Because you are the medicine

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author: PuppyBee04

Cast: Chanbaek, Hunhan, Kaisoo.

Other cast: Member Exo, Blackpink, Bts, dll.

RATE: M

Genre: Romance, hurt/comfort.

Desclaimer: Semua tokoh adalah milik emaknya masing-masing, saia hanya meminjam tokoh-tokohnya tanpa ijin. Muehehe.

Warning: BoyXBoy, Typo bertebaran, OOC, cerita abal, gaje, dan blah blah blah.

Summary: Dia datang, dengan puluhan luka dipunggungnya. Namun tidak menangis dan tidak bersedih. Segalanya tertutupi wajah tebal tanpa senyum, datar. Tak satupun ekspresi tergambar dalam garis tegas wajah tampannya.Dan Ia bertemu, seorang Lelaki mungil yang berprofesi sebagai psikolog itu bertugas menangani dirinya. Mereka saling menatap dan luka itu jelas terpancar. Bukan dari salah satu, tetapi keduanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tap tap tap

Suara langkah kaki yang tampak besahutan menghiasi heningnya suasana malam. Hanya ada beberapa lampu rumah yang masih menyala, karena sebagian besar penghuninya telah terlelap menjelajahi dunia mimpi.

Baekhyun berjalan dengan mata yang tertutup, sesekali terbuka namun kembali menutup. Tangannya menggenggam erat jaket tebalnya, sementara kaki mungil itu berjalan semakin cepat. Peluh seakan membanjiri bagian lehernya. Ia berusaha terlihat biasa, tetapi itu sulit baginya.

Chanyeol yang berjalan tak jauh darinya memandang heran kerahnya, ia melihat Baekhyun seperti sedang ketakutan. Ia menatap sekitarnya dan tidak menemukan keanehan. Lalu apa yang membuat Baekhyun setakut itu?

"Bisakah kita lebih cepat?" Ucap Baekhyun setengah tergesa.

Alis Chanyeol mengkerut "Ada apa?" Tanyanya.

"A-aku.." Jemarinya mulai basah karena keringat, ia tampak semakin mencengkram jaket tebalnya "Aku phobia terhadap gelap" Ucapnya. Kini bukan hanya kyungsoo saja yang tahu tetapi Chanyeol juga. Orang asing yang baru ditemuinya, seharusnya ia lebih waspada karena orang lain bisa memanfaatkan kelemahannya. Tetapi ia benar-benar merasa takut saat ini.

Chanyeol terkejut, seorang psikolog ternyata memiliki sebuah phobia. Ia mengangguk paham dan mulai mempercepat langkahnya. "Apa masih jauh?"

Baekhyun menggeleng "Dua kali belokan lagi dan kita akan sampai" Ucapnya.

Chanyeol kembali mengangguk.

Apartemen sederhana itu mulai terlihat. Ia mulai mempercepat langkahnya untuk menyeimbangi langkah Baekhyun yang setengah berlari.

Mereka mulai memasuki area apartemen dan menaiki lift. Pintu lift terbuka dan kaki mungil Baekhyun kembali melaju diikuti Chanyeol.

Mereka sampai dipintu masuk apartemen Baekhyun. Segera, ia membukanya dengan pasword yang hanya ia ketahui.

Pintu terbuka.

"Ayo masuk" Ajak Baekhyun yang ditanggapi anggukan kepala oleh Chanyeol.

Mereka memasuki apartemen mungil Baekhyun. Mata besar Chanyeol mulai menjelajahi sekitarnya. Memang tampak sederhana karena hanya ada beberapa ruangan yang terlihat. Seperti ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Tetapi tempat itu sangat bersih, sepertinya Baekhyun tipe orang yang sangat memperhatikan kebersihan.

"Maaf, apartemennya sempit" Baekhyun tersenyum canggung "Duduklah, aku akan membuatkanmu minuman hangat. Kau terlalu lama membiarkan tubuhmu terkena udara dingin. Kau bisa saja demam karena itu" Baekhyun sedikit memperlihatkan rasa hawatirnya.

"Terimakasih, maaf merepotkan" Sejujurnya Chanyeol merasa tak enak terhadap Baekhyun. Ia hanya seorang pasien, tetapi Baekhyun rela memberinya tumpangan untuk orang yang baru dikenalnya.

