19 PART B
Di rumah sakit.
Semua sangat sibuk terutama Dokter dan para perawatnya, mereka berada di dalam dan merawat Jongin secara intensif*?*
Sehun cuma mondar-mandir di depan ruangan Jongin dia juga ikutan khawatir pasalnya sejak dia dibawa ke rumah sampai hari ini dia belum membuka matany ataupun sekedar menunjukkan tanda-tanda kehidupan selain bernapas, misal bergerak dan mengoceh.
Sampai Baekhyun merasa capek musti lihat adik bungsunya mondar-mandir nggak jelas yang dia khawatirin siapa, bisa jadi kan dia lebih khawatir tentang keadaan ahjumma mereka dari pada kakaknya atau bahkan dia khawatir karena ditinggal Luhan, Malam ini mereka akan pulang dan tidak ikut ke rumah sakit.
"Sehunnie duduklah ,, ," Baekhyun menyeret Sehun dan memaksanya duduk disampingnya dan memegangnya erat, dia bergetar dan suhu tubuhnya panas. "Kau baik-baik saja kan? apa kau juga terluka?"
Sehun hanya menggeleng lemah, Chanyeol dari tadi kelelahan dan cuma bisa duduk sambil ketiduran di samping Baekhyun, terkadang dia sampai menjatuhkan kepalanya ke bahu kakaknya itu.
Baekhyun dengan sabar memeluk kedua adiknya itu, tangan kanannya dibuat untuk mengelus kepala Sehun, dan tangan kirinya untuk mengelus punggung Chanyeol supaya dia bisa tidur biarpun sebentar.
Suho dan Kyungsoo keluar sebentar untuk mencarikan makan, mereka sampai lupa masak karena kericuhan tadi. siapapun pasti tidak akan nafsu untuk makan kalau salah satu anggota keluarga kalian sakit, rasanya seperti ikut sakit walaupun kenyataannya tidak.
"Apa, Jongin-hyung akan baik-baik saja? Apa ahjumma juga akan baik-baik saja?"
Baekhyun menoleh sebentar ke Sehun yang kini mulai menempatkan kepalanya ke pundak Baekhyun dan seperti meminta seseorang untuk jadi sandarannya, Baekhyun mengerti akan hal itu.
"Mereka berada ditangan yang tepat, pasti mereka baik-baik saja. . ." gumamnya sebagai jawaban, dia sendiri juga tidak terlalu yakin apa yang dia katakan itu benar atau tidak.
.
.
.
5 MINGGU KEMUDIAN.
.
.
.
Mereka masih tinggal di rumah sakit, Luka Jongin sudah menutup sempurna walau membutuhkan waktu yang sangat lama karena penyembuhan manual ala uisa*dokter*. Suho masih setia menunggu disamping Kai dia terus menggenggam tangan Kai yang semakin hari semakin dingin itu, Suho terus menggenggamnya supaya tetap hangat.
Dia yang menggantikan baju Kai, dia juga yang memandikan Kai dengan cara diusap dengan kain yang dicelup air hangat bahasa jawanya di 'seko'.
Karena saking lelahnya terkadang Suho tidak perduli dia musti tidur dengan posisi duduk demi menjaga Kai, dia sudah berjanji mulai dari sekarang tidak akan meninggalkan Kai lagi yang sampai berujung pada Kai yang direbut orang.
Kadang Kyungsoo yang melihatnya pun merasa kasihan dia ingin menggantikan tugas eommnya itu tapi Suho selalu bilang ini sudah menjadi tugasnya, dan Kyungsoo kadang terbangun tengah malam dan memakaikan selimut ke tubuh Suho.
Mereka ber-5 tidur di sofa yang ada di sebelah ruangan Jongin, dan bergantian menjaganya.
Suatu malam seperti biasanya Kyungsoo terbangun dia melihat Baekhyun yang berperan jadi kakak yang baik, dia membiarkan dirinya tidak memiliki banyak tempat tidur untuk membiarkan Sehun dan Chanyeol tidur dengan nyenyak disampingnya, dan membiarkan Kyungsoo tidur sendirian.
Selimut yang ada di sekitar tubuh Kyungsoo segera ditarik dan menyelimutkannya pada Baekhyun dan Chanyeol, sementara Sehun sudah memakai selimut sendiri.
Dan dia segera mengambil selimut lain untuk eommanya yang kini sedang tertidur seperti biasanya disamping Jongin dan memastikan supaya tangan Jongin tetap hangat.
'Kenapa aku masih tidak punya ingatan sendiri seperti apa yang kalian ceritakan. .'
Kyungsoo menatap keluar jendela dan diluar terlihat pemandangan kota ini yang tidak tidur sama sekali, ia tahu ini sudah hampir pagi tapi lalu lintas terlihat masih hidup dan dari luar ruangan masih terdengar suara-suara berisik walaupun sedikit.
"Jongin-ah bisakah kau mendengarku? kau masih hidup kan?"
Kyungsoo sekarang memegang tangan kiri Jongin, ''Kau dulu pernah bilang padaku akan mengembalikan ingatanku kau sudah melakukannya tapi kenapa aku tidak juga ingat, ini simbolku kan? ini simbol yang mirip dengan mereka dan denganmu kan? ''
"Kyungsoo ya. . kenapa kau tidak bilang kalau kau belum punya ingatan?"
"Eo. .eomma. ."
Dengan posisi masih tertidur tapi Suho sudah membuka matanya. Dan dia mendengar semua hal mengejutkan dari Kyungsoo, Kyungsoo mundur beberapa langkah, dia sangat takut ketakutannya itu adalah takut membuat Suho khawatir dan berpura-pura kalau dia sudah ingat semuanya dengan bantuan XIumin, Baekhyun dan Chanyeol mudah bagi Kyungsoo untuk berpura-pura.
"Katakan kenapa kau menyembunyikannya dariku . .?" Suho selalu tahu kalau orang yang menyelimutinya tiap malam adalah Kyungsoo, karena Suho sendiri tidak bisa tidur dia terus khawatir akan Kai dan juga yang lainnya.
"Aku. . Aku tidak bisa bilang eomma, maafkan aku. . Aku tidak ingin menambahi bebanmu biarlah aku yang menanggung ini. Aku selalu percaya padamu semenjak pertama kali kita dipertemukan. ."
