.
Sehun bosan. Tidak ada yang bisa dilakukan. Duduk di sofa ruang tengah dengan televise yang menyala dan ponsel di tangannya, hanya menggulirkan linimasanya kesana dan kemari melihat apakah ada hal yang baru, tapi benar-benar tidak ada yang menarik perhatiannya sama sekali. Ia mendesah keras kemudian. Membaringkan diri di sofa, menggerutu. Meruntuk kesibukan Luhan di hari-hari kosong tanpa jadwalnya.
Berkali-kali jempol nakalnya ingin menghubungi Luhan, berkali-kali pikirannya memunculkan ide untuk memberikan spam kepada kekasih cantiknya untuk mencuri perhatiannya. Namun kemudian ia urungkan, lalu kembali hanya berguling-guling di ruang tengah dengan keluhan yang tidak ada habisnya keluar dari bibirnya.
Cklek
"Sehunnie, aku pulang."
Seandainya Sehun adalah seekor anjing, pasti telinganya sudah berdiri dan ekornya sudah berkibas karena sangat bersemangat , senyum lebar terlukis di wajah stoicnya, dan seandainya satu satunya kata yang bisa ia katakan adalah "wuf" dia akan menjadi anjing sungguhan.
Luhan melepas sepatu dan menghampiri Sehun yang terduduk dan mengamatinya dengan antusias, matanya seperti ada jutaan bintang. Luhan mengira Sehun mungkin dapat lotere, tapi Sehun tidak pernah membeli lotere, jadi yah―
"Ada apa hm? Kau sudah makan?"
Lelaki mungil itu mendudukkan dirinya di sebelah Sehun, menatap lelaki satunya dengan mata doenya yang menggemaskan. Sehun meringis, entah kenapa ia tidak suka melihatnya. Ia mengalihkan pandangannya, mengambil remote televisi dan menonton yang sedari tadi tidak mengambil perhatiannya sama sekali.
"Hey, kenapa?"
"Hus, diamlah, acaranya sedang bagus."
Sehun bahkan tidak menatap Luhan untuk menjawab pertanyaan kekasihnya. Luhan memiringkan kepalanya heran lalu menatap televisi, saat itu Luhan yakin seratus persen mungkin Sehun gila. Acara sedang bagus―
Tidak ada apapun disana kecuali iklan.
Mungkin iklan yang bagus.
"Hunnie, kau kenapa?"
"Mandi dan makanlah dulu."
Luhan menggembungkan pipinya, tadi sepertinya manusia yang satu ini sedang dalam suasana hati yang sangat bagus, bunga-bunga bermekaran, dan mungkin juga cahaya-cahaya Tuhan. Lalu tiba-tiba saja semuanya hilang, lenyap. Berganti aura yang mengerikan, seperti keadaan Prancis sebelum revolusi, atau keadaan Roma setelah konstantinopel hancur.
Percayalah, itu memang semengerikan itu.
"Err-.. Baiklah"
Ia meninggalkan Sehun kemudian, berpikir untuk membersihkan diri dulu lalu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Dengan bibir yang mengerucut dan alis yang menukik, Luhan beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar dengan suara debuman pintu yang sengaja ia keraskan.
Di sisi lain, Sehun sedang dilanda sesuatu yang sangat besar. Seperti pukulan keras yang mengenai pipinya atau dia baru saja kejatuhan truk barang yang sangat besar. Melihat Luhan bertingkah seperti tidak apa-apa memperburuk keadaan, tapi nyatanya Sehun melihat jelas, itu―
Argh, menyebalkan.
Sehun tentu saja tidak dapat memfokuskan dirinya ke televisi dan ponsel yang berada di genggamannya, entah ada dimana sekarang. Seharusnya tadi ada disini. Rasanya setelah jatuh terkena tangga. Sehun harus menghubungi Baekhyun sekarang juga—sekedar mencurahkan kekesalannya, tapi dimana ponselnya. Ia mengacak rambutnya frustasi, dunia sangat tidak berpihak kepadanya hari ini. Hah, rasanya bahkan jiwanya sudah keluar dari tubuhnya.
Duapuluh menit berlalu, suara pintu yang dibuka menyadarkan Sehun dari awan mendung dan hujan badai yang mengelilinginya. Luhan keluar dari kamar, ia menggunakan pakaian Sehun lagi.
Astaga dia memiliki satu buah lemari penuh dengan pakaiannya sendiri, kenapa ia menggunakan pakaianku?