"Tak apa" Balas Baekhyun yang melangkahkan kakinya menuju dapur.

Tetapi kenapa Baekhyun tinggal seorang diri?

Apakah orang tuanya tak tinggal bersamanya?

Dan Chanyeol teringat hari itu, hari dimana ia tak sengaja mendengar Baekhyun menangis dengan pilu. Ia belum sempat melangkah jauh saat suara tangis itu menginterupsi indra pendengarannya. Hingga saat ini, rasa penasaran itu masih membumbung tinggi didalam hatinya.

Baekhyun kembali dengan dua cangkir teh diatas nampan yang ia bawa. Senyumnya kembali terpancar, sangat kontras dengan ekspresinya beberapa saat lalu "Minumlah, selagi masih hangat" Ucapnya, jemarinya meraih cangkir berisi teh hangat tersebut kemudian meminumnya pelan dan tubuhnya merasa begitu hangat.

Chanyeol mengikuti apa yang dilakukan Baekhyun.

"Kau tinggal sendiri? bagaimana dengan orang tuamu?" Chanyeol bertanya dengan spontan karena rasa ingin tahu dalam hatinya terus bergejolak.

Refleks air teh yang masih berada ditengah tenggorokan Baekhyun kembali keluar, ia terbatuk keras. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkannya.

Chanyeol terkejut melihat respon spontan Baekhyun, ia bukan orang bodoh yang tidak menyadari kesalahan dari ucapannya. "Maaf" Chanyeol merasa bersalah.

Baekhyun yang telah berhasil menghentikan batuknya segera menatap Chanyeol "Kenapa meminta maaf?" Ia kembali tersenyum "Kau wajar menanyakannya, lagipula bukan hanya dirimu yang bertanya seperti itu" Jelasnya.

Chanyeol membalas tatapan Baekhyun dengan canggung.

"Kau bertanya tentang orang tuaku?" Baekhyun menatap pigura kecil disamping Tv yang menampakkan sosok sang ayah dan ibunya tengah memeluk tubuh mungil Baekhyun dengan sayang. Saat itu usianya masih 11 tahun kemudian ia tersenyum miris "Aku tidak tahu dimana mereka" Lanjutnya. Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya.

Chanyeol semakin tidak mengerti, bagaimana bisa ia tidak mengetahui keberadaan orang tuanya sendiri? Hal itu membuat rasa penasarannya bertambah besar terhadap Baekhyun. Ia ingin bertanya sekali lagi, namun pikirannya mencegahnya. Bukankah tidak sopan menanyai kehidupan pribadi orang lain? Ia tahu, orang tuanya tidak pernah ada untuk mengajarinya tentang sopan santun. Tetapi bukan berarti ia tidak memilikinya, kepala pelayan yang selalu mengajarinya tentang tata krama. Ia selalu memberikan apa yang Chanyeol butuhkan, bahkan Chanyeol menganggap sang kepala pelayan sebagai orang tuanya sendiri. Namun sayang, kepala pelayan itu harus meregang nyawanya karena sebuah penyakit. Saat itu usia Chanyeol menginjak 19 tahun dan ia masih ingat betapa hancurnya ia saat itu.

"Kau ingin bertanya kenapa aku bisa tidak tahu, iyakan?" Baekhyun menyadari keingin tahuan Chanyeol dari matanya "Kau ingin aku mengatakan alasannya?" Baekhyun tersenyum tipis "Aku tidak akan mengatakannya, karena kau saja belum bercerita tentang dirimu. Ingat Chan, aku disini sebagai doktermu bukan pasienmu" Ia akan memancing Chanyeol agar bercerita, tidak apa ia harus mempertaruhkan masa lalunya. Asalkan tugasnya sebagai psikolog bisa terlaksana.

"Dan kau juga ingin aku bercerita tentang masalahku?" Chanyeol tahu betul trik Baekhyun yang mencoba memancingnya bercerita. Ia sendiri juga menyadari, bahwa ia datang kepada Baekhyun untuk menyembuhkan kondisi mentalnya yang kadang tak dapat ia kontrol. Jadi sudah seharusnya ia menceritakan masalahnya kepada Baekhyun.

"Kau harus Chanyeol" Ucap Baekhyun mencoba meyakinkan.

