A
Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama 2 mafia sekaligus? Bagaimanakah kisah Sakura menjalani hidupnya bersama dua mafia tersebut? Dan mampukah Sakura menyembunyikan identitas mereka?
Cherry'UchihaSakura'Blossom
Proudly Present
Most Wanted Boy in My House
Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon
Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto
Dont like? So don't read! It's so easy right?
Last Preview….
" Sakura." Terdengar suara Gaara senpai dari belakangku
Aku menoleh, " Gaara senpai."
" Umm ano Sakura-chan, aku mau bertanya soal kemarin."
" Huh?" Aku jadi heran deh. Kenapa sih senpai yang satu ini?
" Iya. Soal kemarin. Aku melihatmu jalan dengan seorang pria." Ucap Gaara senpai pelan
Tunggu dulu. Kemarin? Dengan seorang pria? Apa mungkin... Glek! Kyaaa! Matilah aku!
Chapter 5
Aduh gimana ini? Jangan-jangan yang dilihat Gaara senpai kemarin adalah Sasuke? Kemarin Sasuke pakai penyamaran atau tidak yah? Aku mencoba-coba mengingat. Kayaknya dia pakai deh.
" Dia...umm...dia itu." Aku menggaruk-garuk kepalaku. Apa lagi yang akan kukatakan sekarang?
" Dia siapa Sakura?"
" Ano...dia se-pu-pu-ku." Aduh! Bohong lagi deh!
" Tapi setahuku kau tidak punya sepupu."
Sial. Lihat ucapanku memang tidak dapat dipercaya. Nah Sakura, sekarang kebohongan macam apa yang akan kau buat lagi Sekarang?
" Dia itu sepupu jauhku. Dia juga baru datang kesini." Jawabku singkat tapi ragu-ragu.
Gaara senpai terlihat manggut-manggut walaupun raut mukanya masih rada tidak percaya. Tapi tak apalah.
" Memangnya kenapa senpai menanyakan soal itu?"
Gaara Pov
Kau bertanya kenapa Sakura? Jawabannya hanya satu Sakura yaitu cemburu. Ya, aku menyukai gadis cherry ini. Dari pertama kali aku mengenalnya aku sudah tertarik padanya. Dia itu beda dari yang lain. Ya dia memang beda. Perempuan lain sibuk dengan bersenang-senang, dia malah lebih memilih belajar.
Banyak hal yang kusuka dari Sakura. Mulai dari matanya yang indah seperti batu zamrud, warna rambutnya yang jarang. Dan masih banyak lagi.
Aku juga suka penampilannya yang beda dari orang lain. Tetap mengenakan pakaian yang kedodoran. Di era ini, sudah jarang perempuan yang ingin mengenakan pakaian yang kedodoran. Mereka lebih memilih memakai baju yang super duper ketat. Pokoknya aku suka segala hal dari Sakura.
Tapi sepertinya dia hanya menganggapku sebagai senior atau mungkin temannya saja. Kadang aku menginginkan lebih dari hanya sekedar teman.
Aku ini bodoh menyukainya. Yeah, maksudku aku punya banyak fansgirl. Toh aku bisa memilih satu dari mereka. Tapi sepeti yang orang katakan love is blind.
Honestly, kemarin aku sangat cemburu melihat Sakura jalan dengan pria lain. Aku memang egois! Kalian tahu tidak, karena melihat Sakura jalan dengan pria lain aku sampai tidak bisa tidur semalam karena memikirkannya! Buktinya lihat nih, lingkar mata di mataku makin menebal.
Tapi setelah dia bilang kalau dia sepupunya, rasanya jadi lega banget. Setidaknya aku masih dalam batas wajar jika menginginkannya. Tapi jika memang dia sudah mempunyai pria lain, absolutely aku akan tetap mengejarnya. Karena love is blind.
.
.
.
Normal Pov
Sepulang sekolah Sakura melangkah menuju kantor kepala sekolahnya. Well, untuk merundingkan tentang Naruto dan Sasuke.
Sakura mengetuk pelan pintu.
" Masuk." Terdengar suara dari balik pintu.
Sakura perlahan menmbiukanya, " Permisi Tsunade-sama." Sakura menundukkan badannya.
