"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Yamashita Runa
.
Sasuke memegang kedua pundak Naru dengan erat. Sekali lagi,Onyx dan Shappire itu bertemu. "Aku ingin kau menjadi Uchiha,bukan sebagai adikku. Tapi sebagai istriku,Naru."
Kedua mata Naru membola. "Ap—Apa?" Naru shock. Benar-benar shock!
.
.
Disebuah ruangan, suasana yang terdapat disana cukup menegangkan. Seorang yang sudah berumur cukup tua (Runa digampar-_-) tengah menatap dua orang berbeda gender itu dengan lekat dan tajam. Terdengar beberapa kali orang itu menghela nafas lelahnya.
"Kurenai, Kakashi! Panggil Naruto, Ino dan Deidara kehadapanku sekarang!" Perintahnya.
Kakashi dan Kurenai sempat tersentak kaget, mereka menengguk ludahnya gugup lalu mengangguk. "Ha'i Tsunade-sama."
BLAM..
Pintu ruang kepala sekolah itupun ditutup setelah Kakashi dan Kurenai keluar. Sekali lagi, Tsunade menghela nafas lelahnya. "Kami-sama.. Aku sudah terlalu tua untuk mengurusi masalah keluargaku sendiri.." Tsunade menelungkupkan kepalanya dimeja. "Huh, Jiraya.. Seharusnya kau jangan mati dulu. Setidaknya, bantulah aku sekarang." Gumamnya.
.
"Ino!"
Ino yang tengah melamun terlonjak saat namanya dipanggil dengan teriakan keras itu. Ia melirik kearah pintu kelas, ternyata Sakura cs tengah menghampirinya. "Hai, aku Sakura. Aku sepupumu. Kau pasti belum tau kalau aku Namikaze kan? Makanya sekarang aku kenalan denganmu." Ucap Sakura seraya menjulurkan tangan kanannya kearah Ino.
Namun, Ino masih saja bergeming. Ia menopang dagu dengan tangan tangan kirinya dan membiarkan tangan Sakura mengambang diudara. "Oh, jadi kau yang namanya Sakura." Ucap Ino datar. "Kheh, ternyata benar kata Kurama-nii. Kau benar-benar tidak cocok sebagai Namikaze."
Ino memandang sinis Sakura yang melotot kearahnya. Ino mendengus lalu hendak beranjak dari hadapan Sakura, namun tangan Sakura mencegahnya.
"Aku sepupumu! Bersikaplah sedikit baik denganku!" Geram Sakura.
Beberapa murid yang berada dikelas itupun lebih memilih melihat pertengakaran mereka daripada memisahkan mereka. Ya, murid-murid disana tidak mau ikut campur dengan masalah keluarga Namikaze. Mereka lebih baik diam dan menonton.
Ino mendecih. "Jangan harap aku akan menerimamu sebagai sepupuku. Karena sepupuku hanya Naruto! Hanya dia yang pantas menjadi sepupuku, bukan kau!" Ino menatap tajam Sakura. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan hingga paman dan bibi bisa menerimamu. Yang pasti, kau tidak berhak mengaturku untuk bisa menerimamu!"
Sakura bungkam. Baru kali ini ia dibentak seperti itu. Jika saja Ino bukan 'sepupu' nya,pasti ia sudah menampar keras Ino dan menyuruh Karin dan Yugao menyeretnya.
Mereka masih saling menatap tajam hingga suara Kakashi memutuskan kontak mata mereka.
"Ino, kau dan Naruto diperintahkan untuk mengahadap Tsunade-sama."
Ino mengangguk. "Ha'i.. Aku akan keruangan Baa-san dengan Naruto. Arigatou Kakashi-sensei."
Ino dan Kakashi pun meninggalkan Sakura yang masih mematung. Kedua tangannya terkepal. 'Sial. Dia berhasil mempermalukanku!'
Seisi kelas itu terus menatap penuh intimidasi kearah Sakura. Dan pastinya membuat Sakura gerah dan bertambah geram.
BRAK..
"Berhenti menatapku seperti seorang penjahat seperti itu! Kalian tidak tahu apa-apa! Sekali lagi ada yang berani menatapku seperti itu, kalian akan mendapat akibatnya!" Mata emerald Sakura menatap nyalang ke seisi ruangan. Ia berhasil membuat seisi ruangan itu tersentak karena ia memukul meja, dan sekarang ia membuat ultimatum sendiri? (author hanya menghela nafas-_-)
Dengan wajah merah karena marah ia segera meninggalkan ruang kelas yang terasa gerah untuknya. Tidak lupa, Karin dan Yugao yang mengekorinya kemanapun ia pergi.
