Chapter Tambahan, pelengkap dan insyaallah bebas dari rasa ganjal-mengganjal.

.w.

.w.

.w.

"Maukah kau hidup bersamaku, dan menjaga mereka denganku. .?" Lay yang baru keluar dari dunianya disambut seseorang yang benar-benar seperti malaikat atau apalah mereka menyebutnya sosok itu sangat bersinar dimata Lay.

Dan dengan senang hati Lay langsung menerimanya.

Sebelum dia dijelaskan tentang dunia dan seisinya, Kris lah yang mulai mengenalkannya.

"Mama, hari ini Luhan latihannya sangat keras semenjak teman-teman kami merendahkannya. ." Xiumin adalah orang yang selalu menceritakan bagaimana Luhan kalau dia sedang dalam keadaan aneh.

"Mungkin dia memang mau membuktikan bahwa dialah yang paling kuat. ." Jelas Lay sambil duduk dan memandangi minnienya.

"Kau tidak ada masalah kan dengan Luhan, Luhan itu orangnya takut sendirian dia juga paranoid, walaupun dia orangnya kuat tapi dia adalah yang paling rapuh. ."

Kris yang sedari tadi terdiam kini mulai tersenyum dia selalu merasa nyaman kalau Lay bisa diandalkan untuk mengurusi anak mereka.

Xiumin mengangguk mengerti dia tidak pernah salah pilih jika ingin cerita sesuatu kepada eommanya.

"Ani, aku dan Luhan itu bagaikan saudara kembar yang sakit satu akan sakit keduanya, aku akan sakit jika Luhan merasa sakit.. "

Dan seperti kalian tahu Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, pepatah like mother like son itu juga hampir semuanya benar, Xiumin tidak jauh berbeda dengan Lay dalam hal bijaksana.

.

.

.

"Lay, kemarin aku dengar ribut dari dalam rumahmu,, ada apa?" dia sedang bercengkerama dengan Suho di taman belakang seperti biasanya dan membiarkan anak-anak mereka bermain like no tomorrow.

"Ah, kami tidak pernah sampai bertengkar hebat kok tenang saja, , hanya saja kelakuan Chen kalau sudah mengerjai Hyungdeulnya agak keterlaluan jadi sedikit pelajaran untuknya .."

"Kau beruntung cuma satu orang yang sangat rusuh di rumah kalian, sementara aku harus menangani dua orang rusuh itu. ." Suho langsung melihat Chanyeol yang lagi main apalah itu sama Baekhyun sama Chen.

"Setidaknya keluarga kalian terasa lengkap karena ada dua orang yang saling melengkapi. ."

"Maksudnya? dua orang itu aku dan Kris?" Lay mencoba mengartikannya dengan jelas, dia memang terlahir lemah dan membuat dia bersama Kris, apa itu hal yang bisa membuat orang lain iri.

Suho cuma tersenyum, dan meniggalkan banyak pertanyaan di benak Lay tentang maksud semua ini.

Chanyeol mendekati Suho yang mulai menjauhi Lay, "Eomma ada apa?"

"Channie senang main sama ahjussi...?"

"Lumayan, soalnya Baek-hyung lagi ngambek.. nggak tahu padahal kemarin Chanyeol nggak ngerasa ngelakuin sesuatu yang salah.."

"Dia mah tergantung mood kalau mau baik sama orang, ntar eomma bilangin."

.

.

.

"Yang dimaksud Hyung, dia iri padaku? atau menginginkan Kris atau bahkan kedua-duanya.." Lay sedang memikirkan semuanya sendirian, dia termasuk orang yang tertutup kalau kalian tidak menanyakan langsung apa yang kalian ingin tahu.

Baru pertama kalinya Suho bersikap seperti ini apa ini karena ia terlalu banyak sendirian, Lay merasa tidak adil juga, kenapa cuma dia yang bisa berdua bersama Kris kenapa Suho harus sendirian, apa yang salah dengan memilih pasangan bagi Suho, apakah memang tidak ada?, atau seharusnya Krsilah yang bersama Suho bukan Lay, andaikan Lay tidak ada.

Kalau memang seperti itu, lebih baik Lay tidak ada, dia tidak ingin membuat orang lain membencinya karena iri pada kehidupannya yang sebenarnya sama saja dengan kehidupan makhluk lainnya.

Setelah kejadian itu, hubungan Lay dan Suho mulai agak merenggang. Lay takut untuk mendekati Suho karena mungkin itu akan memperburuk keadaan. Ia ingin memperbaiki situasi mungkin ada sesuatu yang bisa membuat mereka merasa lebih baik.

Caranya cuma satu yang ada di pikiran Lay

"...Membagi Kris untuk kami berdua"

Lay bisa saja melepas Kris tapi dia tidak akan mampu jika hidup sendirian di dunia ini, tanpa Kris dunianya hanya kertas putih biasa, karena Krislah hidup Lay.

Membagi adalah cara yang cukup mudah untuk dilakukan, mungkin.

Suatu saat mereka berkesempatan untuk mengobrolkan ini bersama. Lay mencoba dia tidak mengatehui semuanya hanya berpura-pura seperti biasa untuk mengetahui lebih jelas dari Suho dibanding dengan presepsinya sendiri.

"Bagaimana denganmu hyung? Kenapa kau tidak memilih pendamping . . ?"

