Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama mafia yang menjadi buronan polisi. Bagaimanakah kisah mereka?

Cherry'UchihaSakura'Blossom

Proudly Present

Most Wanted Boy in My House

Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon

Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto

Chapter 2

" Kyaaa!" Jerit Sakura, " Polisi! Polisi! Ada penjahat di rumahku!" Jeritan Sakura yang sangat keras mampu membuat telinga sang Uchiha itu sedikit perih

" Hei diamlah!" Perintah Sasuke

" Polisi! Poli- hmmmpphh…" Sasuke buru-buru membekap mulut besar Sakura.

" Diamlah, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu jika kau diam. Mengerti?" Sasuke berkata ragu-ragu lalu diikuti dengan anggukan Sakura. Ia lalu melepas bekapan tangannya dari mulut Sakura dan….

" POOLIIISIIIII!"

" Arghhh, cukup sudah." Kata Sasuke frustasi. Ia menarik tangan Sakura untuk mendekat lagi padanya lalu, cup! Mata Sakura membulat.Sasuke berhasil membekap mulut Sakura menggunakan mulutnya sendiri.

Diciumnya dalam-dalam bibir Sakura agar tidak menimbulkan suara sama sekali. Ciumannya sudah cukup lama berlangsung dan akhirnya Sakura menyadarinya. Buru-buru ia menjauhkan mafia itu bersama bibir bodohnya dari dirinya

" Hei, apa-apaan kau ini!" Gerutu Sakura. Pipinya sudah sukses memerah bak kepiting rebus

" Hn, kau yang memaksaku melakukan itu. Dasar bodoh." Sasuke memalingkan wajahnya

" Akan kulaporkan kau ke polisi. Aku akan menuntutmu telah melakukan tindakan pencabulan." Kata Sakura. Ia lalu meraih telepon rumahnya. Tetapi tangannya buru-buru ditepis oleh Sasuke sehingga telepon itu terlempar dari pegangannya.

" Hei!"

" Jika kau menelpon polisi. Aku tidak akan menjamin kau akan melihat matahari besok." Ancam Sasuke. Ia berjalan mendekat ke arah Sakura

Sakura meneguk ludah, " Hei mau apa lagi kau, huh?"

Sasuke tidak menghiraukan kata-kata Sakura, ia terus berjalan, sementara Sakura terus mundur.

" Diam di situ!" Suruh Sakura. Ia semakin berjalan mundur sampai akhirnya ia merasa punggungnya menyentuh tembok. " Oh, shit!"Maki Sakura

" Mau apa kau? Mau membunuhku? Aku tidak takut! Lagipula kau tidak akan berani untuk membunuhku." Tegas Sakura

Akhirnya dada bidang Sasuke sukses menghimpit dada Sakura sendiri. Ia mendekatkan wajahnya pada Sakura. Hn, sedikit permainan akan membuat gadis ini patuh. Pikir Sasuke.

" Benarkah itu, sayang?" Sasuke sedikit memberI penekanan pada kata 'sayang'. " Kau tahu tidak membunuh itu adalah pekerjaan yang paling mudah bagiku. Semudah membalikkan telapak tangan."

Sakura meneguk ludahnya lagi.

" Kau tahu tidak jika sekarang aku membunuhmu, berarti kau adalah korbanku yang keseratus." Kata Sasuke.

Glek! Sakura menciut, " Apa maumu!"

Sasuke menyeringai. Rencananya berhasil. " Mudah saja. Aku akan tinggal di rumahmu, dan tugasmu adalah menyembunyikanku dari polisi."

" Hah! Itu melanggar undang-undang. Aku tidak akan menyembunyikan seorang criminal di rumahku." Tegas Sakura

" Jadi kau tidak mau….." Sasuke sedikit member jedah pada kalimatnya. " Kalau begitu katakana selamat ting…."

Ayolah Sakura berpikir! Undang-undang atau keselamatan nyawamu?

" B-baiklah. Aku akan menuruti perintahmu dengan imbalan kau tidak akan melukaiku." Sambar Sakura.

Sasuke menyeringai. " Selain itu selama aku berada di rumahmu, kau akan menjadi pelayanku." Ucap Sasuke enteng

Sakura Pov

Apa? Orang ini sudah tidak waras yah? Sudah menumpang di rumah orang, malah meyuruh tuan rumah jadi pelayannya. Cih, tidak akan!

" Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak sudi menjadi pelayanmu!" Kataku. Huh, memangnya dia siapa?