" Ahh, nona Haruno. Ada perlu apa kau kesini?" Tanya Tsunade ramah. Sakura memang merupakan murid kesayangan kepala sekolah yang satu ini. Hanya pada Sakura ia bersikap ramah. Pilih kasih memang.
" Tsunade-sama bisakah aku mengajukan suatu permintaan pada Tsunade-sama?" Tanya Sakura sopan.
Tsunade tersenyum, " Apa itu Haruno?"
.
.
.
" Aku pulang!" Sahut Sakura.
Kedatangan Sakura langsung disambut oleh Naruto. " Bagaimana Sakura-chan? Bisa tidak?"
Wajah Sakura kini terlihat murung menandakan ada berita buruk.
Naruto yang menyadari sikon langsung mengerti, " Tidak bisa yah. Tak apalah Sakura-chan."
" Kau bercanda? Kau dan Sasuke diterima bodoh!" Sahut Sakura gembira. Wajahnya yang tadi murung berubah menjadi cerah. Ternyata wajah murung itu hanya merupakan akal-akalannya saja untuk mengelabui Naruto.
" Benarkah Sakura-chan? Wahh! Makasih banyak Sakura-chan." Naruto langsung memeluk erat Sakura.
Blush! Dag dig dug. Jantung Sakura kini mulai berdetak tak keruan. Tapi ia turut senang. Ia merasa sedikit ada perasaan hangat saat Naruto memeluknya seperti ini.
Sementara Sasuke hanya menatap mereka tidak suka. Entah mengapa ia merasa tidak suka saat Sakura dipegang-pegang oleh saudara angkatnya itu.
Naruto melepas pelukannya. " Jadi kapan aku dan Sasuke bisa sekolah?" Tanya Naruto penuh antusias. Rona kesenangan nampak jelas sekali di wajahnya
" Besok kau dan Sasuke bisa langsung bersekolah." Kata Sakura. " Ini seragammu." Sakura menyerahkan kantung plastik yang daritadi ia sembunyikan.
Naruto memandang kantung berisi seragamnya dan seragam Sasuke. " Wah! Kau hebat Sakura. Bagaimana kau bisa membuat pihak sekolah menerima kami?"
Sakura tersnyum, " Gampang saja."
Flashback
" Tsunade-sama bisakah aku mengajukan suatu permintaan pada Tsunade-sama?" Tanya Sakura sopan.
Tsunade tersenyum, " Apa itu Haruno?"
" Bisakah saya merekomendasikan dua orang dalam program beasiswa sekolah kita?"
Alis Tsunade mengkerut, " Memangnya siapa yang kau ingin rekomendasi Haruno?"
" Sepupu saya Tsunade-sama." Jawab Sakura
Alis Tsunade tambah mengkerut heran, " Sepupu?"
Sakura mengangguk pelan, " Dia sama sepertiku Tsunade-sama. Mereka seumuran denganku tapi tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Tapi kepintaran mereka tidak dapat diragukan lagi Tsunade-sama."
Tsunede berpikir sejenak sebelum ia memutuskan.
Sebenarnya Sakura juga sedang harap-harap cemas menunggu jawabannya. " Kumohon Tsunade-sama." Pinta Sakura penuh harap. Well, sebenarnya untuk terlihat tampak lebih meyakinkan.
Tsunade menghela nafas sebelum ia tersenyum, " Apapun untukmu nona Haruno."
Yes! Sakura bersorak dalam hati.
Tsunade mebuka laci mejanya, " Ini formulirnya. Kau bisa mengisinya. Soal seragam, kau bisa langsung minta di ruangan tata usaha." Tsunede lalu memberi stempel formulir program beasiswa itu.
" Terima kasih Tsunade-sama." Kata Sakura sebelum ia keluar dari ruangan tersebut
End of Flashback
Naruto berdecak kagum pada Sakura, " Kau memang hebat." Naruto mengacugkan dua jempolnya.
Sakura tersenyum bangga.
Naruto kemudian menghampiri Sasuke, " Lihat Sasuke, kita bisa bersekolah seperti anak remaja biasa pada umumnya."
" Hn," Jawab Sasuke singkat
" Oh ya, " Sakura seakan-akan baru teringat, " Di sekolah nanti kau harus menggunakan nama Daichi Yamada. Sedangakan Sasuke harus menggunakan nama Ichi Yamada."
