"A Life"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuFemNaru

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Runa BluGreeYama

'Anak ini.. Mereka memang memiliki hubungan khusus.' Gumamnya lagi seraya tersenyum samar. Dengan pelan, ia menutup tirai itu dan beranjak menuju sofa. Ia berbaring disana dan memejamkan matanya.

'Semoga, tidak ada hal yang buruk yang akan menimpa mereka'

.

.

Sinar mentari telah menyinari setiap kehidupan. Pagi yang mengawali setiap kegiatan, dan pagi yang mengawali semua petualangan. Hiruk pikuk pagi menjadi musik tersendiri bagi yang menikmatinya. Begitu sibuk, begitu penuh dengan sesuatu yang bernama..

Hal baru..

Gadis pirang yang tengah terlelap itu sedikit terusik karena sinar mentari yang menerpa wajahnya. Ia menggeliat pelan dan membuka matanya.

Ruby..

Pupil mata itu berwarna ruby dengan pandangan kosong. Namun, warna pupil itu kembali kewarna semula Shappire dengan perlahan.

Naruto beranjak dari duduknya, ia melirik Sasuke sesaat lalu tersenyum tipis.

"It's time.."

Wajahnya kembali datar. Pandangannya tetap kosong, bagai tidak ada jiwa disana. Entah apa yang ia fikirkan namun, matanya kembali menyorot tajam kemanapun ia melihat. Memang bukan seperti Naruto yang biasanya, karena jiwa Naruto telah digunakan Naruko. Yami dalam dirinya telah mengendalikannya.

Naru menyibakkan tirai yang mengganggu jalannya, terlihat Itachi yang masih berbaring diatas sofa. Sepertinya ia terlihat lelah. Naru mulai melangkah, namun tangan kanannya di genggam seseorang.

"Bagaimana kau bisa tahu Sasuke berada disini, Naruto?"

Naru melirik tajam. Itachi telah mengganggunya. Ia menghentakkan tangannya sehingga Itachi tercengang.

"Entahlah, aku tidak tahu."

Ia pun kembali melangkah tanpa melihat wajah Itachi yang jelas-jelas tengah shock. Perubahan sifat Naru sangat membuat Itachi bingung sekaligus tercengang. Naru benar-benar dingin, sama seperti Sasuke saat ia sedang marah. Itachi memijit pangkal hidungnya pelan.

"Apa lagi yang akan terjadi, Kami-sama?" Gumamnya seraya melirik Sasuke dengan cemas.

Naru melangkah melewati beberapa perawat yang memperhatikannya secara intens. Bagaimana tidak? Ia tengah memakai pakaian khusus pasien dan sekarang ia sedang berjalan santai disepanjang koridor. Namun sepertinya Naru tidak terpengaruh, yang ia inginkan hanyalah kembali keruangannya, mengganti pakaiannya dan pulang.

Pulang? Untuk apa? Naruko telah membuat misi, menghancurkan orang yang membuat Naruto menderita. Menghancurkan dengan amat sakit dan dengan perlahan.

Ruang 201 telah didepan mata. Namun ruangan itu sedikit riuh sehingga terdengar hingga keluar. Naruto hendak membuaka pintunya namun sudah terbuka lebih dulu.

"Naruto?!" Pekik Ino.

Gadis ponytail itu tampak shock sekaligus senang. "Darimana saja kau? Semua orang mencarimu!"

Naru mengedarkan pandangannya kedalam ruangan. Semua mata tertuju padanya. Ino, Dei, Kurama, dan Sasori.

Kurama menghampiri Naruto dan menatapnya cemas. Ia memapah Naruto kedalam ruangan dan mendudukannya disofa.

"Bisa kau ceritakan?" Ucapnya pelan.

Naru melirik Kurama dengan tajam, "Tidak."

Naru berdiri. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di samping sofa lalu membawanya kekamar mandi. Ia menggubris semua ucapan khawatir dari orang-orang yang ada diruangan itu. Dengan cepat ia mencuci mukanya dan mengganti baju.

Setelah selesai ia menghampiri Kurama. Kurama langsung memegang bahunya dengan erat.

"Ada apa denganmu, Naruto?!"

Dan dengan datar Naru balik bertanya. "Siapa yang ingin membunuh Sasuke?"

Kurama dan orang-orang yang ada diruangan itu tersentak. Mereka menatap Kurama dengan cemas.

