-o0o-

"Jadi ini rumahmu eum?",namja cilik bernama Gaemgyu itu berujar ketika kini mereka berdua berhenti didepan rumah minimalis. Minnie mengangguk imut sambil mengeratkan pelukannya pada boneka kelinci digenggamannya itu.

"Kalau begitu aku pulang dulu ne? Ini sudah sangat malam, kamu juga segera masuk minimi.",gaemgyu langsung berbalik ia berniat untuk beranjak dari tempat itu. Namun langkah kakinya terhenti saat sebuah suara menahannya.

"Chogiyo~",

Gaemgyu berbalik lagi dan menatap yeoja imut itu sekali lagi sampai akhirnya ia tersenyum menatap yeoja imut itu."Eum...a-apa kita bisa ber..te-man?",cicit minnie sambil menundukkan kepalanya. Jujur saja, entah kenapa ia sangat malu mengucapkan kalimat tadi.

Namun bukannya menjawab gaemgyu malah menghampiri yeoja kelinci itu. Mengacak poni rata minnie gemas."Tentu saja",ucap gaemgyu sambil melebarkan senyumannya.

Seketika minnie menegakkan kepalanya. Mata foxynya kini menatap mata tajam gaemgyu yang entah kenapa terlihat sendu dan membuatnya nyaman.

"Geunde...apa kita bisa bertemu lagi ?",tanya minnie agak ragu-ragu.

"Tentu saja, rumahmu disini kan? Tentu saja kita bisa bertemu",gaemgyu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi rapinya.

"Jadi kamu akan kesini besok?",tanya minnie tak percaya.

"Tentu saja tidak.",

Minnie menatap tak percaya sosok namja yang tingginya melebihi dirinya sedikit."Ne?",minnie agak mengernyitkan dahinya bingung. Namja itu malah terkekeh kecil lalu mengacak -lagi- poni minnie."Bukankah kita bisa bertemu ditaman bermain tadi?",kini pertanyaan minnie malah dijawab dengan sebuah pertanyaan lagi.

"Ohh~",minnie ber-o ria sambil menganggukkan kepalanya pelan.

"Aku pulang dulu ne? Jalja minimi",ucap gaemgyu sambil tersenyum lalu membalikan tubuhnya untuk pulang.

Minnie menatap punggung 'gaemgyu' namja yang baru saja ia kenal itu dengan tatapan sendu. Tak lama kemudian sudut bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman kecil yang sangat manis."Jaljayo~ gaem..gyu",cicitnya pelan lalu berjalan pelan kembali menuju rumah 'indah'-nya.

Saat langkah kaki kecilnya memasukki rumah minimalis itu. Tersajilah sebuah adegan yang sangat tidak ingin ia lihat. Sang eomma yang sudah terlihat kacau kini menyeret gusar koper putih besar miliknya."Eomma!",teriak minni sambil berlari menghampiri eommanya. Tangisannya pecah begitu saja saat tubuh kecilnya didekap hangat oleh eommanya.

"Minnie-ya..uljimaa~",ucap eommanya sambil mengusap sayang rambut panjang minnie yang terurai indah."Bagaimana minnie tidak menangis melihat eomma mau meninggalkan minnie seperti ini eoh?",protes yeoja cilik itu sambil mengeratkan pelukannya pada eommanya.

Srettt

Dengan sekali tarikan kini minnie melepaskan pelukan mengharukan itu. Siwon -minnie appa- menarik minnie sampai-sampai mereka -kibum dan minnie- terlepas pelukannya."Siwon-ahh..",kibum berujar lirih. Hatinya sangat perih mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya yang notabene-nya terlah berhasil menempati tempat tertinggi dihatinya.

Siwon memandang kibum sinis."Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kamu lakukan disini kibum-ssi",ucap siwon sedingin mungkin. Walaupun hatinya benar-benar menolak segala kata-kata dingin itu. Namun ego yang kini menguasainya membuat lidah itu menata kata yang 'sedikit' dingin itu untuk terlontar begitu saja.