Chanyeol terdiam sejenak, ia ragu. Tetapi Baekhyun benar, ia harus menceritakan segalanya, dari awal. Ia mencoba menguatkan hatinya yang mulai melemah. Sanggup tak sanggup, ia akan menceritakannya.

Flashback on

Sore itu, dimana hujan turun begitu deras. Angin berhembus begitu kencang seolah tengah berkejaran. Sebuah mobil ambulans melaju tak kalah kencang, karena terdapat seorang ibu yang mengalami masa paling menegangkan dihidupnya. Ia akan segera melahirkan seorang bayi setelah sembilan bulan lamanya menahan beban diperutnya, dalam hati ia berdo'a atas keselamatan bayi yang akan dilahirkannya karena ia begitu menanti kehadiran sang buah hati.

Perutnya terasa begitu nyeri yang luar biasa, namun sebisa mungkin ia tetap kuat. Demi bayinya dan keluarga yang selalu mendampingnya.

Ia menoleh kearah kiri. Suami yang begitu ia cintai dengan setia memegang tangannya begitu erat. Ia tersenyum, mencoba memberi semangat kepada istrinya yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Kemudian kepala itu kembali menoleh, kali ini kearah kanan. Putri kecilnya yang berusia lima tahun itu tampak begitu hawatir, bahkan ia terus menangis karena takut sesuatu terjadi pada ibunya. Park Yoora memegang tangan sang ibu dengan masih terus menangis, jari mungil itu menggeggam erat dan bergetar. Hanya dengan melihat wajah sang putri dan suaminya yang begitu ia cintai, semangatnya kembali terpompa. Nyonya Park bertekad dalam hati, ia akan selalu melindungi dan menyayangi keluarga kecilnya.

Mobil ambulans itu sampai pada sebuah rumah sakit yang berada dipusat kota, mereka segera disambut oleh beberapa orang suster dan seorang dokter perempuan. Mereka dengan sigap membawa nyonya Park menuju ruang khusus untuk segera melangsungkan proses kelahiran.

Ruang itu ditutup dan tidak mengizinkan orang lain masuk, kecuali suster dan dokter yang bertugas menanganinya.

Jantung Tuan Park berdegup kencang, ia sedikit tegang. Namun sebisa mungkin ia mengendalikannya agar terlihat tenang didepan putri sulungnya. "Appa, eomma~ Hiks" Gadis itu tak henti-hentinya menitihkan air mata, ia semakin mengeratkan pelukannya didada sang ayah.

Tuan Park mengusap punggung mungil itu lembut "Eommamu akan baik-baik saja, ia akan segera memberimu seorang adik" Ia tersenyum, berusaha meyakinkan putrinya agar tetap tenang.

Gadis itu mengangguk mengerti, pipi gembulnya nampak memerah karena terlalu lama menangis.

Hingga jarum jam yang ada dirumah sakit itu menunjuk kearah angka enam. Mereka sudah menunggu selama satu jam lebih. Namun pintu itu belum juga dibuka. Tuan Park merasa semakin tegang, ia hawatir dengan keadaan istrinya.

Ceklek

Pintu ruang bersalin itu akhirnya dibuka, dengan tergesa Tuan Park menghampiri dokter wanita yang baru saja selesai menangani istrinya.

"Bagaimana keadaan istriku? dan bayiku?" Sergapnya.

Dokter itu menghela nafas berat "Bisa kita bicarakan ini diruanganku saja?" Ajaknya.

Tuan Park mengangguk menyetujui, ia tolehkan kepalanya kearah Yoora "Jaga ibumu ya, ayah akan segera kembali" Ia menepuk punggung Yoora kemudian melangkah mengikuti sang dokter.

Yoora segera memasuki ruangan ibunya.

Dokter itu mempersilahkan Tuan Park untuk duduk didepan mejanya. Ekspresi dokter itu susah ditebak, ia memyimpan sesuatu yang membuat Tuan Park curiga.

"Ibunya baik-baik saja, hanya mengalami sedikit tekanan tetapi itu bukan masalah. Ia akan pulih dalam seminggu" Ungkap dokter itu.

"Dan bayinya?" Ia melihat ada reaksi yang aneh pada wajah dokter dihadapannya.

