"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Yamashita Runa
Mata Naruto membulat,ketika ia mendengar penuturan dari ayahnya. Tubuhnya kaku,lututnya lemas seketika,ia jatuh terduduk.
'Aku akan meninggalkan Sasuke?' Ucapnya dalam hati.
.
.
Minato menatap lembut putrinya yang tengah syok itu. Ia menghampiri putrinya dan mengusap lembut puncak kepalanya. "Tou-san hanya ingin kau bersekolah disana dan membantu Kurama untuk menjalankan perusahaan keluarga kita." Ujarnya.
Sekali lagi mata Naru membulat,setetes air mata jatuh tanpa disadarinya. "Tidak! Tidak akan!" Lirihnya. Perlahan ia mundur menjauh dari sang ayah.
Alis Minato bertaut,wajahnya mengeras seketika. "Apa?! Ada apa denganmu,hah?!" Bentaknya.
"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian! Ada apa dengan kalian? Ketika aku menemukan orang yang bisa memberiku kasih sayang,kalian malah ingin membuatku jauh dari mereka!" Ucap Naru lirih.
Kushina terdiam,ia berfikir. 'Anak ini benar-benar kurang ajar!' Ucapnya dalam hati. Ia melipat kedua tangannya didada.
"Kasih sayang tidak berlaku seperti materi,Naruto!" Minato bertambah geram. Ia hendak menghampiri Naru dengan tangan yang terkepal.
"Kalian tidak pernah mengerti! Aku TIDAK AKAN PERNAH PERGI meninggalkan keluarga Uchiha!" Teriaknya lagi.
"Apa yang kau fikirkan,hah?! Bahkan kau berani membentak ayahmu sendiri seperti ini!" Ujar Kushina geram.
Naru semakin menunduk,ketika sang ibu juga membentaknya. Ia membutuhkan Sasuke,dan Kaa-san. Ya dia membutuhkan mereka. "Suke.." Gumamnya lirih.
"Jawab,Naru!" Bentak Kushina lagi yang membuat Naru tersentak.
Naruto diam,ia hanya menangis dan meringkuk dipojok ruangan. Ya,secara tidak sadar ia telah sampai dipojok ruangan saat ingin menjauh dari Minato.
"Percuma kau membentaknya,ia sudah kurang ajar. Kurasa akan lebih baik jika dia tidak ada di keluarga Namikaze." Ucap Minato tegas.
Naruto semakin menangis ketika mendengar ucapan Minato. Demi apapun,satu kalimat itu bagai belati yang menusuk hatinya. Sangat menyakitkan! Akhirnya Narutopun memberanikan diri menatap wajah kedua orang tuanya yang tengah menatapnya garang. Ia mencoba mencari jejak kebohongan dalam perkataan yang terlontar dari bibir Minato tadi. Tapi,nihil. Ia tidak menemukannya.
Sebenci-benci nya Naruto pada kedua orang tuanya,tentu saja ia tidak berharap orang tuanya akan mengeluarkannya dari daftar keluarga Namikaze. Bukan,bukan karena Naruto ingin kebagian harta melimpahnya,tapi karena Naruto tau jika ia masih ada dikeluarga itu berarti dia masih dianggap ada meskipun tidak pernah diperhatikan. Tapi sekarang? ayahnya sudah mengatakan hal itu,dan secara hukum ia sudah resmi keluar dari keluarga meski belum ada laporan khusus yang dibuat.
"Ke—Kenapa?" Lirih Naru.
Deg..
Lagi-lagi.. 'Jangan,kumohon jangan kambuh sekarang.' Batinnya.
Sakit yang menyiksa kembali mendera jantungnya. Matanya semakin memburam saat kedua orang tuanya berlalu dari hadapannya.
"Mulai sekarang,kau bukan lagi seorang Namikaze. Dan akan kupastikan,hidupmu akan menderita." Suara menggema terdengar ditelinga Naruto. Suara menggema yang terdengar sangat menyakitkan dan selalu terngiang dalam benak Naru hingga kesadarannya menghilang.
.
Iruka tergesa-gesa berlari menuju kamar Naruto. ia punya perasaan buruk saat Naru dipaksa masuk rumah oleh kedua orang tuanya. 'Semoga anda tidak apa-apa,Naruto-sama.' Ucapnya dalam hati.