"Hikss..hikss...",isakan kecil itu berhasil lolos kembali dari bibir mungil minnie. Kibum segera menyeka air mata minnie cepat,"uljima chagi~". Dua kata itu cukup membuat hati siwon teriris. Karena kini ia merasa bahwa ia adalah tokoh jahat yang membuat dua yeoja yang sangat berarti untuknya kini meneteskan airmata. Sungguh siwon tidak menginginkan ini semua namun apa daya. Kenyataan yang berada didepan matanya membuat egonya semakin bekerja.

Kibum berdiri sehingga tatapan nanarnya kini bertemu dengan dinginnya tatapan siwon."Aku akan pergi.. Jaga minnie baik-baik siwon-ssi".

'Siwon-ssi'. Ingin rasanya siwon marah karena itu pertama kalinya yeoja itu memanggilnya seperti itu. Selama ia menjalin hubungan dengan yeoja cantik dihadapannya kini, tak pernah yeoja itu memanggilnya seformal ini. Tapi hey! Kalian tahu bukan kalau mereka -siwon kibum- kini benar-benar akan bercerai. Bukankah siwon tidak perlu mempermasalahkan itu, walaupun hatinya begitu sakit.

"Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik. Karena aku tidak akan pernah 'mengkhianati' ataupun 'mengecewakan' minnie",ucap siwon dengan memberikan penekanan terhadap dua kata yang dikutip itu. Kibum sakit? Tentu saja! Kata-kata penuh penekanan itu sangat jelas tertuju padanya.

"Aku pantas menerima itu..",batin kibum.

"Arrayo, kamu akan menjadi appa yang terbaik untuk minnie. Aku pergi",ujar kibum lirih. Ia harus segera beranjak dari tempat itu sebelum pertahanannya kini runtuh kembali. Ia tidak sanggup lagi melihat minnie akan kembali menangis karenanya.

Minni meraung-raung. Ia benar-benar tidak menginginkan eommanya pergi. Siwon terus memeluk minnie. Tanpa minnie sadari sang appa ikut meneteskan air matanya dalam diam.

'Mianhae minnie-ya', batin siwon. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya pada putrinya yang kini meronta-ronta.

- Keesokan harinya -

"Agassi ayolah makan walau hanya sesuap ne?", ucap seorang yeoja paruh baya yang kini tengah merayu yeoja cilik. Yeoja itu tetap mengerucutkan bibir plumpnya dan tidak membukanya barang sedikit saja. Hanya gelengan kuat yang merespon semua rayuan ahjumma itu.

"Kibum eommonim pasti akan sedih kalau melihat agassi begini.",

"Eomma", kini yeoja imut itu membuka mulutnya hanya untuk mengucapkan satu kata itu. Raut wajahnya kembali sedih."Aigoo~ uljima ne? Makanya agassi harus makan..tidak kasihan pada siwon appa eum?", bujuknya lagi. Dan itu membuat yeoja cilik itu merubah kembali raut wajahnya menjadi kesal.

"Minnie benci appa!", satu kalimat itu menyelesaikan acara rayu-merayu. Kini yeoja cilik itu menyambar boneka kelincinya lalu beranjak keluar rumah."Agassi! Agassi!",teriak ahjumma itu yang membuat langkah kaki kecil minnie terhenti.

"Jangan ikuti minnie! Minnie mau bertemu dengan teman minnie! Kalau ahjumma tetap mengikuti minnie, minnie gak mau pulang, arraseo?!",bentaknya tanpa membalikan tubuhnya. Dan kalimat-kalimat itu membuat sang ahjumma menurut saja. Walaupun kekhawatiran mendominasi perasaan yeoja paruh baya itu.

Kini langkah kaki kecil yeoja imut itu membawanya kesebuah taman bermain yang sepi. Aneh bukan? Bagaimana bisa taman bermain sepi disiang hari? Jawabannya hanya satu! Hari ini hujan, walaupun tidak begitu deras, namun mana ada anak kecil yang diperbolehkan bermain saat hujan seperti itu.