"Begini" Dokter itu menatap kedua tangannya sejenak kemudian kembali menatap sang lawan bicara "Saraf yang menghubungkan beberapa bagian jaringan tubuh penting dengan otak mengalami penyatuan yang mampu membahayakan fungsi otak dan hal tersebut terjadi tepat dibagian belakang bola mata bayi anda, kami bertindak cepat untuk segera memisahkannya karena jika terlambat. Nyawa bayi anda bisa terancam. Dan hal itu.." Dokter itu menatap kearah lain, tangannya bergerak gelisah. Ia merasa ragu melanjutkan kalimatnya.

"Ada apa?" Tuan Park mulai merasa hawatir dengan kenyataan selanjutnya.

"Hal itu menyebabkan putusnya saraf mata pada bayi anda, sehingga bayi anda mengalami kebutaan permanen" Dokter itu menatap simpati Tuan Park yang begitu terkejut "Ta-tapi tuan Park, bayi anda masih memiliki kemungkinan besar untuk dapat melihat lagi jika mendapat mata pengganti. Ia perlu donor mata" Jelasnya lagi.

Tuan Park mengusap wajahnya kasar, ia sangat tidak terima dengan kenyataan yang tidak adil baginya. Putra yang telah ia dambakan bertahun-tahun adalah seorang yang cacat? bahkan ia berharap Putranya mampu mewarisi Park Corp, tetapi dengan keadaannya yang buta? itu mustahil.

"Apa istriku sudah tahu?" Tanya lagi pria paruh baya yang memimpin Park Corp selama tiga tahun tersebut.

"Belum tuan" Balas sang dokter.

Tuan Park menunduk lesu, ia benar-benar terpukul dengan kenyataan yang terjadi pada bayinya. Ia juga merasa bingung, bagaimana mengatakan hal ini pada sang istri. Ia tahu pasti sang istri akan sangat terpukul melebihi dirinya.

Ceklek

Ruang rawat itu dibuka pelan, mata besarnya menangkap kondisi sang istri kini terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Wanita itu menoleh kearahnya. "Kau sudah melihat bayi kita? bagaimana keadaanya?" Tanyannya dengan penuh semangat walau keadaan fisiknya sedang kurang baik.

Tuan Park melangkah mendekat dan duduk dikursi kecil samping ranjang. Ia enggan menatap sang istri, eskpresinya susah ditebak. Sementara tangan kekarnya menggenggam erat tangan Nyonya Park. Ia masih terus terdiam dan tidak menjawab pertanyaan istrinya beberapa saat lalu.

Nyonya Park menatapnya heran "Kenapa kau diam saja?" Ia tidak mengerti dengan sikap sang suami yang sama sekali tidak terlihat bahagia "Kau menyembunyikan sesuatu?" Sergapnya yang secara spontan membuat kepala sang suami menatap kerahnya.

Ia gelagapan, ia bingung harus menggunakan kata seperti apa agar istrinya tidak akan merasa terpukul.

"Jawab aku!" Nyonya Park sedikit meninggikan suaranya, ia menatap intens kearah suaminya.

"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apapun untuk putra kita" Pandangan itu sedikit mengabur, Tuan Park berusaha untuk tidak menangis.

"A-APA MAKSUDMU?" Wanita yang baru melahirkan itu terkejut. Ia tak mampu menahan air matanya, dadanya seakan tertimpa batu besar.

"Putra kita, ia.." Lidahnya seakan kelu, ia tak sanggup mengatakan keadaan bayinya yang baru menghirup udara dunia luar itu. "Ia... ia buta" Jelasnya. Ia segera memeluk istrinya dengan erat.

Nyonya Park terdiam, air matanya berjatuhan dari kedua pelupuk matanya. Jantungnya seakan anjlok, ia menggeleng keras. Tidak, putra yang sudah ia idam-idamkan bahkan dari sejak ia belum menikah itu tak mungkin buta. Ia sudah menunggu hari ini, ini tidak mungkin. Tangan lemahnya mendorong keras bahu sang suami.

"Kenapa kau berbohong hah?" Tangisnya pecah dan menggema keseluruh ruangan. "Tidak mungkin ia buta! dokter bilang dia baik-baik saja!" Teriaknya, emosinya semakin mengikis tenaganya yang hanya tersisa sedikit setelah melahirkan.

"Tapi itu yang terjadi" Tuan Park sadar, siap tidak siap ia harus mengatakan kebenarannya kepada sang istri.

