让我爱你 Ràng wǒ ài nǐ

.

.

.

.

[Chapter 02 ]

.

.

.

.

"Tuan, ini adalah data yang anda inginkan."

Ravi menyerahkan sebuah kertas kepada Sehun, membiarkan tuan besarnya mulai membaca segala sesuatu yang ada di kertas tersebut.

Sederet tulisan untuk memperjelas sebuah informasi mengenai seseorang. Tepatnya seorang anak kecil berusia 13 tahun. Sehun membaca semuanya begitu teliti, seakan apapun informasi tentang anak kecil tersebut adalah hal terpenting bagi hidupnya.

Yah, seperti keinginannya, Ravi berhasil menemukan data mengenai sosok anak kecil yang sejak kemarin menghantui pikiran Sehun. Dan sekarang dari semua itu pria berusia 29 tahun ini mengetahui siapa sosok anak kecil tersebut.

"SeHan, 13 tahun, kelas 9 A, Daegu Junior high school," ujar Sehun membaca data tersebut.

Lalu seketika alisnya mengkerut tepat setelah menemukan sebuah nama tak asing baginya. Satu nama yang bahkan selalu ia ingat selama 13 tahun hingga sampai saat ini.

Banyak dugaan terpikirkan oleh dirinya, ketika nama itu benar tertulis di data ini. Dugaan dan juga kecurigaan yang bisa meyakinkan dirinya sendiri. Meskipun rasa tidak percaya bisa juga timbul begitu saja. Bukan karena apa, sudah terlalu lama ia tidak mendapatkan kabar apapun dari sosok itu.

Walau pun setelah kepergian sosok itu ia sempat berusaha mencari, tetap saja dirinya tidak pernah berhasil sekalipun. Dan sekarang, bagaimana bisa?

Benarkah semua kenyataan ini?

"Tuan..."

"Apa ini data yang benar?" Ia bertanya untuk lebih memastikan.

"Yah tuan, saya sudah menyelidikinya. Bahkan saya sudah meminta data tersebut kepada wali kelas anak itu," tak ada keraguan dari tatapan Ravi padanya.

Dari itu Sehun mendesah resah, tak dapat dipungkiri jika ada desiran terjadi pada dirinya. Desiran yang selama ini tidak pernah ia rasakan lagi, setelah 13 tahun lamanya terlewati.

"Baiklah, kau bisa pergi sekarang!"

Ravi pun mengundurkan diri, meninggalkan Sehun sendiri dalam ruang kerjanya. Sendiri memikirkan segala hal yang kembali menghantui.

Sekali lagi ia menatapi kertas yang sempat ia hempaskan di atas meja. Tepat pada satu nama yang tertulis di sana. Lalu ia membanting punggung pada sandaran kursi, mendongak wajah keatas dan memejamkan mata.

"Benarkah itu dirimu...Luhan?"

Nama Orang tua : LuHan

.

.

.

.

.

.

Luhan menghentikan kerjaannya beralih memandang langit yang sedikit menggelap. Menandakan jika sebentar lagi hujan akan turun. Ketika itu ia teringat oleh sang anak.

"Mungkin benar akan hujan, apa anakmu belum pulang?" Seorang wanita paruh baya berdiri disampingnya dengan bertanya.

"Yah, tapi sebentar lagi dia akan pulang..."

"Sehan benar-benar anak yang baik, meskipun kau merawatnya seorang diri selama ini."

Luhan menunduk wajah dengan senyuman tipis. "Ne, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai orang tuanya, bibi Jang."

"Benar, sampai aku sendiri merasa salut padamu. Kau saja seorang pria bisa merawatnya dengan baik. Jika kau anakku, aku akan sangat bangga," wanita itu berkata memuji dirinya.

"Bibi terlalu memuji, lagipula selama ini juga tanpa bibi aku tidak bisa apa-apa bukan?"

Ada tawa halus dari wanita yang selama ini Luhan anggap sudah seperti bibinya sendiri. Bibi Jang yang juga selalu membantu dirinya untuk merawat Sehan.

"Yah, tapi tetap saja kau adalah ayahnya juga sebagai ibu yang telah melahirkannya bukan? Kau tetaplah orang yang begitu penting untuknya."

Benar, Luhan juga setuju dengan itu. Jika bukan dirinya lalu siapa lagi? Siapa lagi yang bisa membesarkan Sehan seperti sekarang. Luhan bahkan terkadang tidak percaya jika dirinya bisa bertahan seorang diri selama ini.

Melahirkan dan membesarkan Sehan seorang diri, yang jelas bukanlah hal semudah itu untuk dipikirkan. Terlebih ia seorang pria, yang tidak memiliki pengalaman untuk merawat seorang anak. Belum lagi dengan usia mudanya pada saat itu.