Namun lain halnya minnie. Appanya begitu sibuk dengan pekerjaannya. Eommanya sudah tidak tinggal bersamanya. Dengan begitu tidak ada yang bisa melarangnya bukan?. Minnie melangkahkan kakinya pelan menuju salah satu ayunan yang ada disana. Ia menyamankan bokongnya untuk duduk disalah satu ayunan itu. Dengan gerakan pelan ia menggerakan ayunan itu. Ia menundukkan kepalanya. Isakan-isakan kecil itu seolah berlomba-lomba dengan suara tetes-tetes air yang jatuh ke tanah.

Minnie seolah tidak menghiraukan berapa ribu tetes air yang mengguyur tubuhnya hingga benar-benar basah kuyup. Ia benar-benar ingin meluapkan perasaannya kini. Namun tak lama kemudian ia merasakan tak ada lagi tetes air hujan yang menghujam tubuhnya. Ia mendongakkan kepalanya perlahan. Kini terdapat sesosok namja yang membagi payungnya hingga menghalangi air hujan itu untuk menembus tubuh mungilnya.

"Yak! Apa yang kamu lakukan eoh? Ini sedang turun hujan! Kajja!",tanpa persetujuan dari minnie. Namja itu menarik minnie berteduh disebuah rumah-rumahan yang ada ditaman bermain itu. Namja itu menutup payungnya lalu menatap yeoja disampingnya yang masih setia menundukkan kepalanya.

"Gaemgyu-ah..",cicit minnie pelan namun masih dapat tertangkap indra pendengaran gaemgyu -namja disampingnya kini-.

"Eum..",deheman yang merespon panggilan minnie. Minnie mengangkat kepalanya perlahan sambil menatap sendu namja yang lebih tinggi darinya itu. Gaemgyu tertegun melihat sepasang mata foxy yang kini ia tatap begitu sendu dan entah kenapa tatapannya begitu membuatnya agak iba."Apa kamu akan menangis lagi ?",tebak gaemgyu yang membuat minnie menggeleng pelan.

"Gomawo~",ucapan lirih itu membuat gaemgyu agak terkejut."Untuk?",tanya gaemgyu.

"Gomawo kamu sudah datang..",ucap minnie kini dengan seulas senyum yang tidak dipahami memiliki arti apa.

-o0o-

FF / My pure love to you / KYUMIN / GS / Part 8

Author : Han Hye Neul a.k.a Christine Wijaya

FB : EmiLy Tinzz Tinee

Twitter : Cristiintin

Genre : romance ,hurt, sad*maybe*

Warning : GenderSwitch, berbeda dengan karakter aslinya, Typo yang menyebar hingga pelosok (?) ff dan Cerita yang gaje

Rating : 15+

Main Cast :

Kyuhyun

Sungmin

Other cast : always find by ur eyes reader ^^

~ Story begin ~

"Hoshh...hoshh...", deru nafas yang tidak beraturan kini memecahkan keheningan digedung olahraga yang sudah sepi itu. Kini henry terus berlari mengitari lapangan itu. Tak jarang dencitan sepatunya menggema ketika ia membelokan arah larinya.

Sekelibatan memori-memori saat ia berusaha mendekati sungmin ketika ia bersekolah di Jepang dulu kini muncul begitu saja. Berputar seperti sebuah film. Bermula dari sungmin yang dingin, namun tak kunjung menyerah ia terus mengikuti sungmin.

"Berhenti mengikutiku!",sebuah teriakan itu terlontar dari bibir yeoja manis. Namun teriakan yang memekikkan telinga itu malah terlihat sebuah nyanyian merdu bagi henry. Tanpa ragu henry menggeleng pasti.

"Tidak akan Ny. Lee, aku Henry Lau sampai kapanpun tak akan berhenti mengikutimu sampai kita benar-benar berteman.",ucapan egois itu terlontar begitu saja dari bibir sexynya. Tak lama kemudian iaa memamerkan 'trademark smile' kebanggaannya itu. Sungmin berdecak,"Terserah..",satu kata itu mampu membuat hati henry berbunga-bunga.

