Amelo : makasih banyak untuk para reader yang sudah membaca fanfic gajetot ini. Terima kasih yang udah review, fav, dan favorite. Author senang sekali *nangis lebay*

Hasami : udah ah! Cepat mulai! *pukul Amelo*

Amelo : oke oke! Story…. STARTO!

.

.

.

Bad Girl In Teiko

Disclaimer : selamanya milik Fujimaki-sensei

Rated : T. buat jaga-jaga aja sih .-.

Genre : fren ama romance. Tapi lebih ke frennya.

Warning : OOC, abal, gajetot, alur kecepetan, TYPO, dll.

DON'T LIKE DON'T READ

NEKAD?

HAPPY READING

CHAP 2

NORMAL POV

Saat ini didalam kelas 2-A terdapat aura yang mencekam. Ini berasal dari pojok kelas. Dan aura ini berasal dari Hasami.

"Dasar pendek, psikopat, pemandang orang… tapi ceweknya juga yang salah… menyebalkan banget sih!" rutuk Hasami dalam hati. Bagaimana Hasami bisa sesebal ini? Kita lihat saat istirahat, setelah pelajaran Matematika.

FLASHBACK

Istirahat. Sebenarnya ini adalah kesempatan untuk mengambil buku bagi Hasami. Tapi dia tidak bisa karena dikerubungi teman dengan beberapa pertanyaan. Itu sih hal biasa. Tapi yang membuat dirinya kesal adalah saat 2 orang siswi yang main kejar-kejaran didalam kelas. Dan teriakan mereka sangat menganggu. Menurut anak-anak kelas, itupun Hasami agak nguping(?), 2 orang siswi itu memang suka ribut. Tapi salah satu dari mereka tak sengaja menyenggol botol air seseorang dengan surai merah. Botol air itupun tumpah dan mengenai buku dan baju sang surai merah tersebut. Dan ajaibnya, dalam sekejap suasana kelas yang ramai, berubah menjadi hening seketika.

"wah, gawat nih!"

"mereka bodoh atau apa?"

"berani sekali berurusan dengan Akashi.."

Yah, kira-kira begitulah isi dari komentar tentang anak-anak sekitar. Hasami memandang sang surai merah yang dikenal dengan nama Akashi tersebut. Ia merasakan bahwa aura disekitar Akashi menjadi suram. Dia pun menatap salah satu dari siswi tersebut dengan pandangan intimidasi. Dan Hasami baru sadar jika kedua bola mata Akashi berbeda warna. Dan entah kenapa menarik perhatiannya.

"Apa kau tau apa yang sudah kau lakukan?" tanya Akashi dingin. Sedangkan siswi tersebut hanya diam dan menundukan kepalanya.

'Wow.. keren sekali bisa membuat orang terkaku begitu' gumam Hasami dalam hati.

"Apa kau tak tau, saat pelajaran Fisika nanti ulangan? Dan kau sudah membasahi bukuku. Aku jadi tidak bisa belajar karenanya." Tambah Akashi dingin yang membuat semua orang terdiam.

"Ma-maafkan aku… Akashi-san.." ujar siswi tersebut dengan takut.

"Aku tidak minta permintaan maafmu! Kau harus mengganti bukuku dan bajuku yang basah ini!" bentak Akashi sambil memukul mejanya. Hasami yang melihat itu hanya menaikan alisnya.

"Ta-tapi… a-aku.. tidak sengaja Akashi-san!" bela siswi tersebut dengan sedikit bentakan.

"Tidak sengaja? Kau berani menentangku? Aku lihat kalau kau sengaja melakukannya. Dan kau barusan membentakku, hah?" Akashi pun mengeluarkan gunting dari sakunya dan menodongnya kearah siswi tersebut. Hasami yang melihat hanya bangun dari duduknya dan menatap Akashi tajam.

"A-aku.. Cuma mengatakan kebenaran." Siswi tersebut masih membela dirinya.

"Heh? Kebenaran? Jangan bercanda!" Akashi mengarahkan gunting tersebut kearah kepala siswi tersebut. Tetapi…

#GREP ternyata Hasami memegang pergelangan tangan Akashi sebelum tangan yang berisi gunting tersebut menyentuh kepala siswi tersebut.