" Berarti kau sudah tidak sayang nyawamu…" Sasuke kemudian berjalan menjauh. Huufft, sedikit membuatku lega.

Huh! Ancaman itu lagi! Mau tidak mau aku harus melakukannya. " Baiklah." Kataku cemberut.

Sasuke lalu duduk di sofa dan memainkan remote televisi. " Sebagai tugas pertamamu, ambilkan aku makanan. Aku lapar!"

" Hei, kau punya kaki, tahu. Ambil sendiri saja!"

Sasuke mendeham.

Ayolah Sakura, kau orang yang sayang nyawa, bukan?

Dengan berat hati, aku meyeret kakiku menuju dapur. Tragis sekali nasibku ini.

Setelah mengambilkan si bodoh itu nasi, sayur, dan sepotong ayam goreng. Aku menyerahkan piring itu.

" Nih. Jangan bilang kau mau di suap." Aku mengejek.

" Hmmm, boleh juga. Suapi aku." Kata Sasuke manja.

You make big mistake Baka-Sakura.

Normal Pov

Sakura mendesah panjang, " Hmm, baiklah." Sakura menyendok nasi. " Nih, buka mulut."

Sasuke menepis, " Maksudku bukan suap seperti itu." Sasuke mengambil sendok dari tangan Sakura. " Maksudku seperti ini." Sasuke lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulut Sakura.

" Ini terbalik, seharusnya aku yang…."

Kalimat Sakura terpotong karena Sasuke lalu mengambil alih mulut Sakura. Dilumatnya bibir itu. Sesekali ia jilati.

Sakura mencoba melepaskan diri, tapi apa daya tenaga seorang Sakura tidak sebanding dengan tenaga seorang Sasuke. Mau tidak mau ia akhirnya pasrah juga

" Hmmphhh~" Desah Sakura

Sasuke terus melumat bibir Sakura. Kali ini dia menambahkan sedikit gigitan-gigitan kecil agar Sakura membuka mulutnya. Dan aksinya sukses. Sakura membuka mulutnya. Ia tidak mau membuang kesempatan berharga itu.

Sasuke langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sakura, ia lalu memindahkan makanan yang dari tadi ada di dalam mulut Sakura.

Sasuke akhirnya melepas ciuman panas itu. Muka Sakura sangat merah, nafasnya juga terlihat tidak teratur.

" Bagaimana, kau suka?" Sasuke menyringai sambil mengunyah pelan makanan yang baru saja direbutnya dari mulut Sakura.

" Hosh…hosh… kau gila!" Sakura mau beranjak pergi tetapi tangannya keburu dicegat oleh Sasuke.

" Mau kemana kau?" Tanya Sasuke dengan tampang innocent. " Kita harus menghabiskan makanan ini, Saku-chan."

" Kau habiskan sendiri saja!" Sakura menepis tangan Sasuke, ia lalu beranjak pergi meninggalkan Sasuke.

Sakura berjalan menuju kamarnya, lalu BRAKK, ia membanting pintu. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur

" Bodoh, bodoh! Kau memang bodoh Sakura. Sekarang kau tidak ada bedanya dengan Karin." Gerutu Sakura. Ia menjambak rambut merah mudanya sehingga ikatan rambutnya lepas.

Tak lama setelah ia mengoceh dan memaki tidak jelas, akhirnya terlelap juga.

Beberapa saat kemudian…..

" Hei, hei bangun. Aku mau tidur." Sasuke menepuk-nepuk pundak Sakura.

Apalagi sekarang? Pikir Sakura

" Bangun. Aku mau tidur di situ." Kata Sasuke.

Glek! Sakura langsung terbangun. " Apa-apaan kau ini. Ini kamarku, tahu!" Sakura mengucek-kucek matanya. " Kau tidur di sofa saja sana!"

" Tapi kau adalah pelayanku dan aku adalah tuan rumah disini. Jadi kau saja yang tidur di sofa. Aku tidak mau!" Kata Sasuke. " Nanti badanku pegal-pegal."

" Hei! Disini aku yang punya rumah, aku tidak akan pindah. Mengerti."

" Hn, baiklah. Kita tidur sama-sama saja." Sasuke lalu membaringkan badannya di sebelah Sakura.

" Kyaaa!" Jerit Sakura. " Mesummmm!" Sakura buru-buru bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke ruang tamu.

" Hn, perempuan bodoh. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku sama sekali tidak bernafsu padamu." Gumam Sasuke kemudian ia langsung tertidur.