"Aku anggap itu jawaban 'iya' darimu.. Kajja!",ucap henry sambil menggandeng tangan sungmin. Sungmin membulatkan mata foxynya,"yak! Apa yang kamu lakukan eoh?",protesnya. Henry menghentikan langkah kakinya lalu kembali menatap sungmin santai."Tentu saja mau mengantar chingu-ku pulang",ucapnya kembali memamerkan senyumnya yang 'menyilaukan' itu. Lalu kembali menggiring sungmin bersamanya tanpa menghiraukan protes-protes yang sungmin lontarkan.

"Hosshh.. Hoshh...",entah sudah berapa putaran yang dilakukan henry. Langkah kakinya benar-benar tidak menunjukkan ia akan menghentikan itu semua. Rapuh. Hatinya begitu rapuh sekarang. Ingin sekali henry egois untuk kali ini. Ingin ia meninju kyuhyun dengan tangannya sampai namja itu mati ditangannya. Mengingat perjuangan yang selama ini ia lakukan begitu sia-sia. Ia benar-benar kalah. Bertahun-tahun penantiannya akan cintanya sungmin namun sirna begitu saja. Sakit. Sangat sakit. Bahkan ia benar-benar tidak sanggup lagi hanya berdiam.

Namun melihat sungmin, yeoja yang -sangat- ia cintai begitu nyaman dalam pelukan kyuhyun membuatnya tidak mampu berbuat lebih jauh kepada kyuhyun.

'Salahkah aku yang menginginkan tanganmu mendekapku lembut'

'Salahkah aku yang menginginkan senyumanmu hanya tertuju padaku'

'Salahkah aku yang berharap bahwa hanya aku lah yang dapat menopangmu dikala kamu merasa sakit'

'Salahkah aku berharap...memiliki sedikit celah dihatimu...'

'Salahkah aku memiliki perasaan kepadamu min'

'Salahkan hati bodoh ini yang selalu mengharapkanmu bertahun-tahun'

'Salahkah aku berharap bahwa aku bisa menjadi..."Gaemgyu"-mu'

Gaemgyu? Tentu saja henry mengetahui itu. Karena semenjak sungmin 'mengijinkan' henry berteman dengannya. Saat itulah sungmin mulai sedikit terbuka kepada henry. Bahkan sungmin menceritakan kisahnya dengan 'gaemgyu'-nya itu. Sakit. Henry selalu sakit setiap nama itu tersebut oleh sungmin. Ia begitu iri dengan namja yang mampu menarik perhatian sungmin namun disisi lain ia sangat ingin membunuh namja itu karena berani-beraninya menyia-nyiakan sungmin. Sedangkan ia disini sangat mengharapkan hal itu.

Buaghhh

Kini kakinya tersengkat kakinya yang lain membuat tubuh henry tidak seimbang. Dan akhirnya ia terjatuh tersungkur. Ia merubah posisinya menjadi telentang. Dadanya naik turun mengingat lebih dari delapan putaran sudah ia lalui. Keringatnya keluar begitu banyak dari pelipis dan bagian tubuhnya yang lain.

Kini pikirannya begitu dipenuhi oleh sungmin. Sungmin. Dan sungmin. Kini pikiran ia benar-benar memutar kembali ke saat sungmin meninggalkannya. Dan memang itu karena kesalahannya. Henry mengakui itu.

"Min, apa kamu mengijinkanku untuk menjadi namja chingumu? Min-ah saranghae",dengan lantang ia mengatakan itu dilapangan. Dihadapan banyak orang. Hey! Siapa lagi jika bukan henry.

Sungmin menatap henry tak percaya. Henry jelas-jelas tahu bahwa hati sungmin hanya untuk 'gaemgyu'-nya. Tapi apa ia salah jika memiliki perasaan pada sungmin. Lagipula ia hanya berharap sungmin bisa melupakan teman masa kecilnya yang sudah menyia-nyiakan dia.

