AU, OOC, gajeness, garing, yaoi, BxB.

no copy-cat, thank you.


Tempat ini berbeda, Luhan bukan lagi di sebuah mall saat ia pertama kali terpesona dengan Odult. Namun ia tengah berada di sebuah ruangan dengan ornament khas Eropa. Ia tahu itu tetapi masih saja terpukau dengan tarian yang ditampilkan oleh seorang Odult di hadapannya.

Sepertinya hobi Luhan bertambah satu; mengamati Odult menari dan terhanyut dalam tarian tersebut.

Yang diperhatikan juga tidak sadar akan kehadiran Luhan, Odult tenggelam dalam euphorianya sendiri. Ekspresi yang datar seperti biasa, gerakan yang indah! Terbukti ia memang seorang pro.

Lagu terhenti, Luhan terhenyak saat Odult—Sehun menatapnya dari jarak sedekat itu. Yap! cukup dekat.

Sehun sengaja mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Otomatis Luhan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sehun tapi ups! Luhan terjebak diantara Sehun dan dinding sialan. Ia tidak akan bisa kemana-mana.

Luhan tidak tahu Sehun akan berbuat apa, bisa ia rasakan nafas Sehun yang menerpa wajahnya

—dan…

"IT'S TIME TO WAKE UP! THE TIME IS 6.10 AM." Shit! Ternyata hanya mimpi. Ingin rasanya ia melempar jam wekernya ke dinding karena telah merusak mimpi indahnya.

Well well, sejak kejadian kemarin Luhan sepertinya tidak dapat mengontrol pikirannya untuk tidak memikirkan Sehun.

"ARGHHH!" Luhan mengacak rambutnya, menendang guling dan selimut kesayangannya hingga terkapar dilantai.

Ingin rasanya kembali tidur dan melanjutkan mimpi tadi, tapi di sisi lain tangannya gemas ingin menarik rambut putih platina Sehun.

Ia menerawang ke langit-langit kamarnya. Luhan tidak habis pikir, sungguh ia tidak bisa memerintahkan otaknya untuk berhenti memikirkan tarian Sehun yang memukau. Menyukai ballad atau jatuh cinta pada pandangan pertama?

—entahlah.

Ia menarik bantal di tangannya kemudian menutup wajahnya dan berteriak sekencang-kencangnya. Ia tahu satu hal, Luhan benci Sehun.

10.50 AM

Hanya tinggal melewati dua blok dari sini, belok kanan dan sampailah ia di tempat yang Sehun bilang kemarin.

'SF Game Centre'

Kenapa? Ada yang aneh? Berlatih di tempat seperti itu? Yang benar saja! Seperti yang terlihat, SF game centre memang game centre pada umumnya, apa yang kalian harapkan?

Luhan masuk kedalam. Ramai seperti biasa, mungkin karena dua anak laki-laki sedang berebut mesin menyala yang mengeluarkan lagu dan bertuliskan Jackpot! Dengan lampu yang menyala berkelap-kelip.

"Aku dulu!" seru anak yang berbaju hijau dengan motif kuning. Anak satunya—berpipi tembam mendorong si baju hijau hingga ia jatuh tersungkur. "Tidak Jongdae! Aku dulul!" si pipi tembam terlihat menjulurkan lidahnya.

Mereka berdua terus berebut mesin itu dengan koin di masing-masing tangannya, hingga seorang staff memisahkan mereka dan suasanapun menjadi agak tenang.

Luhan menoleh ke kanan dan ke kiri tetapi ia tidak mendapati Kai si pemilik SF Game Centre. Melainkan sosok berambut platina yang semalam membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang.

Sehun duduk di kursi bagian kasir bersama Tao, staff yang Luhan kenal pertama kali saat masuk kesini beberapa bulan yang lalu.

"Annyeong, Luhan-hyung. Mencari Kai?" tanya Tao dengan senyuman khasnya.

"Ya, Tao-ah kau lihat Kai?"

Tao menggeleng, " Sejak aku datang, aku tidak melihat Kai. Kurasa dia ada urusan." Luhan hanya membalas dengan anggukan sesekali mengerjabkan matanya lucu.