Astaga dia memiliki satu buah lemarl
Itu tidak pernah mengganggu Sehun sebelumnya. Sehun senang-senang saja Luhan memakai pakaiannya, lagipula bau bayinya akan tertinggal disitu dan itu bukan hal yang buruk. Sehun suka dari pakaiannya menguar bau Luhan. Sangat suka, malah.
Tapi ini berbeda. Demi Tuhan, Luhan kenapa kau sangat tidak peka.
Luhan berjalan mendudukkan dirinya di samping Sehun, memeluk Sehun dengan erat setelahnya. Mengusakkan rambut basahnya ke ceruk leher Sehun membuat Sehun menggigit bibir bawahnya berusaha tidak merespon apapun yang dilakukan kekasihnya.
Lelaki yang lebih mungil mengerutkan dahinya. Sehun tampak berbeda, biasanya dia akan membalas pelukannya dan bermanja-manjaan kemudian. Tapi sekarang ia bahkan tidak menatapnya sama sekali. Pasti ada sesuatu.
"Hunnie, kenapa?"
Sehun menggelengkan kepalanya pelan.
"Hey, kenapa?"
Sehun masih terdiam.
"Hun."
Gawat.
Itu adalah tanda bahwa Luhan dalam batas kesabarannya. Seharusnya Sehun yang marah disini, kenapa dia malah ikut-ikut kesal. Sehun masih keras kepala, menatap televisi di hadapannya walau matanya sedikit-sedikit melirik Luhan.
"Baiklah."
Luhan sudah akan berdiri saat Sehun tiba-tiba menggenggam tangannya. Hanya menggenggam tangannya tanpa melakukan apapun, tanpa mengatakan apapun.
"Kalau begitu katakan padaku ada apa, ung?"
Bibir plumnya tertekuk ke bawah, ia tidak ingin Sehunnya kesal padanya. Mata doenya menatap Sehun, sedih melihat Sehunnya yang dingin kepadanya.
Bohong kalau dia tidak merasa sakit.
"Luhan, bisakah kau tinggal saja di rumah?"
"Huh?"
"Bisakah kau tetap di rumah, tidak usah keluar sama sekali. Pemikiran bahwa orang-orang bisa melihatmu membuatku kesal."
Sehun mengelus lembut tangan Luhan.
"Aku tidak mengerti."
"Kau tau― setiap aku menatap matamu, aku selalu merasakan bunga bermekaran di dalam diriku. Padahal aku tidak sedang menanam bunga. Aku tidak ingin ada orang lain yang jatuh cinta padamu. Aku ingin hanya aku yang bisa melihatmu, aku ingin hanya aku yang gila karenamu-.."
Luhan terdiam. Sejak Sehun mulai berbicara, pipinya sudah terbakar. Sejak kapan rona ini datang? Jantungnya berdebar gila dan rasa kesalnya pada Sehun hilang saat itu juga.
"..Aku mencintaimu." Lanjutnya
Sehun menangkup wajah mungil Luhan.
"Matamu-.."
Sehun mengecup mata Luhan.
"..hidungmu-.."
Ia menyatukan kedua hidung mereka. Memejamkan matanya sekilas dengan senyum yang menghiasi wajah stoicnya.
"..bibirmu-.."
Sehun mempertemukan kedua bibir mereka. Hanya menempelkannya lama tanpa lumatan. Kedua mata itu terpejam. Saat itu penuh makna, keduanya menyalurkan rasa hangat, nyaman, dan kebahagiaan memiliki satu sama lain.
Waktu, kumohon berhentilah.
Tidak ada satu dari keduanya yang menginginkan masa-masa itu berakhir.
Tautan itu terlepas, berganti dengan tatapan hangat antara keduanya
"..semua tentangmu, aku tidak mau membaginya dengan siapapun, kau milikku. Hanya milikku."
Sehun merengkuh tubuh mungil kekasihnya. Luhan tersenyum melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.
"Aku milikmu Sehun. Hanya milikmu."
Luhan terkekeh dalam pelukan bayi besarnya.
"Jadi kau kesal karena cemburu ya?"
Wajah Sehun berubah semerah tomat busuk. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luhan.
"Diamlah."
"Hey, astaga menggemaskan sekali Sehunnieku."
"Nggg~"
Mau bagaimanapun, Sehun lebih muda empat tahun dari Luhan, dan mau bagaimanapun, ia merangkap sebagai figur kakak untuk Sehunnienya.
Lagipula, astaga, kenapa Sehunnya menggemaskan sekali.
Ia mencubit gemas pipi kekasihnya yang merajuk. Memberi kecupan kecil pada bibir mengerucut kekasihnya.
"Kau menyebalkan, Han."
"Aku tau."
Bersambung...
