"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Runa BluGreeYama
Naru memegang gagang pintu itu dengan erat. Pandangannya membuyar, ia hanya bisa melihat samar-samar orang-orang yang menatapnya dengan khawatir. Naru tersenyum getir, tiba-tiba pandangannya menggelap dan suara-suara yang terus memanggilnya terasa menghilang dengan perlahan. Ia pun terhuyung, namun ditangkap Kurama lebih dulu sebelum ia menyentuh tanah.
"Ugh, gomen ne." Lirihnya. Lalu shappire itu menutup.
.
.
Matahari dan bulan memang tidak pernah bisa bersatu, tapi lain halnya jika terjadi gerhana. Matahari dan bulan berada disatu garis lurus dan seakan terlihat bersama. Meski gelap yang akan terlihat, tapi itu adalah kejadian yang langka.
Naruko terdiam. Baginya, hal yang paling menyebalkan adalah saat membujuk Naruto. Kerasnya pendirian Naruto membuat Naruko harus berfikir ekstra untuk bisa membujuknya. Sudah cukup lama bagi Naruko meminjam raga Naruto. Dan kini saatnya ia harus mengembalikan raga yang telah dipinjamnya. Tapi apa? Naruto bersikukuh tidak ingin kembali.
"Ne, kau tau?" Suara Naruko melunak, ia duduk disebelah Naruto dan menatap lurus danau yang ada didepannya. "Bagi seorang malaikat, tidak ada kata membujuk didalam kamusnya."
Naruto menoleh, "Ya aku tahu, bangsa-Mu terlalu dingin untuk bisa membujuk seseorang." Ucap Naruto pelan.
Naruto benar, malaikat memang tidak sebaik yang banyak orang fikirkan. Seorang malaikat memiliki sifat yang minim ekspresi. Mereka ditugaskan untuk membantu seseorang yang sangat membutuhkan pertolongannya. Namun, pertolongan itu hanya bisa digunakan sekali saja. Seorang malaikat telah ditugaskan untuk menjaga dan menolong seseorang sejak orang itu baru lahir dan setelahnya malaikat itu akan menghilang. Malaikat itu bisa dibilang seperti bagian yami dalam kehidupan seseorang karena mereka memang bertugas sebagai peran jahat.
Banyak orang yang memang tidak mengetahui keberadaan malaikat seperti itu. Karena malaikat akan muncul ketika seseorang yang harus dilindunginya benar-benar membutuhkannya.
"Tugasku sudah selesai. Aku harus pergi."
Naruko menoleh, sekali lagi ia menghela nafas lelah. Naruto tidak bergeming sedikitpun. Apa dia tidak mendengar ucapannya tadi?
"Naruto?!" Desis Naruko. Ia menatap dingin wajah Naruto yang mulai terlihat memucat.
"Aku akan kembali, tapi nanti." Gumam Naruto.
"Kalau begitu, kau memang berniat untuk mati."
Dengan cepat Naruto menoleh, Ia memang menyukai tempat ini tapi bukan untuk selamanya.
"Waktumu semakin berkurang, Naruto. Kalau kau disini terus, berarti kau memang ingin mati." Ucap Naruko pelan.
Naruko tersenyum hangat, ia menatap Naruto dengan sendu. "Pergilah. Kembalilah pada Sasuke. Dia sangat menyayangimu."
Tiba-tiba Naruto menangis, ia menerjang tubuh Naruko dan memeluknya dengan erat. Namun perlahan tubuh Naruko menjadi butiran-butiran cahaya kecil. Hingga Naruto semakin sulit untuk memeluknya.
"Kembalilah.."
Ucapan itu menjadi ucapan terkahir Naruko yang dapat Naruto dengar. Akan tiada lagi celotehan menyakitkan dari Naruko. Akan tiada lagi seseorang yang dapat menemaninya ketika penyakitnya sedang kambuh. Dan akan tiada lagi seseorang yang mirip dengannya itu.
"Naruko!" Naruto berteriak. Butiran-butiran itu menghilang dengan cepat. "Akankah aku bisa bertemu denganmu lagi, Naruko?" Gumam Naruto pelan.
