"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Runa BluGreeYama
Kurama mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika marah-marahpun percuma, ia ta betul bagaimana sifat ayahnya. Minato tidak akan mendengarkan apapun tentang omelannya.
"Tsunade baa-san!" Gumamnya semangat.
.
.
Mobil mewah Kurama melaju dengan cepat. Ia tidak sabar untuk menemui nenek nya, Tsunade. Ia bahkan tidak menggubris omelan-omelan dari pengendara lain yang terganggu akibat gaya berkendara Kurama. Yang ia fikirkan kali ini hanyalah sesuatu yang bisa membalaskan penderitaan adiknya, Naruto dan Sasuke.
Seharusnya ia sudah harus mendiskusikan tentang hal ini pada neneknya sejak dulu, tapi a terlalu menyepelekan waktu. Hingga akhirnya, hanyalah penyesalan yang bisa ia terima. Sama seperti pepatah, penyesalan selalu datang terakhir.
"Kheh." Kurama mendecih, "Ini masih belum berakhir. Belum sampai di akhir cerita. Belum saatnya pula aku harus menyesal. Sasuke dan Naruto itu kuat. Ya, mereka kuat mereka akan bertahan."
Kurama kembali teringat Naruto dan Sasuke. Mereka masih dalam keadaan yang kritis saat ia pergi dari rumah sakit. Kurama memukul pelan stir mobilnya. Tidak terasa setetes air mata menetes mengalir dipipinya. Namun dengan kasar ia kembali menghapus jejak air mata itu hingga tidak bersisa.
"Iblis itu harus tau bagaimana rasanya sakit dan penderitaan." Gumam Kurama.
Kurama pun menghentikan laju mobilnya saat ia sampai dirumah besar kediaman neneknya. Ia segera masuk kedalam rumah besar itu tanpa permisi.
"Baa-san! kau ada dirumah?" Teriak Kurama lantang. Beberapa pelayan pun mempersilahkannya duduk diruang tamu.
"Tsunade-sama ada didalam. Akan saya panggilkan." Ucap salah satu pelayan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Tsunade menghampirinya. Wanita yang sudah berkepala 6 dan masih tampak cantik itu mengekspresikan ketidaksukaan. Kebisingan adalah hal yang tabu untuknya. Karena kebisingan akan mengganggu proses istirahat dan kecantikannya. "Bocah, dimana sopan santunmu, hah? Berteriak seperti itu." Gerutu Tsunade.
Kurama meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Baa-san, aku butuh bantuanmu. Apa kau sudah tau keadaan Naruto dan Sasuke?"
Seketika, Tsunade menghela nafas. Fikirannya melayang saat orang kepercayaannya menelfon dan memberitahukan keadaan Sasuke dan Naruto secara rinci. Dengan tegas pula Tsunade ingin mengusut lebih jauh lagi siapa yang berani membuat mereka seperti itu. Bagaimanapun, Uchiha adalah kolega terbaik yang pernah Namikaze punya. Bahkan bukan hanya Tsunade anggap sebagai kolega, tapi sebagai keluarga.
"Kedua bocah itu tengah di rawat intensif dan masih kritis, lalu?" Suara serak Tsunade akhirnya terdengar.
"Sasuke hendak dibunuh oleh pesuruh Minato. Bagaimanapun Sasuke sudah seperti adikku. Aku khawatir." Gumam Kurama. Ia menunduk dalam, benar-benar seperti bukan Kurama
"Aku berencana, akan memindahkan kekuasaan perusahaan Namikaze padamu. Dan tidak memberikan Minato sepersenpun kekayaanku ataupun harta perusahaanku." Ucap Tsunade.
Kurama terbelalak. "Padaku? Kau menyerahkan seluruh aset perusahaan padaku?!" Teriak Kurama shock.
Tsunade terkekeh. "Ya, selama ini Minato masih dibawah pengawasanku. Sekarang sudah kuputuskan aku akan menyerahkan semuanya padamu. Besok kuharap kau datang kerapat perusahaan."
Kurama menghela nafas. Ia menyenderkan punggungnya disofa. Liburan dan kesenggangan waktu yang selama ini diharap-harapkannya akan segera menjauh. Ia harus mengucapkan selamat datang pada tumpukan berkas-berkas yang melebihi gunung dan kesibukan-kesibukan lainnya.