"Darimana kau tahu tentang itu? Jawab pertanyaanku sebelumnya! Jangan balik bertanya, Naruto!"

"Minato? Atau Sakura?" Tanya Naru lagi.

PLAAKK...

Kurama menampar keras pipi kanan Naruto sehingga Naruto sedikit bergeser dari tempat awal ia berdiri. Setetes darah mengalir dari sudut bibir kanannya. Namun tetap, wajahnya tidak berekspresi sama sekali.

"Ada apa denganmu, Naruto?! Apa kau kerasukan, hah?!" Teriak Kurama seraya mengguncang-guncangkan pundak Naruto.

Ino menghampiri Kurama dan menariknya dari Naruto. Sementara Dei memegang pundak Naruto dan melihat luka disudut bibirnya.

"Kau kelewatan, Ku!" Geram Ino.

Braak...

Itachi membuka pintu ruangan itu dengan lumayan keras, ia menghampiri Naruto. "Kau ingin tahu siapa yang ingin membunuh Sasuke? Temui Udon, dia berada dikantor polisi Konoha."

Naruto mengangguk pelan dan menyingkirkan tangan Dei dari bahunya. Lalu melangkah dengan cepat keluar ruangan itu.

"Apa yang kau lakukan, Itachi?! Kenapa kau membiarkan Naruto tahu tentang Sasuke?!" Geram Kurama seraya menarik kerah baju Itachi.

Itachi tersenyum tipis. "Aku tidak memberi tahu apapun padanya. Justru aku kesini ingin bertanya tentang hal yang sama padamu, tapi tidak sengaja aku menguping."

Kurama menatap Itachi dengan tidak percaya lalu melepaskan cengkramannya. "Bagaimana bisa?"

Setau Kurama, belum ada siapapun yang memberi tahu tentang hal ini pada Naruto karena Kurama yang memintanya. Jika Naruto tahu hal ini, yang ia takutkan telah terjadi sekarang. Naruto bisa berbuat hal yang buruk. Bahkan ia tidak tahu apa yang akan Naruto lakukan sekarang.

Kurama mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa nomor disana.

"Aku ingin kalian mengikuti dan carikan informasi apapun yang sedang Naruto lakukan sekarang. Dan kabari aku segera."

.

Naruto mengutak atik handphone nya. Setelah menemukan kontaknya, ia menempelkan hp nya di telinga kanannya.

"Temui aku di kantor polisi Konoha sekarang."

Naruto segera melesat menuju kantor polisi, sebelumnya ia telah menelfon pengacaranya untuk membantunya menangani kasus Sasuke. Naruko tersenyum penuh kemenangan, jika saja Naruto mau meminjamkan raganya pada Naruko sejak dulu pasti ceirta ini tidak akan berakhir seperti ini. dan mungkin tidak akan ada korban yang jatuh seperti Sasuke.

Ah, ngomong-ngomong soal Sasuke. Naruko kembali melunturkan senyumannya. Ia melirik kearah jendela mobil. Terlihat beberapa jejeran toko yang ramai pengunjung. Ia cukup menikmati semua ini. tapi ia juga ingin melihat Sasuke membuka matanya. Mata onyx yang selalu membuat Naruto dan bahkan dirinya terdiam, seakan terhipnotis oleh si hitam kelam yang cool itu. Tapi apa boleh kalau dirinya menyukai Sasuke? Yang notabene nya adalah seseorang yang disukai juga oleh Naruto si inang asli raga yang tengah dipakainya sekarang.

Rumit. Semuanya begitu rumit. Fikiran Naruko bagai kaset rusak yang terus menerus memutarkan hal yang tidak jelas. Ia memijit pangkal hidungnya pelan.

"Tidak boleh." Gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian, Naruto telah sampai dikantor polisi. Ternyata pengacaranya telah berada disana lebih dulu. Ia dan pengacaranya langsung melesat untuk menemui Udon, yang ternyata adalah pesuruh yang telah mengeroyok Sasuke.

Naruko sudah tidak terkejut lagi ketika mengetahui bahwa Minato lah yang menjadi dalang semua ini. Setelah jam besuk selesai, Naruto langsung meminta kepada pengacaranya untuk mengurus semua hal yang diperlukan agar Minato masuk kedalam penjara secepatnya. Naruto segera pulang ke mansion Uchiha untuk mempersiapkan dirinya besok, kesekolah.