.
Ino menghela nafas. 'Sekarang aku tau betapa menderitanya Naru menghadapi orang itu.' Ucapnya dalam hati. 'Dia memang menyebalkan. Rasanya ingin sekali aku meninju wajahnya.' Lanjutnya. Ino benar-benar tidak habis fikir, apa yang paman dan bibi nya lihat dari Sakura? Sehingga dengan mudahnya menerimanya dan mengeluarkan aset berharga seperti Naru? Bahkan baa-san pun tidak berkutik dan tidak ikut campur tangan sama sekali.
Otaknya tidak bisa memecahkan masalah ini dari beberapa minggu yang lalu. Saat pertama kali Naru menceritakan masalah ini padanya. Semua ini begitu rumit.
"Sekarang, dimana anak itu?" Gumam Ino. Sedari tadi ia berkeliling tapi tidak menemukan bocah pirang itu sama sekali.
"Astaga!" Ino menepuk dahi nya pelan. "Aku pelupa sekali sih! Jelas-jelas tadi dia bilang mau ke atap." Ino menggumam kesal. Lalu ia segera berjalan kembali menuju atap.
.
.
Gadis bersurai pirang itu tampak tersenyum, kedua pipinya bersemu merah. Terlihat sekali ia sangat senang sekaligus malu. Tapi lihatlah kedalam hatinya. Ia benar-benar kalut dan bingung.
"A—aku tidak tahu,Sasuke." Ia memutuskan kontak matanya dengan pemuda ber-pupil onyx itu."Boleh aku meminta waktu?" Ucapnya penuh harap.
Hening..
Onyx itu juga tidak lagi menatapnya lekat. Kini ia kembali kerutinitas sebelumnya—melihat langit. Hal itu membuat Naruto kembali bingung, ia menunduk dalam.
'Bagus Naru. Kau membuat Sasuke kecewa!' Runtuk Naruto dalam hati. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga. Di satu sisi, ia ingin mengatakan iya pada Sasuke. Namun disisi lain, ia takut kalau hubungannya ini tidak akan direstui keluarga Uchiha. Tapi sudah jelas bukan? Kalau aslinya Naru memang sudah menyukai Sasuke.
Tiba-tiba Naruto tersentak saat sebuah tangan menepuk pelan kepalanya. Ia mendongak, terlihatlah wajah Sasuke yang tengah tersenyum lembut kearahnya. Sekali lagi, wajah Naru bersemu.
"Hn,tentu saja. Kapanpun kau mau mengatakannya, akan ku tunggu."
Sekali lagi,Naru menunduk dalam. Dan langsung memeluk Sasuke dengan erat. "Aku mohon, jangan bersikap dingin lagi, Teme. Sikapmu itu menyebalkan!" Lirih Naru.
Sasuke tersenyum kembali. Ia membalas pelukan Naru. "Hn."
Naruto merengut. Ia melepas pelukannya begitu saja. "Hilangkan juga kebiasaanmu menggunakan dua kata itu!"
"Hn." Ucap Sasuke acuh, namun senyum masih bertengger dibibirnya.
BRAAKK...
"Naru! Eh?"
Ino menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia datang bukan diwaktu yang tepat. "Aku mengganggu ya? Go—Gomen, tapi Baa-san memanggilmu,Naru." Ucap Ino gugup. Bagaimana tidak gugup? Ia benar-benar merusak suasana, dan lihat, Naru dan Sasuke manatapnya lekat.
"Hey, ayolah! Pacarannya nanti saja. Baa-san pasti sudah mengamuk sekarang. Ayo!" Tuh kan, Ino sudah jengah. Ia menyeret Naru begitu saja.
Namun,tiba-tiba Naru tertawa. "Kau itu aneh, Ino!" Ucapnya disela tertawa. Ino merengut,ia menautkan alisnya ketika Sasuke juga ikut tersenyum.
"Sudah sana. Tsunade-sama pasti sudah menunggu kalian." Ucap Sasuke seraya kembali menatap langit.
Ino mengangguk lalu berjalan duluan dan Naru melambaikan tangannya kearah Sasuke. "Jaa Suke!"
BLAM..
Pintu atap tertutup. Sasuke tersenyum tipis. 'Akan kutunggu,eh? Sampai kapan?' Gumamnya dalam hati.
.