"Bisakah tidak memakai kekerasan?" tanya Hasami dingin. Murid yang lain hanya membulatkan matanya melihat aksi Hasami yang berani. Akashi hanya menaikan satu alisnya.

"Apa maumu, Shirokawa-san?" tanya Akashi balik.

"Memaafkan siswi ini." Jawab Hasami sambil mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Akashi. Ini dikarenakan tangan Akashi sedikit memberontak.

"Memaafkan? Kau pasti bercanda." Akashi hanya menyeringai kecil.

"Aku tak bercanda Akashi-san. Aku serius." Hasami hanya menatap Akashi tajam. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh pelan.

"Kau bercanda? Dia membasahi bukuku dan bajuku. Apa aku harus dengan mudahnya memaafkan anak tak berguna ini?" tanya Akashi dengan nada meremehkan dan penuh dengan intimidasi.

Hasami melepaskan tangan Akashi dan pergi menuju mejanya. Ia pun kembali berhadapan dengan Akashi sambil menyodorkan sebuah buku paket Fisika yang masih sangat baru.

"Ini. Tukarlah dengan punyaku." Hasami menaruh buku Fisikanya dan mengambil buku Akashi yang basah. Akashi hanya menatap datar apa yang dilakukan Hasami.

"Untuk bajumu yang basah, kau bisa me-lap bajumu dengan ini. Atau.. saking bodohnya kau… kau mau anak ini atau aku yang me-lap pakaianmu?" Hasami mengeluarkan sapu tangan yang sangat bersih dan satu kotak tisu yang masih tersegel. Akashi menutup matanya dan menghela nafas. Setelah itu, iapun membuka matanya dan menatap siswi yang membuat masalah ini dengan tajam.

"Aku memaafkan-mu karena ada anak baru yang menolongmu. Juga berterima kasihlah kepada anak baru ini karena aku tidak perlu menyuruhmu meminta kepada penjaga perpustakaan untuk meminjam buku yang masih sangat baru." Akashi duduk dimejanya lalu mengambil tisu tersebut dan membukanya. Akhirnya siswi yang membuat masalah tersebut bernafas lega. Dan suasana kelas pun kembali mencair.

"Berani sekali kau… Shirokawa… Hasami…" gumam Akashi sambil melirik Hasami yang kembali kebangkunya.

Sementara itu Hasami…

"Hah… untung tidak ada yang terluka.." Hasami duduk dibangkunya sembari bernafas lega.

"A-ano… Shirokawa-san, terima kasih atas bantuannya." Siswi yang membuat masalah pun datang dan berterima kasih kepada Hasami.

"Hem? Ya… tak apalah." Hasami hanya menjawab sesingkat-singkatnya. Itu dikarenakan mood-nya menjadi buruk karena kejadian yang tadi dan dikarenakan keegoisan seorang Akashi yang langsung diketahui oleh Hasami.

"Etto… sekali lagi… terima kasih banyak!" ia menunduk lalu pergi meninggalkan Hasami.

'cih… hanya berterima kasih? Tak meminta maaf? Menyebalkan!' gumam Hasami. Dan bad moodnya ini pun berakhir sampai jam pelajaran kembali dimulai.

END OF FLASHBACK

Saat ini, sensei yang mengajar Fisika hanya membagi lembar soal ulangan kepada para murid. Sebelumnya, para murid memprotes untuk belajar terlebih dahulu sebelum ulangan. Tapi karena gurunya sangat disiplin akan waktu, maka tidak ada jam belajar sebelum ulangan.

'SMP elit pun sama saja' gumam Hasami saat mengingat mereka semua menginginkan belajar sebelum ulangan. Ini juga sering terjadi saat di sekolah sebelumnya.

"Yak! Waktunya hanya 1 jam pelajaran! Silahkan dimulai!" perintah sensei. Semua murid membuka soalnya dan bernafas lega. Ternyata soal yang diberikan adalah soal pilihan ganda. Kemungkinan mereka dapat men-cap cip cup (?) jawaban mereka sendiri.