Naruto menghapus air matanya kasar. Mengetahui bahwa Naruko adalah malaikat tentu membuatnya ingin tertawa keras. Bagaimana bisa sosok yang begitu dingin dan menyebalkan itu menjadi malaikat? Kenyataan ini membuatnya harus meneguk ludahnya, diantara percaya dan tidak. Naruko.. Sosok malaikat yang sangat mirip dengan dirinya, dan dengan berbaik hati membantu menyelesaikan semua masalahnya. Err.. kecuali satu, penyakitnya. Penyakit yang ia idap sekarang belum menemukan jalan keluar. Bahkan menurutnya penyakit itu semakin menjadi-jadi jika ia terlalu lelah. Sangat menyusahkan.
Tidak lama kemudian, Naruto mengerucutkan bibirnya. "Apa yang terjadi selama Naruko menggantikanku? Huh, dia tidak memberitahuku sama sekali."
Naruto menggerutu. Namun ia langsung berlari menuju pintu putih bercahaya yang semakin mengecil dari ukuran aslinya.
"Aku akan kembali, Naruko."
Dan Naruto pun memasuki pintu itu, pintu itupun menutup dengan sendirinya. Suasana ditempat itupun berubah menjadi menyeramkan, danau yang tadinya biru menjadi panas dan dipenuhi lava. Rerumputan hijau dan pepohonan menghilang digantikan bebatuan runcing. Apa yang terjadi? Entahlah.
.
.
Tak..
Tak..
"Baka otouto! Dengarkan ucapan kaa-san! Kaa-san akan menghukumku kalau kau tidak ada diruanganmu saat dia kembali!"
Tanpa menggubris ucapan itu, Sasuke masih saja berjalan pelan dengan tongkatnya. Tulang kaki kirinya patah akibat pengkroyokan itu, membuatnya harus bekerja ekstra meskipun hanya untuk berjalan. Keringat dingin memenuhi pelipisnya. Ia baru saja sadar pagi ini, berjalan dengan tongkat dan keluar ruangan itu tentu akan memperburuk keadaannya.
"Kau bisa menjenguk Naruto nanti, Sasuke!" Omel Itachi lagi. Ia meraih tangan Sasuke dan mencengkramnya dengan erat. Membuat Sasuke harus meringis pelan.
"Setidaknya aku harus ada disampingnya saat ia sadar!"
Itachi menghela nafas lelah. Ia tahu, Sasuke terlalu keras kepala untuk ditolak keinginannya. Tapi ia bisa apa sekarang? Adik tersayangnya benar-benar membuatnya habis kesabaran.
"Khh.."
Itachi tersentak. Sasuke memegang kepalanya dengan erat. Wajahnya benar-benar terlihat kesakitan. Sasuke merosot begitu saja. Keringat dinginnya semakin membanjiri tubuhnya.
"Benarkan apa yang kubilang! Suster! Bantu aku!" Teriak Itachi khawatir seraya memapah Sasuke yang hampir hilang kesadarannya.
.
"Tenanglah, Ku."
Suara Mikoto membuatnya terdiam untuk beberapa saat, lalu kembali mondar-mandir selayaknya sebuah setrikaan. Tangan kanannya ada didepan dagu, sama seperti seorang detective yang sedang berfikir.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mikoto-san. Penyakit Naruto butuh perhatian khusus. Atau aku harus mendonorkan jantungku untuknya?" Ucap Kurama masih dengan pose mondar-mandirnya.
Mikoto menaikan alisnya bingung. Ia tahu, kalau Kurama melakukannya tentu Naruto tidak akan senang.
"Aku sarankan jangan."
Kurama mengangguk setuju. Jangan. Ia belum sempat membuat adiknya bahagia, ia harus membuat adiknya tenang untuk hidup didunia ini tanpa pengganggu dahulu sebelum ia mati. Tiba-tiba Kurama menjatuhkan tubuhnya disofa. Kedua tangannya mengacak rambutnya dengan kasar.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mikoto-san?!" Lirihnya frustasi.
Mikoto tersenyum hangat, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kurama. Dihadapan Kurama ia sedikit menunduk dan mengusap helaian rambut Kurama dengan lembut.
"Tenangkanlah dirimu, pulang dan bersihkan tubuhmu. Adikmu tidak akan mau sadar kalau kau bau, Ku." Ucap Mikoto dengan sedikit terkekeh.