Ia segera berlari menuju kamar Naru saat kedua orang tuanya telah meninggalkan kediaman mewah Namikaze beberapa saat yang lalu.
Mata Iruka membulat saat ia melihat Naru yang tergeletak tidak berdaya dipojok kamarnya. Ia segera menghampiri majikannya itu dan menelfon ambulans.
Beberapa saat kemudian..
Suara sirine ambulans menggema disetiap sudut kediaman Namikaze. Dengan sigap para perawat membawa Naruto yang tengah tak sadarkan diri menuju mobil ambulans.
Iruka mengambil ponselnya dan mencari kontak. Setelah ketemu ia segra menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ditelinga kirinya.
" Halo? M-Maaf,Sasuke-sama. Saya membawa berita penting. Na—Naruto-sama pingsan lagi." Ucap Iruka gugup.
".."
"Baiklah,Naruto-sama akan dibawa kerumah sakit Konoha International."
".."
"Arigatou,Sasuke-sama."
Iruka mengehela nafas leganya. Iapun segera naik mobil ambulans yang membawa Naruto.
.
.
Padang rumput terhampar luas tanpa batas. Beberapa jenis bunga-bunga yang indah turut menghiasi padang rumput itu. Naruto duduk dengan nyaman dibawah pohon plum besar yang memayunginya. Matanya terpejam,angin sepoi menerpa wajahnya dengan lembut membuatnya ingin ditempat ini selamanya. Ya,selamanya.
"Kalau kau menginginkan itu,aku tidak akan membiarkanmu."
Naruto menoleh kebelakang. Seseorang mirip dengannya tengah berdiri tegap dibelakangnya. "Siapa?"
Orang itu tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangannya didada. "Aku? Aku adalah dirimu."
Alis Naruto mengerut. Jelas saja ia tidak mengerti,bagaimana bisa orang yang sangat mirip dengannya itu adalah dirinya? Meski mereka sangat mirip tapi bagaimana bisa ada dua orang yang sama berada dalam satu nyawa? Oh yeah,otak Naru bekerja super keras sekarang.
"Hahaha.. Sudah kuduga otakmu akan mengepul. Baiklah,akan kujelaskan. Aku adalah bagian gelap dalam dirimu." Orang itupun menghampiri Naru dan duduk disamping kanannya. "Kau,sekarang ada dialam bawah sadarmu. Dan aku,ingin mengambil alih hidupmu saat kau sadar nanti."
Mata Naru membulat. "Ap-Apa? Hey,jangan bodoh! Kau hanya menganggu ketenanganku tau!" Teriak Naru.
Namun orang itu hanya tersenyum,ia melirik tajam kearah Naru. "Aku akan mengambil alih hidupmu karena kau tidak bisa menjalankan hidupmu dengan baik,bodoh!" Gertaknya.
Narupun naik darah,ia dikatai bodoh? Hell no! Tidak ada yang boleh mengatainya bodoh,selain Sasuke. "Dan kau fikir,hidupku akan lebih baik jika kau yang menjalankan nyawaku,hah?!"
"Ya,karena mereka yang menyakitimu akan kubuat menghilang dari kehidupanmu bahkan mungkin saja akan kuhilangkan mereka semua dari muka bumi." Ucap orang itu.
Naru terdiam. Ia kembali berfikir. 'Menghilang dari kehidupanku?' Naru tampak bimbang,sisi baiknya tampak berjuang keras melawan sisi jahat Naru.
"Hilangkan sisi lemahmu itu! Kau akan mati jika kau mengandalkan sisi baikmu itu terus menerus." Ucap orang itu dengan ketus.
"Aku tetap tidak akan membiarkan sisi gelapku menguasai tubuhku! Itu akan membuat hidupku bertambah hancur!"
"Cih,tidak akan! Kau fikir selama ini kau selalu bertampang datar itu tanpa bantuanku,hah?"
"It—Itu karena aku meniru tampang datar Sasuke! Bukan karenamu!" Naruto berkilah.
"Terserahlah." Ucap orang itu lalu bangkit,mulai berjalan menjauh dari Naruto dan perlahan-lahan menghilang.
"Dasar orang aneh." Naru menarik nafas dalam. "Loh? Kalau dia aneh,berarti aku juga dong? Ah—bodo amat lah." Gumamnya.