Beberapa hari lalu, Kurama sempat berniat ingin mengajak Naruto jalan-jalan. Sekedar untuk refreshing dan melepas penat. Siapa tahu saja penyakit Naruto akan jarang kambuh kalau ia jalan-jalan. Tapi, siapa sangka tumpukan berkas yang sebenarnya ingin Kurama buang ke gudang belakang dan membakar semua kertas-kertas itu bersama gudang-gudangnya juga akan membuat planning yang telah Kurama buat hancur begitu saja?
Ngomong-ngomong soal gudang...
"Ah, Baa-san. Bisa kau ceritakan soal kebangkrutan yang sempat dialami perusahaan kita dulu?" Tanya Kurama tiba-tiba.
Kurama sempat penasaran karena beberapa berkas lusuh yang pernah ditemukannya di gudang perusahaan. Disana tercatat beberapa tahun silam perusahaan Namikaze sempat diberitakan akan bangkrut karena suatu hal. Kurama belum sempat membaca lebih karena Minato langsung memanggilnya dan melarangnya memasuki gudang itu.
Tsunade sempat menaikan salah satu alisnya. Bagaimana bocah itu bisa tahu tentang hal yang paling buruk bagi perusahaannya? Padahal ia sudah mengubur dalam-dalam kejadian itu untuk siapapun, walaupun itu Kurama. Kejadian hampir bangkrutnya perusahaan itu akan membuat perusahaan lain mudah untuk membuat perusahaan Tsunade kembali bangkrut, mengingat persaingan bisnis sangat ketat di sekitar mereka.
"Itu.. Yang ku ingat saat umur adikmu berkisar 5 tahun lebih. Perusahaan kita hampir mengalami kebangkrutan karena gagalnya proses kerjasama dengan perusahaan Sabaku. Hanya karena berkas-berkas yang menunjang kerjasama itu dirusak oleh adikmu.."
Kurama mengangkat satu alisnya. Ia bingung. "Bagaimana bisa?"
Flashback..
"Tou-san.. Kaa-san.." Naruto kecil terisak pelan seraya menyeret boneka beruang besar dengan tangan kanannya. "Ayo main.. Nii-san.. Ayo main.."
Naruto semakin terisak, sesekali ia menghapus kasar air mata yang mengalir dipipinya. Yang ia inginkan hanyalah bermain, entah mengapa semua orang terasa sulit untuk diajak bermain olehnya. Kini ia terasa berbeda, berbeda dari anak-anak yang lain. jika anak-anak yang lain bisa bermain dan berkumpul bersama keluarganya dengan mudah tanpa harus menunggu waktu libur panjang atau hari besar tiba. Sementara dirinya? Lihatlah sekarang, mereka tidak mendengar semua tangisannya, mereka tidak mendengar semua ucapannya dan mungkin mereka tidak pernah menyadari kehadirannya.
Naruto mengetuk pelan pintu ruang kerja ayahnya. Saat dirumah seperti ini biasanya Minato berkutat didalam ruangan itu hingga seharian penuh dan hanya keluar jika waktu makan saja. Naruto sedikit berharap jika ayahnya itu mau bermain atau setidaknya menemaninya tidur siang.
CKLEK..
Mata shappire Naruto membola senang. Ia menggenggam teddy bearnya dengan erat. "Tou-san! ayo bermain!" Ajaknya dengan riang. Tangan kecilnya ingin menggapai tangan besar Minato, namun dengan cepat Minato menepisnya. Minato memijit pelan pangkal hidungnya.
"Tou-san sibuk, Naru." Ucapnya pelan seraya berlalu meninggalkan Naruto yang masih mematung. Naruto menolehkan kepalanya, menatap sendu punggung sang ayah yang semakin menjauh.
"Gomen.." Lirihnya pelan. "Ng?" Naruto kembali menoleh kearah pntu ruangam kerja Minato yang setengah terbuka. Suasana yang dingin sedari tadi menyentuh kulit putihnya, mungkin karena AC yang menyala didalam ruangan itu.
Naruto memasuki ruangan itu. Kepalanya menoleh kesana kemari karena ia baru pertama kali memasuki ruangan itu. Selama ini Minato selalu melarangnya memasuki ruangan itu. Naruto memandang tumpukan berkas yang ada dihadapannya. Ia meraba berkas itu dengan pelan, seolah ia takut akan merusaknya. Tumpukan berkas itu bertumpuk dibawah lantai dengan berantakan, terlihat seperti tidak terpakai.