Kurama membalas tersenyum, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pipinya terlihat bersemu. Sebau itukah dia? Salahkan keadaan adik-adiknya yang menyusahkan itu sehingga Kurama lupa untuk mandi. Kurama pun mengangguk, ia berdiri dan berojigi.
"Baiklah, aku akan mandi dulu. Arigatou, Mikoto-san! Dan.."
"Naruto akan aku jaga sampai kau kembali."
Perkataan Kurama terhenti saat Mikoto menyelanya. Ternyata Mikoto tahu pasti apa yang difikirkannya. Tentu ia tidak perlu khawatir kalau Naruto dijaga oleh Mikoto. Lagipula Mikoto telah menjadi ibu Naruto saat ini.
"Hati-hati dijalan!"
Kurama mengangguk. Betapa baiknya Mikoto. Sifat Mikoto yang keibuan dan sangat baik hati membuatnya tenang meninggalkan Naruto. Mikoto dan Kushina.. Mereka memang pernah dekat, tapi sifat mereka sangat bertolak belakang. Banyaknya harta yang Kushina punya, membuatnya kalap dan membenci anaknya sendiri. Sedangkan Mikoto? Banyaknya harta membuatnya semakin menyayangi semua anak-anaknya.
Entah mengapa Tuhan membuatkan garis takdir yang seperti ini untuk adiknya, terkadang takdir ini begitu membuatnya muak. Ia lelah jika harus melihat adiknya jatuh sakit terus menerus. Ia juga lelah jika sang adik disakiti orang tua kandungnya. Tapi sekarang, semua masalah telah terselesaikan. Minato telah masuk bui, dan Kushina telah mengetahui akal bulus Sakura. Semua itu berkat Naruto.
Ngomong-ngomong soal Naruto..
"Kenapa sifatnya sangat berbeda?" Gumam Kurama pelan. Perubahan sifat Naruto setelah ia tidak sadarkan diri waktu itu membuatnya tidak habis fikir.
Naruto yang dingin bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya selayaknya orang dewasa. Ia tidak muluk-muluk, orang yang pantas masuk penjara akan dia masukkan dengan cara pengadilan dan jujur. Sangat berbeda dengan kepribadian Naruto yang Kurama kenal. Naruto yang Kurama kenal pendiam dan pasti tidak akan bisa memasukan orang tuanya kepenjara dengan tangannya sendiri. Ia terlalu takut untuk melakukannya.
Kurama memukul stir mobilnya pelan. "Semua ini membuatku pusing." Lirihnya.
.
Kushina menatap halaman rumahnya dengan datar. Pandangannya kosong. Keluarganya hancur tak bersisa. Kini tinggal dirinya dan Sakura. Apa yang harus dilakukannya? Ia tersenyum getir. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah masuk kedalam rumah.
Didalam rumah terlihat Sakura yang tengah berbincang serius dengan teman satu sekolahnya. Si rambut merah.
"Kau tentu bisa membantuku kan?" Sakura menatap lurus pemuda itu dengan sedikit senyuman. "Aku akan bahagia karena hubungan mereka semua berantakan, kau datang menyelamatkan 'nya', and then, Kau akan mendapatkan 'nya' dengan mudah."
Pemuda itu terdiam sesaat. Ia tampak menimbang-nimbang tawaran Sakura. "Baiklah."
Satu kalimat persetujuan dari pemuda itu membuat Kushina dan Sakura tersenyum puas. Kini bertambah lagi orang yang bisa bekerja sama dengan mereka.
Kushina bahkan melupakan asal usul Sakura yang telah terkuak begitu saja. Dendamnya pada keluarga Namikaze dan Naruto membuatnya tidak ingin kembali kejalan yang benar. Ia lebih memilih mengikuti saran Sakura dan memaafkannya.
Mungkinkah dia harus berdiskusi juga dengan Minato? Yap, Kushina akan menemui Minato dan mendiskusikan hal ini dengannya.
.
.
"Ohayou, Kaa-san!" Ucap Naruto girang. Ia langsung memeluk Mikoto yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan erat.