"Tujuan utamaku adalah membahagiakan keluargaku. . selama aku bisa melakukannya sendiri maka akan kulakukan. ." jelas Suho.

"Chanyeol. . dia sangat senang denganmu tapi dia lebih senang lagi melihatmu memiliki orang lain. .setiap hari dia terus saja bermain dengan Kris dan Tao. . " tambah Lay lagi.

"Mudah memang mengatakan itu . . tapi tidak semua orang seperti Kris yang baik hati dan bisa memenuhi permintaannya. . ,Chanyeol bisa mengatakan itu tapi setelah itu apa dia masih bisa menerima semuanya. . " jelas Suho.

"Kalau begitu kenapa tidak Kris saja. ." Suho langsung kaget mendengar perkataan Lay.

"Apa maksudmu. . ? kau mencoba melawak ya kali ini?" tanya Suho menanggapinya sebagai ketidakseriusan Lay.

"Sungguh . . kalau kau memang –"

"Berhenti, kau lebih membutuhkan dia daripada aku, aku terlalu kuat untuk bersama dia. . dan kau terlalu lemah untuk sendirian." Suho memotong perkataan Lay yang dia sudah tahu akan mengarah kemana. "Aku tahu kau orang yang bekerja keras. . tapi kondisimu tidak memungkinkanmu untuk sendiri menjaga mereka. . " lanjutnya.

"Aku baik-baik saja. . aku bisa hidup sendiri. . ."

"Kau itu tipe Healer, , yang tidak punya kekuatan menyerang sama sekali dan tidak bisa melukai orang sama sekali , mangkanya kau harus bersama Kris dia adalah tipe penyerang. . " jelas Suho. "Dan jangan sekali-kali memberikan Kris padaku. . karena aku tidak akan menerimanya. ." lanjutnya mulai dingin.

"Aku tidak akan bisa memberikan Kris pada siapapun. . biarpun itu padamu. ." Suho menoleh, akan kata-kata Lay yang mulai dingin juga itu "Aku tidak memberikannya bagaimana kalau kita membaginya. .Kau juga butuh seseorang kan.. Selama aku hidup aku tidak akan memberikannya tapi setelah aku tiada nanti tolong hyung jaga dia!"

"Lay. ."

"Tenang hyung itu tidak akan terlalu lama kok.."

"LAY DENGARKAN AKU!"

"Maaf hyung. ." Lay langsung berlari pergi karena dia tidak ingin melanjutkannya itu akan membuatnya terlihat semakin lemah saja.

.

.

.

"Aku dengar kau ingin membagiku degan Suho. ."

Lay langsung duduk didepan Kris, dia merasa bersalah juga ini bukan hanya menyangkut dirinya tapi juga perasaan Kris, kenapa dia tidak memikirkannya sedari tadi.

"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan, kau pikir aku orang yang sepicik itu?"

"Kris, , ini bukan untukmu tapi lakukan ini untukku. ."

"Bagaimana mungkin ini untukmu, ini akan menyakitimu Lay . ."

Lay mendekat dan menggenggam tangan Kris dan sebelah tangannya mulai mengelus perlahan pipi Kris.

"Kris dengarkan aku, jika nanti aku sudah tidak bersamamu lagi, jika raga ini tak mampu lagi mendekapmu aku mohon carilah raga lain yang mampu melakukannya. .Biarkan Suho menggantikanku"

Kris menahan tangan Lay yang ada di pipinya dan dia mencoba menggeleng tidak setuju.

"Aku tidak akan melakukannya. jika suatu saat nanti kau tiada aku hanya punya dua pilihan, menjaga anak kita sendirian atau mati bersamamu. .hanya itu tidak ada yang lain. ."

"Kris.. "

"Ini pilihanku Lay. . bersama Suho tidak akan membuatku melupakanmu. . itu juga tak akan bisa menggantikanmu mungkin dia bisa mengisi kekosongan sebagai seorang eomma tapi sebagai seorang yang benar-benar aku cintai itu cuma kau. ."

Kris langsung menarik Lay dalam dekapannya, tubuhnya semakin lama semakin terasa kurus atau dia sudah lama tidak merasakan tubuh ini.

Semakin dalam kehangatan yang mereka salurkan perasaan tidak igin terpisah pun semakin lekat, mungkin mereka berdua di dunia memang untuk bersama, saling melengkapi satu sama lain.

"Kalau kau ditakdirkan untuk reinkarnasi lagi kau ingin menjadi apa?" tanya Lay disela-sela pelukan eratnya pada Kris.

"Seorang appa dan seorang suami yang baik. .Untukmu dan anak kita. hanya itu"

.

.

.

"Sehunaaa. ..Berhenti menangis yang tidak jelas,, dan cepat makan makananmu atau kau akan kubuang untuk kedua kali. . " Suho sedang membujuk Sehun yang sedang merajuk entah karena apa, padahal dia tidak ada masalah sama Chanyeol maupun Baekhyun.

"Sehuna.. kalau dilihat-lihat aku ini mirip Luhan-ge lho. . jadi nggak usah deh sok kangen-kangenan gitu. . lihat gue aja " Baekhyun langsung kedip-kedip sok manis di depan Sehun dan membuat Sehun makin banter itu nangisnya.

"EOMMA .. kenapa sih aku punya hyung itu kok jailnya naudubillah. ."