" Kenapa marganya mesti sama!" Tukas Sasuke sambil menonton
" Hei aku mengaku kalau kalian bersaudara tahu! Jadi mau tidak mau marga kalian harus sama!"
" Hn,"
" Dan ini, " Sakura merogoh seseatu dari ranselnya lagi, " Ini buku kalian." Sakura melempar plastik yang cukup besar ke arah Naruto. Naruto lalu dengan gesit menangkapnya.
" Makasih Sakura-chan."
.
.
.
Keesokan harinya...
" Sakura-chan kudengar sepupumu bakal masuk sekolah hari ini yah?" Tanya Hinata sambil memeluk tumpukan buku bawaannya.
Sakura mengangguk pelan. " Sini aku bantu bawakan bukumu."
Hinata menyodorkan buku tebal yang tadi dibawanya pada Sakura. " Jadi dimana mereka sekarang?"
" Ada di ruangan Tsunade-sama." Sakura menerima buku tebal yang berjudul Anatomi Tumbuhan itu.
" Hei pnkie kudengar dua orang sepupumu bakal masuk sekolah ini juga yah." Sahut sesorang dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Karin dan geng bodohnya.
" Bukan urusanmu rambut merah!" Sakura memasang tampang dingin
Karin hanya menyeringai tipis, " Kira-kira bagaimana tampang mereka yah?"
" Paling-paling sebelas dua belas dengan Sakura. Kalau tidak pasti mirip sama Lee deh." Balas Ino yang tak kalah mengejek.
Gerombolan Karin balas tertawa. Kau tahu mendengar suara melengking mereka mengingatkan Sakura pada nenek sihir.
Sakura balas menyeringai, " Mendingan Lee daripada kalian yang otaknya sebelas dua belas dengan otak udang. Ralat, bukan sebelas dua belas, malah sebelas sama dengan otak udang!"
Karin berhenti tertawa lalu memasang muka yang menurutnya muka serius, " Apa katamu tadi pinkie?"
" Kau tidak mendengarnya? Baiklah akan kuulang nona Karin." Sakura mendekatkan wajahnya pada Karin lalu membisikkan seseatu, " Otak udang."
Sakura kembali menjauhkan wajahnya dari si setan merah Karin.
Terlihat muka Karin memerah menambah kesan layaknya seorang red devil . Karin ingin melayangkan telapak tapangannya pada Sakura, " Kau memang kurang a Auww!" Rintih Karin yang mendapat pukulan buku di lengannya
" Jangan harap kau bisa menampar Sakura-chan, Karin." Ucap Hinata terbata. Sebenarnya tadi ia hanya modal nekat memukul lengan Karin
" Kau ini apa-apaan sih cewek ungu!" Bentak Karin pada Hinata. Hinata menunduk.
Sakura yang sudah menyadari gelagat ketakutan dari Hinata segera meraih gadis lavender itu menjauh dari Karin.
" Ayo Hinata-chan. Kita pergi saja. Yang waras mengalah saja." Seru Sakura.
.
.
.
Bel tanda dimulainya pelajaran sudah bersahut-sahutan memenuhi seluruh sekolah bertaraf internasional itu. Para siswa dan siswi buru-buru berlari menuju kelas mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Sakura yang sudah duduk di kelasnya. Tak lama terdengar suara beberapa langkah kaki memasuki kelas itu.
Iruka sensei yang merupakan wali kelas mereka sekarang berdiri tepat dihadapan siswa-siswi.
" Hari ini kita kedatangan dua murid baru. Dua murid baru ini juga merupakan sepupu jauh dari nona Haruno." Katanya.
Terdengar bisik-bisik dari seluruh penjuru kelas. Seperti " Tampang mereka seperti apa yah?" atau " Muridnya cowok atau cewek yah?"
" Baiklah kalian boleh masuk sekarang." Seru Iruka pada orang yang kini sedang menunggu di luar kelas.
Perlahan Sasuke dan Naruto masuk. Dandanan mereka hari ini sangat keren.
" Kyaa! Tampannya!" Sahut Karin dan Ino.
" Kyaa! Kerennya!"
" Kyaaa!"
" Kyaa!"
