Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama 2 mafia sekaligus? Bagaimanakah kisah Sakura menjalani hidupnya bersama dua mafia tersebut?
Cherry'UchihaSakura'Blossom
Proudly Present
Most Wanted Boy in My House
Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon
Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto
Dont like? So don't read! It's so easy right?
Last Preview….
" Jadi sudah ditetapkan?"
" Ya, sudah ditetapkan target kedua kita adalah si bocah Namikaze itu."
Chapter 4
Ibiki Pov
Suatu saat aku akan menangkapmu Uchiha. Jika saat itu tiba, aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri. Jari-jari tua ini akan mematahkan lehermu.
Kalian pasti merasa aneh kenapa aku membom distrik Namikaze dan bukannya distrik Uchiha?
Seperti yang sudah kukatakan. Semua komplotan atau partner dari Uchiha akan kuhabisi tanpa terkecuali dan semua itu telah kubuktikan. Dan untuk Uchiha, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Tanpa menggunakan senjata ataupun bom, hanya menggunakan tanganku saja.
Targetku adalah Uchiha inti saja. Bawahannya yang lain aku tidak perduli. Mereka mau dihabisi dengan gergaji sekalipun aku tidak perduli. Tangan-tanganku ini hanya untuk Uchiha inti saja. Yaitu Madara Uchiha, Fugaku Uchiha, Itachi Uchiha dan yang terakhir adalah Uchiha Sasuke. Tapi ketiga tetua itu telah lebih dulu menyusul ke neraka. Hhn, jadi kini tinggal Uchiha Sasuke yang masih tetap hidup. Tapi aku telah berjanji, tak lama lagi Uchiha bungsu itu akan menyusul mereka ke neraka setelah aku mematahkan lehernya itu.
Tugasku menjadi tambah mudah lagi setelah atasan tertinggiku menyerahkan sepenuhnya kasus ini padaku. Segala tindakan yang berhubungan dengan urusan mafia itu sepenihnya di bawah kendaliku.
" Kau tinggal tunggu tanggal mainnya Uchiha."
.
.
.
At Sakura's House...
Penunjuk waktu kini telah menunjukkan pukul 01.00 tengah malam. Tapi dua mafia ini masih tetap terjaga.
" Teme, apa kau tidak mau mengunjungi markas besar?" Tanya Naruto sedikit berbisik.
" Hn."
" Ayolah Sasuke. Jangan ber'hn' saja."
" Hn. Sekarang aku tidak perduli dengan markas itu. Lagipula disana masih ada Danzo yang mengurusnya." Kata Sasuke santai.
" Hah? Jadi kau menyerahkan semuanya pada si kakek tua itu? Oi Teme, disini kaulah pemimpinnya." Kata Naruto muncrat-muncrat
" Dobe kau tidak usah memikirkan mereka. Lebih baik kita memikirkan diri kita sendiri." Sasuke membaringkan dirinya pada sofa panjang. " Aku mau tidur."
Naruto cemberut. " Teme bodoh!"
.
.
.
Pagi harinya...
" BANGUUUN SEMUUUANYAAAA!" Teriak Naruto menggunaka toa yang entah dia dapat dari mana.
" OI TEME! BANGUUNNN!" Teriak Naruto pada Sasuke yang masih tidur.
Sasuke membuka matanya sedikit lalu ia kembali tertidur.
" BANGUUUNNN!" Teriak Naruto (lagi). Kali ini sasaran Naruto adalah telinga Sasuke.
" Iya, iya aku bangun." Gerutu Sasuke kesal. Ia mengucek-mgucek matanya sesekali menguap.
" Sekarang waktunya membangunkan Sakura-chan." Naruto beranjak menuju kamar Sakura dan Sasuke mengekor di belakangnya. Soalnya ia ingin mencuci muka sekaligus buang air. Ingat kan Kamar mandi Sakura dimana?
Naruto mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat menandakan bahwa yang empunya masih terlelap.
Naruto perlahan membuka pintu. Yang benar saja, si empunya memang masih terlelap di bawah selimut.
Pelahan Naruto mendekati Sakura lalu menyingkap selimutnya dengan hati-hati.
" Sakura-chan ayo bangun." Naruto menepuk perlahan pundak Sakura.
" Hei Dobe kenapa sama Sakura kau bertindak halus seperti itu? Beda sekali tadi dengan caramu membangunkanku." Ucap Sasuke kesal.