"Fvck!" Umpatan itu lolos dari mulut Sehun. Entah apa yang membuatnya berucap kasar seperti itu.

"Sehun?" Si empunya nama masih berkutat dengan smartphone di tangannya. Serius sekali dia.

"Kau terlambat 20 menit, hyung," Sehun menekan tombol exit pada layar smartphone yang ia pegang.

'Jaket biru kaos putih, lumayan untuk hari ini.'

'Ternyata Sehun punya tahi lalat di lehernya.'

'Rambutnya berantakan terkesan nakal, tapi Sehun tetap tampan.'

Huh? Tampan? Bukannya Luhan hanya terpesona dengan tarian Sehun yang memukau itu? Well, itu berarti dia benar-benar jatuh cinta pada Sehun.

Lu, kau yakin tidak jatuh cinta dengan Sehun setelah berpikir demikian?

Dering ponsel Sehun menyadarkan Luhan dari euphorianya. Sehun menatap nama penelepon yang tertera di layar smartphonenya kemudian beralih menatap Luhan.

DEG!

Dadanya bergemuruh saat matanya bertemu dengan mata Sehun.

Luhan lebih memilih menatap sepatunya daripada melihat mata yang membuatnya terhipnotis.

"Hn," Hanya itu yang terlontar dari bibir Sehun. Ia lalu menutup teleponnya.

Sehun menatap Luhan yang masih memperhatikan sepatunya sendiri. Ia benar-benar tidak mempunyai tenaga walau hanya untuk mengangkat kepalanya—menatap Sehun.

Matanya, suaranya, Luhan masih ingat betul saat mereka pertama kali bertemu. Di acara dance dan saat itu pula Sehun menyebutnya 'manis'.

Luhan dengan cepat menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran aneh yang berhubungan dengan Sehun.

FANS! Ya! Hanya sebatas fans, tidak lebih. Yakin dengan pendapatmu itu, Lu?

"Kai bilang dia tidak bisa datang, ada urusan," ucapan Sehun barusan menyadarkan Luhan.

"Ah ya sudah. Lalu bagaimana? Apa lebih baik kita batal saja?" tanya Luhan kaku. Jujur saja Luhan merasa kecewa. Mau modus apa lagi dia bisa bertemu Sehun selain urusan dance?

Ia bersumpah akan membunuh Kai jika gagal latihan bersama Sehun hari ini, untuk yang pertama kalinya pula.

Semalaman Luhan tidak bisa tidur hanya karena tidak sabar menunggu hari ini. Astaga! Sekarang Luhan ingin membunuh Sehun yang telah membuat pikirannya kalut.

"Bukan Kai yang akan belajar, jadi latihan tetap berjalan." Sehun melengos pergi melewati Luhan. Luhan bersorak dalam hati. Dasar.

Sehun berjalan melewati berbagai wahana game yang disediakan di SF game centre dan sampai di depan pintu yang bertuliskan staff only. Luhan hanya mengekori Sehun.

Walau ia sering kesini tapi Luhan masih canggung dengan staff maupun keluarga Kai. Sesekali Luhan melemparkan senyumnya kepada orang yang sering ia lihat dan merasa dikenalnya. Berbeda dengan Sehun yang masih betah dengan gayanya yang sok cool itu. Eits! Sehun memang cool.

Walau demikian, Sehunlah yang paling sering disapa oleh orang rumah Kai. Seperti… saudara saja. "Kau kenal dengan mereka? Kalian terlihat akrab sekali." Ucapan itu lolos dari mulut mungil Luhan.

Ingin menutup mulutnya sendiri saat sadar dengan ucapannya yang terlampau ingin tahu tetapi ia juga penasaran. Ia hanya diam menunggu jawaban dari Sehun.

Pertanyaan ringan saja dihiraukan, bagaimana jika Luhan bertanya apa Sehun menyukainya atau tidak? Hah! Luhan kau memikirkan hal bodoh lagi.

"Sudah setahun sejak ayahku menikah dengan ibu Kai." tanpa basa-basi Sehun berkata demikian. Ternyata pertanyaan Luhan terkesan berat juga ya. Luhan terlampau jauh memasuki kehidupan Sehun dan sekarang ia menyesal dengan pertanyaan tersebut.