Sakura hanya memutar bola matanya malas. Kalian belum tahu siapa mereka yang sebenarnya. Batin Sakura
" Pekenalkan diiri kalian!" Perintah Iruka
Naruto maju beberapa langkah ke depan. " Yo semua! Namaku Daichi Yamada. Salam kenal." Kata Naruto yang tidak lupa dengan nama samarannya
" Kyaa!1 Daichi-kuuun!" Sorak siswi-siswi minus Sakura dan Hinata.
Naruto hari ini terlihat sangat keren dengan tatanan bajunya. Blazernya ia tidak gunakan. Malah hanya ia tenteng-tenteng. Kancing baju paling atas ia biarkan tidak terkancing. Dandanan yang mencerminkan seorang bad boy
" Sekarang giliranmu." Iruka menunjuk kepada Sasuke.
Dengan patuh Sasuke mensejajarkan posisi berdirinya dengan Naruto. " Hn, namaku Ichi Yamada."
" Kyaa! Ichi kuuun!" Sorak siswi-siswi lagi.
Tatanan baju Sasuke terlihat lebih sopan ketimbang Naruto. Dengan blazer yang terpasang rapi serta kacamata berbingkai putih yang tempo hari di belinya mengganjal rapi di hidung mancungnya. Penampilannya bertambah cool dengan kedua tangan yang menelusup ke dalam saku celananya.
" Kalian bole duduk di..." Iruka mencoba mencari tempat duduk kosong.
" Dachi kun duduk di sebelahku!" Sorak Tayuya dan beberapa siswi lainnya.
Daichi alias Naruto hanya tersenyum.
" Lihat Daichi-kun tersenyum ke arahku." Jerit Tayuya.
" Ichi kun duduk di sebelahku saja." Sahut Karin, Ino, dan Kin serempak.
Ichi alias Sasuke tidak memberi respon sama sekali.
" Kalian duduk di belakang nona Haruno dan nona Hyuuga saja." Iruka menunjuk dua bangku kosong yang tepat berada di belakang Sakura dan Hinata."
Sasuke dan Naruto langsung mengikuti instruksi dari Iruka. Mereka duduk di belakang gadis pink dan ungu
" Hai Sakura-chan." Sapa Naruto.
Sakura menoleh sambil tersenyum. " Hai juga."
" Umm, namaku Hinata Hyuuga. Senang berkenalan dengan kalian." Ucap Hinata terbata.
" Hai Hinata-chan." Sapa Naruto.
" Hn," Jawab Sasuke.
Sakura melirik Hinata yang wajahnya memerah saat berkenalan dengan Sasuke. Waktu perkenalan, Hinata juga terus memperhatikan Sasuke. Kayaknya ada yang tidak beres dengan sahabatnya yang satu ini.
.
.
.
Waktu istirahat pun tiba. Naruto sudah mendapat banyak teman baru. Seperti Kiba, Chouji, Shikamaru.
Sementara Naruto dikerumuni para cowok, lain halnya Sasuke. Sepanjang jam istirahat ia ditempeli oleh siswi-siswi kelas itu.
Diantara mereka semua, Karinlah yang paling nempel dengan Sasuke. Baru beberapa jam saja mereka kenal, Karin sudah mendirikan Ichi Fans girl yang berisi cewek-cewek yang tertarik pada Sasuke. Ia juga mendirikan Yamada Fansgirl yang beranggotakan cewek-cewek yang tertarik pada kedua Yamada palsu itu.
Sasuke menjadi sangat risih dengan keadaan sekarang. Ia mencoba melarikan diri, tapi ia terlalu banyak mendapat gencetan. Tapi sebenarnya ia sedang mencari seseorang. Siapa lagi jika bukan Sakura.
Ia mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru kelas sampai ia akhirnya menemukan gadis itu sedang berbincang-bincang akrab dengan pemuda berambut merah. Aura ketidaksukaan kembali memancar di matanya. Kali ini aura itu nampak lebih jelas dari sebelumnya.
" Hn, kalian semua ini sebaiknya minggir." Kata Sasuke dingin.
.
.
.
Sakura Pov
Aku daritadi berdiri di depan kelas seperti orang bodoh. Aku lebih memilih di luar kelas karena alasannya satu, yaitu gerah!
Ya, aku cukup gerah melihat Sasuke dihimpit seperti itu oleh cewek-cewek genit itu. Maksudku bukan gerah karena cemburu. Sungguh, aku tidak cemburu sama sekali. Aku gerah hanya kerena bosan melihat perlakuan genit mereka. Ih, apa sih bagusnya si Uchiha itu! Naruto lebih mending dari pada Sasuke. Hah! Kok aku kepikiran Naruto yah? Ah, whatever lah.