Naruto kembali memjamkan kedua matanya. Ia sangat menikmati tempat ini. Tempat yang tenang,nyaman,dan jauh dari hal yang membuat penyakitnya kambuh. Naruto benar-benar sangat menyukai tempat ini.
Hingga sebuah suara membuatnya tersentak dan membuka matanya kembali.
"Sadarlah,Dobe. Apakah kau tidak tega membuat kaa-san menangis terus?"Suara itu terdengar lirih. Dan ia tau,suara itu adalah suara Sasuke.
'Kaa-san menangis? aku tidak mau kaa-san menangis.'
"Kau membuat kami khawatir,Dobe. Sadarlah. Buka matamu."Suara itu terdengar sekali lagi.
'Semua khawatir? Aku tidak mau membuat mereka khawatir.'
Naruto terdiam,suasana ditempat itu berubah seketika. Perlahan-lahan semua terlihat gelap,tanpa cahaya sedikitpun. Naruto berusaha untuk berdiri dan berjalan meski dengan tangan yang menggapai-gapai. Ia berusaha mencari tumpuan dan petunjuk arah.
"Ke—kenapa ini?" Gumamnya khawatir.
Mata Naruto menyipit saat sebuah cahaya terang menerpa wajahnya. Cahaya itu semakin membesar hingga melebihi tinggi tubuhnya. Naruto menatap cahaya itu dengan bimbang,sekali lagi ia menoleh kebelakang. Tak lama kemudian,sudah ia putuskan,ia akan menuju cahaya putih bersih itu dan mencoba menghadapi kehidupannya yang kejam sekali lagi.
"Aku tau itu jalan keluar menuju kehidupan nyataku. Dan aku juga tau,belum saatnya aku meninggalkan mereka semua." Ucapnya penuh tekad.
Perlahan namun pasti,Naruto berjalan menuju cahaya itu dengan senyum manis terpantri diwajahnya.
.
.
"Suke.."
Sasuke tersentak. ia menatap lekat wajah gadis yang tengah terbaring lemah dihadapannya ini. Sasuke tersenyum lembut,ia menggenggam telapak tangan kanan Naru. "Aku disini." Ucapnya lirih.
Perlahan,iris shappire itupun terlihat. Sasuke segera memeluk erat tubuh Naru yang masih belum sadar sepenuhnya itu. "Jangan pernah seperti ini lagi,Dobe!" Ucap Sasuke yang terdengar seperti perintah.
"Gomen." Lirih Naru.
Sasuke melepas pelukannya,terlihatlah wajah Naru yang sendu. "Ada apa?"
"Mer—Mereka mengeluarkanku dari... " Naruto mengantungkan kalimatnya,ia menarik nafas dalam dan kembali melanjutkan kata-katanya. "—Klan." Lanjutnya lirih.
Mata Sasuke membulat. Mereka benar-benar tidak menganggap Naru sama sekali. Tangan Sasuke terkepal. Lalu ia mengelus puncak kepala Naru dengan lembut.
"Kalau begitu,kupastikan klan Uchiha akan menerimamu dengan senang hati."
"Hah?"
"Hn. Aku keluar sebentar." Ujar Sasuke seraya berlalu dari hadapan Naru.
'Uchiha Naruto?' Ucap Naru dalam hati. Alisnya mengerut,ia tampak berkedip beberapa kali. 'Bagaimana bisa?' Ucapnya lagi.
Naruto memandang kosong selimut yang ada dihadapannya. Ia sedang berfikir hal positif apa yang akan dia dapatkan kalau ia bersama keluarga Uchiha. Namun pasti ada banyak hal negatif pula kalau ia bersama keluarga Namikaze. Keluarga Uchiha mementingkan kasih sayang,sementara keluarga Namikaze mementinggkan materi. Dan Naruto menginginkan kasih sayang.
Sesaat kemudian ia tersenyum lembut. Iris blue shappire nya mengkilat bahagia. Ya,mungkin jalan kebahagiaannya akan bermula dari sini.
"Naru-chaann!"
Grep..
"Kaa-san.." Suara Naru terdengar lirih. Mikoto tengah memeluknya dengan erat dan menangis di bahunya.
"Jangan membuat kaa-san cemas lagi,Nak." Ucap Mikoto lirih.
"Naru sudah tidak apa-apa kaa-san.. Naru tidak ingin disini.." Gumam Naru. Setetes airmatapun jatuh membasahi pipinya. Sekali lagi ia teringat keluarga Namikaze. Dan itu membuatnya sakit hati kembali.
