Ketika permainan takdir membawa mereka pada memori masa lalu. Kerena koin itu mereka bertemu. Sekeping koin biasa yang sungguh berharga bagi keduanya.

The Coin

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story Written By RiokaRules

A SasuHina Fanfiction

Sasuke 25th|Hinata 23th|Itachi 30th

-Happy Reading-

Sasuke memandangi Hinata, walaupun hanya ekspresi datar yang nampak, namun entah mengapa hatinya merasakan sakit saat dilihatnya wajah itu dipenuhi luka dan lebam.

"Apakah kau memang gadis itu, Hinata?" Sasuke merasakan tangannya bergerak sendiri, membelai puncak kepala gadis yang tengah terbaring di hadapannya. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Seharusnya Sasuke tidak perlu merasa sepeduli ini pada orang lain, seharusnya Sasuke tidak perlu merasa setidakberdaya ini, seharusnya Sasuke…dia tidak perlu merasa begitu resah seperti ini.

.

~flashback~

Taman Konoha, 18 tahun lalu.

"Nee, Neko-chan.. a-apakah kau i-ingin es krim? Aku akan me-membeli es krim di-disana, k-kau tunggu disini ya."

Seorang gadis cilik tampak sedang mengelus seekor kucing yang ditemukannya di taman itu. Dia mengenakan dress onepiece ungu muda selutut dengan hiasan renda dibagian bawahnya, rambut indigo pendeknya dihiasi sebuah pita berwarna senada dengan pakaian yang dikenakannya. Sesaat kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya dan pergi menuju ke gerai es krim yang terletak di sudut taman. Bibir tipisnya menggumamkan senandung yang biasa ia nyanyikan bersama okasannya, wajah porselen miliknya nampak merona, menambah kesan manis pada diri gadis cilik itu. Karena tak sabar untuk segera mendapat ek krim kesukaannya, gadis indigo itu mempercepat langkah kaki kecilnya.

"A-ah!" Tiba-tiba kaki kecilnya tersandung permukaan jalan taman yang tidak rata, dirinya mulai kehilangan keseimbangan. Gadis itu hanya dapat memejamkan mata saat merasakan dirinya tertarik oleh gaya gravitasi. Gadis indigo itu yakin, seharusnya tubuh mungilnya merasakan sakit. Tetapi dia merasa sebaliknya, seperti ada sesuatu yang menahannya agar tidak terjatuh. Dengan perlahan ia membuka kelopak matanya, memunculkan manik lavender miliknya. Dia terkejut mendapati seorang bocak laki-laki yang sedang menahan tubuhnya, seperti sedang memeluknya. Menyadari hal itu, dia segera bangkit, wajahnya merah padam.

"G-go-gomenasai! Te-terima kasih s-sudah me-menyelamatkan ku. D-dōmo a-arigatōgo-gozaimashita." Gadis itu berkali-kali membungkukan badannya, tak berani memandang langsung bocah lelaki itu.

"Hn, ceroboh." Gadis itu merasa terkejut mendapati respon yang begitu dingin. Ia mendongakan kepalanya, matanya membulat, terpesona akan manik onyx itu. Mata itu memiliki daya tarik tersendiri. Seperti lubang hitam yang menjerat siapapun yang mendekat, daya tarik yang seakan mampu menyihir siapapun yang menatapnya.

'Manis' Hanya kata itu yang terlintas dipikirannya, di hatinya. Merasa tak ada tanggapan dari gadis yang tadi diselamatkannya, bocah laki-laki itu memutuskan untuk berlalu. Melupakan sesuatu yang ada di dalam geggamannya.

Tidak ada yang menyadari rona yang sesaat muncul di pipi bocah laki-laki itu. Tidak dirinya, tidak orang-orang yang berlalulalang di sekitarnya, tidak pula gadis itu. Hanya dia, dia yang sedari awal sudah meyaksikan semuanya.

~end of flashback~

.

Sasuke menampakkan ekspresi yang sangat langka, dia tersenyum. Walaupun hanya sebuah senyum tipis, sangat tipis, yang terukir di bibirnya. Entah mengapa dirinya tak bisa menahan letupan kecil yang muncul di dalam hatinya. Tetapi saat matanya kembali menatap gadis itu, wajahnya kembali datar, stoic, namun dia tak dapat menyembunyikan gurat khawatir yang muncul begitu saja.

"Bagaimana kalo gadis cilik itu adalah kau, Hinata? Itu artinya aku gagal." Jemari tangan Sasuke masih setia membelai rambut panjang Hinata. Sasuke tak sadar akan sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka, mengawasi dirinya dan gadis itu.

"Ternyata selama ini kau tidak pernah melupakannya kan, Sasuke?" Sebuah senyum terukir di wajahnya, tapi di dalam hatinya? Tidak ada seorangpun yang tau.

.

.

Mobil Mercedes putih milik Sasuke terparkir di depan gerbang sebuah mansion bergaya modern namun masih memiliki sentuhan khas tradisional Jepang. Dirinya disambut oleh seorang penjaga bersetelan jas warna hitam dengan simbol khas Hyuuga yang terdapat dikancing jas tersebut.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjanga tersebut dengan nada sedikit menyelidik.

