Pernah membayangkan dunia dimana semua jenis makhluk tinggal bersama dalam satu harmoni?
Ah, ini bukan lagi soal hewan, tumbuhan, dan manusia saja. Ini mengenai makhluk-makhluk yang hidup dalam dunia mitos; hybrid, vampir, manusia serigala, penyihir, dan apapun yang bisa kau temukan di buku dongeng anak-anak.
Biar kuceritakan sedikit. Pada masa itu, ada dua golongan yang hidup berdampingan, monster dan manusia. Dalam suatu perjanjian, mereka menyetujui untuk menjalani hidup secara berdampingan juga memberikan monster dan manusia hak yang sama.
Tentu saja, ada pihak-pihak yang tidak menyukai adanya perjanjian ini. Beberapa bagian dari kaum monster dan manusia merasa golongan mereka lebih tinggi dari golongan lain dan tidak sepantasnya mereka disamaratakan.
Satu dari pihak monster yang tidak menyukai perjanjian itu adalah Oh Sehun, seorang keturunan vampir berdarah murni dengan obsidian tajamnya dan kulit pucat yang mencolok daripada vampir lainnya. Dia sangat tidak menyukai adanya kebijakan pemerintah yang memaksanya hidup berdampingan dengan manusia-manusia yang menurutnya kotor dan lemah itu. Menurutnya, mereka bisa mengambil alih dunia dan hanya mengisi bumi dengan monster-monster kuat dan cerdas sepertinya.
Overconfident.
Untuk mewujudkan apa yang ia inginkan, ia harus menjadi orang yang lebih berpengaruh daripada seorang pangeran yang masih dalam tahap pendidikan formal di sekolah. Tentu saja, walaupun ia sangat membenci manusia, Sehun harus tetap bersekolah di sekolah campuran dimana semua ras, jenis, makhluk, berkumpul menjadi satu untuk mendapatkan ilmu. Hal itu sebenarnya membuat Sehun jengah, namun orangtuanya memaksa Sehun untuk tetap bersekolah di sekolah umum daripada mendapatkan pendidikan pribadi di rumah super besarnya.
Dan akhirnya, hari itu tiba. Hari dimana dia selesai dengan semua pendidikan formal menyebalkan yang sudah ia lalui selama duabelas tahun ini. Prom night, mereka menyebutnya. Malam pelepasan masa-masa remaja dan memasuki kehidupan sebenarnya, malam dimana mereka para pelajar bisa melakukan apapun yang mereka mau sebelun fajar bertamu.
Apa yang kau harapkan dari seorang Oh Sehun? Ia hanya berdiri dengan segelas wine diantara jari-jarinya. Menatap keluar ruangan dari balkon, sedikit jauh dari keramaian dan wanita-wanita yang sedari tadi berusaha mencuri perhatiannya.
Waktunya revolusi, batinnya.
Cahaya bulan yang persejuta dari cahaya matahari itu menimpa helaian surainya. Memberi warna silver yang entah kenapa membuatnya tampak lebih menawan dan benar-benar seperti pangeran.
Ia menikmati waktunya sendiri, sebelum sesuatu mengganggunya. Itu adalah dua orang yang sedang berciuman dengan panasnya, dan tangan yang menyentuh bagian satu sama lain dengan tidak tahu malunya.
Sehun berdecih, menunjukkan ekspresi bahwa ia geli dengan hal immoral yang dilakukan pasangan yang mengganggu waktu sendirinya.
Tak banyak bicara, Sehun berjalan memasuki hall, namun disana terlalu ramai dan terang. Suasana hatinya yang awalnya baik mendadak berubah sangat buruk. Ia menaruh gelas wine-nya pada baki yang dibawa seorang pelayan, lalu melangkahkan kaki panjangnya keluar dari hall, berusaha mendinginkan pikirannya yang mendadak kacau.
Melewati pilar-pilar sekolahnya, ia baru menyadari kalau sekolahnya ini sangat luas. Selama bersekolah, ia hanya fokus pada deret huruf dan angka yang ada di buku dan juga papan tulis. Mewujudkan obsesinya untuk menjadi nomor satu dan dengan sebuah ledakan, dia dapat bersuara dan mendapat dukungan masyarakat untuk menghabiskan semua manusia di bumi.
Sehun tersenyum membayangkan mimpinya yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
SrrkSrrk
Sampai ia mendengar suara aneh dari sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka. Tidak, tentu saja ia tidak takut dengan hantu atau semacamnya. Lebih-lebih, Sehun penasaran dengan apa yang ada disana.
Dengan berhati-hati, Sehun mendekati asal suara itu dan menemukan seorang manusia dengan surai blonde—berbanding terbalik dengan surai hitam legamnya—tampak sedang bersembunyi dari sesuatu. Alih-alih pergi karena well daripada berurusan dengan manusia, ia malah mendekati seseorang yang ternyata lebih pendek darinya itu dan menarik rambutnya lembut.