Dengan penasaran, Naruto mengambil selembar kertas yang ada diujung meja yang berada didekat tumpukan berkas itu. Ia penasaran karena kertas itu menyembul sedikit kearahnya, membuatnya harus berjinjit untuk mengambil kertas itu diatas meja yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
"Sa—b—ba—kku.. Co—Corp?" Naruto mengeja nama yang ada dilembaran kertas itu. "Apa itu Sabaku corp?" Gumamnya lagi.
Naruto mengangkat bahunya acuh. Ia tersenyum senang dan berjongkok, ia melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat-pesawatan. Setelah selesai, ia berdiri dan mulai menerbangkan pesawat-pesawatannya dengan riang. Ia bahkan tidak menghiraukan boneka teddy bear yang tergeletak dibawah kakinya.
"Naruto?!"
Naruto menoleh kearah pintu, Minato yang tengah membawa secangkir minuman itu tengah menatapnya heran.
"Apa yang sedang kau lakukan ditempat kerja Tou-san?"
Suara Minato terdengar khawatir. Mungkin ia khawatir akan berkas-berkas yang besok akan digunakannya untuk kerjasama dengan Sabaku corp nanti. Ia meletakkan cangkir minumannya dimeja.
"Lihat tou-san! Naru membuat pesawat-pesawatan loh! Bagus kan?" Naruto menunjukan kertas yang telah lusuh dan jelek itu kearah Minato.
Mata biru Minato membola, dengan cepat ia merampas kertas itu dari Naruto dan membaca isi-isi dari kertas tersebut. Nafasnya terhenti, tangannya gemetar, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Selembar kertas yang telah dibuatnya selama 5 hari penuh itu telah menjadi sampah sekarang. Kertas itu memang hanya sebuah kertas perjanjian, tapi itu berharga. Tanpa selembar kertas itu, semua perjanjian dan penanaman saham Sabaku corp akan dihentikan. Bagaimana ia bisa sebodoh itu sampai-sampai bocah seperti Naruto memasuki ruangannya dan mengacaukan semuanya? Bahkan tumpukan kertas yang sebelumnya terlihat 'sedikit rapih' kini telah terjatuh berantakan, mungkin karena Naruto menyenggolnya saat bermain pesawat-pesawatan.
"KELUAR!" Naruto tersentak saat suara ayahnya terdengar membentak. Ia memandang ayahnya yang tengah menunduk itu dengan sendu. "AKU BILANG KELUAR BOCAH TENGIK!"
Naruto gemetar. Apa salahnya? Kenapa ayahnya begitu terlihat menyeramkan? Naruto sedikit berjongkok untuk mengambil teddy bearnya lalu keluar ruangan itu dengan cepat. Ia berlari menuju kamarnya, entah sejak kapan air mata mulai mengalir dipipinya. Yang pasti, sekarang Naruto takut.
Tak lama kemudian ia mendengar suara bergemuruh didepan kamaranya, sepertinya banyak orang yang sedang mondar-mandir. Naruto tidak menggubrisnya, ia terlalu takut untuk keluar.
Tok.. Tok.. Tok..
Naruto menoleh kearah pintu, ia sedikit enggan untuk membukannya. Ia takut jika ia akan dibentak lagi.
"Ini aku, Kurama!"
Teriak orang itu dari luar. Naruto menghapus jejak air mata yang masih membekas di pipinya. Lalu berjalan gontai untuk membuka pintu kamarnya.
CKLEK..
Naruto memegang gagang pintu kamarnya dengan erat. Kepalanya menyembul keluar pintu. Ternyata Kurama tengah berada dihadapannya.
"Ada apa?" Suara serak Naruto terdengar lirih ditelinga Kurama. Kurama menghela nafasnya lelah.
"Kita besok akan pindah kerumah baa-san. Persiapkan barang-barangmu."
Setelah mengatakan itu, Kurama langsung pergi dari hadapan Naruto. Naruto menatap Kurama datar, sebelum Kurama memasuki kamarnya, ia sempat berhenti dan kembali menatap Naruto.
