Bagian tiga: Pasangan Yang Menggelikan

Sehun dan Luhan hampir selalu bersama. Kemanapun mereka pergi, jika memungkinkan mereka akan pergi bersama dengan tubuh menempel di satu sama lain dan tangan bertautan. Pengaplikasian lagu Payung Teduh yang berjudul Akad, berlarian kesana kemari dan tertawa. Uh, okay.

Tentu saja mengasikkan bagi mereka, menyenangkan memelihara kupu-kupu atau satu kebun binatang di perut mereka. Err— Tapi tidak begitu bagus untuk orang yang melihatnya.

Terutama untuk dua manusia jones yang tidak sengaja melihat mereka berdua yang sedang celingukan mencari tempat duduk dengan si yang lebih pendek bergelayut di lelaki yang bertubuh jangkung.

"Astaga, Sehun dan Luhan itu. Tidak bisakah mereka berpisah untuk sebentar saja, mataku panas melihat mereka berdua selalu dikelilingi rona merah jambu, geli."

Yang baru saja berbicara adalah Tao, membuat gestur memisahkan mereka berdua dengan telunjuk di antara keduanya. Dia berada dalam Klub Basket bersama Luhan. Matanya istimewa karena memiliki kantung hitam yang dibawanya sejak di kandungan Ibunda. Melihat dirinya dengan tubuh yang lebih kekar dari Luhan dan menampilannya yang mengerikan, dia sebenarnya adalah manusia paling manja yang akan mengeluarkan head-voicenya hanya karena suara ketukan ranting di jendela, dan merengek sampai menangis di mall karena tidak dibelikan barang ber-merk kesukaannya.

"Oh ayolah Tao, kau hanya iri. Karena si Naga Botak itu tidak menggubrismu sama sekali."

Chanyeol tertawa lepas.

"Heh, Siapa Naga Botak?! Yifan gegeku tidak botak!" Tao mengepalkan tangannya meninju Chanyeol dengan main-main.

"Iya, tidak. Hanya plontos saja."

Oke, lupakan soal main-main. Ia benar benar ingin meninju Park Chanyeol sampai pingsan sekarang.

"PARK CHANYEOL!"

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

"Hey."

Sebuah suara halus menyadarkan keduanya dan menyelamatkan Chanyeol dari kematian yang hampir menjemput.

Syukur.

"Boleh kami duduk disini?"

Seketika Tao merinding, bukan hantu, bukan. Tao merasakan aura penuh bunga-bunga berada di dekatnya. Benar saja, Sehun dan Luhan dengan senyum cerah yang mengembang sedang berdiri di hadapan mereka, mengambil tempat duduk, dan ikut bergabung dengan mereka untuk makan siang.

Oh, mereka sedang di Kantin. Dengan hiruk pikuk manusia-manusia kelaparan yang menyerbu penjual dengan bar-bar dan air liur yang berjatuhan seperti, Zombie.

Percayalah, memang seperti itu keadaannya.

Tempat duduk sudah penuh. Karena itu, mereka memilih duduk dengan Tao dan Chanyeol yang kebetulan memang orang yang tergolong dekat dengan mereka.

Sebenarnya Sehun tidak mau mengakui Chanyeol teman karena Chanyeol dekat dengan Luhan dan ia tidak menyukainya. Kalau Luhan untuk Sehun adalah matahari yang bersinar pada pagi yang menghangatkan hariChanyeol adalah setan.

Tidak nyambung 'kan? Memang. Karena Sehun tidak mau Luhan memiliki hubungan dengan Chanyeol. Se-di-kit-pun.

"Oh, Luhan. Hai?" Tao tersenyum miring. Memikirkan makan siangnya yang tidak akan tenang dengan pasangan sejoli yang selalu saja membuat geli sekaligus membuatnya merasa ngenes akan makan satu meja dengannya.

"Aku lebih suka kalau kau tidak memberi jeda di antara kata Oh dan Luhan. Lagipula itu akan menjadi nama penuh Luhannieku beberapa tahun lagi."

Nah, kan. Baru juga dibilang.

"Sehunnie, aku malu."

Luhan tersipu, menutup wajahnya sebentar lalu memberi pukulan pelan di bahu Sehun yang dibalas kekehan oleh pemuda Oh dan Chanyeol bersumpah itu adalah hal paling menggelikan yang ia lihat dari Luhan.

Bagaimana bisa dia mengagung-agungkan ke-manly-annya setelah bersikap seperti itu?!

"Baiklah, cukup. Aku tidak mau memuntahkan makanan yang belum kumakan." Chanyeol berbicara sembari mendudukkan kembali tubuh bongsornya di kursi.

"Gimana Yeol, gimana?"

