"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Runa BluGreeYama
.
"Mereka?" Gumam Naruto. matanya masih menatap ujung koridor. Diujung koridor itu terdapat dua orang yang Naruto kenal. Bukan, bukan hanya kenal, tapi sangat amat mengenali mereka.
"Sebaiknya kita jangan lewat sini." Ucap Dei seraya menarik Naruto dan berbalik.
Mereka hendak berjalan namun sebuah suara menghentikan mereka. "Kau mau kabur, Naruto?"
.
.
Naruto menundukan kepalanya. Ia hanya menatap lantai putih yang dipijakinya. Tidak ada airmata ataupun ekspresi yang berarti. Iapun sulit untuk memutuskan apa yang harus ia perbuat. Suara itu membuatnya seakan kaku seketika. Jika boleh jujur, ia merindukan mereka. Amat sangat merindukan mereka.
"Apa yang kau perbuat pada Sakura?" Sekali lagi, suara itu menggema ditelinganya. "Jawab!"
Gertakan itu membuat Naruto tersentak, ia semakin mengeratkan gengamannya pada Dei. "Kalian tidak mengerti." Lirih Naruto.
Naruto menatap kedua orang itu dengan sendu. Dei sempat menariknya untuk segera pergi dari tempat itu, namun Naruto menolaknya.
"Kalian tidak mengerti. Kalian tidak mengerti rasanya diabaikan!" Ucap Naruto setengah berteriak. Tangan kirinya yang sebelumnya digenggam Dei kini terlepas. "Semua ini menyakitkan."
Suara Naruto semakin lirih. Ia mulai menangis. Ino segera mendekati Naruto dan merangkul bahunya. Hingga tiba-tiba Sakura datang dan menghampiri kedua orang itu—Minato dan Kushina.
"Kaa-san, Tou-san .. Dia yang membuat semua orang jauh dariku. Bahkan Ino dan Dei-nee sudah terpengaruh olehnya. Aku sempat dimarahi oleh Ino karena dia. Padahal aku hanya ingin berkenalan dengan Ino." Adu Sakura. Ia memeluk Kushina dengan manja.
Wajah Minato terlihat geram saat mendengar perkataan Sakura. Minato mendekati Naruto dengan mengepalkan kedua tangannya. Minato hendak menampar wajah Naruto namun tangannya ditahan seseorang.
"Sudah cukup."
Kedua mata Minato membulat. "Sasuke?"
"Kalian sudah berlebihan. Maaf jika aku tidak sopan. Tapi kalian tidak berhak menyentuh Naruto sedikitpun." Ucapnya dingin. Iris onyx Sasuke menyorot tajam tepat ke arah Minato.
"Kurasa kau yang berlebihan pada anak ini, Sasuke." Minato tersenyum sinis. Ia menurunkan tangan kananya yang sempat terangkat karena ingin menampar Naruto.
"Naruto sudah menjadi tanggung jawabku sejak Anda mengeluarkannya dari nama keluarga Namikaze. Dan hal ini tidak berlebihan sama sekali."
Sekali lagi, kalimat dingin yang terlontar dari bibir Sasuke membuat Minato tersentak. Sasuke benar-benar pintar dalam membalas kata-kata seseorang. Mata Minato kini teralih pada Naruto yang berada dibelakang Sasuke. Wajahnya terlihat sedikit pucat, air mata nya mengalir deras dan ia terlihat kacau. Ada sedikit rasa prihatin didalam lubuk hati Minato. Tapi, dengan cepat ia mengacuhkannya.
"Kheh, aku hanya memperingati kalian sekarang. Jangan pernah membully Sakura atau apapun itu. Termasuk kalian, Ino dan Dei. Kalian sebagai sepupu Sakura harus berbuat baik padanya atau aku tidak akan tinggal diam."
Minato berbalik memunggungi Sasuke. "Aku benar-benar menyukai cara bicaramu, Sasuke. Mungkin kau akan cocok dengan Sakura."
Deg..
Alis Sasuke bertaut. Namun dengan cepat ia tersenyum sinis. "Aku rasa anda terlalu percaya diri." Sasuke terdiam menunggu reaksi Minato. "Aku, Tou-san dan Kaa-san tidak akan pernah senang dengan gadis pembual seperti dia."