"Kyungsoo-ya maafkan eomma ne?"
"Ini bukan salah eomma, ini hanya sebuah takdir, dan takdir ini tidak akan bisa memisahkan hubungan keluarga kita.."
Suho langsung memeluk Kyungsoo, rasanya baru kemarin dia ditugaskan di bumi bersama Sehun tapi sekarang Sehun sudah tumbuh lebih dewasa dan dia bisa melihat keluarganya yang lain, dan melihat mereka tumbuh disamping Suho.
Eomma mana yang tidak ingin melihat anak-anaknya tumbuh kembang dibawah perhatiannya, Andaikan Suho selamanya ada disini dan tidak bisa kembali lagi ke tempatnya berasal dia tidak akan mengutuk siapapun, Karena menurutnya, ,
Dimanapun itu asalkan dengan keluarganya, itulah rumah yang sesungguhnya.
Keesokan paginya sama seperti biasanya, BaekYeolHun rebutan kamar mandi karena perut mereka sama-sama mules sementara kamar mandi cuma satu, Suho cuma liatin sambil mandiin kai dengan cara diusapi kain yang dicelup air hangat.
Nggak mungkin kan orang sakit yang tak sadarkan diri tiba-tiba diseret ke kamar mandi.
"Aku pulangg!" teriak Kyungsoo saat membuka pintu dan membawakan satu kantong makanan mereka, yah bahkan ruangan rumah sakitpun bagaikan rumah jika mereka bersama.
"Hyung, tolong kalau mau beli makanan lagi tandain yang pedes yang mana, atau nggak usah beli yang pedes lagi ya?" Sehun yang udah kelar urusannya langsung menghampiri Kyungsoo.
Kyungsoo cuma tersenyum sambil ngusap lembut rambut adeknya itu, sudah sehari lalu sejak Sehun terus nangis dan nggak tahu apa yang dia tangisin, Lay kah? Kai kah? atau Luhan kah?.
Mereka berlima, duduk memutar dan menikmati makanan atau sarapan mereka.
"Jongin-ah kami sarapan dulu, aku tidak mau membaginya denganmu. kalau kau mau bangunlah. ."
UJar Chanyeol, berharap tubuh yang telah lama terbaring lelap itu bangun dan mengomelinya karena tidak makan sendirian namun tetap saja tubuh itu terdiam.
Suho menatap matanya tidak selera, bisa dibilang penampilannya sekarang seperti orang sakit, tubuhnya mengurus dan wajahnya memucat karena kurang tidur.
"Aku menghawatirkan keadaan Lay sekarang. ."
"Eomma, jangan bikin aku tidak selera makan. ." Sehun langsung menjawab karena dia yang paling rindu sama ahjumma kesayangannya itu.
"Apa yang membuatmu tidak selera makan hah? kau pikir disini cuma kau yang tidak selera makan. . kau pikir cuma kau yang kangen sama ahjumma sudahlah makan saja. ." komen Chanyeol.
"Chanyeol, , kau tahu kan hubungan dekatnya dengan ahjumma wajarlah kalau dia yang lebih punya feeling kepadanya. ." tenang Baekhyun.
"Semua akan baik-baik saja. . yah semuanya. ." Gumam Suho dengan tatapan kosongnya.
.
.
"Aku tidak tahu apa yang membuat dia tidak bisa bangun lukanya sudah menutup semua tapi. ."
"Dia masih hidup kan?"
"Denyut nadi masih ada kan?"
"Tentu saja dia masih hidup, soalnya dia tidak punya alasan untuk mati. ." ujar sang Dokter yang biasanya mengecek.
"Dokter, apa ini bertahan lama?"
"Kami tidak bisa memastikannya. ."
Setelah dokter itu keluar semuanya masih memasang wajah cemas dan hopeless. Ini adalah cara terakhir mereka, bahkan mereka sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan seperti ini, apa karena fisiknya atau tekanan mentalnya atau bahkan kombinasi dari keduanya.
Suho dari dulu tidak pernah berharap terlalu banyak, hanya terkadang kalau hidup itu terasa susah dia membayangkan hal yang jauh dari angan, tapi semenjak dia menyadari pentingnya Sehun waktu itu dia mulai menata pikirannya kembali dan mementingkan keluarga diatas segalanya.
Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang tua yang paling baik diantara lainnya, yang dia inginkan cuma terbaik untuk anak-anaknya. kalaupun selama ini dia belum mencerminkan itu dia akan berusaha lebih keras lagi, kalau kerja kerasnya masih belum cukup ia akan lebih keras dari sekedar kerja keras.
"Eomma.. "
Sehun mulai tertidur di pelukan Suho ketika Sehun tidak punya hal yang tidak berguna untuk dilakukan.
Melihat Sehun bagaikan melihat tahun-tahun sebelum ini, tahun-tahun pada saat ia dan Sehun masih sendirian di rumah besar itu, hal yang paling berharga saat itu cuma Sehun seorang.
Sehun sudah tumbuh dewasa dibanding sebelumnya, memang benar kalau bertemu Luhan segalanya akan berjalan baik pada Sehun, tapi sekarang itu juga berpengaruh pada Sehun, tentang kepergian Luhan.
"Tumben kau manja-manjaan sama eomma lagi, kenapa sudah nggak ada Luhan. ."
"Andwae, , eomma adalah tempatku untuk bermanja-manja yang nomor satu ,, Luhan hyung yang nomor dua . ."
"Aku tidak bisa memastikan apakah kita bisa menyusul mereka segera atau tidak, mungkin kau harus mencari pengganti tempat bermanjaan nomor duamu itu, mungkin Baekhyun bisa. ."
"Aku percaya eomma, dan aku percaya gege. .sebelum dia pergi dia bilang kalau dia akan selalu bersamaku, apapun keadaannya. ."
.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol pergi keluar mencari udara segar, mereka sudah terlalu lama mencium bau rumah sakit, dan menurut mereka bau rumah sakit itu tidak bisa meningkatkan mood sama sekali malah bisa menurunkan mood seseorang.
"Aku tidak tahu bagaimana eksistensiku di dunia ini bagaimana, aku juga tidak tahu kenapa aku diciptakan. ."
Baekhyun memandang banyak orang yang sedang berjalan-jalan di taman buatan rumah sakit itu, di sebelahnya Chanyeol juga ikut menerawang.
