Bagian dua: Saat Dingin, Kau Milikku! (1)

Hari itu hujan. Suasana yang sangat ideal untuk berbagi pelukan di balik selimut, atau kecupan-kecupan kecil. Tapi, disinilah Luhan, sendirian dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya.

Kekasihnya kemana?

Pertanyaan bagus. Kekasihnya pergi jauh untuk perjalanan bisnis, tepatnya di ruang tengah. Jangan protes, menurut Luhan, jika kekasihnya itu tidak ada dalam jarak pandangnya, berarti dia jauh. Sehun bergelut dengan semua tugasnya sejak pagi. Dan ini sudah siang.Itu berarti masih ada sore dan malam waktu untuk mengacuhkan Luhan seharian ini.

Luhan mendengus. Ia ingin memeluk manusia es yang hangat itu. Memenuhi penciumannya dengan aroma khas Sehun, lalu mengecup, mungkin sedikit menggigit disana sini. Hanya menggigit, serius.

"SEHUNAA!!"

Luhan merengek. Berharap kekasihnya itu menghampirinya dan memberinya pelukan, atau menengoknya sebentar saja saja. Ia sudah menjatuhkan hampir semua barang yang ada di tempat tidurnya, entah itu ditendang atau dilempar, bahkan ponsel barunya jadi korban juga. Hanya selimutnya yang masih berada di atas tempat tidur. Luhan juga masih di atas tempat tidur, tentu saja.

"Sebentar Luhannie."

Terdengar suara dari kejauhan. Luhan mengerucutkan bibirnya. Benar-benar bingung tidak tau ingin melakukan apa. Ia bahkan bosan bermain ponsel, yang menjadi alasan kenapa ponsel itu tergeletak tidak bernyawa di bawah tempat tidur.

Padahal memang ponsel 'kan tidak bernyawa.

Laki-laki bersurai coklat madu itu memutuskan untuk menghampiri Sehunnya di ruang tengah. Ia melangkahkan kakinya di lantai yang dingin, selimut tebal berwarna putih itu Luhan bawa karena suhu yang benar benar dingin, mungkin itu bisa digunakan nanti, untuk menangkap Sehun mungkin, digunakan sebagai jaring.

Luhan menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi-bunyian mengganggu untuk Sehunnienya. Padahal niatnya sendiri sudah jelas untuk mengganggu. Luhan kemudian menghampiri Sehun yang terlihat berantakan, walau ia harus mengakui, dengan Sehun berantakanpun, dia kalah tampan.

"Hunnie."

"Iya."

Sebuah kurva negatif terbentuk oleh bibir plum Luhan. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Sehun untuk mengambil perhatian Sehun, mengamati apa yang Sehun lakukan dengan tulisan-tulisan dan angka-angka random yang tidak ia mengerti. Sehun, dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, walaupun masih bersekolah memang sering diminta ayahnya untuk mengerjakan satu, dua pekerjaan perusahaan yang benar-benar tidak sampai di kepala penuh gula-gula milik Luhan.

Mengalihkan matanya dari laptop yang digunakan kekasihnya, lalu menatap pemuda Oh di sampingnya. Dari tempat Luhan duduk, wajah Sehun tidak terlalu terlihat, lebih fokus pada rahangnya yang tajam, dan fitur wajahnya yang lain yang menonjol, seperti hidung, atau mata tajamnya dengan kacamata yang sedikit merosot dari tempatnya.

Kadang, Luhan penasaran apakah Sehun adalah satu dari makhluk seperti botol kecap yang diberi nyawa, tapi bedanya dia sejenis patung dewa Yunani yang diberi nyawa lalu tertiup angin ke Korea.

Okay, ini mulai random. Isi kepala Luhan terlalu random.

Tanpa Luhan sadari, tatapan intensnya itu membuat Sehun terusik dan menatapnya balik, bertanya-tanya apa yang salah dengan wajahnya.

"Apa?" Tanyanya.

Luhan terkekeh karena berhasil mengusik Sehun. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu akan melakukan apa, Luhan hanya ingin mengganggu Sehun.

"Saranghae."

Tatapan Sehun berubah datar. Ia mendorong dahi Luhan dengan jari telunjuknya pelan.

"Tidur sana, aku mau bekerja."

Luhan mengerucutkan bibirnya namun tidak membantah perintah Sehun, ia beranjak dari sofa, walau tidak memiliki keinginan untuk kembali tidur, atau bahkan kembali ke kamar.