Sasuke berbalik, mengambil alih Naruto dari rangkulan Ino. Lalu mulai menuntun Naruto yang masih shock.
"Aku bukan sepupu bocah pink itu, Paman." Ucap Ino lantang seraya mengikuti Naruto dan Sasuke.
Sementara Dei tersenyum sinis. "Aku juga tidak merasa kalau dia adalah sepupuku." Ucapnya dingin lalu beranjak mengikuti yang lain.
"Kaa-san.." Sakura mulai menangis. ia semakin mengeratkan pelukannya pada Kushina. Menurutnya semua perkataan Sasuke, Dei dan Ino itu sangat menyakitkan.
Kushina mengelus lembut rambut Sakura. "Sudahlah. Mereka hanya iri padamu, Sayang."
"Tenang saja, Sakura. Cepat atau lambat mereka akan menyesal ." Minato menghampiri Sakura dan tersenyum lembut.
Minato dan Kushina tersenyum. Mereka menggenggam tangan Sakura dan beranjak meninggalkan koridor yang sudah sangat sepi itu.
.
.
"Mereka bahkan tidak pernah memperlakukanku seperti itu."
"Apa lebihnya Sakura dariku?"
"Mereka tidak pernah menjemputku seperti itu. Tapi kenapa Sakura bisa membuat mereka mau menjemputnya?"
"Aku hanya ingin mereka menyayangiku, aku—"
"Naruto, cukup!" Dei menggertak Naruto. ia tampak geram dan marah pada Naruto. Semua gumaman Naruto membuatnya ingin meledak kapan saja. "Lupakan mereka, Naru! Kau sudah punya Uchiha! Mereka menyayangimu. Dan kau tau? bicaramu sekaan tidak menghargai mereka."
Naruto terdiam. Hanya suara isakannya yang masih terdengar. Dei benar, tidak seharusnya ia masih mengharapkan Minato dan Kushina. Tidak seharusnya ia masih merasa iri pada Sakura karena ia sudah berhasil merebut hati 'mantan' kedua orang tuanya. Tapi..
"Apa salah kalau aku mengharapkan orang yang sudah melahirkanku? Meski harapan yang kuinginkan hanyalah sebuah pelukan hangat?"
Ya, hanya pelukan hangat yang ia inginkan. Sekeras apapun ia berusaha menolak perasaan rindu, tetap saja ia ingin berhambur memeluk kedua orang itu dengan erat. Naruto tau, perasaan itu seharusnya sudah ia buang jauh-jauh dari kehidupannya. Ia harus menjadi gadis tegar dan mungkin gadis berwajah tembok seperti Sasuke. Mengingat seorang Uchiha minim ekspresi.
Naruto berlari mendahului Sasuke, Ino, dan Dei dengan tiba-tiba. Sasuke yang tadinya ingin membuka pintu mobil mengurungkan niatnya dan memberikan kunci mobil itu pada Dei, sementara dirinya mengejar Naruto.
"Ck. Bodoh." Gumam Sasuke. Matanya fokus menatap Naruto yang jaraknya tidak jauh lagi darinya.
SET..
"Berhenti, Baka!"
Sasuke menarik tangan Naruto dan memeluk tubuh Naruto dengan erat. "Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, cobalah untuk merelakan mereka." Ucap Sasuke pelan. Ia mengusap puncak kepala Naruto dengan sayang.
Naruto diam, ia menyandarkan kepalanya didada bidang Sasuke. Aroma mint segar sempat menggelitik hidungnya. Perasaan nyaman membuatnya enggan untuk beranjak ataupun menjawab semua perkataan Sasuke. Sepertinya ia telah terkena sihir. Ya, sihir ajaib sang Uchiha.
"Aku lelah, Suke. Aku ingin mati." Lirih Naruto.
Onyx Sasuke membulat. Ini yang ia takutkan, mental Naruto kembali terganggu hingga ia berkata yang tidak jelas seperti ini. Sasuke takut kalau Naruto akan bertindak yang tidak-tidak untuk mengakhiri hidupnya.