"Untuk apa kita memiliki kekuatan kalau hanya untuk menyakiti seseorang, jujur aku tidak menginginkan kekuatan ini. ." sahut Chanyeol, yah menurutnya pengendali api itu tidak berguna selain melukai orang, dan api dikendalikan dengan emosi bukan kepala dingiin.
Kadang ia iri pada kekuatan ahjummanya yang sangat berkebalikan dengannya, dia bisa menyembuhkan dan dia tidak bisa menyakiti siapapun atau apapun itu, dia dianugrahi dengan kecakapan hati dan rendah hati pula.
"Tapi ahjumma tidak bisa melindungi dirinya sendiri kan?". Chanyeol menatap Baekhyun heran, bahkan Chanyeol belum menyuarakannya Baekhyun sudah membalasnya.
"Bukan tentang bagaimana membaca pikiran orang, tapi bagaimana memahami adik dan segala gerak-geriknya. ."
Chanyeol langsung senderan di bahu Baekhyun yang bahkan nggak lebih tinggi dari dia gitu, jadi agak susah ndingkluknya. Tapi dia paling seneng posisi ini apalagi sama Baekhyunnya. Dimanapun Chanyeol berada, dia tidak bisa jauh-jauh dari Baekhyun entah kenapa. Bahkan takdirpun sepertinya tidak ingin memisahkan mereka.
Disaat semua terpisah dibumi, tapi mereka ditakdirkan bersama. Chanyeol selalu percaya sama Baekhyun walaupun kadang-kadang dia paling bandel sama Baekhyun.
"Hyung untuk apa kita diciptakan? kalau untuk menyakiti orang lain saja lebih baik aku mati. " Chanyeol mulai ngelindur dan membayangkan hal-hal baik apa yang telah dilakukan selama ini yang ternyata banyak nggak baiknya.
"Untuk merasakan betapa besarnya cintaku padamu. ."
Chanyeol langsung menatap Hyungnya tajam. "Hyung . Gombal?" tanyanya sambil pasang muka lempeng.
"Enggak emang beneran gitu. . Kamu ada itu emang buat aku supaya menumpahkan seluruh kasih sayangku ke kamu ..terus ke Kyungsoo, terus Sehun dan sekarang Kai atau siapapun namanya dia. ."
"Katanya aku, , kok malah dibagi-bagi sih?"
"Yah adekku kan bukan kamu doang?"
Chanyeol pout sok imut, dia paling seneng diperhatikan dan Baekhyun paling seneng merhatiin tumbuh kembang adek-adeknya andai mereka selalu bersama dari dulu.
.
Kyungsoo, masih terus jagain Kai. karena dia merasa senasib dengan orang yang katanya jadi adek dia ini.
Memory dalam dirinya telah hilang, itu sama seperti dia tidak pernah berada di sini sebelumnya. Semuanya yang dia lakukan berdasarkan penetapan diri bukan karena dia memang pernah mengalaminya.
"Kai, , apa yang membuatmu tetap mempertahankan ketidaksadaranmu?"
"Apa kau terlalu takut masuk ke dunia yang baru?"
"Apa kau belum siap menerima semuanya?"
"Kau pikir aku siap. . kenapa kita tidak memulainya bersama? kau ingat janjimu dulu sewaktu memanggilku kakak. .aku memang kakakmu. tidakkah kau ingin mengetahui itu?"
.
.
.
Kai terbagun sendirian, dia melihat sekitarnya putih tidak ada siapapun bahkan apapun hanya ruangan putih. apa dia sudah meninggal. . ia bahkan tidak tahu kalau tempat orang meninggal itu seperti apa?
Ada sesosok bayangan hitam yang dia sendiri tidak tahu itu berbentuk atau tidak, bayangan itu terus menatap Kai dengan pandangan yang menakutkan walaupun bentuknya tidak jelas.
Kai tetap tidak memperdulikannya karena dia tahu kenyataan dimanapun dia berada dia tetep sendirian.
Dia tidak ingat apapun setelah dia menatap wajah cantik Key mungkin untuk yang terakhir kalinya dan sekarang dia sendirian, dia memang tidak mengharapkan apapun, dan beginilah dia tidak mendapatkan apapun. baik Key maupun Suho.
Bayangan itu masih tetap disana, Kai mulai mendekat dia sangat penasaran kenapa bayangan itu dari tadi menghadapnya.
Kai melangkah mendekat, tapi perlahan Bayangan itu semakin mundur dengan mendekatnya Kai.
Karena penasaran dengan itu Kai terus mengikutinya sampai dia menemukan satu pintu coklat keemasan.
Perlahan Kai membukanya, dan setelah itu dia ada di dunia berbeda dunia yang seperti impian layaknya negri dongeng padang rumput sungguh sangat luas dan ada danau yang jernih serta pohin yang rindang disampingnya. dan di depan itu ada dua buah rumah yang berseberangan tanpa ada rumah lainnya.
"Rumah putri salju?" tanya Kai karena dia sering diceritai kisah dongeng Key waktu kecil.
"CHANYEEOOOLLL. .. KAU APAKAN LAGI SAUDARAMU HAH?"
"CHEEENNNN SIAPA YANG BIKIN TAO NANGISSS?"
Pas Kai dekat, ternyata ada dua orang yang berlarian keluar pintu seperti ketakutan dan secara bersamaan mereka membuka pintu dan berhamburan anehnya pas mereka melewati Kai tidak terjadi tabrakan atau apa.
Kai memegang tubuhnya sendiri, dan masih terasa tapi kenapa mereka yang tidak tersentuh.
Sepertinya Kai kenal dengan orang-orang ini.
Dan tidak lama setelah itu keluarlah Suho dan Lay dan makin kenallah Kai.
Dia tahu satu hal, dia tidak terlihat entah ini ingatan siapa dia tidak ingat apapun.
Kedua orang yang baru keluar itu berpandangan.
"Chanyeol membuat ulah lagi?" tanya Lay.
"Pasti Chen juga ?" tebak Suho.
Kai dari tadi muter-muter di depan kedua rumah ini, dia merhatiin dua orang yang kemarin sempat melawannya sedang dihukum berdiri di depan pintu sampai mama mereka ngelupain kesalahan mereka, Chen mah gampang soalnya emak dia kan pelupa nah nasih malang Chanyeol soalnya Suho itu orangnya jarang lupa.