"Tapi—kau baru saja sadar,Naru."
"Naru tidak apa-apa kaa-san. Onegai."
Mikoto tampak berfikir keras,beberapa kali ia menoleh kearah Fugaku dan Itachi yang berada dibelakangnya.
"Setidaknya kau harus disini sehari lagi,Naru." Ucap Itachi.
Naru menggeleng lemah,ia segera duduk dan menatap satu persatu keluarga Uchiha itu. Tatapannya benar-benar sendu. Mikoto menghela nafas lelah,ia sudah tau apa maksud Naru meminta pergi dari rumah sakit ini. Pasti Naru memikirkan tempat tinggal untuk kedepannya nanti. Mengingat keluarganya sudah mengeluarkannya dari klan dan sudah pasti Naru harus angkat kaki dari rumah mewah Namikaze juga.
"Kau akan tetap berada dirumah kami sampai kapanpun,Naru. Bukankah tadi Sasuke sudah bilang kalau Naru-chan akan menjadi seorang Uchiha?"
Mikoto mengusap lembut surai pirang Naru. Sementara Naru ia hanya menunduk lemah. "Naru benar-benar berhutang budi dengan kalian." Lirihnya. "Naru akan berbuat apapun agar kalian bahagia."
Fugaku tersenyum. "Kalau begitu,tetaplah bersama kami."
1 kalimat yang singkat namun terbesit getar bahagia didalamnya. Bahkan 1 kalimat itu mampu membuat Naru menangis haru. Ini pertama kalinya,ia merasa sangat diharapkan oleh sebuah keluarga. Beginikah rasanya? Bahagia,terharu,bahkan ingin melompat secara bersamaan?
"Dasar cengeng."
Jleb..
Acara tangis haru Naru pun terhenti karena 1 kalimat itu. Terdengar sedikit menyakitkan bagi Naru. Tentu saja kata-kata tajam itu berasal dari si bungsu Uchiha. Ia tengah bersender pada dinding didekat jendela seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
"Apa?!" Naruto berteriak. Meski tidak terlalu kencang,namun tetap saja membuat Mikoto tersentak.
"CENGENG." Ulang Sasuke seraya menekankan kata-katanya.
"Teme!"
"Dobe."
"Pantat ayam!"
"Silau!"
"Silau lebih bagus,daripada gelap!"
"Terlalu silau membuat mata rusak,Dobe!"
"Terlalu gelap juga tidak bagus,Teme!"
"Kalau begitu kalian sama-sama tidak bagus."
"Hah?"
Naruto dan Sasuke menoleh kearah Itachi secara bersamaan. "Apa?" Tanya Itachi polos.
"Baka aniki/Itachi-nii!" Itulah yang diucapkan oleh Sasuke dan Naru secara bersamaan (lagi).
"Kenapa sih? Emang aku salah?" Tanya Itachi dan lagi-lagi dengan wajah polos tanpa dosa(?).
Mikoto hanya terkikik melihat tingkah laku mereka. Fugaku pun ikut tersenyum tipis. Keluarga yang hangat akan kasih sayang itu akan mendapatkan 1 anggota keluarga lagi yang baru. Tentu saja akan membuat suasana keluarga itu semakin menyenangkan.
.
.
Tanpa disadari,waktu pun berlalu sangat cepat. Senin pagi sudah menyapa gadis berambut pirang yang tengah mengikat rambutnya dengan gaya pony tail itu. Ia sedikit bersenandung,wajah nya pun terlihat sangat berseri.
"Dobe! Cepatlah keruang makan,semua sudah menunggumu!" Seru seseorang dari balik pintu.
"Hn,Sebentar lagi,Teme-nii!" Balasnya singkat. Ia kembali tersenyum. 'Ah,aku benar-benar bahagia disini.' Gumamnya dalam hati.
Setelah siap,ia kembali memutar-mutar tubuhnya pelan untuk melihat penampilannya. Rok pendek 5 cm diatas lutut berwarna dark blue dengan aksen kotak-kotak merah dan hitam,kemeja putih polos,jas khusus perempuan berwarna senada dengan rok nya,dasi hitam sebagai pelengkap,dan kaus kaki hitam yang melekat dikaki jenjangnya. "Siap." Gumamnya seraya berjalan menuju ruang makan.