Sementara Sasuke sedang tidur nyenyak, Sakura malah terus merutuki dirinya. Malang benar nasibnya.

Kemudian ia menerawang, ia teringat dengan kata-kata Hinata waktu makan siang….

Flashback

" Sakura-chan, kira-kira bagaimana menurutmu jika seorang mafia buronan polisi tinggal serumah denganmu?" Tanya Hinata polos

Sakura tekikik geli mendengar pertanyaan gadis indigo itu, " Kau ini ada-ada saja Hina-chan. Ini karena kau kebanyakan baca buku tentang mafia-mafia. Kau berimajinasi tinggi sekali."

" Tapi, itu kan bisa saja terjadi." Elak Hinata, " Jadi menurutmu bagaimana?"

Sakura berpura-pura berpikir, " Mmmm, pasti akan merepotkan."

End of Flashback

Oh Kami, sekarang kata-kata Hinata benar-benar terbukti. Sekarang itu terjadi padaku. Kami-sama apa salahku, sehingga aku harus berurusan dengan mafia bodoh itu?

Pagi harinya….

" Huaaahhh~" Sakura menguap. " Ah, rupanya sudah pagi." Sakura mengucek-ngucek matanya.

" Aduh, badanku pegal habis tidur di sofa." Ia memijit-mijit punggungnya. " Semua itu karena si mafia bodoh itu."

Sakura beranjak dari sofa niatnya sih ingin masak sarapan pagi, tetapi ternyata sarapan sudah tersedia di meja makannya. Ia niat membersihkan, semuanya sudah rapi. Barang-barang yang berserakan kini tertata rapi di tempatnya.

Ia melirik jam, baru pukul 05.30. masih lama kalau mau ke sekolah.

" Mandi saja, ah." Sakura melangkahkan kakinya menuju kamarnya- kamar mandi Sakura ada di dalam kamar.

Sakura mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Jadi ia putuskan langsung masuk saja. Ternyata eh ternyata kamarnya pun sudah rapi.

" Hehehe, lumayan, pekerjaanku sedikit berkurang." Gumamnya.

Ia melirik-lirik mencari Sasuke, dia tidak ada. Mungkin dia berjalan-jalan pagi. Pikir Sakura. Tapi, dia kan buronan, mana mungkin dia berjalan-jalan? Dia bias tertangkap polisi. Sakura agak sedikit khawatir. Ah, masa bodoh lebih baik dia tertangkap saja supaya tidak merepotkanku lagi.

Ia kemudian menanggalkan semua bajunya hingga tak sehelai benangpun menutupi kulitnya yang mulus. Rambutnya juga ia biarkan terurai. Tetapi tanpa ia sadari sekumpulan baju juga tergeletak tak jauh dari sisi tempat tidur.

Sakura berjalan perlahan memasuki kamar mandi sambil bersenandung kecil. Ia membuka pintu kamar mandi lalu menguncinya namun dengan mata terpejam ( Disini Sakura menutup matanya karena sibuk menghayati lagunya, hehehe ^.^v ) Cklek, pintu akhirnya terkunci.

" Mandi du…" Sakura tidak melanjutkan kalimatnya, karena begitu ia berbalik ia terkejut, matanya membulat, wajahnya berubah menjadi sangat merah. Itu karena ternyata Sasuke juga mandi sekaligus tanpa mengenakan busana. Cukup lama ia berpandangan

5

4

3

2

1

Dan akhirnya…..

" KYAAAAAAAA!"

" HUUUUUWWAAAAAA!"

Sakura reflek membalikkan tubuhnya membelakangi Sasuke, begitu juga dengan Sasuke.

" Bodoh! Kenapa kau tidak ketuk dulu huh?" Muka Sasuke memerah.

" Ini kan kamar mandiku. Yang bodoh itu kau, mandi di kamar mandi orang sembarangan." Bela Sakura.

" Memangnya aku mau mandi dimana lagi huh!" Kata Sasuke menahan malu.

" Iya juga sih." Kata Sakura pelan. " Baiklah kau mandi duluan saja, aku mau keluar." Kata Sakura akhirnya. " Tapi… kau tidak melihat apa-apa kan? Maksudku…. Yah kau pasti mengerti."

" Y-ya tentu saja tidak bodoh, kau fikir aku ini semesum apa. Lagipula aku sama sekali tidak bernafsu padamu kok. Kau juga tidak melihat apa-apa, kan?"

" Y-ya tentu saja tidak, dasar baka!"