"Kau tidak boleh bertindak yang macam-macam, Naruto." Sergah Sasuke. Ia melepas pelukannya dan memegang bahu Naruto dengan erat. Onyx nya menatap tajam shappire Naruto. Mata shappire itu meredup. Tidak ada lagi sinar keceriaan didalamnya. Sama seperti dulu, saat ia dikeluarkan dari nama keluarga Namikaze.
"Untuk apa aku hidup? Untuk menyaksikan semua itu?" Naruto menunduk, ia mulai terisak kembali. "Semua itu membuatku mati perlahan, mati perlahan dengan menyakitkan."
"Naruto!" Sasuke menggeram, ia mengguncang pelan bahu Naruto. "Berhenti mengoceh yang tidak jelas, kau masih punya aku, kaa-san, tou-san, dan yang lain! Kau benar-benar membuatku kecewa, Naru."
Sasuke melepaskan genggamannya dibahu Naruto. Ia berbalik memunggungi Naruto yang masih menunduk. Rasa kecewanya sudah memuncak. Ia tahu, rasanya menjadi Naruto. Tapi, bukankah dia sudah mempunyai keluarga baru yang lebih menyayanginya? Kurang apa mereka pada Naruto? Semua pertanyaan negatif berhamburan didalam otaknya. Jelas saja ia marah, Naruto sudah berlebihan. Sebagai orang yang sering ditinggal pergi keluarganya, seharusnya Naruto bisa sedikit lebih mudah melupakan mereka. Tapi kenyataannya? Naruto bersikap layaknya anak manja yang ingin mendapatkan boneka beruang diatas gunung Himalaya. Terlalu sulit untuk digapai.
Tiiinn...
Mobil Sasuke yang dikendarai Dei telah tiba. Ino segera keluar mobil dan memapah Naruto memasuki mobil. Ino sempat berhenti memandang Sasuke.
"Kau tidak mau masuk?" Ujar Ino.
Sasuke menggeleng. "Aku ada urusan, kalian pulang saja duluan."
Ino hanya memandang Naruto dan Sasuke secara bergantian. Ia menghela nafas. 'Masalah lagi.' Ucapnya dalam hati.
Sasuke memandang mobil mewahnya yang sudah mulai menjauh. Hingga ia kembali mengalihkan pandangannya saat mobil itu sudah menghilang dibalik tikungan. Seperti biasa, ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku nya lalu berjalan dengan tenang. Wajahnya semakin telihat dingin dan tidak bersahabat.
"Aku harus menyelesaikan ini semua." Gumamnya.
.
.
Ino masih memapah Naruto setelah tiba di mansion Uchiha. Wajah Naruto semakin pucat, iapun berjalan semakin melambat.
"Khh.."
Naruto terduduk. Tangan kanannya memegang dada kirinya. Kedua matanya ia pejamkan, ia meringis.
"Na—Naruto?! Dei! Hey.." Ino gelagapan. Ia berusaha membantu Naruto untuk duduk disofa, tapi tidak bisa. Hingga yang lainpun datang.
"Naru-chan? Astaga!" Pekik Mikoto.
"Ugh.. Kaa-san.. Gomen.." Lirih Naruto, lalu gelap menghampirinya.
Tubuh Naruto terkulai begitu saja. Semua orang panik. Mereka segera membawa Naruto kerumah sakit. Bahkan keberadaan Sasuke pun terlupakan.
.
Sasuke telah tiba disebuah mension besar. Ia menatap datar seorang satpam yang tengah mengintrogasinya.
"Aku ingin bertemu Minato." Ucap Sasuke.
"Untuk apa, bocah? Kau sudah membuat perjanjian dengannya?" Tanya satpam itu.
Sasuke semakin menyipitkan kedua matanya. "Ini penting."
Dengan seenak jidatnya, Sasuke mendorong pintu gerbang itu. Sang satpam yang malang itupun terbentur dengan keras. Sementara Sasuke hanya mendelik, dan mendengus. "Siapa suruh membuat waktuku terbuang sia-sia." Ucapnya datar.
Satpam itu hanya terduduk. Dahinya memar. (jahat sekali kau Sasuke -_-)
Sasuke menekan tombol bel beberapa kali. Hingga kesabarannya sudah diubun-ubun. Barulah pintu itu terbuka. Seorang yang menyebalkan dengan warna rambut yang khas menyeruak dipandangannya. Pink, warna Sakura. Sama seperti namanya.