Sesampainya diruang makan..
Naruto segera duduk disebelah kanan Sasuke. Senyum tidak pernah lepas dari bibir nya.
"Berhenti tersenyum seperti itu,Dobe." Ternyata Sasuke mulai jengah melihat tingkah Naruto yang sedikit 'gila' menurutnya.
Sementara Naruto hanya mendelik kearah Sasuke, mengolesi rotinya lagi dan kembali tersenyum!
Sasuke pun hanya mendengus ketika ucapanya tidak digubris oleh Naruto.
"Hari ini ada yang membuatmu bahagia Naru-chan?" Ucap Mikoto.
"Ya! Tentu saja,aku bahagia karena mulai hari ini aku adalah bagian dari keluarga ini." Ucap Naruto riang.
Semua tersenyum lembut. Yah,tentu saja kecuali Sasuke. Ia hanya menatap sendu Naruto. Entah apa yang sedang difikirkannya. Dengan cepat Sasuke memegang tangan kiri Naru dan membawanya begitu saja.
"Eh.. Eh.. Teme!" Naru tergagap. Ia belum selesai sarapan,tapi sudah dibawa pergi seperti ini. Bahkan Mikoto,Fugaku dan Itachi pun heran.
"Lepas,Teme!" Naru meronta,pegangan tangan Sasuke sangat erat. Mungkin saja lengannya sudah memerah sekarang.
".."
Namun tidak ada jawaban dari Sasuke. Ia terus saja menarik Naru,bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Naru sama sekali,ia hanya fokus berjalan. "Teme!" Naru kembali berteriak. Ia menghentakkan lengannya,sontak membuat Sasuke melepaskan genggamannya.
"Ada apa denganmu?" Suara Naruto lirih,ia menatap onyx itu dengan khawatir.
"A.. Tidak apa. Kita harus cepat sebelum terlambat." Jawab Sasuke dingin seraya kembali berjalan.
Naruto memandang punggung tegap Sasuke dengan sendu. Ia khawatir,tidak biasanya Sasuke bersikap seperti itu. Pasti ada yang Sasuke sembunyikan. Ya itulah yang difikirkan Naruto.
Dengan cepat Naruto berusaha menyamai langkah Sasuke yang sudah mulai menjauh darinya.
Hening..
Sesekali Naruto melirik Sasuke yang berada di samping kanan nya. "Ano—Suke?" Naruto hendak merutuki dirinya sendiri karena sangat merasa gugup sekarang.
Sasuke menoleh,tetap dengan tampang datar nya. Ia menatap tajam Naruto dan kembali menatap kedepan.
"Apa benar kau tidak apa-apa?"
"Hn." Jawab Sasuke ambigu. Naruto hanya menghela nafas lelah nya. 'Mungkin Sasuke butuh waktu untuk menceritakannya padaku.' Ucap Naruto dalam hati.
Tidak terasa akhirnya gerbang sekolah telah berada dihadapan Naru dan Sasuke. Beberapa murid pun terlihat baru datang. Naruto melirik jam tangan yg berada di lengan kirinya. 'Pukul 06.30. Terlalu pagi.' Lirihnya dalam hati.
Ia menoleh kesamping kanannya. Sasuke.. ia menghilang. Sekali lagi Naruto menghela nafas lelahnya. "Kau benar-benar membuatku gila,Teme!" Gumamnya.
Naruto pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan santai. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke segala arah,siapa tahu saja bisa melihat Sasuke. Kelas tercintanya pun sudah ia masuki,masih sepi baru beberapa orang saja yang sudah datang. Bahkan Temari dan Hinata pun belum datang.
Naruto menaruh tas nya dan segera duduk seraya menopang dagu. Ia menatap taman yang berada tepat disamping kelasnya. Langit biru,angin pagi yang sejuk,embun yang indah,dan beberapa daun yang terlihat lembab singguh pemandangan yang indah menurutnya.
Fikiran Naruto melayang. Ia kembali merutuki nasib nya. Ia memejamkan matanya sesaat lalu mangambil selembar kertas dan sebuah bulpoin dan mulai mencoret-coretkan sesuatu disana.
Akankah aku melihat warna dunia ini lagi?
Ketika mataku sudah tidak bisa terbuka kembali?
Disaat aku berlari mengejar angan indahku,
Semu terlihat gelap secara tiba-tiba
Dan aku tersungkur, tersungkur karena takdir yang digariskan untukku.
