Ketika permainan takdir membawa mereka pada memori masa lalu. Kerena koin itu mereka bertemu. Sekeping koin biasa yang sungguh berharga bagi keduanya.
The Coin
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Story Written By RiokaRules
A SasuHina Fanfiction
Sasuke 25th|Hinata 23th|Itachi 30th
-Happy Reading-
Sasuke mengernyitkan dahinya, merasakan silau sekaligus pening yang cukup menggaggu. Pemuda bersurai raven itu berusaha menyesuaikan diri dengan mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah itu ia menolehkan kepala, melirik sekilas jam digital yang terletak tak jauh dari ranjangnya berada. 'Jam 7.18 am.' Saat berusaha bangkit, rasa pening dan mual langsung menyerangnya, dengan tergesa Sasuke menuju ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Begitu keluar dari kamar mandi, Sasuke merasa kondisinya semakin memburuk begitu melihat Itachi sedang duduk di sofa santai di kamar Sasuke.
"Bagaimana aniki bisa masuk?" Sungguh bencana, adakah yang lebih buruk selain tertangkap basah hangover oleh Itachi?
"Baka, sudah tau kau tidak kuat minum. Sepertinya lain kali aku harus menyuruh Naruto agar tidak mengizinkan mu minum lebih dari lima gelas." Itachi mengucapkannya dengan nada sedikit mengejek, walaupun ia sudah menyadari aura gelap yang menyelimuti Sasuke sejak mengetahui kehadirannya. Sedangkan Sasuke, ia merasa harga dirinya sebagai seorang Uchiha yang unggul dalam berbagai hal, termasuk urusan meminum minuman keras, tercoreng, bahkan terinjak.
"Hn, bagaimana aniki bisa masuk?" Sasuke mengulangi pertanyaannya. Padahal sesungguhnya Sasuke ingin sekali mencekik Itachi, tetapi sekali lagi, pengendalian diri a-la Uchiha memang berguna. Terlebih disaat-saat seperti ini.
"Entahlah, semalam pintu apartemen mu dapat dengan mudah dibuka. Jadi aku bisa masuk dan menunggui outoto-ku yang sedang mabuk. Ah ya, aku sudah membuatkan mu otcha hangat untuk meredakan pening dan mual. Aku yakin kau membutuhkannya." Itachi tersenyum simpul sembari beranjak bangun dan berjalan keluar kamar Sasuke. Hingga usia 30 tahun pun Itachi masih suka menggoda Sasuke. Menurut Itachi, paling tidak Sasuke menunjukan sedikit ekspresi saat ia goda.
Walaupun kepalanya pening, namun otak jenius si Uchiha bungsu itu bekerja cepat menemukan pelaku yang dengan seenaknya membiarkan Itachi masuk ke apartemennya. 'Hn, pasti Naruto. Baka dobe.' Ah! Sasuke sepertinya sudah mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan pada si kuning berisik itu.
Akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengikuti anikinya keluar kamar, menuju ke ruang makan. Mendudukan dirinya disalah satu kursi dan mengambil segelas otcha hangat dihadapannya. Menghirup sekilas aroma khas yang menenangkan, kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit. Merasakan pening dan mualnya semakin membaik setelah meminum beberapa teguk otcha hangat buatan Itachi.
Sedangkan Itachi memilih melakukan sesuatu di dapur, menghangatkan bubur yang tadi sudah ia buat. Setelah mengaduk-aduk sedikit, ia menutup panci kecil di atas kompor, dan mengecilkan apinya. Sembari menungu, ia beranjak ke ruang makan, bergabung dengan Sasuke yang masih sibuk menikmati otchanya. Tak berapa lama, terdengar suara alarm dari kompor canggih di dapur apartemen Sasuke. Itachi bangkit dari duduknya dan berlajan menuju ke pantry, mengangkat panci kecil yang berisi bubur, menuangkannya ke mangkuk dan meletakan potongan tomat diatasnya. Setelah dirasa selesai, Itachi membawa mangkuk yang berisikan bubur tersebut ke meja makan untuk diberikan kepada Sasuke.