Naruto membuka pintu mansion itu dengan pelan, sepertinya waktu begitu cepat berlalu. Sekarang ia tiba di mansion itu saat sudah gelap. Mansion itu terlihat sepi, sepertinya Itachi masih berada di rumah sakit dan Fugaku maih mengurus perusahaannya. Lalu, dimana Mikoto?

"Kaa-san?" Suara Naruto bahkan terdengar menggema. Para maid pun tidak terlihat. Ayolah, ini bukan fic horor kan? Kemana semua penghuni mansion ini?

Tap.. Tap.. Tap..

"Gomen'nasai, Naruto-sama." Salah satu maid menghampiri Naruto dari lantai atas. Ia tampak terengah, yang jelas ia terengah karena berlarian menghampiri Naruto. "Mikoto-sama sakit." Lanjutnya lagi.

Naruto menaikan salah satu alisnya. Kaa-san sakit?

Dengan cepat ia naik kelantai 2 dan menemui Mikoto yang tengah dikerubungi beberapa maid. Ada kain basah yang menempel dikeningnya. Wajahnya juga pucat, keringat juga mengucur dari pelipisnya.

"Kaa-san?" Gumam Naruto disamping Mikoto. Naruko tau, Mikoto begini karena memikirkan Sasuke. Hati Naruko tampak sakit, dendam kepada keluarga 'asli' nya pun semakin memuncah. Secara tidak sadar pula air mata mengalir dipipi nya.

Baru sekali ini Naruko merasakan hal seperti ini, ia juga baru sekali ini menangis. ia selalu menggunjing Naruto yang selalu menangisi semua tentang kehidupannya. Sekarang ia tahu, rasanya memang manyakitkan.

Mata onyx Mikoto pun perlahan terbuka. Seulas senyum tipis terlihat dari bibir pucatnya. "Naru-chan, sudah sembuh?" Ia menatap Naruto dengan lembut. "Syukurlah, kaa-san senang." Lanjutnya lagi.

"Kaa-san makan ya? Lalu minum obat. Naru ga mau melihat kaa-san seperti ini."

Sekali lagi Mikoto tersenyum lembut. Para maid pun sudah keluar dari kamar Mikoto. Naruto yang sudah memegang semangkuk buburpun mulai menyuapi Mikoto. Hingga sesuatu yang jarang sekali Naruko perlihatkan ia munculkan secara tidak sadar..

Senyuman yang tulus..

'Aku baru mengerti apa arti dari semua ini. Mungkin aku hanya memikirkan balas dendam, tapi kehidupan yang Naruto jalankan sekarang mempu membuatku berfikir bahwa keegoisanku tidak berlaku untuk kehidupannya. Balas dendamku akan terus berlanjut, setelah itu aku akan tersenyum pada Naruto dan tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupannya.'

.

Keesokan harinya, Naruto sudah bersiap. Tentunya Naruko masih manggunakan raga Naruto. entah apa yang sedang Naruto lakukan dialam lain, yang penting masalah Naruto selesai. Naru telah memakai seragam sekolahnya, rambut pirangnya ia ikat ponytail dan menyisakan helaian pony yang membingkai wajahnya.

Tok.. Tok.. Tok..

"Naru-chan?" Panggil seseorang dari luar. Suara lembut yang selalu Naruto dan Naruko banggakan, Mikoto.

Cklek..

"Kaa-san sudah sembuh?" Ucap Naru tiba-tiba.

Mikoto langsung tertawa. Rasanya bahagia saat anak yang dibanggakannya menghawatirkan dirinya. "Ya, kaa-san sembuh berkat dirimu, Naru-chan. Nah, ayo kita sarapan."

Mikoto menggenggam erat tangan kiri Naru. Perasaan hangat menyembur didalam hati Naru, begitu bahagia dan terasa ingin melompat saat itu juga. Inikah rasanya genggaman seorang ibu yang tulus? Naruto beruntung, Mikoto masih menyayanginya meskipun Kushina mungkin telah melupakannya. Sekali lagi, Naruko tersenyum dalam diam.

Pagi itu Naru sarapan hanya bersama Mikoto tanpa Fugaku, Itachi dan Sasuke. Suasana terasa sepi dan aneh. Meski begitu Mikoto tetap tersenyum. Mikoto memang seorang ibu yang hebat, begitu penyayang dan segalanya telah ia miliki. Salah satunya, keluarga yang menyenangkan.