"Pastikan tidak ada barang berhargamu yang tertinggal, karena kita tidak akan kembali lagi kesini."
.
Dimulai saat itulah keluarga Naruto pindah kerumah Tsunade. Minato terpaksa menjual beberapa rumah yang dimilikinya untuk membantu dana perusahaan yang tidak bisa ditolong itu. Minato dan Tsunade bekerja ekstra selama 2 tahun untuk mengembalikan nama perusahaan kembali kepuncak kejayaan. Butuh perjuangan yang tidak main-main untuk perusahaan itu. Mulai saat itu pula, Minato membenci Naruto dan tidak ingin Naruto mencampuri urusan perusahaan. Ia takut perusaahaan yang sudah susah payah ia bangun ketika jatuh itu kembali hancur karena campur tangan Naruto.
Kalau saja warisan perusahaan yang Tsunade berikan untuk Naruto bisa Minato tolak, pasti ia akan melakukannya. Ia lebih percaya jika Kurama yang menjalankan semua perusahaan yang Tsunade punya daripada Naruto ikut campur tangan. Sebenarnya, Minato kesal dengan pernyataan surat wasiat yang sudah Tsunade buat. Ia sempat mendengar percakapan Tsunade dengan pengacaranya dulu. Ia mendengar kalau seluruh saham perusahaan belum ditentukan siapa pemegang selanjutnya, tapi ia akan menuliskan nama Kurama dan Naruto untuk kepemilikan perusahaan-perusahaan itu.
Minato sempat frustasi mendengarnya, ia bingung kenapa Tsunade tidak langsung memberikan semua perusahaan itu padanya? Padahal ia kan anak tunggal dari keluarga Namikaze. Seharusnya ia juga yang dijadikan pewaris tunggal, bukan kedua anaknya yang mendapatkan warisan itu dari tangan Tsunade.
Flashback off...
Kurama benar-benar tercengang mendengar cerita Tsunade. Ia berfikir, kalau ia jadi ayahnya dulu pasti ia juga akan merasakan hal yang sama. Sesuatu yang telah kita kerjakan dengan kerja keras, tapi dirusak begitu saja oleh orang lain bahkan sudah dijadikan sampah pasti akan terasa sakit, lelah, dan marah. Tapi..
Ah.. Kurama pening memikirkannya. Sekali lagi ia memijit pangkal hidungnya. Jadi hal itu yang membuat ayahnya membenci Naruto? lalu kenapa ayahnya mau merayakan ulang tahun Naruto yang ke 7 bahkan mau memberikan hadiah untuk Naruto? ah—
Mungkin karena itu adalah permintaan Kurama yang terbesar.
Ya, karena dulu Kurama sempat merengek untuk merayakan hari ulang tahun Naruto. Kurama sempat iba melihat sang adik yang terlihat kurang kasih sayang itu. Akhirnya ia meminta sesuatu kepada orang tuanya. Meski mereka sempat menolak, tapi akhirnya mereka mau karena Kurama sempat mengancam orang tua nya, ia tidak akan mau menjalankan perusahaan ayahnya nanti kalau ulang tahun Naruto tidak dirayakan.
Dan Sakura? Perusahaan Namikaze sangat banyak dan besar. Dibutuhkan 4 orang untuk menjalankan semua perusahaan itu. Kalau bisa disebutkan..
Kurama,
Minato,
Tsunade,
Dan Naruto..
Tapi, Naruto dilarang untuk menyentuh apapun yang berhubungan dengan perusahaan oleh Minato karena kejadian beberapa tahun silam itu. Dapat dipastikan, Minato sudah merencanakan pengeluaran Naruto dari klan dan menggantikannya dengan orang baru untuk membantunya menjalankan perusahaan Namikaze. Dan Sakura lah orangnya. Seorang yatim piatu, tidak memiliki keluarga lagi. Minato pun tidak perlu cemas kalau Sakura akan melorotkan kekayaannya, karena Sakura sendiri tidak punya keluarga.
Tapi, Minato tidak tahu. Ada maksud terselubung didalam benak Sakura yang masih tersimpan hingga sekarang.
"Sebaiknya aku menjenguk Naruto dulu." Gumam Kurama yang masih dapat didengar oleh Tsunade.
"Kau tidak istirahat dulu?"