Kedua saudara berambut blonde itu berjalan dengan hening. Tidak biasanya memang. Biasanya, mereka yang sama-sama cerewet itu jika dipertemukan akan sulit sekali dipisahkan dan selalu berbincang.
"Jadi—" Ino menggumam,ia menoleh kearah kanan-kearah Naru yang tengah menatap lurus kearah depan tanpa ekspresi. Ino masih belum melanjutkan kata-katanya. Ia masih menunggu Naru menceritakannya sendiri.
"Ya, dia menyukaiku." Ucap Naru singkat.
Ino menghela nafas. Kalimat yang menggantung dilidahnya segera ia telan kembali karena pintu ruang kepala sekolah sudah ada dihadapan mereka. dengan perlahan ia membukanya dan terlihat lah dua orang berambut blonde lainnya.
"Kalian! Lama sekali! Dasar lelet!" Runtuk Deidara seraya menunjuk Ino dan Naruto penuh emosi.
Naruto menatap Deidara bosan. "Kau berisik, Dei."
Urat dahi Deidara berkedut. "Panggil aku nee-san, Baka!"
"Aku tidak perduli, Dei."
Deidara mendecih ia hendak menjambak rambut sepupunya itu namun ditahan Ino. "Bisakah kalian berdua diam?!" Amuk Ino. Mau tidak mau, Dei pun diam.
Suasana hening itu terasa mencekam. Tsunade melipat kedua tangannya didepan wajahnya seraya menatap lekat ketiga saudara sepupu itu.
"Naruto.." Tsunade melirik Naruto yang berada disamping Ino. "Bagaimana perasaanmu?"
Naruto mengalihakan pandangannya berusaha menghindari pandangan menusuk penuh intimidasi Tsunade. Ia juga tampak berfikir,memfilter beberapa kata yang akan ia ucapkan.
"Aku—bingung, Baa-san." Gumam Naruto. ia menunduk dalam,ia hanya menatap keramik putih bersih yang ia pijaki.
"Aku tau kau bahagia bersama keluarga Uchiha,itulah sebabnya aku tidak mau ikut campur masalah ini. " Tsunade menghirup oksigen sebanyak mungkin dan menghembuskannya secara perlahan. "Kau akan merasakan kasih sayang bersama mereka. tapi tindakan Minato dan Kushina memasukkan Sakura untuk menggantikanmu itu—aku benar-benar tidak tahu sama sekali."
"Maafkan baa-san. Baa-san tidak bisa berbuat apa-apa untukmu, Naru." Tsuande tersenyum lembut saat wajah Naruto kembali menatapnya. "Dan untuk kalian-Dei dan Ino. Aku ingin kalian menjaga Naruto dari ancaman Sakura. Anak itu benar-benar kurang ajar. Kalian boleh melakukan apapun padanya sampai aku berhasil membongkar semua sifat buruknya dihadapan Minato dan Kushina."
Mata Ino berkilat, bibirnya menyunggingkan senyum licik. "Apapun, Baa-san? Dei,kukira ini akan menjadi tahun terbaikku disini."
Deidara tersenyum maklum, "Yaya, kau selalu menjadi yang terdepan untuk mengerjai seseorang."
"Arigatou, Baa-san. Naru sayang baa-san." Gumam Naru seraya menghampiri Tsunade. Mereka berpelukan. Terlihat Naru sedang menangis dipundak Tsunade.
"Sekarang,baa-san akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, Naru. Karena kalian,cucu terbaik baa-san."
Pengrobanan sang nenek untuk kebahagiaan cucu tersayangnya akan segera dimulai. Tidak perduli tubuhnya yang renta dan umurnya yang sudah menginjak kepala 5. Ia akan melakukan apapun untuk para penerusnya kelak.
.
Dei, Ino, dan Naru melangkahkan kakinya dengan cepat. Mengingat jam pelajaran dimulai sudah berdering dari setengah jam yang lalu. pertama Dei berpisah karena kelasnya yang memang berbeda. Kemudian Ino dan Naru berjalan beiringan. Mereka mengetuk pelan pintu kelasnya dan terlihatlah Kakashi.
"Maaf sensei—"
"Ya, tidak apa. Tsunade-sama sudah memeberitahuku sebelumnya. Cepet duduk." Ucap Kakashi seraya tersenyum.
Seperti biasa, Naru duduk disebelah Sasuke. Ternyata pemuda itu sudah kembali dan sedang mencatat tugas matematika yang tertera dipapan tulis.
