi. . " Lay mendengar keributan dan dia melihat dari jauh apa yang sedang terjadi, ternyata ada dua orang yang tinggi sedang berbincang-bincang.
"Hahh, anak abg jaman sekarang. . malem-malem gini masih keluar, . " cibir Lay, dia nggak nyadar dia juga nggak bisa dibilang tua, dan dia juga sedang keluar malem-malem gini.
Lay melihat sekali lagi pada dua remaja tinggi itu, dan melihat ada symbol yang mengkilat di dada salah satu remaja itu.
"Perasaan gue aja, apa dia punya symbol mirip punya aku?" tanya Lay pada diri sendiri, maunya dia langsung deketin tapi dia sudah keburu pergi dengan cepatnya.
…www…
Lay sudah membeli barang kebutuhannya, dan kini dia sedang menunggu kasir yang menghitung harganya.
"Yaampun, gue kelupaan lagi. . ." dia langsung berlari cepat setelah ingat kalau dia nggak mengunci pintu.
"Haduh! Aku tadi terburu-buru sampai lupa mengunci pintu. .." lay masuk dan mengunci pintu dari dalam, dan dia melihat ada sepatu yang jarang banget ada di rumahnya karena ganggu pemandangan dia rapiin. Setelah dia taruh belanjannya dia balik ke kamarnya dan menemukan seonggok tubuh tinggi yang tidur di kamarnya.
"aduh sakit. . pelan-pelan. . " cowok itu ternyata Oh Sehoon, dan kini sekarang dia diobati Lay. Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, dan membuat Lay terharu akhirnya Lay menerimanya untuk tinggal di rumah ini bersama Lay, alasan utamanya adalah Lay supaya tidak kesepian lagi.
"oke kamu boleh tinggal disini, tapi aku nggak punya tempat tidur yang cukup jadi kamu tidur di sofa dan ini selimutmu. .!" ujar lay. Karena tidak terbiasa tidur sendirian tanpa sadar Sehun berjalan dan masuk ke kamar Lay dan tidur di sampingnya dan memeluknya.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Ahjuma, ahjuma tahu nggak sebenernya ahjuma itu mirip banget sama eommaku. baik hati, perhatian, cerewetnya juga, kalau lagi ngomelin aku persis banget, dan yang paling sama kalian saat ini adalah sama-sama single. .hehehe" ujar Sehun ditengah-tengah makan malamnya, dan Lay dengan sabarnya atau dengan idiotnya dengerin semua omelan yang menurutnya nggak penting bagi dirinya yang keluar dari mulut ceria seorang Oh Sehun.
"Nggak mungkin semirip itu, tapi masa' kamu nggak punya bapak sih?, maksudku setiap bayi yang terbentuk kan harus dari dua sel, berarti kamu punya bapak dong, kalau kamu punya eomma. Tanyain yang jelas sama eommamu, ." sela Lay.
"beneran, aku nggak punya bapak, ini ajah kalau berhasil. Rencananya eomma mau cariin bapak buat kita. ."
Lay mulai nggak paham kemana pembicaraan ini menuju, akhirnya dia diam saja.
Keesokan paginya.
"Untuk apa kau mengikutiku?" lay mulai risih karena Sehun bahkan kini selalu ikut di setiap dia ada kelas, jangan salahkan orang yang melihat kalau mengira Sehun adalah brondongnya Lay.
Mungkin itu tidak terlalu bagus untuk kehidupan Lay, karena dia takut Kris salah paham. Dan kesempatan untuk mendapat Kris yang kecil itu semakin mengecil.
"Ahjumma, jurusan ekonomi?" tanya Sehun nggak nyambung dengan apa yang di bicarakan Lay,
"Iya, udah jangan buntutin terus ini gue udah mau ke kelas. Sana pergi kemana kek!" usir Lay.
"Awas jangan deket-deket namsan tower kalau nggak ada aku nanti. .!" setelah mengucapkan itu Sehun langsung ngacir, tapi sebelum itu terlaksana, dosen Lay yang sudah ada di depan kelas merasa terganggu dengan mereka yang ada di didepan pintu.
"Zhang yixing, ke ruanganku sekarang juga, dan dengan anak SMA ini, ,"
Lay tepok jidat. Mukanya langsung kusut sekarang. soalnya kalau dosen yang satu ini sudah manggil salah satu murid ke ruangannya jangan harap sang murid bisa kembali dari ruangan itu dengan senyuman.
Sehun yang nggak ngerti apa-apa Cuma ikut aja dengan wajah watadosnya malah, kalau nggak inget dia anak orang udah Lay bejek-bejek tuh muka watados yang super duper nyebelin.
Sehun duduk di samping Lay.
"Jadi jelaskan dia siapa dan ada keperluan apa disini, bahkan dia selalu ada di sekolah ini, tapi dia bukan murid di sini?" tanya sanga dosen.
"Em , dia itu, ,, dia. ." lay mikir, dia lupa kalau Sehun bukanlah siapa-siapa Cuma anak yang numpang di rumahnya.