"O-oppa.."Lirih sungmin. Membuat henry memberanikan diri menatap manik mata sungmin. Henry benar-benar terkejut melihat mata sungmin berkaca-kaca. Dengan bodohnya henry berpikir bahwa sungmin terharu lalu menerimanya.

"Kamu membuatku kecewa! Sepertinya pilihan pindah ke luar negeri memang sangat baik untukku",kalimat itu membuat henry termenung.

'Apa rasa ini salah?'

Setidaknya itulah yang ada dipikirannya kala itu. Ingin sekali ia menahan kepergian sungmin. Namun apa haknya ? Teman? Apa ia masih pantas disebut sebagai 'teman' jika sudah mengecewakan temannya sendiri?. Namun tak bisakah sungmin sedikit mengerti perasaannya.

Henry mencoba bangkit kembali. Ia berniat berlari lagi. Namun baru lima langkah kakinya sudah tidak dipakai berlari lagi. Ia terhuyung hampir saja terjatuh jika saja tidak ada keranjang bola yang dijadikan pegangan olehnya.

"Aaarrrggghhhhhh!",geramnya. Saking marahnya ia sampai membalikkan keranjang itu hingga bola-bola yang tadi tertata rapi menjadi berantakan menggelinding tak beraturan.

"Yakkkkkkk!",

-o0o-

"Lebih baik kamu istirahat, mana ada pasien yang sudah larut begini tapi masih berkeliaran seperti tadi?",omel kyuhyun sambil membenarkan posisi selimut sungmin hingga menutupi badannya sebatas bahu."Aku rasa aku sudah bisa pulang sekarang.."Ucap kyuhyun sambil berniat melangkahkan kakinya pergi dari sana.

Namun sebuah tangan menahan langkahnya. Seketika ia menoleh ke sungmin."Kajima~ bisakah kamu menemaniku sampai aku benar-benar tertidur?",pinta sungmin yang entah kenapa malah membuat kyuhyun senang minta ampun.

"Tentu saja Tuan putri..",ucap kyuhyun sambil tersenyum tulus. Kini ia menarik kursi dan menyamankan bokongnya untuk duduk disana. Lalu tangan kirinya menari tangan sungmin dan tangan kanannya mengusap lembut kepala sungmin."Gomawo~",ucap sungmin.

"Untuk?",

"Gomawo kamu sudah datang..",ucap sungmin yang membuat keduanya tertegun. Seperti merasakan sebuah de javu. Tak lama kemudian sungmin menutup matanya perlahan kala rasa kantuk mendominasinya sekarang. Sedangkan kyuhyun masih tertegun. Namun beberapa saat ia menggelengkan kepalanya. Seolah menepis pikiran-pikiran yang seketika muncul diotak jeniusnya.

Ia melirik ke jam dinding yang bertengger kokoh didinding rumah sakit itu."Sudah jam 2 malam?",gumamnya entah pada siapa. Namun seketika kantuk menyerang indra pengelihatannya dan sejuknya AC dikamar itu seolah mengantarnya kedalam dunia mimpi.

-o0o-

Padahal cahaya matahari belum mengganggu tidur pulasnya sungmin namun entah apa yang membuatnya terbangun sekarang. Ia melirik sekilas ke sisi ranjangnya. Ia melihat sosok namja yang tengah tertidur dalam posisi duduk. Seulas senyuman terpancar dari bibir pucat sungmin.

Dengan gerakan pelan dan lembut sungmin sedikit menyingkirkan anak poni yang menutupi dahi kyuhyun. Kini terlihat jelas wajah polos kyuhyun yang tengah tertidur. Dengan telunjuk lentiknya ia menyusuri wajah kyuhyun mulai dari dahi, batang hidung mancungnya dan terhenti ketika di bibir tebal milik kyuhyun. Terpancar warna merah merona dipipi pucat sungmin kini.

"Eunghh~",lenguh kyuhyun yang tentu saja menghentikan aksi telusuri-menyelusuri sungmin.