"..." Tidak ada respon.
Sasuke memalingkan wajahnya. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi.
" Hei Sakura-chan bang,,,,"
" Hoammm~" Sakura menguap. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. " Naruto?"
Naruto mengangguk. " Bangunlah. Hari ini kita punya misi membersihkan rumah." Kata Naruto ceria.
" Ngg? Membersihkan?"
Naruto mengangguk lagi. " Iya. Soalnya kulihat rumahmu ini berantakan." Kata Naruto tanpa dosa. Ia tidak sadar dengan siapa dia bicara.
" Hn, Baiklah." Kata Sakura. Ia beranjak menuju kamar mandi.
" Tunggu Sakura-chan! Di dalam ada-" Kalimat Naruto menggantung dan...
" KYAAAA!"
" HWAAAA!"
" Sasuke." Gumam Naruto pelan melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
Sakura buru-buru menutup pintu dengan wajah merah padam. Dua kali teman! Dua kali sudah ia mengalami kejadian seperti ini!
" Hei Naruto! Kenapa kau tadi tidak bilang kalau Sasuke ada di dalam hah!" Gerutu Sakura sambil menenjuk-nunjuk ke arah pintu kamar mandi yang berada di sudut kamarnya itu.
Naruto mengedikkan bahunya. " Tadi aku sudah bilang. Tapi kau lebih dulu membukanya."
" Arrrgghhh!" Ingin rasanya Sakura mencekik bocah beriris mata blue ocean itu.
.
.
.
" Nah ini barang-barang yang kita perlukan." Naruto menyerahkan selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan.
Mari kita tengok isi kertas itu.
- Pel
- Sapu/vacuum cleaner
- Kemoceng
- Sabun pel lantai
- Gunting rumput
- Gorden baru
- Cat tembok
- Beberapa vas bunga/ Pot tanaman hias
- Kasur untuk Naruto dan Sasuke.
" Tapi kukira kita hanya membersihkan rumah saja." Sela Sakura
" Selain kita membersihkan, kita juga mendekor ulang rumah Sakura-chan." Naruto mengacungkan jempolnya. " Jadi, apa yang Sakura-chan punya dan tidak punya dari daftar ini."
Sakura mengamati lembaran putih itu. " Umm, pel aku punya, sapu tapi tidak dengan vacuum cleaner."
" Tapi lebih baik kita pakai vacum cleaner saja. Itu lebih mudah daripada sapu." Sasuke turut angkat bicara
" Diamlah selagi aku bicara Tuan Sasuke." Ledek Sakura
" Hn,"
" Kemoceng dan sabun pel lantai aku punya. Selebihnya tidak." Sakura kembali menyerahkan selebaran itu pada Naruto.
" Baiklah. Selebihnya ini aku yang akan beli. Tapi untuk Teme dan Sakura-chan kalian sebaiknya membeli bahan makanan. Kulihat di kulkas bahan makanannya sudah hampir habis."
" Kenapa aku harus pergi sama dia!" Kata Sakura dan Sasuke serempak.
Naruto hanya nyengir.
.
.
.
Kenapa aku harus sama dia sih! Batin Sakura.
Cih! Kenapa harus dia sih! Pikir Sasuke
Sasuke dan Sakura berjalan bersama menyusuri jalanan. Setiap lorong yang mereka lewati, orang-orang selalu melirik mereka. Penyebabnya sudah jelas karena Sasuke. Apalagi kalau bukan karena ketampanan bungsu Uchiha itu.
Buktinya jika mereka melewati segerombolan gadis remaja semua mata terpaku padanya. Kadang juga terdengar bisik-bisik seperti Kyaa! cowoknya ganteng banget yah atau Nggak serasi banget sih. Cowoknya ganteng kayak begitu sementara ceweknya culun begitu.
Terkadang juga Sakura mendapat tatapan sinis atau iri dari beberapa gadis yang sedang ngeceng di pinggir jalan. Tentu saja Sakura risih. Sangat risih malah.
Sakura menyikut Sasuke, " Lihat gara-gara kau semua orang melihat kita."
Sasuke sidikit meringis sambil memegang rusuk yang baru saja disikut oleh Sakura, " Kau ini punya tenaga monster yah! Biarkan saja mereka melihat ke arah kita itu hak mereka. Dan berhentilah menyentuhku pinkie!"