Kurama menggeleng lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia yakin, adiknya membutuhkannya saat ini. meski do'a yang bisa ia berikan saat ini, tapi ia rasa itu cukup untuk Naruto.
.
.
Dari beberapa waktu yang lalu, posisi Naruto dan Sasuke masih sama. Duduk menyender di bawah pohon. Tangan kanan Naruto dan tangan kiri Sasuke saling bertaut. Mereka tidak tahu sudah berapa lama mereka berada ditempat ini, karena matahari atau bulan tidak ada. Bahkan jam pun tidak ada. Jadi mereka tidak bisa memperkirakan waktu.
Rasa bosan sudah menghampiri Naruto. ia menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke.
"Ne, Teme. Aku bosan." Gumamnya.
"Lalu kau mau apa?"
Naruto menggeleng. Ia tidak tahu, disini tidak ada mainan ataupun sesuatu yang bisa membuat bosannya hilang. Kalau dulu, ia sempat bercengkrama dengan sosok yang sama sepertinya. Dan setelah itu, ia kembali keraganya alias sadar. Waktunya sangat cepat, tidak selama sekarang. Sekarangpun ia hanya ditemani oleh Sasuke. Sementara Sasuke sangat irit bicara dan tidak mau bercengkrama panjang lebar. Berbicara panjang pada Sasuke pun percuma, pasti hanya akan dibalas 'Hn' saja.
koko wa doko na no darou?
sora wo miagete sagashita hoshi
watashi itsu no manika
hitori hagurete shimatta yo
nani mo osorenaide
tatoe hanaretetemo
zutto, zutto, minna kawarazuni..
Naruto dan Sasuke menoleh karah suara. Suara itu terdengar merdu dan indah. Terlihat seseorang bersurai pirang tengah membelakangi mereka.
yume no kawa wo watatta fune ga shizuka ni kishi ni tsuku yoakemae
hajimete no daichi ni ippo ashi wo ima fumidasu
mimi wo sobadatete mite
kaze no mukou ni kikoeru deshou?
donna tsurai toki mo
dare ga mimamottekureteru
fukai kiri no naka wo
nanika tomoshinagara
kitto, kitto, yoru no sono saki ni
mezashiteta basho
Sosok itu bernyanyi kembali. Naruto ingin menghampirinya namun lengannya ditahan Sasuke. Sasuke ikut berdiri dan menggenggam tangan kanan Naruto dengan erat.
"Dia terlihat sepertimu." Ucap Sasuke pelan, tatapannya masih menyorot kearah gadis yang tengah bernyanyi seraya memainkan air danau itu.
Naruto mengalihkan wajahnya yang sudah merona. Ia memperhatikan gadis itu lagi. Gadis itu tengah duduk dipinggir danau seraya bernyanyi dan memainkan air danau dengan tangan kanannya. Rambutnya juga pirang, persis seperti Naruto.
"Ah!" Naruto teringat sesuatu. Ia langsung menyeret Sasuke untuk menghampiri gadis yang tiba-tiba ada disana itu.
"Hei!"
Gadis mirip Naruto itu menoleh..
Deg..
Onyx Sasuke membola. Bagaimana bisa wajah itu persis seperti Naruto? berkali-kali ia memandang Naruto dan gadis itu secara bergantian. Mereka benar-benar mirip.. Cuma, warna pupil mereka yang berbeda. Kalau Naruto blue shappire, dan kalau gadis itu merah ruby.
"Ada seseorang lagi?" Tanya gadis bermata ruby itu. Ia memandang Sasuke dengan datar. "Jadi dia, yang special dihatimu?"
Blusshhh...
Wajah Naruto memerah saat mendengar kalimat terakhir gadis ruby itu. Sial, ia membocorkan perasaan Naruto. Malu, ya malu yang Naruto rasakan sekarang.
"Special?" Ulang Sasuke seraya menoleh kearah Naruto. Gadis itu tengah menunduk, karena wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Aku Naruko. Bagian Yami didalam diri Naruto." Ucap Naruko si gadis bermata ruby dengan datar. percis seperti Sasuke. Datar, flat, tanpa ekspresi.
"Dan dia yang selalu mengajak ku mengobrol saat aku tidak sadarkan diri." Lanjut Naruto.
Sasuke mengangguk. "Aku Sasuke."
"Aku sudah tau."