"Kau sudah sadar? Wah, lihat kau sangat bersemangat sekali, Naru-chan!" Mikoto membalas pelukan Naruto dan mengelus puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Hum," Naruto mengangguk cepat. Ia mendongak untuk melihat wajah Mikoto. "Kaa-san, aku ingin menjenguk Sasuke. Boleh?"
Mikoto menggelengkan kepalanya, Naruto memang anak yang hiperaktif. Bahkan saat baru saja sadar ia bisa langsung berlari-lari seakan ia tidak pernah sakit sebelumnya. Mikoto harus memikirkan kata yang halus untuk menolak permintaan Naruto.
"Tapi ini masih pagi, Naru."
Naruto mengerucutkan bibirnya. Ia bersedekap dan memicingkan matanya. "Aku hanya ingin melihat Sasuke, bukan untuk mengganggunya kaa-san."
Huh, tetap tidak bisa. Hati Mikoto mudah sekali tersentuh jika Naruto sudah bersikap seperti itu. Bukan, bukan hanya sikap seperti itu. Banyak hal yang Naruto punya untuk membujuk Mikoto dengan mudah.
"Baik-baik. Tapi ingat, jangan mengganggu ne? Kakakmu itu baru saja sadar kemarin. Dan kaa-san akan ikut denganmu."
Naruto mengangguk. Tapi ada sesuatu yang membuatnya terdiam. 'Kakakmu itu baru saja sadar kemarin.' Kakak.. Sasuke itu kakakmu Naruto, jangan berharap lebih!
Naruto melangkahkan kakinya dengan pelan, kepalanya menunduk sehingga matanya sedikit tertutup pony pirangnya. Perasaannya kalut, ia tidak mungkin menyukai kakaknya sendiri. Tapi perasaannya tidak bisa lagi dibohongi, ia benar-benar menyukai Sasuke. Apakah dia salah? Apakah perasaannya salah? Lagipula Sasuke hanyalah kakak tirinya, tidak masalah kan?
Dengan cepat Naruto menggelengkan kepalanya pelan. 'Tetap tidak boleh! Meskipun Sasuke hanya kakak tiriku, tetap saja itu dilarang!' Batinnya.
Cklek..
"Ayo masuk, Naru-chan."
Lamunannya buyar saat Mikoto sudah membuka pintu ruangan Sasuke. Dia terlalu lama melamun sehingga tidak sadar sudah sampai disana. Ia tersenyum dan masuk ruangan itu. Terlihat oleh shappire nya Itachi sedang duduk di sofa dan tengah memperhatikannya, sementara Sasuke ia sedang bersandar diranjangnya.
"Err.. Ohayou!" Sapaan Naruto sedikit canggung karena suasana disana yang berubah drastis. Itachi dan Sasuke menatapnya dengan lekat. "Kalian kenapa sih?! Risih tau ditatap seperti itu!" Amuk Naruto ia merengut kesal.
Tiba-tiba Itachi tersenyum dan menghampiri Naruto. "Aku kira kau masih bersikap dingin, ternyata kau sudah kembali ceria seperti dulu. Bagus lah." Itachi mengacak-acak rambut pirang Naruto dengan sayang.
'Dingin? Huh, Naruko pasti bersikap seperti itu.' Naruto tersenyum canggung. Ia menatap Sasuke yang tengah menatapnya intens.
"Ah ya, kaa-san ayo kita beli sarapan. Aku lapar." Pinta Itachi dan langsung menarik Mikoto.
"Eh.. eh.. Naru-chan tolong jaga Sasuke ya?!" Teriak Mikoto dari luar ruangan.
Naruto tersenyum maklum. Ia menutup pintu ruangan itu dan menghampiri Sasuke.
"Tadaima!" Ucapnya riang.
Naruto mengatakan Tadaima karena jiwa nya telah kembali. Dan raga nya sudah tidak dipinjam lagi oleh Naruko.
Sasuke mendengus geli, ia tersenyum hangat. "Okaeri."
Naruto memeluk Sasuke dengan erat. Tidak terasa air matapun mengalir dipipinya. Ia senang, Sasuke telah kembali. Dan sekarang, ia tengah memeluk seseorang yang sangat berarti baginya. Sasuke.