Sakura mendengus kesal. Ia menyikut lagi rusuk Sasuke tapi kali ini lebih keras lagi, " Rasakan itu!"
.
.
.
" Daging ayam, daging sapi, ikan, tentakel gurita, cumi, udang kepiting, sayuran, nugget, ramen cup, susu, bir kaleng, tempura, roti, selai, telur, dan buah" Sakura membaca daftar belanja itu.
" Hn,"
" Tugasmu mencari daging, ikan, tentakel gurita, cumi, udang kepiting ,nugget, ramen cup, susu, bir kaleng, tempura, roti, selai dan telur. Aku akan mencari sayuran dan buah yang diperlukan." Kata Sakura.
" Kenapa yang kucari harus banyak sedangkan kau hanya mencari sayuran dan buah saja." Bantah Sasuke.
" Sayuran dan buah itu banyak tau!" Bela Sakura. " Jika kau tidak mau, kau tidak akan dapat jatah makan malam."
" Hn."
" Mau tidak?"
" Hn, "
" Terserah kau sajalah!" Gerutu Sakura sebelum ia beranjak meninggalkan Sasuke.
" Hn."
.
.
.
" Sekarang sudah semua." Sakura memegang kantung plastik putih besar berisi banyak macam sayuran dan buah. Sementara Sasuke yang paling banyak menenteng kantung belanja.
Sakura terkikik, ia berhasil mengerjai Sasuke lagi.
" Hei kau bawa yang benar dong! Nanti tumpah bagaimana?" Seru Sakura.
" Hn."
.
.
.
" Kalian lama sekali. Aku sudah lumutan tau menunggu kalian berdua." Ucap Naruto kesal. Semua barang yang tadi ia tulis kini sudah ada di depan rumah Sakura.
" Banyak juga yah." Celetuk Sakura. " Kau menghabiskan berapa untuk membeli semua ini, Naruto?" Tanya Sakura agak tidak enak hati.
Naruto nyengir. " Soal itu nggak usah difikirkan Sakura-chan. Anggap saja ini sebagai balasan karena kau telah mengizinkan kami tinggal disini."
Sakura tersenyum kecil. " Kau baik sekali Naruto. Tidak sama dengan..." Sakura melirik sinis ke arah Sasuke.
Yang disindir nyadar juga, " Aku tadi sudah membayarkanmu semua ini!"
Sakura membuang muka.
" Baiklah sekarang sudah lengkap, ayo kita mulai bekerja. Ganbatte!" Seru Naruto bersemangat
" Ganbarimasu!" Balas Sakura bersemangat minus Sasuke. Sakura menatap Sasuke sinis lalu menyikutnya
Sasuke memutar bola matanya, "Ganbarimasu..." Kata Sasuke pelan tanpa semangat.
.
.
.
Mereka memulainya dengan menyapu lalu memindahkan barang. Naruto kebagian memindahkan barang bersama Sasuke. Sementara Sakura mendapat bagian mengepel. Mereka bersama-sama menata rumah agar terlihat lebih baik. Perabotan yang sudah benar-benar tidak layak mereka simpan di gudang belakang. Sarang laba-laba yang bersarang di palpon rumah juga ikut dibersihkan. Debu-debu dan kotoran sampah disedot habis oleh vacuum cleaner.
Setelah membersihkan dalam rumah mereka kini berganti ke luar dan pekarangan rumah. Disini mereka bersama-sama mengecat dinding luar rumah. Sesekali juga mereka sedikit bercanda. Seperti mengoleskan cat kepada wajah mereka sendiri. Atau saling mencoret-coreti baju mereka menggunakan cat. Disini kita juga bisa lihat bagaimana tampang Sasuke. Terkadang pemuda es ini tertawa lepas begitu juga dengan Naruto dan Sakura.
Sekarang giliran pekaramgan Sakura yang akan dipermak. Rumput-rumput liar yang tumbuh kini dipangkas habis hingga bersih. Kemudian mereka bersama-sama menata pot tanaman hias dan juga pot gantung.
Kini giliran Sakura yang menyiram halaman. Ia melirik ke arah Sasuke yang sedang duduk kelelahan sambil mengipas-ngipas badannya. Sesekali ia menyeka keringatnya yang jatuh. Iseng, Sakura mengarahkan selangnya ke arah Sasuke.