Itachi memilih duduk di kursi seberang Sasuke, menyerahkan mangkuk itu kepada outotonya. "Makanlah." Sasuke memasang wajah ragu. "Kenapa? Makan saja, untuk saat ini aku yakin perut mu belum bisa mentolerir makanan selain bubur atau makanan lembut lain." Mau bagaimana lagi, Sasuke tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti Itachi. Lagi pula ia memang merasakan perutnya masih belum baik dan sedikit lapar, ia pikir bubur bukanlah pilihan buruk. Sasuke mulai menyendok dan memakan buburnya perlahan. Suapan pertama, lumayan juga. Suapan kedua dan ketiga, Sasuke sudah bisa menikmati bubur buatan Itachi. Setelah setengah mangkuk bubur sudah habis, mau tidak mau, suka tidak suka, di dalam hati Sasuke harus mengakui kalau ia memang kalah dalam urusan dapur (dan minum minuman keras) bila dibandingkan dengan Itachi. Tetapi ia bersumpah, hanya dirinya dan Tuhanlah yang mengetahui pengakuannya barusan.
Itachi tersenyum sekilas, sedikit tidak menyangka kalau Sasuke masih mau mendengarkan dan menuruti perkataannya. Hening. Sasuke sibuk memakan bubur, sementara Itachi kembali menikmati otcha hangat sembari beberapa kali mengecek ponselnya.
"Aniki tidak ke rumah sakit?" Walaupun sebenarnya tidak ingin, tetapi Sasuke terpaksa menanyakan hal itu kepada Itachi. Mungkin ia bisa mendapat kabar terbaru tentang kondisi Hinata.
"Ini hari libur ku, tetapi sepertinya aku akan tetap ke rumah sakit. Mungkin sebentar lagi." Sesungguhnya, dalam hati Itachi mengerti kemana arah pembicaraan adiknya itu.
"Untuk?" Karena Sasuke tidak pernah seingin tau ini tentang urusan siapapun, terlebih Itachi.
"Hm, kau tau kan kalau aku sedang bertugas khusus untuk memantau dan membantu pemulihan gadis yang waktu itu kau tolong, Hyuuga Hinata. Beruntung walaupun kepalanya mengalami benturan, tetapi syarafnya tidak rusak parah. Untuk itu dia akan menjalani beberapa macam terapi sampai dapat dinyatakan sembuh." Hening sejenak, Itachi sungguh ingin menanyakan sesuatu pada Sasuke. "Memangnya kenapa?" Tetapi malah pertanyaan itu yang keluar dari bibirnya.
"Hn, tidak ada." Dusta Sasuke. Padahal saat ini dipikirannya sedang terngiang segala tentang Hinata. Masa kecil mereka, kecelakaan itu, perjodohan Hinata, apakah Hinata mengingatnya?, apakah Hinata mengenalinya? Hal-hal seperti itu terus berputar-putar di kepalanya, hingga tidak menyadari Itachi yang sedang memandangnya intens.
"Kau…mengenalnya?" Itachi tertawa hambar dalam hati, tentu saja Sasuke mengenalnya bukan?
"Hn, sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu." Sasuke memandang Itachi sekilas, kemudian beralih ke gelas otchanya yang sudah hampir kosong. 'Bukan hanya sekedar bertemu, tapi aku mengenalnya. Hinata adalah gadis kecil itu.' Lanjut Sasuke dalam hati. "Lalu, apakah aniki mengenalnya?" Sasuke sendiri tidak mengerti kenapa ia menanyakan hal Itu pada Itachi.
"Tentu saja aku mengenalnya!" Tanpa diduga, Itachi menjawab dengan sedikit terlalu bersemangat, menyebabkan kerut di kening Sasuke. Itachi berdehem, kemudian melanjutkan bicara. "Seperti yang kau tau, dia adalah seorang Hyuuga. Anak dari Hyuuga Hiashi, relasi bisnis sekaligus kawan lama otousan. Bisa dikatakan aku cukup dekat dengan Hinata." Itachi berusaha memancing Sasuke.
"Hn. Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya saat acara perusahaan." Sasuke baru menyadarinya. 'Benar juga, kalau dia Hyuuga seharusnya aku dapat melihatnya saat acara perusahaan.'