Tapi syukurlah, jika hingga pada saat ini semua terlewati dengan baik-baik saja. Sehan tubuh dengan baik, dan anak itu bisa menjadi kebanggaan Luhan tersendiri.

"Jadi, apa kau tidak kepikiran untuk berhubungan dengan seseorang?"

Pertanyaan bibi Jang membuat Luhan sadar dari lamunannya. Ia pandangi wanita itu dengan wajah bengong.

"Maksud bibi?"

Bibi Jang seketika gelagapan tak enak hati.

"Yah, maksudku...apa kau tidak ingin mencari seseorang untuk membantumu merawat Sehan?" Wajah canggung dan senyuman itu, Luhan mengerti sekarang.

Lantas Luhan menekuk sekali lagi wajahnya. Meraih pisau yang sejak tadi ia gunakan untuk memotong-motong sayuran.

"Hidupku bersama Sehan, itu sudah cukup bi. Aku bahagia walau hanya memilikinya saja, meskipun sampai tua nanti kami hanya akan hidup berdua," ia menjeda untuk memandang kearah depan menerawang jauh.

"Sehan yang ku miliki sekarang, itu sudah cukup untukku bi," lanjutnya dengan melemparkan senyuman kearah bibi Jang.

Dan bibi Jang tidak dapat berkata apapun. Ia mengerti atas apa yang menjadi pilihan Luhan dalam hidupnya. Sekali lagi bibi Jang merasa kagum pada pria muda beranak satu ini.

"Aigoo, aku jadi terharu, bagaimana bisa ada pria sebaik dan selembut dirimu Luhan?" Seru bibi Jang.

Luhan hanya tertawa kecil menanggapinya.

"Ini sudah siang, dan ini bawalah pulang!"

Tiba-tiba bibi Jang berkata dan memberikan Luhan sebuah kotak bekal cukup besar dari tangannya.

"Apa ini bi?"

"Makanan untuk kalian, bawalah dan makan bersama Sehan yah!"

"Tapi bi..."

"Jangan menolak! Anggap saja ini sebagai hadiah karena sudah menjadi orang tua yang baik untuk anakmu itu hm!"

Rasanya Luhan ingin menangis, bagaimana bibi Jang begitu baik padanya. Bahkan selama ini pula, dan Luhan tidak tahu harus membalas segala kebaikan wanita paruh baya ini dengan apa.

Bersyukur karena masih ada orang sebaik bibi Jang didekatnya.

"Terima kasih bibi, sungguh bibi sudah banyak membantuku..."

"Kau juga hahaa...karena bagiku kau sudah seperti anakku sendiri. Nah sekarang istirahatlah, dari pagi kau sudah sibuk untuk melayani para pembeli!"

"Ne bi, sekali lagi terima kasih. Aku akan pulang sekarang."

Dengan begitu Luhan meninggalkan dapurnya pada rumah makan tempat ia bekerja. Pamit pulang dengan sekotak bekal berisikan makanan untuk dirinya bersama Sehan di rumah.

Dalam perjalanannya Luhan tersenyum manis sambil bersenandung kecil begitu senang.

.

.

.

.

.

.

.

Sehan baru saja selesai memasukan semua peralatan tulisnya kedalam tas. Jam menunjukan tepat pada siang hari. Kegiatan di sekolah juga telah usai. Sekarang ia akan bersiap pulang ke rumah, tanpa terlambat lagi.

Ia tidak ingin membuat babanya kembali cemas seperti kemarin. Karena setiap waktu Luhan selalu mengatakan untuk lekas pulang ketika semua kegiatan di sekolah usai. Dirinya tidak boleh ke mana pun, selain pergi ke sekolah atau ke rumah temannya untuk kerja kelompok.

Sehan mengerti, bagaimana pria yang telah melahirkan dirinya itu sangat begitu menyayanginya. Sebaliknya pula, Sehun pun begitu. Jadi ia tidak akan berani membuat Luhan khawatir tentang dirinya. Meskipun terkadang-kadang ia tidak sengaja melakukan hal itu.

Contohnya, seperti kemarin. Salahkan saja niatnya yang begitu besar untuk menemui sosok pria berwajah sama dengannya itu.

Kedua kaki panjang itu perlahan melangkah ke luar kelas. Berjalan tenang tanpa perduli beberapa siswa ia lewati melirik padanya. Atau pun seorang anak gadis menyapanya ramah.

Sehan adalah tipe anak yang sedikit tertutup. Tidak perduli akan hal lain yang bukan menjadi urusannya, dan lebih suka menyendiri.

Entah ia dapat dari mana dirinya bisa seperti itu, Sehan yakin jika babanya bukanlah orang seperti itu. Mengingat bagaimana ramah dan baiknya Luhan kepada siapapun. Jadi sudah jelas bukan dari sikap Luhan yang turun kepadanya.