Croot Croot Croot, air dari selang tepat mengenai baju Sasuke
" Hei!" Sahut Sasuke kesal
" Maaf. Tidak sengaja." Kata Sakura santai seolah tidak ada apa-apa.
Terdengar Sasuke mendengus kesal. Ia kembali melanjutkan kegiatannya tadi.
Sakura kembali melirik. Kemudian,
Croot Croot Croot, air dari selang tepat mengenai wajah berkeringat Sasuke
" Kau ini mau apa sih, Haruno!" Sahut Sasuke geram.
" Wee!" Sakura menjulurkan lidahnya
" Baiklah jika kau mau perang." Sasuke berjalan ke arah Sakura
Sakura yang menyadari pergerakan Sasuke langsung saja berlari. " Kejar aku,wee!"
Sasuke kini sedikit memacu langkahnya. Lama-kelamaan langkahnya berubah menjadi kejaran. Mereka saling kejar-kejaran mengelilingi halaman Sakura yang terbilang cukup luas.
" Kejar aku kalau kau bisa U AHHH!' Keseimbangan Sakura hilang karena kakinya tersandung kakinya sendiri. Dasar bodoh!
Sakura memejamkan matanya. Bersiap-siap mendarat di tanah yang keras. Tapi, entah kenapa pantatnya masih belum menghantam tanah.
Perlahan sakura membuka kelopak matanya. Emerald bertemu onyx. Ternyata rupa-rupanya Uchiha ini lebih dulu menangkap Haruno kita ini.
Mereka saling berpandangan tanpa kedipan. Sampai akhirnya,
" Woi!" Suara cempreng Naruto mengagetkan Sasuke dan Sakura.
Buru-buru Sasuke melepaskan pegangannya pada Sakura. Pantat Sakura kembali mengkuti gravitasi dan sukses menghantam dataran keras yang biasa disebut tanah.
" Auww!" Sakura merintih. " Kenapa kau lepaskan bodoh!"
.
.
.
Setelah bergulat bersama sampah, debu, dan rumput selama setengah hari, pekerjaan mereka akhirnya kelar.
Rumah Sakura yang dulunya bak kapal pecah, kini sudah berubah menjadi rumah yang bersih dan rapi.
Kini ketiga remaja itu berbaring melingkar di pekarangan rumah.
" Lelah." Ucap Naruto lemas.
" Dan haus." Sambung Sakura.
" Hn,"
Sakura berdiri, " Sebaiknya aku buatkan kalian jus dan makanan."
" Tunggu Sakura-chan! Aku mau ikut." Seru Naruto.
" Hn,"
.
.
.
At Kitchen...
" Uchiha lihat apa yang kau lakukan pada adonanku!" Sakura menunjuk-nunjuk adonan yang baru Sasuke tumpahkan.
" Hn,"
" Oh adonanku. Malang sekali nasibmu." Kata Sakura lebay.
" Hn,"
" Kau harus tanggung jawab Uchiha!"
" Hn,"
Tak lama...
" Uchiha bodoh! Kenapa bisa gosong seperti ini!" Jerit Sakura frustasi.
Naruto yang mendapat tugas membuat jus hanya geleng-geleng saja melihat tingkah mereka berdua. Ia tidak berani sama sekali ikut campur. Walaupun ia baru kenal dengan Sakura, ia yakin benar Sakura jika marah bisa berubah menjadi monster.
" Uchiha! Kenapa bisa mentah seperti ini!"
" Uchiha! Kenapa rasanya asin seperti ini!"
" Uchiha! Kenapa tawar seperti ini"
" UCHIHAAAA!"
.
.
.
Setelah Sakura puas menyemprot habis-habisan Sasuke dan menikmati jus buah racikan Naruto dan daging panggang buatan Sasuke dan of course dengan bantuan Naruto, Sakura, Naruto dan Sasuke akhirnya tertidur sendiri karena lelah. Mereka tertidur saling berdempetan satu sama lain.
Naruto paling ujung kemudian Sakura di tengah-tengah lalu menyusul Sasuke. Mereka terlihat sangat lelap. Wajah lelah masih tidak hilang sekalipun mereka sudah menyantap makanan.
.
.
.
Keesokannya...
" Aku pergi." Sahut Sakura hendak keluar dari pintu.
" Sakura-chan tunggu!" Cegat Naruto.
" Ada apa Naruto?"
" Umm, Sakura-chan mau ke sekolah yah?" Tanya Naruto polos.