Satu orang membuka pintu depan rumah.
"Kamu lapar? "
"Baekhyun-hyuuuungggg. .." Chanyeol langsung peluk itu orang yang tadi sempet di kerjainnya tapi dia dengan baik hatinya bawa makanan untuk adiknya ini.
Chen langsung manyun, dia nggak punya hyung yang setia kayak gitu.
"Udah jangan ngelihatin orang lain kayak begitu, masuk gih.. mama udah maafin kamu. ." Chen langsung lihat samping dan sudah ada Xiumin disana, Chen langsung mengikuti arah Xiumin dan masuk rumah.
Kai yang merasa invisible pun akhirnya ikut masuk bersama ChenMin di rumah ini. Ninggalin Chanyeol yang lagi drama telenopela sama Baekhyun yang udah jengah.
Luhan lagi senderan di pojokan sambil liatin Tao yang lagi asik makan. Kai duduk di sebelahnya dan memperhatikan keluarga ini, ada enam orang dan mereka tidak ada kesenjangan juga terlihat bahagia.
"Yeobo. . kau kemanakan baju kesayangan ku?"
Lay sambil makai celemek langsung nge-chek kemana arah Kris ngomel.
"Nyari baju yang mana ya?"
Kris langsung noleh ke arah Lay. "AAAAA itu kan baju aku. . kok kamu jadiin serbet sih?"
"Ohh ini baju kamu, tadi aku nemu di bawah jemuran terus kotor yaudah sekalian aja aku kotorin. . kalau kamu mau ntar aku cuciin. ."
"Nggak usah-nggak usah buat kamu aja. ."
"Yaudah .. beneran nggak bakal nyesel nih, bukannya ini baju kesayanganmu?"
'Udah tahu gitu malah dikotorin' miris Kris dalam hati.
Kris paling ngalah kalau udah sama bininya yang satu ini, walaupun benda kesayangan Kris tapi kalau dibandingkan dengan Lay terserah mau diapain juga.
Inilah bentuk keluarga idaman, sungguh sangat tentram disini punya eomma yang pengertian dan ada di segala situasimu.
Kai iri dengan keadaan ini, dia mulai mengerti tentang struktur mereka walaupun tidak ada yang menjelaskan. Semua terlihat begitu nyata. akhirnya dia duduk di sebelah Luhan dan memperhatikan semuanya. apa yang selama ini dia inginkan dari adanya sebuah keluarga, kalau ini adalah saat dia memilih apakah keluarga seperti ini yang dia pilih.
Xiumin duduk disamping Kai yang tidak terasa keberadaannya. jadi di kursi itu ada 3 orang dan ditengahnya ada Kai.
"Kau dicari Suho-ahjumma, katanya dia membutuhkanmu dirumahnya. ." ucap Xiumin, walau tidak melihat ke arah Luhan tapi itu untuk Luhan.
"Kenapa, kok sepertinya kamu cemburu sih kalau aku perhatian sama Baekhyun dan adik-adiknya. ."
"Bilang aja perhatian sama krystal terakhir, kenapa pake alesan Baekhyun sih. ."
.
.
.
Luhan lalu beranjak pergi dan menuju ke rumah sebelah, Kai memilih mengikutinya walaupun sebenarnya dia ingin mengetahui lebih jauh seluk beluk keluarga ini tapi ada sesuatu yang lain yang menyuruhnya untuk pergi.
Saat pertama kali memasuki rumah Suho ada perasaan nyaman yang terpendam yang secara tiba-tiba muncul di perasaan Kai.
"Ahjumma, ada perlu apa tadi. ."
Dia merasa ada sesuatu yang lain yang harusnya dia miliki di rumah ini, bahkan dia tidak ingat apapun tentang rumah ini tapi seperti ada magnet yang menariknya.
"Bisakah kau menjaga saudaramu untukku. .?" tanya Suho yang sekarang sudah rapi.
"Ahjumma mau kemana?"
"Ada perlu sebentar, tolong pastikan Chanyeol tidak membuat ulah apapun dan pada siapapun. . arra!"
''serahkan saja padaku .. "
Kai bingung mau mengikuti siapa, secara tak disadari dia ingin tahu lebih tentang dua keluarga ini,ini tempat apa dan mengapa mereka bisa ada disini, kalau benar dia berasal dari keluarga ini harusnya dia ada disini, Dia tidak ada dan itu artinya dia bahkan bukan dari keluarga ini.
"Oh ya Luhanna, Kalau kau lapar ambil saja sesukamu di kulkas. ."
Luhan sudah mengubek-ngubek isi kulkas bahkan sebelum disuruh, Pas Suho noleh dia udah senyum wajar aja dah. Luhan nyengir rusa. "Ne, algesseumnida.."
.
.
Akhirnya Kai mengikuti Suho, dia berjalan di belakangnya. Alasan Kai mengikuti Suho karena dia sangat penasaran dengan orang ini. orang seperti apakah dia.
Sepanjang perjalanan Suho hanya terdiam dan sambil melihat keadaan sekitar dan tetap tersenyum teduh, Kai langsung kaget pas tadi marah serem banget, pas giliran senyum adem banget.
Kai langsung terhenti begitu melihat Suho terdiam sejenak dan tidak melanjutkan perjalannya. Kai melihat ke arah Pandangan Suho yang lurus ke depan.
Ada dua orang, sepertinya Kai kenal.
"Udah kalau nggak kuat jalan, biar aku aja yang gendong. ."
"Nggak usah, lebih baik melakakukan hal lain yang lebih berguna seperti berjalan sambil membawa belanjaanku daripada harus menggedongku.. "
Itu Kris dan Lay dan mereka entah sedang meributkan hal apa, banyak sekali hal yang mereka ributkan akhir-akhir ini, bukannya keributan itu membuat mereka renggang justru sebaliknya. Kai sepertinya agak khawatir karena dia mengerti sekali akan situasi ini.
Dia bertanya dalam hati Tentang strukturnya. Kalau keluarga mereka perlu dua orang untuk mengasuh kenapa yang ini-suho-tidak punya orang lain untuk mengasuh.
Apa dia sendirian.
Orang yang selalu tersenyum di depan orang lain belum tentu akan tersenyum saat dia sendirian
Orang yang selalu mengatakan tidak apa-apa di depan orang belum tentu baik-baik saja saat dia sendirian. .