Naruto mengelurkan bukunya dan segera mencatat tugas itu. Sesekali ia melirik Sasuke. 'Huh,ada apa sih denganku?' Gumam Naru dalam hati. Kemudian melirik lagi dengan ekor matanya. 'Kenapa aku ingin sekali menatapnya?'
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Dobe?" Bisik Sasuke.
Naru salah tingkah,ia hanya menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal. Naru gugup, siapa sih yang tidak gugup saat kita ketahuan sedang memeperhatikan seseorang?
"Ano—Tidak ko,Teme." Jawab Naru dengan cengiran khas nya.
Sasuke tidak menjawab. Ia lebih memilih mendengarkan penjelasan Kakashi. Perhatiannya pada tulisan dipapan tulis teralihkan saat Kakashi memanggil nama Ino untuk maju kedepan mengerjakan soal yang diberikan.
"Dobe, menurutmu dia bisa mengerjakannya?" Bisik Sasuke. Ia tidak mau mendapatkan hukuman dari Kakashi karena mengobrol dijam pelajarannya.
Naruto mengangguk. "Kami kan punya otak pintar, Teme."
Sasuke mendengus,lalu ia mengerenyitkan dahinya saat tiba-tiba Ino terjatuh tepat disamping Sakura.
"Ino!" Naruto segera menghampiri Ino yang kini tengah menarik kerah baju Sakura.
"Apa maksudmu membuatku jatuh, hah?!" Ino menggeram, ia belum melepaskan cengkramannya pada Sakura.
"Kau saja yang tidak punya mata! Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat!"
"Oh, berarti kau tidak punya otak ya?"
Alis Sakura bertaut. Ia tidak mengerti maksud perkataan Ino. "Apa maksudmu, hah? Seenaknya saja kau mengataiku begitu!"
"Kheh, benar kan kau tidak punya otak! Kau tidak bisa menjaga sikap kakimu yang seenaknya saja membuatku terjatuh saat berjalan!"
Ya, Sakura sengaja menjulurkan kaki kanannya saat Ino hendak melewatinya.
Ino mendorong Sakura hingga Sakura tersungkur, sama seperti dirinya saat ia terjatuh karena ulah Sakura tadi. "Sekali lagi kau membuatku marah, akan kupastikan hidupmu tidak akan nyaman disini, Haruno!"
Sakura tersentak. ia menengguk ludahnya pelan. 'Inikah yang namanya Namikaze? Dibalik sikapnya yang anggun dan baik, ada sebuah tanduk iblis yang bisa keluar kapan saja?' Ucap Sakura dalam hati.
"Sudahlah Ino. Kau bisa dimarahi baa-san jika seperti ini." Lerai Naruto.
"Kau lupa perkataan baa-san, Naru? Aku bisa berbuat apapun padanya. Semauku. Dan tidak ada yang boleh menggugatnya meskipun itu seorang guru!" Ucap Ino penuh penekanan.
Oh jadi itu yang membuat Kakashi tidak mau melerai mereka dan lebih memilih keluar kelas alias menyelesaikan tugas mengajarnya lebih awal. Ia telah diberi tahu Tsunade untuk membebaskan Ino, Deidara bahkan Naruto untuk memberi pelajaran pada Sakura. Dan lihat, teman sejati Sakura bahkan tidak berkutik sedikitpun. Karin dan Yugao hanya menatap Sakura dengan iba tanpa berniat membantunya.
Ino menendang meja yang berada disebelah Sakura dengan keras sehingga membuat Sakura tersentak kaget dan menatap Ino dengan horor. "Jaga sikapmu disini, Haruno." Lalu Ino pergi begitu saja.
Naruto memutar bola matanya bosan. "Kau membuat saudaraku marah besar seperti itu, aku yakin kau akan mati muda, Sakura." Gumam Naruto yang masih bisa didengar oleh seluruh penghuni kelas. Naruto mengeluarkan senyum liciknya dan pergi meninggalkan aura mencekam dikelas itu.
'Mereka—' Sasuke tercengang melihat apa yang baru saja terjadi. 'Menyeramkan.' Ucapnya dalam hati.
.
.
Ino dan Naruto tangah berjalan menuju taman belakang. Mereka tertawa saat mengingat kejadian tadi.
"Aku puas, Ino." Ucap Naruto seraya terkikik.
"Lain kali, kau harus mengerjainya juga."
Naruto mengangguk. "Ya. Akan kucoba."