"Nanti siang kaa-san akan berada dirumah sakit, kalau Naru-chan sudah pulang langsung makan ya." Ucap Mikoto seraya menepuk pelan puncak kepala Naru.

Naru mengangguk lalu bersiap untuk berangkat sekolah. "Naru berangkat, kaa-san. Ittekimasu."

Waktu yang Naru tunggu sudah hampir berada didepan mata. Ia yakin, akan ada hal menarik menunggu nya disekolah.

Naru langsung mengecek handphone nya, ternyata ada beberapa telepon yang tidak terangkat dan beberapa sms. Salah satunya dari pengacara Naru.

Semuanya beres, Naruto-san. Minato-san telah dibalik jeruji besi sejak semalam.

Detik itu juga Naru merasakan kemenangan yang sesungguhnya.

.

Naru menghela nafas lelah saat melihat Sakura menatap nya dengan sengit. Pinky itu bahkan langsung mendorongnya hingga punggungnya sedikit terbentur dinding.

"Apa yang kau lakukan pada tou-san, hah? Apa kau puas mengambil kebahagiaanku, bitch?!"

Mata Naruto membulat saat Sakura mengakhiri kalimatnya. Apa-apaan gadis itu?

"Ck! Shit! Sekarang aku tanya padamu, apa kau belum puas membuatku hancur, hah? Dan sekarang kesabaranku habis! Kalian telah melukai Sasuke, dan kalian harus membayar itu!" Naru mendorong Sakura dengan keras sehingga gadis itu tersungkur. "Ini baru permulaan, Haruno. Bersiaplah untuk kehancuranmu." Desisnya dingin.

Beberapa murid yang melihat kejadian ini hanya bisa menengguk ludah, tatapan Naru sangat tajam dan nada bicaranya berbeda. Benarkah ini Naru yang mereka kenal? Naru benar-benar berubah hanya karena Sasuke terluka parah. Semua orang disana memang memakluminya, karena Sasuke dan Naruto memang tidak terpisahkan.

"Aku tidak takut padamu! Kau yang harusnya mati! Kau yang harusnya dipukuli! Karena kau yang pantas mendapatkan itu, Naruto!" Teriak Sakura.

Naruto menghentikan langkahnya dan melirik tajam kearah Sakura yang sudah berdiri. "Oh ya? Berkacalah lebih dahulu, Haruno. Apakah dirimu tidak pantas untuk mati? Karena aku yakin, hidupmu lebih menjijikan dariku."

"Ap- Sialan kau, Naruto!" Desis Sakura. Ia hendak menghampiri Naruto dan ingin menamparnya. Namun tangannya dicengkram seseorang.

"Kalau kau melukai sepupuku, akan ku pastikan kau akan mati saat itu juga." Ucap Ino.

Ino melepaskan cengkramannya dan berlalu melewati Sakura yang terdiam. Tak lama kemudian, Dei dan Sasori menyusul Naruto dan Ino yang telah berjalan lebih dulu. Ah ya, mereka bertengkar dikoridor dekat kelas Naruto.

Sakura pun semakin terlihat emosi saat Sasori menggenggam tangan kanan Dei. "Sasori-senpai." Gumamnya.

Sakura mengepalkan kedua tangannya. Rasa cemburu menyelusup kedalam hatinya dan membuat rasa dendamnya semakin berkobar. Sudah lama Sakura menyukai senpai nya , Sasori. Namun ia harus menyaksikan seseorang yang ia sukai telah dimiliki orang lain. Sakura memang tidak bisa memiliki Sasori, karena Sasoripun pasti tidak akan mau. Sifat buruk Sakura telah diketahui oleh seluruh penjuru sekolah, sudah pasti Sasori akan ilfil untuk dekat dengannya.

Sakurapun harus memutar otak lagi agar keinginannya untuk memiliki Sasori tercapai.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak boleh ada seorangpun yang akan memilikimu, Sasori-kun." Ucapnya licik lalu berlalu dari koridor itu.

.

Gadis pirang itu menatap datar perempuan yang sudah cukup berumur dihadapannya. Gadis itu tidak tampak takut ataupun gugup melihat raut wajah sang nenek yang terlihat err.. Menyeramkan.

"Bisa kau jelaskan soal Minato, Naruto?" Suara penuh wibawa Tsunade menggema diruangan kepala sekolah itu.

"Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada orang yang telah melukai orang lain."