"Hush Sehun nggak boleh bilang gitu, Baekhyun itukan Hyung kamu, dia juga perhatian kok sama kamu, nggak kalah sama Luhan. ." Chanyeol tiba-tiba menengahi, tumbenan dia waras kayak bukan Chanyeol kalo gini. Padahal itu modus aja supaya eommanya nggak ikutan marahin dia, dia kan jahilnya juga nggak ketulungan.

"Mungkin Baekhyun cemburu karena kamu terlalu memperhatikan Luhan padahal sayangnya dia sama Luhan ke kamu sama gedenya. ." Suho juga ikutan bujuk Sehun sekalian supaya mau makan.

Sehun diem bentar dia kayak ngerasain hal yang nggak enak banget apa ya?.. kayak jauh gitu tapi dia sayang banget sama itu.

Luhan?

Lay?

"Eomma, apa eomma nggak ngerasain hal yang nggak enak ?" tanya Sehun setelah dia bisa dibujuk untuk makan.

"Nggak tahu, kayak ada sesuatu yang terjadi sama Lay kalau menurut eomma sih. ." jawab Suho.

"Aku harap itu bukan hal yang buruk ya eomma. .?" tanya Chanyeol lagi, dan dia ikutan nimbrung. Baekhyun udah nggak tahu dimana dia sekarang, suka-suka dialah.

Kai sama Dio lagi keluar jalan-jalan sambil mengakrabkan diri sekali lagi, siapa tahu mereka saling membantu dan bisa ingat dengan sendirinya karena saat kehilangan ingatan mereka juga berdua, siapa tahu mereka akan mendapatkannya ketika bersama juga.

Sehun dan Suho langsung memincing ke Chanyeol, mereka saling menatap seolah menanyakan pertanyaan yang sama 'Ini beneran Chanyeol apa dia sedang kerasukan?'.

"Chanyeol sayang, ini kamu kan?" tanya Suho hati-hati.

"Iya mamaku sayang. "

Tuh kan, sejak kapan Chanyeol manggil Suho mama? dia nggak salah makan kan pagi ini, perasaan Suho tadi kasih makan Chanyeol nasi sama lauk biasa kok bukan pakan burung atau pakan ayam kok dia jadi gini.

BRUAKKK

Chanyeol pingsan tidak sadarkan diri, Sehun tidak sengaja menjatuhkannya dan sekarang dia pingsan karena dipukul Sehun tepat di kepalanya.

"Sehuna, apa yang kau lakukan?"

"Dia bukan Chanyeol Hyung. ."

Suho juga agak yakin nggak yakin.

Tiba-tiba Baekhyun muncul dan melihat Sehun dan Suho bergantian karena memasang wajah kaget setengah mati.

Dan Baekhyun melihat ke bawah,

"KYAAAA CHANYEOL KENAPA?"

.

.

.

"Ohh jadi karena itu, tapi aku dan Chanyeol sedang main taruhan dan dia kalah dan dia harus menerima hukuman berupa tidak jahil seharian dan selalu sabar sementara pemenangnya yaitu aku berlaku jahil seharian. ."

"Lain kali jangan main aneh-aneh, aku kira Chanyeol kesurupan. ." Suho langsung kompres kepala Chanyeol dengan tangannya yang sudah diselimuti air.

Sehun langsung nangis di pojokan, kan dia yang banting Chanyeol sampai tidak bernyawa sementara waktu itu.

Kai dan Dio pulang dan segera mencari keberadaan orang-orang yang sedang ngumpul di kamar Baekhyun Chanyeol.

"Hyung kenapa itu?" tanya Kai, dan Dio langsung perhatiin Sehun yang lagi ngusapin itu ingusnya yang seember, dan nangis di pojokan.

"Sehun a? waeyo?"

"Chanyeol hyung, dia ahhhhhh huaaaa"

Dengan secepat kilat Dio langsung menenangkannya bisa bahaya kalau Sehun terus-terusan nangis kalau dia pengendali air bisa banjir nih apartemen.

.

.

Pemuda itu hanya berjalan dan semua tatapan orang-orang tertuju padanya, entah apa yang salah pada dirinya. Semua tatapan itu adalah tatapan iri hati.

Apa yang membuatnya diiri adalah bagaimana dia bisa terus bersama dengan orang paling populer sekolah yang keberadaannya tidak bisa ditolak sama sekali.

"Kris aku rasa ini bukan ide yang baik untuk berjalan bersamaan denganmu di koridor. ."

"Kenapa? tidak ada larangan kan?"

"Aku seperti akan dibunuh seseorang atau segerombolan orang Secara bersamaan"

"Kalau mereka membunuhmu sedetik setelah itu mereka sudah tak akan bernyawa lagi ."

"Sebelum kau melakukannya aku mungkin sudah mereka hanyutkan di sungai terdekat.. "

Kris tertawa sebentar kemudian mengacak rambut rapinya itu, tersenyum sebentar dan kemudian menggandeng tangannya semakin erat.

Ini tidak akan menjadi baik kedepannya. Lay sudah tahu akan hal itu tapi rasanya dia tidak akan menyesalinya. Ada perasaan yang dirindukannya setelah sekian lama, walaupun ini baru pertama kalinya dia bertemu Kris.