Aku memang tidak bisa merangkai kata dengan indah.
Aku hanya bisa
Merangkai kalimat yang terlintas dalam benakku.
Kau tahu? Saat ini aku bahagia.
Bahagia memiliki keluarga yang menyayangiku apa adanya.
Sangat lucu bukan?
Mereka tidak sedarah denganku,tepi mereka rela membagi kebehagiaan mereka untukku.
Hutang budiku bahkan tidak akan pernah ada habisnya pada mereka.
Selingan air mata yang mengalir membawa masa laluku yang kelam begitu saja.
Rangkaian kasih sayang yang kalian berikan membuat hatiku yang patah kembali terbentuk dengan perlahan.
Senyum tulus dan sebuah rangkulan tangan yang sangat kubutuhkan telah kuraih.
Terima kasih..
Telah banyak yang mereka persembahkan untukku.
Untukku yang bukan siapa-siapa,tetapi diberi keberuntungan untuk bisa merasakan kasih sayang tulus mereka.
"Huh,aku memang tidak berbakat dalam sastra." Gumam Naruto seraya terkikik pelan.
SRET..
"Apa ini? Huh?" Sakura merebut kertas yang telah Naru coret-coret tadi. Ia membacanya dengan sinis. Sementara Naruto,ia hendak mengambil kertas itu namun kedua tangannya tengah dicengkram erat Karin dan Yugao.
"Kembalikan,Baka!" Ronta Naruto.
"Oh,apakah ini akan diberikan untuk keluarga yang mungkin sudi merawatmu nanti,Hm?" Ucap Sakura sinis seraya mengibas-ngibaskan kertas itu didepan wajah Naruto. "Ah iya,kalian semua pasti bingung. Sekarang,teman kita yang tercinta ini bukan lagi seorang NAMIKAZE. Dia telah sah DIKELUARKAN dan kalian tau siapa penggantinya?"
Sakura tertawa licik. Iris emerald itu memandang tajam shappire yang ada dihadapannya. "Aku! Sekarang aku adalah NAMIKAZE SAKURA! Nama yang bagus bukan,Naru-chan?" Ucap Sakura penuh kemenangan. Ia membuang kertas itu lalu menginjak-injaknya beberapa kali sehingga kertas itu terlihat lusuh.
Mata Naru sukses membulat. Begitu cepatkah kedua orang tua nya menemukan pengganti dirinya? Dari sekian banyak gadis seusianya didunia ini,kenapa harus Sakura? Kenapa harus orang yang sangat dibencinya? Dan—bagaimana bisa kedua orang tua nya mengangkat Sakura sebagai Namikaze hanya dengan 2 hari setelah ia keluar?
"Kau! Naruto.. yang tidak punya nama marga! Tidak akan pernah bisa mengalahkan kekayaanku! Kau tau kan kekayaan Namikaze? " Sakura tertawa lepas. "Dan untuk kalian disini,aku harap kalian dapat menyebar luaskan perubahan nama margaku. Dan jangan ada yang macam-macam terhadapku atau kalian akan mendapatkan ganjarannya!"
Karin dan Yugao melepaskan cengkramannya. Seketika itu juga tubuh Naruto jatuh terduduk. Tatapan matanya kosong,tubuhnya lemas. Apa yang Sakura katakan tadi benar-benar membuat otaknya berhenti bekerja.
Sakura sudah keluar kelas dengan tawa liciknya. Guren, Yuukimaru, dan Kiba menghampiri Naru yang tampak shock itu.
"Naru,daijoubu ka?" Guren memeluk Naruto. Guren tau ia memang tidak dekat dengan Naruto. tapi entah mengapa hatinya tergerak untuk menenangkan bocah pirang ini.
".." Tidak ada tanggapan dari Naru. Mereka pun membantu Naruto duduk dibangkunya.
"N—Naru-chan.." Kiba ikut merasa khawatir juga melihat temannya itu. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kata disana.
"Kami mohon,jawab kami,Naru." Pinta Yuukimaru.
Tes..
Air mata pun dengan sukses turun dari peraduannya. Ia segera memeluk Guren yang berada disebelah kanannya. "Kenapa—Kenapa mereka begitu jahat?" Isak Naru.
"Sabar Naru,kami selalu ada untukmu." Ucap Guren seraya mengelus punggung Naru untuk menenangkannya.