Lalu siapa?

Oh, apakah itu dari...

"Sehan!"

Ia menolehkan wajahnya ketika suara seseorang tengah memanggil. Saat itu ia menemukan Jaeha teman dekatnya berlari mendekat.

Anak berkacamata itu seperti tergesah-gesah entah karena apa, apalagi keringat sempat membasahi wajah anak itu.

"Hahh...hh...kau baru ke luar kelas yah?" Anak itu bertanya dengan nafas terengah.

"Hm, ada apa?"

"Di..di luar ada seseorang mencarimu!"

"Seseorang? Siapa?"

"Entahlah, dia pria dewasa berpakaian rapi dan juga..."

Sehan mengerutkan alisnya begitu Jaeha berhenti berkata sejenak.

"Apa?"

"Wajahnya...wajahnya sangat mirip denganmu, apakah dia ayahmu yah?"

Tidak ada kata apapun Sehan ucapkan. Ia diam membatu dengan mata sedikit melebar. Mencerna ketika tahu siapa sosok pria yang Jaeha maksud, tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia perintahkan.

Berlari ke luar gedung sekolah, meninggalkan Jaeha begitu saja.

"Sehan tunggu..."

.

.

.

.

.

.

.

Oh Sehun,

Adalah pria yang sama seperti dugaannya. Sekarang Sehan dapat melihat wajah pria itu begitu leluasa. Wajah tampan ber-rahang tegas, hampir sama dengannya.

Oh, bahkan kedua ekspresi mereka seperti serentak terlihat datar dan dingin. Mengacuhkan beberapa siswa lain berdiri didekat mereka untuk memperhatikan.

Bagaimana tidak, semua pasti berpikiran jika pria dewasa dan anak kecil berusia 13 tahun itu adalah ayah dan anak. Wajah mereka yang sama, raut wajah yang sama. Siapapun pasti berpikiran seperti itu.

Sehan lah pertama kali memutuskan kontak mata mereka sesaat, saat ia melirik sekitar karena beberapa siswa berbisik tentangnya. Tentang dirinya dengan pria itu.

Lalu bertanya dalam hati, bagaimana bisa pria itu ada di sekolahnya?

"Kau baru pulang?" Sehun lebih dulu bersuara.

"Kenapa paman ada di sini?" Dan Sehan justru balik bertanya.

"Menurutmu?"

"Mana aku tau!"

Sehun berdecih kecil, merasa tertarik bagaimana sikap Sehan terhadapnya. Sikap lancang untuk anak seusia itu. Cukup menghibur.

"Apa jangan-jangan paman mencari informasi tentangku yah?"

Great, anak ini sungguh berbeda. Lihat saja anak itu langsung tahu jika Sehun benar mencari tahu tentang dirinya. Anak yang cerdas.

Sehun seperti melihat dirinya dulu ketika berusia sama seperti anak itu.

"Kau pintar sekali menebak yah," dan Sehun patut memujinya.

"Lalu, apa yang paman inginkan dariku?"

"Tidak ada, hanya ingin berkunjung dan...menemuimu?"

Sehan merapatkan bibirnya. Mata tajamnya masih setia beradu dengan sepasang mata tajam yang lainnya. Tidak tahu sebenarnya apa niat pria ini ingin bertemu dengannya. Secara tiba-tiba dan datang ke sekolah seperti ini?

Sehan tidak bodoh, pasti pria itu memiliki niat lain. Meskipun tidak tahu apa itu. Dan Sehan tidak begitu perduli, hingga ia lebih ingin lekas pulang saja. Daripada lama-lama berhadapan dengan pria dewasa ini.

"Jika hanya itu, aku harus pergi. Lagipula paman sudah bertemu denganku bukan? Jadi aku permisi..."

Yah, Sehan lebih memilih pergi dari sana. Tidak perduli atas keberadaan Sehun. Anak itu berjalan setenang mungkin meninggalkan kawasan sekolahnya.

Tapi baru beberapa langkah ia melewati pria itu, suara Sehun terdengar menghentikannya.

Dan Sehan tahu jika ia membiarkan Sehun bersamanya. Maka bisa dipastikan akan terjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka duga.

"Aku akan mengantarmu pulang!"

.

.

.

.

.

.

.

Luhan telah selesai dengan pekerjaannya. Meja makan yang telah tertata rapi oleh beraneka menu makanan. Hanya sup ayam dan beberapa lauk lainnya. Itu sudah cukup untuk makan siangnya bersama Sehan. Berterima kasih kepada bibi Jang karena sudah memberikan semua ini kepadanya.