Setiap hari dilaluinya seperti ada yang aneh tapi juga seperti ada yang kurang terkadang. Ada yang membencinya karena Kris itu sudah menjadi rutinitasnya bahkan dia tidak akan heran lagi kalau semakin hari semakin buruk.

Sampai suatu saat datanglah seseorang yang seperti menggugah jiwa masa lalunya, seperti ada yang terlupa sesaat olehnya dan terbawa kembali saat melihat anak ini.

'Sebenarnya dia anak siapa sih? Sepertinya ketika melihatnya ada yang teringat seseorang yang sangat dekat.. '

"Ahjumma, kalau kau pulang sekolah nanti aku titip bubble tea ya? "

"Uangmu?"

"Uang? Aku tidak punya uang. ."

"Kalau kau mau membeli sesuatu kau harus punya uang dasar anak nakal.."

"Tapi eommaku selalu membelikannya untukku jadi aku tidak punya uang. ."

"Manja. ."

Biarpun mengomel tapi Lay tetap berangkat dan terus kepikiran titipan anak nakal yang ada di rumahnya. Tidak ada rasa keberatan ataupun merasa terganggu dengan kedatangan anak itu.

Kalau dipikir-pikir dia anak yang manis, kalau Lay boleh berpendapat.

Ada rasa sayang yang muncul sedikit demi sedikit tanpa butuh waktu lama.

"Sedang apa?"

"Membelikan sesuatu untuk seseorang yang tinggal dirumah. .."

"Pacarmu menyukai minuman seperti ini.. . "

"Ah, , bu bukan dia hanya lelaki biasa. ."

"Aku bisa mentolerir tentang cowok dan cowok kok.. ."

Lay mengernyit heran dengan apa yang diomongkan orang ini, yang dimaksudkan itu hubungan seperti sepasang kekasih kah? Atau sekedar pertemanan?

"Terima kasih atas toleransimu, tapi rasanya aku tidak terlalu memerlukannya. ."

Setelah membayar tehnya, Lay langsung pergi sebelum ada orang lain yang ingin membunuhnya karena mendekati orang yang sangat popular yang satu ini.

Beruntung dia jadi orang yang biasa itu artinya dia akan menjadi orang yang paling tidak akan menjadi pusat perhatian dan dia akan bebas menjadi dirinya sendiri tanpa ada yang perduli apa yang berubah pada dirinya, karena tidak akan ada yang tertarik untuk memperhatikannya.

Dengan secepat kilat Lay melangkahkan kakinya pulang menuju tempat yang paling aman karena dia sendirian dan disaat dia sendirian dia merasa aman.

Ada yang aneh saat menjadi sendirian tapi dia tidak terlalu mudah untuk bergabung dengan dunia luar yang bahkan bisa menyakitinya tanpa memberikan penyembuhnya.

Sampai suatu saat Lay bisa mentolerir semuanya rasa sakit dan segala resiko itu dia percaya dengan Kris karena Sehun juga sudah mulai bisa percaya pada Kris.

Kepergian Sehun juga membawa sedikit perubahan pada diri Lay, dia serasa tidak biasa sendirian padahal dia berpikir akan menghabiskan waktunya dalam benteng kesendirian tapi perasaan itu berubah seketika.

Dan saat ia mengetahui kalau dia memiliki keluarga yang sangat dia sayangi dia janji tidak akan mau sendirian lagi, ia akan menjaga semua anak dan keponakannya kalau bisa lebih lama lagi dia hidup, ia Cuma ingin hal sederhana itu, tidak adakah yang bisa mengabulkannya.

Ditakdirkan memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak ada, bukan berarti kita bisa memilikinya untuk selamanya, akan ada masa dimana kita tidak lagi memilikinya seperti dahulu kala atau bahkan meninggalkannya.

"Kris.. "

"Ada apa?"

"Mungkin ini agak egois tapi aku ingin bersamamu selamanya bisa kan?"

"Itu bukan egois itu pertanda bahwa kau masih sangat mencintaiku.."

Kris masih ingat suara hangat yang sering memanggil namanya dalam bisikan, ada rasa kasih sayang disetiap perkataannya, Kris bisa merasakan itu semua merasakan dia tidak salah memilih.

Namun sayang orang yang dipilihnya sekarang terbaring tak berdaya tinggal menunggu waktu dan keputusan sampai ia harus menerima semuanya.

Dia tidak akan memohon untuk terlalu egois dia tidak akan memaksakan meminta Lay untuk tetap hidup dan dalam keadaan yang lebih baik, dia hanya bisa berharap bahwa Lay bahagia dimanapun dia karena cinta Kris dan ke 4 anaknya akan selalu menyertai dan ponakannya yang cengeng itu juga semuanya.

Akan percuma kalau Kris meminta Lay hidup tapi Lay tidak sehat dan tidak merasa bahagia itu akan lebih menyiksa batinnya, dia sudah rela jika harus kelhilangan asalkan Lay baik disana.

Kris mengambil handuk dan mengusapkan ke dahi Lay yang berkeringat apakah ini pertanda baik, Lay sudah bisa merasakan hawa sekitar.

"Lay,, bangunlah kau tidak ingin melihat anak kita mereka sudah tumbuh lebih dewasa, lihatlah Umin sekarang dia bahkan tumbuh menjadi sepertimu dan bahkan dia lebih imut dan lucu darimu. . kau tidak ingin membuka matamu dan melihatnya. ."