Sehun masih sibuk dengan laptopnya, kembali tenggelam dalam pekerjaannya sejak pukul enam pagi tadi. Luhan bahkan ragu kalau Sehun sudah mandi pagi tadi.

Ah iya, Sehun belum sarapan!

Luhan mengarahkan kakinya menuju dapur, berpikir ingin memasak apa untuk Sehunnya yang sibuk. Makanan yang membuat Sehunnya kembali bersemangat dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

Satu, dua menit terlewati dengan Luhan duduk di kursi meja makan dengan tangan menumpu wajahnya memikirkan hidangan apa yang akan dia buat untuk Sehun. Kemudian waktu berganti menjadi sepuluh menit, lalu lima menit.

Ah!

Luhan menjentikkan jarinya. Mengingat sesuatu.

Kenapa aku bingung mau membuat apa kalau satu-satunya hidangan non-instant yang bisa kumasak hanya nasi goreng?!

Bodoh memang. Tapi setidaknya Luhan sudah memutuskan akan memasak apa. Ia beranjak dari kursi, membuka kulkas, menyiapkan segala yang ia butuhkan untuk nasi gorengnya, dan berkutat dengan itu.

Suara barang berjatuhan, atau pekikan pelan mengikuti berjalannya proses memasak, atau mungkin perang di dapur. Mau tak mau, hal itu menyebabkan konsentrasi Sehun buyar.

Sehun kemudian menaruh laptopnya, menatap ke arah dapur sambil meregangkan ototnya yang kaku karena tidak benar-benar digerakkan selama berjam-jam.

"Luhan?"

"Sebentar!"

Sehun sebenarnya khawatir ada kebakaran di dapur. Luhan itu parah sekali kalau masalah memasak, bukan rasa masakannya, lebih ke keadaan rumah setelah ia memasak, dan tangannya. Tapi, toh, Luhan pasti tahu apa yang dia lakukan, jadi Sehun tidak perlu repot untuk menengoknya di dapur. Kalau ada apa apa, pasti Luhan akan memberitahunya.

"Sehunnie!"

Kepala Luhan menyembul dari pintu dapur. Wajah itu hanya diam disana sambil tersenyum tidak jelas. Tangannya muncul kemudian membuat gestur memanggil Sehun untuk datang menghampirinya.

Sehun menatap lelaki bersurai cokelat madu itu dengan penuh tanya sebelum akhirnya beranjak menghampirinya.

"Ddududun! Aku membuatkan sarapan untukmu!"

Luhan melompat kecil dengan riang. Sepiring nasi goreng dengan telur di atasnya tersaji di meja makan. Sehun terkekeh. Astaga, dia kira Luhan di dapur tadi merusuh karena dia lapar dan sama sekali tidak ada makanan, karena dia lupa membuat sarapan untuk mereka berdua hari ini.

Sehun merasa dirinya ingin menangis, entah karena sedih atau senang. Senang karena kekasihnya tidak membakar rumah, dan sedih karena melihat kekacauan di dapur.

Sedangkan Luhan tersenyum.

Ah, Sehun pasti tersentuh karena aku memasak dengan cinta, pikirnya.

Yah, bagaimanapun Luhan melakukan ini untuknya, bagaimana bisa dia marah?

"Kau sudah makan, Lu?"

Luhan menggeleng.

"Tapi aku sudah minum susu."

Sehun mengusak rambut Luhan sayang, mendudukkan dirinya di kursi lalu menepuk pahanya.

"Kemari, aku suapi."

Luhan tersenyum, menyembunyikan orb coklat berkilaunya dalam satu garis berbentuk bulan sabit. Ia mengangguk, menghampiri Sehunnya, mendudukkan dirinya dipangkuan Sehun dan memeluk leher lelaki yang lebih tinggi.

Dan begitulah hari itu berawal, saling berbagi kecupan dan pelukan sambil menghabiskan sarapan.

Dalam hatinya, Luhan berjanji akan menjadi seseorang yang lebih baik untuk Sehunnya, diawali dengan belajar memasak dan mencoba menu menu baru misalnya, dan tentu saja bahan bahannya dibeli dengan kertas-kertas di dompet Sehun.

Sedang Sehun berharap, Luhan tidak merencanakan apapun yang menghabiskan uangnya.

Bersambung..

Maafkan typo dan kegajean otak saya:( Terimakasih untuk selynLH7 untuk koreksinya!! Saya sangat mengapresiasi itu dan mengedit kembali bagian satu.

Sampai jumpa lain waktu!