"Oke karena kau nggak bisa jawab biar dia aja yang jawab, kamu diam. ." suruh sang dosen pada Lay dan kini dia natap Sehun.
"Kamu itu siapa, dan kenapa kamu selalu ada disini. .?"
"Nanyain aku ya?" tanya Sehun watados lagi.
'aduh jangan sampe nih anak ngomong macem-macem. .' do'a dalam hati Lay, khawatir kalau Sehun ngomong tentang semuanya. Alasan dia buntutin Lay kan karena mau jauhin dia dari Kris. Terus kalau Sehun cerita soal orientasi pasangan Lay yang agak menyimpang itu gimana?, apalagi panggil-panggil pake sebutan ahjuma. Lay nggak bisa bayangin masa depannya dia kayak gimana disini.
'ya tuhan lindungilah hambamu dari omongan setan yang terkutuk. .' maksud Lay setan disini adalah Sehun, dan Sehun langsung menatap tajam kearah Lay seakan bisa membaca pikiran Lay. Dia seolah-olah berkata dalam pandangannya 'emang-siapa-setan-terkutuk?'.
"Aku disini Cuma anak biasa kok, "
"Nggak seharusnya kamu ada disini, harusnya jam segini itu kamu sekolah. ." perkataan sang dosen memang terkesan biasa bagi Sehun, tapi terdengar mengancam bagi Lay.
"Aku nggak sekolah. ."
"Tapi sepertinya, tampangmu itu tampang orang berpendidikan. ."
"Tentu saja, itu karena eommaku mengajariku dengan baik. .tapi saat ini aku sedang kehilangan eommaku.." cerita Sehun.
"Pendidikan yang diberikan ibumu tidak akan cukup untuk membekali hidupmu kelak, paling tidak kau harus sekolah. ."
"Kata siapa, pelajaran yang diberikan itu malah lebih dari cukup untukku bertahan hidup. ."kekeh Sehun, ingin rasanya Lay merasa tidak mengenal anak seperti ini dan segera keluar dari ruangan yang penuh dengan aura-aura pekat.
"oke ini nggak basa-basi, katakan apa tujuanmu mengikutinya hampir setiap hari, tadinya aku berpikiran kau pacarnya tapi semenjak tahu kau masih anak-anak. . pasti ada alasan lain. . katakan!"ujar sang dosen.
"Aku disini mengikuti hyung ini karena aku khawatir akan keadaannya, dia itu terkadang suka menyesali perbuatannya dan merutuki kesendiriannya, anda tahu sendirikan bagaimana rasanya sendirian dan tidak punya orang tua yang setia disamping kita, eommanya yixing-hyung sekarang sudah tidak ada dan eommaku menyuruhku untuk menjaganya. .mungkin menurut anda itu adalah hal sepele, tapi itu berarti besar buatku. . " ujar Sehun membuat lay dan dosen itu tercengang.
Setelah penjelasan panjang lebar yang mengagumkan dari seorang Oh Sehoon.
Mereka kini berada di luar dan Lay membungkuk minta maaf pada dosennya yang sekarang sedang termenung meratapi dirinya.
"apa menatapku seperti itu?" tanya Sehun sewot.
"Andwae, terkadang mulutmu manis juga, gomawo. Mungkin memang benar kau itu dikirimkan untukku supaya aku tidak merasa kesepian. ." lay maju dan memeluk Sehun yang lebih tinggi darinya itu.
"Jadi ahjuma percaya omonganku yang tadi itu, ckckck. . dasar maniak drama sabun. . yang tadi kan Cuma acting. .!" lanjutnya lagi.
"Apa? Acting? Yang tadi Cuma acting?"
"Tentu saja, memang sejak kapan aku datang ke rumahmu ingin melindungimu, aku kan disana Cuma mau numpang. ."tanpa sadar Sehun langsung ceplas-ceplos dan dirasanya Lay sudah mengeluarkan aura pekat. "a. .ahjumma. ." gagap Sehun.
"OH SEHUUNNN,,, dasar anak kurang ajar, awas kau ya!" lay langsung mengejar Sehun yang berlari kencang, karena takut jadi bahan makan malamnya Lay.
"Eomma, tolong aku. . ada tante-tante yang mau mangsa aku!" teriak Sehun ditengah larinya.
"Siapa yang tante-tante hah?"
"ampun. .ampun!"
Tidak terasa Lay mengikuti jalan hidup Sehun, jalan hidup yang ceria dan sepertinya ringan tanpa beban layaknya angin lembut yang membawa setiap debu-debu kecil berterbangan.
.
.
.
End. . .
Gomawo semua reviewnya, saya seneng banget ngebacanya dan maaf yang merasa udah nunggu lama dan merasa lumutan, tapi keluarnya malah nggak karuan gini, maklum udah lama nggak nulis. Okeh. .
Tetep dukung saya dan
RnR. . .