"Maaf…" lirih Luhan dengan menundukan wajahnya.

"Tidak apa, wajar jika kau ingin tahu." Ucapan Sehun ini menyadarkan Luhan bahwa mereka sudah di depan ruangan yang biasa ia pakai latihan dance bersama Kai.

Sehun masuk kemudian melepas lalu menggantung jaket yang ia kenakan di sebuah kastok dan kini hanya mengenakan kaos putih polos, jeans biru bertengger manis di tungkai kakinya yang jenjang dan membuatnya terlihat tinggi—hei Sehun memang tinggi. Dengan dipadukan sepatu kets biru membuat Luhan terpana melihatnya.

Sadar tengah memperhatikan Sehun—lagi, Luhan cepat-cepat menunduk.

"Kau tidak melepas jaketmu?" Alih-alih menjawab Luhan sibuk memainkan ujung jaketnya. Sehun menatap heran orang di depannya. Ia berkacak pinggang lalu menurunkan wajahnya sejajar dengan wajah Luhan. Sehun sendiri bahkan tidak sadar akan tindakannya.

Sehun mengintip melewati cela poni yang menutupi mata Luhan. Membawanya makin mendekat ke wajah Luhan.

Saat wajah yang diintip terlihat jelas di matanya, Sehun terbelalak.

Bagaimana tidak, di ruangan yang begitu terang ia melihat Luhan blushing karena Sehun terus-menerus dekat dengannya. Rona pink yang begitu ketara di kulit putih Luhan tentu saja mudah terlihat oleh Sehun dari jarak sedekat itu.

Dengan sangat tiba-tiba Sehun menjauh dan menutup mulutnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain, kemana saja asal tidak menatap Luhan yang tengah blushing parah.

Luhan memberanikan diri untuk menatap pemuda didepannya.

"Se-Sehun kau kenapa?" Pemuda itu tengah menutup mulutnya.

Merasa tidak mendapat respon yang baik, ia kembali menunduk. Lagi-lagi diacuhkan.

"Tidak. Lupakan." Sehun mengusap kasar wajahnya kemudian menaruh smartphonenya di speaker dock berwarna putih pada pojok ruangan. Tak lama terdengarlah sebuah lagu ballad.

.

.

.

Kejadian tadi lebih banyak menuntut Sehun untuk diam dan lebih dingin dari sebelumnya. Ia hanya mengangguk jika menjawab 'iya' dan menggeleng untuk memberikan jawaban 'tidak'. Hanya itu.

Mereka berdua benar-benar canggung.

Walau Luhan sesekali berani bertanya bagaimana melakukan gerakan ini gerakan itu, keheningan tetap menyertai mereka.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' baik Luhan maupun Sehun mereka lebih senang bergelut dengan pikirannya masing-masing.

'Apa aku melakukan kesalahan? Tapi aku mengikuti perintah Sehun tanpa terkecuali. Mungkin aku salah bicara. Apa ini mengenai pertanyaanku seputar keluarganya? Sial!'

"Hari ini cukup sampai sini." Akhirnya Sehun memecah keheningan.

Luhan mengangguk.

"Terima kasih untuk hari ini. Maaf jika perkataan dan perbuatanku tadi membuatmu tidak nyaman. Aku sungguh minta maaf." Luhan menunduk memainkan ujung jaketnya.

"Maaf untuk apa?" Sehun mengambil smartphonenya kemudian memakai jaketnya kembali.

"Soal pertanyaanku yang bodoh tadi."

"Tak usah dipikirkan."

Luhan masih terdiam. Menatap sepatu kets biru yang kini melangkah melewatinya begitu saja. Barulah ia berani mengangkat kepala menatapi punggung Sehun yang sudah keluar dari ruang latihan.

Ia mengikuti Sehun dan berhenti setelah sampai di depan game centre milik Kai.

"Haus?" Sehun memasukan tangan kirinya ke dalam saku celana jeans birunya itu dan kini ia mendapat tatapan kosong dari Luhan.

Sehun mengernyitkan dahinya.

"Ikut aku." Beberapa langkah setelahnya Luhan pun tersadar. Lagi-lagi ia bergelut dengan acaranya—mari-menatap-Sehun. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya lalu mengekori Sehun.