Sakura hanya mengangguk.
" Umm, bagaimana mengatakannya yah." Naruto menggaruk-garuk kepalanya bingung. " Sakura-chan boleh tidak kalau aku dan Sasuke juga mau sekolah di sekolah yang sama denganmu?"
Sakura terlihat sedikit heran, " Memangnya kalian tidak sekolah yah?"
Naruto mengangguk, " Actually kami juga bersekolah tapi beda dengan anak yang lain. Kami berdua menjalani Home Schooling sejak kecil. Yah karena, kau tahu kan kalau kami ini mafia. Mana ada sekolah yang mau menerima anak mafia seperti kami." Kata Naruto pelan.
Sakura sekarang mengerti. Pantas saja Sakura tidak pernah melihat Naruto dan Sasuke membincangkan tentang masa sekolah. Tapi kalau dilihat-lihat umur mereka sepertinya sama.
" Jadi boleh tidak Sakura-chan. Kami juga ingin merasakan kehidupan seperti anak normal lainnya. Soal ilmu Sakura-chan tidak pelu khawatir, kami juga termasuk pintar juga."
Sakura kini sedikit prihatin. Ternyata nasib mereka menyedihkan juga.
" Tentu saja. Aku akan mengurus segala keperluan kalian." Kata Sakura
" Benarkah itu?" Naruto meraih tangan Sakura lalu meremasnya lembut, " Doumo Arigatou."
Sakura merona. Baru kali ini tangnnya diremas lembut oleh lelaki. Naruto terus menggenggam tangan Sakura.
Sakura mendeham, " Naruto...umm aku harus ke sekolah." Kata Sakura gugup.
Naruto tersadar. Buru-buru ia melepaskan genggamannya dari tangan Sakura. " Maaf Sakura-chan. Aku tidak sengaja tadi." Kata Naruto gugup. Rona merah sedikit tercetak tipis di wajahnya.
" Aku pergi."
Tanpa mereka sadari sepasang mata hitam legam sedang mengawasi mereka. Walaupun terlihat samar-samar, aura mata itu menampakkan sedikit ketidaksukaan pada pemandangan yang baru saja dilihatnya.
.
.
.
Sakura Pov
Aku ini kenapa sih? Semenjak tanganku dipegang Naruto, detak jantungku jadi tidak karuan seperti ini! Malah rona merah sialan ini tidak kunjung hilang!
Arrrgghhh!
" Sakura." Terdengar suara Gaara senpai dari belakangku
Aku menoleh, " Gaara senpai."
" Umm ano Sakura-chan, aku mau bertanya soal kemarin."
" Huh?" Aku jadi heran deh. Kenapa sih senpai yang satu ini?
" Iya. Soal kemarin. Aku melihatmu jalan dengan seorang pria." Ucap Gaara senpai pelan
Tunggu dulu. Kemarin? Dengan seorang pria? Apa mungkin... Glek! Kyaaa! Matilah aku!
To be Continued...
Satu lagi chapter yang gak jelas. Oh ya, buat chapter ini aku special thanks for senpai Chwyn. Makasih banget karena dah diingatkan. Gimana? Dah masuk kah atau malah tambah nggak nyambung? Maaf yah saya memang nggak becus T.T.
Dan buat HarunoZuka. Thanks buat ide ceritanya yah. Ini dah aku masukin. Hehehe dan tidak lupa buat
Sky pea-chan, Choco momo, Akira Mayumi, Tabita Pinkybunny, Twingwing RuRaKe, LoveHeero, Chiichocolate, Maymay-kun, gieyoungkyu, 4ntk4-cH4n, Hikachan19, Cwhyn, noonaSyea, HarunoZuka, Pinky Blue Onyx, d3rin.
Saya juga mau jelasin tentang lemonnya. Maap yah kalau belum muncul-muncul. Dan soal typo maaf yah, saya memang kurang teliti.
Kalau soal masukin Saso, saya bakal masukin kok. Tapi nanti. Dan soal fic saya yang lain. Maaf lama nggak di apdet. Al.a saya lagi nggak ada ide buat fic itu.
Saya juga masih agak bingung nih. Sebaiknya kubuat Naru naksir atau tidak pada Saku. Atau kubuat Saku yang naksir Naru. Atau jangan keduanya? Pusing! Oh ya, mohon bantuan sarannya yah para senpai.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya dan
Review pliss...