"Mungkin jika dulu kau mematuhi tousan dengan rajin mengikuti acara perusahaan, kau akan sering bertemu dengannya Sasuke." Itachi sudah tidak tahan ingin memberitahukan hal itu pada Sasuke, namun saat ingin mengatakannya, ponsel pintar Itachi berdering. "Moshi moshi, ya. Begitukah? Itu bagus, ya aku akan segera ke sana." Setelah memutuskan sambungan telpon, Itachi beranjak bangun. "Sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang. Kalau setelah ini kau masih merasa mual, aku menyiapkan obat di kotak P3K. Aku pergi dulu, jaa." Itachi mengacak sedikit rambut Sasuke dan disambut dengan death glare terbaik yang bisa Sasuke berikan untuk anikinya itu. Itachi hanya balas tersenyum, sebelum benar-benar pergi dari hadapan Sasuke.
Sepeninggal Itachi, Sasuke kembali berkutat dengan pikirannya. Apa lagi jika bukan mengenai Hinata?
'Kenapa saat masih kecil dia mengikuti acara perusahaan, sedangkan sekarang atau selama beberapa tahun ini tidak pernah? Bukankah seharusnya dia harus semakin sering mengikuti acara perusahaan? Ada apa sebenarnya? Bagaimana aniki bisa mengenal, bahkan dekat dengannya? Argh! Kuso! Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui?'
Sepertinya hati kecil Sasuke merasakan dia telah melewatkan sesuatu hal penting yang berkaitan dengan Hinata.
.
.
.
Itachi keluar dari ruangannya dengan mengenakan jas putih, ciri khas seorang dokter. Ia hendak menuju ke ruang tempat Hinata menjalankan terapinya. Tak berapa lama kemudian Itachi sampai di depan pintu bertuliskan "Ruang Terapi". Ia membuka pintu tersebut, memasukinya, dan menutupnya kembali dari dalam. Itachi melihat Hinata didampingi oleh dua orang terapis yang sedang memberikan tahapan terapi pada Hinata. Posisinya membelakangi Itachi, sehingga Hinata tidak menyadari kehadiran Itachi. Terlebih Hinata berada dalam ruangan khusus dengan pintu untuk akses keluar-masuk dan jendela kaca besar agar proses terapi dapat dipantau dari luar. Kau bisa membayangkannya seperti sebuah studio rekaman, hanya saja tidak berisikan alat musik dan sebagainya, melainkan peralatan terapi yang terlihat lengkap, modern, dan tentu saja canggih.
Seorang pemantau terapi sedang mengutak-atik tiga buah komputer berlayar datar dihadapannya. Komputer-komputer itu terhubung dengan alat terapi yang sedang Hinata gunakan. Itachi berjalan medekati orang berambut keperakan tersebut.
"Bagaimana terapinya Hatake-san?" Hatake Kakasi menengokan kepalanya, lantas sedikit membungkuk.
"Ah, seperti dugaan anda Uchiha-san. Syarafnya mengalami trauma, namun dapat kembali dipulihkan. Kami sedang melakukan tahap pertama pemulihan, setidaknya tinggal dua atau tiga kali terapi lagi yang dibutuhkan." Tandas Kakashi yakin.
"Syukurlah kalau begitu. Ku rasa dia sudah bisa pulang, hanya perlu kontrol dan menjalani terapinya satu minggu sekali." Itachi tersenyum lega, mendapati dugaanya benar.
"Ya, saya setuju dengan anda, Uchiha-san." Setelah mengatakannya, Kakashi kembali serius menatap ketiga layar datar dihadapannya secara bergantian. Sesekali ia juga menyalin hasil yang terlihat dari layar ke rekam medik Hinata.
Tak berapa lama, terapi selesai di lakukan. Hinata dibantu kedua orang terapis tadi keluar dari ruangan khusus terapi. Ia belum menyadari keaditan Itachi hingga benar-benar keluar dari ruangan khusus itu.
"Eh, I-Itachi-nii? K-kenapa di sini?" Hinata terkejut mendapati kehadiran Itachi.