Mari kita cek punggung Sehun. Mungkin berlubang karena Luhan menatapnya tanpa henti. Tersandung batu baru tahu rasa.

Dari belakang saja ia masih terhipnotis, bagaimana jika ditatap dengan jarak 10cm—mungkin? Oke bercanda. Astaga Sehun terlihat tampan dari belakang.

Aish! Benar-benar… Rumah sakit jiwa mungkin tidak mau menerima pasien seperti Luhan. Sesekali tersenyum kemudian merengut.

Apa benar jika jatuh cinta itu seperti ini? Kalau begitu lebih baik kalian tidak usah jatuh cinta, okay?

Asik bermain dengan tangannya sendiri, tatapan Luhan beralih ke tangan kanan Sehun yang berayun seirama dengan langkahnya yang panjang.

Menatap sepatu kets biru milik orang yang berjalan di depannya itu kemudian naik lagi ke tangan kanannya kembali.

Bagaimana jika kau menggandeng tangan kanannya itu, terlihat pas dengan tanganmu, Luhan. Hahahaha wtf with that?!

Bergandengan di jalan seperti dunia milik sendiri, saling menautkan jari satu sama lain, mengayunkan tangan seirama langkah—ah indahnya jika bersama Sehun. Apapun itu… Hell! Apa yang kau pikirkan Luhan sadar! Astaga!

PLAK!

Satu tamparan ulah tangannya yang lentik cukup menyadarkan Luhan dari pikirannya yang 'iya-iya' tentang Sehun. Ngomong-ngomong tentang Sehun, dia berbelok memasuki sebuah toko.

Café—mungkin.

Luhan diam di depan café itu.

'Crusher bubble menu utama! Grab it fast!' Itulah yang Luhan baca pada plang di depan café ini.

"Sedang apa? Ayo masuk!"

Kloneng!

Bunyi bel yang dipasang pada pintu masuk café ini berbunyi ketika Luhan membuka pintunya. Hembusan angin dingin Air Conditioner menyapa wajah Luhan saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya masuk ke café itu.

Cafénya tidak terlalu besar, hanya saja terlihat nyaman. Baik dekorasinya, warnanya, pelayannya juga ramah.

Lagu khas café—jazz mengalun merdu memanjakan indera pendengarannya. Tidak terlalu ramai tapi cukup banyak orang. Ada sekitar empat sampai lima meja yang terisi.

Luhan memilih tempat duduk di pojok dekat jendela lalu kembali bergelut dengan pikirannya sendiri.

TUK.

Sesuatu menabrak kepalanya—atau sengaja ditabrakkan?

Luhan menoleh sembari memegang kepalanya yang basah, "Habiskan." Sehun menyodorkan segelas minuman.

Masih tidak bergeming, Sehun menatapnya heran.

"Apa? Aku tidak memasukkan racun kedalam sini."

"A-Ah terima kasih." Tangan Luhan terjulur menerima segelas plastik minuman coklat dingin.

Sehun duduk di hadapan Luhan.

Bibir mungilnya meraih sedotan besar, tak lama cairan coklat mengalir menuju mulut Luhan. Matanya membulat saat tidak sengaja menelan sesuatu yang kenyal. Otomatis ia terbatuk-batuk. Ia kembali meminumnya.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Sehun terbelalak melihat Luhan terbatuk-batuk seperti itu. Luhan tidak menjawab hanya mengangkat tangan berusaha meyakinkan pemuda di depannya bahwa ia baik-baik saja.

Sesuatu yang kenyal itu sudah turun ke perutnya. Ia lega walau matanya sedikit berair. Luhan menatap gelas plastik ditangannya. Kemudian matanya beralih menatap Sehun.

"Apa ini?"

"Choco Bubble." Sepertinya Sehun sudah kembali pada mode dinginnya.

Luhan kembali menatap gelas plastik ditangannya. "Kurasa aku menelan sesuatu yang bulat dan kenyal."

"Itu bubble."

"Baiklah…" Luhan menaruh gelas di tangannya keatas meja.

"Sepertinya kau membuatku phobia dengan bubble-mu itu."

"bubble-ku? Kata-katamu begitu ambigu."