Bukannya ingin menyembunyikan diri atau apa. .
Itu hanyalah sebuah pengendalian diri. Suho hanya ingin hidup bahagia dengan apapun yang dia punya dan tidak akan meminta hal-hal yang bahkan tidak pernah ditakdirkan untuknya.
Mungkin itu mimpi yang terlalu tinggi.
"Anak-anakku sudah cukup untuk mengisi lubang ini. ."
Sengaja Suho bersembunyi sebentar supaya tidak mengganggu perjalanan mereka, dan setelah itu mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Dan Suho meyakinkan dirinya sendiri untuk ke sekian kalinya kalau Lay lebih butuh itu ketimbang dirinya.
Dia orang yang Kuat.
Tanpa menunggu menghabiskan banyak waktu dia mulai lagi perjalanannya dan sampailah setelah beberapa saat yang tidak terlalu terasa di suatu tempat yang menurut Kai ada hawa familiar nggak familiar.
Ia bahkan tidak tahu ini tempat apa..
Sampai pada bagian terdalam dan Suho menghadap dua buah bola Krystal. .
'Apa dia peramal. .?' menurut Kai orang yang berhubungan dengan Krystal adalah peramal.
"Bagaimana keadaanmu disana, kapan kau segera bersamaku?"
Kai terus menatap apa yang Suho lakukan dia berbicara sendiri? atau mungkin berbicara dengan Krystal itu, demi apapun itu hanya sebuah benda mati. apa orang ini punya kelainan khusus pikir Kai.
"Helllowww Suu"
"Bisakah kau datang secara baik-baik, biarpun hanya sekali. ."
"Aw belum 2 menit aku disini kau sudah memarahiku ohh entah kenapa itu seperti music di telingaku. ."
"Kau ini orang macam apa sih sebenarnya, "
"Sudahlah tidak penting membahas diriku. . sekarang 1 minggu sebelum dia lahir.."
'lahir? apa?'
"..Tapi aku ada firasat buruk tentang kelahirann-" Orang tua itu tidak melanjutkan kata-katanya pada Suho dan melihat ke belakang Suho tepatnnya pada Kai, dan Kai sadar akan tatapan lurus padanya itu. "Sudahlah aku bukan orang sesabar itu, bisa kau percepat sedikit.." Suho juga ikutan noleh ke arah pandang orang itu yang jatuh tepat di belakang punggungnya yang tidak bermasalah sedikitpun. Agak sedikit aneh juga sih seperti ada sesuatu atau mungkin seseorang
"Kau melihat apa?"
"Tidak, aku merasa ada sesuatu yang mengikutimu .. "
"Kalau kau pikir kau bisa menakutiku dengan hantu-hantuan, maaf kau kurang beruntung. ."
"Bukan apa-apa . . aku rasa kau kuat untuk menjalani setelah ini yakinlah padanya.. .dan dia akan yakin padamu. ."
Setelah itu Sang boss pergi dan meninggalkan Suho bersama kedua anaknya yang masih di dalam Krystal.
'Harus Percaya ya?' Suho tersenyum dan mendekat kearah mereka dia mengelus satu dari keduanya, dan setelah berpikir dan dia mencium salah satunya dan membawa salah satunya.
Tinggallah satu disana.
Kai cuma melihat sisa satu disana, Dan itu bagaikan satu kesatuan disana. .
Tanpa dia ketahui itulah dirinya.
Perasaan sakit ditinggalkan itu kini datang lagi.
"Kau tidak mau pulang Jongin-ah. .?"
Kai kaget karena mendengar namanya disebut, dia berbalik siapa tahu ada orang lain tapi mustahil juga ada orang lain yang bisa disini.
Kai berharap orang lain
Tapi sayang itu tidak terkabulkan.
Berdirilah Suho dengan senyuman Angel nya menghadap Kai.
Kai memandangnya.
Suho masih tersenyum.
Suho masih terus memandang Kai dan langsung berjalan mendekatinya dan melewatinya . .
Melewatinya.
Dan mengusap krystal yang satu dan ditinggalkannya tadi, Kai pikir dia melihatnya dan memanggil namanya tapi ternyata Krystal itu.
Tunggu.
Kai menoleh lagi setelah Suho pergi dan melihat satu krystal itu.
'Jongin?'
.
"Tao sebentar lagi akan punya adik yeeyyy"
"Emm Tao secara official itu bukan adikmu itu adiknya Dio. ."
Xiumin langsung mengoreksi omongan Tao yang terlanjur exited itu.
"Nggak masalah. dia lebih muda dari Tao itu artinya dia adik Tao, iya kan ahjumma. . ?" Tanya Tao makin exited, bukannya dia ingin ada penggantinya sebagai bahan godaan atau apa, tapi menurutnya punya seseorang yang lebih mudah dan perlu perhatian lebih dari kita itu rasanya menyenangkan, Tao juga ingin merasakan bagaimana menjadi kakak.
Selama ini dia selalu diperhatikan orang lain, sesekali dia juga ingin memperhatikan yang lainnya.
"Tao ingin adik? kenapa tidak minta ke mama Lay saja. ."
"Uhuhhkkk. . hookkk"
Lay langsung keselek walaupun dia tidak sedang minum atau makan, nggak tahu keselek apaan setelah tepat mendengar perkataan Suho tadi.
Kalau Kris mendengar itu malah tersenyum setan. Tapi dia pura-pura sok polos dan tetep ngelus punggung Lay supaya dia bisa berhenti batuk mendadak.
Setelah hening sebentar Lay langsung mencairkan suasana lagi dengan ganti topik lain.
"Tumbenan Baek sama yeol hari ini rukun ayem . . ada apaan ? " tanya lay pada Suho. Mereka sedang berkumpul setiap minggu seperti biasa di belakang pekarangan rumah.
Dan Kai masih tetap berada di sekitar keluarga tanpa dia sadari dia terlalu dekat dengan Suho sejak kemarin, dia penasaran pada siapa yang dipanggil Jongin itu. Nama asli Kai kan Jongin dan itu nama yang diberikan Key dan dijuliki Kai karena supaya agak mirip Key.
"Dunno, Sejak kemarin malam mereka akur aku rasa akan ada awan badai kalau sampai mereka akur. . "
"Ya eomma kami mendengarnya!" teriak mereka secara serempak. Suho lalu pasang pose peace. Yang lainnya tertawa kompak.