Andaikan mereka tahu Sasuke itu siapa, kujamin deh mereka tidak akan berlaku genit-genitan sama Sasuke. Trust me!
Aku menyanderkan punggungku di tembok. Hinata dipanggil ke ruang guru. Palingan dia di suruh bawa ini bawa itu. Hinata memang cewek yang paling gampang disuruh-suruh.
Aku kembali melirik Sasuke. Kini Karin menggelayut genit di lengannya. Huek! Kau seperti menjilat ludahmu sendiri Karin! Tadi pagi kau baru saja menghinanya. Sekarang kau malah mendekatinya. Dasar penjilat!
" Sakura, sedang apa kau disni?" Gaara senpai menyapaku ramah.
" Tidak. Hanya menunggu Hinata-chan saja." Jawabku.
" Kudengar dua orang sepupumu juga masuk di sekolah sini yah. Dan juga sekelas denganmu ya?"
" Iya."
" Kalau begitu dimana mereka sekarang?"
" Ichi sedang ke kantin dengan Kiba dan kawan-kawan. Sedangakan Daichi ada tuh di dalam." Aku menunjuk ke arah bangku yang sekarang dikerumuni oleh cewek-cewek genit
Ia menengok ke dalam. " Wow! Sepertinya fans-nya cukup banayak juga ya."
" Kenapa? Gaara senpai takut kalau fans Daichi lebih banyak dari fans senpai?" Candaku. Gaara senpai juga cukup terkenal di sekolah ini. Dia menduduki peringkat pertama fansgirl terbanyak. Dan menurutku dia akan segera lengser dari peringkat itu deh.
Gaara senpai tertawa, " Kau ini ada-ada saja Sakura."
Aku melirik lagi ke dalam kelas. Ternyata Sasuke sudah lolos dan dia menuju ke sini. Hah! Menuju ke sini.?
" Hn,"
" Oh ya senpai. Perkenalkan dia sepupuku. Namanya Ichi."
Alis Gaara senpai terlihat mengkerut. " Sepertinya aku pernah melihatmu." Kata Gaara senpai sambil mengingat, " Oh! Kau orang yang waktu kemarin jalan bersama Sakura."
" Hn,"
" Ichi, perkenalkan ini Gaara senpai." Kataku pada Sasuke.
" Hai." Sapa Gaara senpai ramah sambil menjulurkan tangan kanannya hendak bersalaman.
Tidak ada respon sama sekali. Ia bahkan tidak meraih tangan Gaara senpai, Huh! Orang ini kenapa sih!
" Ikut aku." Kata Sasuke pelan.
Hah?
" Ikut aku." Ulang Sasuke lagi. Ia meraih pergelangan tanganku dan langsung membawaku pergi menjauh dari Gaara senpai yang terlihat kebingungan.
.
.
.
Normal Pov
" Apa-apaan sih kau ini!" Sakura mencoba melepaskan cengkraman Sasuke di pergelangan tangannya. Tetapi usahanya gagal. Semakin ia berontak, semakin kencang cengkraman Sasuke.
" Lepaskan aku dasar baka!"
Sasuke tidak menghiraukan sama sekali. Ia masih terus menyeret Sakura di tengah banyak murid. So, otomatis semua pandangan tertuju pada mereka berdua.
Sasuke terus menyeret Sakura hingga ke atap sekolah. ( Tunggu dulu, darimana Sasuke tahu di mana letak atap sekolah yah? *bingung sendiri* namanya juga fic ^.^v)
Sasuke menendang keras pintunya sehingga pintu itu menjeblak terbuka dengan suara yang cukup nyaring.
" Kau sudak gila ya! Kalau pintunya rusak bagaimana?" Kata Sakura kesal.
"..."
" Lepaskan aku baka! Tanganku sakit tahu!"
Sasuke sedikit melonggarkan cengkramannya. Sekedar mengurangi rasa sakit Sakura. Tetapi Sakura malah menggunakan kesempatan itu untuk melepas cengkraman Sasuke. Sekali hentakan, tangannya sukses terbebas.