"Tapi tidak bisa seperti itu, Naru. Kau bahkan tidak berunding terlebih dahulu denganku. Kau tidak bisa bermain-main dengan hukum."

Naruto menghela nafas lelah, ia berdiri dan menatap Tsunade dengan lekat. "Dan akupun tidak bisa bermain-main dengan orang yang telah membuat Sasuke seperti itu, Baa-san!" Ucapnya dengan sedikit berteriak lalu pergi begitu saja.

"Jadi, dia bersikap seperti itu karena Sasuke?" Tanya Tsunade, tidak ada yang akan menjawabnya, karena ia pun sudah tau apa jawabannya.

Naruto menyayangi Sasuke lebih dari seorang saudara..

.

.

Pelajaran sekolah sangat terasa membosankan baginya. Ia sudah pernah belajar semua pelajaran itu sebelumnya, maka dari itu ia bosan. Belum lagi hari ini tidak ada penyemangat untuknya, Sasuke. Sudah ia putuskan pula, sepulang sekolah ini ia akan berkunjung kerumah sakit untuk menemui Sasuke.

"Naru, ayo kami antar kamu pulang." Ajak Ino.

Naruto menggeleng, "Tidak usah, aku naik taksi saja. Aku ingin menemui Sasuke dulu."

"Oh, baiklah. Kalau begitu aku ketempat Dei duluan ya! Hati-hati Naru!"

Naru tersenyum saat Ino sudah menghilang dari pandangannya. Ino pasti nebeng di mobil Sasori, terkadang Naruto ingin tersenyum sendiri saat membayangkan Sasori dan Dei yang sedang dimabuk cinta tapi diganggu oleh Ino.

Naruto sudah ingin melangkah, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Tertera di layar ponselnya 'Home Uchiha' itulah nama yang tertulis dikontak Naruto untuk telfon rumah keluarga Uchiha.

"Moshi-moshi."

"Naruto-sama, Kushina-san ingin bertemu anda. Dia terus memaksa saya untuk menelfon anda. Dan dia, terlihat sangat marah." Ucap sang maid dengan sedikit gugup.

"Berikan telfon ini padanya. Aku ingin bicara."

"Baik!"

Tidak lama kemudian..

"Naruto apa yang kau lakukan pada Minato, hah? Apa?!" Bentak Kushina dari sebrang telfon.

Naruto sedikit mendengus geli. Minato baru saja dipenjara beberapa jam yang lalu, tapi hal sudah membuat dua orang memarahinya. Bukankah Minato memang pantas untuk masuk bui? Ah ya, Naruto lupa. Dua orang itu kan satu komplotan dengannya, pastilah mereka sangat marah begitu tau Minato masuk bui.

"Ah itu, aku hanya ingin memberinya pelajaran. Apa aku salah, Kushina-san?" Tanya Naruto dengan nada santai.

"Apa! Kau gila, Naruto! Sekarang cepat bebaskan Minato!" Suara Kushina semakin meninggi sehingga Naruto harus sedikit menjauhkan handphone nya dari telinganya.

"Maaf, tidak bisa. Ah ya, Kushina-san. Aku sedang sibuk sekarang. bisakah kau keluar dari kediaman Uchiha? Perlu kau tau, kau sangat mengganggu."

Klik..

Tanpa berniat untuk menunggu jawaban Kushina, Naruto langsung memutuskan sambungan telepon itu. Ia pun kembali menlanjutkan jalannya yang sempat tertunda tadi.

Sekali lagi ia tersenyum bangga. "Hidupmu akan tenang setelah ini, Naruto." Gumamnya.

.

Gadis pirang itu tidak bergerak ditempatnya. Ia hanya terpaku melihat seseorang yang ditunggunya telah kembali. Matanya masih menyorot penuh kerinduan kearah pemuda itu. Entah apa yang harus ia lakukan, memeluknya atau tetap berdiam seperti ini dan menukarkan kembali jiwa mereka agar Naruto yang melanjutkan semua drama ini?

"Ada apa, Naru-chan? Kau masih sakit?" Suara Mikoto menyadarkannya dari kebimbangan. Ia sedikit tersentak namun kembali terdiam.

"Ng? Iie, Aku baik-baik saja, Kaa-san."

Naru menunduk sedikit, sehingga matanya tertutup oleh pony nya. Seluruh pasang mata menyorot padanya, termasuk Sasuke. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Drt.. Drt..

Naru merogoh ponselnya, nama pengacaranya tertera dilayar ponsel itu.