Lay natap Chen dari tadi terus diam biasanya itu dia masuk dalam 'Beagle Threesome' sama Baekhyun dan Chanyeol tapi sekarang dia cuma diam aja.
Xiumin mengerti akan tatapan khawatir eommanya pada Chen, akhirnya dia jadi perwakilan dan nanyain Chen.
"Ada apa?"
"Ada hal yang terasa tidak enak disini?"
"Semuanya berbahagia kenapa kau tidak?"
"Aku tidak tahu. . Hyung..." Chen sangat terlihat was-was dia seperti orang yang ketakutan entah akan apa? dan dia langsung menggenggam tangan Xiumin, setidaknya itu sedikit mengurangi rasa takutnya.
.
Semua kejadian itu terjadi tanpa diprediksi dan tanpa diketahui. Kejadian yang membuat mereka terpisah dan membuat satu orang bertahan disini.
Saat kejadian itu Kai entah kenapa mengikuti Kyungsoo yang berlari ke arah tempatnya dulu ia mengikuti Suho.
Melihat Kyungsoo menyelamatkan satu krystal yang ditinggal, sementara Suho yang sudah tidak mampu mendapatkannya.
Semuanya memutih lagi, Mereka menghilang.
Dan bayangan yang daritadi diikuti Kai kini datang mendekat.
Semakin jelas dan Kai tahu siapa itu.
Dia tersenyum manis dan mengulurkan tangannya.
Kai juga berjalan mendekatinya dan tanpa sadar menerima uluran tangan nan hangat itu, dia tidak tahu kenapa tangan itu bisa sehangat ini.
.
.
Kyungsoo terbangun ketika dirasanya tangannya dipegang sangat erat, tangan yang sedari tadi untuk menggenggam tangan Kai. .
Kai..
Perlahan Kyungsoo tersadar dari tidurnya dan dia bergetar hebat menatap tangan Kai yang terus memegang tangannya erat atau mungkin lebih tepatnya meremas tangan itu kuat-kuat. Dia menutup tangan Kai dengan kedua tangannya, rasanya ini pertanda baik.
Suho dan Sehun mendekat ketika melihat gelagat aneh Kyungsoo.
'Kenapa?' ucap Suho bertanya tapi tidak menimbulkan suara.
"Dia. ." Sehun langsung menahan kata-katanya.
Kai perlahan membuka matanya dan dia membiasakan cahaya yang masuk Dan mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, apa dia habis mati kenapa tubuhnya sekaku ini, itu butuh waktu yang lama hanya untuk menggerakkan seluruh sendi di tubuhnya.
Mata yang selama ini tertutup kini terbuka lagi ada sedikit harapan disana, entah harapan untuk apa.
Perlahan dia mulai mengenali orang-orang dihadapannya satu-persatu.
Karena mereka sangat familiar jadi tidak terlalu susah. Kai tahu dia ada dimana sekarang ini.
"Jangan banyak bergerak dahulu. . ." Ucap Suho dia menopang kepala Kai dan perlahan menyenderkannya.
"Aku akan pergi setelah sembuh. ."
"Sebenarnya aku ingin memukul wajahmu saat ini juga tapi mengingat kau masih setengah sekarat aku menahannya. Kau itu adalah orang yang menyebalkan yang pernah ada. . Kau bahkan tidak tahu kita semua berperang terluka itu karena kau . . " Sehun mulai menaikkan nada bicaranya.
"Aku bukanlah barang yang dimenangkan setelah perang. ."
Mendengar jawaban itu, emosi Sehun kembali memuncak, Suho dan Kyungsoo Cuma menatapnya dalam diam.
"Sehun bersikap baiklah pada kakakmu. ." setelah mengucapkan itu Suho pergi berlalu meninggalkan ruangannya.
Semuanya berlalu dalam kediaman, tidak ada yang berani buka suara, Kyungsoo dia terdiam dan Sehun terus berlalu dan menyusul eommanya.
"Apa yang kau lakukan,?"
"Hyung, ini terlalu sulit untukku. . aku sudah tahu yang sesungguhnya tapi aku tidak bisa begitu saja menerimanya.. " jelas Kai pada Kyungsoo.
.
.
.
Sehun berkeliling semua ruangan di RS ini untuk mencari keberadaan eommanya, nihil dimana Sehun mencari disitulah Suho tidak ada. Dia Cuma bertemu kedua kakaknya dilorong dan bersiap kembali ke kamar.
Ada satu ruangan yang Sehun sangat takut untuk memasukinya, agak nggak yakin kalau Suho disini tapi kalau tidak dilihat tidak akan tahu..
Kamar Jenazah..
Demi apapun kenapa rumah sakit selalu ada kamar jenazah
Krieeettt
"Oh, Hai Sehunna" Sapa seseorang dan Sehun mulai bertanya-tanya dia melihat eommanya ada disana dengan tatapan kosongnya lagi, kalau dia manusia biasa pasti sekarang dia udah kerasukan saking kosongnya ada ditempat angker lagi.
"Maaf mengganggu. ."
"Apa kau tidak ingin tinggal, aku khawatir dia tiba-tiba pingsan disini dan mereka mulai . . kau tahulah ini dimana. ."
Sehun mengangguk dan berdiri di sebelah Suho, sepertinya pembicaraan mereka baru saja mulai.
"Junmyeon-ah. . Kau mengerti kan kalau Key masih menghormatimu, dibalik sikap angkuhnya dia orang yang penyayang dan respectfull, Dia yang memberi nama Jongin karena dia masih melihatmu sebagai eommanya. .dia sama sekali tidak egois. ." jelasnya. Dia menghela nafas sebentar, "Dia memberinya harapan untuk bertemu denganmu, kau yang membuatkan nama untuknya.. "
"Lalu apa yang mereka inginkan dari Kai. ." tanya Suho bingung.
"Tidak ada sebenarnya, Key membuat info palsu dan yang lainnya percaya, , dia hanya ingin menjaga Kai agar tetap dengannya .. "
Mendengar kebaikan Key yang seperti itu rasanya Suho tidak layak jadi eommanya Kai, mungkin Harusnya Kai bersama Key dan tidak bersama dirinya.
"Kembalikan saja dia pada Key, dia sedikit tidak suka denganku. ."