-20 menit kemudian-

Banyak murid yang berbisik meminta jawaban soal. Mereka tengok kanan-kiri, memberikan kertas kecil yang berisi contekan, DLL. Hasami? Dia sangat tenang dibangkunya. Sebenarnya ia sudah selesai sekitar 5 menit yang lalu. Baginya, soal ini tergolong mudah baginya.

'Kupikir soalnya lebih menantang, ternyata tidak' gumam Hasami yang memangku wajahnya dengan tangan kanannya. Ia melihat keluar jendela dan melihat pohon-pohon yang berwarna hijau yang terlambai-lambai akibat angin. Hasami tampak melamunkan banyak hal. Tentang Himuro sahabatnya, hal apa saja yang ia akan temui di sekolah ini, juga teman-temannya. Hasami juga berharap bahwa ia akan menemukan teman-teman yang unik.

#KRINNNGGG bel waktu jam pertama fisika habis

"Baiklah anak-anak! Waktu habis! Silahkan kumpulkan lembar jawaban!" perintah Sensei. Hasami yang mendengar teriakan itu hanya terkaget ria dibangkunya. Rupanya ia melamun terlalu banyak. Ia pun bangun dari kursinya dan menyerahkan lembar jawaban beserta soalnya.

Setelah itu, banyak murid yang mempertanyakan jawaban dari beberapa soal. Banyak yang mengeluh karena jawaban mereka rata-rata salah. Hasami? Ia melihat kegiatan anak sekelasnya itu sambil tersenyum geli. Baginya, ini adalah tontonan yang lumayan menarik. Karena melihat mereka yang kebingungan dan stress itu sangat menarik baginya. Hasami begini udah kayak begini sejak SD. Jadi, jangan bilang kalau dia itu ketularan si setan me— maaf ralat maksudnya Akashi.

-10 menit kemudian-

"Anak-anak duduklah di bangku masing-masing! Sensei akan membagikan hasil ulangan kalian!" kata Sensei tersebut dengan lantang. Sedangkan para murid, hanya mendesah/? Dan mengeluh. Bahkan ada yang headbang di mejanya.

"Sebagian dari kalian ada yang berada di bawah KKM. Dan sebagiannya berada di atas KKM. Sensei akan mengumumkan 2 orang dengan nilai sempurna di ulangan kali ini." Kemudian Sensei tersebut melihat nama yang terletak diatas kolom jawaban pada lembar jawaban tersebut. Para murid bingung. Biasanya memang Akashi lah yang sudah pasti mendapat nilai sempurna. Tapi siapa yang satu lagi? Ada sih yang hampir sepintar Akashi. Hampir ya…

"Yang pertama adalah Akashi Seijuuro-san. Selamat ya. Kau berhasil lagi." Sensei menaikan lembaran jawaban tersebut dan tersenyum ke arah Akashi. Sedangkan Akashi maju kedepan dengan wibawa yang kelewat luar biasa. Setelah melihat hasil nilai, ia terlihat sedikit puas. Mungkin biasa baginya mendapat nilai sempurna.

"Yang kedua adalah.. hem.. murid-murid. Seharusnya kalian mencontoh anak ini. Baru masuk, dan dia mendapat nilai sempurna. Selamat kepada Shirokawa Hasami-san. Nilaimu sempurna pada ulangan pertamamu ini." Sensei pun memperlihatkan lembar jawaban Hasami kepada para siswa. Dan para siswa hanya bertepuk tangan ricuh.

Hasami pun maju kedepan dan menerima lembaran tersebut. Ia hanya tersenyum kecil karena teman-teman dikelasnya sudah cukup mengakuinya. Tapi, mungkin hanya ada 2 orang yang mengakuinya secara tak langsung. Yang satu, terlalu mementingkan harga diri padahal didalam lubuk hatinya yang terdalam, dia cukup mengakuinya. Yang satunya lagi terlalu Tsundere untuk mengakuinya.