" Kalau begitu kau keluar sana! Aku juga sudah mau selesai kok." Sahut Sasuke diiringi anggukan Sakura. Tak lama, terdengar suara pintu dibuka.

Sasuke Pov

Oh God, tubuh wanita itu benar-benar seksi. Yap sobat, tadi aku berbohong kalau aku tidak melihatnya. Padahal aku sudah melihat setiap inchi tubuh Sakura. For God's sake, tubuhya benar-benar indah.

Kulitnya mulus putih tanpa bekas luka sedikitpun, leher yang jenjang, dada yang ukurannya professional, perut yang rata dan belum lagi, daerah Ms.V yang sepertinya terawat. Bagaimana bisa cewek yang dari luarnya kelihatan cupu bisa menyembunyikan keindahan yang amat sangat indah.

Damn it! Aku membayangkan bagaimana rasanya bercumbu dengannya, pasti memuaskan. Uhh, bagaimana rasanya jika aku mengemut dadanya yang seukuran Britney Spears. Ohh, pasti sangat enak. Belum lagi dengan Ms.V-nya. Memikirkannya saja membuat aku menjadi terangsang seperti ini. Buktinya, lihat Mr.P-ku berdiri tegak.

Shit! Kenapa sih harus cewek itu yang membuatku terangsang seperti ini! Ngghhh~ aku sidit mengocok Mr. P-ku. Setidaknya hasrat itu dapat sedikit berkurang.

" Ngghhhh~~~" Aku mendesah. Buru-buru kunyalakan shower agar suara desahanku sedikit tersamarkan. Aku terus melakukannya, dan tak lama-croot- aku keluar. Huh, segini saja aku sudah klimaks. Maklum, aku sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan 'itu' karena selama menjadi bos mafia, aku sudah tidak terlalu bisa bersenang-senang.

Kumatikan shower itu lalu melilitkan handuk putih di pinggangku.

Sakura Pov

Daritadi di saat yang sama…

Kami-sama, maafkan aku yang tidak sengaja melihatnya. Aku buru-buru memakai busanaku. Ya, aku berbohong teman-teman, aku sudah melihat seluruh badan Sasuke. Dan saat kubilang seluruh, berarti semuanya tanpa terkecuali.

Arrgggghhhh! Tak dapat kupungkiri tubuhnya memang indah. Postir badannya bagus dan tegap. Dada yang bidang, perut siz packs dan belum lagi dengan 'itu'-nya yang besar dan menggantung.

Oh Kami, kenapa ak memikirkan hal jorok seperti ini sih? Lihat karena memikirkan hal ini aku jadi sedikit err, terangsang dan basah! Boleh kuulangi BASAH! Aku wajar kan merasa seperti itu, aku kan sudah dewasa, dan aku juga mempunyai hormon reproduksi.

Kalian mengerti kan maksudku? Uhh, sejak kapan aku seperti ini sih? Aku memukul-mukul kepalaku frustasi. Bodoh bodoh bo- eh,

' Ngghhhh~~~' tunggu dulu aku mendengar seseatu seperti suara….. suara desahan. Ya desahan! Tapi masa Sasuke mendesah sih? Aku menempelkan telingaku pada pintu, hanya suara shower saja. Ahh, mungkin aku salah dengar.

Cklek, pintu terbuka, aku segera menjauhkan telingaku dari pintu itu.

" Hei, sedang apa kau?" Tanya Sasuke curiga.

" Ti-tidak kok." Jawabku spontan. " Umm, Sasuke anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi." Setelah mengatakan itu, aku langsung masuk kedalam kamar mandi.

Normal Pov

Kini Sasuke dan Sakura duduk di meja makan, suasana menjadi agak canggung setelah insiden kamar mandi itu.

" Umm, Sasuke." Sakura mulai membuka pembicaraan, " Terima kasih sudah membuatkanku sarapan dan membantuku membereskan rumah." Kata Sakura tulus.

" Hn, jadi kau berfikiran begitu yah?"

Sakura mengangguk pasti.

Sasuke tersenyum. " Kalau begitu sayang sekali karena kau salah besar. Kesalahanmu disini ada dua. Pertama, sarapan ini bukan untukmu tapi untukku sendiri. Jika kau mau kau buat sendiri saja. Kedua, aku membersihkan rumah ini bukan karena niat membantumu walaupun yang kulakukan bisa dikategorikan membantu. Karena rumahmu ini sudah seperti kapal pecah. Aku paling tidak tahan dengan rumah yang berantakan." Jelas Sasuke tenang sambil menyuap nasi goreng ekstra tomat buatannya.