" Kau ini kenapa sih! Lihat kau membuat tanganku merah!" Kata Sakura sambil meperlihatkan lingkaran merah hasil karya tangan Sasuke, " Sakit tahu!"
" Hn, dia tadi itu siapa?" Tanya Sasuke dingin
" Kau tidak mendengarnya tadi. Dia itu Gaara senpai." Tukas Sakura sambil mengelus-elus pergelangan tangannya.
" Maksudku bukan seperti itu. Maksudku, kau ada hubungan apa dengannya?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
Wajah Sakura terlihat heran, " Maksudmu?"
" Ck!" Sasuke langsung meraih pudak Sakura lalu membalikkannya hingga punggung Sakura menyander di tembok. Ia sedikit mendekatkan wajahnya pada Sakura, " Kau tidak mengerti? Maksudku, apa kau ada hubungan istimewa dengan si rambut merah itu?"
" Dia punya nama. Namanya adalah Gaara dan bukan si rambut merah." Jawab Sakura melenceng dari pertanyaan.
Sasuke nampak sedikit kesal. Ia tambah memajukan jarak pandangnya dengan Sakura. " Jawab aku Sakura-chan." Kata Sasuke setengah berbisik. Nafas mint-nya menerpa di kulit wajah Sakura membuatnya sedikit memerah.
Sakura sudah mengerti betul tabiat Sasuke saat dia menggunakan embel-embel –chan pada namanya, berarti seseatu yang buruk akan terjadi padanya. ( Ingat insiden saat suap-suapan di chapter kedua? Disana juga Sasuke menggunakan embel-embel –chan)
" Ti-tidak ada hubungan istimewa. Hanya sekedar hubungan antara senior dan junior." Kata Sakura gugup. Jantungnya sekarang menjadi berpacu.
" Hn." Sasuke semakin mempertipis jaraknya antara dia dan Sakura. Sementara Sakura hanya bisa menutup mata menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tetapi lama kelamaan entah ia merasa kenapa seseatu yang lembut dan basah tidak kunjung datang. Perlahan Sakura membuka kelopak matanya dan dilihatnya Sasuke sedang menahan tawa.
" Kau tahu tidak ekspresimu tadi sangat lucu." Kata Sasuke
Muka Sakura tambah memerah menahan malu.
" Tadi kau benar-benar berfikir aku akan menciummu?" Tanya Sasuke jahil.
Sakura tidak menjawab pertanyaan Sasuke, ia hanya membuang mukanya.
" Hn, dasar bodoh." Sasuke lalu menyentil pelan jidat Sakura yang terkenal lebar itu.
" Auww!" Ringis Sakura, "Tadi tangan sekarang jidat. Nanti apalagi huh?" Ucap Sakura kesal sambil mengusap-usap bekas sentilannya Sasuke yang menurutnya cukup sakit. Padahal Sasuke hanya menyentilnya pelan.
Sasuke hanya terkekeh. Ia kemudian merogoh saku celanaya. " Nih belikan aku minuman dingin." Kata Sasuke seraya melemparkan uang ke Sakura.
Sakura menangkap uang itu, " Kau beli sendiri saja! Kau punya dua kaki tahu!" Sakura hendak mengembalikan uang tersebut tapi ia hentikan karena...
" Kau sudah lupa akan perjanjian kita nona Haruno?" Kata Sasuke diiringi dengan seringai khasnya
" Tapi ini sekolah dan bukan rumah!" Bantah Sakura
Sasuke menatapnya dengan tatapan mematikan. " Kau tahu sekali pelayan, tetap pelayan. Dimana pun dan kapanpun."
" Tapi. Oh, baiklah baiklah. Akan aku belikan." KataSakura pasrah sambil menyeret paksa langkah kakinya. Sepanjang jalan ia terus mengutuk Sasuke dengan sumpah serapah khas miliknya.
.
.
.
Sakura kini menenteng botol minuman dingin hasil jajananannya di kantin. Tiba-tiba indera pendengarnya menangkap sebuah suara dari belakang. Lantas ia menoleh utuk mencari asal suara itu.
" Gaara senpai." Gumam Sakura pelan saat ia melihat senpai yang satu itu berlari ke arahnya. Refleks, ia langsung menyembunyikan tangannya yang merah. Takutnya jika Gaara melihat tangannya, ia akan berpikir sembarangan tentang Sasuke.
" Sakura..."