Setetes ait mata mengalir di pipi kanan Kris.

"Luhan, Xiao Lu-mu. . dia bahkan tumbuh lebih cantik darimu dan dia punya kasih sayang sepertimu. . Chen dia sudah janji tidak akan jahil lagi. . dan Tao dia janji tidak akan cengeng lagi asalkan kau mau bangun dan menjaga mereka lagi. . aku tidak sanggup mencari penggantimu. ."

'Kalau sampai satu bulan setelah ini dia tidak juga membuka mata, tinggalkan dia disini dan kalian pergilah ke bumi bersama keluarga kalian yang lainnya'.

Kris tidak bisa menerima itu semuanya dengan kepala dingin, artinya Lay harus ditinggalkan begitu saja padahal masih banyak waktu untuk mengharapkannya hidup kenapa harus satu bulan setelah ini.

Kalau Kris harus hidup dengan Lay yang terbaring seperti ini selamanya tidak masalah asalkan tidak meninggalkannya sendirian, ini tidak akan menenangkan siapapun.

"Baba, baba nangis? katanya Tao nggak boleh nangis itu artinya baba juga nggak boleh nangis dong.." Tao dengan baik hatinya mengusapi air mata yang masih tersisa di pelupuk mata Kris, tidak mau satu-satunya harapan yang selama ini selalu ada disisinya apapun keputusannya.

Bukannya Tao tidak sayang ama Lay yang lebih sering mengomelinya tapi dia sudah bisa merasakan ada kasih sayang didalam setiap omelan Lay karena dia tidak mau Tao menjadi orang yang lemah saat dia tinggalkan kelak, dan ini sepertinya sudah terjadi apa yang dikhawatirkan Lay.

.

.

"Gege, setelah ini kita akan kembali lagi ke bumi atau disini saja ya?"

Karena tidak ada yang memecahkan suasana ini akhirnya Chen yang memulainya.

"Baba saja tidak tau harus melakukan apa. ." tiba-tiba saja Tao datang dan duduk di samping Xiumin. Antara bingung dan tidak tahu harus melakukan apa mereka rasakan bersamaan, kalau harus terpisah lagi mereka tidak akan mau bagaimanapun caranya mereka harus tetap bersama.

"Sepertinya aku merindukan Sehun, aku yakin dia pasti sering nangis akhir-akhir ini... apalagi tidak ada kabar dari mama,,"

Semuanya menoleh ke Luhan, mereka juga punya keluarga yang lain yang sedang dalam posisi sulit. sampai mereka tidak bisa kembali ke tempat kelahiran mereka.

"Suho-ahjumma pasti repot memarahi Chanyeol dan Baekhyun yang sering mengganggu itu dan menenangkan Sehun yang jadi sasaran pem-bully-an. Dan terkadang harus memberi pelajaran ke Kai dan Dio.. " lanjut Xiumin.

Chen cuma tertawa mengingat mereka sering nakal barang dan paling sering kena omel, dan segala macam hukuman sudah mereka terima tapi tidak akan ada yang bisa menghentikan kejahilan mereka. Kecuali mungkin diri mereka satu sama lain bisa.

"Ingat waktu kalian bersekongkol meninggalkan aku di hutan sendirian dan aku harus menangis sekeras-kerasnya sampai aku tidak bisa berteriak lagi.. itu ulah kalian bertiga kan ge.."

Tao menatap Chen dengan tatapan menantang dan meminta pertanggung jawaban Chen yang sekarang masih bisa dimintai pertanggung jawaban.

"Itu usul Baekhyun dia pemimpinnya.."

Sementara anak-anak ribut dengan hal-hal kecil yang mereka rindukan tiba-tiba saja baba mereka memanggil untuk ke ruangan yang ada Lay dan mereka berkumpul katanya ada yang mau bicara, tapi siapa?

karena mereka tidak bisa apa-apa selain menurut jadinya mereka ikut dengan perasaan takut sepertiya mereka tahu siapa itu tapi entah kenapa semakin mereka mengetahui semakin takut yang mereka rasakan.

Disebelah mama mereka yang berbaring ada seorang yang paruh baya sedang menatap wajah putih mulus mama mereka, dia langsung menoleh dan tersenyum kepada semuanya.

"Ini pertama kalinya aku bertemu kalian... senang melihat kalian masih dalam keadaan lebih baik..."

"Tapi mama kami tidak.." Sahut Chen.

"Inilah yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua.. tentang mama kalian, aku punya cara yang harus kalian lakukan..."

.

.

.

"Kyungsoo-ya.. kau ingat sesuatu tidak sih, katanya kau sudah ingat tapi boneka kesayanganmu saja kau tidak tahu bentuknya seperti apa..." omel Baekhyun, mereka sudah tidak punya hal lain lagi untuk diributkan jadi mereka memilih hal tidak penting ini sebagai bahan perselisihan, biasanya Baek dan Yeol tidak akan kehabisan bahan kalau bersama Chen.

"Aku memang tidak ingat setidaknya aku masih ingat kalau kalian itu kakakku, atau mungkin kalian adikku juga karena hal yang kalian lakukan selalu abstrak..." Karena malas juga akhirnya dia melenggang pergi. Mencari Kai atau Sehun yang setidaknya lebih beneh dibanding Baekyeol.