"Minato. Aku ingin bertemu Minato." Ucap Sasuke to the point.
"Untuk apa?"
"Ini urusanku dengannya."
Sakura sedikit menyingkir untuk mempersilahkan Sasuke masuk. Ia menyuruh Sasuke menunggu diruang tamu.
Sasuke mengedarkan pandangannya. Ruang tamu ini hampir tidak ada bedanya dengan dulu, kecuali pigura besar yang tergantung ditembok. Dulu, pigura itu bergambarkan Naruto, Minato, Kushina, dan Kurama. Dan sekarang? pigura itu telah berganti gambar. Menjadi gambar Sakura, Minato, dan Kushina.
Sasuke mendengus geli. Betapa buruknya perilaku Mnato dan Kushina dimatanya. Tidak pantas dicontoh siapapun. Tidak lama kemudian, Minato datang dan Sakura membuntutinya dari belakang.
"Apa yang kau butuhkan disini, Sasuke?" Minato tersenyum ramah.
"Jangan datang lagi ke kehidupan Naruto."
Senyum Minato seketika menghilang. Minato sedikit merubah posisi duduknya. Ia terlihat gelisah. "Kenapa?"
Sasuke berdiri. "Karena Anda adalah mimpi buruk bagi Naruto."
Setelah berkata seperti itu, Sasuke beranjak dari rumah Minato. Sementara Minato mengepalkan kedua tangannya. Ia mengambil ponsel yang ada disakunya, menekankan beberapa angka lalu menempelkan ponsel itu ketelinga kanannya.
"Aku ingin kau membereskan si bungsu Uchiha itu dengan bersih." Ucapnya dingin lalu tersenyum hangat kearah Sakura.
'Lihat betapa bahagianya aku, Naruto.' Ucap Sakura dalam hati.
.
Sasuke berjalan dengan santai sama seperti sebelumnya. Sesekali ia menendang beberapa kerikil dihadapannya dengan pelan. Ia tidak tahu mau kemana. Ia belum siap bertemu Naruto, ah ya, perasaannya jadi tidak enak jika mengingat Naruto. ia mengambil ponselnya, dan merutuki ponsel itu karena baterainya telah habis. Ia bahkan tidak berniat pulang sebentar untuk mengganti seragamnya.
Akhirnya, ia sudah putuskan ia akan ketaman. Suasana taman yang sedikit sepi akan menjernihkan fikirannya. Ia duduk dibangku kayu dibawah pohon plum besar. Matanya menatap kosong air mancur yang ada dihadapannya. Ia teringat kembali kejadian tadi.
"Anda tuan Uchiha?"
Suara seseorang dibelakangnya mengagetkannya, ia hendak menoleh namun..
Brukk..
"Khh.."
"Anda harus mati, Tuan." Suara itu begitu dingin.
Mata Sasuke memburam karena seseorang itu telah memukul tengkuk lehernya dengan keras. Dan ada orang lagi yang memukul kaki kirinya sehingga ia tersengkur. Mereka terus menerus memukulnya. Sasuke tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, semua mati rasa. Hingga ia tidak sanggup lagi untuk bertahan. Matanya terpejam dengan luka dan darah yang merembes dari setiap bagian tubuhnya.
.
"Aku.. Dimana?"
Sasuke menatap sekelilingnya. Ruangan luas berwana putih bersih terlihat olehnya. Ada beberapa pintu besar dikanan, kiri, dan didepannya. Ia melangkah, dan berdiri tepat pada pintu yang ada didepannya. Ia memegang gagang pintu itu dengan ragu.
Cklek..
Wusshh..
Angin menyejukkan menyambutnya ketika ia membuka pintu itu. Pandangan yang menakjubkan memanjakan matanya. Sebuah pemandangan yang dipenuhi hijaunya rerumputan dan sebuah danau besar yang terlihat bening.
"Wow.." Gumamnya takjub. Tanpa sadar, ia melangkah masuk.
Mata onyx nya menjelajahi setiap pemandangan yang ada, namun matanya menyipit saat ia melihat seseorang yang tengah terduduk dibawah pohon rimbun. Tanpa buang waktu, ia segera menghampiri orang itu.