-skip time ; pulang sekolah- ( author terlalu males bikin adegan belajar #plak )

"Eh? Itu Shirokawa yang baru pindah itu? Cantiknya!"

"Kudengar dia mendapat nilai sempurna pada pelajaran Fisika dihari pertamanya ini"

"Hontou? Hebat sekali!"

"Katanya dia dari Shirokawa Companny yang sangat terkenal dengan restorannya itu, lho!"

"Restoran terkenal itu?! Memang hebat!"

"Cantik, pintar, kaya dan bermartabat! Wuahh… tipikal cewe yang sangat ideal!"

Hasami hanya menghela nafas. Kenapa banyak sekali yang tau tentang dirinya ini? Hasami melirik beberapa siswa yang membicarakan. Ada yang menatapnya takjub, bahkan ada yang menatapnya dengan pandangan geli. Pandangan geli itu mendapat perhatian Hasami. Ia melihat dirinya apa ada yang salah dengannya. Tidak ada yang salah. Tetapi siswa tersebut tetap menatapnya geli. Akhirnya Hasami rada stress sendiri. Buktinya ia menglihat sudut-sudut dirinya untuk memastikan ada yang aneh atau tidak. Dan itu menjadi tontonan (?) menarik bagi para murid.

"Perempuan tidak seharusnya seperti itu-nanodayo." Ucap seorang lelaki yang membuat Hasami berhenti melihat dirinya sendiri itu.

"Apa maksudmu?" tanya Hasami sambil melihat lelaki tersebut. Ia menaikan alisnya karena surai lelaki tersebut cukup unik. Berwarna hijau.

"Tidak ada yang salah denganmu-nanodayo. Tatapan anak itu memang seperti itu. Coba perhatikan dia lagi-nanodayo." Lelaki itu pun menunjuk siswa yang menatapnya geli. Ternyata benar, siswa itu menatap geli kepada semua orang. Hasami hanya sweatdrop. Mempermalukan dirinya di hari pertamanya sekolah adalah hal buruk.

"Dan… kau ini siapa?" tanya Hasami sembari bangkit dari sweatdrop-nya. Ia menatap sang surai hijau yang membawa gantungan dengan boneka Titan dari fandom sebelah /?.

"Kau tak mengenal teman sekelasmu sendiri?" tanya balik sang surai hijau.

"Kau sekelas denganku?" tanya balik Hasami sambil menunjuk surai hijau. Tentu saja cara tanya Hasami yang tadi sedikit terdengar seperti meremehkan sesuatu. Lalu munculah perempatan di dahi surai hijau.

"Tentu saja-nanodayo. Aku heran bagaimana bisa kau mendapat nilai sempurna dalam ulangan sedangkan kau tak mengingat teman sekelasmu sendiri." Jawabnya dengan nada dingin sambil menaikan kacamatanya.

"Baiklah… baiklah… Jadi, siapa namamu?" tanya Hasami ulang.

"Midorima Shintarou. Aku ini wakil ketua kelas. Sebaiknya kau mengetahui ini Shirokawa." Jawab surai hijau yang namanya adalah Midorima.

"Wakil? Memang ketua kelasnya siapa?" tanya Hasami polos. Midorima hanya facepalm. Sepertinya kepala sekolah dan wali kelasnya tidak memberi tau siapa ketua kelasnya.

"Orang yang tadi kau tantang. Akashi Seijuuro-nanodayo." Jawab Midorima sambil menaikan kacamatanya –lagi-

"Hah? Orang pendek dan egois seperti itu dijadikan ketua kelas? Apa gak salah?" Hasami tampak ingin protes dengan wali kelasnya. Sedangkan Midorima hanya kaget. Ada juga orang yang dengan blak-blakan mengejek Akashi pendek. Yah walaupun Midorima mengakui Hasami ini cukup tinggi untuk rata-rata perempuan disekolahnya.

"Aku juga tidak tau-nanodayo. Tapi, kusarankan kau jangan mengejek Akashi secara terang-terangan jika kau tak ingin mati." Saran Midorima yang tentunya sedikit berbisik.