Naru melepas pelukannya. Ia tersenyum sendu kepada Yuukimaru dan Guren. "Arigatou." Lirihnya.
Sasuke tergesa-gesa menuju kelas. Setelah mendapatkan pesan singkat dari Kiba ia segera turun dari atap dan tergesa-gesa menuju kelasnya. Hingga..
Bruukk..
"Ugh."
"Eh? Sasuke?"
"Temari,Sa-suke-kun. Daijoubu ka?" Ucap Hinata seraya membantu Temari dan Sasuke bangun.
"Ada apa denganmu,hah? Tidak lihat orang lewat apa?" Temari mulai naik darah ternyata.
"Aku sedang buru-buru." Jawab Sasuke seraya kembali berjalan dengan tergesa-gesa berlawanan arah dengan Temari dan Hinata.
"Hinata,kurasa kita keperpustakaannya nanti saja. Feeling ku tidak enak." Gumam Temari yang dibalas anggukan oleh Hinata. Merekapun memutuskan mengikuti Sasuke kekelas.
Sesampainya dikelas,Sasuke langsung disambut oleh Kiba. "Sakura jadi Namikaze!" Ucap Kiba ambigu.
Dahi Sasuke mengerenyit. Ia melihat Naruto tengah bersama Guren dan Yuukimaru. "Sejak kapan mereka dekat?"
"Seharusnya tadi kau datang lebih pagi! Kau harus beterimakasih pada Guren dan Yuukimaru,mereka telah menenangkan Naruto. Dan harus kau tahu,sebelumnya Naruto tampak lebih buruk dari ini." Ucap Kiba menerangkan.
Sasuke segera menghampiri Naruto,ia segera memeluk erat Naruto. sontak membuat Naruto kembali menangis. "Semua akan baik-baik saja,Uchiha Naruto." Ucap Sasuke lembut.
Semua yang ada diruangan itupun terbelalak. Naruto menjadi Uchiha? Dan Sakura menjadi Namikaze? Pagi ini benar-benar terdapat berita menghebohkan yang akan menggemparkan seluruh penjuru sekolah!
"Apa yang terjadi?!" Temari datang dengan tersengal,lalu disusul Hinata yang juga tampak kelelahan. Yak,tampaknya mereka habis berlari maraton. #plaakk.
Sasuke melepas pelukannya dan duduk dikursi sebelah Naruto. ia mulai menenangkan Naruto.
Sementara Kiba,Guren,dan Yuukimaru menghampiri Temari dan Hinata untuk menjelaskan semuanya dan membiarkan Naruto bersama Sasuke.
.
.
Jam pelajaran sudah berjalan dari beberapa menit yang lalu. Kakashi yang biasanya mengabsen murid-muridnya terlebih dahulu kini tidak melakukannya. Kakashi sudah tau apa yang tengah diderita Naruto dan masalah apa yang tengah dihadapinya. Hey jangan lupa,soal berita yang menggemparkan seluruh penjuru sekolah! Saat ini guru-guru pun sudah tahu semua soal pergantian marga yang dialami oleh kedua musuh bebuyutan itu.
Kakashi mulai beranjak dari kursinya,sekedar untuk berkeliling kelas dan melihat catatan yang tengah ditulis oleh murid-muridnya. Namun,langkahnya terhenti ketika ia berada disamping Naruto,ia melihat selembar kerta lusuh yang tergeletak disana,ia memungutnya. Namun tidak ada pergerakan pasti dari Naruto. Kakashi tau,anak itu sedang melamun sekarang. ia menyimpan kertas itu disakunya dan menegur pelan Naruto.
"Naruto? Daijoubu ka?"
Naruto tersentak. ia menoleh kearah Kakashi dan tersenyum lembut. "Eh? Ha'i Daijoubu,sensei. Arigatou." Ucapnya.
Kakashi pun tersenyum lalu kembali berkeliling.
"Seharusnya aku tidak membiarkanmu melamun tadi." Ucap Sasuke pelan.
Narutopun terkikik pelan. "Sudahlah,tidak apa-apa. Hanya teguran biasa kok." Ucap Naruto pelan berusaha menenangkan sang 'kakak'.
"Jika sudah selesai,kumpulkan buku catatan kalian dan siapkan selembar kertas! Kita akan ulangan lagi untuk materi yang aku terangkan tadi." Ucap Kakashi tegas.