"Hey, berhentilah menangis." Ucap Sasuke seraya memegang bahu Naruto. "Kau jelek kalau menagis, dobe." Sasuke menangkup pipi Naruto dengan kedua tangannya dan menghapus air mata yang mengalir dipipi Naruto.
"Ak—ku se—senang, Te—me. Ak-ku khawatir padamu." Ucap Naruto sesenggukan.
Sasuke tersenyum lagi. Naruto mengkhawatirkannya? Sungguh rasanya sangat bahagia. Ia menatap shappire Naruto semakin dalam hingga Narutopun terperangkap didalam onyx nya. Tangannya masih menangkup kedua pipi Naruto. Perlahan, wajah mereka semakin mendekat hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.
Sasuke mengecup lembut bibir Naruto. Naruto yang awalnya kaget dan baru sadar kini mulai mengikuti permainan Sasuke. Hingga akhirnya Sasuke menyudahi kegiatan mereka. Naruto dan dia butuh oksigen. Sasuke menatap Naruto lekat, wajahnya yang memerah dan keringat yang sedikit membasahi pelipisnya semakin membuat Sasuke menyukainya.
"Su—Suke! Kau.. Aku seharusnya.. kita tidak boleh, kau kakakku." Lirih Naruto gugup.
Sasuke telah mengambil first kiss nya. Tidak masalah mungkin bagi Naruto. Tapi tetap saja perasaan bahwa Sasuke adalah kakaknya tidak bisa dipungkiri lagi. Naruto menunduk dalam, ia menggigit bibir bawahnya.
"Ya, aku tahu. Gomen ne."
Naruto mendongak. Ia melihat Sasuke yang tengah menunduk dalam, ia tidak bisa melihat bagaimana sorot mata Sasuke karena matanya tetutup pony hitam rambutnya. Naruto mengalihkan pandangannya, Sasuke adalah orang yang sulit untuk meminta maaf. Dan baru saja Sasuke meminta maaf padanya meski dengan suara yang pelan.
Kenapa? Disaat semua masalahnya sudah hampir selesai dan berakhir, kini masalah baru menerpanya. Perasaannya harus terhalang oleh kenyataan bahwa sekarang mereka adalah saudara. Haruskah Naruto mengikhlaskan perasaannya? Haruskah Naruto kembali pada Klan nya agar ia bisa bersama Sasuke selamanya dengan ikatan yang berbeda?
"Kalian menutupi hubungan ini dari kami?!"
Naruto dan Sasuke menoleh kearah pintu dengan cepat. Kedua mata mereka melebar sempurna saat sosok itu menatap mereka dengan meminta penjelasan lebih.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi diantara kalian?" Ucap orang itu lagi.
Tubuh Naruto menegang, ia melirik kearah Sasuke yang tengah terdiam. Apa orang itu telah melihatnya berciuman dengan Sasuke?
TBC
Yosh! Chap 9 Up! Gomen'nasai Runa telaaaaaat sekali update nya. Ini dikarenakan Fanfiction yang tidak bisa dibuka sama Runa. Dan terpaksa Runa harus mengganti kartu modem Runa -_-" Tapi beneran deh, beberapa minggu ini Runa sempat bingung karena Fanfiction Runa yang tidak bisa dibuka. Gomen'nasai ne Runa sedikit curhat disini. Hehe.
Oh ya, Gomen ne Chap ini sedikit. Ini dikarenakan Runa banyak tugas sekolah dan Runa juga sedang magang. (Alasan padahal inspirasi Runa sedang susah didapatkan) *Plakk okeh lupakan* Semoga chap ini memuaskan yaa! Dan soal A life mendekati ending kayanya salah deh -_-" kayanya chap nya masih banyak. Haha.. Semoga ga pada bosen yak!
Yap, siapa yang telah memergoki Sasuke dan Naruto? Dan apa yang akan Naruto lakukan untuk cerita Romance nya? Apa Naruto bisa keluar dari masalahnya yang ini? Mengingat Naruko sudah tidak ada lagi. Daaann Kushina semakin menjadi-jadi. Apa yang akan dilakukan Sakura dan pemuda berambut merah itu? Siapa yang akan menjadi incaran mereka?