Di luar rumah, tepatnya di balkon ternyata dua orang yang dicari Kyungsoo sedang menatap keatas dengan malas.

"Malas... aku ingin melakukan sesuatu yang lain... " Komentar Sehun pertama kali ketika melihat Kyungsoo.

"Seperti?"

"Seperti membakar sesuatu atau mungkin seseorang..." dan yang ditanya Sehun yang jawab Chanyeol yang tadi ngikutin dari belakang.

"Aku tidak bertanya padamu.."

"Aku kan juga bosan, tidak ada yang menanyaiku. " sahut Chanyeol. Dan mereka semua langsung duduk ikut adik mereka, dan jadilah lima biji orang itu saling bersandar layaknya meletakkan beban dan menopangnya satu sama lain.

Suho yang melihat mereka damai ini paham karena tidak ada yang bisa mereka ributkan jadinya mereka diam, dia cuma bisa berharap ada solusi untuk ini. semoga saja mereka bisa cepat kembali ke planet mereka dengan segera atau paling tidak mereka tahu keadaan keluarga Kris dan Lay baik-baik saja.

...

.

.

Setelah penantian panjang itu ternyata ada angin sejuk, ada kabar baik yang mendatangi salah satu keluarga itu.

"Kai-ya...Kai-ya... ayo mandi denganku..."

"Tidak mau aku sudah dewasa, aku mau mandi sendiri..."

"Kau kok nggak nurut sih, Sehuni saja mau dimandikan Baekkie.."

"Aku kan berbeda, sekali tidak mau ya tidak mau.."

"Kai-ya... tidak ada kata bantahan... cepat lepas bajumu.."

"HYUNNGGGGG TOLONG, CHANYEOL-HYUNG MAU MENGAPA-APAKANKU..."

"Tidak akan ada yang mendengarkanmu Kai-ya Sehun dan Baekhyun ada di kamar mandi dan kau mangsaku sekarang.. cepat lakukan apa yang diperintahkan hyungmu..."

"AAAAAA"

Tidak lama kemudian, Kyungsoo dan Suho sudah datang dan menjadi tameng Kai, dan gagallah aksi Chanyeol.

Baekhyun dan Sehun juga sudah keluar kamar mandi untuk melihat keributan apa yang terjadi.

TING~TONG~~~

Selagi mereka ribut-ribut ternyata ada tamu yang mengunjungi mereka. Kyungsoo membukanya dan betapa terkejutnya ia, ada orang-orang yang sudah lama mereka tidak lihat dan pastinya sangat mereka rindukan.

"Hyung... Tao-ya?..."

"Siapa Kyungsoo-ya..?" Suho juga keluar dan betapa terkejutnya dia, karena melihat anak-anak ini sekali lagi dan melihat mereka tersenyum senang.

"AHJUMMAAA..." ke empat anak itu langsung menghambur ke pelukan Suho, dan Sehun yang merasakan keberadaan Luhan langsung saja ikut keluar diikuti lainnya.

"Luhan-hyungg..."

"Sehuna..."

Suho menatap Kris perlahan dia ingin menanyakan keberadaan Lay bagaimana, tapi sebelum itu Kris menggeser tubuhnya dan terlihatlah sosok putih itu wajahnya makin pucat tapi itu masih lebih baik.

"Lay-a..." Dengan tangisan yang tertahan Suho menghampiri Lay dan memeluknya. "Kau baik-baik saja kah..."

"Ne, Hyung..."

.

.

.

Setelah mereka sedikit tenang dari keributan di depan pintu mereka mencari tempat yang lebih nyaman.

Sehun nangis di pelukan Lay begitu juga dengan lainnya. Mereka sudah tidak kuasa menahannya sudah lama mereka menginginkan ini.

"ahjumma...ahjumma...bogo sipo..." Sehun terus menggumamkan kata-kata itu, Dan dia tidak memikirkan yang lainnya dia terlalu ketakutan kehilangan orang yang juga sangat penting dalam hidupnya.

"Sehuna kau jangan kuasai sendirian, kami juga ingin peluk ahjumma..." Komen Kai.

"Iya benar.." Baekyeol ikut andil.

"Shireo... tidak ada yang boleh mengambil ahjumma lagi dariku..."

"Ya... kau ini..." ketiga orang lainnya tidak tinggal diam dan akhirnya ikut rebutan bareng Sehun.

"huhh bahkan dia masih sama seperti dahulu, selalu saja merebut Lay dariku..." Komen Kris pada Suho.

"Aku tidak bisa merebutnya darimu tapi anakku bisa kan..."

Kris cuma bisa memincingkan matanya. Suho mengehela nafasnya sekali lagi "Bagaimana semua ini terjadi? Lay menyembuhkan dirinya sendiri? Kau menyembuhkannya atau orang tua itu yang menyembuhkannya.." tanya Suho.

Kali ini Kris tersenyum.

"Jangan tersenyum seperti itu, aku takut kau lebih menakutkan dari pedopil..."

"Dasar kau ini...mau kujelaskan tidak.." potong Kris setelah dia direndahkan seperti itu. "Jadi gini..."

"Eh ngomong-ngomong kenapa rambutmu jadi hitam,,,?"

"Kau memang punya bakat memotong pembicaraan orang, mau kuceritakan tidak sih..."