Lelaki itu terkejut, lebih terkejut daripada manusia di depannya yang langsung berbalik badan menghadapnya dengan pekikan tertahan.
Sungguh, Sehun tidak percaya baru saja menyentuh seorang manusia.
"Hey! Apa-apaan itu?"
Tentu saja, laki-laki itu protes dengan berbisik karena tiba-tiba orang yang tidak dikenal menyentuhnya, dan uh- warna kulitnya benar-benar pucat, menyeramkan.
"Oh tidak-"
Laki-laki itu kemudian menutup mulutnya rapat rapat, menyadari ia baru saja bersuara dengan cukup kencang, dan tampaknya itu tidak terlalu bagus.
"Kenapa?" Sehun menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti. Tapi itu malah menyebabkan salah satu tangan lelaki itu berpindah menutup mulutnya.
"Ssh.. diam.." bisiknya.
Sehun mengerutkan dahinya tidak suka dengan kenyataan manusia yang seenaknya menyentuhnya—walau sebenarnya dia duluan yang menyentuh— berusaha melepas tangan manusia itu dari wajah porselennya. Gawat kalau nanti meninggalkan bekas, atau bakteri dan merusak wajah tampannya.
BRAK"Luhannie.. Aku menemukanmu.."
Sehun mendengar suara lain dan seorang penyihir yang terbang memasuki ruangan dengan sapu ajaibnya.
"Lari!"
Tidak mengerti apa yang terjadi, Sehun hanya mengikuti langkah lelaki mungil yang melarikan diri tanpa mengetahui alasannya. Sebenarnya instingnya juga mengatakan ada hal yang tidak bagus yang sedang terjadi.
GRAAAOO
Benar saja, tidak lama muncul beruang raksasa yang entah datang darimana, lalu berlari mengejar Sehun dan lelaki yang menggenggam tangannya erat, melarikan diri dari beruang dengan iringan tawa seorang penyihir yang melengking.
"Waaaaaaaa!!!"
Lelaki itu—Luhan berteriak heboh, takut menjadi santapan beruang yang sekarang mengejarnya dengan gigi yang tajam dan kuku yang runcing.
Astaga, Luhan masih terlalu tampan untuk mati. Sungguh masih banyak hal yang ingin ia lakukan.
Sedang Sehun memutar otak, bagaimana cara untuk selamat tanpa harus memeras keringat karena jelas jika hanya lari seperti ini mereka akan berakhir mengenaskan di mulut beruang raksasa itu.
RRGH!
GRAAAOO!
Beruang raksasa itu berlari sangat kencang dan menabrak sana-sini, itu membuat Sehun mendapatkan ide untuk penyelamatan dirinya.
Sehun menarik tangan Luhan dan berlari menuju daerah yang terbuka, keluar dari area gedung di sekolah. Beruang raksasa itu masih mengejar mereka dengan liur yang jatuh kemana-mana.
Sesampainya di luar, Sehun memeluk Luhan erat, membawanya melompat naik, menaiki bagian gedung bagian luar dan bersembunyi dan berhenti di atap sekolah. Keduanya menatap beruang yang berusaha naik sebelum akhirnya entah karena apa menghilang dengan asap.
Fuuh-
Suara helaan nafas terdengar setelahnya. Keduanya tersenyum lega menyadari beruang raksasa yang menjadi ancaman sudah pergi. Kemudian tanpa sengaja tatapan mereka bertubrukan satu sama lain dalam satu garis visual dan entah kenapa jantung mereka berdebar.
Sehun melepaskan pelukannya pada Luhan sesegera mungkin merasakan jantungnya berdebar, ia takut manusia itu mendengar suara jantungnya yang mendadak menggila.
"U-uh, terima kasih."
Dalam cahaya temaram bulan, Sehun penglihatan Sehun menangkap pipi Luhan bersemu merah, namun samar. Melihatnya, detak jantung Sehun semakin tidak terkendali. Ia membenci bagaimana dirinya seperti ini karena seorang manusia yang berposisi lebih rendah darinya.
"Ya, tidak masalah."
"Boleh a-aku minta tolong lagi?"
Pupil Luhan bergetar dan anehnya Sehun dapat melihat setiap pergerakan kecil yang dilakukan lelaki di hadapannya. Luhan dengan perlahan mendekat pada Sehun sehingga menyebabkan lelaki yang berkulit pucat menahan nafas.
"Bisakah kita turun? Aku takut ketinggian.."
Untuk sesaat, Sehun merasa ada kekecewaan yang hinggap di dadanya. Sebenarnya ia sedikit, sangat sedikit, berharap bibir plum Luhan bertemu dengan bibirnya dengan lumatan-lumatan yang meningkatkan harapan hidupnya.
Sehun mendengus.
"Baiklah, berpegangan erat."