Berbeda dengan Tao yang bingung, Luhan terkekeh masih dengan semu merah di kulit putih susunya, dan berbeda lagi dengan seseorang yang mengklaim Luhan sebagai miliknya, Ia menajamkan matanya menatap Chanyeol seperti Chanyeol adalah pembunuh berantai yang sudah menghabisi semua koleksi kecoanya.

Benar, sebegitu tidak sukanya Sehun dengan Chanyeol sampai setiap kata yang diucapkan Chanyeol menjadi rapalan yang memiliki kemampuan meningkatkan kesensitifan pada Sehun.

"Sehunnie mau makan apa?"

Ketegangan di wajah Sehun—tentu saja wajah, dimana lagi yang kalian mau?—langsung mengendur mendengar suara lembut kekasihnya.

Seperti lullaby, menenangkan, pikir Sehun.

"Mm, hmm—..." Sehun mengetukkan telunjuknya di meja, "Bagaimana kalau Luhannie saja? Sehunnie mau makan Luhannie saja."

Tao bergidik.

"Tidak boleh! Sehunnie bukan kanibal! Lagipula kalau Luhannie dimakan Sehunnie, nanti Sehunnienya kesepian."

Luhan melengkungkan bibirnya ke bawah yang membuat Sehun reflek menghentakkan sebelah kakinya karena terlalu gemas.

Padahal Chanyeol ingin muntah. Lagipula makanan di Kantin ini sudah dalam bentuk set dengan gizi yang cukup untuk anak SMA. Jadi sebenarnya pertanyaan Luhan itu unfaedah.

"Huff— baiklah, Sehunnie mau apapun yang Luhannie makan." Sehun menetralkan jantungnya yang berdebar karena kekasih menggemaskannya lalu menatap Chanyeol tajam.

"Apa kau lihat-lihat?!"

Chanyeol langsung membulatkan bola matanya tidak terima, dan dalam diam ia merintih kepada Tuhan.

Ya Tuhan, apa salah makhluk-Mu yang paling tampan ini?!

Seperti yang telah diduga. Setelah makanan tersaji di hadapan mereka, Tao dan Chanyeol tidak terlalu menyentuh makanannya. Lebih kepada meruntuki kenyataan bahwa mereka tidak memiliki kekasih, dan dua manusia sialan yang daritadi saling berbagi suapan dan kikik-an kikik-an penuh cinta, sampai Panda dan Yoda itu mengira mereka sedang semeja dengan Kuntilanak.

"Sehunnie mamam, aaaa—"

"Nom— hm rasa makanan yang masuk ke mulutku karena suapan Luhannie terasa saaaangat enak."

Luhannie terkekeh, matanya membentuk bulan sabit yang selalu disukai Sehun, membuat Sehun merasa makanannya berkali lipat lebih nikmat lagi.

"Sepertinya makanan di Kantin ini diberi terlalu banyak micin, Yeol."

"Sepertinya keberadaan kita ini benar benar tidak terlihat, Tao."

"Sepertinya aku setelah ini akan trauma, dan memiliki ketakutan berlebih pada pasangan yang sedang dimadu asmara."

"Sepertinya aku gisi buruk karena tidak ada yang menyuapiku."

"Yeol, jangan ngenes."

"Tao, aku tidak ingin makan lagi. Makananku rasanya jadi manis."

"Kenapa?"

"Mereka berdua membuat makananku terasa terkena hujan gula dari langit. Bahkan, perutkupun meronta ingin lepas dari tubuh..."

Chanyeol menatap kosong sambil memegangi perutnya yang gembul.

"Tao, apa ini tandanya aku akan mati?"

"Terserah, Yeol. Terserah."

Dan rengekan keduanya itu bahkan tidak sampai ke telinga Sehun dan Luhan karena terlalu sibuk dengan satu sama lain.

Sehun dan Luhan tidak mau istirahat cepat berakhir karena itu berarti mereka harus berpisah karena mereka berbeda kelas.

Sedangkan Chanyeol dan Tao, sesungguhnya mereka berharap segera dipulangkan ke rumah orangtua karena sudah tidak kuat menghadapi dia yang tidak peka-peka, dan dua sejoli yang ingin mereka lempar ke sungai.

Bersambung..

Saya nggak ngira ada yang mau baca fanfiksi abal yang tujuannya hanya iseng ini:") Terimakasih sebanyak-banyaknya yang sudah memberikan apresiasi dalam bentuk review, fav, dan lain lain.

Dan, yap, setiap bagian dalam fanfiksi ini tidak bersangkutan satu sama lain. Sebenarnya awalnya mau dibuat bersangkutan tapi melenceng dari rencana, hehe.

Terakhir, maaf karena update yang ngaret:") dan jangan lupa untuk memberi saran untuk SDD kedepannya agar lebih baik! Terimakasih!