"Kamu sudah bangun?",ucap kyuhyun sambil mengucek kedua matanya. Sungmin hanya mengangguk merespon pertanyaan kyuhyun. Entah kenapa ia sangat gugup sekarang. Jantungnya berdetak cepat.

'Semoga detak jantung bodoh ini tidak terdengar oleh kyuhyun..eitss tunggu! Bagaimana hati ini berdetak tidak normal begini dengan orang lain selain gaemgyu? Omona! Gaemgyu mianhae..aku juga tidak mengerti kenapa bisa begini', batin sungmin berkelut.

"Untuk apa kamu bangun pagi begini? Kamu masih perlu banyak istirahat. Ini baru jam lima pagi",ucap kyuhyun yang menghentikan pergelutan batin sungmin.

"Eh? Eung..bukankah kamu harus sekolah eoh? Jangan bilang kamu mau bolos?",tebak sungmin. Kyuhyun terlihat menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu."Aigoo! Kalau kamu bolos aku meminjam catatan siapa? Karena mungkin tiga hari kedepan tidak memungkinkanku untuk sekolah..ahh, iya ada henry oppa, gwaenchana", ucap sungmin santai namun membuat kyuhyun membulatkan matanya tak percaya.

"Yakkkk! Andwae! Aku akan sekolah dan kamu ga perlu meminjam catatan bocah tengik itu! Awas kalau sampai itu terjadi!",oceh kyuhyun kalap yang membuat sungmin memasang ekspresi bingung.

"Waeyo?",tanyanya polos.

"Aigoo! Kamu itu yeojachinguku, aku tidak suka melihatmu bersama namja lain. Dan lagi kamu gak boleh memanggilnya oppa! Bahkan aku saja tidak dipanggil begitu.",ucap kyuhyun sambil mempoutkan bibirnya cute -yang gagal total-.

Pletak

Sungmin menyentil pelan dahi kyuhyun."Itu karena kamu lebih muda dariku bodoh,bahkan seharusnya kamu memanggilku noona",cibir sungmin santai. Kyuhyun semakin tidak terima.

"Yak! Kenapa kamu malah menyentilku? Bukankah wajar aku tidak menggunakan embel-embel noona, karena kamu kan yeojachin-...",mulut kyuhyun seakan terkunci saat bibir lembut sungmin mendarat sempurna dipipi tirusnya.

"Kamu sangat berisik kyuhyun-ee (read:kyuhyuni)..",ucap sungmin saat melepas ciuman singkat dengan pipi kyuhyun. Kyuhyun tertegun lalu ia menyentuh lembut bekas ciuman dari sungmin."Kyuhyun-ee?",gumamnya pelan. Kyuhyun merasa seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan dibenaknya kini. Ia sangat senang.

"Yak! Kyu!",teriakan memekakkan telinga itu membuat kyuhyun kembali tersadar."Ne?",hanya ucapan itulah yang terlontar dari bibir kyuhyun.

"Aish jinjja! Terpesona denganku eoh?",goda sungmin yang malah membuat kyuhyun mengedipkan matanya berkali-kali seolah tak percaya dengan kalimat godaan yang dilontarkan sungmin."Sana pulang, bersiaplah pergi sekolah. Aku mau lanjutkan tidurku",ucap sungmin kembali keposisi tidurnya.

Kyuhyun kini tersenyum melihat tingkah 'yeojachingu'-nya itu. Ia berdiri lalu membenarkan posisi selimut sungmin. Lalu ia mengecup singkat kening sungmin."Baiklah aku pergi ne? Jaljayo~",ucap kyuhyun yang direspon anggukkan imut oleh sungmin.

'Bisa benar-benar gila jika aku terus berlama-lama disini', batin kyuhyun.

-o0o-

Tidak membutuhkan waktu yang lama, kyuhyun kini sudah didepan pintu rumahnya.

Ceklek

Bunyi suara knop pintu yang berhasil terbuka sedikit tersaru dengan dentingan antara dua benda terbuat dari logam yang diyakini itu adalah sendok sayur dengan sebuah panci yang tengah berperang.