Mereka melupakan sosok gadis mungil yang kini tengah menatap mereka dengan air mata. Ia tidak berkata apapun. Ia akan terluka saat melihat kedua orang tuanya terluka, ia juga akan menangis saat melihat kedua orang tuanya menangis. Pikirannya yang masih labil tentu tidak mengerti dengan keadaan yang saat ini ia hadapi.

Kaki mungil itu melangkah perlahan menuju pintu keluar dan tubuhnya hilang dibalik pintu.

Nyonya Park yang tidak bisa mempercayai kenyataan ini segera turun dari ranjang dengan tertatih, selang infus yang terasa mengganggu segera ia lepas secara paksa hingga menimbulkan punggung tangannya berdarah.

Tuan Park mencoba mencegahnya namun percuma karena wanita itu sedang dikuasai emosi yang tinggi.

Mereka melangkah menuju ruang dimana bayinya diletakkan, seorang suster penjaga ruang itu dengan cepat menghampiri mereka dengan terkejut.

"Apa yang terjadi nyonya?" Sergapnya.

"Dimana bayiku?" Teriak nyonya Park yang tak sabar.

Suster itu sudah hafal betul dengan pasien penting dirumah sakitnya itu karena mereka berhak atas 40% dana dari pengahasilan rumah sakit. Dengan sigap ia mencari bayi atas nama Tuan Park.

Bayi itu tengah tertidur pulas didalam kotak incubator, kelopak matanya tertutup kapas. Terlihat jelas bahwa bayi itu baru saja melakukan operasi dibagian matanya.

Seketika Nyonya Park pingsan ditempat. Membuat panik seluruh orang yang ada diruangan itu.

Mereka segera membawa tubuh lemas Nyonya Park menuju ruangannya.

Gadis mungil itu terduduk seorang diri diruang tunggu, air matanya tak henti-hentinya terjatuh. Apa yang bisa ia lakukan untuk kedua orang tuanya? saat ini ia benar-benar merasa takut.

Ia takut kehilangan perhatian orang tuanya, lihat saja. Bahkan sampai saat ini orang tuanya sama sekali tidak mencari keberadaanya.

Tiba-tiba dadanya begitu nyeri luar biasa, tangan mungil itu mencengkram dadanya dengan kuat. Ia memang sudah terbiasa merasakan sakit didadanya tetapi saat ini? tanpa kedua orang tuanya?

Biasanya sang ibu memberikan obat pereda rasa sakit setiap hal ini terjadi, tetapi saat ini ia hanya sendiri. Bahkan orang lain seakan menutup mata mereka dari kehadirannya.

Bahkan ia belum makan dari pagi. Sungguh sakit itu semakin menjadi-jadi. Membuatnya terbatuk keras hingga mengeluarkan tetesan-tetesan darah kental dari mulut dan lubang hidungnya.

Jika kalian bertanya apa yang terjadi?

Yoora bukan gadis normal pada umumnya, ia divonis dokter mengidap penyakit kanker hati stadium awal setahun yang lalu. Meski baru awal tetapi jika terlambat sedikit saja dalam menanganinya akan sangat bahaya.

Tetapi sejak mengetahui itu, kedua orang tuanya menjadi lebih perhatian kepadanya dan ia begitu bahagia. Ia tidak peduli dengan sakitnya asalkan orang tuanya selalu menyayanginya.

Namun saat ini kedua orang tuanya sedang tak ada bersamanya, apa yang bisa ia lakukan? Dan kesadarannya hilang seketika.

Seorang suster yang sedang lewat begitu terkejut melihat bocah kecil yang tergeletak dilantai dengan darah yang mengucur dari lubang hidungnya.

Ia segera membawa bocah mungil yang tak berdaya itu keruang UGD.

Tuan Park sedikit terkejut saat seseorang menepuk punggungnya. "Maaf tuan, tetapi putri anda saat ini sedang berada diruang UGD" Ucap seorang suster.

Raut wajah Tuan Park berubah panik, ia menyesal telah melupakan putrinya. Dengan langkah tergesa ia menuju ruang yang ditunjukkan sang suster. Pintu ruangan itu tertutup, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada putri sulungnya yang teramat berharga dihidupnya.

Tangan kekarnya menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia tak bisa duduk tenang, kakinya terasa begitu gatal ingin berlari menerobos pintu pembatas dihadapannya. Namun itu tentu tak dapat dilakukannya. Ia hanya mampu berdo'a atas keselamatan putri kecilnya.