TUNGGU DI CHAPTER SELANJUTNYA MINNA-SAN! JAAA... JANGAN LUPA REVIEW YAA :D
Thanks to :
Atarashi ryuuna : Salam kenal juga Atarashi-san! Begitu kah? Yokatta, kalau chap sebelumnya memuaskan. Hehe.. Arigatou udah review! :D
gothiclolita89 : Bukaann, hehe. Kayanya jawabannya ada dichap ini. Arigatou udah review!
agustatsumi : Wah, arigatou. Ini udah dilanjut. Arigatou sudah review
: Runa juga suka si yami :D hehe, gajadi mau endingnya. Masih lama kayanya :D Arigatou sudah review
Nokia 7610 : Yap, sudah dilanjut. Arigatou sudah review
uzumakinamikazehaki: Wah, Arigatou sudah review
Akhyar Oruchimaru : Sudah dilanjut. Arigatou sudah review
kawaihana : Udah dilanjut. Arigatou sudah review
Yuu-kio : Udah dilanjut. Arigatou sudah review
Narita menari-nari: Yap, Runa juga suka yami :D haha. Arigatou sudah review
Naminamifrid : Udah dilanjut. Arigatou sudah review
Dewi15 : Naruto keren? Author nya lebih keren deh kayanya *plak lupakan* haha Arigatou sudah review
Mitsuka sakurai : Udah dilanjut. Arigatou sudah review
Keira Natsuka: Gomen'nasai. Runa ga bisa update kilat :'(. Tapi Arigatou sudah review
Ymd : Udah dilanjut. Arigatou sudah review
Yuichi : Naruko ga baik-baik aja :'(. Engga, Cuma Sasuke yang tahu Naruto punya sosok lain. Yap jawabannya ada di chap ini. Arigatou udah review
123 : Udah dilanjut. Arigatou udah review
amour-chan : Udah dilanjut. Arigatou udah review
namikaze yuka : Woa? Benarkah? Duh, Runa jadi senang. Arigatou sudah suka dengan fic Runa. Ini sudah dilanjut
xxxSN : Udah dilanjut. Arigatou udah review
UzumakiDesy : Udah dilanjut. Arigatou udah review
Chika : Akan Runa usahakan untuk happy ending Tapi masih belum tau endingnya hehe. Arigatou udah review
ahira-chan : *Sodorin tisu ke Ahira-san* Jangan nangis dong Ahira-san.. Jangan panggil Runa senpai :'( Runa belum pantas dipanggil senpai :D panggil Runa aja yah. Arigatou sudah review
Uzumaki Prince Dobe-Nii: Sasuke tau Naruko pas Sasuke lagi koma. Ada di chap 7 deh kalo ga salah. Pas Naruko, Naruto, sama Sasuke diketemuin disatu tempat. Arigatou sudah review
Ara Uchiha : Udah dilanjut. Arigatou udah review
Guest : Engga ko. Kan tulisannya 'tanpa Fugaku, Itachi dan Sasuke'. Dirimu salah baca tuh :D Arigatou sudah review
Blossom-Hime : hehe iya.. Arigatou sudah review
Nauchi KirikaRE22 : Wah? Begitukah? Arigatou :D hehe Arigatou sudah review
sfsclouds: Yosh! Semangat! Arigatou sudah review
sairaji423 : Hehe, tamatnya masih lama :D Arigatou sudah review
Nokia 7610 FP1 OS7 : Udah dilanjut. Arigatou udah review
B-Rabbit Ai : Pisahin ga yaa? Liat nanti deh ya :D hehe. Endingnya masih rahasia, soalnya Runa juga belum tahu endingnya mau kaya gimana. Hehe.. Arigatou sudah review
Namikazeminato : Yap, ini sudah dilanjut. Arigatou sudah review
cha. : Yap, ini sudah dilanjut. Arigatou sudah review
Uchiha natsumi : Hai juga! Salam kenal Ini udah dilanjut kok. Arigatou sudah review
Uchiha Namikaze : Hai juga! Arigatou sudah suka dengan fic Runa Ini sudah dilanjut kok. Ya, doakan saja ya semoga inspirasi Runa bisa membuat fic SasuFemNaru lagi. Hehe. Arigatou sudah review!
Terimakasih atas reviewnya! Terimakasih sudah membuat Runa senang Jangan lupa review lagi yaa Jaaa...