Sontak muka Sakura merah menahan malu. " Kalau begitu ucapan terima kasihku kutarik kembali dan oh ya, jika kau tidak suka dengan rumahku yang seperti kapal pecah, kau tinggal di hotel saja sana! Jangan tinggal di rumahku!"

" Andaikan itu bisa kulakukan." Jawab Sasuke menahan tawa. Ia telah sukses mengerjai si pinkie itu. Sebenarnya ia memang bermaksud membantu Sakura, tapi karena ego-nya sebagai Uchiha, ia gengsi mengatakannya di depan Sakura. Dan soal sarapan, ia telah menyiapkan bekal untuknya.

" Dasar bodoh!" Sakura hendak pergi, tetapi Sasuke mencegatnya.

" Nih untukmu." Sasuke menyerahkan kotak bekal kecil pada Sakura. " Ini sarapan untukmu."

Awalnya Sakura agak ragu menerima itu, tapi apa boleh buat daripada ia mati kelaparan nanti.

" Selain itu sepulang kau sekolah temani aku berbelanja. Aku butuh baju." Pinta Sasuke tapi tepatnya disebut perintah.

" Terserah." Kata Sakura ketus.

" Dia itu apa-apaan sih!" Sakura menggerutu tak jelas selama dalam perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya agak sedikit cepat karena jengkel. Ia tak habis pikir dengan pemuda itu, kadang-kadang ia baik. Baik karena telah membuatkannya bekal sarapan. Tapi ia juga menyebalkan.

" Masa rumahku dibilang seperti kapal pecah?" Gerutu Sakura lagi. Ia kembali mengingat kata-kata Sasuke.

' Rumahmu itu seperti kapal pecah'

Tapi memang tak dapat dipungkiri rumahnya memang seperti kapal pecah, " Tapi, dia kan tidak perlu berbicara blak-blakan seperti itu." Bela Sakura pada dirinya sendiri.

Ia akhirnya samapi di sekolah setelah mengayuh selama 15-menit. Ia memarkirkan sepedanya dengan kesal di tempat parkir khusus sepeda, saat ia merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Siapa lagi kalau bukan Gaara.

" Pagi Sakura. Kau terlihat berantakan hari ini." Sapa Gaara ramah seperti biasanya

Sakura mendengus kesal. " Ini semua gara-gara Sasu-" Sakura menghentikan perkataannya. Oops!

" Sasu? Siapa Sasu?" Tanya Gaara . Pikirannya berkecamuk. Apa Sasu itu pacar Sakura?

Oh! Mati aku! Apa yang harus kujawab sekarang? Come on, berfikir Sakura….

" Umm ano… Sasu itu anak tetangga sebelah. Dia nakal sekali sering menggangguku." Jawab Sakura ragu.

Untunglah. Batin Gaara. Hampir saja ia patah hati.

Untung saja Gaara langsung percaya jika tidak, habislah dia di tangan Sasuke.

" Oh ya Sakura, kau bawa daunnya?" Tanya Gaara

Sakura mengangguk. Ia merogoh saku seragam yang terpasang di balik blazer- nya. " Nih, aku petikkan cukup banyak. Siapa tahu nanti berguna." Sakura menyerahkan beberapa lembar daun yang sudah agak layu.

Gaara tersenyum, " Makasih banyak Sakura. Sebagai ucapan terima kasih sepulang sekolah kutraktir kau makan siang. Kau mau?" Tawar Gaara

Hmm, sebenarnya si pinkie ini mau sekali, tapi berhubung karena Sasuke lebih dulu mengajak atau lebih tepatnya menyuruhnya menemaninya untuk berbelanja baju. Mau tidak mau ia akhirnya menolak tawaran baik Gaara.

" Ahh, maaf yah senpai. Hari ini saya tidak bisa. Pekerjaan rumah lagi numpuk banget. Jadi, lain kali saja yah." Tolak Sakura halus.

" Baiklah. Saya mengerti." Kata Gaara. Ia memahami betul Sakura. Tidak mudah menjadi orang yang hidup jauh dari orang tua. Pasti repotnya minta ampun.

" Saya ke kelas dulu yah senpai. Senpai mau ikut?" Ajak Sakura diiringi anggukan Gaara.

Sakura mencari-cari dimana gerangan sahabat indigo itu. Matanya melirik-lirik setiap koridor sekolah yang dilewatinya.

" Hinata, mana sih?" Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal.