Perjalanan mereka terhenti saat melihat seseorang tengah duduk bersender dibawah puhon plum dengan nyaman. "Dei?" Gumam Naruto.
"Kukira, dia tidak menyukai taman."
Naruto mengangguk, ya memang setahu nya Dei itu trauma terhadap taman karena kebanyakan kekasihnya memtuskannya ditaman. Ngenes? Ya begitulah nasib yang author buat untuk Deidara tercintah (Runa dibom -_-)
Mereka pun mengahampiri Deidara. "Hai, Dei-nee!" Sapa Naruto seraya duduk disamping kanan Deidara.
"Ada apa denganmu,un? Pasti ada maunya." Ucap Dei sekenaknya. Deidara tahu, kalau Naruto mau memanggilnya dengan Nee pasti ada sesuatu yang diinginkan Naruto.
"Huh, kau memang menyebalkan Dei."
"Memang. Baru tau?"
Dut.. Munculah empat siku-siku didahi Naru. Ia mengerutkan keningnya dan merengut. "Gah!"
"Tumben kau disini. Sedang patah hati?" Tanya Ino. Sontak Dei langsung menatap Ino penuh tanya.
"Memang selama ini kau lihat aku sedang berpacaran, hah?"
Ino tampak berfikir. Naruto pun sama. Dan yang mereka ingat saat Dei menceritakan soal kekasihnya itu setahun yang lalu.
"Err.. tidak sih." Jawab Ino seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Palingan juga sedang jatuh cinta." Ceplos Naru.
BLUSH..
Wajah Dei memerah seketika. Ia melirik Naruto dengan sinis. 'Sial, anak ini pake tahu segala lagi.' Runtuk Dei dalam hati.
"T.. Tidak! Apaan sih. Ayo temani aku kekantin. Aku lapar." Ucap Dei seraya beranjak.
Ino dan Naruto mengangkat kedua alis mereka dan menatap punggung Dei yag sudah mulai menjauh.
"Sepertinya aku harus menyelidiki ini, Ino." Gurau Naruto. Mereka berdua pun beranjak dengan tertawa.
.
.
Bel pulang sudah berdering. Semua murid berbondong-bondong untuk keluar dari gedung yang menurut mereka seperti penjara(?). Naru, Ino, dan Dei tengah berjalan menuju parkiran.
Namun Naruto tampak kaku seketika. Matanya membulat, ia tampak tidak percaya akan apa yang ia lihat. Ino dan Dei pun sama.
"Mereka?" Gumam Naruto. matanya masih menatap ujung koridor. Diujung koridor itu terdapat dua orang yang Naruto kenal. Bukan, bukan hanya kenal, tapi sangat amat mengenali mereka.
"Sebaiknya kita jangan lewat sini." Ucap Dei seraya menarik Naruto dan berbalik.
Mereka hendak berjalan namun sebuah suara menghentikan mereka. "Kau mau kabur, Naruto?"
TBC
Nahloh, siapa tuh yang ada diujung koridor itu? Apa ya yang akan Tsunade lakukan untuk Naruto? Lalu apa jawaban Naruto untuk Sasuke? Apakah Sasuke mau setia menunggu Naruto? Tunggu chapter-chapter berikutnya yaa...
Semoga chapter ini memuaskan ya.. maaf juga jika Runa ga bisa Update kilat. Soalnya kesehatan Runa sedikit terganggu*duh malah curhat* :D hehe.. oh iya, Runa mau minta saran kalian dong.. kira-kira siapa yang pantes jadi pasangannya Dei? Jawabnya direview ya..
Big Thanks To:
minyak tanah, BlackRose783, LNaruSasu, Dragon warior, maya sakura, titan-miauw, Hyull, NuruHime-chan19, sairaji423, IloveMe, Luca Marvell, Iffah Hanifah, yamashita kumiko, akbar123, AngelicAnd Demonic Ra, Ara Uchiha, Naminamifrid, azurradeva, Ymd, Guest, Amour-chan, Axa Alisson Ganger, chinatsu ichihara, Nauchi Kirika-RE22, yuichi, haruna aoi, sfsclouds, Lianapuspitasari, aiska hime-chan, Princessblue93, kalista, 1, Xxferessa-TanXx, Sentimental Aquamarine, Life Is Good, FISIKA, dan nei-Chan.
Arigatou Gozaimasu untuk review nya di cahpter 4! Runa seneng banget baca review kalian. Maaf Runa ga bisa bales review kalian satu-satu. :D jangan lupa Review lagi yaa..