Seorang dokter keluar dari dalam ruangan, ia segera dihujami beberapa pertanyaan dari Tuan Park dan dokter itu kembali mengajaknya menuju ruang dokter.

Tuan Park kini menatap putrinya yang kini terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit tanpa pergerakan, tubuhnya dipenuhi berbagai alat medis. Ia menunduk frustasi, sungguh ia menyesali kelalaiannya dalam mengurus putrinya yang memilki kondisi fisik lemah.

Ia benar-benar tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Pintu ruangan itu kembali terbuka, sang istri yang terduduk diatas kursi roda dengan seorang suster menjalakannya itu memasuki ruangan.

Ia terlihat begitu panik "Apa yang terjadi?" Ucapnya.

"Ia ditemukan pingsan diruang tunggu, beberapa saat lalu" Tuan Park menatap putrinya dengan perasaan bersalah.

"Astaga" Ia kembali menangis sembari memegang erat tangan mungil putrinya "Ini salahku" Ia semakin tersedu-sedu.

"Tidak, apa maksudmu? jangan menyalahkan dirimu sendiri atas keadaannya" Tuan Park sadar, ini seratus persen kesalahannya yang telah lalai. Ia tak akan membiarkan istrinya menyalahkan dirinya sendiri.

Nyonya Park menatap sang suami "Apa dokter mengatakan sesuatu tentang keadaannya?" Tanyanya.

Tuan Park mengangguk, ia kembali tertunduk "Dokter bilang, tumor itu semakin menyebar menuju organ penting lain ditubuhnya" Matanya mulai memburam "Sangat kecil kemungkinan bisa sembuh, kalaupun bisa. Ia akan tumbuh dengan kondisi fisik yang lemah. Ia tak akan mampu melakukan banyak aktifitas pada umumnya" Ia sudah menebak reaksi istrinya, wanita itu terus menangis dengan keras. Ia tak sanggup kehilangan putrinya yang beberapa waktu lalu bertingkah manja kepadanya untuk meminta boneka barbie keluaran terbaru dan ia belum sempat membelikannya.

Hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya, ia sangat terpukul dengan kenyataan yang selalu menusuk hatinya.

Dimulai dari bayinya yang buta dan kini putrinya yang harus berjuang melawan rasa sakit ditubuhnya, ia benar-benar merasa menjadi ibu yang buruk.

Hari ini ruang rawat Yoora terasa sepi karena kedua orang tuanya tengah mencari makan, mereka baru mengisi perutnya karena keadaan terus menekan mereka hingga tak sempat makan.

Yoora membuka matanya, ia sebenarnya sudah sadar dari setengah jam yang lalu. Namun ia tetap pura-pura terpejam, karena hal itu dapat membuatnya mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.

Dan ia mendengar semuanya.

Tubuhnya saat ini hanyalah beban, ia tak akan mampu membahagiakan kedua orang tuanya lagi. Ia tahu, meski ia masih kecil tetapi ia tidak akan menjadi bodoh dengan tidak memahami apa yang orang tuanya bicarakan.

Air mata itu kembali membanjiri pipi chubby nya, ia sendiri juga tak akan sanggup menahan rasa sakit ini terus menerus. Ia tak akan bisa hidup dengan ketergantungan obat. Obat itu pahit dan ia membencinya.

jadi..

Apa yang harus ia lakukan?

Matanya melirik ponsel ayahnya yang tidak dibawa, tubuh ringkih itu terbangun perlahan dan meraih benda persegi tersebut.

Ia tahu cara memainkannya karena setiap hari ia selalu bermain gadget pemberian ayahnya untuk hadiah ulang tahunnya tahun lalu.

Tangan mungil itu mengetik sesuatu.

Tuan dan Nyonya Park kembali memasuki ruang rawat Yoora, mereka membawa beberapa snack yang aman konsumsi untuk Yoora. Mereka tahu, yoora pasti tidak akan mau makan makanan rumah sakit.

Pintu terbuka dan mereka mulai memasuki ruangan.

Seketika mata itu membulat lebar, mereka tidak menemukan sang putri yang seharusnya terbaring diatas ranjang.

"Suster!" Teriak nyonya Park begitu keras.

Dua suster segera memasuki ruangan, mereka tampak tergesa "Ada apa nyonya?"