"Naruto-sama, Kushina-sama dan pengacaranya ingin bertemu! Kami menunggu anda di ruang rapat hotel Konoha."

Naru menghela nafas pelan. "Aku kesana secepatnya."

Klik..

Naru kembali menyimpan ponsel nya dikantong celananya, lalu berbalik. Berniat untuk keluar dari ruangan itu. Kali ini ia sedikit beruntung, karena ponsel itu berbunyi tepat pada waktunya.

"Siapa yang menelfon? Kau mau kemana?" Kurama mencegah Naruto.

Naruto mendelik, ia menepis tangan Kurama. "Menyelesaikan semua yang sudah kumulai, Ku." Ucapnya datar.

"Naruto.."

Kurama terasa kaku. Ia merasa jika itu bukan adiknya, ia bukan Naruto. Sifatnya benar-benar berbeda. Dan Kurama tidak menyukainya.

"Lalu.. Kapan kau akan kembali, Naru.. ko?"

Suara Sasuke membuat Naru sedikit membalikkan tubuhnya, iris shappire itu menatap tajam namun ia tersenyum. "Secepatnya."

Narupun melangkah meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan khawatir. Dan Sasuke telah menyadari, bahwa dia bukanlah Naruto. Sasuke sempat memelankan suaranya saat mengatakan "ko." Jadi yang semua orang dengar hanyalah "Lalu.. Kapan kau akan kembali,Naru?"

Semua orang disana tidak tahu maksud dari kata-kata Sasuke. Mereka mengira Sasuke bertanya kapan Naruto akan kembali keruangannya lagi, tapi itu salah. Sasuke bertanya kapan Naruko akan kembali ketempat yang seharusnya, dan mengembalikan Naruto. Sasuke pun sempat tersenyum samar. Ia sebetulnya bingung dengan pertukaran jiwa yang terjadi diantara Naruto dengan yami , Sasuke hanya bisa berharap semoga masalah Naruto akan selesai secepatnya.

.

Sesampainya di hotel Konoha, Naru segera melesat menuju ruang rapat. Setibanya disana, ia melihat Kushina, Sakura dan pengacaranya. Rasanya ingin sekali Naru menarik rambut mereka dan menyeret mereka ke bui mengikuti Minato.

Naru sedikit menarik kursinya dan duduk disana dengan tenang. "Ada apa?" Tanya nya datar.

Urat kemarahan mulai muncul dari dahi Kushina dan Sakura. Kushina menggebrak meja yang ada didepannya. Wajahnya merah padam hampir menyamai warna rambutnya.

"Serius, Naruto! Belum cukupkah kalian membuat kami miskin dan memasukan Minato kedalam penjara?!"

Naru tersenyum tipis dan menyenderkan punggungnya. "Ah, aku tidak membuatmu miskin, itu mungkin ulah baa-san. Dan ya, aku belum puas membuat kalian menderita."

"Sialan kau Narutoo!" Kushina hendak menghampiri Naru, namun ditahan oleh pengacaranya. Suara Kushina cukup keras, namun untungnya ruang rapat itu kedap suara. Sehingga tidak akan terdengar hingga keluar.

BRAAAKKK..

"Kalian!" Tsunade menghampiri mereka setelah menutup kembali pintu yang telah dibuka olehnya. "Aku akan mengungkapkan sesuatu. Kuharap kalian, terutama Kushina dan Sakura dapat bersikap tenang."

Tsunade duduk disamping Naru. Ia mengambil beberapa berkas yang ia bawa dan memeberikannya kepada pengacara Kushina.

"Haruno Sakura, bukanlah yatim piatu. Ia masih memiliki ibu yang dititipkannya di sebuah panti asuhan kecil dipinggir desa." Jelas sang pengacara.

Kushina tercengang. Ia tampak tidak percaya dan memimnta penjelasan lebih. Sementara Sakura, ia tampak membulatkan kedua matanya dan tidak bisa berkata-kata.

"Itu yang aku selidiki selama ini. Kesalahan terbesar kalian adalah memilih gadis yang tidak diketahui asal usulnya itu untuk menjadi keluarga Namikaze." Ucap Tsunade tegas.