"Dobe?!"
Gadis pirang itu menoleh saat suara baritone itu terdengar. "Teme?!" Gadis itu terlonjak, ia bangkit dari duduknya dan menatap Sasuke dengan kaget. "Bagaimana bisa?!"
Sasuke menggeleng. Ia terlihat gugup. "Ini dimana?"
Naruto menghela nafas. "Diantara hidup dan mati." Naruto mengikuti gerak-gerik Sasuke yang tampak gelisah. "Ada apa denganmu? Kenapa kau ada disini?"
"Bagaimana caranya keluar dari sini?"
Naruto mengepalkan kedua tangannya. "Jangan bertanya sebelum kau menjawab pertanyaanku, Teme!"
"Aku.. Aku dipukuli. Mereka bilang mereka ingin aku mati."
Shappire Naruto membulat. Setetes air mata jatuh begitu saja. Sasuke sekarat karena dipukuli? Dan Sasuke ingin dibunuh?
"Siapa mereka?"
Sasuke menggeleng. Ia tidak tahu. Seandainya saja matanya tidak memburam, pasti ia dapat melihat orang itu dengan jelas.
Naruto kembali duduk. "Aku nyaman disini."
Sasuke menoleh, ia duduk disamping Naruto. ia tidak berkomentar apapun.
"Penyakitku tidak akan kambuh disini. Aku juga tidak akan bertemu dengan mantan orang tuaku dan Sakura."
"Berarti kau juga tidak ingin bertemu kami?"
Naruto mengalihkan pandangannya. "Aku ingin bertemu kaa-san, tou-san, dan itachi-nii. Bahkan aku juga ingin bertemu dengamu. Tapi tidak kusangka, kita bertemu disini."
Hening. Mereka berdua terdiam. Semua berkelut dengan fikiran masing-masing. Naruto mungkin akan bahagia disini, tapi Sasuke? Ia ingin pulang, ia ingin memeluk ibunya dan kembali bertemu keluarganya. Tapi ini tempat diantara hidup dan mati. Apa dia akan hidup? Atau mati.. ?
Sasuke memejamkan kedua matanya dengan risau. Ia belum siap mati. Ia masih ingin hidup. Sasuke melirik kearah Naruto. Gadis itu tampak tenang, sesekali gadis itu tersenyum.
"Apa kau sudah siap mati?" Tanya Sasuke dingin.
Tanpa menoleh, Naruto mengangguk. Sekali lagi ia tersenyum. "Aku siap. Tapi, aku pasti akan merindukan kalian. Merindukan masakan kaa-san, merindukan Itachi-nii, merindukan tou-san, dan pastinya.. aku akan merindukanmu." Ada sedikit nada sedih diakhir kalimat yang diucapkannya.
"Kalau begitu, kembalilah."
Naruto menoleh kaget. "Aku tidak mau, kau masih disini. Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri!"
"Mungkin bukan kau yang akan mati, tapi aku."
Naruto semakin gelisah. Air matanya menetes begitu saja. "Aku tidak mau. Aku tidak mau. A—Aku menyukaimu, Suke. Aku ingin kau kembali."
"Aku juga menyukaimu. Tapi aku tidak akan sanggup kalau kau yang pergi."
Naruto semakin terisak. Ia memeluk Sasuke dengan erat. Naruto tidak tahu bagaimana rasanya nanti saat Sasuke sudah tidak ada lagi didunia ini. Meninggalkannya sendiri menghadapi mantan orang tuanya dan si monster pink. Selama ini Sasukelah malaikat pelindungnya, jika Sasuke tidak ada siapa yang akan melindunginya?
"Sebelum malaikat datang dan memberitahuku siapa yang akan mati diantara kita, aku tidak akan percaya pada semua kata-katamu,Teme!" Isak Naruto.
Sasuke tersenyum tipis, ia mengusap lembut puncak kepala Naruto. "Hn."
.
Didunia nyata, kedua orang itu tengah dirawat intensif. Naruto yang jantungnya semakin melemah mempunyai garis hidup yang tipis. Begitu pula Sasuke, banyaknya darah yang hilang dan beberapa luka parah yang ia terima membuatnya sulit untuk dikatakan lolos dari kritis. Keluarga Uchiha, Ino, Dei, Kurama, dan sahabat-sahabat kedua orang itu tengah berkumpul. Mereka bergantian untuk menenjenguk Naruto dan Sasuke.