Hidung mancung kyuhyun kini dimanja dengan aroma yang sangat sedap.

Kruyukkk~

Perutnya seperti telah memberi alarm meminta segara diisi. Mengingat seharian kemarin dia belum menemui nasi dan lauk. Dengan langkah pasti ia melangkah ke arah dapur.

Disana dapat ia lihat jelas sesosok yeoja paruh baya namun tetap awet muda. Bagaimana tidak? Lazimnya yeoja seumuran dengannya itu memiliki tubuh yang lebar dan berbagai kerutan digaris wajah tegasnya, namun beda dengan yang satu ini. Yeoja paruh baya ini memiliki kulit mulus dan tubuh proposional, layaknya model-model muda.

Seulas senyum tipis tercetak diwajah lelah kyuhyun. Tentu saja kemarin hari yang melelahkan untuknya. Bahkan ia hanya tidur beberapa jam saja. Ia menghampiri 'eomma tersayang'-nya itu. Sepasang lengan kekarnya kini sempurna membaluti pinggang ramping sang eomma.

"Ehh?!",heechul agak tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang tiba-tiba.

"Eo-mma...",lirih kyuhyun. Sontak heechul melepas pelukan kyuhyun lalu membalikan tubuhnya hingga menatap kyuhyun.

"Yak! Darimana saja kamu eoh?! Semalaman eomma menghubungi ponselmu tapi tidak aktif",omel heechul yang segera diputus kyuhyun.

"...mianhaeyo eomma..",cicitnya lagi. Awalnya heechul ingin sekali memukul anaknya habis-habisan kali ini namun melihat anaknya tampang murung kali ini ia mengurungkan niatnya itu. Dimatikan kompor yang tengah menyala. Lalu ia menggiring kyuhyun duduk bersebelahan dengannya dimeja makan.

"Kamu kenapa eoh?", tanya heechul khawatir. Ia mulai mengusap pucuk kepala kyuhyun dengan lembut. Melihat anak semata wayangnya murung begini membuatnya tak tega.

"...aku sepertinya benar-benar jatuh..cin-ta..",cicit kyuhyun pelan namun bisa terdengar jelas ditelinga heechul. Dan hal yang baru saja diucap kyuhyun membuat sebuah senyuman lebar tercetak indah diwajah kyuhyun.

"Jinjja ? Siapa yeoja yang berhasil mengambil hati anak eomma ini ?",ucap heechul tak sabaran. Namun kyuhyun tetap menunduk, sepertinya ia enggan membuka mulutnya.

"Hey, kenapa murung chagi ?",tanya heechul tambah khawatir.

"..."

"Ayolah bicara kyu, bukankah ini kabar bagus?",

"Eum...hanya saja ini membuatku menjadi namja brengsek eo-mma",ucap kyuhyun lirih lagi.

"Ne? Jangan bilang kamu sudah menyentuh calon menantu eomma sebelum menikah?!",tebakan heechul membuat kyuhyun melolot kaget.

"Yak! Eomma! Apa aku terlihat semesum itu dihadapan eomma?",protes kyuhyun yang membuat heechul sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu."Geuronikka wae?",tanya heechul lagi.

"Eomma masih ingat gadis kecil manis yang aku temui dulu kan?",ucap kyuhyun yang membuat heechul sedikit berpikir.

"Omona! Kyuhyun-ahh~ itu sudah sangat lama sekali. Bahkan mungkin dia juga sudah melupakan janji itu, ayolah kyu, berpikir realistis!",oceh heechul yang membuat kyuhyun tertegun.

'Benarkah ia sudah melupakan janji itu?',batinnya.

"Sudahlah, cepat bersiap-siap! Kamu bau, kamu mau ke sekolahkan ? Cepat mandi dan cepat kenalkan eomma dengan calon menantu eomma. Arratji?",ucap heechul sambil mendorong kyuhyun agar cepat beranjak dari sana.

TE to the BE to the CE is TBC ^3^