Mereka telah mengumpulkan buku catatannya. Kakashi telah menuliskan soal-soal matematika yang menurut author sulit #loh? (lupakan)
Namun,diam-diam Sakura menyimpan buku catatannya dikolong mejanya. "Bukankah sensei meminta kita menyimpan buku di meja nya,Sakura?" Tanya Karin dengan berbisik. Yap,Karin adalah teman sebangku Sakura.
"Stt.. Sudahlah! Kalau kau mau nilai bagus,diam saja!" Jawab Sakura juga dengan berbisik.
"Waktu kalian 30 menit,dimulai dari sekarang!" Ujar Kakashi tegas. "Ku ingatkan,nilai terburuk akan mendapat hukuman." Ujarnya lagi dengan penuh penekanan.
Semua murid mulai mengerjakan soal yang menyeramkan itu. Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan keringat dingin,bahkan ada yang terlihat mengeluarkan asap dari kepalanya(?).
Sakura pun melancarkan aksinya. Ia tersenyum penuh kemenangan. Buku yang berada dikolong mejanya benar-benar sangat membantu. Namun ia tidak menyadari saat Kakashi melihat gerak-geriknya.
Sementara Naruto,ia terlihat tengah berjuang melawan rumus-rumus yang menggila itu. 'Aku harus bisa mendapatkan nilai sempurna! Aku harus bisa membuat keluarga baruku bangga!' Itu yang terus di ucap dalam hati oleh Naruto.
.
30 menitpun berlalu..
"Yap,kumpulkan semua.. Dan Sakura! Kumpulkan juga buku catatan yang ada dikolong mejamu itu." Ucap Kakashi.
Deg..
Sakura mematung. Sebuah bulir keringat dinginnya meluncur sukses dari pelipisnya. "A—Buku catatan apa,Sensei?" Tanya Sakura berusaha berkilah.
"Kau tidak bisa berbohong padaku,nona." Ucap Kakashi datar. Dengan cepat Kiba membawakan buku catatan yang entah kapan ia ambil dari kolong meja Sakura.
"Kebusukanmu tercium,nona." Ucap Kiba datar namun senyum liciknya sangat terlihat.
"Ck,kuso!" Gumam Sakura seraya mengepalkan tangannya erat. Ia mengedarkan pandangannya. Seleuruh kelas tengah memandangnya dengan kesal. Tapi berbeda dengan Naruto,ia memandangnya dengan senyum sinis,ah—Sakura tau,anak itu pasti bahagia karena ia ketahuan mencontek. Dan bertambahlah kegondokkan Sakura.
Kakashi merapihkan lembaran kertas ulangan murid-muridnya itu. Lalu menatap tajam kearah Sakura. "Ikuti aku jika kau tidak ingin nilai matematikamu kosong." Ucap Kakashi dingin.
Sebelum Sakura mengikuti Kakashi,Sakura sempat berbicara dengan Karin. "Laksanakan rencana yang telah kita buat tadi pagi. Aku ingin ketika aku kembali ia sudah berlutut dihadapanku." Bisik Sakura yang dibalas anggukan oleh Karin.
TBC
Yeaahh,.. chapter ke-3 telah update! Semoga memuaskan yah,maaf jika chapter ini rada gaje -_- hehe..
Apa yang telah direncanakan Sakura dan Karin? Bagaimana kisah perubahan marga dari kedua musuh bebuyutan itu? Dan apakah Dewi Fortuna masih berpihak pada Naruto? Yosh! Tunggu chapter selanjutnya minna-san!
Arigatou for :
BlackRose783, Angel Demon Ra TsukiNatsu, akbar123, NarutoNaruko, naruhine-chan, Miss Ara Nightmare, kirei- neko, uchiha hani namikaze, LNaruSasu, Yasashi-kun, haruna yuhi, Nauchi Kirika - Chan, EstrellaNamikaze, Koura Fukiishi, Guest, Ymd, Yamashita Kumiko, hanazawa kay, namikaze yondaime, sfsclouds, Ara Uchiha, purplehina, aiska hime chan, dan Naminamifrid.
Terimakasih banyak yang sudah mereview chapter kemarin ^o^ . Terimakasih juga untuk para silent readers yang sudah membaca fict Runa :D jangan lupa Review nya yaa ^o^b