"Ah, kau lupa ya Hinata-chan? Aku dokter yang bertanggung jawab menanganimu tau." Lagi-lagi Itachi terseyum.
"Begitukah?" Hinata menunjukan wajah lega, setidaknya orang yang menanganinya adalah orang yang ia kenal, Itachi, bukan orang lain.
"Biar aku yang mengantar Hinata kembali ke kamarnya." Itachi mengambil alih untuk membantu Hinata berjalan. "Terimakasih Hatake-san, Aburame-san, Yamanaka-san. Saya permisi dulu." Itachi berpamitan pada ketiga orang di ruangan itu dengan sedikit membungkuk.
"A-arigatou atas bantuannya." Hinata turut membungkuk dan berterimakasih pada ketiganya.
"Ya, sama-sama Uchiha-san, Hyuuga-san." Sahut ketiganya serempak. Hinata sedikit tertawa melihat ketiganya menjawab serempak, seperti diaba-aba.
"Apa yang kau tertawakan Hinata-chan?" Itachi bertanya setelah mereka berada luar ruang terapi.
"E-eto, mereka bertiga t-tampak lucu saat menjawab salam secara bersamaan. S-seperti paduan suara." Hinata tertawa ringan. Itachi seperti tersihir melihat tawa Hinata, sudah cukup lama juga semenjak pertemuan terakhir mereka. Akhirnya Itachi bisa melihat tawa itu lagi. "I-Itachi-nii kenapa berhenti?" Ternyata Itachi lupa bahwa ia sedang berjalan.
"Tidak apa-apa Hinata-chan." Senyum Itachi kembali mengembang. "Ayo aku antar ke kamar."
"E-eto, Itachi-nii. B-bolehkah aku berjalan-jalan sebentar?" Hinata menatap Itachi dengan pandangan memohon. Itachi tampak mempertimbangkan permintaan Hinata.
"Nanti Hiashi-sama akan mencarimu Hinata."
"T-tousan berada di rumah, tadi tousan s-sudah menitipkan ku pada perawat. Aku rasa sekarang tousan sedang beristirahat. Untung I-itachi-nii datang. B-bolehkah aku berjalan-jalan s-sebentar?" Sekarang Hinata menatap Itachi dengan pandangan memelas. Itachi menghela napas, tak bisa menolak permintaan hinata.
"Hm, Baiklah. Kau mau kuantar ke mana?" Pandangan Hinata langsung berbinar.
"A-aku mau ke taman! Tidak perlu j-jauh, taman rumah sakit i-ini saja." Itachi sedikit tertawa melihat tingkah Hinata, dengan mata berbinar, pipi tembam yang sekarang tidak tampak pucat, ditambah senyum cerianya. Lelaki mana yang tidak terpesona? "G-gomene Itachi-nii, aku bosan b-berada di kamar. J-jadi saat Itachi-nii mengijinkan ku ke taman aku merasa s-senang sekali." Hinata tersenyum malu, dengan wajah sedikit merona.
"Hahaha, tidak apa Hinata. Baiklah, ayo kita ke taman." Itachi kembali memapah Hinata menuju ke taman rumah sakit, dengan senyuman yang selalu mengembang di wajah tampannya. Namun sayang, saat ini sesuatu membuat hatinya terbelah dua.
-tbc-
Hai minnaaa~
Chapter 4 akhirnya publish jugaaa
Seperti biasa, Rioka ingin menanyakan kepada readers, bagaimana dengan chapter ini? Sudah memuaskan kah? Atau malah mengecewakan? Rioka sangat menantikan kritik dan saran dari readers semua, agar kedepannya Rioka dapat terus memperbaiki fanfic ini.
Oh yaa, Rioka mengucapkan banyak terima kasih bagi yang sudah mereview atau menyempatkan membaca fic Rioka ini, hontouni arigatou minna. Rioka juga mau minta maaf apabila reviewnya belum dibalas, sejujurnya Rioka belum terlalu handal menggunakan ini, gomene.
Semoga readers suka dengan fic ini, review dari kalian adalah semangat Rioka buat nulis ^^
Salam hangat, Rioka.