"Ahjussi, biar kami saja yang mendengarkan..." Baekyeol setelah kalah rebutan Lay bersama Chen mereka mendatangi Kris yang mau cerita hal penting.

"Sebenarnya Kris mengorbankan kekuatannya demi menyelamatkanku, dan sekarang dia menjadi manusia biasa.." sahut Lay karena dia tidak suka yang tidak todepoin.

"Yixing... kenapa kau langsung ke inti aku kan ingin bercerita panjang.."

"Akan memakan banyak waktu kalau begitu.." jelas Lay.

"Kau menjadi manusia biasa, bagaimana bisa? kau nanti akan..."

"Tidak apa, aku sudah menjelaskannya ke Lay...walaupun dia harus menangis dulu sih,, tapi ini lebih baik daripada aku tidak melihatnya sama sekali..." ujar Kris, "lagi pula kau masih bisa menjaganya. Dan mereka semua juga menyayanginya. ".

Bukannya Kris terlalu dramatic, tapi ia memang ingin begini DIsaat Suho dan yang lainnya mencari anggota keluarganya, apa yang Kris lakukan saat itu? dia hanya duduk santai. ia juga ingin merasakan kesulitan itu, bukan maksud menyulitkan dirinya juga.

Ia juga ingin lebih berguna lagi.

Setidaknya untuk keluarganya.

Dan untuk orang yang dicintainya...

"Sudahlah, itu sudah menjadi keputusanmu... selamat menjalaninya..." semangat Suho.

Sehun mendekati tempat duduk Luhan dan Xiumin. "Jadi kalian akan tinggal disini? bersama kami,,,?" tanyanya hampir dengan ekspresi senang tiada tara, padahal biasanya perlu dibayar dulu saking pelitnya itu ekspresi muka.

"Kira-kira seperti itu.."

"Kau kenapa Sehun-ah? kok sepertinya raut mukamu aneh begitu...?" tanya Xiumin curiga, dia kan saingan satu-satunya dalam berebut Luhan.

"Berarti aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama kalian semua..."

"Yang kau maksud kalian itu kan cuma Mama dan Luhan kan?"

"Ah hyung ini bisa saja... tahu saja apa yang dipikirkan orang..."

"Bocah, pikiranmu mudah sekali ditebak.."

Sehun tersenyum lagi, saking takutnya Xiumin langsung membekap muka Sehun dengan kedua tangannya, "Sudah jangan tersenyum lagi aku takut sebentar lagi ada badai topan.."

"HYUNNGGGG"

Luhan mendekat dan memeluk mereka berdua, yah karena mereka berdua adalah kehidupan Luhan.

.

Baekyeol dan Chen sedang saling menatap.

"Apa kau? jangan lihat pake mata, kau pikir matamu bagus... sudah pergi selama itu, tidak kangen kita sama sekali, sekarang bertemu bahkan tidak memelukku aku kan kangen bangettt..."

setelah mengucapkan itu Chanyeol merentangkan tangannya dan bersiap menerima pelukan Chen.

Sedikit tersenyum dan Chen melangkah maju dan ikut merentangkan tangannya juga tapi dia melewati Chanyeol berada, dan menempatkan pelukannya ke Baekhyun tepat.

"Aku juga kangen kamu..." ujarnya.

"YA!" Chanyeol yang tidak diperhatikan pun merasa dongkol, apalagi seenak jidatnya peluk-peluk Baekhyun, dia kan bukan properti umum yang bisa dipakai kapan saja.

"Kenapa?"

"Lepaskan tanganmu dari Baekhyunku"

"Baekhyunmu? Baekhyun itu milikku, dia bahkan pernah memberikan dirinya padaku, itu artinya dia memilihku..."

"Tidak kau berbohong, dasar king of troll.."

"Sudahlah ini nggak penting dipermasalahkan, aku milik kalian berdua juga terserah..." Akhirnya Baekhyun buka suara. Sebagai beagles tertua dia harus sering mengalah.

"Tidak, ini tidak bisa terjadi sebelum semua ini jelas-"

"Ngomong-ngomong kalian tidak ingin mengganggu maknae?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

"AYOOOO!" kalau begini saja bisa kompak.

.

"Jadi bagaimana kalian?"

"Biasa saja"

Tidak ada respon khusus, itu membuat Tao makin penasaran selama ini apa yang dilakukan dua orang ini selagi mereka lupa ingatan tapi ternyata tidak ada perkembangan berarti.

"Tidakkah yang bisa kau ingat? tentang aku mungkin.."

"Aku tidak pernah bertemu kamu sebelumnya..." sahut Kai "Kau terlalu hitam untuk dilihat.."

"Kenapa kau nggak ngaca dulu sebelum ngomong, emang kamu putih..?"

"AKu putih" Kyungsoo yang jawab.

"Aku nggak nanya kamu.."

"AAAA TOLOOONGGGG CARILAH KORBAN LAIN SELAIN AKUUUU"

Tao yang mendengar teriakan Sehun langsung saja berlari mengejarnya dari incaran tiga setan eh maksudnya tiga hyungnya yang mirip setan.