"Ta-tapi… ini bukan berarti aku peduli padamu-nanodayo!" ujar Midorima setelah berbisik kepada Hasami. Hasami hanya menyeringai kecil. Ternyata si surai hijau ini Tsundere.

"Iya… aku tau maksudmu Midorima." Ujar Hasami dengan nada meremehkan.

"Apa maksudmu nada bicaramu-nanodayo?!" bentak Midorima yang masih memiliki semburat merah tipis dipipinya

"Tidak~ terima kasih atas sarannya. Sampai jumpa Midorima." Hasami langsung pergi saja meninggalkan Midorima yang hanya menatap Hasami dengan pandangan yang tidak dimengerti /?

Hasami menyusuri sekolah. Tempat yang ingin ia kunjungi adalah Gym. Entah mengapa Hasami pergi kesana. Ia pergi ke Gym utama yang biasanya dipakai untuk latihan basket. Setidaknya itu yang ia ketahui dari kepala sekolah. Hasami menjadi bersemangat menuju Gym tersebut karena kata kepala sekolah, klub basket sekolah ini sangat kuat. Dan Hasami ingin melihat pemain-pemain basket tersebut.

#KLEK pintu Gym ternyata tidak terkunci. Saat Hasami mengintip kedalam, ternyata tidak ada siapa-siapa. Hasami pun dengan enaknya masuk kedalam dan mendapati bola basket yang berada dibawa ring. Ia menaruh tas-nya di Bench dan mengambil bola tersebut. Ia mendrible kecil bola tersebut. Setelah itu, ia melakukan Three-point. Yah.. Hasami memang bisa main basket. Dia sering bermain one-on-one dengan Himuro. Jadi wajar saja. Tapi yang namanya main pake rok emang gak enak. Jadi, Hasami berniat ganti baju.

Eits! Masalah kaos sih gapapa. Setiap memakai seragam, Hasami pasti memakai kaos sebelum memakai seragam. Mungkin gerah sih, tapi Hasami sudah terbiasa. Celana? Pake celana dibawah rok. Lalu lepas deh rok-nya. Selesai kan? Tanpa perlu memperlihatkan baju dalam.

Dengan sigap Hasami mendrible bola tersebut. Melakukan Three-point , dunk, dan segala tekhnik lainnya. Ia tampak sangat bersemangat. Ia bahkan tak sadar jika ada orang yang memperhatikannya saat bermain basket.

"Heh? Akhirnya kutemukan juga lawanku. Dan ini sangat menarik!" ucap seseorang yang memperhatikan Hasami. Tampak ia mengeluarkan senyuman yang sedikit ada maksud tertentu /?

.

.

.

.

.

TBC

Amelo : Apa ini?! Kenapa abal begini?! *headwall* maafkan Amelo yang bego ini ya. Ide ini aja Amelo dapet setelah mendapat hidayah dari beberapa sumber. Yosh minasan! Amelo lagi sibuk-sibuknya karena tugas nih. Amelo ga ngikut UN kok. Jadi masih bisa update cepat

Reader : ga nanya

Amelo : jahat nih ya pada. Oke! Jadi Hasami itu sekelas ama Akashi dan Midorima. Mungkin awalnya ngiranya ama Kuroko ya?

Reader : ga juga

Amelo : kalian emang jahat ama Amelo. Nyebelin tau ga sih! *pundung di pojokan sambil mainin tanah* /melo

Hasami : udah deh Amelo. Jangan pundung. Mendingan jelasin tentang sesuatu yang tidak Reader tau.

Amelo : oke deh. Hasami itu tingginya 174. Ini dikarenakan dia meminum susu dengan khualitas tertinggi. Akashi yang tinggi hanya 173 aja bisa nge-dunk. Apalagi Hasami.

Akashi : kau meledekku Amelo?

Amelo : nggak. Cuma ngehina kok! *wink*

Akashi : matilah kau! *lempar gunting rumput*

Amelo : *mati dengan kecenya* /?

Midorima : dikarenakan Amelo udah mati duluan, saya dan Hasami yang akan menutup ini. Mind RnR-nanodayo?

Hasami : Mind RnR minasan? See you next chapter!