Naruko berjalan menghampiri Naruto. Dia menatap Naruto dengan datar. "Sudah kubilang, biarkan aku yang mengambil alih hidupmu. Apa kau tidak lelah diperlakukan seperti ini? Sikapmu terlalu bodoh!"
Sasuke menaikan sebelah alisnya. Apa-apaan gadis ruby itu? Memarahi Naruto seenaknya dan bilang ia ingin mengambil alih hidup Naruto?
"Hidupku sudah hampir tenang, Ruko-chan. Berhentilah mengkhawatirkanku." Ucap Naruto seraya tersenyum manis.
Naruko berdecak. "Sifat baikmu memuakan!"
"Hey!" Naruto merengut, sifat Naruko memang menyebalkan. "Ah ya, kapan aku bisa sadar? Dan kapan Sasuke bisa kembali?"
Naruko menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Ia kembali memainkan air danau dengan tangan kanannya. Matanya masih menyorot dalam.
"Aku bukan pengatur jadwal. Aku tidak tahu kapan kalian akan kembali ke raga kalian masing-masing." Naruko menghentikan aktifitasnya, ia menoleh kearah Naruto dan tersenyum samar. "Kalau aku bisa memperkirakan, mungkin kau bisa sadar sebentar lagi."
"Hah? Benarkah? Tapi.. Bagaimana.. Hey! Naruko!" Naruto hendak bertanya lebih lanjut, tapi Naruko sudah menghilang begitu saja. "Tapi, bagaimana denganmu? Kapan kau akan sadar?" Gumam Naruto lirih seraya menoleh kearah Sasuke
Naruto tidak mau meninggalkan Sasuke ditempat ini sendiri. Ia juga tidak mau melihat Sasuke tidak sadarkan diri didepan matanya. Karena rasanya menyakitkan, Naruto ingin Sasuke selalu ada disisinya. Egois memang, tapi perasaan aneh itu yang menuntut Naruto harus bersikap egois.
"Aku akan menunggu waktuku untuk sadar. Dan.. Naruto, maukah kau menungguku yang tengah tidak sadarkan diri disana?" Ucap Sasuke pelan seraya balas menatap Naruto.
"Tentu.. Sampai kapanpun.."
.
.
Blue shappire itu terlihat sedikit demi sedikit. Mata itu masih belum fokus, ia masih berusaha melihat sekelilingnya yang belum jelas terlihat. Ruangan itu sedikit remang, hanya ada 1 lampu yang menerangi ruangan itu. Naruto mencoba mengangkat tangan kirinya yang sedikit terasa berat. Ia menoleh kearah kiri, ternyata Kurama tengah tertidur disana. Naruto sedikit iba melihat kakaknya, pasti lelah tertidur dengan keadaan duduk seperti itu.
Namun, Naruto menolehkan kepalanya kearah kanan. Dimana terdapat jendela disana. Dua jendela yang hanya tertutup tirai putih yang tipis. Malam yang gelap menyeruak dipandangannya.
"Ternyata sudah malam." Naruto melihat jam dinding yang tak jauh darinya. Pukul 01.30 waktu setempat.
"Apa kabar ya Sasuke?" Gumamnya. "Aku..."
"Kau sudah sadar, Naruto?" Perkataan Naruto terhenti saat Kurama terbangun dari tidurnya. Naruto menoleh dan tersenyum manis.
"Ya.."
Kurama tampak senang. Ia tersenyum manis kearah Naruto. "Tidurlah lagi. Ini masih malam."
Naruto menggeleng. Ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal. "Um, Nii-san.. Tadi, aku bermimpi aneh."
Kurama terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Jangan-jangan Naruto tau soal Sasuke, tapi darimana? Tidak mungkin.
"Aku bertemu Sasuke ditempat diantara hidup dan mati. Dan ketika aku sudah kembali, ia masih berada disana. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali."
Mata Kurama membola. 'Hah? Mimpi apa-apaan itu? Mana bisa Sasuke menemuinya dialam seperti itu?'
"Aku ingin bertemu Sasuke. Dia ada dimana? Jemput dia kesini, Nii-san." Ucap Naruto sendu.
Kurama terdiam sekali lagi. Ia tidak bisa melakukan apa yang diminta Naruto. Sasuke tengah tidak sadarkan diri, mana mungkin ia menjemputnya keruangan Naruto. lalu apa yang harus dilakukannya?