"Hn, aku Uchiha Sasuke. Aku ingin bertemu dengan Hiashi-sama." Siapa yang tidak mengenal Uchiha dan segala kelebihan yang dimilikinya? Kekayaan berlimpah, otak jenius, wajah tegas yang rupawan , wibawa yang memancar kuat, keanggunan sekaligus keangkuhan khas seorang aristokrat, terangkum apik dalam diri seorang Uchiha. Namun khusus untuk sang Uchiha bungsu, Tuhan memberikannya sentuhan beku dalam pembawaanya, mengambil sedikit kemampuan Sasuke untuk mengungkapkan ekspresi dan perasaannya.

"Ah! Maafkan saya tak mengenali anda Uchiha-sama, ya beliau ada di dalam. Silahkan masuk, saya akan menghubungi pelayan agar membantu anda untuk menemui beliau." Kemudian penjaga itu segera membukakan gerbang untuk Sasuke. Saat Sasuke mamasuki pintu utama mansion Hyuuga, seorang pelayan menyambutnya dengan penuh hormat.

"Selamat malam Uchiha-sama, mari saya antar. Hiashi-sama sudah menunggu anda." Tanpa menunggu respon dari Sasuke −yang memang tidak berniat merespon− pelayan itu segera memandu Sasuke menuju ke ruang kerja Hiashi. Dinginnya sikap seorang Uchiha Sasuke memang tak terbantahkan.

"Beliau ada di dalam, tuan." Mereka berhenti di depan pintu sebuah ruangan, kemudian pelayan itu mengetuk pintu ruang kerja Hiashi. "Hiashi-sama, Uchiha Sasuke-sama ingin menemui anda."

"Biarkan dia masuk." Suara berat Hiashi terdengar dari dalam ruangan.

"Silahkan masuk, Uchiha-sama." Pelayan itu membukakan pintu untuk Sasuke, kemudian menutupnya kembali setelah Sasuke berada di dalam ruang kerja Hiashi.

"Lama tak bertemu. Bagaimana kabar Fugaku-san dan Mikoto-san?" Walaupun tidak ada senyum yang nampak, namun Hiashi menunjukan wajah bersahabat kepada Sasuke. Mengingat Hyuuga dan Uchiha memang menjadi rekan bisnis yang cukup baik. Sasuke menjabat tangan Hiashi, kemudian Hiashi mempersilahkan Sasuke untuk duduk di sofa khusus bagi para tamu yang datang.

"Otousan dan okasan baik. Tetapi saya membawa kabar yang kurang baik untuk anda, Hiashi-sama." Kini raut khawatir menyambangi wajah Hiashi. "Putri anda, Hyuuga Hinata mengalami kecelakaan tadi pagi. Saya sudah membawanya ke rumah sakit." Mata Hiashi membulat, dia sungguh terkejut akan kabar yang dibawa oleh Sasuke.

"Apa kau bilang?! Hinata…kecelakaan?! Bagaimana kondisinya? Beritahu aku!"

"Kondisinya masih belum stabil, tetapi perkembangannya masih terus dipantau langsung oleh aniki."

"Beritahu aku di mana rumah sakitnya. Aku ingin menemuinya sekarang juga." Hiashi bergegas bangkit dari kursinya dan melangkah meninggalkan ruangan.

"Dia dirawat di Konoha Hospital, biar saya yang mengantar anda." Tawar Sasuke.

"Tidak perlu, aku akan meminta sopir untuk mengantarkanku. Kau pulanglah, terima kasih sudah memberitahuku."

"Hn, baiklah, saya mengerti." Hiashi berjalan terburu-buru, meninggalkan Sasuke di ruang kerjanya. Merasa tak memiliki kepentingan lain, Sasuke beranjak meninggalkan ruangan itu. Tetapi manik onyxnya menangkap sebuah foto berpigura putih yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri. Sasuke merasakan jantungnya berdebar tak biasa, membuatnya merasa sesak. Sosok di dalam foto itu menampakan seorang gadis cilik dengan surai indigo pendek yang sedang tersenyum, tatapan lembut memancar dari manik lavendernya, wajah porselen miliknya dihiasi rona kemerahan. Sasuke tercekat, rasanya sungguh menyesakkan.

"Kenapa gadis yang terbaring di rumah sakit itu harus kau, gadis ceroboh? Bagaimana aku bisa tak mengetahui kalau kau Hyuuga? Aku merasa telah gagal memenuhi janjiku, Hinata. Janjiku untuk melindungimu." Sasuke menggenggam erat benda yang sedari tadi ia bawa di sakunya, sebuah koin dengan hiasan bulan yang terdapat di salah satu sisinya.

Setelah Sasuke mengetahui bahwa Hinata adalah gadis cilik dari masa lalunya, ia tak pernah bisa berhenti untuk tidak peduli pada keadaan Hinata. Gadis ceroboh yang selalu saja terlibat masalah, gadis ceroboh yang lemah, gadis ceroboh yang bodoh. Tetapi Hinata adalah gadis ceroboh yang selalu ingin ia lindungi, gadis ceroboh yang manis, gadis ceroboh yang berhasil mencuri hati Sasuke. Sepertinya Tuhan memutuskan untuk mengambil sedikit potongan kebekuan yang ada pada Sasuke.

-tbc-

Terima kasih untuk yang sudah review, Rioka senang sekali

Terima kasih juga untuk yang sudah meluangkan waktunya membaca fanfic ini. Maaf kalo chapter ini mengecewakan readers semua, tapi Rioka akan terus berusaha memperbaikinya di chapter depan. Jadi, mohon kritik dan saran dari readers sekalian. Review dari kalian adalah semangat Rioka buat nulis ^^

Salam hangat, Rioka.