"Ya, aku memang belum sepenuhnya yatim piatu! Aku masih memiliki ibu, ibu yang lumpuh! Selama ini, aku cukup bahagia menjadi orang kaya. Karena memang itulah yang aku inginkan. Tapi sekarang? kau menghancurkannya, Naruto! Aku selalu iri padamu, kau memiliki keluarga yang kaya raya, sementara aku? Aku hanyalah gadis desa yang miskin dan bodoh!" Teriak Sakura. Ia menundukan kepalanya.

PLAK...

Kushina menampar pipi kanan Sakura dengan keras. Air mata mengalir deras dipipinya. "Jadi.. Selama ini kau hanya memanfaatkan kekayaan kami? Dan kau meninggalkan ibumu begitu saja?! Kh, ternyata penilaianku selama ini tentangmu sangat berbanding terbalik, Sakura."

Kushina menatap Sakura dengan benci. Sementara Sakura menghampiri Naruto. "Kau bisa kembali dengan keluargamu itu. Aku sudah tidak butuh, karena mereka sama saja denganku. Miskin!" Ucapnya pelan dan menaikkan suaranya dikata 'Miskin'.

"Kau fikir aku akan kembali kepada mereka? Tidak! Aku tidak sebodoh itu. Yah, mungkin aku sudah puas sekarang. kehidupan kalian sudah memburuk, setidaknya aku bisa menghirup nafas dengan lega tanpa harus terhambat kebencian lagi."

Naru beranjak. Ia tersenyum kearah Tsunade. "Baa-san, aku serahkan semua masalah ini padamu. Aku lelah." Ucapnya pelan.

"Ya, hati-hati Naru."

Naru mulai beranjak dari hotel itu. Pengacaranya dan Tsunade masih disana untuk memikirkan jalan keluar dari masalah Sakura dan Kushina. Sekali lagi Naru menghela nafas. Ia akan kembali kerumah sakit, sepertinya Kurama, Itachi, Mikoto, Fugaku, Dei, Ino, dan Sasori masih disana. Insting anehnya terkadang benar, makanya tidak ada salahnya kan kalau percaya pada insting?

Sesampainya dirumah sakit, Naru berjalan dengan gontai. Entah mengapa, rasanya Naru sangat lemas dan lagi-lagi jantungnya terasa sesak. Tanpa ia sadari air mata jatuh dari kelopak matanya. "Seharusnya aku tidak boleh menangisi mereka. Tapi, kenapa?" Gumamnya lirih.

Cklek..

Naru memegang gagang pintu itu dengan erat. Pandangannya membuyar, ia hanya bisa melihat samar-samar orang-orang yang menatapnya dengan khawatir. Naru tersenyum getir, tiba-tiba pandangannya menggelap dan suara-suara yang terus memanggilnya terasa menghilang dengan perlahan. Ia pun terhuyung, namun ditangkap Kurama lebih dulu sebelum ia menyentuh tanah.

"Ugh, gomen ne." Lirihnya. Lalu shappire itu menutup.

TBC

Yaaaaa... Detik-detik menuju ending nih... Hehehe..

Apa ya keputusan yang akan Tsunade lakukan untuk Sakura dan Kushina? Lalu apa Kushina akan meminta maaf pada Naruto? Trus Naruto kenapa lagi tuh? Apa dia akan kembali lagi, atau masih bagian yami nya yang akan melanjutkan cerita di fic ini? Tapi, Sasuke sudah sadar! Yeaaayy...

Ok, thanks banget yang sudah me review chapter kemarin, dan jangan lupaaa review lagi ya di chapter ini... :D oh, iya.. Gomen'nasai kalau Runa telat update :'( Runa punya kesibukan didunia nyata makanya jarang bisa ngelanjutin fic :'( Runa harap para readers memaklumi ya.. Dan semoga para readers suka dengan chapter ini.. Gomen'nasai jika chapter ini tidak memuaskan..

THANKS TO :

gothiclolita89, Axa Ganger, Amira Novalinda, Uzumaki Prince Dobe-Nii, yuichi, amour-chan, 123, Nauchi KirikaRE22, mitsuka sakurai, kirei- neko, uzumakinamikazehaki, za hime, chika, Ara Uchiha, Akhyar Oruchimaru, Ymd, Naminamifrid, Keira Natsuka, kawaihana, namikaze yuka, Namikaze miato, Guest, sfsclouds, ameru-chan, BlackRose783, dan Dark

Arigatou Minna-san! review kalian membuat Runa semangat buat melanjutkan fic ini terima kasih atas dukungan kalian..! Jangan lupa review lagi yaa! Jaa..