Nafas Gaara tidak teratur, seperti baru berlari keliling sekolah saja. Pikir Sakura.
" Kau dari mana saja? Aku sudah mencarimu ke seluruh penjuru sekolah, kau tidak ada." Katanya masih dengan nafas yang tidak teratur
Pantas saja. Batin Sakura lagi.
" Tadi aku ke suatu tempat bersama Ichi." Kata Sakura pelan. Tiba-tiba ia teringat seseatu, " Tadi soal sikap Ichi pada senpai mohon dimaafkan yah. Dia memang dingin, tapi sebenarnya dia baik."
Huek! Yang benar saja. Baik apanya. Batin Sakura
" Tak apa. Aku sudah melupakan soal itu." Kata Gaara ramah. " Sekarang kau mau kemana?"
" Umm, ke suatu tempat."
" Aku boleh ikut?" Tanya Gaara penuh harap.
" Maaf senpai, ini urusan pribadi. Jadi rahasia. Hanya aku yang tahu." Dusta Sakura. Ekspresi wajahnya terlihat sangat bersalah.
" Baiklah kalau begitu. "
" Aku pergi dulu senpai." Sakura kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Samar-samar ia melihat lingkar merah di pergelangan tangannya. Ia terus menatapnya sampai punggung Sakura lenyap saat ia berbelok.
.
.
.
" Nih minumanmu." Kata Sakura sambil menyerahkan botol air mineral dingin pada Sasuke yang tengah duduk. Secara tak sengaja, Sasuke kembali melihat pergelangan tangan Sakura yang memerah hasil perbuatannya. Ia merasa sedikit bersalah.
" Duduk di sini." Sasuke menepuk lantai di sebelahnya.
Sakura mengikuti. Ia duduk di sebelah Sasuke. " Mau apa lagi..."
Sakura belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah meraih tangannya. Ia mengusap pelan bekas merah di pergelangan tangan Sakura.
" Saki?" Tanyanya pelan.
Wajah Sakura merona lagi. Ia mengangguk pelan.
Sasuke mengambil botol air mineralnya, lalu menggunakan permukaan botol dingin itu ia mengusapnya pelan pada pergelangan Sakura.
" Sssh!" Sakura sedikit meringis
" Maaf." Ucap Sasuke pelan masih sambil mengusap botol itu di pergelangan Sakura.
Sakura terheran-heran.
" Maafkan aku." Kata Sasuke lagi yang dibalas oleh anggukan Sakura.
" Bagaimana sudah lebih baik?" Tanya Sasuke.
Sakura mengangguk lagi.
Sasuke kembali meletakkan botol itu di sebelahnya. " Ingat, tempat ini akan jadi rahasia kita."
Sakura terheran-heran, " Tapi semua murid tahu atap sekolah."
" Hn, maksudku tempat ini akan jadi temapat pertemuan kita jika aku membutuhkan seseatu. Atau mungkin ingin menyuruhmu membeli seseatu." Kata Sasuke.
Wajah Sakura cemberut.
" Aku bercanda." Kata Sasuke. " Jadi kau dan aku tidak boleh mengajak siapapun kesini."
" Bagaimana dengan Naruto? Dia itu temanmu." Runding Sakura
" Pokoknya siapapun tidak boleh!" Tegas Sasuke.
" Baiklah."
Tiba-tiba Sakura terfikir akan seseatu. Andaikan saja Naruto dan Sasuke menyukainya, ia pasti akan bingung hendak memilih siapa. Ia akui kepribadian mereka memang sangat kontras dan bertolak belakang.
Jika diibaratkan musim, Naruto adalah musim semi yang menghangatkan dan mampu membuat orang nyaman. Sementara Sasuke adalah musim dingin yang dinginnya mampu membuat orang mati.
Tetapi sungguh, ia mempunyai kesukaan masing-masing dari dua orang tersebut. Sakura sangat suka sifat Naruto yang ceria dan energik. Sedangakan ia sangat menyukai sikap dingin Sasuke yang mungkin menurut orang lain menyebalkan dan kadang membuat dirinya menjadi sebal. Tapi ia menyukai itu.
Naruto dan Sasuke...
Musim semi dan musim dingin...
Hangat dan dingin...
Api dan es...
Sapphire dan obsidian...
Entahlah Sakura. Entahlah.
To be Continued...