Ia mencari di kelas tidak ada. Padahal tasnya sudah ada. Ia mencari di kantin, dia juga tidak ada. Di manakah Hinata sebenarnya?

Sakura masih mengedarkan pandangannya saat sosok yang ia cari ketemu juga. Dia sedang duduk di perpustakaan. Ia sedang membaca novel detektif.

Sakura segera menghampirinya dan langsung memberi Hinata pertanyaan bertubi-tubi.

" Hinata-chan kau bisa ceritakan tentang imajinasimu kemarin? Atau mungkin kau punya bukunya? Bisa kau ceritakan itu padaku?" Tanya Sakura bertubi-tubi.

" Ohh, soal itu. Maaf Sakura buku itu bukan punyaku. Tapi aku bisa menceritakannya padamu." Jawab Hinata.

Skip Time

Bel akhirnya berbunyi. Sakura sudah mengepak barang-barangny bersiap untuk pulang.

" Sakura kenapa kau mau tahu isi novel itu? Kau tertarik dengan kisahnya yah?" Tanya Hinata sambil memasukkan buku ke dalam ranselnya.

Sakura hanya mengangguk lemas.

Ia mengayuh sepedanya lemas. Selama pelajaran, ia tidak konsen. . Ia jadi teringat kisah tragis novel yang pernah di baca Hinata.

Flashback

" Ya seperti yang kuceritakan kemarin. Si mafia itu membuat perjanjian. Si mafia itu tidak akan membunuh si cewek itu jika ia menyembunyikannya dari polisi. Dan si cewek menyetujuinya. Dan setelah mereka lama tinggal bersama, si cewek jatuh cinta sama mafia itu lalu dia menyatakan cintanya. Tapi bagian yang paling tragis ketika si cewek dan mafia sudah melakukan hubungan intim. Dia di bunuh!"

End of Flashback

Sakura menghela nafas berat. Apakah hal yang sama akan terjadi pada dirinya? Ia langsung menggeleng kuat-kuat.

Aku mana mungkin bisa jatuh cinta pada mafia bodoh itu? Batinnya.

Kayuhan terakhir ia akhirnya sampai di depan rumah. Ia memarkir sepedanya di halaman.

" Aku pulang…." Sahut Sakura saat membuka pintu lalu kembali menutupnya. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak.

" Hn, " Jawab Sasuke singkat. " Kau tidak lupa kan dengan…" Sasuke belum menyelesaikannya tapi Sakura sudah memotongnya.

" Ya ya ya. Aku tahu. Aku mau mandi dulu." Kata Sakura tanpa menoleh. Ia lalu beranjak menuju kamar mandi.

Skiptime

" Nah, ayo kita pergi." Kata Sakura siap. Rambutnya tetap ia kepang tak lupa juga dengan kacamatanya. Ia mengenakan kaus lengan panjang kedodoran dengan warna yang senada dengan rambutnya dipadu dengan jeans hitam

" Hn, " Sasuke berdiri dari pijakannya.

Sakura sedikit mengamati Sasuke." Aah, kau mau keluar seperti ini? Kau akan tertangkap. Kusarankan sebaiknya kau menyamar."

" Hn."

" Dan penyamaran seperti apa yah…." Sakura memutar otaknya. Ia meneliti seluruh tubuh Sasuke dan triing!

" Ah! Aku tahu. Dan kali ini kau tidak akan tertangkap." Seringai Sakura.

Ahh, Uchiha kau masuk ke dalam perangkapku. Dan kali ini aku akan mengerjaimu habis-habisan. Hihihi.

To be Continued…..

Chapter 2 selesai! Nah saya mau kasih tebakan nih, kira-kira penyamaran macam apa yang akan dilakukan Sakura terhadap Sasuke? Mohon dijawab yah, dan silahkan tulis ide cerita para senpai untuk chapter depan. Jawaban yang benar insya Allah ide ceritanya akan saya masukkan dalam chapter depannya. ( Tapi nggak janji yah)

Maafkan atas keterlambatan saya mengupdet. Ada senpai yang nanya Sakura tinggal sendirian? Jawabannya, iya. Orang tua Sakura bakal muncul, tapi nanti.

Soal lemon, tenang saya sudah siapin kok, hihihi….. Oh ya, dan makasih banyak kepada senpai yang nge-fave story saya ini. Saya berterima kasih banyak.

Akhir kata sampai jumpa di chapter depan dan jangan lupa dengan tebakannya. Dan tentu saja

Review pleaseeee…. Semakin banyak yang review, semakin cepat updetannya.

JAA NEE…