Ambigu? Well, Luhan hanya berkata 'bubble' milik Sehun hampir membuatnya mati. Itu saja. Apanya yang ambigu?

"Eh? Memangnya kenap—HAH?! Ma-maksudku minuman dengan bubble pemberianmu. Astaga! Jangan berani berpikir macam-macam!"

Mungkin maksud Luhan bubble milik Sehun itu sesuatu yang bulat dan kenyal, karena Sehun berkata bahwa kalimatnya ambigu atau dalam artian 'kalimat-yang-sangat-tidak-elit-untuk-diucap' itu berarti berhubungan dengan—ehem itu… sesuatu milik Sehun yang bulat dan kenyal. WTF! Lu! Sadarlah!

"Apanya yang macam-macam? Aku tidak berpikir macam-macam, hanya saja kalimat tadi terdengar aneh di telingaku. Lagipula itu bukan bubble buatanku."

Skakmat. Sekarang siapa yang berpikir macam-macam?

"Astaga kau sendiri yang bilang kata-kataku ambigu, itu berarti menyangkut sesuatu yang—ehem privasi."

Alis Sehun terangkat satu, ia berpikir keras. 'apa yang dimaksud bocah ini?'

"Kata-katamu ambigu, aneh didengar. Memangnya bubble apa yang kau maksud?"

F*ck! Luhan benar-benar terpojok sekarang. Kepalanya terasa berat untuk diangkat, alhasil ia pun menunduk.

"A-anu i-itu…" Luhan melirik Sehun yang tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Bu-bukan apa-apa!" sergah Luhan tiba-tiba. Dengan mulut yang mempout lucu, Luhan menatap keluar jendela.

"Kau bilang tidak akan meracuniku, bubble-mu—ehem minuman bubble ini membuatku hampir mati tersedak."

"Hahaha. Makanya minum hati-hati." Sehun tertawa.

Apa? Sehun tertawa? Bocah dingin itu tertawa? Luhan semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Berkali-kali ia mengucek matanya berharap yang terjadi didepannya hanya ilusi belaka.

"Haha aduh perutku sakit. Ahahaha." Ia tertawa sesekali memukul meja.

"YA! Kenapa kau tertawa? Cepat minta maaf!"

Walau kesal, melihat Sehun begitu puas tertawa, membuat Luhan tanpa sadar ikut tersenyum.

"Iya-iya aduh perutku ahahaha maaf maaf."

Sepertinya Luhan butuh memeriksakan diri ke dokter, ia kesal tapi sesekali tersenyum melihat Sehun yang entah mengapa menertawainya begitu saja, 'padahal sama sekali tidak lucu.'

'Dia semakin tampan ketika tertawa.' HAH?! Luhan tersadar dengan apa yang ia pikirkan. 'Tidak-tidak aku tidak menyukainya, okay?'

Luhan mendengus. Ia meraih gelas bubble-nya yang berembun dan menyisakan air di atas meja tanda es di dalamnya telah mencair. Menyeruputnya yang beberapa menit lalu ia berkata phobia dengan itu.

"Eng… Sehun." Lagi-lagi Sehun hanya menggumam. Ia sibuk dengan smartphonenya

"Kau bilang ini bukan bubble buatanmu. Memangnya kau bisa membuat ini?" Sehun berhenti berkutat dengan smartphonenya.

"Tidak untuk bubble, hanya minumannya saja. Aku bekerja disini."

"Bekerja? Tidak sekolah?" Luhan menaruh kembali gelas bubblenya, mengelap tangannya yang basah karena gelasnya berair.

"Tidak." Aneh, Kai pernah bilang kalau Sehun itu seumuran dengannya, berarti seharusnya dia kelas satu, high school.

Sehun melirik arlojinya, "Sudah sore, aku harus bekerja. Rumahmu dimana?"

"Jalan Matahari 1 diperumahan AllSeven."

"Bingo. Ayo." Sehun melangkah keluar dan Luhan kembali mengekorinya.

Sudah 20 menit yang lalu sejak Sehun menyuruhnya untuk menunggu di depan café.