"dimana putriku?" Nyonya Park tak bisa tenang.

Mereka menoleh kearah ranjang dan tak menemukannya disana, dengan panik mereka segera melakukan pencarian.

Nyonya Park kembali menangis, ia sangat hawatir. Yang bisa dilakukan tuan Park saat ini hanyalah memeluk istrinya. Mencoba memberikan ketenangan.

"Astaga!" Seorang suster menjerit dari arah kamar mandi yang ada diruangan tersebut.

Seluruh orang menghampirinya.

DEG

Jantung itu seakan kehilangan fungsi, tubuhnya kaku sementara nafasnya terengah-engah. Nyonya Park tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat, tidak. bahkan didalam mimpi sekalipun. Air mata semakin berjatuhan sangat deras seolah menyaingi air hujan. Kemudian ia menjerit histeris.

Tuan Park tak dapat menahan air matanya lagi, apa yang ia lihat benar-benar memukulnya secara telak.

Putri kecilnya, kini terbaring tak bernyawa diatas lantai kamar mandi dengan botol obat-obatan yang berserakan.

Dengan bergetar ia memeluk raga putrinya yang hanya tinggal raga. Tangisnya semakin kencang seiring kuatnya pelukan itu terhadap putrinya.

Dan sekali lagi, Nyonya Park terjatuh pingsan. Raga dan jiwanya tak sanggup menerima kenyataan yang ada dihadapannya.

Bahkan sang suster ikut terbawa dalam tangis yang dimulai dari kedua pasangan Park tersebut.

Mereka baru kali ini melihat aksi bunuh diri yang dilakukan oleh anak kecil dan hal itu membuat siapapun pasti akan merasa terpukul.

Tuan Park segera meraih ponselnya untuk mengabari sang sekretaris perusahaan tentang apa yang terjadi. Namun rencana itu dengan sekejap hilang tak berbekas kala matanya membaca rentetan kata yang terketik dilayar ponselnya.

Ayah ibu, maafin yoora.

Yoora pengen sembuh,

jadi yoora pergi. Yoora tak akan sakit lagi setelah ini. ibu dan ayah juga tak akan repot lagi. Jangan menangis lagi, yoora sedih melihat ibu dan ayah menangis.

jika bisa, yoora pengen beri mata yoora untuk adik yoora. Supaya nanti besar bisa buat ayah dan ibu bangga. Tolong jaga pussy, dia suka makan kertas. nanti perutnya sakit. tolong ya. Yoora sayang ibu dan ayah.

Tangis itu kini tak dapat dihentikan, ia tak mampu mengontrol pikirannya.

Dan kini ia yakin..

Ia tak akan sanggup, meski hari terus berganti ia tetap tak akan sanggup...

Merelakan sesuatu yang selama ini menjadi pondasi dalam hidupnya.

Putrinya...

Akan selalu ada dihatinya hingga takdir mencabut nyawanya.

Flashback end

--TBC--

Haaaeee~

Saia balik chinguuu.. ketcup hangat untuk yang baca :3 weka..

spesial chap ini, saia panjangin..

Hng, miankan saia jika ada banyak kekeliruan alur cerita atau kata apapun yah ;)

saia newbie.. hehe

saia juga ga pandai Pelajaran IPA.. jadi soal rumah sakit atau sakit atau rumah atau sakit rumah saia kurang paham...

haaa? naena? emakk, saia masih dibawah umur.. huee~ (18-)

jadi saia ga bikin adegan NC , mian yah..

oke.. balas riview :)

kikipanzer

aaa~...gomawo yaa, thanks juga dha ripiu :3

ChanBaek09

iyaaaa, tentulah.. saia bakal bikin banyak adegan romance dichap depan. gomawo udha ripiuw :3

sintalovedei

whaaat?

naena?

saia belum sanggup.. weka

gomawo udha ripiuw :3

megumi30

hu.um.. bakal ada alasan kenapa saia bikin adanya perjodohan, jadi setia tunggu apdet dari saia ya.. gomawo udha ripiuw :3

byunieManCumi

konflik berat? engga kok.. cuma nyeimbangin topiknya aja. Kalo mau ke psikolog pasti perlu masalah bukan? jadi cuma nyeimbangin. hehe.. gomawo udha ripiuw:3

See you next chap.. muwah..