"Key juga bilang begitu dia ingin kau yang menjaga Kai dan mulai mengenalkan arti keluarga yang sesungguhnya, Keluarga kalian pantas diiri dan kegigihanmu dalam memelihara keluargamu pantas diberi award. ."
"Sekali lagi kau ngelawak, aku teriak pada suster ada mayat bangun. ." kesel Suho.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol sudah kembali ke kamar, mereka melihat Kai bercakap-cakap serius dengan Kyungsoo.
"Kai. ."
Sapa Chanyeol, dan dia langsung duduk di sebelah kursi Kyungsoo. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tambah Baekhyun.
"Lumayan. .
.
.
...Hyung"
.
.
Hari ini hari mereka bebas dari bau obat hampir kurang-lebih satu bulan mereka ada disini, besok mereka sudah bisa ada dirumah kecil mereka ditengah kota, bukan tempat yang sangat nyaman tapi bukanlah tempat yang terlalu buruk juga.
Semuanya sudah mengemasi barang, setelah mengucapkan terima kasih pada dokter yang selama ini mau merawat mereka segera beranjak pergi.
Baekhyun berada di depan dia sedang menggandeng kedua adiknya, Sehun dan Chanyeol seperti anak kecil. Secara fisik Baekhyun yang paling kecil tapi kenyataannya sebaliknya.
"Sehun, Chanyeol pegangi adik kalian supaya tidak jatuh. ." maksudnya karena Baekhyun pendek dia harusnya yang menjadi adik.
"Eomma!"
Baekhyun langsung pout dan itu makin terlihat kalau dia bukanlah yang tertua disini.
Kai masih tidak terbiasa, dia telah mendapat banyak masukan terutama dari Kyungsoo dan akhirnya dia mau ikut keluarga ini. Suho juga bilang kalau Key sudah memasrahkan Kai padanya.
Sesampainya di rumah kecil mereka Dan sesuatu yang cukup baru untuk Kai, dia memang pernah memasuki rumah ini tapi tidak dengan cara baik-baik.
"Mulailah terbiasa disini, kau bisa tidur dengan Kyungsoo kalau kau mau. ." ucap Suho pada Kai, dan Kai Cuma mengangguk paham sambil bergumam terima kasih.
Tidak ada barang-barang yang bisa ditata Kai karena dia kesini dengan tidak membawa barang apapun, baju yang ia pakai pinjam dari Chanyeol dan terkadang Sehun kalau dia sedang baik hati.
Suho sudah persiapan untuk tinggal di bumi saja, dia tidak apa kalau tidak harus kembali ke kampung halaman, tapi ini masih lebih baik menurutnya.
"Eomma, tidakkah saatnya kau mencari pasangan. . sungguh aku tidak akan masalah siapapun dia. ." Sepertinya Sehun sudah tidak ingin sehat lebih lama, bicara pasangan terhadap Suho itu adalah hal yang sacral. Untung saja Suho sedang tidak membawa pisau melainkan hanya sebuah sendok jadi itu yang dilemparkannya ke Sehun.
"Kau tidak masalah?, kalau begitu itu masalah untukku. ."
"Kenapa?"
"Oke. . ini akan menghabiskan waktuku. apa kau tidak keberatan jika itu Kris. ."
"A,,, lupakan soal siapapun. . siapapun kecuali Kris karena aku membencinya dan karena dia adalah suaminya ahjumma. ." Sehun berpikir lagi.. "Eomma menyukai orang itu? "
"Emmm bagaimana ya. .? "Suho sok berfikir begitu padahal dalam hati dia ingin sekali mengerjai anak bungsunya ini. "Kalau aku bilang iya bagaimana. ."
"AAAAA tidak adakah orang lain yang bisa kau sukai selain dia. ..!"
Memang asik mengerjai anak yang kerjaannya suka ngerjain.
Suho tersenyum kemenangan, Kai cuma melihat adegan itu dan dia sedikit tersenyum, dia jadi ingat bagaimana dia melihat Suho bersembunyi karena menghindari Kris dan Lay.
Kai tidak tahu apapun tentang dimana mereka sekarang, kenapa cuma ber 6 dan dia tidak berani tanya.
Dia juga ingat semuanya yang menuntunnya menuju ingatan itu dan seolah memberitahu kalau Kai adalah bagian dari sana, serta anggota dari keluarga mereka yang sangat mereka sayangi adalah Suho.
Tangan hangat yang menyadarkan Kai itupun Suho,
Sehun berjalan menghampiri Kai. dia duduk di hadapannya.
"Kau, bagaimana kau ingat semuanya. .?"
"Aku hyung mu kan?"
"Iya. . iya Hyung bagaimana kau ingat semuanya. .?" Sehun senyum sok manis padahal dia sebel abis. "Kau ingat aku tidak? . . kau orang kurang ajar yang memanggilku cantik waktu itu kan? aku ingat sekarang. .. "
"Oh itu kamu. . kok nggak mirip ya. . waktu itu kamu masih lucu . ."
Dua kali Sehun dibikin kesel hari ini. Rasanya asik kalau ada ahjummanya dan Luhan hyungnya dia bisa manja-manjaan ngaduin kalau dia selalu dianak tirikan oleh Suho. Setelah itu dia langsung dijitak Suho.
.
.
Baekhyun masih terdiam di balkon rumah dia sedang berkonsentrasi mendengarkan kata hatinya. Karena kemarin malam dia dirawarin Suho karena anggota mereka sudah lengkap, Baekhyun ingin tinggal dimana.
Keluarga mereka memang sudah lengkap tapi entah mengapa masih ada yang kurang.
"Kau kenapa Hyung?" Kyungsoo yang sedari tadi membersihkan rumah makin menganga heran melihat kakak tertuanya sedang melamun seperti bukan gayanya.
"Aniyo, Kyungsoo-ya apa kau senang tinggal disini?"
"Emm kenapa Tanya seperti itu tentu saja aku senang. ." Dia menghentikan pekerjaannya sebentar dan duduk disamping Baekhyun. "MEmangnya hyung kenapa? Apa hyung tidak senang?"
"Bukan begitu hanya saja, . . akan terasa berbeda saja .."
"Eomma tahu yang terbaik. ." setelah mengatakan itu Kyungsoo kembali lagi bersih-bersih rumahnya dan mempersiapkan kamarnya dan Jongin mulai malam ini.