Sehingga sesampai di rumah Luhan tidak perlu lagi memasak. Hanya memanaskan sebentar makanan itu dan disediakan begitu rapi. Sekarang dirinya hanya tinggal menunggu kepulangan anak tercintanya itu.

Ia melirik pada jam di dinding. Sedikit terlambat, tapi tidak jadi masalah mungkin saja Sehan memang ke luar kelas agak lama dari biasanya. Dan Luhan tidak ingin begitu dianggap over pada anaknya sendiri. Jadi ia tetap akan menunggu dengan tenang.

Butuh 10 menit ia masih menunggu, masih belum ada tanda jika anak itu sudah pulang. Membuat Luhan mulai tak tenang. Ia bangun dari duduknya di kursi meja makan. Berjalan ke luar rumah menunggu di sana. Memperhatikan jalanan jika sosok yang ditunggu telah muncul.

Namun, tidak ada sama sekali. Luhan mendesah pelan. Dalam hati meyakinkan diri untuk tetap tenang.

"Apa dia belum pulang? Atau ada kegiatan tambahan?" Luhan bermonolog.

"Tapi...anak itu tidak mengatakan apapun tadi pagi, astaga...tenangkan dirimu Luhan! Mungkin dia masih di jalan!"

Ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke rumah, menunggu dari dalam. Tapi baru akan membalikkan tubuhnya, sebuah mobil hitam mewah datang dan melintas tepat pada halaman rumah.

Luhan urung dan memperhatikan mobil tersebut. Mobil asing yang entah darimana datangnya, bisa langsung berada pada rumah sederhana itu.

Sampai beberapa saat mobil itu telah berhenti, pintunya terbuka menampilkan sesosok anak laki-laki lengkap dengan seragam sekolahnya. Luhan mengerutkan kening, sebelum menyadari jika sosok anak itu adalah Sehan.

Sehan yang baru saja turun dari sebuah mobil asing. Berjalan menghampirinya dengan raut sedikit berbeda.

"Ba, aku pulang," seru anak itu.

"Sehan, mobil siapa itu? Kenapa kamu bisa datang bersamanya?" Luhan langsung bertanya penasaran.

Membuat Sehan bingung harus menjawab apa. Belum lagi mobil yang telah mengantarkannya itu masih di sana. Dan ia lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada sang pemilik mobil.

Anak itu menundukkan kepalanya gugup.

"I...itu-..."

"Jadi, ini rumahmu anak kecil?"

Dan suara pria lain menyahuti mereka. Hingga keduanya berpaling melihat pada sosok pria lebih tinggi yang baru saja datang itu.

Deg

Ketika Luhan menoleh, pada saat itu ia merasa waktu seakan berhenti seketika. Segala kenangan masa lalunya perlahan muncul dipermukaan, tepat saat ia mendapati wajah sesosok pria yang telah lama tidak ia pandangi.

Sosok yang selalu ia coba lupakan, namun juga selalu ia rindukan. Segala usaha juga payahnya seakan percuma, hanya karena sosok itu kini bertemu tatap dengannya.

Sama halnya dengan pria itu, Sehun membatu dengan mata yang melotot terkejut. Bagaimana bisa?

Tidak, semestinya ia tahu jika Sehan mau membawanya ketempat tinggal anak itu. Dan jika perkiraannya benar, sudah jelas hal ini akan terjadi. Bertemu kembali dengan sosok yang selalu ia cintai semasa hidupnya.

Sesosok yang juga telah lama pergi meninggalkan dirinya dengan segala kenangan-kenangan manis mereka. Sosok yang juga telah membawa sesosok anak bernama Sehan hidup di dunia ini.

"Se...Sehun?"

Dan suara itu masih begitu melekat di ingatan Sehun. Suara lembut yang amat ia rindukan.

"Lu...han?"

.

.

.

.

.

.

.

T b c

Uyeee...

Update ehehee, gw kira bakal updatenya ntar malam, ehh trnyata sempet jga skrg 😆😆

Okeh, gk mau bacotlah

Moga bisa banyak yg suka sm ff ini :v

Thanks to :

Hunhan1/ Lululuoh/ Diyan/ hanni/ sarah/ Sherly3/ Luhan204/ Servin520/ dokipoki/ Seluhundeer/ Tosccoustique/ hunhanminute/ Lsaber/ Autumn2day/ fathaya/ SFA30/ cici fu.

Makasih yg udah review yah, sorry belum bisa balas satu2 :))

Dan yg gk kesebut namanya, tpi ngfollow/ngfavorite sorry, kamu ketahuan siders bwahahaa :v yg gk punya akun aja ngreview, masa lu yg punya akun kaga? Gk guna akun lu berarti klo dijadiin sebagai perantaraan siders, Dasar goib -_-

Paipai^^