"Kemana anak itu? Jika tahu begini, lebih baik aku naik taksi." Luhan paling tidak suka menunggu. Siapa sih yang senang dengan acara menunggu? Kurasa tidak ada.

"Naiklah." Ninja putih berhenti tepat di depan Luhan. Jika Sehun tidak membuka kaca helmnya mungkin Luhan sudah mengira penculik. Dia terlalu banyak menonton film.

"Aku tidak melihat motormu tadi." Luhan melaksanakan perintah Sehun. Tentu saja naik ke motornya.

"Aku baru mengambilnya di bengkel." Pantas lama.

"Maaf lama." Sepertinya Sehun tengah membaca pikirannya.

Motor ninja itu perlahan melaju dengan kecepatan normal, um diatas normal—sedikit. Mungkin lebih.

Tidak sedikit kata-kata kutukan keluar dari mulut mungil Luhan, saat Sehun tiba-tiba berhenti atau berbelok tanpa mengurangi kecepatannya.

'Tuhan, aku belum mau mengakhiri hidupku. Masih ada tugas Park Seosangnim yang belum kukerjakan.'

Luhan tidak mungkin untuk tidak memeluk Sehun. Gengsi atau mati? Ia seperti benar-benar berada diambang kematian.

CKIT!

"KAU!" Luhan menahan kata-katanya sejenak untuk menetralkan jantungnya juga emosinya.

"Dua kali aku hampir dibunuh olehmu!" dengan kasar Luhan turun dari ninja putih tepat didepan rumahnya. Nafasnya satu-dua. Bagaimana tidak, menjadi korban balapan liar—oke ini berlebihan.

Sehun membuka kaca helmnya.

"Kau sengaja ya menaikan kecepatanmu?!" Ia gondok. Selain menunggu, ia juga benci saat naik kendaraan dengan kecepatan tinggi.

"Maaf, aku buru-buru." Sehun menjalankan motornya kembali dan beberapa detik setelahnya ia menghilang di tikungan ujung jalan.

Luhan menutup pagar rumahnya dengan kasar. "Dia seperti orang kesetanan. Cih!"

Kali ini Luhan butuh mandi dengan air hangat dan susu coklat dingin untuk meredakan emosinya. Rasanya ia baru saja mengagung-agungkan nama Sehun tetapi dengan kelakuannya yang seperti sedang melakukan percobaan-pembunuhan-Luhan, ia ingin menarik persepsinya terhadap pemuda berambut putih platina.

Luhan bergegas masuk sebelum moodnya bertambah buruk.

Sebelah kanan ruang tamu terdapat beberapa kursi melingkar menghadap televisi. Seorang yeoja duduk di salah satu kursi. Rumahnya memang tidak mempunyai sekat pemisah antara ruang tamu dengan ruang keluarga.

TVnya menyala dan yeoja itu begitu serius hingga tidak menyadari Luhan. "Oh! Lu, sudah pulang?" Luhan menutup pintu kemudian mengangguk malas. Ia hanya melewati ruang keluarga dan masuk ke kamarnya dengan sesekali mendengus.

"Kenapa dia?"

.

.

.

Tugasnya selesai. Luhan duduk di lantai menatap laptop diatas kasur. Ia membuang nafas kasar lalu menshutdown dan menutup laptopnya.

"Maaf, aku buru-buru." Eye-smilenya terlihat. Sehun tersenyum dibalik helmnya.

DEG!

Kenapa Luhan baru sadar sekarang?

"Jadi, tadi Sehun tersenyum padaku?" Luhan menopang dagunya keatas ranjang.

Hihi lucunya. Yang terlihat hanya eye-smilenya karena seluruh wajahnya tertutupi helm, beruntung Sehun membuka kaca tersenyum lebar.

"Siapa yang tersenyum padamu, heum?" seperti tersedak liurnya sendiri, Luhan panik menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Seorang yeoja membawa segelas susu coklat ditangannya.

Yeoja itu berjalan mendekati Luhan yang kini sudah duduk ditepi ranjangnya. Ia pun duduk di samping Luhan.

"Kau mau tahu saja." ucapnya seraya menerima segelas susu coklat dingin yang terlihat menggiurkan.

"Well, kau tidak pernah menceritakan masalahmu pada jiejie, jahat sekali." Raut wajahnya terlihat sedih.