Lelaki berwajah stoic itu melingkarkan tangannya pada lelaki yang bertubuh lebih kecil dan sial, ia merasa pinggang itu akan pas untuk ia peluk ketika dingin dan kapanpun saat ia membutuhkan dorongan.
Sehun baru merasakan wajahnya memanas saat Luhan berpegangan erat pada tubuhnya dengan wajah pucat dan panik karena benar-benar ketakutan.
Ya Tuhan, kenapa dia sangat menggemaskan
Dengan sebuah tekanan pelan pada kakinya, Sehun membawa keduanya turun kembali ke tanah landai, tepat di taman yang dengan air mancur di bagian tengahnya.
Luhan melepas pegangannya pada Sehun dan menyebabkan dengan berat hati Sehun melepas tangannya yang melingkar di pinggang Luhan.
"Sekali lagi, terima kasih banyak."
Sehun menatap obsidian yang berkilauan di bawah cahaya bintang. Sial, bagaimana dia bisa membawa seluruh galaksi ke dalam iris gelap itu?
"Ya, tapi apa yang membuatmu dikejar oleh seorang penyihir?"
"Penyihir itu bernama Hyoyeon, dia memang selalu iseng..."
Sehun mengangkat sebelah alisnya, setengah bergidik menyadari taruhan nyawanya barusan hanyalah buah dari sebuah keisengan.
"...Dan aku merusakkan penemuannya sedikit..."
Ah, tentu saja. Tidak mungkin hanya karena iseng.
"...Sebenarnya aku menghancurkannya, tapi aku benar-benar tidak sengaja."
Nah, begitu lebih masuk akal lagi. Hyoyeon—penyihir yang termasuk jajaran penyihir tingkat tinggi, penemuannya dihancurkan oleh Luhan dan dirinya yang tidak sengaja lewat, dan tidak sengaja tertarik dengan manusia mungil berambut blonde itu, juga tidak sengaja menarik rambutnya dan membuatnya marah, sehingga dengan terpaksa ia harus berlari bersamanya, terpaksa memeluk pinggangnya guna menyelamatkannya dari beruang raksasa dan terpaksa berdiri berhadapan dengan detak jantung yang tidak bisa ia kendalikan.
Begitulah kronologi versi Oh Sehun.
"Tunggu sebentar.. Kau Oh Sehun 'kan?"
"Ya? Kau mengenalku?"
"Tidak tidak, kita tidak mengenal satu sama lain. Hanya saja..."
Luhan tersenyum kemudian, menambah rasa aneh di dada Sehun dan menggelitik di perutnya.
"Aku tidak menyangka bisa berdiri berdua, berbicara empat mata dengan seorang Oh Sehun, lulusan dengan nilai tertinggi di seluruh sekolah, bukan, di seluruh wilayah."
Sehun mengangkat salah satu sudut bibirnya, mengangkat dagunya. Hey, ini waktunya dia menyombongkan diri dengan kedok merendah.
"Itu bukan apa-apa sebenarnya, aku hanya sedikit membaca dan melakukan praktek kecil-kecilan..."
Luhan berdecak. Kagum dengan keturunan vampir murni yang menjadi sorotan di sekolah. Ia mendongak untuk menelusur seluruh fitur makhluk paling dekat dengan kata sempurna di sekolahnya.
"...Lagipula itu hanya awal untuk mewujudkan mimpiku."
Mata lelaki mungil itu berbinar, dan Sehun kira jantungnya tidak bisa berdebar lebih dari ini.
"Apa mimpimu?"
Untuk persekian detik, Sehun mempertanyakan dirinya yang ragu mengungkapkan mimpinya. Bibirnya terkatup dan terbuka tanpa satu katapun yang keluar dari sana. Luhan tersenyum lembut.
"Mimpi ya? Menurutku, orang-orang yang bermimpi adalah yang paling mencolok diantara yang lain. Mereka mempunyai sesuatu, aku tidak tahu. Sesuatu yang membuat mereka berkilauan. Aku ingin seperti itu, dengan mata yang berapi-api melakukan segala cara untuk mewujudkan mimpiku."
"Benarkah? Mimpiku adalah untuk menghancurkan kaummu."
Luhan terdiam untuk persekian detik. Ia tersenyum kemudian.
"Kalau begitu kejarlah."
Seharusnya kalimat itu memberi sinyal perang untuk keduanya. Tapi entah kenapa rasanya berbeda. Luhan berbeda dengan manusia-manusia pada umumnya. Dia mungkin bisa menghentikan mimpinya.
Bukankah itu hal yang buruk?
Entahlah, Sehun juga tidak mengerti.
Itu juga berarti dia bisa menerima harmoni antara dua kubu.
"Siapa namamu?"
"Luhan."
"Luhan, kurasa aku butuh bantuanmu."
Siapa yang menduga maha benar Oh Sehun akan meminta bantuan dari seorang manusia, terlebih orang yang baru dia kenal?
Bersambung...