"Kau biasanya suka jahil dan sekarang hari pembalasanmu datang Oh Sehuunn"

"Hoi jangan ganggu adikku, jangan ganggu Sehun.." Tao berlari di belakang tiga setan itu, tapi setelah Baekhyun berbalik dan mengeluarkan tanduk di kepalanya mengancam Tao dengan mata sipitnya itu sepertinya Tao kalah dan akhirnya dua maknae ini jadi kejar-kejaran tiga hyung kejam itu.

Yang lainnya cuma bisa tertawa tanpa bisa menghentikan, Ini adalah akhir dari kebosanan Baekhyun dan anteknya dan awal penderitaan Sehun serta Tao.

.

.

.

".. tentang mama kalian, aku punya cara yang harus kalian lakukan..."

"Apa itu katakan saja padaku..." Kris langsung mengajukan diri, sepertinya ada kabar baik yang bisa dia lakukan.

"Dia bisa disembuhkan asal salah satu dari kalian ada yang mau dikorbankan.."

"Biar aku saja, katakan apapun.." Ia tidak perduli apa yang dikorbankan asal Lay bisa hidup dan menjaga anak-anak bersama-sama.

"Baba, Tao masih memerlukanmu tolong pikirkan lagi.." Tao sudah hendak menangis.

Kris langsung berjongkok dan mensejajarkan dengan Tao lalu mengelus kepalanya dan mengusap kedua pipinya yang memerah karena menahan tangis itu, Lay selalu menyayanginya walaupun terkadang memarahinya dan jarang memeluknya.

Ia tahu alasan Lay melakukannya itu supaya Tao tidak menjadi anak yang manja dan selalu bergantung, mungkin Lay waktu itu memikirkan saat ini saat ia tidak bisa lagi hanya untuk sekedar mengelus atau berbicara pada orang yang disayanginya, ia ingin semuanya bisa hidup sendiri.

Ia ingin meninggalkan Luhan dalam keadaan lebih kasih sayang karena ada orang yang menunggunya, meninggalkan Xiumin dalam keadaan yang bisa mengurus adik-adiknya, meninggalkan Chen dalam keadaan lebih bisa menghibur yang lainnya agar tidak bersedih, meninggalkan Tao dalam keadaan kuat dan tidak mudah menangis bisa menjadi tumpuan bagi orang lain dan tidak merepotkan, dan meninggalkan Kris dengan orang yang lebih kuat untuk menjaga dirinya...

"Mamamu ingin kau menjadi orang yang bisa menjaga orang lain, jika mama hidup berjanjilah pada baba untuk menjaga senyum mamamu... kau mengerti kan?"

"Tapi aku juga ingin menjaga baba..."

"Baba akan selalu disamping mama, jika kamu mencari..."

.

.

.

Kris hanya bisa mengikuti pemimpinnya ini, ia akan dikorbankan tapi yang membuatnya lebih baik adalah ini semua dilakukannya untuk Lay.

Sebenernya ada dua pilihan tapi ia memilih dimana bisa melihat Yixing sampai akhir hayatnya.

Pertama-tama Kris disuruh memberikan symbolnya dan setelah itu symbol itu langsung di buang ke sebuah danau yang sepertinya misterius dan bukan danau biasa.

"Aku akan dikirim ke bumi? dan Lay disini bersama anak-anak?" Tanya Kris.

"Itu ide bagus, tapi nggak lama setelah Lay sadar pasti dia nyusul kamu.. sama saja kan sejauh apapun kalian dipisahkan."

Kris cuma tersenyum mengiyakan.

Setelah itu danaunya membentuk pusaran dan mengeluarkan dua benda khusus. Satu adalah symbol Kris dan satunya lagi adalah kristal. Setelah dijelaskan bahwa di symbol itu tidak ada kekuatan lagi dan sudah berpindah ke kristalnya dan kristal itulah yang akan menjadi obat penyembuh Lay.

"Kau hanya meminta kekuatanku kembali."

"Aku menciptakan kalian bersama bukan tanpa alasan, sebenarnya sejak dulu aku sudah menyediakan penyembuhnya ada padamu."

Setelah ritual yang cukup panjang, pimpinan itu langsung menyuruh Kris pulang dan menyambut Lay, dan setelah itu susullah keluarga mereka yang ada di bumi dan hiduplah seperti sedia kala dengan perasaan yang lebih bahagia lagi.

Bukan kekuatan yang penting, tapi saat ada orang lain yang ada di belakang kita itu sudah jadi kekuatan, saat kita terjatuh ada orang-orang yang tidak pernah lelah dengan kita, saat kita tidak bisa apa-apa ada orang-orang yang tidak menuntut pada kita, saat kita tidak punya apa-apa ada orang-orang yang tidak meminta bahkan memberi dengan ikhlas sampai kita bisa punya..

...Dan orang-orang itu bukan orang yang punya kekuatan super, hanya orang yang dengan hati indahnya mampu mengindahkan yang lain tanpa imbalan, Membuat kita berbeda dan istimewa dan orang-orang itu adalah

KELUARGA.

.

.

.

.

THE END/TAMAT

maaf ini lama, tapi kalau udah banyak yang lupa sama fict ini juga nggak masalah, udah berapa lama ya? kayaknya udah dua tahun deh cerita ini orang malas macam apa yang ngerjain cerita ampe 2 tahun...

Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini.

Yang baca dari awal ataupun yang baru nemu juga makasihhh, mungkin yang baca dari awal udah gregetan pengen mutilasi saya karena lamanya pake banget.

bye...bye see you next time.