"Vict-jiejie, hentikan aktingmu! Kau tidak cocok. Kau lebih cocok dengan peran antagonis." Yang dipanggil jiejie oleh Luhan memutar bola matanya bosan.

"Ya terserah, sudah mandi?" Luhan hanya mengangguk."Kau yakin tidak mau makan?"

"Ne, Victoria-jiejie, aku lelah." Luhan meregangkan badannya. Melihat itu pandangan Victoria melembut, tangan kirinya terjulur mengelus sayang rambut belakang Luhan.

"Ya sudah, habiskan itu. Jaljayo." Yeoja itu melangkah keluar kamar Luhan. Di tutupnya pintu kamar bercat biru itu dengan sangat hati-hati.

Luhan meneguk susu coklatnya hingga tak bersisa dan menaruhnya di atas meja belajar bersama dengan laptopnya.

Ia berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantal di atas bantalnya. Matanya terpejam. Kejadian tadi masih tergambar jelas di kepalanya. Saat sehun mengajarinya, menertawainya, saat Sehun menaikan kecepatan laju motornya yang mau tidak mau—sebenarnya sih mau—Luhan harus memeluk Sehun agar tidak terjatuh, juga saat Sehun menampakkan eye smilenya. Sungguh hari yang menakjubkan!

"Sekaligus menyebalkan!" Ia kembali mendengus kesal. Entah sudah berapa kali Luhan seperti itu.

Luhan bangkit dan duduk bersila diatas ranjangnya. Ia meraba tengkuk sebelah kanannya.

"Kurasa Sehun memiliki tahi lalat di sekitar sini." Ia mengingat saat Sehun sedang fokus dengan smartphonenya dan di saat itu Luhan melihat titik hitam di leher—tengkuk Sehun. Luhan manggut-manggut sembari melamun.

Dering ponsel mengagetkan Luhan. Tahi lalat Sehun pun buyar, hilang begitu saja bersama semua lamunannya.

"Mengganggu saja." Luhan meraih smartphonenya yang berada di meja nakas.

1 pesan baru. Membuka…

Dari Kai,

Bagaimana harimu dengan Sehun, Hyung? Indah kan? Berterimakasihlah padaku yang telah mengenalkannya padamu. Kau berhutang ramyun padaku.

Ck anak ini. Luhan menekan layar smartphonenya untuk membalas pesan Kai.

Kepada Kai,

Apanya yang indah?! Kau menghancurkan moodku, sialan!

Mengirim… terkirim!

Ya Kai mengganggu lamunannya tentang Sehun. Fantasinya hilang begitu saja saat pesan Kai masuk. Jadi kau memikirkan Sehun, heum?

"Aish! Kenapa jadi memikirkannya sih?" Rambutnya yang tak berdosapun kini berantakan oleh tangan sudah seperti orang yang habis ditolak cinta saja.

Smartphonenya kembali berdering.

1 pesan baru. Membuka…

Dari Tak dikenal,

Berhentilah memikirkanku.

Dahinya mengerut. Memikirkannya? Siapa lagi selain Oh Sehun.

Kepada Tak dikenal,

Siapa ini?

Mengirim… terkirim!

"Apa mungkin Sehun?" Hanya Sehun yang ia pikirkan sekarang. Tapi masa iya?

"Untuk apa Sehun menghubungiku?" Luhan mengetuk-ngetukkan smartphone ke dagunya.

"Apa mungkin Sehun…" Wajahnya memanas. Menyukai Luhan? Seperti 5% dari 100%. Bagus! Sekarang Luhan gelisah menunggu balasan dari orang tak dikenal."Ah! Aku bisa gila!" Luhan menenggelamkan wajahnya kebantal.

"Dia tidak mungkin menyukaiku."

1 pesan baru. Membuka…

Dari Tak dikenal,

Aku Sehun.

To Be Continued…


masih kurang panjang? -_- tunggu chap depan deh yaaaa

thanks to:

Mr. S 08, RZHH 261220, indahlstrr, 12Wolf, my lulu, lisnana1, HyunRa, ajib4ff, MinwooImitasi, , dewilololala, rainhainyrianarhianie

REVIEW?^^