"Tidak bisa, kau harus sembuh dulu. Besok kau bisa menemuinya." Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulut Kurama.
Naruto merengut, ia duduk dan menyandarkan punggungnya dengan bantal. Tangannya ia lipat didepan dada. Ia kesal, seharusnya Sasuke berada disampingnya sekarang. menjaganya dan meminta maaf atas sikapnya waktu itu. Setidaknya ia harus merasa bersalah pada Naruto. tapi kenyataannya? Naruto tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Dasar, cowo nyebelin.
"Huh.."
Naruto mendengus, ia membuang muka. Ia menatap langit hitam yang berada diluar jendela. Tapi, kenapa perasaannya tidak enak? Apa yang sebenarnya terjadi? Naruto benar-benar khawatir disela kekesalannya pada Sasuke.
Naruto menoleh kearah Kurama, ternyata kakaknya itu sudah tertidur lagi di sofa. Sepertinya Kurama benar-benar lelah. Naruto mencabut selang infus yang menancap ditangan kanannya. Ia sempat meringis pelan. Setelah itu ia mengendap-ngendap keluar dari ruangan bernomor 201 itu.
Cklek..
Pintu ruangan itu tertutup pelan, sangat pelan. Naruto kembali mengendap-endap, padahal belum tentu suara kakinya akan terdengar meski dia tidak mengendap-endap. Naruto tidak tahu harus kemana. Yang jelas, perasaannya menuntunnya kesuatu tempat yang akan mempertemukannya dengan Sasuke. Umm, mungkin semacam suatu ikatan batin.
Naruto sempat mengangkat satu alisnya saat kaki jenjangnya membawanya keruang UGD. Ia mengintip dari balik tembok saat ia mendengar suara derap langkah. Dua sosok bayangan terlihat dimatanya, mereka tengah membicarakan sesuatu. Sepertinya mereka baru saja keluar dari ruang UGD itu. Perlahan-lahan 2 sosok itu semakin terlihat, ternyata mereka adalah Itachi dan Deidara.
'Hah? Ngapain mereka diruangan itu?' Ucap Naruto didalam hati. Ia terus menatap gerak gerik Itachi dan Dei hingga mereka hilang dibalik tikungan lorong. Naruto menoleh kekanan dan kekiri untuk melihat keadaan. Setelah ia kira cukup aman, ia kembali mengendap-endap keruangan UGD itu.
Cklek..
Pintu terbuka, aroma obat-obatan yang khas menusuk hidung Naruto. Ia masuk keruangan itu dan kembali menutup pintunya. Diruangan itu hanya terdapat 2 tempat tidur, yang satu didekat pintu kosong, dapat dipastikan orang yang dijenguk Itachi dan Dei itu berada dibalik tirai dekat jendela.
Perlahan Naruto menyibakkan tirai itu..
"Sasuke?!" Pekik Naruto. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Sasuke tengah tidak sadarkan diri dengan berbagai macam alat yang menancap ditubuhnya. Bernafaspun ia memakai alat. Beberapa bagian tubuhnya telah diperban. Suara Naruto seperti tercekat. Berarti perasaan khawatirnya ini beralasan? Dan mimpinya itu sebenarnya kenyataan?
Bruk..
Naruto mendudukan dirinya, tangannya masih membekap mulutnya agar ia tidak bersuara. Karena tangisnya sudah tidak bisa dibendung lagi..
"Hiks... Sasuke.. Hiks.." Gumamnya lirih.
Naruto bangkit dari duduknya dan mulai menghampiri Sasuke. Ia menarik kursi dan duduk disebelah tempat tidur Sasuke.
"Aku akan menunggumu sampai kau sadar, Teme." Lirihnya seraya mengusap pelan surai reven Sasuke.
Mata Naruto tiba-tiba sulit untuk terbuka. Sepertinya ia lelah, ia melipat kedua tangannya dan menjadikan tangannya sebagai bantal. Ia pun terlelap disamping Sasuke.
.
"Besok aku akan menjenguk kedua anak itu lagi sepulang sekolah." Ucap Dei seraya melirik kearah Itachi.
Itachi mengangguk pelan. Lalu ia melambaikan tangan kanannya kearah Sasori yang telah menunggu didalam mobil.
Loh, Sasori?