Kini Suho mendekati Jongin dan berbicara empat mata dengannya.
"Kalau kau tidak ingin bersama kami aku bisa mengembalikanmu dengan Key. . aku tidak mau kau merasa tersiksa disini karena tujuanku kesini adalah bukan untuk membuatmu tersiksa. ."
Kai tersenyum dan ingin menangsi, dia selama ini selalu meragukan Suho yang hanya menginginkannya bukan membutuhkannya tapi kali ini dia sadar . Dia butuh sosok seorang eomma yang mengayomi dan dia butuh Suho.
"Terima kasih karena telah menginginkanku walaupun aku berlaku buruk padamu. . aku sadar memang tubuhmu tidak bersamaku tapi kau selalu memikirkan aku. . Kau yang menyelamatkan aku saat tidak ada orang lain disisiku lagi . . Terima kasih eomma.. ."
.
.
.
END
Yeayyyy this is DECEMBER. . . waktunya gue comeback sesuai janji, dan beruntungnya juga exo ikutan kombek#plisstop
mungkin agak ada yang kurang dan tidak sesuai harapan. tapi this is the ending. love you all. Selama ini support kalian membuat hidup gue berbeda seneng bisa punya reader kayak kalian-kalian semua . . hahaha i'm being cheesy.
kemaren sebelum ini gue pengen banget itu nangis dan banting laptop, kecapin laptop/?, gigitin laptop dll. kenapa itu karena file gue semua ff yang udah gue tulis ada di fd dan itu kena virus. . oh my. kerja keras gue hilang tak berjejak.. tapi untung aja keesokannya bisa dan akhirnya gue putusin buat cepet publish sebelum makin parah gue lupanya.
hahaha gue emang pelupa tingkat dewa.
MAAF untuk selama ini dan kalau endingnya tidak sesuai harapan kesalahan bukan [ada mata anda itu murni kesalahan authornya. . *bow*
BTS. . . bukan bangtan boys tapi behind the story.
Alasan kenapa saya bikin ff ini asalnya iseng berlanjut ke ngalay dan akhirnya ke pengalaman pribadi.
pengen tahu nggak sih, ngobrol-ngobrol yang jadi Kai ini sebenarnya saya. . cuma ya hidup saya nggak drama-drama amat. .
Mungkin di cerita ini Kai bisa kembali ke tangan Suho dengan mudah tapi sebenarnya itu sulit lho, kalau saya yang berada di posisi Kai sulit bahkan nggak mampu buat ninggalin Key Dan sulit menerima Suho, karena Kai*disini* hanya fiksi dan saya adalah nyata.
Saya = kai
Ortu asli = Suho
Ortu angkat = key
Oke jadi gini cerita saya.
Saya udah lama diasuh sama Key dengan perasaan kasih sayang dan terkadang mengajari dengan kekerasan tapi itulah kehidupan nggak selalu harus mulus kayak jidat Suho.
Bahkan sampai sekarang saya nggak bisa sebut Suho dengan sebutan eomma. pengen nyebut pun susah selama 19 tahun yang saya anggap sebagai eomma adalah key walaupun tetangga atau siapapun sudah mengatakan kebenaran dari awal terhadap saya tetap saja saya seolah menutup diri dan menganggap saya tidak tahu apa-apa dan kalau ditanya siapa eomma saya saya selalu jawab Key.
Dari kecil setelah saya lahir orang yang selalu saya lihat adalah key dia yang mengajarkan saya tentang segala hal, dia yang menangis karena saya dan dia juga tertawa karena saya. Dia yang sedih kalau saya disakiti, dan dia yang bahagia kalau saya juga bahagia.
Sementara Suho tidak tahu menahu mengenai saya sejak kecil apa saya makan dengan baik, apa saya bisa mengerjakan ini-itu, apa yang tidak bisa saya kerjakan, apa kekurangan saya bahkan dia tidak tahu.
Mungkin saya kelihatannya seperti anak yang durhaka karena walaupun sudah tahu keadaan tapi tidak mau kembali ke suho, tapi saya juga tidak menyalahkan mereka atau siapapun bahkan saya tidak pernah menyalahkan tuhan menakdirkan saya seperti ini, ini adalah yang terbaik. kalaupun saya tetap di pangkuan Suho dari kecil mungkin saya tidak akan pernah sampai disini, tidak akan pernah merasakan perasaan yang seperti ini. dan saya bukanlah saya yang seperti ini.
Saya cuma mau mengucapkan terima kasih pada eomma yang selalu merawat saya dengan baik, selalu didalam doanya akan ada nama saya, dan di dalam pikirannya selalu ada saya. rasa terima kasih ini tidak akan cukup apapun yang saya lakukan sebaik apapun tidak akan cukup untuk membalasnya, sementara yang saya lakukan tidak selalu baik dan malah terkadang terkesan acuh dan seperti males kadang saya ingin pergi jauh dari rumah dan ingin bertemu keluarga lain. tapi setelah tahu kenyataan walaupun kalian bukan orang tua kandungku tapi aku menganggap kalian lebih.
End. .over
Oke sekian dari saya dan sampai jumpa kalau ada kesempatan saya akan menulis ff-ff abal lain makasih pada semua orang yang baca dari part awal sampai chap ini, yang mengikuti dari awal saya sampai kan banyak terima kasih kalian yang terus mendukung sampai saya bisa menulis di chap ini. respon yang baik menghasilkan hasil yang baik.
Pesen : selalu sayangi keluarga kalian bagaimanapun keadaannya jangan men-judge di awal. karena semua itu butuh waktu. jangan sampai menyesal di kemudian hari.
Kalau ada yang perlu ditanyakan atau masih ada yang kurang jelas apalagi mengganjal tanyain aja oke, just contact me in fb : fika kalusi. boleh kasih saran, kritik ataupun itu apalagi kasih uang ihh boleh banget.
ANNYEONGHIGASEYO. . .
NB.: 'mungkin' belum ada fict baru yang bisa di post setelah ini, saya mau flight ke Seoul nungguin Baekhyun berhenti make eyeliner. .. . XDD LOL, enggak saya sibuk cyinn.
Kalau respondnya bagus dan masih banyak yang mengganjal mungkin aka nada afterwards atau apalah itu namanya. .