"Kenapa? Kenapa harus mereka berdua?" Gumam Kurama. Air mata nya terus mengalir deras. Ia khawatir. Keadaan mereka berdua tengah kritis. Dan apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa menangis dan berharap agar Tuhan tidak mengambil nyawa mereka.
"Sudahlah, Ku. Mereka pasti akan sembuh dan sadar." Ucap Itachi mencoba menenangkan si sulung Namikaze itu.
Kurama melirik Mikoto dan Fugaku. Mikoto sudah beberapa kali pingsan sejak tadi. Dan Fugaku selalu menghela nafas cemas. Bahkan Fugaku tidak tampak seperti biasanya yang santai dan tegas. Raut kecemasan dan khawatir sangat tergambar diwajahnya.
'Lihat bagaimana mereka menyayangi kalian berdua, cepatlah sadar.' Ucap Kurama dalam hati seraya melihat Naruto dan Sasuke dari balik kaca.
Drt.. Drt.. Drt..
Kurama menoleh kearah Itachi, ia terus memperhatikan Itachi sampai si sulung Uchiha itu selesai menerima telepon.
"Para polisi berhasil menemukan orang yang memukuli Sasuke." Ucap Itachi pelan.
Kurama mengangguk lalu mengikuti Itachi pergi kekantor polisi.
.
Kedua orang berbadan besar sangat terlihat bahwa mereka adalah seorang bodyguard tengah menunduk dalam. Merek telah terjaring oleh polisi karena kasus pengkroyokan. Itachi menatap mereka dengan benci.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Ucap polisi.
Kedua orang itu terdiam. Mereka tidak menjawab sama sekali.
"Hukuman kalian akan ditambahkan menjadi seumur hidup jika kalian tidak menjawab." Ucap polisi itu lagi.
Kedua orang itu menahan nafas dan mendongak. "Yang menyuruh kami adalah Minato Namikaze-sama. Kami mohon, jangan hukum kami seumur hidup." Ucap salah satu orang itu dengan lirih. (bodyguard ko luluh begitu sih -_-#bodygurad kan juga manusia :D)
Kurama menggeram. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Biar aku yang mengurus Minato, Itachi." Ucap Kurama dingin seraya beranjak dari kantor polisi itu.
Kurama mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika marah-marahpun percuma, ia tau bagaimana sifat ayahnya. Minato tidak akan mendengarkan apapun tentang omelannya.
"Tsunade baa-san!" Gumamnya semangat.
TBC
Sikap Minato semakin menyebalkan. Bagaimana keadaan Sasuke dan Naruto? akankah hidup mereka berakhir? Lalu apa yang akan dilakukan Kurama dan Tsunade untuk Minato? Tunggu jawabannya di chapter selanjutnya ne!
Yosh! Chapter 6 update! Bagaimana? Ancur kah? Atau semakin aneh? Atau semakin pendek? Hehe Gomen'nasai. Oh iya, untuk adegan SasoDei nya nanti yaa... :D
Thanks To :
kirei- neko, gothiclolita89, Luca Marvell, Uzumaki-Namikaze Serizawa, Uzumaki Namikaze Ra, Hyull, Dragon warior, Axa Alisson Ganger, akbar123, chinatsu ichihara, kawaihana, Elis kuchiki, Sentimental Aquamarine, Nauchi Kirika-RE22, amour-chan, Ymd, NuruHime-chan19, Natsu Namikaze, Guest, yuichi, namikaze yoake, BlackRose783, AyuClouds69, , Naminamifrid, Keira Natsuka, afifahfebri235, Ara Uchiha, Yuuki No Hime, elfarizy, sfsclouds, dan Juuhachi Nigatsu.
Doumo Arigatou Gozaimasu minna-san! Review kalian membuat Runa semangat :D terimakasih untuk kalian semua yang sudah me review di cahpter 5 kemarin. Semoga chapter 6 ini memuskan yah! Jangan lupa REVIEW REVIEW REVIEW laaagggiiii... jaaa...