"Cepatlah.. Sasori sudah menunggumu lama, bodoh." Ucap Itachi seraya mendorong Dei pelan.
Dei merengut kesal sekaligus merona. Ya, beberapa hari ini ia sedang dekat dengan Sasori. Teman seangkatan satu kelas dengannya. Meski belum memutuskan untuk berpacaran, tapi mereka memang saling menyukai.
Yang pasti, karena kedekatannya dengan Sasori, Dei semakin senang ke taman :D
"Awas kau, keriput!" Runtuk Dei seraya masuk kedalam mobil itu.
Itachi hanya tersenyum geli seraya melambaikan tangannya. Setelah mobil itu berlalu, Itachi masuk kembali kedalam rumah sakit. Ia berjalan pelan menuju ruang UGD. Fikirannya melayang kemana-mana.
'Kapan kau akan sadar, Sasuke?' Ucapnya dalam hati. Ia memikirkan ibunya, Mikoto. Ibunya begitu shock saat melihat keadaan Sasuke. Itachi yakin, ibunya kini tidak bisa tidur dirumah. Bagaimanapun Sasuke adalah anak kesayangan Mikoto.
Cklek..
Itachi membuka pintu ruang UGD itu. Ia sedikit mengerenyit saat tirai yang berada didekat tempat tidur Sasuke sedikit tersibak. Ia melangkah pelan kearah tirai itu..
"Naruto?" Itachi terpekik pelan. Seolah ia takut akan membangunkan gadis pirang itu karena suaranya. Ia tidak pernah mengira kalau Naruto akan ada disamping Sasuke seperti yang ia lihat sekarang. Itachi mengucek pelan matanya. Ini nyata..
'Naruto juga tengah tidak sadarkan diri saat Sasuke ditemukan.' Itachi menggumam dalam hati. Ia tidak beranjak sedikitpun dari posisinya semula. Matanya masih menyorot kearah Sasuke dan Naruto. bagaimana gadis pirang itu bisa tahu jika Sasuke ada diruang UGD? Dari Kurama? Tidak mungkin. Naruto mungkin baru saja sadar, Kurama tidak mungkin langsung memberitahukan keadaan Sasuke pada Naruto.
'Anak ini.. Mereka memang memiliki hubungan khusus.' Gumamnya lagi seraya tersenyum samar. Dengan pelan, ia menutup tirai itu dan beranjak menuju sofa. Ia berbaring disana dan memejamkan matanya.
'Semoga, tidak ada hal yang buruk yang akan menimpa mereka'
TBC..
Yuhuuuu... Runa comeback! Gimana gimana gimana? Ada unek-unek apa yang akan readers tumpahkan tentang chapter ini? kemungkinan fic A Life ini akan berchapter panjang.. :D semoga para readers ga bosen yah..
Naruto udah sadar tuh. Tapi Sasuke belum.. kira-kira kapan yah dia akan sadar? Trus gimana tuh kabar Minato yang diperkirakan akan miskin? Trus gimana reaksi Sakura? Tunggu aja yah di chapter selanjutnyaaa...
Oh iya, kalau fanfiction tidak bisa digunakan kembali Runa akan melanjutkan semua fic Runa di blog yang baru Runa buat.. di Runa17 dot blogspot dot com tapi, kalau sekarang blog itu masih kosong. :D hehe
THANKS TO :
gothiclolita89, trisna, , uzumakinamikazehaki, BlackRose783, LNaruSasu, Ymd, tina uchiha, kirei- neko, Hyull, minyak tanah, Koura Fukiishi, Narutoke, elfarizy, Guest, RyunkaaSanachiky, chinatsu ichihara, MimiTao, akbar123, mitsuka sakurai, Hikamiki, sakuranatsu90, agustatsumi, Ayuni Yukinojo, AyuClouds69, Ara Uchiha, Amira Novalinda, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Kira-chan, amour-chan, yuichi, nikha, Arina Yuki, Princessblue, kimi-chan, Axa Alisson Ganger, Akhyar Oruchimaru, Xxferessa-TanXx, Madara Rikudou Sennin, sfsclouds, Naminamifrid, Keira Natsuka, and 123.
Hueee,,, Runa senang nih.. :Dyang review banyak.. Runa jadi semakin semangat buat bikin fic ini Arigatou gozaimasu minna-san!
